Anda di halaman 1dari 27

OUTPUT

Laporan bacaan

1. KONSEP MANAJEMEN RISIKO.

A. MANAJEMENT RESIKO

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia menyebutkan bahwa manajemen resiko adalah suatu
pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan
ancaman, suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk penilaian resiko, pengembangan strategi
untuk mengelolanya dan mitigasi resiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan
sumber daya.  Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak
lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua
konsekuensi resiko tertentu.  Manajemen resiko tradisional terfokus pada resiko- resiko yang
timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, dan
tuntutan hukum).

Manajemen resiko adalah bagian penting dari strategi manajemen semua wirausaha. Proses di
mana suatu organisasi yang sesuai metodenya dapat menunjukkan resiko yang terjadi pada suatu
aktivitas menuju keberhasilan di dalam masing-masing aktivitas dari semua aktivitas.  Fokus dari
manajemen resiko yang baik adalah identifikasi dan cara mengatasi resiko.  Sasarannya untuk
menambah nilai maksimum berkesinambungan (sustainable) organisasi.  Tujuan utama untuk
memahami potensi upside dan downside dari semua faktor yang dapat memberikan dampak bagi
organisasi.  Manajemen resiko meningkatkan kemungkinan sukses, mengurangi kemungkinan
kegagalan dan ketidakpastian dalam memimpin keseluruhan sasaran organisasi.

Manajemen resiko seharusnya bersifat berkelanjutan dan mengembangkan proses yang bekerja
dalam keseluruhan strategi organisasi dan strategi dalam mengimplementasikan. Manajemen
resiko seharusnya ditujukan untuk menanggulangi suatu permasalahan sesuai dengan metode
yang digunakan dalam melaksanakan aktifitas dalam suatu organisasi di masa lalu, masa kini dan
masa depan.
Manajemen resiko harus diintegrasikan dalam budaya organisasi dengan kebijaksanaan yang
efektif dan diprogram untuk dipimpin beberapa manajemen senior. Manajemen resiko harus
diterjemahkan sebagai suatu strategi dalam teknis dan sasaran operasional, pemberian tugas dan
tanggung jawab serta kemampuan merespon secara menyeluruh pada suatu organisasi, di mana
setiap manajer dan pekerja memandang manajemen resiko sebagai bagian dari deskripsi
kerja.Manajemen resiko mendukung akuntabilitas (keterbukaan), kinerja pengukuran dan
reward, mempromosikan efisiensi operasional dari semua tingkatan.

B. SASARAN MANAJEMENT RESIKO

Sasaran dari pelaksanaan manajemen resiko adalah untuk mengurangi resiko yang berbeda-beda
yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh
masyarakat.  Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan,
teknologi, manusia, organisasi, dan politik.  Di sisi lain, pelaksanaan manajemen resiko
melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya entitas manajemen resiko
(manusia, staff, organisasi).

C. KATEGORI RESIKO

Resiko dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni :

Resiko nonsistematis, yakni resiko yang dapat dihilangkan atau dikurangi melalui suatu
diversifikasi atau tindakan pencegahan dan penanggulangan resiko.

Resiko sistematis, resiko yang tidak dapat dihilangkan atau dikurangi melalui diversifikasi,
biasanya berhubungan dengan pasar atau kejadian yang dapat secara sistematis akan
mempengaruhi posisi pasar (Iban Sofyan, 2004)

Selain itu, Kasidy (2010) membagi jenis resiko menjadi dua yakni :

Resiko spekulatif

Resiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang dapat memberikan
keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian.  Resiko spekulatif kadang-kadang dikenal
dengan istilah resiko bisnis (business risk). Seseorang yang menginvestasikan dananya di suatu
tempat menghadapi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama investasinya menguntungkan atau
malah investasinya merugikan.  Resiko yang dihadapi seperti ini adalah resiko spekulatif.

2. Resiko murni

Resiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi
apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan.  Salah satu contoh adalah kebakaran, apabila
perusahaan menderita kebakaran, maka perusahaan tersebut akan menderita
kerugian.  Kemungkinan yang lain adalah tidak terjadi kebakaran. Dengan demikian kebakaran
hanya menimbulkan kerugian, bukan menimbulkan keuntungan kecuali ada kesengajaan untuk
membakar dengan maksud-maksud tertentu. Resiko murni adalah sesuatu yang hanya dapat
berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan.  Salah satu
cara menghindarkan resiko murni adalah dengan asuransi. Dengan demikian besarnya kerugian
dapat diminimalkan. itu sebabnya resiko murni kadang dikenal dengan istilah resiko yang dapat
diasuransikan ( insurable risk ). Perbedaan utama antara resiko spekulatif dengan resiko murni
adalah kemungkinan untung ada atau tidak, untuk resiko spekulatif masih terdapat kemungkinan
untung sedangkan untuk resiko murni tidak dapat kemungkinan untung.

Kejadian sesungguhnya terkadang menyimpang dari perkiraan.  Artinya ada kemungkinan


penyimpangan yang menguntungkan maupun merugikan.  Jika kedua kemungkinan itu ada,
maka dikatakan resiko itu bersifat spekulatif. Sebaliknya, lawan dari risiko spekulatif adalah
resiko murni, yaitu hanya ada kemungkinan kerugian dan tidak mempunyai kemungkinan
keuntungan.  Manajer resiko tugas utamanya menangani risiko murni dan tidak menangani risiko
spekulatif, kecuali jika adanya resiko spekulatif memaksanya untuk menghadapi resiko murni
tersebut.

Menentukan sumber resiko adalah penting karena mempengaruhi cara penanganannya.  Sumber


resiko dapat diklasifikasikan sebagai resiko sosial, resiko fisik, dan resiko ekonomi.

   Biaya-biaya yang ditimbulkan karena menanggung resiko atau ketidakpastian dapat dibagi
sebagai berikut:

1.  Biaya-biaya dari kerugian yang tidak diharapkan


2.  Biaya-biaya dari ketidakpastian itu sendiri

D. MENGIDENTIFIKASI RESIKO

Pengidentifikasian resiko merupakan proses analisa untuk menemukan secara sistematis dan
berkesinambungan atas resiko (kerugian yang potensial) yang dihadapi perusahaan. Oleh karena
itu, diperlukan checklist untuk pendekatan yang sistematis dalam menentukan kerugian
potensial.  Salah satu alternatif sistem pengklasifikasian kerugian dalam suatu checklist adalah;
kerugian hak milik (property losses), kewajiban mengganti kerugian orang lain (liability losses)
dan kerugian personalia (personnel losses).  Checklist yang dibangun sebelumnya untuk
menemukan resiko dan menjelaskan jenis-jenis kerugian yang dihadapi oleh suatu perusahaan.

Perusahaan yang sifat operasinya kompleks, berdiversifikasi dan dinamis, maka diperlukan
metode yang lebih sistematis untuk mengeksplorasi semua segi. Metode yang dianjurkan adalah
sebagai berikut:

1. Questioner analisis resiko (risk analysis questionnaire)

2. Metode laporan Keuangan (financial statement method)

3. Metode peta aliran (flow-chart)

4. Inspeksi langsung pada objek

5. Interaksi yang terencana dengan bagian-bagian perusahaan

6. Catatan statistik dari kerugian masa lalu

7. Analisis lingkungan

E. MENGANALISA RESIKO

Setelah melakukan identifikasi resiko, maka tahap berikutnya adalah pengukuran resiko dengan
cara melihat seberapa besar potensi terjadinya kerusakan (severity) dan probabilitas terjadinya
resiko tersebut.  Penentuan probabilitas terjadinya suatu event sangatlah subjektif dan lebih
berdasarkan nalar dan pengalaman.  Beberapa resiko memang mudah untuk diukur, namun
sangatlah sulit untuk memastikan probabilitas suatu kejadian yang sangat jarang
terjadi.  Sehingga, pada tahap ini sangatlah penting untuk menentukan dugaan yang terbaik
supaya nantinya kita dapat memprioritaskan dengan baik dalam implementasi perencanaan
manajemen resiko.

Kesulitan dalam pengukuran resiko adalah menentukan kemungkinan terjadi suatu resiko karena
informasi statistik tidak selalu tersedia untuk beberapa resiko tertentu.  Selain itu, mengevaluasi
dampak kerusakan (severity) sering kali cukup sulit untuk asset immaterial.

F.  MONITORING RESIKO DAN EVALUASI

Mengidentifikasi, menganalisa dan merencanakan suatu resiko merupakan bagian penting dalam
perencanaan suatu proyek.  Namun, manajemen resiko tidaklah berhenti sampai di sini
saja.  Praktek, pengalaman, dan terjadinya kerugian akan membutuhkan suatu perubahan dalam
rencana dan keputusan mengenai penanganan suatu resiko.  Sangatlah penting untuk selalu
memonitor proses dari awal mulai dari identifikasi resiko dan pengukuran resiko untuk
mengetahui keefektifan respon yang telah dipilih dan untuk mengidentifikasi adanya resiko yang
baru maupun berubah.  Sehingga, ketika suatu resiko terjadi maka respon yang dipilih akan
sesuai dan diimplementasikan secara efektif.
2. KONSEP MASALAH, CARA MERUMUSKAN, MENGIDENYIFIKASI DAN
MEMECAHKAN MASALAH

Pengertian Rumusan Makalah

Pengertian rumusan makalah adalah sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan pembahasan atau
solusi masalah. Rumusan makalah sangat penting di dalam sebuah makalah atau laporan. Untuk
merumuskan sebuah rumusan makalah perlu mempelajari arti dari 5W 1H. 5W 1 H adalah
bentuk pertanyaan berupa apakah, siapa, mengapa, dimana dan bagaimana. Tetapi paling banyak
yang di gunakan adalah apakah dan bagaimana.

Rumusan makalah dalam sebuah laporan terletak pada bab 1 bersama latarbelakang, tujuan,
manfaat dan keaslian penelitian. Jawaban dari rumusan masalah akan letakkan di bab
pembahasan. Di dalam bab pembahasan satu persatu akan di uraikan dan yang peling penting
adalah adanya kesimpulan pada bab terakhir yaitu goal dari rumusan masalah.

Menentukan rumusan masalah tidaklah sulit, hanya perlu mengetahui permasalahan dan solusi
yang akan di buat. Rumusan masalah dan later belakang juga berkaitan, pada latar belakang di
uraikan masalah yang timbul dan di rumusan masalah adalah pertanyaan yang bisa menjawab
permasalahan.

Rumusan masalah adalah titik sentral dalam sebuah makalah atau laporan. Dalam hal ini
rumusan masalah menentukan pambahasan dan kesimpulan. Kesimpulan akan di bahas
berdasarkan rumusan masalah yang telah di buat. Apakah kesimpulan sudah menjawab
permasalahan pada latar belakang dan rumusan masalah.

Jenis Rumusan Masalah

Ada 3 jenis rumusan masalah yaitu deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Di bawah ini adalah
pembahasan dari masing-masing jenis rumusan masalah:

1. Rumusan Masalah Deskriptif


Rumusan masalah deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan menyajikan
gambaran lengkap suatu masalah atau fenomena. Dalam hal ini deskriptif mendeskripsikan
sejumlah variabel yang berkenaan dengan msalah dan untut yang terlibat.

2. Rumusan Masalah Komperatif

Rumusan masalah Komperatif adalah rumusan yang membahas mengenai perbandingan antar
variable dengan beberapa variable. Dalam sebuah penelitian ada juga yang membahas mengenai
perbandingan suatu variabel untuk menentukan variabel mana yang baik dan di rekomendasikan.

3. Rumusan Masalah Asosiatif

Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan yang menghubungkan variabel satu dengan yang
lain. Berbeda dengan komperatif yang membandingkan, asosiatif ini mencari hubungan variabel
yang berkaitan dan memiliki pengaruh.

Cara Membuat Rumusan Masalah

Di bawah ini adalah cara membuat rumusan masalah, perhatikan dengan baik agar bisa membuat
rumusan masalah yang baik dan benar serta menjawab permasalahan.

Menentukan permasalahan (pada latar belakang)

Rumusan masalah adalah kalimat tanya

Rumusan masalah yang baik adalah jelas, padat dan tidak bertele-tele

Rumusan masalah sebagai petunjuk pembahasan dan kesimpulan

Rumusan masalah menjadi titik sentra makalah

Rumusan masalah sebagai kalimat tanya dan pada kesimpulan menjawab permasalahan

Dari cara membuat rumusan masalah di atas ada hal yang sangat penting dalam membuat
rumusan maslaah. Hal yang paling penting adalah latar belakang, rumusan masalah, dan
kesimpulan harus berkaitan dan singkron. Jika tidak ada hubungannya atau tidak memjawab
permsalahan maka makalah bisa di sebut gagal.
Sekian pembahasan kami mengenai rumusan masalah makalah dan cara membuatnya. Semoga
anda mendapatkan apa yang anda mau pada artikel ini. Kunjungi terus rumus.co.id banyak
artikel-artikel yang menarik dan tentunya bermanfaat.

3.RISIKO, FAKTOR PENYEBAB, JENIS, CARA MENGIDENTIFIKASI DAN MENGATASI


RISIKO.

A. Konsep Resiko

Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi oleh karena kurang atau tidak tersedianya
cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.  Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat
berakibat menguntungkan atau merugikan.  Istilah resiko memiliki beberapa definisi.  Resiko
dikaitkan dengan kemungkinan kejadian, atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian
tujuan dan sasaran organisas

Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin, peralatan, lingkungan kerja,
kebiasaan pegawai dan seterusnya, manajer resiko dapat mempelajari kemungkinan tentang
hazard. Oleh karena itu, keberhasilannya dalam mengidentifikasi resiko tergantung pada kerja
sama yang erat dengan bagian-bagian lain yang terkait dalam perusahaan. Manajer resiko dapat
menggunakan tenaga pihak luar untuk proses mengidentifikasikan resiko, yaitu agen asuransi,
broker, atau konsultan manajemen resiko. Hal ini tentunya memiliki kelemahan, di mana mereka
membatasi proses hanya pada resiko yang diasuransikan saja.  Dalam hal ini diperlukan strategi
manajemen untuk menentukan metode atau kombinasi metode yang cocok dengan situasi yang
dihadapi

a. Faktor Penyebab Resiko

Dua faktor penyebab resiko adalah bencana (perils) dan bahaya (hazards). Banjir, tanah longsor,
gempa, gelombang laut tinggi merupakan contoh-contoh bencana yang secara langsung dapat
menimbulkan kerugian. Sementara bahaya terbagi atas beberapa jenis :

Bahaya fisik (physical hazard) misalnya berhubungan dengan fasilitas bangunan suatu
perusahaan,
Bahaya moral (moral hazard) misalnya sikap ketidakjujuran atau ketidakdisiplinan.

Bahaya morale (morale hazard) misalnya sikap yang tidak hati-hati ataupun kurangnya perhatian
dari pihak-pihak terkait dalam suatu perusahaan.

Bahaya karena hukum atau peraturan (legal hazard) misalnya akibat mengabaikan undang-
undang atau peraturan yang telah ditetapkan.

Selain resiko yang di atas ada juga bahaya resiko lain yakni bahaya resiko moral.       Contohnya
pada kasus akibat moral dari para pegawai suatu badan/perusahaan misalnya yang terjadi pada
kasus Citibank Indonesia yang terlibat pada permasalahan penggelapan dana nasabah. Akibatnya
bank tersebut tidak hanya menderita kerugian finansial, tapi juga resiko reputasi, bahkan
kepatuhan. Resiko reputasi dan kepatuhan lebih membahayakan keberlangsungan perusahaan
daripada resiko finansial. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap bank akan membuat bank
tersebut kehilangan dana karena masyarakat akan menarik kembali seluruh dana yang telah
tertanam di bank tersebut karena takut akan mengalami kerugian besar. Dana-dana yang ditarik
tersebut sebenarnya digunakan untuk menjalankan kegiatan perbankan, namun kerena ada
penarikan sejumlah dana dan ketidakinginan masyarakat untuk menabung lagi maka bank
tersebut dapat terancam likuiditasnya. Pada fase ini pemerintah dapat melakukan intervensi
dngan menutup bank.

b. Sumber Penyebab Resiko   

Sumber resiko dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis :

1. Resiko Sosial, resiko ini berasal dari masyarakat. Artinya tindakan orang-orang menciptakan
penyimpangan yang dapat merugikan. Misalnya : pencurian, huru-hara, peperangan.

2. Resiko Fisik, berasal dari fenomena alam dan sebagian tingkah laku manusia. Kebakaran
adalah penyebab utama cidera fisik, kematian maupun kerusakan harta.

3. Resiko ekonomi, misalnya inflasi, resesi, fluktuasi dan harga.

H. Mengevaluasi Resiko

Setelah resiko diukur tingkat kemungkinan dan dampaknya, maka disusunlah urutan prioritas
resiko.  Mulai dari resiko dengan tingkat resiko tertinggi, sampai dengan resiko terendah.  Resiko
yang tidak termasuk dalam resiko yang dapat diterima/ditoleransi merupakan resiko yang
menjadi prioritas untuk segera ditangani.  Setelah diketahui besarnya tingkat resiko dan prioritas
resiko, maka perlu disusun peta resiko.

I. Menangani Resiko

Resiko yang tidak dapat diterima/ditoleransi segera dibuatkan rencana tindakan untuk
meminimalisir kemungkinan dampak terjadinya resiko dan personel yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan rencana tindakan.  Cara menangani resiko berupa memindahkan resiko
melalui asuransi dan kontrak kerja kepada pihak ketiga, mengurangi tingkat kemungkinan
terjadinya resiko dengan cara menambah/meningkatkan kecukupan pengendalian internal yang
ada pada proses bisnis perusahaan, dan mengeksploitasi resiko bila tingkat resiko dinilai lebih
rendah dibandingkan dengan peluang terjadinya peristiwa yang akan terjadi. Pemilihan cara
menangani resiko dilakukan dengan mempertimbangkan biaya dan manfaat, yaitu biaya yang
dikeluarkan untuk melaksanakan rencana tindakan lebih rendah daripada manfaat yang diperoleh
dari pengurangan dampak kerugian resiko.

Seluruh resiko yang diidentifikasi, dianalisis, dievaluasi, dan ditangani dimasukkan ke dalam
register resiko yang memuat informasi mengenai nama resiko, uraian mengenai indikator resiko,
faktor pencetus terjadinya peristiwa yang merugikan, dampak kerugian bila resiko terjadi,
pengendalian resiko yang ada, ukuran tingkat kemungkinan/dampak terjadinya resiko setelah
mempertimbangkan pengendalian yang ada, dan rencana tindakan untuk meminimalisir tingkat
kemungkinan/dampak terjadinya resiko, serta personil yang bertanggung jawab melakukannya.

J. Memantau Resiko

Perubahan kondisi internal dan eksternal perusahaan menimbulkan resiko baru bagi perusahaan,
mengubah tingkat kemungkinan/dampak terjadinya resiko, dan cara penanganan resikonya. 
Sehingga setiap resiko yang teridentifikasi masuk dalam register resiko dan peta resiko perlu
dipantau perubahannya.

K.  Mengkomunikasikan Resiko
Setiap tahapan kegiatan identifikasi, analisis, evaluasi, dan penanganan resiko
dikomunikasikan/dilaporkan kepada pihak yang berkepentingan terhadap aktivitas bisnis yang
dilakukan perusahaan untuk memastikan bahwa tujuan manajemen resiko dapat tercapai sesuai
dengan keinginan pihak yang berkepentingan.  Pihak yang berkepentingan berasal dari internal
perusahaan (manajemen, karyawan) dan eksternal perusahaan (pemasok, pemerintah
daerah/pusat, masyarakat sekitar lingkungan perusahaan, dan konsumen air bersih).

L. CARA PENGENDALIAN RESIKO

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh perbankan dalam mengatasi resiko ataupun mencegah
terjadinya resiko yang sama ke depannya

Melakukan tata kelola resiko secara terpadu dengan pengimplementasian tanggung jawab dan
keseuaian kompetensi masing-masing pihak yang terkait. Misalnya seperti Dewan Komisaris,
Direksi, Risk & Capital Committee (RCC), unit risk management dan unit business yang telah
berinteraksi dan bersinerji secara optimal.

Bank Mandiri menyusun profil resiko dalam suatu Laporan Profil Resiko, dan digunakan sebagai
laporan. Dengan demikian, dapat memusatkan perhatiannya pada jenis-jenis resiko yang
memiliki tendensi memburuk atau melebihi kebijakan toleransi pada resiko tertentu.

Mempersiapkan tenaga profesionalnya di bidang resiko. Sekaligus melakukan persiapan untuk


mengimplementasikan Basel II Accord yang menjadi penanggung jawab dari seluruh inisiatif
strategis terkait kepatuhan pegawai.

menetapkan kebijakan pengelolaan resiko likuiditas. Misalnya dengan pemeliharaan cadangan


likuiditas yang optimal, pengukuran dan penetapan limit resiko likuiditas, merancang analisis
scenario dan contingency plan, penetapan strategi pendanaan dan mempertahankan kapasitas
dana yang cukup di pasar (Masyhud Ali, 2006).
4. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

a. Pengertian Pengambilan Keputusan Menurut Para Ahli

Adapun pengertian pengambilan keputusan menurut para ahli yang diantaranya yaitu

Menurut Dermawan “2004”

Definisi pengambilan keputusan menurut Dermawan ialah suatu proses yang dipengaruhi oleh
banyak kekuatan termasuk lingkungan organisasi dan pengetahuan, kecakapan dan motivasi.
Pengambilan keputusan merupakan ilmu dan seni pemilihan alternatif solusi atau tindakan dari
sejumlah alternatif solusi dan tindakan yang berguna menyelesaikan masalah.

Menurut Kamus Besar Ilmu Pengetahuan

Definisi pengambilan keputusan menurut Kamus Besar Ilmu Pengetahuan ialah pemilihan
keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu, proses ini meliputi dua atau
lebih, alternatif karena seandainya hanya ada satu alternatif tidak ada keputusan yang diambil.

b. . Sistematika ini perlu supaya pengambilan keputusan dalam korporasi jelas dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Lima langkah pengambilan keputusan itu adalah

1. Identifikasi masalah dan ketidakjelasan (uncertainties)


Misal untuk meningkatkan pendapatan perusahaan , kita ingin menaikkan harga jual dari produk
atau jasa kita.
Jika berhasil maka pendapatan akan naik, tetapi jika menyebabkan calon pelanggan tidak mau
beli maka malah menurunkan pendapatan
2. Mengumpulkan informasi
Kita bisa bertanya kepada sales apakah harga baru tersebut dapat diterima calon pelanggan. Lihat
juga bagaimana pesaing-pesaing anda mengerjakan pricing.
Kita juga perlu mengadakan survei pasar apakah calon pelanggan kita bersedia membeli dengan
harga baru tersebut.
3. Membuat prediksi kemungkinan  yang terjadi
Pada tahap ini pikirkan alternatif-alternatif yang mungkin. Silahkan membuat anggaran kenaikan
pendapatan dengan harga baru tersebut pada setiap alternatif.
4. Mengambil keputusan dari alternatif-alternatif yang ada
Silahkan membuat alternatif keputusan termasuk beberapa pilihan harga baru. Bisa juga ada
pilihan harga lama tetapi spesifikasi dikurangi sehingga mengurangi biaya produksi. Pastikan
tidak ada bias dalam pemikiran kita. Pastikan kita mengambil keputusan dengan obyektif.
Dengan pemikiran yang matang silahkan mengambil salah satu alternatif keputusan tersebut.
5. Mengevaluasi hasil terhadap prediksi yang telah dibuat
Bandingkan hasil dengan prediksi yang telah kita buat dan lakukan evaluasi. Langkah ini penting
untuk mengetahui apakah keputusan kita sudah tepat 100%. Jika perlu ada perbaikan-perbaikan,
kita dapat memperbaiki langkah-langkah supaya hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.

5.DATA , TUJUAN, SUMBER JENIS DAN CARA PEMANFAATAN DATA DALAM


PENGAMBILAN KEPUTUSAN BISNIS

Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal
dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data
berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil
pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau
citra.

Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah
sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang
tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai
dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi. Dalam pokok
bahasan Manajemen Pengetahuan, data dicirikan sebagai sesuatu yang bersifat mentah dan tidak
memiliki konteks. Dia sekadar ada dan tidak memiliki signifikansi makna di luar keberadaannya
itu. Dia bisa muncul dalam berbagai bentuk, terlepas dari apakah dia bisa dimanfaatkan atau
tidak.

Bagaimana cara mengumpulkan data tersebut?


Anda dapat menjalankan uji coba seperti A/B testing untuk melihat hasil serta
membandingkannya. Dengan hasil data dari pengujian, Anda mampu untuk membuktikan bahwa
ide yang diutarakan benar-benar bekerja.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan meminta calon pengguna secara sukarela
menjalankan dua alternatif atau lebih dari pilhan ide yang ada. Data perilaku pengguna kemudian
direkam untuk kemudian dijadikan acuan memutuskan alternatif mana yang terbaik untuk
dikembangkan.

6. MODEL ANALISA DATA KUALITATIF DAN KUANTITATIF

Pengertian metode analisis data

Metode analisis data merupakan tahapan proses penelitian dimana data yang sudah dikumpulkan
di-manage untuk diolah dalam rangka menjawab rumusan masalah. Manajemen dan proses
pengolahan data inilah yang disebut analisis data. Analisis data yang menggunakan teknik
statistik merupakan analisis data kuantitatif. Sedangkan analisis data yang menggunakan analisis
tematik melalui koding dan interpretasi teks adalah analisis data kualitatif. Berikutnya kita bahas
langkah-langkah sederhana pada masing-masing metode analisis.

Metode analisis data kuantitatif

Manajemen data

Data kuantitatif pada umumnya berbentuk dataset yang masih mentah. Tahap manajemen data
kuantitatif adalah mengkonversi dataset yang mentah tersebut menjadi lebih matang. Hal ini
dilakukan dengan cara clearing. Clearing artinya peneliti ”membersihkan” data mentah yang
tidak relevan untuk diolah. Diperlukan kecermatan untuk memahami rumusan masalah dan fokus
penelitian agar dalam memfilter atau menyeleksi data tidak terjadi bias nantinya.

Setelah hanya data yang bernilai atau matang saja yang tersisa, peneliti membuat manajemen
data dalam bentuk file yang siap untuk di-entry. Kita asumsikan di sini bahwa pengolahan data
kuantitatif dilakukan dengan menggunakan software seperti SPSS atau STATA. Pada tahap ini
peneliti juga memeriksa kualitas data seperti adakah data missing atau error.

Entry data

Entry data kuantitatif dapat dilakukan secara manual atau dengan bantuan komputer. Entry data
dilakukan supaya pengolahan bisa diterapkan. Proses entry data merupakan proses memindahkan
data dari instrumen penelitian seperti kuesioner ke dalam software komputer untuk di analisis.
Apabila data kuantitatif sudah berupa data set, dalam arti peneliti tidak mengumpulkan sendiri
data mentahnya dengan angket atau kuesioner, maka clearing atau filtering data-lah yang perlu
dilakukan.

Performing statistics

Setelah data di-entry ke software statistik, maka teknik statistik siap diterapkan. Tahapan teknis
analisis data statistik harus dikuasai oleh peneliti atau pengolah data. Analisis menggunakan
SPSS secara teknis tentu saja berbeda dengan STATA atau lainnya. Sesuai dengan keahlian dan
tingkat familiaritas peneliti terhadap software statistik, teknik analisis siap diterapkan.

Output dari analisis statistik menggunakan SPSS atau STATA bisa ditampilkan dalam beragam
bentuk seperti diagram, tabel, grafik atau lainnya. Sebelumnya, peneliti memeriksa nilai elemen-
elemen penting dalam statistik seperti p-value, outliers, chi square dan sebagainya.

Metode analisis data kuantitatif

Manajemen data

Data kuantitatif pada umumnya berbentuk dataset yang masih mentah. Tahap manajemen data
kuantitatif adalah mengkonversi dataset yang mentah tersebut menjadi lebih matang. Hal ini
dilakukan dengan cara clearing. Clearing artinya peneliti ”membersihkan” data mentah yang
tidak relevan untuk diolah. Diperlukan kecermatan untuk memahami rumusan masalah dan fokus
penelitian agar dalam memfilter atau menyeleksi data tidak terjadi bias nantinya.

Setelah hanya data yang bernilai atau matang saja yang tersisa, peneliti membuat manajemen
data dalam bentuk file yang siap untuk di-entry. Kita asumsikan di sini bahwa pengolahan data
kuantitatif dilakukan dengan menggunakan software seperti SPSS atau STATA. Pada tahap ini
peneliti juga memeriksa kualitas data seperti adakah data missing atau error.
Entry data

Entry data kuantitatif dapat dilakukan secara manual atau dengan bantuan komputer. Entry data
dilakukan supaya pengolahan bisa diterapkan. Proses entry data merupakan proses memindahkan
data dari instrumen penelitian seperti kuesioner ke dalam software komputer untuk di analisis.
Apabila data kuantitatif sudah berupa data set, dalam arti peneliti tidak mengumpulkan sendiri
data mentahnya dengan angket atau kuesioner, maka clearing atau filtering data-lah yang perlu
dilakukan.

7. Konsep, dan Kerangka Penyusunan Business Plan


Business Plan adalah dokumen tertulis yang disiapkan oleh wirausaha yang menjelaskan
semua unsur yang relevan baik internal maupun eksternal mengenai perusahaan untuk
memulai suatu usaha. Hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun Business Plan, yaitu
kelengkapan informasi oleh evaluator dan tampilan business plan harus dibuat menarik.
Kerangka Business Plan :
1. Pendahuluan
Berisi tentang sejarah berdirinya usaha, visi dan misi usaha
2. Executive Summary
Merupakan ringkasan yang berisi penjelasan singkat secara menyeluruh rencana bisnis
yang telah disusun. Biasanya tidak lebih dari tiga halaman.
3. Business Description
Berisi tentang gambaran bisnis secara umum, yang menjelaskan keunikan dan
keunggulan kompetitif profuk atau jasa dibandingkan dengan produk atau jasa sejenis
yang dimiliki oleh pesaing.
4. Aspek Pemasaran
a. Gambaran umum pasar, seperti segmen pasar, target pasar, dan positioning.
b. Permintaan, yaitu perkiraan jumlah permintaan konsumen terhadap produk dan
proyeksi permintaan konsumen dalam beberapa periode mendatang.
c. Penawaran, seperti penawaran dari produk pesaing sejenis di pasar, proyeksi
penawaran dalam beberapa periode mendatang
d. Rencana penjualan dan pangsa pasar
5. Strategi Pemasaran Perusahaan dan Pesaing, seperti Produk, Harga, Promosi, Placement,
People, Proses, Physical Evidence.

8. Konsep Enterpreneurship, Intrapreneurship, dan Technopreneurship


 Konsep entrepreneurship (kewirausahaan) memiliki arti yang luas. Salah satunya,
entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kecakapan tinggi dalam melakukan
perubahan, memiliki karakteristik yang hanya ditemukan sangat sedikit dalam sebuah
populasi. Definisi lainnya adalah seseorang yang ingin bekerja untuk dirinya.
Entrepreneurship adalah proses kemanusiaan (human process) yang berkaitan dengan
kreativitas serta inovasi dalam memahami peluang, mengorganisasi sumber-sumber,
mengelola sehingga peluang itu terwujud menjadi suatu usaha yang mampu
menghasilkan laba atau nilai untuk jangka waktu yang lama. Definisi tersebut
menitikberatkan kepada aspek kreativitas serta inovasi, karena dengan sifat kreativitas
serta inovatip seseorang dapat menemukan peluang.
 Intrapreneurship adalah kewirausahaan (entrepreneurship) dalam perusahaan
(enterprenership inside of the organization) atau dapat dikatakan bahwa intrapreneurship
adalah entrepreneuship yang ada di dalam perusahaan. Konsep intrapreneurship pertama
muncul pada tahun 1973 oleh Susbauer dalam tulisannya yang berjudul “Intracoporate
Enterpreneurship : Programs in American Industry”.
 Technopreneurship merupakan istilah bentukan dari dua kata, yakni 'teknologi' dan
'enterpreneurship Secara umum, kata ‘teknologi’ digunakan untuk merujuk pada
penerapan praktis ihnu pengetahuan ke dunia industri atau sebagai kerangka pengetahuan
yang digunakan untuk menciptakan alat-alat, untuk mengembangkan kéahlian dan
mengolah materi guna memecahkan persoalan yang ada. Sedangkan kata
‘entrepreneurship’ berasal dari kata entrepreneur yang merujuk pada seseorang atau agen
yang menciptakan bisnis/usaha dengan keberanian rnenanggung resiko dan
ketidakpastian untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan Cara
mengidentifikasi peluang yang ada. echnopreneurship merupakan proses dan
pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya dengan harapan
bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa menempatkan teknologi
sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi nasional. Technology
Entrepreneurship atau yang biasa dikenal dengan technopreneurship rnerupakan bagian
dari entrepreneurshzp yang menekankan pada faktor teknologi, yaitu kemampuan ilrnu
pengetahuan dan teknologi dalam proses usaha bisnisnya.

9. Struktur Organisasi, Manajemen Operasional, dan SDM Bisnis


 Struktur Organisasi

a. Direksi  Menentukan usaha yang akan dijalankan oleh perusahaan. Pada bagian ini
juga yang menentukan sebuah kebijakan serta penjadwalan seluruh kegiatan yang ada
di perusahaan. Selain itu, sebagai pemegang kendali penuh terhadap perusahaan dan
bertanggung jawab atas kemajuan dari perusahaan. Karena seorang direksi harus
mempunyai tanggung jawab yang amat besar.
b. Direktur Utama  mengkoordinir semua kegiatan dalam bidang kepegawaian,
administrasi keuangan dan kesektariatan. Selain itu, seorang direktur utama juga
bertugas dalam mengendalikan pengadaan peralatan dan perlengkapan. Juga bertugas
untuk membuat rancangan untuk mengembangkan dari sumber pendapatan, membuat
rancangan pembelanjaan kekayaan perusahaan, memimpin dan bertanggung jawab
atas semua dewan atau komite eksekutif. Sebagai seorang direktur utama juga harus
menawarkan ide-idenya dalam memajukan perusahaan di tingkat tertinggi (Kerja
sama denngan MD/CEO), memimpin rapat dan mewakili perusahaan dalam
berhubungan dengan pihak luar perusahaan.
c. Direktur  membuat prosedur ketetapan untuk tiap manajer dalam mencapai tujuan
dan sasaran perusahaan. Selain itu seorang direktur juga bertugas untuk
mengkoordinir setiap kegiatan dari para manajer serta menerima pertanggung
jawabannya secara periodik. Selain itu, memiliki wewenang untuk mengangkat,
mengganti, atau memberhentikan karyawan dan pegawainya. Seorang direktur juga
bertugas membuat ketetapan operasional perusahaan dalam jangka pendek.
d. Direktur Keuangan  mengawasi seluruh operasional keuangan yang ada di
perusahaan, bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang ada kaitannya dengan
keuangan. Selain itu, membuat prosedur pelaksanaan yang berkaitan dengan
keuangan secara rinci serta menetapkan standar kerja lapangan demi menjamin agar
tidak terjadi kebocoran di bidang keuangan.
e. Direktur Personalia  mengembangkan sistem perencanaan personalia serta
mengendalikan suatu kebijakan untuk para pegawai. Selain itu direktur personalia
juga melayani kebutuhan administrasi pagawainya dan melaksanakan pembinaan
untuk pengembangan staff administrasi.
f. Manajer 
 Memberi pengarahan dalam membuat keputusan, kebijaksanaan, supervisi dan
sebagainya.
 Merancang organisasi & pekerjaan.
 Menyeleksi, menilai, melatih dan mengembangkan pegawai atau calon
pegawainya.
 Mengatur dan mengendalikan sistem komunikasi.
 Membuat sistem reward.
g. Manajer Personalia  orang yang mengatur organisasi, mengendalikan unit
personalia, mengurus proses administrasi seluruh kegiatan personalia. Selain itu,
bertugas mengurus prosedur perekrutan dengan seleksi, ujian, wawancara serta
membuat sistem nilai untuk kinerja karyawannya. Selain itu, bertugas mengurus
perizinan ketenaga kerjaan, mengurus dana pengobatan dan dana pensiun karyawan,
mengurus perjalanan dinas beserta fasilitasnya. Selain itu, bertugas membuat sistem
data karyawan, surat-form administrasi dari kegiatan personalia dan membuat sistem
laporan yang berkaitan dengan semua kegiatan personalia.
h. Manajer Pemasaran  membuat rencana dan rancangan strategi pemasaran produksi
sesuai dengan trend pasar. Selain itu, melakukan riset marketing sesuai
perkembangan pasar, membuat operasioanl informasi perusahaan yang efisien dan
melaporkan hasil kerjanya pada direktur secara berkala.
i. Manajer Pabrik  mempunyai tugas untuk bertanggung jawab atas hasil produksi
yaitu dengan mengantisipasi dan mengatasi segala persoalan yang ada kaitannya
dengan produksi perusahaan bersama divisi lain.
j. Admnistrasi dan Pergudangan 
 Melakukan pendataan dan pembukuan terhadap seluruh transaksi yang terjadi.
 Mengurus hal-hal yang memiliki kaitan dengan pihak Outsourcing.
 Tugas Kasir yaitu membuat laporan tentang pengeluaran & pemasukan terhadap
uang harian di perusahaan.
k. Divisi Regional  melaksanakan prosedur & kebijakan baku yang sudah ditetapkan
perusahaan, beroperasi sebagai badan usaha yang memberikan keuntungan pada
pemodal serta meningkatkan aset perusahaan.

 Manajemen Operasional
Manajemen operasional adalah suatu usaha pengelolaan secara maksimal penggunan
semua faktor produksi yang ada baik itu tenaga kerja (SDM), mesin, peralatan, raw
material (bahan mentah) dan faktor produksi yang lainnya dalam proses tranformasi
untuk menjadi berbagai macam produk barang atau jasa. Yang bisa dilakukan oleh
manajemen operasi adalah melaksanakan seluruh fungsi dari proses manajemen :
planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), pembentukan staff,
kepemimpinan serta pengendalian.
Tanggung jawab manajer operasional :
a. Menghasilkan barang atau jasa.
b. Mengambil sebuah keputusan mengenai fungsi operasi serta sistem transformasi.
c. Mengkaji pengambilan sebuah keputusan dari suatu fungsi operasinal.
Lingkup Manajemen Operasional :
1. Perancangan desain sistem produksi dan operasional
 Seleksi serta perancangan desain produk
 Seleksi serta perancangan proses dan peraalatan
 Pemilihan site dan lokasi perusahaan serta unit produksi
 Rancangan tata letak serta arus kerja
 Rancangan atas tugas pekerjaan
 Strategi produksi dan operasional serta pemilihan kapasitas
2. Pengoperasian sistem produksi dan operasional
 Menyusun rencana produk dan operasional
 Perencanaan dan pengendalian atas persediaan serta pengadaan bahan
 Pemeliharaan utilitas mesin dan juga peralatan
 Pengendalian atas mutu
 Manajemen sumber daya manusia (tenaga kerja)

 SDM Bisnis
Pengertian sumber daya manusia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
potensi manusia yang dapat dikembangkan untuk proses produksi. Potensi sumber daya
manusia berbeda-beda pada tiap individu. Untuk bisa mengembangkan potensi sumber
daya manusia yang berbeda-beda tersebut, dibutuhkan suatu sistem manajemen unik
yang dinamakan manajemen sumber daya manusia. Sumber Daya Manusia (SDM)
adalah individu produktif yang bekerja sebagai penggerak suatu organisasi, baik itu di
dalam institusi maupun perusahaan yang memiliki fungsi sebagai aset sehingga harus
dilatih dan dikembangkan kemampuannya.
Secara umum, fungsi manajemen sumber daya manusia adalah untuk mengatur dan
mengelola sumber daya manusia semaksimal dan seefektif mungkin agar diperoleh
kinerja yang maksimal. Sementara itu, Malayu Hasibuan mengelompokkan manajemen
sumber daya manusia ke dalam dua fungsi yang berbeda, yakni fungsi manajerial dan
fungsi operasional. Fungsi manajerial terbagi menjadi empat, yakni perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (directing), dan pengendalian
(controlling). Sedangkan fungsi operasional terbagi menjadi lima, yakni pengadaan
tenaga kerja (procurement), pengembangan (development), kompensasi (compensation),
pengintegrasian (integration), dan pemeliharaan (maintenance).
Fungsi manajerial
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan pada manajemen sumber daya manusia berfungsi membantu
perusahaan untuk merencananakan tenaga kerja yang efektif dan efisien agar sesuai
dengan kebutuhan perusahaan. Perencanaan adalah dasar dari seluruh fungsi
manajemen sumber daya manusia yang lain.
b. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian berfungsi membantu perusahaan untuk menetapkan pembagian
dan hubungan kerja antar karyawan. Hal ini sangat penting untuk meminimalisir
adanya tumpang tindih dalam kewajiban pekerja.
c. Pengarahan (Directing)
Pengarahan biasanya dilakukan seorang pimpinan kepada para karyawannya supaya
dapat secara bekerja sama secara efektif untuk menyelesaikan kewajiban dan tugas
mereka.
d. Pengendalian (Controlling)
Pengendalian merupakan kegiatan yang dilakukan supaya karyawan tetap menaati
peraturan perusahaan saat bekerja. Jika terjadi penyimpangan, maka harus ada
tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki perilaku karyawan tersebut.
Fungsi operasional
a. Pengadaan tenaga kerja (Procurement)
Fungsi pertama yang termasuk dalam kategori fungsi operasional adalah
pengadaan. Fungsi pengadaan merupakan proses awal untuk mendapatkan sumber
daya manusia yang unggul. Proses ini meliputi rekruitmen, seleksi, penempatan,
orientasi, hingga proses induksi.
b. Pengembangan (Development)
Pengembangan merupakan fungsi operasional yang bertujuan untuk meningkatkan
keterampilan pegawai. Tingkat keterampilan ini dapat dicapai melalui pendidikan
dan pelatihan yang diberikan perusahaan untuk karyawan, baik yang baru masuk
ataupun yang sudah lama bekerja di perusahaan tersebut.
c. Kompensasi (Compensation)
Kompensasi merupakan bentuk reward yang diberikan perusahaan kepada
karyawannya. Kompensasi ini merupakan bentuk balas jasa atas prestasi karyawan.
Pemberian kompensasi harus disesuaikan dengan prestasi kerja dan faktor-faktor
lain yang adil dan layak bagi tiap karyawan.
d. Pengintegrasian (Integration)
Pengintegrasian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyamakan intepretasi
karyawan dan perusahaan. Hal ini penting untuk menjaga agar kerjasama yang
terjalin antara karyawan dan perusahaan dapat berjalan dengan serasi dan saling
menguntungkan.
e. Pemeliharaan (Maintenance)
Pemeliharaan adalah kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kondisi fisik,
mental, dan loyalitas karyawan. Hal ini penting untuk mempertahankan karyawan
supaya mau menetap di perusahaan tersebut hingga ia pensiun.

Analisa Kasus
a. Dampak Konflik terhadap Kinerja Tim
1. Akibat negatif dari adanya konflik.
a. Retaknya persatuan kelompok. Hal ini terjadi apabila terjadi pertentangan antar anggota
dalam satu kelompok.
b. Perubahan kepribadian individu. Pertentangan di dalam kelompok atau antar kelompok
dapat menyebabkan individu-individu tertentu merasa tertekan sehingga mentalnya
tersiksa.
c. Dominasi dan takluknya salah satu pihak. Hal ini terjadi jika kekuatan pihak-pihak yang
bertikai tidak seimbang, akan terjadi dominasi oleh satu pihak terhadap pihak lainnya.
Pihak yang kalah menjadi takluk secara terpaksa, bahkan terkadang menimbulkan
kekuasaan yang otoriter (dalam politik) atau monopoli (dalam ekonomi).
d. Banyaknya kerugian, baik harta benda maupun jiwa, akibat kekerasan yang ditonjolkan
dalam penyelesaian suatu konflik.
2. Akibat positif dari adanya konflik.
a. Konflik dapat meningkatkan solidaritas di antara anggota kelompok, misalnya apabila
terjadi pertikaian antar-kelompok, anggota-anggota dari setiap kelompok tersebut akan
bersatu untuk menghadapi lawan kelompoknya.
b. Konflik berfungsi sebagai alat perubahan sosial, misalnya anggota-anggota kelompok
atau masyarakat yang berseteru akan menilai dirinya sendiri dan   mungkin akan terjadi
perubahan dalam dirinya.
c. Munculnya pribadi-pribadi atau mental-mental masyarakat yang tahan uji dalam
menghadapi segala tantangan dan permasalahan yang dihadapi sehingga dapat lebih
men-dewasakan masyarakat.
d. Dalam diskusi ilmiah, biasanya perbedaan pendapat justru diharapkan untuk melihat
kelemahan-kelemahan suatu pendapat sehingga dapat ditemukan pendapat atau pilihan-
pilihan yang lebih kuat sebagai jalan keluar atau pemecahan suatu masalah.

b. Orang Sukses yang merubah masalah menjadi inspirasi Bisnis dan


Keterbatasan menjadi Kekuatan
a. Rajkumar Gupta
Rajkumar Gupta adalah pendiri dari Mukti Group. Dia juga adalah perintis dan pembuat
konsep untuk arsitektur modern Kolkota. Terlahir di keluarga miskin, Rajkumar berhasil
mendapatkan pekerjaan full-time di perusahaan kecil dengan gaji Rp. 150.000,-/bulan.
Dia kemudian pindah ke perusahaan lain dan bekerja disana selama 5 hingga 6 tahun,
mulai dari dasar dan belajar trik berdagang sampai akhirnya Rajkumar sanggup membuka
bisnisnya sendiri.  Setelah itu, Rajkumar menyewa sebuah rumah kecil satu kamar dimana
Ia dan keluarganya bisa tidur meski harus bersesak-sesakan. Namun, hal ini tidak
menghentikan dia untuk berbuat baik demi orang lain.
Karena inilah namanya menjadi dikenal banyak orang sehingga mereka tahu bahwa
Rajkumar adalah orang yang jujur. Selain itu, ketika mereka mendengar bahwa Rajkumar
sedang pitching bisnis, mereka tidak ragu-ragu untuk menanamkan investasi padanya.
b. Francois Pinault
Pinault sekarang adalah konglomerat di bidang fashion, tetapi pada satu waktu, dia harus
berhenti sekolah karena tidak tahan dibully oleh teman-temannya yang mengejek
kemiskinannya. Dia secara perlahan akhirnya memiliki rumah mode high-end nya sendiri
termasuk Gucci, Stella McCartney, Alexander McQeen, dan Yves Saint Laurent.
Sebagai seorang pengusaha, Pinault dikenal untuk dikarenakan taktik ‘predator’nya, yang
meliputi pembelian perusahaan-perusahaan kecil dengan harga yang murah ketika pasarnya
sedang jatuh.
c. Ashish Thakkar
Ashish Thakkar baru berusia 12 tahun ketika dia dan keluarganya berhasil melarikan diri
dari genosida Rwanda yang terjadi di tahun 1994. Setelah berlindung bersama dengan 1200
orang lainnya di sebuah hotel, mereka akhirnya dapat terbang keluar dari negaranya
menuju Uganda.
Orang tua Ashish kehilangan semua harta yang mereka tabung selama puluhan tahun. Di
umur 15 tahun, Ashish mendapatkan keuntungan pertamanya saat dia berhasil menjual
sebuah komputer ke keluarga temannya. Dia lalu meminjam uang dari bank untuk
mengimpor floppy disks dan produk komputer lainnya dari Dubai. Inilah awal dari
perusahaan Mara Group.
Lama kelamaan dia membuka kantor sendiri di Dubai dan menjual produknya ke
perusahaan-perusahaan di seluruh Afrika. Sejak saat itu Mara Group terus bertumbuh dan
sekarang bisnisnya merangkup infrastruktur telekomunikasi, kemasan, hotel, pusat
konferensi dan pusat perbelanjaan, pabrik kertas dan ribuan hektar tanah pertanian.
d. Steve Jobs
Sosok di balik semua gadget kesayangan kamu sekarang, kesuksesan Steve Jobs tidak
datang semalam. Bahkan masa lalunya cukup menyedihkan. Steve lahir tanpa orang tua,
lalu dia diadopsi oleh sebuah keluarga yang kurang mampu. Steve tidak pernah
menamatkan kuliahnya, namun sebisa mungkin dia meraih pengetahuan sebanyak-
banyaknya dari kelas yang dia ikuti.
Steve juga sering tidur di lantai kamar temannya, mengumpulkan botol Coca-Cola untuk
ditukar dengan uang, dan makan gratis seminggu sekali di kuil lokal. Pada tahun 1978,
Steve memulai awal perusahaan Apple Computers dengan Steve Wolzniak di garasi orang
tuanya. Meski tidak mempunyai uang, Steve punya visi dan ide inovatif untuk mengubah
dunia. Steve adalah alasan utama perusahaan Apple begitu sukses saat ini.
e. John Paul DeJoria
Di masa mudanya, John bekerja sebagai pengantar koran, petugas kebersihan dan sopir
truk demi bisa makan. Selain itu, John juga terlibat dengan geng-geng jalanan di Los
Angeles. Bahkan John terpaksa harus tidur di mobilnya ketika pada suatu hari saat dia
sedang bekerja di perusahaan perawatan rambut, dia memutuskan untuk bermitra dengan
salah satu penata rambut di perusahaan tersebut untuk membuat perusahaannya sendiri
yang sekarang bernama Paul Mitchell.
Mereka berdua meminjam uang sebesar Rp. 30 juta (setelah inflasi) dan mulai menjual
prodik shampoo nya sendiri dari rumah ke rumah. Sekarang Paul Mitchell mendapatkan
pendapatan sebesar Rp. 13 triliun per tahunnya.
f. Susi Pudjiastuti
Menteri Kelautan dan Perikanan RI di bawah Presiden Jokowi ini adalah seorang
pengusaha yang terkenal tegas. Ia merintis bisnisnya di bidang perikanan dan kemudian
maskapai penerbangan dari nol. Setelah memilih untuk berhenti sekolah sebelum lulus
SMA, ia memulai usahanya sebagai pedagang pakaian dan bed cover.
Setelah melihat potensi wilayah tempat tinggalnya, Pangandaran, sebagai penghasil ikan,
Susi lantas memanfaatkannya sebagai peluang bisnis dan beralih ke usaha perikanan.
Dengan modal hanya Rp750 ribu hasil dari menjual perhiasannya, ia mulai membeli ikan
dari tempat pelelangan dan memasarkannya ke sejumlah restoran.
Setelah sempat tersendat, bisnis Susi akhirnya berhasil menguasai bursa pelelangan ikan di
Pangandaran dan bahkan kemudian merambah ke ekspor ikan dan lobster. Bisnis maskapai
penerbangannya juga berawal dari bisnis perikanan tersebut.
Untuk mengatasi masalah pengiriman ikan yang lambat apabila lewat darat atau laut, Susi
membeli sebuah pesawat dari pinjaman bank untuk pengangkutan produk lautnya, yang
kemudian berkembang menjadi armada maskapai penerbangan Susi Air yang melayani
rute pedalaman dan carter.

10. Contoh Business Plan


(Terlampir)

Performing statistics
Setelah data di-entry ke software statistik, maka teknik statistik siap diterapkan. Tahapan teknis
analisis data statistik harus dikuasai oleh peneliti atau pengolah data. Analisis menggunakan
SPSS secara teknis tentu saja berbeda dengan STATA atau lainnya. Sesuai dengan keahlian dan
tingkat familiaritas peneliti terhadap software statistik, teknik analisis siap diterapkan.

Output dari analisis statistik menggunakan SPSS atau STATA bisa ditampilkan dalam beragam
bentuk seperti diagram, tabel, grafik atau lainnya. Sebelumnya, peneliti memeriksa nilai elemen-
elemen penting dalam statistik seperti p-value, outliers, chi square dan sebagainya.