Anda di halaman 1dari 25

ESSAY FARMASI KOMUNITAS

EFI RATNA SARI


19340164

TUGAS MANDIRI 1 FARMASI KOMUNITAS


Dosen: Jenny Pontoan, S.Farm, M.farm.,Apt

Oleh:

EFI RATNA SARI

19340164

FAKULTAS FARMASI PROGRAM STUDI APOTEKER

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA

2020
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Membuat Analisis/Kajian Yang Sistematis, Terstruktur, Rinci Dan Akurat Dari Pertanyaan
Berikut Ini:

1. Jelaskan mekanisme perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian vaksin


(cantumkan Referensi).
2. Berikan contoh dan jelaskan mekanisme penggunaan obat off label dalam fasilitas
kesehatan, selain yang digunakan pada kasus 3a,3b,3c,3d,3e (cantumkan Referensi).
3. Sebutkan dan jelaskan vaksin yang digunakan pada kasus di bawah ini:
a. SARS (2002–2003)
b. Influenza A H1N1 (2009–2010)
c. MERS (2012)
d. Ebola (2014–2016)
e. Zika (2015)
4. Sebutkan dan jelaskan penggunaan obat/vaksin off label pada kasus 3a,3b,3c,3d,3e
(cantumkan Referensi).
5. Bagaimana mekanisme pengadaan obat/vaksin untuk kondisi khusus seperti KLB
(cantumkan Referensi).
6. Jelaskan mekanisme dan prosedur pendistribusian termasuk ekspor atau impor
vaksin/serum antar negara (cantumkan Referensi).
7. Jelaskan mekanisme dan prosedur pendaftaran obat baru/vaksin di BPOM (khusus
Indonesia), bagaimana di negara lain (Australia, Amerika, Eropa) ???? (cantumkan
Referensi)
8. Jelaskan secara lengkap dan terinci perbedaan dan persamaan proses registrasi obat baru
dengan obat me-to product (cantumkan Referensi).
9. Sebutkan dan jelaskan secara rinci dan lengkap obat-obat yang ditarik dari pasaran selama
tahun 2000-2020. Berikan penjelasan yang lengkap (cantumkan Referensi).
10. Terkait soal no.9, jelaskan produsen obatnya apakah milik BUMN, Perusahaan Swasta
dalam Negeri, PMA lengkap dengan distributor (cantumkan Referensi).
11. Menurut Anda, apa peran Apoteker dalam kondisi khusus seperti KLB, baik di faskes
maupun secara sosial di masyarakat (cantumkan Referensi).
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

12. Sebagai seorang Apoteker/PSA, apa yang akan Anda lakukan dalam kondisi khusus
terhadap keberlangusungan Apotek? (cantumkan Referensi)
Syarat :
1. Referensi wajib dikumpul bersama dengan essay
2. Konsep kesehatan yang dikaji dalam kurun waktu 1 dekade terakhir (10 tahun terakhir,
sampai tahun 2020).
3. Referensi minimal tahun 2012, apabila menggunakan artikel/jurnal harus yang
terstandar internasional
4. Referensi online diperbolehkan, dengan merujuk pada website resmi dari organisasi
tertentu “org” atau pemerintah “gov”
5. Kerjakan secara pribadi, analisis tidak bisa sama.
6. Apabila didapati hasil essay-nya sama, maka nilai UAS NOL
7. Tugas dapat disubmit dalam akun e-learning ISTN atau ke email
jennypontoan@istn.ac.id dalam proses submit/pengiriman, harus mencantumkan Nama
Mahasiswa; NPM; Kelas pada bagian Subject.
8. Batas akhir pengiriman hari Kamis, 09 April 2020, jam 23.00 9. Apabila ada kendala
dengan akun e-learning ISTN, silahkan menghibungi contact person bagian IT.
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

I. MEKANISME PERENCANAAN, PENGADAAN, PENYIMPANAN,


PENDISTRIBUSIAN VAKSIN

Pengelolaan vaksin dilakukan oleh sebuah sistem yaitu cold chain. Cold chain adalah
sistem pengelolaan vaksin yang dimaksudkan untuk memelihara dan menjamin mutu vaksin
dalam pendistribusian mulai dari pabrik pembuat vaksin sampai pada sasaran. Perencanaan
penyelenggaraan vaksin merupkan Program yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan
pemerintah daerah yang mengacu pada komitmen global. Kegiatan perencanaan meliputi
operasional penyelenggaraan pelayanan, pemeliharaan peralatan cold chain, penyediaan alat
pendukung cold chain dan dokumen pencatatan pelayanan imunisasi[ CITATION PER17 \l 1033 ].
Proses distribusi vaksin program dari pusat sampai ketingkat pelayanan, harus
mempertahankan kualitas vaksin tetap tinggi agar mampu memberikan kekebalan yang
optimal kepada sasaran. Pendistribusian vaksin, dilaksanakan sampai ke provinsi dan
peralatan cold chain dilaksanakan sampai ke lokasi tujuan. Ketika terjadi kekosongan atau
kekurangan ketersediaan vaksin di suatu daerah maka Pemerintah Pusat dapat melakukan
relokasi vaksin dari daerah lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.
Penyimpanan vaksin harus diperhatikan untuk tetap menjaga kualitas, vaksin harus disimpan
pada tempat dengan kendali suhu tertentu serta tempat penyimpanan vaksin hanya
diperuntukkan khusus untuk menyimpan vaksin saja. Wadah penyimpanan pada saat
pengiriman vaksin berupa cold box yang disertai dengan alat untuk mempertahankan suhu
dingin berupa :
a. Cool pack untuk vaksin Td, DT, Hepatitis B, dan DPTHB-Hib.
b. Cold pack untuk vaksin BCG dan Campak.
c. Dry ice dan/atau cold pack untuk vaksin Polio
Pada setiap cold box disertakan alat pemantau paparan suhu tambahan berupa Indikator
paparan suhu beku untuk vaksin sensitif beku (DT, Td, Hep.B dan DPT-HB-Hib) dan
Indikator paparan suhu panas untuk vaksin BCG[ CITATION PER17 \l 1033 ].
Sumber :
Permenkes, 2017. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017
Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Menteri Kesehatan Indonesia.
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

II. MEKANISME DAN CONTOH PENGGUNAAN OBAT OFF LABEL DALAM


FASILITAS KESEHATAN

Penggunaan obat off label dalam fasilitas kesehatan sering digunakan pada berbagai
macam kasus dan ada beberapa yang memang diperbolehkan dengan tujuan tertentu. Obat Off
– Label adalah obat yang indikasinya tidak tertera/tertulis dalam label yang beberapa
penggunannya telah disetujui oleh FDA ( Food Drug Administration), namun masih banyak
obat yang penggunaannya diluar  ketentuan izin yang diberikan (off label) tetapi belum
disetujui oleh FDA. Penggunaan obat Off - Label adalah penggunaan umum yang biasa
digunakan untuk praktek klinik yang tersebar luas di seluruh dunia. Namun, penggunaan obat
- obatan di luar indikasi dapat menyebabkan beberapa masalah seperti efek samping dan risiko
yang mungkin lebih besar daripada manfaat potensial. Peresepan obat Off – Label tidak bisa
dikategorikan sebagai peresepan yang melanggar hukum, tetapi bisa dikategorikan sebagai
peresepan yang berisiko. Salah satu risiko adalah sangat sedikit data tentang efek samping,
sementara efek samping sering terjadi pada penggunaan obat Off – Label. Pengobatan Off -
Label tidak selalu buruk dan merugikan, pengobatan ini sangat bermanfaat terutama ketika
pasien telah kehabisan opsi dalam terapinya yang tentunya harus dengan pengujian klinis
terlebih dahulu. Penggunaan obat off label jika tanpa dukungan uji klinis yang dirancang
dengan cermat dan analisis ahli, itu tetap tidak diketahui apakah obat itu pada kenyataannya
aman dan efektif untuk penggunaan ataukah malah menimbulkan efek samping yang
berbahaya [CITATION Tha19 \l 1033 ]. Contoh penggunaan off label termasuk:

 Obat yang diuji untuk pengobatan suatu penyakit ataupun sebagai pencegahan
 Obat yang diuji pada satu dosis yang digunakan dari dosis yang lebih tinggi atau lebih
rendah
 Obat yang diuji pada orang dewasa yang diresepkan untuk anak-anak dan
 Obat yang diuji dalam uji coba delapan minggu yang diresepkan untuk penggunan jangka
panjang.
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Contoh obat off label yang penggunaanya telah disetujui oleh FDA [CITATION Tha19 \l 1033 ]

Obat Penggunaan Berlabel Penggunaan Off label


Gabapentin Rasa sakit pasca herpetic, Neuropati diabetic perifer,
kejang epilepsi gangguan bipolar, hot flash
menopause
Ketamin Anastesi Depresi, migrain
Fentanyl Antinyeri pada pasien yang Rasa sakit kronis yang bukan
toleran opioid dan pada pasien toleran opioid
kanker
Antipsikotik (Risperidon, Skizofrenia, gangguan bipolar Bantuan tidur, demensia,
olanzapine. Quetiapin) gangguan obsesif kompulsif,
stress pasca trauma, gangguan
kecemasan
Methylphenidate narkolepsi Depresi, kekacauan spectrum
autisme
Avastin kanker paru-paru, Kanker kolorektal
glioblastoma, karsinoma sel
ginjal, kanker serviks, ovarium
epitel, tuba fallopi, atau kanker
peritoneum
Sumber:
Thaul, S., 2019. Off-Label Use of Prescription Drugs. Washington D.C: Congressional
Research Service.

III. PEMAPARAN TERKAIT VAKSIN YANG DIGUNAKAN PADA KASUS SARS (2002-
2003), INFLUENZA H1N1 (2009-2010), MERS (2012), EBOLA (2014-2016), ZIKA (2015)
a. SARS (2002-2003)
Sindrom pernapasan akut berat (SARS) muncul di Cina pada tahun 2002 sampai 2003
dan menyebar ke negara lain pada saat itu. Namun hingga saat ini belum ada vaksin yang
disetujui penggunaanya oleh FDA. Pengembangan vaksin masih sampai pada tahap pengujian
pada hewan. Vaksin SARS dibuat dari virus yang dinonaktifkan. Menurut penelitian Tseng et
al (2012) Ada 4 vaksin SARS yang diujikan diantaranya the rDNA-expressed S protein
vaccine (SV) merupakan vaksin protein S dimana rDNAnya diekspresikan, β propiolactone
inactivated whole virus vaccine (BPV) merupakan vaksin yang nonaktifkan dengan beta
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

propiolakton dan dikemas dengan addjuvan tawas, the double-inactivated (formalin and UV)
whole virus vaccine (DIV) merupakan vaksin yang dinonaktifkan ganda dengan menggunakan
formalin dan UV Iradiasi dan viral-like particle vaccine (VLP) merupakan vaksin partikel mirip
virus chimeric yang telah dievaluasi sebelumnya yang menyebabkan imunopatologi dengan
tantangan virus.
Hasil pengujiannya semua vaksin SARS-CoV ini menginduksi antibodi dan
memberikan perlindungan terhadap infeksi SARS-CoV. Namun, ada tikus yang diberikan salah
satu vaksin menyebabkan terjadinya imunopatologi tipe-Th2 yang menunjukkan
hipersensitivitas terhadap virus SARS-Cov yang dinduksikan sehingga untuk melanjutkan ke
aplikasi pengujian vaksin SARS-CoV pada manusia perlu diperhatikan[ CITATION Chi12 \l 1033 ].
Sumber:
Tseng, C.-T. et al., 2012. Immunization with SARS Coronavirus Vaccines Leads to Pulmonary
Immunopathology on Challenge with the SARS Virus. Plose One www.plosone.org SARS
Vaccine Pre-Clinical Evaluations, 7(4).

b. INFLUENZA (H1N1 2009-2010)


Vaksin Influenza (H1N1) saat ini dapat menggunakan vaksin terbaru hasil tekhnologi
modern yaitu vaksin influenza trivalen (IIV) dan vaksin influenza quadrivalent (LAIV) yang
mana merupakan vaksin dengan kandungan dua galur virus influenza A (H1N1 dan H3N2),
serta galur virus influenza B. Vaksin influenza trivalent IIV mengandung virus mati dan
diberikan melalui suntikan sedangkan LAIV mengandung virus yang dilemahkan dan berupa
vaksin semprotan hidung. IIV dan LAIV sama-sama efektif, namun ada beberapa perbedaan
dalam indikasinya. Bergantung pada setiap produk, kebanyakan IIV direkomendasikan untuk
orang berusia 6 bulan ke atas, termasuk orang yang sehat, wanita hamil dan penderita masalah
kesehatan kronis. Sedangkan LAIV dapat digunakan untuk orang berusia 2 hingga 49 tahun,
kecuali orang yang sedang hamil, yang kekebalan tubuhnya melemah atau mengalami
kontraindikasi lainnya. Silahkan konsultasi dengan dokter untuk rinciannya.
Sumber
https://www.chp.gov.hk/files/pdf/siv_pamphlet_indonesia.pdf diakses tanggal 10/04/2020

c. MERS (2012)
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Middle East respiratory syndrome (MERS) adalah penyakit pernapasan oleh virus
mematikan yang disebabkan oleh infeksi MERS-coronavirus (MERS-CoV). Sampai saat ini,
tidak ada pengobatan khusus yang terbukti efektif melawan penyakit virus ini, dan belum ada
vaksin yang diizinkan untuk mencegah infeksi MERS-CoV. Penelitian saat ini terkait vaksin
MERS masih sampai pada tahap uji klinik fase 1. Ada beberapa jenis vaksin yang potensial
dapat dikembangkan untuk MERS diantaranya vaksin berbasis vektor virus, vaksin DNA,
vaksin subunit, vaksin berbasis nanopartikel, vaksin virus utuh yang tidak aktif dan vaksin yang
dilemahkan langsung. Meskipun banyak kandidat vaksin yang menjanjikan telah diusulkan
sampai sekarang berdasarkan penelitian hanya ada tiga kandidat vaksin MERS-CoV yang
potensial samapai pada tahap uji klinis fase I: vaksin DNA (GLS-5300) dan dua vaksin berbasis
vektor virus (MVA- MERS-S dan MERS001. Sangat mungkin bahwa akan ada vaksin MERS
yang tersedia di pasar untuk manusia dalam waktu dekat. Namun harus ada upaya yang
dilakukan untuk meminimalkan keterlambatan dalam melaksanakan uji klinis, seperti
pemahaman dan koordinasi yang lebih baik antara sponsor, simpatisan utama, simpatisan
peserta, dan pemangku kepentingan[ CITATION Che19 \l 1033 ].
Sumber :
Yong, C.Y., Ong, H.K., Yeap, S.K. & Ho, K.L., 2019. Recent Advances in the Vaccine
Development Against Middle East Respiratory Syndrome-Coronavirus. Frontiers in
Microbiology, 10, p.article 1781.

d. EBOLA (2014-2016)

Vaksin pertama yang disetujui FDA untuk pencegahan penyakit virus Ebola (EVD),
yang disebabkan oleh Zaire ebolavirus pada individu yang berusia 18 tahun ke atas adalah
Ervebo. Persetujuan Ervebo didukung oleh penelitian yang dilakukan di Guinea selama wabah
2014-2016 yang dilakukan pada individu yang berusia 18 tahun ke atas 3.537 kontak yang
kontak dengan individu EVD yang dikonfirmasi laboratorium menerima vaksinasi langsung
"tertunda" 21 hari dengan Ervebo. Dalam perbandingan kasus EVD di antara 2.108 orang di
kelompok vaksinasi "langsung" dan 1.429 orang di kelompok vaksinasi "tertunda", Ervebo
100% efektif dalam mencegah kasus Ebola dengan onset gejala lebih dari 10. Vaksin Erveebo
adalah vaksin hidup yang dilemahkan terdiri dari virus stomatitis vesikuler rekombinan (VSV)
yang dihapus dan diganti dengan glikoprotein amplop dari ZEBOV.
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Sumber:
https://www.fda.gov/vaccines-blood-biologics/ervebo diakses pada tanggal 10/04/2020
https://www.fda.gov/news-events/press-announcements/first-fda-approved-vaccine-prevention-
ebola-virus-disease-marking-critical-milestone-public-health diakses tanggal 7/04/2020

e. Zika (2015)

Virus Zika adalah flavivirus yang ditularkan melalui gigitan yang terinfeksi nyamuk
Aedes aegypti. Sampai saat ini belum ada vaksin berlisensi yang tersedia untuk melindung dari
infeksi virus zika. Pengujian dilakukan masih sampai tahap uji klinik fase 1 dengan
menggunakan vaksin dari virus yang diinaktivasi. Sehingga saat ini upaya yang dapat dilakukan
yaitu dengan pencegahan sebisa mungkin menghindari gigitan nyamuk saat bepergian ke
daerah epidemic virus zika. Pengobatan yang dianjurkan hanya untuk mengurangi gejala,
merujuk pada rekomendasi CDC analgetik dan antipiretik golongan NSAID maupun
parasetamol menjadi pilihan pengobatan untuk mengatasi gejalanya[ CITATION Nur16 \l 1033 ].
Sumbe:
Fitriatuzzakiyyah, N. & Agung Sri Fitri Kusuma, M.S..A., 2016. Review Virus Zika. Farmaka,
14(4), pp.8-20
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6162149/ diakses tanggal 10/04/20

IV. PENGGUNAAN OBAT/VAKSIN OFF LABEL PADA KASUS SARS (2002-2003),


INFLUENZA H1N1 (2009-2010), MERS (2012), EBOLA (2014-2016) DAN ZIKA (2015)
Penggunaan Obat Off – Label yang indikasinya tidak tertera/tertulis dalam label
beberapa penggunannya telah disetujui oleh FDA ( Food Drug Administration), namun masih
banyak obat yang penggunaannya diluar  ketentuan izin yang diberikan (off label) dan belum
disetujui oleh FDA. Penggunaa obat Off Label pada beberapa kasus yang memang belum ada
vaksinya diantaranya:
a. SARS
Pengobatan SARS dengan menggunakan oseltamivir secara oral bersama dengan
antibiotika berspektrum luas dan ribavirin intravena dalam dosis yang direkomendasikan,
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

belum memberikan hasil terapi yang memuaskan. Pada saat ini, penanganan pengidap
SARS yang dianggap paling penting adalah terapi suportif, yaitu mengupayakan agar
pengidap tidak mengalami dehidrasi (KEMENKES RI, 2020).
Sumber :
KEMENKES RI, K., 2020. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel
Coronavirus. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
b. Influenza H1N1
Oseltamivir terhadap virus H1N1 untuk menghindari penyakit menjadi parah dan
mematikan serta mengurangi keharusanpasien di rumah sakit. Jika digunakan sesuai
aturan pakai, oseltamivir diketahui dapat menahan risiko terjadinya radang paru-paru.
Namun pemerintah mulai mempertimbangkan pengembangan antivirus khusus untuk
virus H1N1 ini [ CITATION Aer16 \l 1033 ]
Sumber:
Hurt, A.C. & Kelly, H., 2016. Debate Regarding Oseltamivir Use for Seasonal and
Pandemic Influenza. Emerging Infectious Diseases (www.cdc.gov/eid)
c. MERS
Pegobatan yang bisa dilakukan saat ini hanya untuk mengurangi gejala saja karena
belum ada pengobatan atau pun vaksin yang spesifik dalam mengobati MERS.
Pengobatan yang dilakukan hanya bertujuan untuk mengurangi gejala yang dialami. Di
antaranya adalah pemberian oksigen tambahan untuk mengurangi sesak, pemberian cairan
infus untuk mencegah dehidrasi, serta pemberian obat penurun demam. Bila terjadi
komplikasi gagal ginjal, terkadang cuci darah (hemodialisis) untuk sementara waktu akan
diperlukan. (KEMENKES RI, 2020).
Sumber
KEMENKES RI, K., 2020. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel
Coronavirus. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
d. EBOLA
Obat antivirus maupun vaksin untuk penyakit Ebola belum ditemukan pada saat itu
sehingga terapi yang dapat diberikan kepada penderitanya hanya sebatas terapi suportif seperti
pemberian oksigen, cairan intravena dan obat-obat simtomatik [ CITATION Hen14 \l 1033 ] .
Karena penularan dan penyebarannya sangat cepat dan prognosisnya buruk, penyakit ebola
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

harus segera dicegah dengan menggunakan vaksin. Berdasarkan penelitian pada tahun 2014-
2016 yang dilakukan di Guinea, virus Ebola (EVD) pada individu yang berusia 18 tahun
ke atas vaksin virus ebola ditemukan yaitu Ervebo. Persetujuan Ervebo telah dilegalkan
oleh FDA dan telah dipasarkan pada bulan desember 2019.
Sumber
Asri Hendrawati., 2014. Kenali Ebola. JKKI, 6(1)
https://www.fda.gov/vaccines-blood-biologics/ervebo diakses pada tanggal 10/04/2020
https://www.fda.gov/news-events/press-announcements/first-fda-approved-vaccine-
prevention-ebola-virus-disease-marking-critical-milestone-public-health diakses tanggal
7/04/2020
e. ZIKA
Pengobatan yang dianjurkan hanya untuk mengurangi gejala, merujuk pada rekomendasi
CDC analgetik dan antipiretik golongan NSAID maupun parasetamol menjadi pilihan
pengobatan untuk mengatasi gejalanya[ CITATION Nur16 \l 1033 ].

Sumber:
Fitriatuzzakiyyah, N. & Agung Sri Fitri Kusuma, M.S..A., 2016. Review Virus Zika.
Farmaka, 14(4), pp.8-20

V. MEKANISME PENGADAAN OBAT ATAU VAKSIN UNTUK KONDISI


KHUSUS SEPERTI KLB

Pengadaan Obat dalam kondisi khusus KLB seperti bencana menurut keputusan
menteri kesehatan menginstruksikan untuk adanya buffer stok obat dan perbekalan kesehatan
pada kondisi bencana yang tersedia mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat.
Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan pedoman teknis penanggulangan krisis kesehatan
akibat bencana yang memuat alur koordinasi di instansi pemerintah pada kondisi bencana dan
daftar obat yang harus disediakan sesuai dengan jenis bencana yang terjadi. Pengadaan obat dan
perbekalan kesehatan yang wajib tersedia di lokasi bencana mengikiti penyakit muncul pada
keadaan bencana dan di tempat pengungsian, seperti diare, ISPA, campak, tifoid, stress,
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

hipertensi, penyakit mata, asma, kurang gizi, penyakit kulit, DBD, dan tetanus [ CITATION Meu18
\l 1033 ].
Prinsip buffer stok obat adalah keberadaan stok obat nasional yang ditujukan untuk
disalurkan pada daerah daerah yang terkena dampak bencana. Pengelolaan buffer stok obat dan
perbekalan kesehatan yang ditujukan sebagai persiapan pada kondisi bencana diatur mulai dari
tingkat nasional hingga tingkat terendah seperti instansi yang berada di daerah. Stok obat
nasional tersebut berfungsi sebagai tambahan terhadap stok obat yang tersedia di lokasi
terdampak atau terdekat dari lokasi terdampak. Sebagai contoh, Amerika Serikat memiliki stok
obat yang disebut “12-hour Push Package” yang harus didistribusikan dalam kurun waktu 12
jam setelah terjadi bencana [CITATION Bel14 \l 1033 ]. Selain stok obat nasional, apoteker di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), apotek komunitas, dan distributor farmasi di daerah-
daerah rawan bencana atau di daerah sekitarnya juga dapat mengambil peran aktif dalam
menyediakan buffer obat yang dapat digunakan dengan segera pada kondisi bencana. IFRS dan
apotek komunitas disarankan agar dapat menyediakan buffer stok obat untuk keperluan 72
sampai 96 jam setelah terjadinya bencana, hingga stok obat bantuan datang [CITATION Bel14 \l
1033 ].
Distributor farmasi dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk menyediakan
obat dan perbekalan kesehatan krusial yang dibutuhkan oleh pusat pelayanan kesehatan yang
menangani korban bencana. Obat-obat tersebut dapat dikemas dalam wadah yang terlindung
dari bahaya dengan penanda yang jelas dan mudah dibawa, seperti dalam tas yang kedap air.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah penyusunan dan penyiapan stok obat yang tersedia di
IFRS dan apotek harus dikoordinasikan dan sesuai dengan rencana stok obat baik di tingkat
lokal maupun nasional [ CITATION Meu18 \l 1033 ].
Sumber:
Faradilla, M., 2018. Role of Pharmacist in Disaster Management. Pharmaceutical Sciences and
Research, 5(1), 14-18, 2018, 5(1), pp.14-18

VI. MEKANISME DAN PROSEDUR PENDISTRIBUSIAN TERMASUK EKSPOR ATAU


IMPOR VAKSIN/SERUM ANTAR NEGARA
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

1. Impor
Vaksin masuk dalam kategori obat biologi jadi mekanisme impornya sama seperti obat
jadi. Obat impor adalah obat produksi industri farmasi luar negri yang masuk kewilayah
Indonesia baik melalui transportasi udara ataupun laut. Proses pendistribusian obat impor
harus memiliki izin dari badan pengawasan obat dan makanan yang sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan untuk proses obat impor yang ditaati dan
dilengkapi:
a. Diberikan 1 kali izin masuk dan memberikan permohonan tertulis kepada BPOM yang
telah ditanda tangani oleh apoteker penanggung jawab industri farmasi atau penanggung
jawab PBF
b. Foto copy izin edar impor
c. sertifikat izin sah untuk setiap bets obat impor
d. Menyerahkan certificate of pharmaceutical product dari negara produsen dan negara
dalam dimana diterbitkan pelulusan bets.
e. Bila mengimpor vaksin maka harus melengkapi sertifikat pelulusan bets dari kepala
bada pengawasan obat dan makanan dari penanggung jawab dari negara asal tempat
impor diproduksi.
f. Pendokumentasian semua obat impor, dengantujuan untuk memudahkan dalam
pemeriksaan dan penelusuran obat saat diperiksa oleh BPOM berdasarkan keputusan
kepala badan pengawasan obat dan makanan nomor HK.00.05.3.2522 tahun 2003.
Setiap Industri Farmasi atau Pedagang Besar Farmasi yang memasukkan Obat Impor ke
dalam wilayah Indonesia tanpa persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dapat
dikenakan tindakan administratif. Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat 1
dapat berupa, peringatan tertuli, penghentian sementara kegiatan, pembekuan dan/atau
pencabutan izin edar Obat Impor yang bersangkutan; atau tindakan administratif lain dan atau
tindakan pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Ekspor
Prosedur pendistribusian obat khusus ekspor yaitu produk harus telah teregistrasi,
pendaftar memiliki izin Industri Farmasi, memiliki sertifikat CPOB yang masih berlaku sesuai
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

dengan jenis dan bentuk sediaan yang diregistrasi, mendapatkan persetujuan tertulis dari
industri farmasi di luar negeri dan pendistribusian obat khusus ekspor dilarang didistribusikan
di wilayah Indonesia.
Proses pendistribusian obat ekspor harus mengikuti aturan di Negara dimana obat
tersebut diekspor semisal diekspor di Jerman maka harus mengikuti aturan untuk obat ekspor
Jerman. Pendistribusian produk obat ekspr dijerman diatur dalam Arneimettelgesetz (AMG)
Bab 7 pasal 47,dimana terdapat saluran distribusi utama yang boleh beredar yaitu melalui
perusahaan farmasi, grosir dan apotek, dimana perusahaan farmasi dan grosir hanya
diperbolehkan untuk mendistribusikan produk obat ke apotek yang sudah bekerja sama. Selain
itu diperbolehkan bagi perusahaan farmasi dan grosir untuk mendistribusikan produk obat
kepada perusahaan farmasi lain dan grosir lain, rumah sakit dan dokter, badan kesehatan
resmi, badan kesehatan hewan, badan kesehatan lainnya yang diakui.
Importir obat dari luar Jerman dibagi menjadi 2 kategori yang pertama adalah produsen
obat yang mengimpor langsung dari luar Jerman, jalur impornya dinamakan “Einzelimport
Von spezialisierten Importeuren” (Impor Langsung dari pengimpo spesialis). Importir jenis
kedua adalah impor melalui pihak ketiga dengan kata lain bukan produsen obat langsung yang
melakukan impor ke Jerman. Jalur Impor ini dinamakan “Parallelimport” yang biasanya
bertujuan untuk mengurangi biaya obat
Sumber:
BPOM. (2015). Tentang Pengawasan Pemasukan Obat dan Makanan ke dalam Wilayah
Indonesia. Badan Pengawas Obat Dan Makanan
http://djpen.kemendag.go.id/membership/data/files/26d92-produk-obat.pdf

VII. MEKANISME DAN PROSEDUR PENDAFTARAN OBAT BARU/VAKSIN DI BPOM


(KHUSUS INDONESIA) DAN DI NEGARA NEGARA LAIN
(AUSTRALIA, AMERIKA, EROPA)
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Obat Baru adalah Obat dengan zat aktif baru, bentuk sediaan baru, kekuatan baru atau
kombinasi baru yang belum pernah disetujui di Indonesia. Obat baru sebelum diedarkan
harus diregistrasi terlebih dahulu oleh BPOM dengan melakukan registrasi baru. Registrasi
Baru adalah registrasi untuk obat yang belum mendapatkan Izin Edar di Indonesia [ CITATION
BPO17 \l 1033 ].
Sebelum melakukan proses pendaftaran obat baru maka harus dipastikan bahwa
pendaftar harus memiliki izin Industri Farmasi dan memiliki sertifikat CPOB yang masih
berlaku sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan yang diregistrasi. Proses pendaftaran obat
baru diawali dengan proses pra registrasi. Permohonan praregistrasi dan registrasi diajukan
oleh pendaftar secara tertulis kepada kepala BPOM dilampiri dengan dokumen pra registrasi
atau dokumen registrasi. Dokumen registrasi disusun sesuia dengan format ASEAN
Common Tehnical Dossier (ACTD). Selain dilakukan dengan cara manual yaitu dengan
mendatangi kantor BPOM, saat ini tahapan registrasi dapat dilakukan dengan cara elektronik
yaitu dengan AeRO (Aplikasi e-Registrasi Obat).
Permohonan praregistrasi Obat dilakukan untuk penapisan pegistrasi meliputi
penentuan kategori registrasi, penentuan jalur evaluasi, penentuan biaya evaluasi, dan
penentuan dokumen registrasi. Hasil Praregistrasi (HPR) diterbitkan oleh kepala BPOM
dalam jangka waktu paling lama 40 (empat puluh) hari terhitung sejak diterimanya
permohonan praregistrasi. HPR bersifat mengikat serta berlaku selama 1 tahun sejak tanggal
dikeluarkan.
Registrasi dilakukan dengan menyerahkan berkas registrasi dengan mengisi formulir
registrasi dan disertai bukti pembayaran biaya evaluasi dan pendaftaran HPR ke dalam loket
registrasi, kemudian akan terjadi pemeriksaan kelengkapan dokumen registrasi, apabila
lengkap maka akan diberikan tanda terima dan dilanjutkan ke proses evaluasi. Sementara
apabila dokumen tidak lengkap maka akan dikembalikan.Setelah dokumen dinyatakan
lengkap, selanjutnya dilakukan evaluasi.
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Evaluasi dilakukan sebagai penilaian aspek efikasi, keamanan, mutu, dan


manfaatnya. Terdapat suatu komite penilai yang melakukan evaluasi yang disebut dengan
Komite Nasional Penilai Obat Jadi (KOMNAS POJ). Hasil evaluasi dapat berupa
persetujuan, penolakan atau memerlukan tambahan data.

.
Pemberian izin edar hanya diberikan kepada pendaftar yang memenuhi persyaratan
administrasi dan teknis berupa hasil evaluasi efikasi, keamanan, mutu, kemanfaatan, dan
penandaan. Izin edar hanya berlaku 5 tahun. Obat yang telah habis masa berlaku izin
edarnya, dapat diperpanjang selama masih memenuhi persyaratan. Evaluasi kembali
dilakukan jika berdasarkan hasil pemantauan khasiat, keamaan, mutu obat selama obat
diedarkan terdapat perkembangan baru mengenai khasiat, keamanan, dan mutu obat yang
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

berbeda dari data penunjang pada waktu registrasi. Pembekuan atau pembatalan izin edar
dapat dilakukan apabila tidak melaksanakan kewajiban produksi dan peredaran obat
selambat-lambatnya satu tahun semenjak persetujuan serta penyerahan kemasan siap edar ke
kepala BPOM. Selain itu, juga apabila selama 12 bulan berturut-turut tidak diproduksi dan
diedarkan, izin industri farmasi dicabut, atau pemilik izin edar melakukan pelanggaran di
bidang produksi atau distribusi obat [ CITATION BPO17 \l 1033 ].
Prosedur pendaftaran obat baru diluar negeri seperti di Australia, Amerika dan
Eropa pada prinsipnya semua hampir sama seperti di Indonesia yang membedakan hanya
badan pengawasannya saja yang kalau di Indonesia ada Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM), di Australia ada Therapeutic Goods Administration (TGA) Pemerintah Australia,
di Amerika ada Food Drug Administration (FDA) dan di Eropa ada European Medicines
Agency (EMA). Jadi semua obat baru yang akan dibuat harus melalui persetujuan dari
Badan-Badan Tersebut [ CITATION AHC16 \l 1033 ].
Sumber:
AHC, 2016. Drug Approval System of. Australia: APEC Harmonization Cente
BPOM, 2017. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia
Tentang Kriteria Dan Tata Laksana Registrasi Obat. Jakarta: Bpom
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

VIII. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN PROSES REGISTRASI OBAT BARU


DENGAN OBAT ME-TO PRODUCT

Perbedaan dan persamaan proses registrasi obat baru dengan obat me to secara singkat diuraikan
dalam tabel berikut ini:
Perbedaan
Registrasi Obat Baru Obat me-to Produk
Nama obat merupakan nama generik atau Nama obat harus menggunakan nama
nama dagang generik
Seluruh tahapan pembuatan bisa dilakukan Seluruh tahapan pembuatan obat
di dalam negeri atau di luar negeri dilakukan di dalam negeri kerja
Registrasi baru 100 hari kerja Registrasi variasi 80 hari

Persamaamn
Registrasi Obat Baru Obat me-to Produk
Pendaftar mengajukan registrasi obat Pendaftar mengajukan registrasi obat kepada
kepada kepala badan. kepala badan.
Registrasi dilakukan dalam 2 (dua) tahap, Registrasi dilakukan dalam 2 (dua) tahap,
pra-registrasi dan penyerahan berkas pra-registrasi dan penyerahan berkas
registrasi registrasi
Penilaian dan pengujian dalam rangka Penilaian dan pengujian dalam rangka
registrasi obat dijaga kerahasiaannya oleh registrasi obat dijaga kerahasiaannya oleh
Kepala Badan. Kepala Badan.
Pengajuan pra-registrasi disertai dengan Pengajuan pra-registrasi disertai dengan
penyerahan dokumen pra-registrasi yang penyerahan dokumen pra-registrasi yang
dilengkapi dengan bukti penelusuran nama dilengkapi dengan bukti penelusuran nama
obat obat
Pada tahap akhir registrasi, pendaftar Pada tahap akhir registrasi, pendaftar
diwajibkan membayar biaya evaluasi. diwajibkan membayar biaya evaluasi.

Sumber:
BPOM, 2017. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia
Tentang Kriteria Dan Tata Laksana Registrasi Obat. Jakarta: Bpom
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

IX. OBAT-OBAT YANG DITARIK DARI PASARAN SELAMA TAHUN 2000-2020.


BESERTA PENJELASAN LENGKAP

Tgl Penarikan Deskripsi Produk Alasan penarikan

29 Januari 2018 Enzyplex Ketidaksesuaian informasi


Amylase, Calcium Pantothenate, pada label
Cyanocobalamin, Dimethicon, Lipase,
Pyridoxin HCl, Protease, Riboflavin,
Thiamine HCl
DBL7214704016A1
16138801, 17069201, 15192001,
16174501
8 Februari 2018 Librozym Tablet Pencabutan Izin Edar atas
Diastase 200 mg, Pancreatin 100 mg inisiasi pemilik izin edar.
dan simethicon 50 mg
DBL0408511916A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Librozym Plus Tablet Pencabutan Izin Edar atas
Diastase 200 mg, Pancreatin 100 mg inisiasi pemilik izin edar.
dan Simethicon 50 mg
DBL0408512016A3
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Vitazym Tablet Pencabutan Izin Edar atas
Amylase, Calcium Pantothenate, inisiasi pemilik izin edar.
Dimenticone Activated, Lipase,
Nicotinamid, Protease, Vitamin B1-
B6-B12
DBL7211636517A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Gasflat Tablet Pencabutan Izin Edar atas
Pancreatin dan Simetikon inisiasi pemilik izin edar.
DBL0931528717A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Enzymfort Tablet Pencabutan Izin Edar atas
Pancreatin triple strength 150 mg, vit inisiasi pemilik izin edar.
B1 2 mg, vit B2 2 mg, vit B6 250
mcg, nicotinamide 7.5 mg, bile extr 25
mg
D2016810
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Pankreoflat Tablet Pencabutan Izin Edar atas
Pancreatic lipase 6,500 FIP u, inisiasi pemilik izin edar.
pancreatic amylase 5,500 FIP u,
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

pancreatic protease 400 FIP u,


activated dimethylpolysiloxane 80 mg
D2017077
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Pankreon Serbuk Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin, Amilase, Lipase, Protase pada label
DBL8612406522A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Pankreon Compositum Tablet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatic lipase 8,000 FIP u, pada label
pancreatic amylase 6,500 FIP u,
pancreatic protease 450 FIP u, ox bile
extr 50 mg
D2017075
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Pankreon for Children Granula Ketidaksesuaian informasi
Per 5 g Pancreatic lipase 17,500 FIP u, pada label
pancreatic amylase 10,000 FIP u,
pancreatic protease 1,000 FIP u, vit A
2,000 iu, vit B12 1 mcg, folic acid 400
mcg
D2017076
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Benozym Tablet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin 150 mg, bromelain 50 mg, pada label
ox bile 30 mg
DBL8302304716A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Berzymplex Tablet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin 112.5 mg, ox bile 30 mg, pada label
simeticone 25 mg, vit B1 10 mg, vit
B2 5 mg, vit B6 5 mg, vit B12 5 mcg,
niacinamide 10 mg, Ca pantothenate 5
mg
DBL8502305716A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Enzycomb Kaplet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin 400 mg, bromelain 50 mg pada label
DBL8806407707A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Excelase-E Kapsul Ketidaksesuaian informasi
Amylase, sanactase 50 mg, protease pada label
60 mg, lipase 20 mg, meicelase 50 mg,
pancreatin 167.74 mg
DKL8515300301A1
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Seluruh Bets
8 Februari 2018 Tripanzym Kaplet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin 170 mg, activated pada label
dimethylpolysiloxane 80 mg
DBL9022208408A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Elsazym Tablet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin 170 mg, bromelain 50 mg, pada label
simeticone 80 mg
DBL9118808208A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Primperan Compositum Tablet Ketidaksesuaian informasi
Metoclopramide HCl 5 mg, pancreatin pada label
170 mg
DKL7624217916A1
Seluruh Bets
8 Februari 2018 Decazym Kaplet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin 170 mg, ox bile extr 50 mg, pada label
dimethylpolysiloxane 50 mg
DBL8307903407A1
Seluruh Bets
15 februari 2018 Flazymec Kaplet Ketidaksesuaian informasi
Pancreatin 170 mg, simethicone 80 mg pada label
DBL0609215809A1
Seluruh Bets
15 februari 2018 Albothyl Concentrate Pembekuan Izin Edar
Policresulen cairan obat luar berdasarkan hasil
konsentrat 36% pengkajian aspek
DTL 8821600341A2 keamanan obat
Seluruh Bets
15 februari 2018 Medisio Pembekuan Izin Edar
Policresulen cairan obat luar berdasarkan hasil
konsentrat 36% pengkajian aspek
DTL 1221102041A1 keamanan obat
Seluruh Bets
15 februari 2018 Prescotide Pembekuan Izin Edar
Policresulen cairan obat luar berdasarkan hasil
konsentrat 36% pengkajian aspek
DTL 1233526741A1 keamanan obat
Seluruh Bets
15 februari 2018 Aptil 10 mL Pembekuan Izin Edar
Policresulen cairan obat luar berdasarkan hasil
konsentrat 36% pengkajian aspek
DTL 0731527941A1 keamanan obat
Seluruh Bets
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Sumber :https://www.pom.go.id/new/view/direct/daftar-recall

X. TERKAIT SOAL NO 9 DAFTAR PRODUSEN OBAT YANG DITARIK ( MILIK


BUMN/PERUSAHAAN SWASTA DALAM NEGERI

Produk yang ditarik Produsen Keterangan


PMA/BUMN/Swasta
Enzyplex Medifarma Laboratories PMA

Librozym Tablet Hexpharm Jaya Perusahaan Swasta


dalam Negeri
Librozym Plus Tablet Hexpharm Jaya Perusahaan Swasta
dalam Negeri
Vitazym Tablet Kalbe Farma Perusahaan Swasta
dalam Negeri
Gasflat Tablet Pratapa Nirmala PMA

Enzymfort Tablet Kimia Farma BUMN

Pankreoflat Tablet Kimia Farma BUMN

Pankreon Serbuk Kimia Farma BUMN

Pankreon Compositum Tablet Kimia Farma BUMN

Pankreon for Children Granula Kimia Farma BUMN

Benozym Tablet Bernofarm PMA

Berzymplex Tablet Bernofarm PMA

Enzycomb Kaplet Erlimpex Perusahaan Swasta


dalam Negeri
Excelase-E Kapsul Meiji Indonesia PMA

Tripanzym Kaplet Sanbe Farma Perusahaan Swasta


dalam Negeri
Elsazym Tablet Otto Pharmaceutical PMA
Industries
Seluruh Bets
Primperan Compositum Tablet Soho Industri Pharmasi PMA
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

Decazym Kaplet Harsen Perusahaan Swasta


dalam Negeri
Flazymec Kaplet Ifars Pharmaceutical Perusahaan Swasta
Laboratories dalam Negeri
Albothyl Concentrate PT Faratu Perusahaan Swasta
dalam Negeri
Medisio PT Faratu Perusahaan Swasta
dalam Negeri
Prescotide PT Novell Pharmaceutical PMA
Laboratories
Aptil 10 mL PT Pratapa Nirmala PMA
Indonesia
Sumber :https://www.pom.go.id/new/view/direct/daftar-recall

XI. MENURUT ANDA, APA PERAN APOTEKER DALAM KONDISI KHUSUS SEPERTI
KLB, BAIK DI FASKES MAUPUN SECARA SOSIAL DI MASYARAKAT
(CANTUMKAN REFERENSI)
Menurut saya peran apoteker dalam kondisi khusus seperti KLB dalam hal ini bencana,
bertugas memberikan layanan kefarmasian dalam berbagai situasi seperti pelayanan
ambulatori, pelayanan komunitas, pelayanan kefarmasian di rumah, dan pelayanan
kefarmasian di rumah sakit. Peran apoteker dalam meningkatkan layanan kesehatan sama
pentingnya baik dalam kondisi normal maupun dalam situasi bencana namun di Indonesia
belum ada prosedur operasional baku tanggap bencana dan penanggulangan bencana serta
jalur koordinasi bagi apoteker dan tenaga teknis kefarmasian yang disusun oleh organisasi
profesi[ CITATION Meu181 \l 1033 ].
Peran apoteker dalam penanganan bencana sangatlah penting mulai dari menghubungi
instansi pemerintah yang bertugas dalam penanganan bencana (BPBD, BNPP, dan Dinas
Kesehatan) untuk menyediakan jasa sebagai tenaga relawan kesehatan, merancang aksi
tanggap bencana bersama dengan organisasi keprofesian lain, membuat suatu database
informasi distributor obat yang dapat dihubungi untuk menjamin ketersediaan obat, menyusun
daftar obat dan perbekalan kesehatan lainnya yang perlu disediakan di tempat pengungsian/
penampungan, menyusun daftar kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan yang perlu segera
disediakan, menyusun daftar tenaga kesehatan dan kefarmasian lainnya untuk berkoordinasi di
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

lapangan, dan menyiapkan daftar serta stok emergency kit yang berisi obat-obatan yang
digunakan pada kondisi kegawat daruratan [ CITATION Meu181 \l 1033 ].
Persiapan yang dapat dilakukan di tingkat organisasi profesi apoteker adalah membuat
kerjasama dengan pemerintah dan organisasi profesi kesehatan lainnya serta menyiapkan
rancangan kebijakan internal penanggulangan bencana baik di tingkat nasional maupun di
tingkat daerah/wilayah. Menurut Bet et al., (2014) Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh
pemangku kebijakan di tingkat organisasi profesi apoteker dalam KLB adalah
a. melakukan peninjauan terhadap rencana penanggulangan bencana yang telah ada.
Bertindak sebagai sumber informasi utama sebelum dan selama tahap tanggap bencana
terjadi.
b. Pengiriman tenaga kefarmasian (apoteker atau tenaga teknis kefarmasian) ke daerah
terdampak bencana berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provisi atau Kabupaten/Kota
dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana/Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
c. Merancang alur informasi kebutuhan obat di daerah terdampak bencana
d. Bekerjasama dengan industri farmasi dan distributor obat dan alat kesehatan untuk
pemesanan/ pendistribusian obat yang ditujukan khusus bagi daerah terdampak bencana
e. Berpartisipasi dalam pengembangan rencana penanggulangan bencana baik di tingkat
nasional, daerah, ataupun wilayah Memberikan pelatihan tanggap bencana bagi tenaga
kefarmasian baik dalam manajemen logistik maupun pelayanan.
Organisasi profesi tenaga kefarmasian juga dapat menjadi wadah untuk memberikan
usulan tindak lanjut permasalahan yang sering dihadapi saat bencana terjadi seperti obat yang
rusak/kadaluarsa, pemilihan obat terbatas dikarenakan meningkatnya suatu jenis penyakit
pasca bencana dan faktor farmakokinetik yang sering terlewatkan oleh beberapa tenaga
kesehatan pada saat pengobatan karena bencana [ CITATION Meu181 \l 1033 ]
Sumber:
Faradilla, M., 2018. Peran Tenaga Kefarmasian dalam Penanggulangan Bencana.
Pharmaceutical Sciences and Research, 5(1), pp.14-18
ESSAY FARMASI KOMUNITAS
EFI RATNA SARI
19340164

XII. SEBAGAI SEORANG APOTEKER/PSA, APA YANG AKAN ANDA LAKUKAN


DALAM KONDISI KHUSUS TERHADAP KEBERLANGUSUNGAN APOTEK?
Sebagai seorang apoteker/PSA yang harus dilakuakan dalam kondisi khusus terhadap
keberlangsungan apotek yaitu dengan melakukan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian
sehingga tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan kefarmasian sesuai dengan yang
semestinya. Pengendalian mutu Pelayanan kefarmasian terintegrasi dengan program
pengendalian mutu pelayanan kesehatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
Kegiatan pengendalian mutu Pelayanan Kefarmasian meliputi:
a. Perencanaan yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan evaluasi untuk
peningkatan mutu sesuai standar
b. Pelaksanaan, monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja
(membandingkan antara capaian dengan rencana kerja) dan memberikan umpan balik
terhadap hasil capaian.
c. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi, yaitu: melakukan perbaikan kualitas pelayanan
sesuai standar dan meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan.
Sumber:
Permenkes RI No.73 thn 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek