Anda di halaman 1dari 3

Nama : Pradien Irwien Satria

Kelas : 5-05

NPM/No : 1302170799/32

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Ibu Dewi Puspita dan teman-teman sekalian

Perkenankanlah saya terlebih dahulu memanjatkan puji syukur kekhadirat Allah SWT, atas
segala limpahan nikmat dan karunia, sehingga kita dapat berkumpul bersama di tempat
terhormat ini. Sholawat dan Salam marilah kita sampaikan kepada junjungan alam Nabi
Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan dan bimbingan untuk keselamatan dan
kemaslahatan di dunia dan di akhirat.

Ucapan terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada teman-teman sekalian yang
telah memberikan kehormatan kepada saya untuk berdiri di hadapan para hadirin yang
terhormat, untuk menyampaikan Pidato dengan tema karakter bangsa.

Pada kesempatan yang berbahagia ini izinkanlah saya menguraikan permasalahan yang saat
ini memerlukan pemikiran kita, yaitu berkenaan dengan kecenderungan globalisasi dan
gerakan demokratisasi yang sungguh-sungguh berpengaruh terhadap kehidupan manusia di
mana pun berada

Ibu Dewi Puspita dan para hadirin yang saya muliakan,

Mari kita sejenak melihat berbagai gejolak dalam masyarakat kita pada beberapa
tahun terakhir ini yang sangat memprihatinkan kita semua. Pertama, munculnya karakter
buruk yang ditandai kondisi kehidupan sosial budaya kita yang berubah sedemikian drastis
dan fantastis. Bangsa yang sebelumnya dikenal penyabar, ramah, penuh sopan santun dan
pandai berbasa-basi sekonyong-konyong menjadi pemarah, suka mencaci, pendendam,
perang antar kampung dan suku dengan tingkat kekejaman yang sangat biadab. Kedua, dalam
tiga dekade terakhir ini Indonesia tengah mengalami proses kehilangan, mulai dari
kehilangan dalam aspek alam fisik, alam hayati, manusia, dan budaya. Dalam aspek budaya
kita sudah kehilangan kecintaan terhadap kesenian tradisional sebagai warisan budaya
adiluhung bangsa. Sebagian dari kita sudah kehilangan kejujuran dan rasa malu. Sudah sekian
lamanya Indonesia mendapat predikat sebagai salah satu negara yang tingkat korupsinya
sangat tinggi di dunia. Kita kehilangan cita-cita bersama (in-group feeling) sebagai bangsa.
Tiada lagi Indonesian Dream yang mengikat kita bersama, yang lebih menonjol adalah cita-
cita golongan untuk mengalahkan golongan lain.

Indonesia sudah kehilangan banyak hal dan kehilangan ini bukan tidak mungkin masih dapat
berlangsung. Pertanyaannya, mungkinkah ini tanda-tanda kita akan meluncur ke arah
kehilangan segala-galanya sebagaimana tersirat dalam kata-kata bijak:
You lose your wealth, you lose nothing

You lose your health, you lose something

You lose your character, you lose everything

Hadirin undangan sekalian yang berbahagia,

Situasi yang bergolak serupa ini dapat dijelaskan secara sosiologis karena ini memiliki kaitan
dengan struktur sosial dan sistem budaya yang telah terbangun pada masa yang lalu.

Pertama, setelah tumbangnya struktur kekuasaan otokrasi yang dimainkan Rezim


Orde Baru ternyata bukan demokrasi yang kita peroleh melainkan oligarki dimana kekuasaan
terpusat pada sekelompok kecil elit, sementara sebagian besar rakyat tetap jauh dari sumber-
sumber kekuasaan (wewenang, uang, hukum, informasi, pendidikan, dan sebagainya).

Kekuasaan politik formal dikuasai oleh sekelompok orang partai yang melalui Pemilu berhak
menguras suara rakyat untuk memperoleh kursi di Parlemen. Melalui Parlemen kelompok ini
berhak mengatasnamakan suara rakyat untuk melaksanakan agenda politik mereka sendiri
yang sering kali berbeda dengan kepentingan nyata masyarakat.

Kekuasaan kharismatik yang berakar dari tradisi, maupun agama terdapat pada beberapa
orang yang mampu menggerakan loyalitas dan emosi rakyat yang bila perlu menjadi tumbal
untuk tujuan yang bagi mereka sendiri tidak jelas.

Sekelompok kecil elit daerah memiliki wewenang formal maupun informal untuk
mengatasnamakan aspirasi daerah demi kepentingan mereka sendiri. Kelompok inilah yang
sering menyuarakan isu separatisme, federalisme, otonomi luas, bahkan isu putra daerah.

Kelompok aktivis vokal (vocal minority) yang sering melakukan aksi-aksi demo dengan
mengatasnamakan kepentingan rakyat banyak dengan cara-cara yang sering kali justru
memuakkan rakyat kebanyakan (main hakim sendiri, melakukan tindak kekerasan, sweeping,
membenturkan massa dengan aparat keamanan dan sebagainya).

Kedua, Ketika rezim Orde Baru berhasil dilengserkan, pola konflik di Indonesia
ternyata bukan hanya terjadi antara pendukung fanatik Orde Baru dengan pendukung
Reformasi, tetapi justru meluas menjadi konflik antarsuku, antarumat beragama, kelas sosial,
kampung, dan sebagainya. Sifatnya pun bukan vertikal antara kelas atas dengan kelas bawah
tetapi justru lebih sering horizontal, antarsesama rakyat kecil, sehingga konflik yang terjadi
bukan konflik yang korektif tetapi destruktif (bukan fungsional tetapi disfungsional),
sehingga kita menjadi sebuah bangsa yang menghancurkan dirinya sendiri (self destroying
nation).

Pada bagian akhir dari pidato saya ini mari kita memfokuskan perhatian pada
keberadaan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kini pada era reformasi pasca jatuhnya
sistem politik Orde Baru yang diikuti dengan tumbuhnya komitmen baru kearah perwujudan
cita-cita dan nilai demokrasi konstitusional yang lebih dinamis sebagai mata pelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warganegara muda yang memiliki karakter ke-Indonesiaan
yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi
warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter sebagaimana diamanatkan oleh
Pancasila dan UUD 1945.

Seluruh rakyat hendaknya menyadari bahwa PKn sangat penting untuk mempertahankan
kelangsungan demokrasi konstitusional. Sebagaimana yang selama ini dipahami
bahwa ethos demokrasi sesungguhnya tidaklah diwariskan, tetapi dipelajari dan dialami. 

Demokrasi dipelihara oleh warganegara yang mempunyai pengetahuan, kemampuan


dan karakter yang dibutuhkan. Tanpa adanya komitmen yang benar dari warganegara
terhadap nilai dan prinsip fundamental demokrasi, maka masyarakat yang terbuka dan bebas,
tak mungkin terwujud. Oleh karena itu, tugas bagi para pendidik, pembuat kebijakan, dan
anggota civil society lainnya, adalah mengkampanyekan pentingnya PKn kepada seluruh
lapisan masyarakat dan semua instansi dijajaran pemerintahan.

Membangun karakter ke-Indonesiaan dengan demikian merupakan suatu proses


memberikan posisi warganegara yang lebih mandiri terhadap negara, membina etos
demokrasi yang bukan sekedar menekankan hak individual dan supremasi hukum, tetapi
terutama menekankan pada pembenahan moral hubungan antarwarganegara itu sendiri,
penanaman nilai kerukunan yang menghasilkan kepedulian terhadap semua warganegara dan
nasib seluruh bangsa.

Kita harus mampu menyiptakan suatu moralitas baru yang tidak mengganggu
kehidupan pribadi orang (sikap anti puritanisme).

Kita harus mempertahankan suatu hukum dan keteraturan tanpa harus jatuh pada
suatu negara polisi dengan merancang secara hati-hati kewenangan dan kekuasaan
pemerintah.

Kita harus menyelamatkan kehidupan keluarga tanpa harus membatasi hak


anggotanya secara diskriminatif (misalnya memaksakan peran domestik kepada
perempuan).

Sekolah harus mampu memberikan pendidikan moral, tanpa mengindoktrinasi anak


muda.

Kita harus memperkuat kehidupan komunitas tanpa menjadi orang fanatik dan saling
bermusuhan terhadap komunitas lain.

Pada akhirnya kepada para hadirin yang saya hormati, saya mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya atas kesabarannya mendengarkan pidato saya, dan saya mohon
maaf apabila ada yang kurang berkenan di hati hadirin semuanya. Semoga Allah SWT selalu
melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua.

Wabilahitaufiq wal hidayah, Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.