Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KELUARGA


BERENCANA (KB) PADA KELOMPOK WANITA
USIA SUBUR DI PADUKUHAN TLOGO RW 27
AMBARKETAWANG GAMPING SLEMAN

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
1910206027
.

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020
LAPORAN PENDAHULUAN KOMUNITAS
PADA KELOMPOK WANITA USIA SUBUR DI PADUKUHAN TLOGO

Kelompok : B1
Tanggal : 14 Maret 2020

1
A. Latar Belakang
Keluarga Berencana adalah program pemerintah yang berupaya untuk mengatur
kelahiran anak, mengatur usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi,
perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak-hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga
berkualitas (UU Kependudukan Nomor 52 tahun 2009). Keluarga Berencana merupakan
suatu cara yang memungkinkan setiap orang untuk mengatur jumlah anak yang diinginkan
dan jarak kehamilan melalui informasi, pendidikan dan penggunaan metode kontrasepsi
(WHO, 2014).
Keluarga Berencana berperan dalam mengurangi risiko kematian ibu pada waktu
melahirkan yang disebabkan karena terlalu sering melahirkan dan jarak antara kelahiran
yang terlalu pendek (Prawirohardjo, 2005). Berdasarkan Survey Penduduk Antar Sensus
(SUPAS) tahun 2015, AKI di Indonesia berada pada angka 305 per 100.000 kelahiran
hidup.
Upaya untuk menurunkan AKI perlu dilakukan dengan melihat target Sustainable
Development Goals (SDGs) dalam The 2030 Agenda For Sustainable Development yaitu
70 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu program untuk menurunkan AKI yaitu dengan
KB Pasca Persalinan (Riskesdas, 2013). KB Pasca Persalinan adalah penggunaan metode
kontrasepsi pada masa nifas sampai dengan 6 minggu atau 42 hari setelah melahirkan
(Kemenkes, 2014). KB Pasca Persalinan merupakan langkah untuk mencegah kehilangan
kesempatan menggunakan KB setelah melahirkan (Riskesdas, 2013).
Penerapan KB Pasca Persalinan sangat penting karena kembalinya kesuburan pada
ibu setelah melahirkan tidak dapat diketahui secara pasti dan dapat terjadi sebelum
datangnya siklus haid bahkan pada wanita menyusui. Hal ini menyebabkan pada masa
menyusui,wanita mengalami kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) atau unwanted
pregnancy. Kontrasepsi sebaiknya sudah digunakan sebelum kembali beraktivitas seksual.
Oleh karena itu sangat penting untuk menggunakan kontrasepsi seawal mungkin setelah
persalinan (Mujiati, 2013).
Studi yang dilakukan di negara-negara dengan tingkat kelahiran yang tinggi,
menunjukkan bahwa Keluarga Berencana memberi dampak positif untuk meningkatkan
tingkat kesehatan ibu dan bayi, diperkirakan dapat menurunkan 32% kematian ibu dengan
mencegah kehamilan yang tidak diinginkan serta dapat menurunkan 10% kematian anak,
dengan mengurangi jarak persalinan kurang dari 2 tahun (Clelandet al, 2006).

2
Cakupan pelayanan KB Pasca Persalinan di Indonesia tahun 2013 sebesar 59,6%.
Pencapaian pelayanan KB Pasca Persalinan di perkotaan sebesar 60,9%, sedangkan di
perdesaan sebesar 58,3%. Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai program keluarga
berencana, khususnya jenis alat kontrasepsi mengakibatkan kurang optimalnya pencapaian
program keluarga berencana.
Berdasarkan hasil pengkajian di Padukuhan Tlogo RW 27, didapatkan sebanyak 20
orang (30.30%) mengikuti KB dan sebanyak 46 orang (69.70%) tidak mengikuti KB.
Hasil ini menunjukkan bahwa separuh lebih pasangan usia subur tidak mengikuti KB.
Berdasarkan hasil wawancara, ibu-ibu mengatakan tidak mengikuti KB dengan alasan
alasan seperti takut, pusing setelah suntik, haid tidak teratur, mengalami kenaikan BB dan
karena suami tidak mengijinkan untuk KB.
B. Masalah Keperawatan
Ketidakefektifan manajemen kesehatan terkait dengan KB pada wanita berusia subur di
Padukuhan Tlogo RW 27 Ambarketawang Gamping Sleman.
C. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan terkait KB selama 40 menit diharapkan wanita
usia subur yang ada di Padukuhan Tlogo RW 27 Ambarketawang Gamping Sleman dapat
meningkatkan kesadaran diri terkait KB.
D. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan terkait KB selama 1x40 menit diharapkan kelompok wanita
usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27 mampu memahami hal sebagai berikut:
1. Mengerti tentang KB
2. Mengerti tentang ruang lingkup program KB
3. Mengerti tentang tujuan KB
4. Mengerti tentang manfaat KB
5. Mengerti tentang jenis dan metode KB
6. Mengerti tentang kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis dan metode KB
E. Sasaran
Kelompok wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27 Ambarketawang Gamping
Sleman Yogyakarta.

F. Strategi
1. Penyuluhan (pendidikan kesehatan) tentang keluarga berencana
2. Pengenalan macam-macam alat KB

3
G. Rancangan kegiatan:
1. Topik : Penyuluhan tentang KB
2. Metode : Ceramah dan diskusi
3. Media : Power point, lembar balik, alat-alat kontrasepsi KB
4. Alat : LCD, laptop, dan michrophone
5. Waktu : Rabu, 18 Maret 2020
6. Pukul : 19.30 WIB – Selesai
7. Tempat : Posko Mahasiswa Profesi Ners (Rumah Simbah Yitno)
8. Pengorganisasian :
a. Susunan Acara :
No Waktu Kegiatan Kegiatan peserta
1. 2 menit Pembukaan: a. Menjawab salam
a. Memberikan salam b. Mendengarkan
b. Menjelaskan tujuan penyuluhan dan
c. Menyebutkan materi atau pokok memperhatikan
bahasan yang akan disampaikan
2. 25 menit Pelaksanaan: Menyimak dan
Melaksanakan penyuluhan secara berurutan memperhatikan
dan teratur
Materi:
a. Pengertian KB
b. Ruang lingkup program KB
c. Tujuan KB
a. Manfaat KB
b. Jenis dan metode KB
c. Kelebihan dan kekurangan masing-
masing jenis dan metode KB
3. 10 menit Evaluasi: Bertanya dan
a. Memberi kesempatan kepada responden menjawab
untuk bertanya pertanyaan
b. Memberi kesempatan kepada responden
lain untuk menjawab pertanyaan yang
dilontarkan
c. Menjawab dan mendiskusikan
pertanyaan dari responden
4. 3 menit Penutup: Menjawab salam
a. Menyimpulkan materi yang telah
disampaikan
b. Menyampaikan terima kasih atas
perhatiaan dan waktu yang telah
diberikan
c. Mengucapkan salam

b. Susunan Panitia:
1) Penanggungjawab : Hanif Prasetyaningtyas (PJ UAS)
2) Pemateri/Penyusun : Hanif Prasetyaningtyas

4
3) Moderator/notulen : Angling Puspita Setyaningrum
4) Operator : Nevi Eka Rahmawati
5) Sie Konsumsi : Nur ‘aini Istiqomah
Ananda Jean Gareta
Dini Nur Amalia
Diyah Lestari
6) Sie Perlengkapan : Untung Fachaesaruddin
Dwi Astuti
7) Dokumentasi : Handoyo
c. Tata Tempat

Layar

Operator
Penyaji
Dosen

Peserta

H. Jenis Kegiatan
1. Perencanaan
a. Persiapan
1) Pengkajian
2) Pengumpulan data dan perumusan masalah
3) Penyusunan acara dan kepanitiaan
4) Koordinasi kader terkait jadwal penyuluhan
5) Persiapan alat (Proyektor dan alat-alat kontrasepsi KB)
b. Undangan
1) Peserta (kelompok wanita usia subur) : 66 orang
2) Pembimbing PPN-PSIK Universitas ‘Aisyiyah : 1 orang
3) Mahasiswa PPN-PSIK Universitas‘Aisyiyah` : 10 orang
Total peserta : 77 orang
2. Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan
a. Setting tempat disusun sedemikian rupa seperti konsep acara yang ditentukan

5
b. Acara dibuka oleh moderator, dilanjutkan dengan perkenalan pemateri,
penyuluhan kesehatan terkait KB, pengenalan macam-macam alat KB melalu
lembar balik dan contoh alatnya, diskusi tanya jawab, penutupan acara yang
dipandu oleh moderator.
I. Kriteria Evaluasi
1. Kriteria Struktur
a. Kelompok wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang,
Gamping, Sleman Yogyakarta bersedia ikut serta dalam kegiatan penyuluhan
kesehatan oleh mahasiswa profesi UNISA.
b. Agenda dari kegiatan yang akan dilaksanakan sudah dikoordinasikan ke kader dan
pembimbing kampus.
c. Laporan pendahuluan sudah dipersiapkan H-3 dari jadwal yang ditentukan.
2. Kriteria Proses
Kegiatan terlaksana sesuai konsep acara dengan partisipasi aktif dari ibu usia subur
dalam proses penyuluhan dan diskusi.
3. Kriteria hasil
a. Wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang, Gamping,
Sleman Yogyakarta mampu menjelaskan pengertian dari KB
b. Wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang, Gamping,
Sleman Yogyakarta mampu menjelaskan ruang lingkup program KB
c. Wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang, Gamping,
Sleman Yogyakarta mampu menjelaskan tujuan dilakukannya KB
d. Wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang, Gamping,
Sleman Yogyakarta mampu menyebutkan manfaat KB
e. Wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang, Gamping,
Sleman Yogyakarta mampu menyebutkan jenis dan metode KB
f. Wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang, Gamping,
Sleman Yogyakarta mampu menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-
masing jenis dan metode KB

J. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Rabu, 18 Maret 2020

6
Waktu : 19.30- Selesai
Tempat : Posko Mahasiswa Profesi Ners (Rumah Simbah Yitno)

Demikian laporan pendahuluan ini kami susun sebagai laporan atas kegiatan yang
akan kami laksanakan.

Yogyakarta, 14 Maret 2020

Sasaran Penyuluh

Masyarakat Hanif Prasetyaningtyas

Mengetahui
Pembimbing Praktik Lapangan
Keperawatan Komunitas,

Ns. Agustina Rahmawati, M.Kep., Sp.Kep.Kom

7
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KELUARGA
BERENCANA (KB) PADA KELOMPOK WANITA
USIA SUBUR DI PADUKUHAN TLOGO RW 27
AMBARKETAWANG GAMPING SLEMAN

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
1910206027
.

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) KOMUNITAS
PADA KELOMPOK WANITA USIA SUBUR DI PADUKUHAN TLOGO

Topik : Keluarga Berencana (KB)


Sub Topik : Alat Kontrasepsi
Sasaran : Kelompok wanita usia subur
Tempat : Padukuhan Tlogo RW 27, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta
Hari / Tanggal : Rabu, 18 Maret 2020
Waktu : 40 Menit

A. IDENTIFIKASI MASALAH
Keluarga Berencana adalah program pemerintah yang berupaya untuk mengatur
kelahiran anak, mengatur usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi,
perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak-hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga
berkualitas (UU Kependudukan Nomor 52 tahun 2009). Keluarga Berencana merupakan
suatu cara yang memungkinkan setiap orang untuk mengatur jumlah anak yang diinginkan
dan jarak kehamilan melalui informasi, pendidikan dan penggunaan metode kontrasepsi
(WHO, 2014). Studi yang dilakukan di negara-negara dengan tingkat kelahiran yang
tinggi, menunjukkan bahwa Keluarga Berencana memberi dampak positif untuk
meningkatkan tingkat kesehatan ibu dan bayi.
Menurut Clelandet al (2006) diperkirakan keluarga berencana dapat menurunkan
32% kematian ibu dengan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan serta dapat
menurunkan 10% kematian anak, dengan mengurangi jarak persalinan kurang dari 2
tahun. Cakupan pelayanan KB Pasca Persalinan di Indonesia sendiri pada tahun 2013
sebesar 59,6%. Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai program keluarga
berencana, khususnya jenis alat kontrasepsi mengakibatkan kurang optimalnya pencapaian
program keluarga berencana.
Berdasarkan hasil pengkajian di Padukuhan Tlogo RW 27, didapatkan sebanyak 20
orang (30.30%) mengikuti KB dan sebanyak 46 orang (69.70%) tidak mengikuti KB.
Hasil ini menunjukkan bahwa separuh lebih pasangan usia subur tidak mengikuti KB.
Berdasarkan hasil wawancara, ibu-ibu mengatakan tidak mengikuti KB dengan alasan
alasan seperti takut, pusing setelah suntik, haid tidak teratur, mengalami kenaikan BB dan
karena suami tidak mengijinkan untuk KB.
B. PENGANTAR
Bidang studi : Keperawatan Komunitas
Topik : Keluarga Berencana (KB)
Sub Topik : Alat kontrasepsi
Sasaran : Kelompok wanita usia subur
Hari/Tanggal : Rabu, 18 Maret 2020
Jam : 19.30 WIB
Waktu : 40 menit
Tempat : Posko Mahasiswa Profesi Ners (Rumah Simbah Yitno)
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum :
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan terkait KB selama 40 menit diharapkan
wanita usia subur yang ada di Padukuhan Tlogo RW 27 Ambarketawang Gamping
Sleman dapat meningkatkan kesadaran diri terkait KB.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan terkait KB selama 1x40 menit diharapkan kelompok
wanita usia subur di Padukuhan Tlogo RW 27 mampu memahami hal sebagai berikut:
a. Mengerti tentang KB
b. Mengerti tentang ruang lingkup program KB
c. Mengerti tentang tujuan KB
d. Mengerti tentang manfaat KB
e. Mengerti tentang jenis dan metode KB
f. Mengerti tentang kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis dan metode
KB
D. MATERI
Deskripsi Materi Terlampir
E. MEDIA
a. Laptop
b. LCD/Power Point
c. Lembar balik
d. Alat-alat kontrasepsi KB
F. METODE
a. Ceramah
b. Diskusi
G. KEGIATAN PENYULUHAN
No Waktu Kegiatan Kegiatan peserta
1. 2 menit Pembukaan: a. Menjawab
a. Memberikan salam salam
b. Menjelaskan tujuan penyuluhan b. Mendengarkan
c. Menyebutkan materi atau pokok bahasan yang dan
akan disampaikan memperhatikan
2. 25 menit Pelaksanaan: Menyimak dan
Melaksanakan penyuluhan secara berurutan dan memperhatikan
teratur
Materi:
a. Pengertian KB
b. Ruang lingkup program KB
c. Tujuan KB
d. Manfaat KB
e. Jenis dan metode KB
f. Kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis
dan metode KB
3. 10 menit Evaluasi: Bertanya dan
a. Memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab
bertanya pertanyaan
b. Memberi kesempatan kepada responden lain
untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan
c. Menjawab dan mendiskusikan pertanyaan dari
responden
4. 3 menit Penutup: Menjawab salam
a. Menyimpulkan materi yang telah disampaikan
b. Menyampaikan terima kasih atas perhatiaan
dan waktu yang telah diberikan
c. Mengucapkan salam
H. EVALUASI
1. Metode evaluasi : Kuesioner
2. Jenis pertanyaan : Tulisan/pernyataan tertutup
3. Jumlah soal : 10 soal
Pernyataan:
Berilah tanda ( √ ) pada salah satu jawaban yang di anggap benar!
NO URAIAN PERNYATAAN BENAR SALAH
1 KB merupakan usaha untuk mengontrol dan mengatur jarak
kelahiran
2 Pil KB tidak harus di minum setiap hari
3 AKDR/IUD adalah salah satu kontrasepsi yang tidak
mempengaruhi produksi ASI
4 Tubektomi merupakan kontrasepsi untuk laki-laki
5 KB hanya dilakukan oleh istri
6 KB Suntik mempengaruhi Berat Badan
7 KB implant/Susuk mempengaruhi pola haid
8 KB dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi
9 KB steril merupakan KB yang dilakukan dengan cara
pembedahan
10 KB 6 minggu setelah melahirkan atau 7 hari saat haid jika
tidak hamil

Yogyakarta, 14 Maret 2020

Sasaran Penyuluh

Masyarakat Hanif Prasetyaningtyas

Mengetahui
Pembimbing Praktik Lapangan
Keperawatan Komunitas,

Ns. Agustina Rahmawati, M.Kep., Sp.Kep.Kom


MATERI KELUARGA BERENCANA
A. Pengertian Keluarga Berencana
Keluarga berencana merupakan usaha untuk mengukur jumlah anak dan jarak
kelahiran anak yang diinginkan. Maka dari itu, Pemerintah mencanangkan program atau
cara untuk mencegah dan menunda kehamilan (Sulistyawati, 2013).
B. Ruang Lingkup Program Keluarga Berencana
Ruang lingkup program KB secara umum adalah sebagai berikut:
a. Keluarga berencana
b. Kesehatan reproduksi remaja
c. Ketahanan dan pemberdayaan keluarga
d. Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas
e. Keserasian kebijakan kependudukan
f. Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)
g. Penyelenggaraan pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan.
C. Tujuan Keluarga Berencana
1. Tujuan umum
a. Membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan social ekonomi suatu keluarga
dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan
sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
b. Mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi
terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan
pertumbuhan penduduk Indonesia.
2. Tujuan khusus
a. Pengaturan kelahiran
b. Pendewasaan usia perkawinan
c. Peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
d. Mencegah kehamilan karena alasan pribadi
e. Mengatur jarak kehamilan
f. Membatasai jumlah anak
D. Manfaat Keluarga Berencana
1. Manfaat KB Bagi Ibu
a. Perbaikan kesehatan
b. Peningkatan kesehatan
c. Waktu yang cukup untuk mengasuh anak
d. Waktu yang cukup untuk istirahat
e. Menikmati waktu luang
f. Dapat melakukan kegiatan lain
2. Manfaat KB Bagi Anak
a. Dapat tumbuh dengan wajar dan sehat
b. Memperoleh perhatian, pemeliharaan dan makanan yang cukup
c. Perencanaan kesempatan pendidikan lebih baik
3. Manfaat KB Bagi Keluarga
a. Meningkatkan kesejahteraan keluarga
b. Harmonisasi keluarga lebih terjaga
E. Macam-Macam Jenis Alat Kontrasepsi
1. Metode Kontrasepsi Alamiah
a. Senggama Terputus
Senggama terputus adalah mengeluarkan kemaluan pria dari alat kelamin
wanita menjelang ejakulasi. Dengan cara ini diharapkan cairan sperma tidak akan
masuk ke dalam rahim serta mengecilkan kemungkinan bertemunya sel telur yang
dapat mengakibatkan terjadinya pembuahan (Proverawati, Islaely, dan Aspuah,
2010).
Keuntungan:
1) Efektif bila dilaksanakan dengan benar
2) Tidak mengganggu produksi ASI
3) Dapat digunakan sebagai pendukung metoda KB lainnya
4) Tidak ada efek samping
5) Tidak memerlukan alat
b. Pantang Berkala (Kalender)
Pantang berkala adalah tidak melakukan hubungan seksual saat istri sedang
dalam masa subur. Sistem ini berdasarkan pada siklus haid atau menstruasi wanita.
Masa subur tidak selalu terjadi tepat 14 hari sebelum menstruasi, tetapi dapat
terjadi antara 12 atau 16 hari sebelum menstruasi berikutnya (Proverawati, Islaely,
dan Aspuah, 2010). Faktor kegagalan karena salah menghitung masa subur dan
siklus haid yg tidak teratur. Masa subur siklus terpanjang dikurangi 11 dan siklus
terpendek dikurangi 18.
2. Metode Kontrasepsi Sederhana
a. Kondom
Kondom adalah selubung atau sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan
diantaranya lateks (karet), plastik (vynil) atau bahan alami (produksi hewani) yang
dipasang pada penis saat berhubungan. Kondom terbuat dari karet sintetis yang
tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang digulung
berbentuk rata. Standar kondom dilihat dari ketebalannya, yaitu 0,02 mm (Lusa,
2010 dalam Gunarto, 2012).
1) Cara Kerja Kondom
a) Mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi wanita.
b) Sebagai alat kontrasepsi.
c) Sebagai pelindung terhadap infeksi atau transmisi mikro organisme
penyebab PMS (Penyakit Menular Seksual) (Lusa, 2010 dalam Gunarto,
2012).
2) Efektifitas Kondom
Pemakaian kontrasepsi kondom akan efektif apabila dipakai secara benar
setiap kali berhubungan seksual. Pemakaian kondom yang tidak konsisten
membuat tidak efektif. Angka kegagalan kontrasepsi kondom sangat sedikit
yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun (Lusa, 2010 dalam
Gunarto, 2012).
3) Keuntungan kondom
a) Tidak mengganggu produksi ASI.
b) Mencegah PMS
c) Mencegah ejakulasi dini.
d) Mencegah terjadinya kanker serviks.
e) Mencegah imunoinfertiltas.
f) Murah dan dapat diberi secara umum.
g) Memberi dorongan suami untuk ber KB.
4) Keterbatasan Kondom
Alat kontrasepsi metode barier kondom ini juga memiliki keterbatasan, antara
lain:
a) Tingkat efektifitas tergantung pada pemakaian kondom yang benar.
b) Adanya pengurangan sensitifitas pada penis.
c) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.
d) Perasaan malu membeli di tempat umum.
e) Masalah pembuangan kondom bekas pakai (Lusa, 2010 dalam Gunarto,
2012).
b. Spermisida
Spermisida adalah zat-zat kimia yang kerjanya melumpuhkan spermatozoa
di dalam vagina sebelum spermatozoa bergerak ke dalam traktus genetalia interna.
Dikemas dalam bentuk busa (aerosol), tablet vaginal,krim. Cara kerjanya
menyebabkan sel membran sperma terpecah, memperlambat pergerakan sperma
dan menurunkan kemampuan pembuahan sel telur (Saifuddin, 2006).
c. Diafragma
Merupakan kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang
diinsersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual sehingga menutup
serviks. Cara kerjanya menahan sperma agar tidak mendapat akses mencapai
saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopi) dan sebagai alat tempat
spermisida (Saifuddin, 2006).
3. Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih
a. Kontrasepsi Pil
Kontrasepsi oral (Pil) adalah cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk
pil di dalam setiap yang berisi gabungan dari hormon estrogen dan progesteron
atau hanya terdiri dari hormon progesteron saja. Cara kerjanya menekan ovulasi,
mencegah implantasi, mengentalkan lendir serviks (Handayani, 2010).
1) Jenis-jenis pil KB
a) Pil kombinasi : tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon
estrogen dan progestin.
b) Pil progestin (mini pil): mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis.
2) Keuntungan Pil KB
a) Penggunaan mudah, karena hanya dibutuhkan kepatuhan wanita untuk
meminumnya.
b) Pemakai dapat hamil lagi, bila dikehendaki kesuburan dapat kembali
dengan cepat
c) Tidak mengganggu kegiatan seksualitas suami istri
d) Siklus haid menjadi teratur
e) Dapat menghilangkan keluhan nyeri haid (Mochtar, 2005 dalam Gunarto,
2012)
3) Kekurangan Pil KB
a) Terasa mual, biasanya dirasakan selama 3 bulan pertama
b) Terjadi pendarahan di antara masa haid terutama bila lupa atau terlambat
minum pil KB
c) Mengalami sakit kepala ringan
d) Terjadi nyeri payudara
b. Kontrasepsi Suntik
1) Suntik progestin
Merupakan metoda kontrasepsi yang efektif, aman, dapat dipakai oleh semua
WUS, kembalinya ke kesuburan lebih lambat (4 bulan), cocok untuk masa
laktasi karena tidak mempengaruhi ASI.
a) Jenis-jenis suntik progestin
(1) DMPA mengandung 150 mg DMPAyang diberikan setiap 3 bulan
dengan cara disuntikkan IM
(2) Depo Noristerat yang mengandung 200 mg Noretindron Enantat
dengan cara disuntikan IM dalam.
b) Kelebihan suntik progestin
(1) Sangat efektif untuk pencegahan kehamilan jangka panjang
(2) Tidak mempengaruhi hubungan suami istri
(3) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak pada penyakit
jantung
(4) Tidak berpengaruh terhadap ASI
c) Kekurangan suntik progestin
(1) Sering ditemukan gangguan haid seperti spotting, siklus memanjang
dan memendek
(2) Klien bergantuung pelayanan kesehatan dan tidak dapat dihentikan
sewaktu-waktu
(3) Peningkatan BB dan terlambanya kembali ke kesuburan setelah
penghentian pemakaian
2) Suntik kombinasi
Merupakan jenis suntikan yang terdiri atas 25 mg Depo Medroksiprogesteron
Asetat 5 mg Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi IM 1 bulan sekali.
a) Kelebihan suntik kombinasi
(1) Resiko terhadap kesehatan kecil, tidak mempengaruhi hubungan suami
istri
(2) Tidak diperlukan pemeriksaan dalam dan metode jangka panjang
(3) Efek samping yang kecil
(4) Klien tidak perlu menyimpann obat suntik
b) Kekurangan suntik kombinasi
(1) Terjadi perubahan pola haid, apotting, perdarahan sela sampai 10 hari
(2) Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan
(3) Ketergantungan terhadap pelayanan kesehatan
(4) Peningkatan BB dan terlambat kembali kesuburannya
c. Kontrasepsi Implan
1) Kontrasepsi ini terdiri dari:
a) Norplant, terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4
cm dan diameter 2,4 mm. Berisi 36 mg hormon Levonorgestrel dengan
daya kerja 5 tahun
b) Implanon, terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang 40 mm dan
diameter 2,4 mm. Berisi 68 mg 3- ketodesogestrel dengan daya kerja 3
tahun.
c) Indoplant, terdiri dari 2 batang. Berisi 75 mg hormon Levonorgestrel, daya
kerja 3 tahun (Hartanto, 2004).
2) Keuntungan
Dipasang selama lima tahun, kontrol medis ringan, dapat dilayani di daerah
pedesaan, biaya ringan.
3) Kekurangan
Gangguan menstrulasi, terutama selama 3 – 6 bulan pertama dari pemakaian.
Pemakaian akan mengalami masa perdarahan yang lebih panjang, lebih sering,
atau amenorea (Mochtar, 2005 dalam Gunarto, 2012).
d. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
AKDR adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang
dimasukkan ke dalam rongga rahim, yang harus diganti jika sudah digunakan
selama periode tertentu. Terdapat dua macam penggolongan AKDR atau yang
sering disebut IUD (Intra Uterine Devices) yaitu yang mengandung logam (Cu
IUD) dan yang mengandung hormon progesterone atau levonorgestrel (Hartanto,
2004).

1) Efektifitas
Efektifitasnya sangat tinggi untuk mencegah dalam waktu yang lama
(Mochtar, 2005 dalam Gunarto, 2012).
2) Keuntungan
a) Meningkatkan kenyamanan hubungan suami istri karena rasa aman
terhadap resiko kehamilan
b) Dapat dipasang setelah melahirkan atau keguguran
c) Kesuburan cepat kembali setelah dicabut / buka
d) Tidak ada efek samping hormonal
e) Tidak mengganggu laktasi
3) Efek samping
a) Dapat menyebabkan infeksi panggul apabila pemasangan tidak tepat
b) Dapat terjadi rasa sakit berupa kram perut setelah pemasangan
(Sulistyawati, 2011).
4. Metode Kontrasepsi Mantap
a. Tubektomi (MOW)
Tubektomi adalah setiap tindakan yang dilakukan pada kedua saluran telur
wanita yang mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan mendapatkan
keturunan lagi. Kontrasepsi ini digunakan untuk jangka panjang, walaupun
kadang-kadang masih dapat dipulihkan kembali seperti semula. Cara tubektomi
dapat dibagi atas beberapa bagian antara lain saat oprasi, cara mencapai tuba, dan
cara penutupan tuba (Sulistyawati, 2011).
1) Efektifitas
a) Sangat efektif, angka kegagalan sedikit lebih rendah
b) Sangat efektif post – operatif (Hartanto, 2004).
2) Keuntungan
Vasektomi tuba akan menghadapi dan mencapai klimakterium dalam suasana
alami (Sulistyawati, 2011).
3) Kontra indikasi
a) Peradangan dalam rongga panggul
b) Peradangan liang senggama akut
c) Penyakit kardiovaskuler berat, penyakit paru berat, atau penyakit paru lain
yang tidak memungkinkan akseptor berada dalam posisi genupektorial
d) Obesitas berlebihan
e) Bekas lapartomi (Mochtar, 2005 dalam Gunarto, 2012).
4) Efek Samping
a) Resiko trauma internal sedikit lebih tinggi
b) Kemungkinan infeksi serius lebih tinggi
c) Sedikit sekali kematian yang berhubungan dengan anestesi (Hartanto,
2004).
b. Vasektomi (MOP)
Vasektomi adalah Kontrasepsi mantap pria atau vasektomi merupakan suatu
metode operatif minor pada pria yang sangat aman. Sederhana dan sangat efektif,
memakan waktu operasi yang sangat singkat dan tidak memerlukan anastesi umum
(Hartanto, 2004).
1) Efektifitas
a) Sangat efektif, tetapi angka kejadian rekanalisasi spontan dan kehamilan
sedikit lebih tinggi.
b) Efektif 6-10 minggu setelah operasi (Saifuddin, 2001).
2) Keuntungan
a) Efektif.
b) Aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas.
c) Sederhana.
d) Cepat, hanya memerlukan waktu 5-10 menit.
e) Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anastesi lokal saja.
f) Biaya rendah.
g) Secara kultural, sangat dianjurkan di negara-negara dimana wanita merasa
malu untuk ditangani oleh dokter pria atau kurang tersedia dokter wanita
dan paramedis wanita (Hartanto, 2004).
3) Kerugian
a) Diperlukan tindakan operatif
b) Kadang-kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi
c) Belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa, yang
sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat oklusi vas
deferens, dikeluarkan.
d) Problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual mungkin
bertambah parah setelah tindakan operatif yang menyangkut sistem
reproduksi pria (Hartanto, 2004).

4) Efek Samping
Efek samping MOP jarang terjadi dan bersifat sementara misalnya bengkak,
nyeri, dan infeksi pada luka operasi. Pada vasektomi infeksi dan epididimitis
terjadi pada 1-2% pasien. Padatubektomi perdarahan, infeksi, kerusakan organ
lain dan komplikasi karena anastesi dapat terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

Handayani, Sri. (2010). Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Pustaka
Rihama.

BKKBN. (2010). Evaluasi Pembangunan Kependudukan dan KB BKKBN Provinsi Jawa


Tengah. Jawa Tengah: BKKBN Provinsi.

________. (2012). Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Saifuddin, AB. (2010). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Bina Pustaka.

Gunarto, A. (2012). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Dalam Pengambilan Kepeutusan


Menggunakan Kontrasepsi Suntik Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarnegara I
Kabupaten Banjarnegara. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Glasier, A. (2005). Keluarga Berencana Dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC.

Sulistyawati, Ari. (2011). Pelayanan Keluarga Berencana. Salemba Medika. Jakarta.

Proverawati, A., Islaely, A.D. & Aspuah, S. (2010). Panduan Memilih Kontrasepsi.
Yogyakarta: Nuha Medika.

Depkes RI. (2009). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI.

Hartanto, H. (2004). Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Anda mungkin juga menyukai