Anda di halaman 1dari 4

Tugas Analisis Terapan

Nama : Meyke Ratna Wulan


Stambuk : A 25118053
Kelas :C

Soal !
1. Jelaskan apa yang tejadi/dampaknya jika pemakaian kedua bahan(pupuk dan
pestisida) tersebut secara berlebihan, disertai dengan contoh !
Jawab :
penggunaan pestisida kimia seolah menjadi cara pertama yang dilakukan
untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang menyerang.
Pestisida banyak digunakan karena mempunyai kelebihan dapat diaplikasikan
dengan mudah dan hasilnya dapat dirasakan dalam waktu yang relatif singkat
serta dapat diaplikasikan dalam areal yang luas.
Namun dengan pemakaian pupuk dan peptisida ini secara berlebihan akan
mengakibatkan dampak bagi tanaman dan komponen lainya. Berikut dampak
yang terjadi jika pemakaian kedua bahan ini secara berlebihan :
1. Menurunkan Kesuburan Tanah dan Mencemari Air
Perlu diketahui bahwa bahan kimia hampir tidak akan terurai dalam tanah
ataupun air. Bahan kimia yang terserap tanaman dan sisa tanaman yang diuraikan
oleh mikroba tanah pun masih akan meninggalkan sisa zat kimia dalam tanah.
Lama-kelamaan zat kimia tersebut akan mengurangi kesuburan tanah karena
membunuh mikroorganisme bermanfaat serta menghalangi penguraian unsur hara
dalam tanah. Contoh yang terjadi dari dampak ini yaitu rusaknya pupulasi air
seperti Ikan atau tanaman air.
2. Peptisida Menyebabkan Resistensi OPT
Resistensi adalah sifat kebal terhadap bahan tertentu yang diperoleh OPT dari
kemampuan adaptasi dan evolusi untuk mempertahankan hidup dari paparan zat
kimia. Resistensi hanya terjadi pada penggunaan pestisida kimia saja dan tidak
terjadi pada penggunaan pestisida organik. Itulah sebabnya mengapa kini petani
semakin sulit untuk mengatasi OPT. Padahal, mereka sudah menggunakan
pestisida kimia yang sama dengan yang dianjurkan petani lain.
3. Pertumbuhan Tanaman tidak Normal
Penggunaan pestisida berlebihan tidak hanya menyebabkan tanaman rusak
tetapi membuat pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal. Kondisi seperti
kerdil, bercak pada daun, buah banyak yang rusak dan juga adanya perubahan
warna pada daun tidak hanya disebabkan oleh kurangnya nutrisi pada tanaman
tersebut tetapi bisa juga disebabkan karena penggunaan pestisida yang berlebihan.
Contoh yang sering kita temui yaitu sayuran seperti kangkung yang terdapat
bercak-bercak yang diakibat dari penggunaan peptisida yang berlebihan.
4. Peptisida Meninggalkan Residu pada Tanama
Pestisida jenis insektisida dan fungisida sistemik biasanya mengandung bahan
kimia sistemik yang mudah terserap tanaman dan disalurkan ke seluruh bagian
tanaman untuk melindungi setiap bagian tanaman dari gigitan serangga perusak.
Sayangnya, sisa pestisida kimia ini masih akan tertinggal dalam jangka waktu
yang lama di dalam tanaman hingga masa panen tiba. Contohnya yaitu pada
sayuran-sayuran atau bauh-bauhan yang langsung dikemas dan dipasarkan tanpa
mengetahui bahwa masih ada residu dari peptisida tersebut.

2. Pupuk sintetik berbagai jenis dengan komposisi kimia yang berbeda misalnya
antara pupuk urea, ZA dengan KCl. Untuk membedakan ke tiga jenis pupuk
tersebut upaya /analisis kimia apa yang dapat dilakukan? silahkan dikaji

Jawab :

Salah satu perbedaan yang jelas dari jenis pupuk urea dan pupuk ZA
adalah pada persentase unsur nitrogen yang dikandung di dalamnya. Jika pupuk
urea mengandung 46% unsur nitrogen, maka pada pupuk ZA kandungan unsur
nitrogen hanya mencapai 20,8%. Nilai persentase ini menyatakan bahwa 100kg
pupuk urea terdapat 46kg unsur nitrogen, begitu pula pada 100kg pupuk ZA
terdapat 20,8 kg unsur nitrogen. Perbedaan lainnya dari pupuk urea dan ZA
adalah ada tidaknya kandungan unsur makro lainnya. Pupuk urea hanya terdiri
dari unsur makro nitrogen, sedangkan pupuk ZA juga mengandung unsur makro
lainnya seperti belerang atau sulfur (S). sedangkan, Pupuk KCL atau yang biasa
disebut sebagai MOP (Muriate Of Potash) merupakan salah satu jenis pupuk
tunggal yang mempunyai konsentrasi tinggi, yaitu mengandung 60% K2O
sebagai Kalium klorida. Untuk membedakan ketiga pupuk tersebut upaya/
analisis kimia yang dapat dilakukan adalah:

1. Metode Kjeldahl

Metode Kjeldahl merupakan metode yang digunakan untuk menentukan


kadar nitrogen. Artinya metode ini dapat digunakan untuk menganalisis
kandungan dari pupuk urea dan ZA. Pada dasarnya analisa nitrogen cara Kjeldahl
dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, destilasi, dan titrasi.

a. Tahap destruksi Pada tahap ini sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat
sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen
teroksidasi menjadi CO, CO2, dan H2O. Sedangkan nitrogennya berubah
menjadi ammonium sulfat (NH4)2SO4. Asam sulfat yang digunakan 25 ml
sampel yang dianalisa sebanyak 5 g. Suhu destruksi berkisar antara 370-410oC.
Proses destruksi sudah selesai apabila larutan menjadi jernih atau tidak berwarna.
Agar analisa tepat maka pada tahap destruksi ini dilakukan pula perlakuan blanko
yaitu untuk koreksi adanya senyawa nitrogen (N) yang berasal dari reagen yang
digunakan.

b. Tahap destilasi Pada tahap ini, ammonium sulfat dipecah menjadi amonia
(NH3) dengan penambahan NaOH 40% sampai alkalis lalu dipanaskan. Agar
selama destilasi tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan atau
timbulnya gelembung gas yang besar maka dapat ditambahkan logam zinkum
(Zn). Amonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh larutan standar
asam. Asam standar yang dapat digunakan adalah asam sufat 0,25 N dalam
jumlah lebih. Untuk mengetahui jika asam dalam keadaan berlebih maka diberi
indikator campuran (merah metil + metil biru). Destilasi diakhiri bila semua
amonia sudah terdestilasi sempurna yang ditandai destilat tidak lagi bersifat basa.

c. Tahap titrasi Apabila penampung destilasi digunakan asam sulfat 0,25 N


maka sisa asam yang tidak bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH
standar. Selisih jurnal titrasi blanko dan sampel merupakan jumlah ekuivalen
nitrogen. Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka banyaknya
asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan titrasi
menggunakan asam. Selisih jumlah titrasi sampel dan blanko merupakan jumlah
ekuivalen nitrogen.

2. Metode Analisa Spektrofotometri Serapan Atom

Spektrometri merupakan suatu metode analisis kuantitatif yang


pengukurannya berdasarkan banyaknya radiasi yang dihasilkan atau yang diserap
oleh molekul analit. Salah satu bagian dari spektrometri ialah Spektrometri
Serapan Atom (SSA), merupakan metode analisis unsur secara kuantitatif yang
pengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang
tertentu oleh atom oleh atom logam dalam keadaan bebas. Spektrofotometri
Serapan Atom didasarkan pada penyerapan energi sinar oleh atom–atom netral
dalam keadaan gas, untuk itu diperlukan kalor/panas. Alat ini umumnya
digunakan untuk analisis logam sehingga setelah dipansakan akan sukar didapat
unsur yang terionisasi. Pada metode ini larutan sampel diubah menjadi bentuk
aerosol didalam bagian pengkabutan (nebulizer) pada alat AAS selanjutnya
diubah ke dalam bentuk atom – atomnya berupa garis didalam nyala. Artinya,
metode ini dapat digunakan untuk menganalisa kandungan dari pupuk KCl. Pada
metode ini, Dipipet beberapa ml larutan KCl dan NPK. Dimasukkan masing -
masing kedalam labu ukur 100 ml.Ditambahkan 1-10 ml larutan
supresor.Diencerkan dengan air suling sampai tanda tera.Dihomogenkan.Diukur
konsentrasi kalium dengan spektrofotometri serapan atom pada panjang
gelombang 766,5 nm.