Anda di halaman 1dari 23

PORTOFOLIO

Seorang Perempuan 30 tahun dengan Dengue Haemorrhagic Fever


(DHF)

Disusun oleh :
dr. Nazdifatu Zulfa
Pendamping :
dr. Hanif Furkon

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT ISLAM KENDAL
2019
Kasus 1
Topik : Seorang Perempuan 30 tahun dengan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
Tanggal (Kasus) : 20 Oktober 2019 (Presenter : dr. Nazdifatu Zulfa)
Tanggal Presentasi : Januari 2020 (Pendamping : dr. Hanif Furkon)
Tempat Presentasi : RSI Kendal
Obyektif Presentasi :
- Keilmuan
- Diagnostik dan Manajemen
- Dewasa
- Deskripsi: Seorang Perempuan 30 tahun dengan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
- Tujuan: mendiagnosis dan memberikan penanganan yang tepat pada pasien DHF
Bahan Bahasan : Tinjauan Pustaka
Cara Membahas : Presentasi dan Diskusi

Pendamping

(dr. Hanif Furkon)


BAB I
PENDAHULUAN

A. IDENTITAS PASIEN
 Nama : Ny. M
Usia : 30 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Tlahab RT 3/RW 4
Tanggal Masuk RS : 20 Oktober 2019, pukul 16.30 Wib
No. Rekam Medik : 00277xxx

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Demam ± 4 hari
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk ke IGD dengan keluhan demam ± 4 hari sebelum masuk rumah sakit,
terus menerus, menggigil, kaki terasa pegal-pegal. Selain itu pasien juga mengeluhkan sakit
kepala, nyeri uluhati, mual, nafsu makan berkurang dan badan terasa lemas. BAK lancar,
BAB belum untuk hari ini.

Riwayat Penyakit Sebelumnya : Riwayat sakit dengan gejala yang sama disangkal


Riwayat Penyakit Dahulu :

- Hipertensi (-)
- DM (-)
- Jantung (-)
- Asma (-)
- Alergi (-)

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga: 

- Hipertensi (-)
- DM (-)
- Jantung (-)
- Asma (-)
- Alergi (-)

Riwayat Sosial Ekonomi:


Pembiayaan kesehatan dengan BPJS Non PBI. Kesan : sosial ekonomi cukup.
C. OBJEKTIF
1. PEMERIKSAAN FISIK
a) Status Present
Keadaan Umum : Pasien Sakit Sedang
Kesadaran : Compos mentis E4 M6 V5
b) Tanda-tanda vital :
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Laju nafas : 20 kali/menit
- Nadi : 80 kali/menit, regular, isi dan tegangan cukup
- Suhu tubuh : 38,9oC (axiler)
- SpO2 : 99 %
c) Keadaan Tubuh :
- Kepala : mesosefal
- Kulit : turgor kulit cukup
- Mata :conjungtiva palpebra pucat (-/-) ; sklera ikterik (-/-) ; pupil
Isokor, reflek cahaya (+/+)
- Telinga : discharge (-/-)
- Hidung : discharge (-/-) ; nafas cuping (-/-)
- Mulut : bibir sianosis (-) ; mukosa kering (-)
- Tenggorok :uvula di tengah ; faring hiperemis (-) ; tonsil hiperemis (-) ;T 1-
T1
- Leher : trachea di tengah ; pembesaran kelenjar (-) , JVP meningkat
(-)
- Dada : simetris, tidak ada retraksi
- Pulmo
Inspeksi : Hemithorax sinistra dan dextra simetris, retraksi (-)
Palpasi : Fremitus dextra = sinistra
Perkusi : Sonor diseluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan: wh-/-, ronkhi -/-
- Cor
Inspeksi : Ictus cordis tak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di sela iga V, linea midclavikula sinistra, tidak
kuat angkat, tidak didapat thrill
Perkusi : Redup
Batas atas : ICS II linea parasternal kiri
Pinggang : ICS III linea parasternal kiri
Batas kiri bawah : ICS VI line Axilaris anterior kiri
Batas kanan : ICS V linea parasternal kanan
Auskultasi : Suara jantung I dan II normal, murmur(-), gallop (-)
- Abdomen
Inspeksi : datar ; venektasi (-)
Auskultasi : BU (+) normal
Perkusi : timpani ; pekak sisi (-) ; pekak alih (-)
Palpasi : supel ; NT (+) epigastrium; defans muskuler (-)
- Ekstremitas :
Superior Inferior
Sianosis -/- -/-
Oedema -/- -/-
Akral dingin -/- -/-
Capp.refill <2”/<2” <2”/<2”
Ptechiae -/- -/-

2. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hematologi Rutin
Haemoglobin 11,2 g/dL 10,7 – 14,7
Leukosit 14.780 /mm3 5.000 – 14.000
Hematokrit 34,8 % 31 – 43
Trombosit 129.000 /mm3 150.000 – 400.0000

Tes Widal
S. Typhi O 1/80 1/160
S. Typhi H 1/80 1/160
S. Paratyphi A 1/80 1/160
S. Paratyphi B 1/40 1/160
Kesan : Leukositosis dan Trombositopeni
D. RESUME
Pasien datang dengan keluhan demam. Demam dirasakan pasien ± 4 hari
sebelum masuk rumah sakit, terus menerus, menggigil, kaki terasa pegal-pegal. Selain
itu pasien juga mengeluhkan sakit kepala, nyeri uluhati, mual, nafsu makan berkurang
dan badan terasa lemas. BAK lancar, BAB belum untuk hari ini.

Pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, TD: 110/70


mmHg, N: 88x/menit, RR: 20x/menit, T: 38,9oC, SpO2: 99%. Pemeriksaan
laboratorium didapatkan hasil leukosit 14.780/mm3 (leukositosis), trombosit
129.000/μL. Sehingga pasien di diagnosis dengan DHF.

E. DAFTAR MASALAH
1. Febris
2. Leukositosis
3. Trombositopeni

F. INISIAL PLAN
Pengobatan :
− Bed rest
− Infus RL 20 tpm
− Infus Pamol 1 gram
− Inj. Ranitidine 2x1 ampul
− Paracetamol 3 x 500 mg (jika suhu > 38oC)
− Caviplex 2x1

Monitoring : Keadaan Umum, tanda vital


Edukasi:
− Menjelaskan kepada keluarga dan pasien tentang penyakit yang diderita oleh
pasien yaitu penyakit DHF beserta dengan prognosisnya
− Menjelaskan kepada keluarga dan pasien tentang penatalaksanaan yang akan
dilakukan
G. PROGNOSIS
Qua Ad Functionam : Dubia ad bonam
Qua Ad Sanationam : Dubia ad bonam
Qua Ad Vitam : Dubia ad bonam

FOLLOW UP
Tanggal Perjalanan Penyakit Penatalaksanaan
20/10/201 S : demam (+), kaki pegal-pegal (+), P :
9 sakit kepala (+), mual (+), nyeri  IVFD RL 20 tpm
uluhati (+), lemas (+), nafsu makan  IVFD Pamol 1 gr
berkurang, BAK lancar, BAB (-)  Inj. Ranitidin/12
O: j
 TD : 110/70 mmHg  Paracetamol 3x1
 N : 88x/menit  Caviplex 2x1
 RR : 20x/menit Laboratorium :
 S : 38,9oC Darah Rutin
 CA -/-, SI -/-
 Suara dasar paru : SDV +/+
 BT : Rh -/-, Wh -/-
 BJ : I/II murni reguler, BT (-)
 Abdomen : peristaltik (+), NT
(+)
 Ekstremitas : AD (-), Oe (-),
Ptechiae (-)
Lab :
 Haemoglobin11,2 g/dL
 Leukosit14.780/mm3
 Hematokrit34,8%
 Trombosit 129.000/mm3
 S. Typhi O 1/80
 S. Typhi H 1/80
 S. Paratyphi A 1/80
 S. Paratyphi B 1/40
A : DHF
21/10/201 S : demam (+), kaki pegal-pegal (+), P :
9 sakit kepala (-), mual (+), nyeri uluhati  IVFD RL 20 tpm
(-), lemas (+), nafsu makan berkurang,  Inj. Ranitidin/12
BAK lancar, BAB (+) j
O:  Paracetamol 3x1
 TD : 110/80 mmHg  Caviplex 2x1
 N : 85x/menit Laboratorium :
 RR : 20x/menit Darah Rutin
 S : 37,8oC
 CA -/-, SI -/-
 Suara dasar paru : SDV +/+
 BT : Rh -/-, Wh -/-
 BJ : I/II murni reguler, BT (-)
 Abdomen : peristaltik (+), NT
(-)
 Ekstremitas : AD (-), Oe (-),
Ptechiae (-)
Lab :
 Haemoglobin 11,5 g/dL
 Leukosit 13.340/mm3
 Hematokrit 36,8%
 Trombosit 138.000/mm3
22/10/201 S : demam (-), kaki pegal-pegal (-), P :
9 sakit kepala (-), mual (+), nyeri uluhati  IVFD RL 20 tpm
(-), lemas (+), nafsu makan berkurang,  Inj. Ranitidin/12
BAK lancar, BAB (+) j
O:  Paracetamol 3x1
 TD : 120/70 mmHg  provital 2x1
 N : 80x/menit Laboratorium :
 RR : 20x/menit Darah rurtin
 S : 37,2oC
 CA -/-, SI -/-
 Suara dasar paru : SDV +/+
 BT : Rh -/-, Wh -/-
 BJ : I/II murni reguler, BT (-)
 Abdomen : peristaltik (+), NT
(-)
 Ekstremitas : AD (-), Oe (-),
Ptechiae (-)
Lab :
 Haemoglobin 12,3 g/dL
 Leukosit 13.100/mm3
 Hematokrit 35,8%
 Trombosit 140.200/mm3
23/10/201 S : demam (-), kaki pegal-pegal (-), P :
9 sakit kepala (-), mual (-), nyeri uluhati  IVFD RL 20 tpm
(-), lemas (-), nafsu makan membaik,  Paracetamol 3x1
BAK lancar, BAB (+)  provital 2x1
O: Laboratorium :
 TD : 110/80 mmHg Darah rurtin
 N : 80x/menit
 RR : 20x/menit
 S : 37oC
 CA -/-, SI -/-
 Suara dasar paru : SDV +/+
 BT : Rh -/-, Wh -/-
 BJ : I/II murni reguler, BT (-)
 Abdomen : peristaltik (+), NT
(-)
 Ekstremitas : AD (-), Oe (-),
Ptechiae (-)
Lab :
 Haemoglobin 12,3 g/dL
 Leukosit 13.100/mm3
 Hematokrit 35,8%
 Trombosit 150.200/mm3
24/10/201 S : demam (-), kaki pegal-pegal (-), P :
9 sakit kepala (-), mual (-), nyeri uluhati  IVFD RL 20 tpm
(-), lemas (-), nafsu makan membaik,  Paracetamol 3x1
BAK lancar, BAB (+)  provital 2x1
O: Rencana pulang
 TD : 110/70 mmHg
 N : 80x/menit
 RR : 20x/menit
 S : 36,5oC
 CA -/-, SI -/-
 Suara dasar paru : SDV +/+
 BT : Rh -/-, Wh -/-
 BJ : I/II murni reguler, BT (-)
 Abdomen : peristaltik (+), NT
(-)
 Ekstremitas : AD (-), Oe (-),
Ptechiae (-)
Lab :
 Haemoglobin 12,3 g/dL
 Leukosit 13.100/mm3
 Hematokrit 35,8%
 Trombosit 190.000/mm3

BAB II

A. Definisi
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai
dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat
menyebabkan kematian.1
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh
Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan
Aedes Albopictus.2

B. Etiologi
Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam
kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang di kenal sebagai genus
Flavivirus, family Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotype.(3) Flavivirus merupakan
virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat
molekul 4x106.(1)
Adapun 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-4, DEN-3 dan DEN-4 yang semuanya
dapat menyebabkan demam berdarah dengue. DEN-3 yang terbanyak ditemukan di Indonesia
dan merupakan serotype yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan
manifestasi klinis yang berat.(4,6) Terdapat reaksi silang antara serotype dengue dengan
Flavivirus lain seperti Yellow Fever, Japanese encephalitis dan West Nile virus. Pada
Artropoda menunjukkan virus dengue dapat bereplikasi pada nyamuk genus Aedes
(stegomyia) dan Toxorhynchites.1
Cara penularannya infeksi virus dengue ini ada tiga factor yang memegang peranan,
yaitu manusia, virus, dan vector perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada
saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang berada di
kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation priod) sebelum
dapat menularkan kembali kepada manusia saat gigitan berikutnya. Virus dalam tubuh
nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovarian transmission), namun
peranannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembang
biak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya
(infektif). Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-6 hari (intrinsic
incubation priod) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk
hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang viremia, yaitu 2 hari
sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul.3

C. Patogenesis
Patogenesis terjadinya demam berdarah hingga saat ini masih diperdebatkan. Dua
teori yang banyak dianut pada DHF dan DSS adalah Hipotesis immune enhancement dan
hipotesis infeksi sekunder (teori secondary hetelogous dengue infection).1,3
Berdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme
Imunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue dan sindrom renjatan
dengue.1
Respon imun yang diketahui berperan dalam pathogenesis DHF adalah:
a) Respon humoral berupa pembentukan antibody yang berperan dalam proses
netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan sitotoksisitas yang dimediasi
antibody. Sel target virus ini adalah sel monosit terutama dan sel makrofag sebagai
tempat replikasi.
b) Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berperan dalam respon imun
seluler terhadap virus dengue. TH1 akan memproduksi interferon gamma, IL-2 dan
limfokin. Sedangkan TH2 memproduksi IL-4, IL-5,IL-6,dan IL-10.
c) Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan opsonisasi antibody.
Aktifasi komplemen oleh kompleks imun yang menyebabkan terbentuknya C3a dan C5a
akibat aktivasi C3 dan C5 yang akan menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding
pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskuler ke ruang ekstravaskuler.
(1,3)

Hipotesis ”the secondary heterologous infection” yang di rumuskan oleh


Suvatte,1977. Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada
seorang pasien, respon antibody anamnestik yang akan terjadi dalam beberapa hari
mengakibatkan proliferasi dan transformasi dengan menghasilkan titer tinggi antibody IgG
anti dengue.(3)
Gambar 1. Teori heterologous dengue infection

Hipotesis immune enhancement menjelaskan menyatakan secara tidak langsung


bahwa mereka yang terkena infeksi kedua oleh virus heterolog mempunyai risiko berat yang
lebih besar untuk menderita DHF berat. Antibodi herterolog yang telah ada akan mengenali
virus lain kemudian membentuk kompleks antigen-antibodi yang berikatan dengan Fc
reseptor dari membran leukosit terutama makrofag. Sebagai tanggapan dari proses ini, akan
terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok.9,10

D. Manifestasi Klinis.
Manifestasi klinik infeksi virus dengue dapat bersifat asimtomatik atau dapat berupa
demam yang tidak khas. Pada umumnya pasien mengalami demam dengan suhu tubuh 39-
40oC, bersifat bifasik (menyerupai Pelana kuda), fase demam selama 2-7 hari, yang diikuti
oleh fase kritis pada hari ke-3 selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak
demam, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat pengobatan
tidak adekuat.(1,3)
Fase Febris: - Demam mendadak tinggi 2-7 hari
- Muka kemerahan, eritema kulit
- Sakit kepala
- Beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorokan,injeksi faring dan konjungtiva,
anoreksia, mual dan muntah.
- Dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti petekie, perdarahan mukosa,
walau jarang terjadi dapat pula terjadi perdarahan pervaginam dan
gastrointestinal.
Fase Kritis: - Terjadi pada hari 3-7 sakit.
- Ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan permeabilitas kepiler
dan timbul kebocoran plasma yang biasanya berlangsun 24-48 jam.
- Kebocoran plasma sering didahului lekopeni progresif disertai penurunan
hitung trombosit.
- Dapat terjadi syok.
Fase Pemulihan: - Terjadi setelah fase kritis.
- Terjadi pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara
perlahan pada 48-72 jam setelahnya.
- KU membaik, nafsu makan pulih, hemodinamik stabil, diuresis membaik.
Menurut manifestasi kliniknya DHF sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4
derajat : 7,8,9
Derajat I : Demam disertai uji tourniquet positif.
Derajat II : Demam + uji tourniquet positif disertai manifestasi perdarahan
(seperti : Epistaksis, perdarahan gusi )
Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menyempit (<20 mmhg), hipotensi, sianosis,
disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, gelisah.
Derajat IV : Syok berat (profound syok), nadi tidak teraba, dan tekanan
darah tidak terukur.

E. Diagnosis
Diagnosis DHF ditegakkan berdasarkan Kriteria diagnosis menurut WHO terdiri dari
kriteria klinis dan laboratoris. 7
Kriteria klinis :
 Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, atau riwayat demam akut, berlangsung
terus-menerus selama 2-7 hari, biasanya bifasik (plana kuda).
 Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan berikut :
- Uji torniquet positif.
- Petekie, ekimosis, purpura.
- Perdarahan mukosa ( epitaksis atatu perdarahan gusi )
- Hematemesis atau melena.
 Pembesaran hati
 Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi,kaki dan
tangan dingin,kulit lembab, dan pasien tampak gelisah.
Kriteria Laboratoris :
 Trombositopenia ( jumlah trombosit <100.000/ul ).
Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma) sebagai berikut :
 Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis
kelamin.
 Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan dengan
sebelumnya.
 Tanda kebocoran plasma seperti : efusi pleura, asites atau hipoproteinemia.

Gambar 2. Spektrum DHF

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam dengue
adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit dan hapusan
darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru.5
Ada 4 jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan yaitu :
 Uji serologi: deteksi antibodi IgG dan IgM, uji HI
 Isolasi virus
 Deteksi RNA/DNA dengan tehnik Polymerase Chain Reaction (PCR).
 Deteksi antigen (pemeriksaan NS-I) Lebih Spesifisitas 100% dan
sensitivitas 92.3%
Pemeriksaan Dengue NSl Antigen adalah pemeriksaan baru terhadap antigen non
struktural-I dengue (NSl) yang dapat mendeteksi infeksi virus dengue dengan lebih awal
bahkan pada hari pertama onset demam. 5
- Pemeriksaan NS-I perlu dilakukan pada pasien yang megalami gejala Demam/klinis
lain < 3 hari, dikarenakan Early detection sangatlah penting untuk menentukan
pengobatan (terapisupportif) yang tepat (cegah Resistensi antibiotik), serta
pemantauanpasien dengan segera.
- Tanpa meninggalkan pemeriksaan Dengue serologi karena pemeriksaaan NS1
bersifat komplementer (saling menunjang), terkhususapabila didapatkan hasil Ns1
(-) dan gejala infeksi tetap muncul.
- Penggunaan Dengue IgG / IgM juga diperlukan bagi dokter penganut paham "infeksi
sekunder dapat menyebabkan infeksi yang lebih berat dan memerlukan penanganan
yang berbeda dengan infeksi primer"
- Dengan adanya Spesifisitas 100% dan sensitivitas 92.3%. Dengan demikian
pomakaian pemeriksaan ini akan dapat meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas
untuk diagnosis infeksi dengue.(5)

2. Pemeriksaan radiologis
Pada foto thorak didapati efusi pleura, terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila
terjadi perembesan plasma hebat. Pemeriksaan foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi
lateral dekubitus kanan ( pasien tidur pada sisi badan sebelah kanan ).(1)

F. Diagnosis Banding
Perlu dipertimbangkan bilamana terdapat kesesuaian klinis dengan demam tipoid,
influenza, idiopathic thrombocytopenic purpura (ITP), chikungunya dan leptospirosis. 1
1. Belum / tanpa renjatan :
a. Campak
b. Infeksi bakteri / virus lain (tonsilo faringitis, demam dari kelompok pnyakit
exanthem, hepatitis, chikungunya)
2. Dengan renjatan
a. Demam tipoid
b. Renjatan septik oleh kuman gram negatif lain
3. Dengan perdarahan
a. Leukemia
b. ITP
c. Anemia Aplastik
4. Dengan kejang
a. Ensefalitis
b. Meningitis

G. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya terapi DHF adalah bersifat suportif dan simtomatis. Penatalaksanaan
ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran plasma dan memberikan
terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan. Dalam pemberian terapi cairan, hal
terpenting yang perlu dilakukan adalah pemantauan baik secara klinis maupun laboratoris.
Proses kebocoran plasma dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari
ke 4 hingga 6 sejak demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan
berkurang dan cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular.3
Protokol pemberian cairan sebagai komponen utama penatalaksanaan DHF dewasa
mengikuti 5 protokol, mengacu pada protokol WHO. Protokol ini terbagi dalam 5 kategori,
sebagai berikut: 3,8,11
1. Penanganan tersangka DHF tanpa syok
2. Pemberian cairan pada tersangka DHF dewasa di ruang rawat
3. Penatalaksanaan DHF dengan peningkatan hematokrit >20%
4. Penatalaksanaan perdarahan spontan pada DHF dewasa
5. Tatalaksana sindroma syok dengue pada dewasa

Protokol 1. Penanganan Tersangka DHF tanpa syok.


Seorang yang tersangka menderita DHF dilakukan pemeriksaan haemoglobin,
hematokrit, dan trombosit, bila :
 Hb, Ht, dan trombosit normal atau trombosit antara 100.000-150.000, pasien dapat
dipulangkan dengan anjuran kontrol atau berobat jalan ke poliklinik dalam waktu 24
jam berikutnya ( dilakukan pemeriksaan Hb, Ht, lekosit dan trombosit tiap 24 jam )
atau bila keadaan penderita memburuk segera kembali ke instalansi gawat darurat.
 Hb, Ht normal dengan trombosit <100.000 dianjurkan untuk dirawat.
 Hb, Ht meningkat dan trombosit normal atau turun juga dianjurkan dirawat.

Gambar 3. Penanganan tersangka DHF tanpa syok

Protokol 2. Pemberian cairan pada tersangka DHF di ruang rawat.


Pasien yang tersangka DHF tanpa perdarahan spontan dan masif dan tanpa syok maka
diruang rawat diberikan cairan infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus berikut ini :
Volume cairan kristaloid per hari yang diperlukan, sesuai rumus berikut :
1500 + (20 x( BB-20) ml
Setelah pemberian cairan dilakukan pemeriksaan Hb, HT tiap 24 jam :
 Bila Hb, Ht meningkat 10-20% dan trombosit < 100.000 jumlah pemberian cairan
tetap, tetapi pemantauan Hb, Ht, trombo dilakukan tiap 12 jam.
 Bila Hb, Ht meningkat >20% dan trombosit <100.000, maka Pemberian cairan sesuai
dengan protokol penatalaksanaan DHF dengan peningkatan Ht>20%.
Gambar 4. Pemberian cairan pada tersangka DHF dewasa di ruang rawat

Protokol 3. Penatalaksanaan DHF dengan peningkatan Ht>20%.

Gambar 5. Penatalaksanaan DHF dengan peningkatan hematokrit >20%


Protokol 4. Penatalaksanaan Perdarahan spontan pada DHF.
Perdarahan spontan dan masif pada penderita DHF dewasa adalah : perdarahan
hidung/epistaksis yang tidak terkendali, perdarahan saluran cerna (henatemesis dan melena
atau hematokesia), perdarahan saluran kencing (hematuria), perdarahan otak atau perdarahan
tersembunyi dengan jumlah perdarahan sebanyak 4-5 ml/kgBB/jam.1,3

Perdarahan Spontan dan Masif :


- Epistaksis tidak terkendali
- Hematemesis melena
- Perdarahan otak
- Hematuria

TRANSFUSI
TROMBOSIT

Hb < 10 gr% TRANSFUSI PRC

Protokol 5. Tatalaksana sindrom syok dengue.


Bila kita berhadapan dengan sindroma syok dengue pada dewasa (SSD) maka hal
pertama yang harus diingat adalah bahwa renjatan harus segera diatasi dan oleh karena itu
penggantian cairan intravaskular yang hilang harus segera dilakukan. Angka kematian pada
sindrom syok dengue sepilih kali lipat dibandingkan dengan penderita DHF tanpa renjatan,
dan renjatan dapat terjadi karena keterlambatan penderita DHF mendapatkan
pertolongan/pengobatan, penatalaksanaan tidak tepat termasuk kurangnya kewaspadaan
terhadap tanda-tanda renjatan dini, dan penatalaksanaan renjatan yang tidak adekuat. 1,3
Gambar 6. Tatalaksana sindroma syok dengue

Kriteria memulangkan pasien, apabila memenuhi semua keadaan dibawah ini : 1


1. Tampak perbaikan secara klinis
2. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
3. Tidak dijumpai distress pernafasan (efusi pleura atau asidosis)
4. Hematokrit stabil
5. Jumlah trombosit cendrung naik > 50.000/nl
6. Tiga hari setelah syok teratasi
7. Nafsu makan membaik

H. Komplikasi
1. Ensefalopati dengue dapat terjadi pada DHF dengan maupun tanpa syok
2. Kelainan ginjal berupa gagal ginjal akut akibat syok
berkepanjangan
3. Edema paru, akibat over loading cairan 3

I. Pencegahan
- Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
a. Melakukan metode 3 M (Menguras, Menutup dan Menyingkirkan tempat
perindukan nyamuk) minimal 1 x seminggu bagi tiap keluarga
b. 100% tempat penampungan air sukar dikuras diberi abate tiap 3 bulan
c. ABJ (angka bebas jentik) diharapkan mencapai 95%
- Foging Focus dan Foging Masal
a. Foging fokus dilakukan 2 siklus dengan radius 200 m dengan selang waktu 1
minggu
b. Foging masal dilakukan 2 siklus diseluruh wilayah suspek KLB dalam jangka
waktu 1 bulan
c. Obat yang dipakai : Malation 96EC atau Fendona 30EC dengan menggunakan
Swing Fog
- Penyuluhan perorangan/kelompok untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
- Kemitraan untuk sosialisasi penanggulangan DBD.12
DAFTAR PUSTAKA

1. Sudoyo A W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, Buku ajar Ilmu penyakit


dalam, Pusat penerbitan departemen ilmu penyakit dalam FK-UI, jakarta, 2006, ed.4,
(III) 1709-1713
2. Sumarno S, Soedarmo P,Garna H,Rezeki S,Satari H. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri
tropis, IDAI, jakarta 2008,ed.2, 155-179
3. Rejeki S, Adinegoro S (DHF) Demam Berdarah Dengue, Tatalaksana Demam
Berdarah Dengue Di Indonesia. Jakarta.2004
4. Mansjoer A,Triyanti K, Savitri R,Wardhani W,Setiowulan W, Kapita selekta FKUI,
Jakarta,(I),428-433
5. Berliandelima, Info terbaru Pemeriksaan Laboratorium terhadap Dengue,
availableat:http://www.mailarchive.com/dokter_umum@yahoogroups.com/msg06092
.html
6. Caribbean Epidemiologi Center (CAREC) Dengue dalam:
http://www.carec.org/publications/DENGUIDE_lab.htm
7. WHO, Clinical Diagnosis of Dengue dalam: http://
www.who.int/entity/csr/resources/publications/dengue/12-23.pdf
8. Hagop Isnar,MD, Dengue dalam : http://www.emedicine.com
9. WHO, Clinical Diagnosis of Dengue dalam: http://
www.who.int/entity/csr/resources/publications/dengue/1-11.pdf
10. WHO, Dengue and Dengue Haemorragic Fever dalam:
http://w3.whosect.org/en/section10/section332/section1631.htm
11. BHJ, Dengue, Dengue Haemorragic Fever, Dengue Shock Syndrome dalam:
http://www.bhj.org/journal/2001_4303_july01/review_380.html