Anda di halaman 1dari 12

PERENCANAAN TOURISM PASCA COVID-19: PELUANG dan TANTANGAN

KEDEPAN

DOSEN PENGAJAR:
Dr. Made Heny Urmila Dewi, SE., M.Si

KELAS:
Ekonomi Pariwisata Berkelanjutan (EKI 308 B1)

OLEH:
Ni Putu Eka Wahyuni 1707511058 / 16

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal
dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang dapat menular ke manusia.
Virus ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil,
maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota
Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke
wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara, termasuk Indonesia. Hal ini membuat beberapa
negara di luar negeri menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka
mencegah penyebaran virus Corona. Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi
sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan,
seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi
paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute
Respiratory Syndrome (SARS).
Pariwisata di Indonesia terkena dampak yang cukup parah akibat munculnya virus corona
ini. Dimana saat pendemi ini menyerang, semua orang lebih memilih untuk tetap diam di
rumahnya karena takut terjangkit virus ini, sehingga banyak tempat wisata menjadi sepi dan
kegiatan pariwisata menjadi lesu, padahal pariwisata merupakan sektor yang paling efektif untuk
mendongkrak devisa Indonesia. Salah satu alasannya karena sumber daya yang dibutuhkan untuk
mengembangkan pariwisata terdapat di dalam negeri. Selain sumber daya manusianya, sumber
daya lainnya seperti luas wilayah serta keragaman yang ada di tanah air juga menjadi daya tarik
tersendiri bagi wisatawan mancanegara. Terlebih saat ini, di Indonesia tersedia beragam destinasi
eksotis dan memukau. Tidak hanya wisata alam yang kaya, wisata budaya serta sejarah di
Indonesia juga tidak kalah menarik. Ini karena Indonesia memiliki ratusan suku yang tersebar
dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bank Indonesia (BI) bersama pemerintah menargetkan
mampu mengumpulkan devisa sebesar 20 miliar dollar AS atau setara Rp 2,8 triliun (1 dollar =
Rp14.000).Target tersebut, lebih besar 3 miliar dollar AS dibandingkan perolehan devisa dari
pariwisata tahun lalu yakni 17 miliar dollar AS atau Rp 2,3 triliun.
BPS menyebutkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mulai
Januari hingga April 2019 mencapai 5,12 juta kunjungan. Adapun jumlah kunjungan ini
meningkat sebesar 3,22 persen bila dibandingkan dengan kunjungan wisman pada periode yang
sama tahun 208 yakni 4,96 kunjungan. Sementara untuk jumlah kunjungan wisman ke Indonesia
pada April 2019 mengalami kenaikan sebesar 0,11 persen dibanding jumlah kunjungan pada
April 2018, yakni sebanyak 1,30 juta wisman yang didominasi dari wilayah ASEAN dan
jumlahnya naik 13,28 persen bila dibanding April 2018. Bila ditilik menurut kebangsaan,
kunjungan wisman paling banyak berasal dari Malaysia sebanyak 256,3 ribu kunjungan atau
19,66 persen, disusul China sebesar 171,6 ribu kunjungan setara dengan 13,16 persen, lalu
Singapura 150,0 ribu kunjungan atau 11,50 persen dan Timor Leste 106,2 ribu kunjungan setara
dengan 8,15 persen. Bila dihitung secara kumulatif ulai Januai hingga April 2019 dan
dibandingkan dengan periode yang sama dengan tahun sebelumnya, wisman yang datang dari
wilayah ASEAN memiliki persentase kenaikan paling tinggi, yakni sebesar 16,77 persen.
Sedangkan wilayah Timur Tengan mengalami penurunan paling besar yakni 13,22 persen.
Disamping itu peringkat indeks daya saing pariwisata Indonesia di dunia naik menjadi
peringkat 40 di tahun 2019 dari peringkat 42 di tahun 2017. Hal itu berdasarkan Laporan The
Travel & Tourism Competitiveness Report yang dirilis WEF (World Economic Forum) 2019. Di
dunia, Indonesia berada di peringkat 40 dari 140 negara. Di kawasan Asia Tenggara, indeks daya
saing pariwisata Indonesia berada di peringkat empat. Indonesia meraih skor 4,3 dari total
penilaian pilar-pilar seperti lingkungan bisnis, keamanan, kesehatan dan kebersihan, sumber
daya manusia dan lapangan kerja, keberlanjutan lingkungan dan lainnya. Pada tahun 2015,
Indonesia berada di peringkat 50 dunia. Pada tahun 2017, peringkat Indonesia melonjak menjadi
peringkat 42. Sementara, pemerintah Indonesia menargetkan naik ke rangking 30 di dunia.
Terkait devisa, sumbangan dari sektor pariwisata terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015
tercatat pariwisata menyumbang 12,2 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Kemudian, tahun 2016
naik menjadi 13,6 miliar dollar AS dan tahun 2017 menjadi 15 miliar dollar AS.
Namun pada awal tahun 2020, pariwisata dunia termasuk Indonesia harus menelan pil
pahit. Pasalnya pada akhir tahun terdapat pandemi virus corona yang menyerang daerah Wuhan,
China. Virus ini menyebar dengan cepat ke seluruh dunia dan menyebabkan beberapa negara
menerapkan kebijakan lockdown. Tentu saja hal tersebut mengakibatkan adanya penurunan
wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Dalam waktu dua bulan lebih sejak virus Corona
masuk ke Indonesia, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat sudah ada
1.542 hotel yang tutup di 31 provinsi di Indonesia. Tiga provinsi lainnya masih dalam
kepengurusan organisasi dengan PHRI. Hunian hotel di Bali pun juga ikut merasakan imbasnya,
dimana 90% lebih hotel yang ada di Bali sudah merumahkan karyawannya dan di Jawa Barat
sekitar 575 hotel di tutup dan ribuan pegawai dirumahkan. Sekitar 80% ekonomi Bali
mengandalkan wisata. Namun kini hampir semua turis telah meninggalkan Bali. Mereka yang
masih terjebak berharap untuk segera pulang. Jika tidak ada turis, maka artinya para pemandu
sepi job. Ada sekitar 7.000 pemandu wisata di Bali. Namun kini mereka bekerja serabutan untuk
menyambung hidup. Menurut Mangku Nyoman Kandia seorang pemandu wisata sejak tahun
1984, secara ekonomi, hal ini lebih buruk dibandingkan dengan Bom Bali dan erupsi Gunung
Agung di masa lalu.
Di tengah meningkatnya aturan larangan perjalanan, Emirates mengumumkan
memberhentikan layanan operasional penumpang di seluruh dunia. Emirates akan melanjutkan
layanan penumpang segera setelah dimungkinkan untuk melakukannya. Sementara itu, Emirates
mengoperasikan armada Boeing 777, memperkuat hubungan kargo udara internasional untuk
mengangkut barang-barang penting, termasuk pasokan medis dan makanan, ke seluruh dunia. Di
Indonesia, pada 24 Maret 2020, kru Emirates di bandara memberikan salam perpisahan pada
penerbangan terakhir dari Jakarta (EK 359) dan dari Denpasar, Bali (EK 451 dan EK 399)
menuju Dubai. Disamping itu banyak tempat wisata yang ditutup contohnya seperti Candi
Borobudur dan Taman Impian Jaya Ancol. Kedua tempat wisata tersebut ditutup hingga batas
yang belum ditentukan.
Sebenarnya turis asing sempat naik saat Imlek 25 Januari, tapi kemudian turun karena ada
virus Corona pada akhir bulan. Tak hanya itu, BPS juga mencatat jumlah 1,27 juta turis asing ini
hanya tumbuh 5,85 persen (year-on-year/yoy). Padahal tahun lalu, turis asing yang ke Indonesia
tumbuh sampai 9,5 persen. Penurunan terbesar terjadi pada turis dari Singapura sebesar 33,12
persen (month-to month/mtm) dan Malaysia 13,87 persen. Sementara turis dari Cina tetap naik
menjadi 17,58 persen mtm karena masih ada momen Imlek pada 25 Januari 2020. Penurunan
jumlah turis asing ini juga terlihat dari anjloknya kedatangan di beberapa pintu masuk utama di
Indonesia. Bandara Kualanamu di Sumatera Utara misalnya, kehilangan kunjungan turis hingga
13,84 persen mtm. Lalu Pelabuhan Laut di Batam, kehilangan kunjungan hingga 17,6 persen.
Komponen terakhir yang terkena dampak dari virus corona adalah Tingkat Penghunian Kamar
(TPK) hotel. Januari 2020, hanya 49,17 poin. Indeks TPK ini turun 10,22 poin mtm dan 2,3 poin
yoy. Industri pariwisata mengalami pukulan besar, seiring banyaknya negara-negara yang
melakukan pembatasan perjalanan guna mencegah penyebaran virus corona. Wabah yang sudah
menyebar ke lebih dari 80 negara itu berdampak besar terhadap perjalanan secara global.
Asosiasi Industri Penerbangan Internasional (IATA) mengatakan bahwa kerugian industri
penerbangan global dapat mencapai US$113 miliar tahun ini akibat Covid-19. Pemerintah
Indonesia memberikan insentif melalui diskon tiket pesawat antara 30% sampai 40% untuk 10
destinasi dalam negeri dari Maret hingga Mei 2020. Adapun 10 destinasi wisata yang dimaksud
meliputi Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Silangit,
Tanjung Pinang, dan Tanjung Pandan. Selain dari pemerintah, maskapai bisa memberikan
potongan harga untuk sebagian besar destinasi wisata domestik. Walaupun demikian, para
pelaku usaha tetap merasakan kesulitan akibat turunnya jumlah wisatawan.
Guna menekan dampak Virus Corona (Covid-19) di sektor pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
menyiapkan tiga tahapan untuk merespon dampak Covid-19 yaitu tanggap darurat, pemulihan
(recovery), dan normalisasi. Di tahap tanggap darurat ini, kami memberikan dukungan kepada
tenaga kesehatan untuk menyiapkan akomodasi, makanan, hingga transportasi. Karena tenaga
kesehatan saat ini menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus Covid-19 agar tidak meluas.
Selain berkoordinasi dengan K/L (Kementerian dan Lembaga) dan berbagai pihak terkait dalam
mengambil langkah-langkah untuk mendukung industri atau pelaku pariwisata Indonesia. Pada
tahap kedua yaitu pemulihan, dimana Kemenparekraf akan berkoordinasi dengan K/L lain untuk
mengindentifikasi dampak secara detail akibat wabah Covid-19. Selanjutnya, memberi dukungan
kepada para pelaku parekraf dari sisi ketenagakerjaan, utilitas, keringanan retribusi, relaksasi
pinjaman, pemanfaatan kartu pra kerja, hingga pelatihan online untuk SDM. Terakhir adalah
tahap normalisasi, yakni melakukan promosi kembali baik di dalam maupun luar negeri, hingga
menyiapkan insentif untuk industri pariwisata sekaligus pelaku ekonomi kreatif. Kemenparekraf
juga akan kembali menyusun keterlibatan dalam agenda-agenda internasional dan kalender event
nasional untuk menunjang kegiatan wisata. Selanjutnya, kembali membenahi destinasi
khususnya dari sisi keamanan dan keselamatan, sumber daya manusia, serta daya tarik setiap
destinasi. Pada langkah awal pasca-pemulihan nantinya, Wishnutama menekankan pentingnya
untuk lebih dahulu memobilisasi wisatawan nusantara (wisnus).
Disamping itu, Kemenparekraf juga menyediakan Pusat Krisis Terintegrasi sebagai jalur
komunikasi dan edukasi bagi masyarakat. Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19
Kemenparekraf, Ari Juliano Gema, mengatakan, komunikasi krisis yang terintegrasi sangat
diperlukan dalam manajemen krisis kepariwisataan sebagai upaya meminimalisasi dampak
wabah  covid-19. Kemenparekraf juga membuka berbagai kanal komunikasi publik sebagai
bentuk tanggap Covid-19, diantaranya melalui website dan media sosial resmi. Terkait parekraf,
tanggap covid-19 ada kanal komunikasi publik yang bisa dimanfaatkan di instagram
@kemen.parekraf, @indtravel, serta www.kemenparekraf.go.id. Semua landing page tersebut
terintegrasi dan langsung terhubung ke contact center yang berbasis aplikasi whatsapp dan akan
dijawab petugas pusat informasi pada jam kerja dan chatbot di luar jam kerja. Seiring dengan itu
pihaknya terus melakukan pendataan informasi industri pariwisata dan ekonomi kreatif yang
terdampak Covid-19 di seluruh daerah. Setelah terdata kemudian pihaknya bersama pemda akan
menerapkan rencana mitigasi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam menghadapi pandemi
covid-19. Disamping itu, kemenparekraf juga segera membuka forum daring untuk menjaring
masukan dari para pelaku dan stakeholder di bidang pariwisata sebagai bahan pertimbangan
dalam menyusun kebijakan dan langkah lanjutan.
Pemerintah pun telah menyadari akan ada kerugian di sektor pariwisata akibat situasi ini.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi,
Luhut Binsar Panjaitan menyebut estimasi kerugian mencapai US$ 500 juta atau hampir Rp 7
triliun per bulan. Untuk itu pada 25 Februari 2020, sejumlah paket insentif pariwisata telah
mengumumkan sejumlah paket pariwisata. Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata, salah
satunya tambahan alokasi Rp 298,5 miliar untuk insentif maskapai dan agen perjalanan, khusus
untuk mendatangkan turis asing ke Indonesia. Sementara untuk wisatawan domestik, pemerintah
memberikan diskon 30 persen penerbangan ke 10 tujuan wisata. Diskon 30 persen tersebut untuk
kuota 25 persen seats di setiap penerbangan ke 10 tujuan wisata dan berlaku selama tiga bulan
yaitu Maret, April, dan Mei 2020. Disamping itu, untuk mencegah penyebaran virus Corona,
Garuda Indonesia menerapkan sejumlah kebijakan sementara pada layanan penerbangan. Selain
itu sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19 melalui cross contamination selama
penerbangan, Garuda Indonesia menyajikan makanan terbungkus dalam plastic wrap, sehingga
para penumpang dapat membuka pembungkus tersebut secara mandiri, Garuda Indonesia juga
untuk sementara meniadakan menu layanan "Book Your Meal" terhitung sejak tanggal 1 April
2020 hingga 31 Mei 2020. Lebih lanjut Garuda Indonesia juga meniadakan sementara koran dan
majalah di dalam pesawat pada seluruh rute untuk menghindari barang atau media yang memiliki
kontak langsung dengan orang lain. Selain itu, untuk memastikan kebutuhan penunjang
kebersihan diri bagi penumpang maupun awak pesawat, Garuda Indonesia juga turut
menyediakan hand sanitizer yang tersedia di seluruh penerbangan.
Komunitas aktivis pariwisata Indonesia, Temannya Wisatawan (TW) mengusulkan tujuh
kebijakan yang perlu diambil oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif dalam rangka meminimalisir dampak negatif terhadap Pariwisata Indonesia dari
mewabahnya virus corona. Tujuh rekomendasi ini didasarkan pada dampak yang sudah terjadi,
baik dalam skala global atau nasional. Pada dampak skala global yang berdasarkan data World
Travel and Tourism Council (WTTC), dampak yang nyata pada sektor perjalanan dan pariwisata
akibat wabah Corona adalah berpotensi mengakibatkan 50 juta orang di seluruh dunia kehilangan
pekerjaan. Sedangkan dampak skala nasional pada sektor pariwisata, Perhimpunan Hotel &
Restoran Indonesia (PHRI), memprediksi potensi kerugian industri pariwisata Indonesia akibat
wabah virus corona COVID-19 mencapai 1,5 milliar dolar AS atau setara dengan Rp 21 triliun
dan pada sektor ekraf UMKM yang berdasarkan data yang diolah P2E LIPI, dampak penurunan
pariwisata terhadap UMKM yang bergerak di usaha makanan dan minuman (mamin) mikro
mencapai 27%. Sedangkan, dampak terhadap usaha kecil makanan minuman sebesar 1,77% dan
usaha menengah di angka 0,07%. Pengaruh virus corona terhadap unit usaha kerajinan dari kayu
dan rotan, usaha mikro akan berada di angka 17,03%. Untuk usaha kecil di sektor kerajinan kayu
dan rotan 1,77% dan usaha menengah 0,01%. Sementara itu, konsumsi rumah tangga juga akan
terkoreksi antara 0,5% hingga 0,8%. Padahal, UMKM memegang peranan penting dalam
struktur perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Bank Indonesia, pada 2016 sektor UMKM
mendominasi 99,9% unit bisnis di Indonesia. Dari angka tersebut, jenis usaha mikro paling
banyak menyerap tenaga kerja hingga 87%. Tingkat kecepatan dan ketepatan dari berbagai
negara seperti Singapura, Malaysia ataupun New Zealand di dalam menerapkan kebijakan-
kebijakan pemulihan pariwisatanya di dalam menghadapi pendemi ini  dijadikan pula sebagai
tolak ukur di dalam menyusun rekomendasi ini. Sebagai contoh, Singapura telah mengeluarkan
kebijakan sertifikasi SG Clean , kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan standard kebersihan
publik ditengah wabah virus corona, SG Clean ini diperuntukkan untuk sektor bisnis pariwisata,
ritel, dan layanan makanan, dan untuk mendapatkan sertifikasi ini harus memenuhi persyaratan
tertentu yang sangat ketat dari lembaga yang ditunjuk. Ternyata kebijakan ini terbukti mampu
berangsur-angsur meningkatkan kepercayaan dari pelanggan/wisatawan terhadap kualitas
layanan kebersihan yang diberikan selama mereka berwisata. Oleh karena itu dengan
memperhatikan hal-hal tersebut diatas, TW menggaris bawahi kebijakan-kebijakan pariwisata
yang perlu untuk diperkuat, antara lain: 
1. Dukungan kepada Industri dan pelaku parekraf
Tentang dukungan kepada industri/pelaku parekraf berupa: pembebasan biaya BPJS,
pengurangan biaya listrik, air, sewa, keringanan restribusi pajak pemda, relaksasi
peminjaman bank, dst. Adalah penting untuk segera disosialisasikan terkait petunjuk
teknis  serta penetapan waktu yang pasti dari kapan kebijakan ini mulai berlaku.
Karena hingga kini masih ditemukan dilapangan kebijakan yang sudah dicanangkan
dipusat tapi belum tersosialisasi dan terimplementasi dengan baik di daerah.
2. Dukungan Anggaran
Tentang Dukungan Kemenparekraf (Realokasi Anggaran) yang terkait kerja sama
dengan pihak hotel, pihak perusahaan transportasi wisata, pihak perusahaan makanan
dan minuman. Adalah perlu untuk dijelaskan kepada publik bentuk kerja sama yang
akan dilakukan, apakah murni seperti layaknya pengadaan barang dan jasa (kontrak
bisnis) atau murni bentuk kepedulian sosial dari para pemilik bisnis tersebut yang
dilakukan sebagai bentuk sumbangsih untuk negeri yang sedang berada ditengah
krisis ini.
3. Subsidi Pendidikan Pariwisata
Yang juga tidak boleh dilupakan adalah pentingnya subsidi  kepada para
pelajar/mahasiswa yang saat ini sedang menuntut ilmu di sekolah-sekolah tinggi
pariwisata baik negeri ataupun swasta di Indonesia, di mana sebagaimana kita
maklumi bahwa banyak dari pelajar/mahasiswa ini terancam tidak bisa melanjutkan
pendidikannya dikarenakan usaha yang dimiliki orang tuanya jatuh dikarenakan
dampak corona.
4. Penguatan SOP Mitigasi Pariwisata
Berkaca dari banyak kejadian bencana alam, force majeur yang terjadi di Indonesia
seperti gempa bumi, gunung api meletus dan saat ini wabah penyakit, maka
kebutuhan akan segera diperkuatnya SOP Mitigasi Pariwisata Indonesia yang
mengacu pada standardisasi yang diberikan UNWTO dan WHO adalah sangat
penting.  Langkah strategi dari Kemenparekraf di saat  fase pemulihan adalah sangat
krusial untuk disiapkan sejak dini, agar pada saat wabah ini mereda  kemenparekraf
sudah tidak lagi berbicara tentang merancang strategi pemulihan, tapi tinggal
melaksanakannya.
5. Prioritas pada pembenahan destinasi
Terkait kenyamanan di destinasi wisata, Indonesia masih banyak memiliki PR yang
harus dikerjakan, seperti misalnya issue kebersihan, keamanan, kesehatan,
pelestarian lingkungan, regulasi daerah, layanan wisata halal dan lain sebagainya.  Ini
tidak saja membutuhkan anggaran yang banyak tetapi juga pendampingan yang
intensif, sehingga pembenahan destinasi yang dilakukan sesuai dengan standard
global manajemen destinasi pariwisata yang berkelanjutan.
6. Meningkatkan peran pokdarwis di desa wisata sebagai tim gugus desa yang dibina
oleh Kemenparekraf
Pokdarwis perannya seringkali dikesampingkan di dalam pengembangan pariwisata,
padahal kelompok ini beranggotakan anak - anak muda kreatif yang peduli akan
kemajuan pariwisata di desanya. Peningkatan peran dari Pokdarwis yang tersebar di
seluruh desa wisata diharapkan dapat menjadi agen perubah, motor penggerak
masyarakat dalam membangun industri kreatif di desa, sekaligus  menginisiasi
gerakan bersama menjaga destinasi pariwisata.
7. Penguatan Regulasi masuknya Wisatawan Mancanegara
Mengambil pengalaman dari kasus corona, wisatawan dari negara/daerah yang sudah
pernah atau rentan terkena wabah penyakit harus melalui seleksi yang sangat ketat
untuk mendapatkan izin masuk/visa ke Indonesia.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama merespons kabar
terbaru terkait positifnya dua WNI yang telah dinyatakan positif corona. Menurutnya, penerapan
kebijakan stimulus sektor pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan mancanegara baru akan
dilakukan menunggu hingga wabah Covid-19 mereda dan suasana kembali kondusif. Hal
terpenting dalam kondisi saat ini adalah mengutamakan penanganan dan antisipasi agar virus
tidak semakin meluas. Untuk saat ini, menparekraf akan lebih memfokuskan program pada
penanganan wisman yang masuk ke destinasi Indonesia saat dimulainya periode penyebaran
virus dimaksud, menambah peningkatan kualitas destinasi pariwisata melalui environment
sustainability, health and hygiene, dan safety and security.
Disamping itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat
(Jabar) sedang menyusun kebijakan di sektor pariwisata setelah wabah Virus Corona atau
COVID-19 mereda di Indonesia, karena pembenahan sektor pariwisata yang mengalami
penurunan signifikan memerlukan waktu. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud)
Jawa Barat, Dedi Taufik diminta bersinergi merumuskan kebijakan sekaligus membuat mitigasi
agar siap membangun kembali sektor pariwisata ketika pandemi usai. Ini sesuai dengan arahan
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI dalam rakor dengan Kadis Pariwisata tingkat
provinsi se Indonesia. Sekretaris Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI (Kemenparekraf)
Giri Adnyana mewakili Menteri Parekraf memberikan arahan bahwa pemerintah daerah diminta
untuk membuat rencana mitigasi dampak corona bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di
daerah. Disparbud Jawa Barat, Dedi Taufik juga menyatakan bahwa pihaknya sudah
menyampaikan program dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya kebijakan yang diambil
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil seperti membuat sistem informasi terintegrasi berkaitan
penanganan virus corona bernama Pikobar. Kebijakan lain adalah mengusulkan insentif dan
keringanan pembayaran pajak bagi dunia usaha pariwisata koordinasi dengan kabupaten/kota dan
realokasi anggara untuk penanganan corona sesuai arahan dari pemerintah pusat, termasuk
percepatan bantuan keuangan kepada masyarakat yang mengalami krisis ekonomi. Pihaknya juga
meminta pihak kementerian membuat rumusan pembatasan arus aktivitas masyarakat dan ia
menyarankan akses ke DKI Jakarta yang masuk menuju Jawa Barat melalui jalan tol dan juga
akses pintu masuk ke Jawa Tengah dan Jawa Timur perlu dikaji.
Para analis mengatakan, promosi berbentuk diskon harga setelah masa pandemi corona
bisa dengan mudah membuat jumlah turis kembali merangkak naik. Christopher Anderson,
profesor bisnis di Hotel School Cornell University di Ithaca, New York, mengatakan kalau
sektor wisata kapal pesiar paling berdampak selama dan sesudah pandemi corona. Tantangan
yang akan mereka hadapi setelah pandemi berlalu adalah dalam hal menarik pelanggan baru,
yang telah banyak melihat berita mengenai kegentingan di kapal pesiar selama pandemi. Para
wisatawan juga akan enggan untuk melakukan perjalanan yang jauh karena mereka masih
mengalami trauma saat pandemi covid-19 ini menyebar. Mereka akan lebih berhati-hati dalam
bertindak, khususnya dalam melakukan perjalanan yang jauh. Disamping itu, hotel mungkin
akan lebih laku dibandingkan hunian sewa setelah pandemi berlalu, karena turis merasa
pengecekan kebersihan di hotel lebih diutamakan. Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi pemilik
hunian sewa. Jika pemilik hunian sewa tidak dapat meningkatkan kebersihan, kenyamanan dan
keamanan hunian sewanya maka tidak akan ada yang menyewa dan mereka akan mengalami
kebangkrutan.
DAFTAR PUSTAKA

Alodokter. Virus Corona (Covid-19). Online melalui https://www.alodokter.com/virus-corona


11 April 2020

BBC News Indonesia. 2020. Virus Corona: Sekitar 50 Juta Orang Akan Kehilangan Pekerjaan di
Sektor Pariwisata Akibat Pandemi. Online melalui
https://www.bbc.com/indonesia/amp/indonesia-51764525 12 April 2020

CNN Indonesia. 2020. 8 Hal yang Mungkin Terjadi di Industri Wisata Usai Corona. Online
melalui https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200401151158-269-489200/8-hal-
yang-mungkin-terjadi-di-industri-wisata-usai-corona 12 April 2020

Detikcom. 2020. Efek Virus Corona ke Wisata RI per 11 April 2020. Online melalui
https://travel.detik.com/travel-news/d-4928546/efek-virus-corona-ke-wisata-ri-per-11-
april-2020 12 April 2020

Dimyati, Vien. 2020. Wishnutama Siapkan 3 Strategi terkait Dampak Covid-19 bagi Industri
Pariwisata dan Ekraf. Online melalui
https://www.inews.id/amp/travel/destinasi/wishnutama-siapkan-3-strategi-terkait-
dampak-covid-19-bagi-industri-pariwisata-dan-ekraf 12 April 2020

Dispar Banten. 2020. Ini Strategi Pemerintah Menyelamatkan Pariwisata Indonesia dari Dampak
Corona. Online melalui https://dispar.bantenprov.go.id/Berita/topic/326 12 April 2020

Fitriani, Eva. 2020. Kemenparekraf Susun Strategi Penanganan Dampak Covid-19 Bagi Industri
Parekraf. Online melalui https://investor.id/business/kemenparekraf-susun-strategi-
penanganan-dampak-covid19-bagi-industri-parekraf 12 April 2020

Gewati, Mikhael. BI: Industri Pariwisata Jadi Sektor Paling Hasilkan Devisa. Online melalui
https://amp.kompas.com/travel/read/2019/03/23/084500627/bi--industri-pariwisata-jadi-
sektor-paling-hasilkan-devisa 10 April 2020

Pebrianto, Fajar. 2020. Awal 2020, Pariwisata Indonesia Sudah ‘Terserang’ Virus Corona.
Online melalui https://bisnis.tempo.co/amp/1314447/awal-2020-pariwisata-indonesia-
sudah-terserang-virus-corona 12 April 2020
Prodjo,W.A. Indeks Daya Saing Pariwisata Indonesia Tahun 2019 Naik. Online melalui
https://travel.kompas.com/read/2019/09/05/173751627/indeks-daya-saing-pariwisata-
indonesia-tahun-2019-naik?page=all#page2 10 April 2020

Ratnasari, B.C. dan Aria Sankhyaadi . BPS Merilis Data Perkembangan Pariwisata Bulan April
2019. Online melalui https://kumparan.com/kumparantravel/bps-merilis-data-
perkembangan-pariwisata-bulan-april-2019-1rFodFSfD09 10 April 2020

Republika.co.id. 2020. 7 Strategi Pariwisata Indonesia Bangkit dari Corona. Online melalui
https://republika.co.id/amp/q84y62440 12 April 2020

Riana dan Luki H. 2020. Tekan Dampak Covid-19, Kemenparekraf Buka Pusat Krisis
Pariwisata. Online melalui https://pontas.id/2020/04/01/tekan-dampak-covid-19-
kemenparekraf-buka-pusat-krisis-pariwisata/ 12 April 2020

Sudrajat, Ajat dan Budisantoso Budiman. 2020. Tunggu Corona Mereda , Disparbud Jabar Susun
Kebijakan Sektor Pariwisata. Online melalui
https://lampung.antaranews.com/amp/berita/405410/tunggu-corona-mereda-disparbud-
jabar-susun-kebijakan-sektor-pariwisata 12 April 2020