Anda di halaman 1dari 4

AKUNTANSI PERPAJAKAN

“OPINI TENTANG HUTANG DAN PAJAK”

Dosen Pembimbing :

Dr. Nurul Aini. S.E., Ak., M.Ak.,CA

Nama: Dhela Adeliya Purnama

NIM : 01117034

Smt : VI

Prodi : Akuntansi A

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS


UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA
JL ARIEF RACHAMAN HAKIM 51 SURABAYA
TAHUN 2020

Dhela Adeliya Purnama 01117034


OPINI TENTANG HUBUNGAN ANTARA UTANG PADA PERUSAHAAN DENGAN PAJAK
YANG HARUS DIBAYAR OLEH PERUSAHAAN

Utang adalah kewajiban yang dimiliki perusahaan terhadap


pinjaman yang dilakukan dengan pihak ke tiga atau yang disebut sebagai
kreditor. Selain itu utang bisa juga dikategorikan sebagai sumber pendaan
bagi perusahaan. Sumber dana perusahaan dapat diperoleh melalui dua
skema, yaitu skema pendanaan melalui utang dan melalui modal. Kedua
skema tersebut dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap
besarnya beban pajak perusahaan, terutama dari segi imbalan dari utang
(bunga) dan modal (dividen). Maka manajemen Perusahaan harus berhati-
hati dalam penentuan struktur modal. Apakah bersumber dari modal dan
laba atau dari utang.
Terdapat perbedaan kepentingan antara perpajakan dan
manajemen perusahaan, manajemen perusahaan menganggap pajak
sebagai beban perusahaan sehingga berusaha agar dapat membayar
pajak sekecil – kecilnya karena membayar pajak berarti mengurangi
jumlah laba perusahaan, sedangkan pemerintah menghendaki pajak yang
besar karena sebagai sumber pendapatan negara yang terbesar berasal
dari pajak. Adanya perbedaan kepentingan ini menyebabkan manajemen
perusahaan atau bisa disebut wajib pajak cenderung untuk mengurangi
jumlah pembayaran pajaknya, baik secara legal maupun illegal. Hal ini
dimungkinkan jika ada peluang untuk melakukan Tax Avoidance.
Tax avoidance (penghindaran pajak) adalah upaya penghindaran
pajak yang dilakukan secara legal dan aman bagi wajib pajak karena
dilakuan dengan cara-cara yang tidak melanggar dan tidak bertentangan
dengan ketentuan perpajakan, dimana metode dan teknik yang
digunakan cenderung memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang
terdapat dalam ketentuan perpajakan. Oleh karena itu maka manajemen

Dhela Adeliya Purnama 01117034


perusahaan perlu memahami ketentuan-ketentuan dari tax avoidance
untuk mengatasi perberdaan kepentingan perpajakan dan perusahaan.
Praktik perencanaan pajak dengan menggunakan utang yang lebih
banyak bertujuan untuk mengikis dasar pengenaan pajak di negara
sumber melalui pembayaran bunga yang berlebihan kepada subjek pajak
di negara yang tidak mengenakan pajak atau mengenakan pajak yang
rendah atas penghasilan bunga dan sejenisnya (Offermanns dan
Baldwesing, 2015).
Intinya Perusahaan biasanya melakukan perencanaan pajak melalui utang
yang besar maka akan menimbulkan beban bunga yang beasar pula,
sehingga dasar pengenaan pajak menjadi kecil.
Dalam beberapa penelitian yang pernah saya baca perusahaan
cenderung menggunakan beban bunga sebagai cara untuk melakukan
penghindaran pajak. Namun dengan adanya pembeban biaya bunga
berlebihan (excessive interest) yang dilakukan oleh perusahaan
menyebabkan pendapatan negara berkurang sehingga negara
menerapkan kententuan yang bertujuan untuk menangkal tingginya
utang yang berlebihan, yang seringkali mengacu pada apa yang disebut
sebagai aturan pembatasan beban bunga (interest limitation rules). Oleh
sebab itu pemerintah mengeluarkan Undang-undang PPh telah memberikan
kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk membuat aturan tentang DER yaitu :
Peraturan Menteri Keuangan nomor 169/PMK.010/2015. Aturan ini
membatasi  DER setinggi-tingginya empat dibanding satu (4 : 1).
Yang diberlakuakan bagi Wajib Pajak di bidang Pertambangan Dan Gas
Bumi, Pertambangan Umum, Dan Pertambangan lainnya yang
dalam kontrak atau perjanjian tidak mengatur DER
Apabila besarnya perbandingan antara utang dan modal
perusahaan melebihi besarnya perbandingan yang ditentukan oleh
Menteri Keuangan, bunga yang dibayarkan atas utang yang dianggap
‘excessive’ itu tidak dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan.
Sementara itu, bagi pemegang saham yang menerima atau memperoleh
bunga tersebut dianggap sebagai dividen yang dikenai pajak.
Biaya pinjaman yang diperboleh untuk mengurangi penghasilan
bruto jika besarnya tidak melebihi ketentuan DER yaitu :
1. Bunga pinjaman;
2. Diskonto dan premium yang terkait dengan pinjaman;
3. Biaya tambahan yang terjadi terkait dengan perolehan pinjaman
(arrangement of borrowings);
4. Beban keuangan dalam sewa pembiayaan;
5. Biaya imbalah karena jaminan pengembalian utang; dan
6. Selisih kurs yang berasal dari pinjaman dalam valuta asing.
Perlu diperhatikan:

Dhela Adeliya Purnama 01117034


1. Walaupun rasio utang masih dibawah 4, jika biaya pinjaman
tersebut tidak memenuhi Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha
maka selisih lebih dari yang tidak wajar harus dikoreksi
fiskal. Pada prakteknya, Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha
biaya dipakai oleh pemeriksa pajak pada saat dilakukan
pemeriksaan.
2. Jika pinjaman dipergunakan untuk kegiatan yang menghasilkan
penghasilan yang PPh-nya dikenai final atau menghasilkan
penghasilan tetapi penghasilan tersebut bukan objek pajak, maka
atas biaya pinjaman tersebut tetap harus disingkirkan dalam
perhitungan.
3. Jika pinjaman tersebut dipergunakan untuk kegiatan PPh final dan
bukan final dan tidak dapat dipisahkan pembukuannya, maka
pemisahannya dapat dilakukan dengan cara proporsional
antara penghasilan final dan bukan final.
4. Termasuk biaya pinjaman yang tidak boleh dibiayakan adalah biaya
pinjaman yang disebutkan diatas dan dikapitalisasi (dimasukkan
sebagai harga perolehan harta). Maka atas penyusutan biaya
pinjaman yang dikapitalisasi tersebut tidak boleh dibiayakan.
Kesimpulan :
1. Kepentingan antara perusahaan dan pemerintahan berbeda dalam
hal perpajakan. Pemerintah menghendaki perusahaan untuk
membayar pajak yang besar sedangan perusahaan menghendaki
pembayaran pajak yang kecil karena dianggap sebagai beban dan
memperkecil laba.
2. Untuk dapat menekan jumlah pajak yang dibayar perusahaan dapat
melakukan penghindaran pajak secara legal sesuai dengan
peraturan perpajakan.
3. Persoalan penghindaran pajak merupakan persoalan yang rumit dan
unik. Di satu sisi penghindaran pajak diperbolehkan, tapi di sisi yang
lain penghindaran pajak tidak diinginkan. Maka pemerintah
mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan
nomor 169/PMK.010/2015. Aturan ini bertujuan membatasi
pembebanan bunga yaitu dengan  DER setinggi-tingginya empat
dibanding satu (4 : 1).

Dhela Adeliya Purnama 01117034