Anda di halaman 1dari 3

ASUHAN KEPERAWATAN

KEJANG DEMAM PADA ANAK


No.
:
Dokumen
SOP No. Revisi :
Tgl.Terbit :
Halaman :1/3
drg. Sri Dewi Susanti
PUSKESMAS
Nip. 19750202 200501 2
KAMPUNG BARU
009

Asuhan keperawatan Kejang demam adalah langkah kegiatan untuk


1. Pengertian mengidentifikasi bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
( suhu rektal > 38 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium.
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah perawat dalam melaksanakan
2. Tujuan Asuhan Keperawatan pada kasus kejang demam pada anak yang dilaksanakan
mulai dari pengkajian, penentuan diagnosa, tindakan sampai dokumentasi
3. Kebijakan
1. Kapita selekta kedokteran, Arif Mansjoer dkk, FKUI Jakarta 2000
2. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA, Budi Santoso, 2005-2006
3. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, IDAI, Hardiono D.
4. Referensi
Pusponegoro dkk, 2004
4. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, RSUD Wates, Tri Atmaja,
2001
5. Prosedur

1. Petugas administrasi mendaftarkan pasien


2. Perawat melakukan pengkajian ( faktor resiko dan etiologi kejang demam )
3. Perawat mengobservasi tanda-tanda vital
4. Perawat melakukan pemeriksaan fisik dari kepala sampai kaki
5. Perawat menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas sbb :
1. Resiko trauma fisik b/d adanya kejang, hipoksia jaringan
Tujuan/kriteria hasil :1. Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan
2. Fungsi neurologi sadar, kontrol gerakan pusat, fungsi
motorik atau sensorik otak dalam batas yang diharapkan
3. Dapat berkomunikasi
4. Tak ada kejang, tak ada sakit kepala
5. Memonitor faktor resiko dari lingkungan
Intervensi :
 Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat tidur yang
rendah
 Tinggallah dengan klien selama fase kejang
 Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah
 Beri penerangan yang cukup
 Catat tipe kejang dan frekuensi kejang
 Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang
 Anjurkan keluarga untuk tinggal bersama klien
 Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan
 Ajarkan keluarga/orang tua untuk mengenali faktor pemicu
2. Hipertermia b/d proses infeksi
Tujuan / kriteria hasil : 1. Suhu Tubuh dalam rentang normal ( 35,9 – 37,3 C )
2.Nadi dan Respirasi dalam rentang normal
3.Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
4. Tidak menggigil
Intervensi :
 Kaji faktor terjadinya hipertermi
 Observasi tanda vital setiap 4 jam sekali
 Pertahankan suhu tubuh normal
 Ajarkan pada keluarga memberikan kompres pada kepala dan ketiak
 Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain katun
 Atur sirkulasi udara ruangan
 Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum
 Batasi aktivitas fisik
 Kolaborasi pemberian antipiretik dan cairan intravena
 Anjurkan intake cairan adekuat
3. Perfusi jaringan kardiopulmonal tidak efektif b/d hipovolemia
Tujuan / kriteria hasil : 1. Tak ada sakit kepala
2. Tidak gelisah
3. Tidak muntah
4. Tidak ada agitasi
5. TIK dalam batas normal
6. Tidak ada sinkope
Intervensi :
 Monitor tingkat kesadaran
 Monitor tingkat orientasi
 Monitor ukuran pupil, bentuk, kesimetrisan, dan reaktivitas
 Monitor tanda vital
 Monitor status respirasi
 Monitor refleks kornea
 Monitor refleks batuk dan refleks muntah
 Monitor tonus otot
 Monitor tanda perdarahan
 Monitor intake dan output
 Monitor respon terhadap stimulus : verbal, taktil, stimulus berbahaya
4. Resiko aspirasi b/d akumulasi sekret, muntah, penurunan kesadaran
Tujuan / kriteria hasil : 1. Respirasi dalam rentang normal
2. Ekspansi dada simetris
3. Tidak ada sekret di jalan napas
4. Tidak ada penggunaan otot tambahan
5. Tidak ada retraksi dada
6. Tidak ditemukan dispneu
7. Tidak ditemukan suara napas tambahan
Intervensi :
 Catat gerakan dada apakah simetris, ada penggunaan otot tambahan dan
retraksi
 Monitor rata-rata, ritme, kedalaman dan usaha napas
 Monitor pola napas : bradipnea, takipnea, kusmaul, apnoe
 Dengarkan suara napas
 Monitor peningkatan gelisah, cemas
 Monitor kemampuan klien untuk batuk efektif
 Catat karakteristik dan durasi batuk
 Monitor sekret disaluran napas
 Pertahankan airway
 Beri makanan dalam jumlah kecil
 Jaga posisi kepala klien elevasi 30-40 selama dan setelah pemberian makan
 Anjurkan / atur posisi klien semi fowler atau fowler ketika makan
 Miringkan kepala bila kejang untuk mencegah aspirasi ludah atau muntahan
5. Kecemasan ortu b/d perubahan status kesehatan, krisis situasional
Tujuan / kriteria hasil : 1. Keluarga mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan
gejala cemas
2. Keluarga dapat mengidentifikasi, mengungkapkan dan
menunjukkan teknik untuk mengontrol cemas
3. Vital sign dalam batas normal
4. Ekspresi wajah santai
5. Peningkatan konsentrasi dan akurasi dalam berpikir
Intervensi :
 Kaji tingkat kecemasan keluarga
 Gunakan pendekatan dengan konsep atraumatic care
 Jangan memberikan jaminan tentang prognosis penyakit
 Jelaskan prosedur dan dengarkan keluhan klien/keluarga
 Pahami harapan keluarga dalam situasi stres
 Temani keluarga untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
 Kolaborasi dengan tim kesehatan lain dalam memberikan informasi
mengenai diagnosis, tindakan prognosis
 Anjurkan keluarga untuk menemani anak dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan
 Bantu keluarga mengenal penyebab kecemasan

Unit Terkait Loket pendaftaran, Poli Anak , UGD, Rawat inap, Laboratorium, Apotek

Rekaman Historis Perubahan

No Isi Perubahan Tgl. Mulai Diberlakukan