Anda di halaman 1dari 12

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MENGENAI KADAR

GULA DARAH DENGAN DERAJAT LUKA ULKUS DIABETIK


PADA PASIEN DIABETES MELITUS
DI RSUD KOTA BEKASI
TAHUN 2020

Disusun Oleh:

DWI INDRI FITRIYANI

NPM: 16.156.01.11.014

PROGRAM S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MEDISTRA INDONESIA

BEKASI

2019/2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes adalah penyakit kronis serius yang terjadi karena pankreas tidak
menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula darah atau glukosa), atau
ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya.
Diabetes adalah masalah kesehatan masyarakat yang penting, menjadi salah satu dari
empat penyakit tidak menular prioritas yang menjadi target tindak lanjut oleh para
pemimpin dunia. Jumlah kasus dan prevalensi diabetes terus meningkat selama
beberapa dekade terakhir. (WHO Global Report, 2016). [1]

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh
kadar glukosa darah melebihi normal dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak
dan protein yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin secara relatif maupun
absolut. Apabila tidak terkendali menyebabkan komplikasi akut maupun kronik
(Lemone & Burke, 2008; Smeltzer & Bare, 2008; American Diabetes Association
[ADA], 2010).[2]

Diabetes mellitus adalah penyakit gangguan metabolisme karbohidrat, lemak,


dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja
sekresi insulin yang bersifat kronis dengan ciri khas hiperglikemia/peningkatan kadar
glukosa darah di atas nilai normal (Awad , 2013). Menurut International Diabetes
Federation (IDF) (2014), prevalensi angka kejadian diabetes mellitus didunia adalah
sebanyak 387 juta jiwa dan pada tahun 2035 akan bertambah sebanyak 529 juta jiwa
meningkat sebesar 53%.[3]

Berdasarkan data dari International Diabetes Federation (IDF) 2014, indonesia


menempati urutan ke 5 didunia naik dua peringkat dibandingkan tahun 2013 dengan 7,6
juta orang penyandang DM. penelitian epidiomelogi yang dilakukan hingga tahun 2005
menyatakan bahwa prevelansi diabetes mellitus dijakarta pada tahun 1982 sebesar
1,6%, tahun 1992 sebesar 5, 7% dan tahun 2005 sebesar 12,8%. (Menurut Dr. decroli,
Eva, dkk. 2019, Diabetes Mellitus Tipe 2 hal.1, Fakultas Kedokteran Andalas: Padang)
Menurut data World Health Organization (WHO), diperkirakan penderita
Diabetes Millietus di seluruh dunia pada tahun 2015 adalah sebanyak 415 juta jiwa.
Diantara penderita Diabetes Melitus tersebut terdapat di Amerika Utara dan Karibia
sebanyak 44,3 juta jiwa, Eropa 59,8 juta jiwa, Amerika Selatan dan Tengah 29,6 juta
jiwa, Afrika 14,2 juta jiwa, Pasifik Barat 153,2 juta jiwa dan Timur Tengah dan Afrika
Utara sebanyak 35,4 juta jiwa (WHO, 2016).[4]

Selama beberapa dekade terakhir, prevalensi diabetes meningkat lebih cepat di


negara berpenghasilan rendah dan menengah daripada di negara berpenghasilan tinggi.
Diabetes menyebabkan 1,5 juta kematian pada tahun 2012. Gula darah yang lebih
tinggi dari batas maksimum mengakibatkan tambahan 2,2 juta kematian, dengan
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan lainnya. Empat puluh tiga persen
(43%) dari 3,7 juta kematian ini terjadi sebelum usia 70 tahun. Persentase kematian
yang disebabkan oleh diabetes yang terjadi sebelum usia 70 tahun lebih tinggi di
negara- negara berpenghasilan rendah dan menengah daripada di negara-negara
berpenghasilan tinggi. (WHO Global Report, 2016).[1]

Komplikasi yang paling sering dialami oleh pasien DM adalah neuropati perifer
yaitu berkisar 10% hingga 60% yang akan menyebabkan ulkus diabetik (Apelqvist
et.al., 2008; Staff, 2012). Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi dari DM
yang disebabkan oleh neuropati atau iskemia perifer, atau keduanya hingga ulkus
bahkan gangren dapat terjadinya (Grace & Borley, 2006). [5]

Ulkus kaki diabtik adalah penyakit pada kaki penderita diabetes dengan
karakteristikadanya neuropati sensorik,motoric, otonom, dan gangguan pembuluh darah
tungkai. Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu penyebab utama penderita diabetes
dirawat dirumah sakit. Ulkus, infeksi, gangren, amputasi dan kematian merupakan
komplikasi yang serius dan memerlukan biaya yang tidak sedikitdan berwatan yang
lebih lama. (Menurut Dr. decroli, Eva, dkk. 2019, Diabetes Mellitus Tipe 2 hal.11,
Fakultas Kedokteran Andalas: Padang)

Ulkus diabetikum pada DM bisa menjadi semakin meluas atau melebar dan
memiliki kecenderungan untuk sembuh dalam jangka waktu yang lama akibat adanya
infeksi. Kadar glokusa dalam darah yang tinggi dapat menjadi makanan bagi kuman
untuk berkembang biak dan mengakibatkan infeksi bertambah buruk dan apabila tidak
segera ditangani dan semakin memburuk dapat menimbulkan gangren. Angka kejadian
penderita ulkus diabetikum di Indonesia diperkirakan sekitar 15%, angka amputasi
30%, angka mortalitas 32%, dan perawatan rumah sakit yang terbanyak sebesar 80%
untuk diabetes mellitus disebabkan oleh ulkus diabetikum (Hastuti, 2008).[5]

Diabetes melitus dengan ulkus kaki diabetik di Indonesia sekitar 15%. Angka
amputasi penderita ulkus kaki diabetik 30%, angka mortalitas penderita ulkus kaki
diabetik 32%, dan ulkus kaki diabetik merupakan sebab perawatan rumah sakit yang
terbanyak sebesar 80% untuk diabetes melitus (Amir, 2015).[6]

Ulkus kaki diabetik adalah komplikasi umum dari diabetes mellitus yang
penyebab paling sering penderita DM dirawat di rumah sakit dan penyebab utama
tindakan amputasi pada kaki diabetik, selain itu ulkus kaki diabetik dapat menurunkan
fungsi dan kualitas hidup penderita diabetes mellitus. Menurut Wagner klasifikasi
derajat ulkus kaki diabetik terdapat rentang derajat ulkus dari 0 sampai 5. Semakin
tinggi derajat ulkus, semakin parah tingkat luka diabetik yang dialami.[7]

Klasifikasi Wagner-Meggit dikembangkan pada tahun 1970-an, digunakan


secara luas untuk mengklasifikasi lesi pada kaki diabetes. Derajat 0 Simptom pada kaki
seperti nyeri, Derajat 1 Ulkus superfisial, Derajat 2 Ulkus dalam, Derajat 3 Ulkus
sampai mengenai tulang, Derajat 4 Gangren telapak kaki, Derajat 5 Gangren seluruh
kaki. Klasifikasi Wagner-Meggit dianjurkan oleh International Working Group on
Diabetic Foot (IWGDF) dan dapat diterima semua pihak agar memudahkan
perbandingan hasil-hasil penelitian.[8]

Sebagian besar pasien ulkus diabetikum yang datang untuk berobat berada pada
vase lanjut, hal ini terlihat dari derajat ulkus diabetikum pasien. Derajat ulkus
diabetikum Wagner I sampai II hanya mencapai 25,4% yang berobat sedangkan derajat
ulkus diabetikum Wagner III sampai V mencapai 74,6% yang dirawat di rumah sakit
sanglah. Dan memiliki kecenderungan semakin tinggi derajat ulkus maka akan semakin
tinggi resiko untuk dilakukan tindakan amputasi (Muliawan dkk, 2005).[5]

Alexiadou (2012) menyatakan bahwa ulkus kaki diabetik adalah kaki pada
pasien dengan diabetes mellitus yang mengalami perubahan patologis akibat infeksi,
ulserasi yang berhubungan dengan abnormalitas neurologis, penyakit vaskular perifer
dengan derajat bervariasi atau komplikasi metabolik dari diabetes pada ekstrimitas
bawah. Kasus ulkus kaki dan gangren diabetik merupakan kasus yang paling banyak di
rumah sakit. Angka kematian akibat ulkus kaki yang di jelaskan oleh Pusat Data &
Informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (2011) berkisar 17-23%,
sedangkan angka amputasi berkisar 15-30%. Sementara angka kematian 1 tahun post
amputasi berkisar 14,8%. Jumlah tersebut meningkat pada tahun ketiga menjadi 37%.
Rata-rata umur pasien hanya berumur 23,8 bulan pasca amputasi.[3]

Angka kematian ulkus kaki pada penyandang diabetes melitus di Indonesia


sekitar 17%- 32%. Kejadian ulkus kaki diabetik dan amputasi ulkus diabetika cukup
tinggi.Penderita DM memiliki 15-25% berpotensi mengalami ulkus kaki diabetik
selama hidup mereka, dan tingkat kekambuhan 50% sampai 70% selama 5 tahun
(Veranita, 2016).[6]

Pengetahuan dapat diartikan sebagai hasil tahu yang terjadi setelah seseorang
melakukan pengin- draan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmojo, 2013).
Pengetahuan pasien diabetes mellitus dapat diartikan sebagai hasil tahu dari pasien
mengenai penyakitnya, memahami penyakitnya, cara pence- gahan, pengobatan dan
komplikasinya. Pengetahuan memegang peranan penting dalam penentuan perilaku
yang utuh karena pengetahuan akan mem- bentuk kepercayaan yang selanjutnya dalam
mempersepsikan kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan
menentukan perilaku terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2013) [9]

Pengetahuan sangat diperlukan untuk mengendalikan mengurangi dampak yang


disebabkan oleh DM (Chen, et al., 2015). Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran
manusia sebagai hasilpenggunaan panca inderanya. Yang berbeda sekali dengan
kepercayaan (beliefs), takhayul (superstition), dan penerangan-penerangan yang keliru
(misinformation) (Soekanto, 2003, dalam wahid, dkk, 2006).[10]

Pengetahuan pasien mengenai penyakit DM merupakan sarana yang dapat


membantu pasien menjalankan penanganan DM semasa hidupnya. Perilaku pasien yang
didasari oleh pengetahuan dan sikap yang positif akan berlangsung langgeng.
Pengetahuan yang diberikan kepada pasien DM, akan membuat pasien mengerti
mengenai penyakitnya dan mengerti bagaimana harus mengubah perilakunya dalam
menghadapi penyakit tersebut. (Kemenkes RI: 2013.P4;5)[11]
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Hubungan Tingkat Pengetahuan mengenai kadar gula


darah dengan derajat luka ulkus diabetik pada pasien DM di RSUD
kota Bekasi tahun 2020
2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai kadar gula darah
dengan derajat luka ulkus diabetik pada pasien DM di RSUD kota
Bekasi tahun 2020
3. Untuk mengetahui kadar gula darah dengan dengan derajat luka
diabetic pada pasien DM dirsud kota bekasi
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
1. Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan mengenai kadar gula
darah dengan derajat luka ulkus diabetik pada pasien DM di RSUD kota
Bekasi tahun 2020
1.3.2 Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai kadar gula darah
dengan derajat luka ulkus diabetik pada pasien DM di RSUD kota Bekasi
tahun 2020
2. Untuk mengetahui kadar gula darah dengan dengan derajat luka diabetik
pada pasien pada pasien DM di RSUD kota Bekasi tahun 2020

1.4 Manfaat Peneletian


1.4.1 Bagi Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukkan bagi tempat penelitian khususnya tenaga kesehatan
keperawatan, untuk memberikan edukasi kepada pasien untuk mengurangi luka
ulkus diabetik dengan cara memberikan edukasi untuk mengatur gula darah
didalam tubuh dengan cara diet makanan dan faktor pencentus- pencetus yang
lainnya yang dapat menurunkan gula darah dan perawatan luka benar dan tepat
sesuai yang dianjurkan WHO.

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan


Sebagai bahan masukkan dan referensi bagi mahasiswa lain yang akan
melakukan penelitian Hubungan Tingkat Pengetahuan mengenai kadar gula
darah dengan derajat luka ulkus diabetik pada pasien DM di RSUD kota Bekasi.
Dan institusi pedidikan memperbanyak lagi referensi terbaru yang berhubungan
dengan diabetes
1.4.3 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang Hubungan Tingkat
Pengetahuan mengenai kadar gula darah dengan derajat luka ulkus diabetik pada
pasien DM serta menjadi suatu kesempatan yang berharga bagi peneliti untuk
dapat mengaplikasi kan ilmu – ilmu yang didapatkan selama menempuh
pendidikan perguruan tinggi Kesehatan di STIKes Medistra

1.5 Relavansi Penelitian

NO JUDUL PENELITI INSTITUSI METODE HASIL


1. Hubungan Tingkat Nia Oktavia - Desain Hasil penelitian
Sinaga
Pengetahuan Dan Kadar penelitian pada variabel
Risma Dumiri
Gula Darah Dengan yang pengetahuan
Manurung,
Derajat Ulkus Kaki digunakan mayoritas responden
S.Kep, Ns,
Diabetik Di Klinik Asri adalah berpengetahuan
M.Biomed
Wound Care Center deskriptif cukup sebanyak 18
Medan Tahun 2019 analitik responden (46.20%).
dengan Pada variabel KGD
pendekatan mayoritas responden
cross- memiliki KGD tidak
sectional normal (>200
mg/dL) sebanyak 27
responden (69.2%).
Pada variabel derajat
ulkus diabetik
responden mayoritas
derajat I yaitu
sebanyak 16 orang
(41,0%). Uji statistik
Rank Spearman
pada Pengetahuan
Responden Dengan
Derajat Ulkus
Diabetik didapatkan
nilai p-value 0.031
(p-value <0,05),
yang artinya
pengetahuan dengan
derajat ulkus
diabetik memiliki
hubungan yang
sangat rendah. Uji
statistik Rank
Spearman pada
KGD Responden
Dengan Derajat
Ulkus Diabetik
didapatkan nilai p-
value 0.046 (p-value
<0,05), yang artinya
artinya kadar gula
darah dengan derajat
ulkus diabetik
memiliki hubungan
yang kuat dan
searah. Kesimpulan
dalam penelitian ini
adalah adanya
hubungan bermakna
antara pengetahuan
dengan derajat ulkus
kaki diabetik dan
KGD dengan derajat
ulkus kaki diabetik
pasien di Klinik Asri
Wound Care Center
Medan.
2 Hubungan Tingkat Ida Suryati, Def STIKes Metode Hasil analisis
Pengetahuan Dan Lama Primal, Darsis Perintis penelitian univariat
Menderita Diabetes Pordiati Padang deskriptif menunjukkan bahwa
Mellitus (Dm) Dengan analitik 72,2% responden
Kejadian Ulkus dengan desain memiliki tingkat
Diabetikum Pada Pasien cross pengetahuan yang
Dm Tipe 2 Rumah Sakit sectional. tinggi, 61,1% telah
Achmad Mochtar lama menderita DM
Bukittinggi interne poli. dan 79,6% tidak
memiliki ulkus
diabetik. Hasil
bivariat memiliki
korelasi antara
tingkat pengetahuan
dengan kejadian
ulkus diabetik (p =
0,000) dan ada
hubungan antara
pengetahuan dan
kejadian ulkus
diabetes (p = 0,036
dan OR = 8,696).
Disimpulkan bahwa
ada hubungan antara
tingkat pengetahuan
dan lama

3. Kunaryanti¹, Universitas Penelitian ini Hasil uji bivariat


Hubungan Tingkat
Annisa Sebelas merupakan membuktikan
Pengetahuan Tentang
Andriyani², Maret penelitian pengetahuan tentang
Diabetes Mellitus
Riyani Surakarta analitik DM berhubungan
Dengan Perilaku Wulandari dengan dengan perilaku
Mengontrol Gula Darah pendekatan mengontrol gula
Pada Pasien Diabetes cross darah
Mellitus Rawat Jalan Di sectional. (p=0,000)<0,05.
Rsud Dr. Moewardi Kesimpulan dari
Surakarta penelitian ini adalah
ada hubungan
tingkat pengetahuan
tentang DM dengan
perilaku mengontrol
gula darah pada
pasien DM rawat
jalan di RSUD Dr.
Moewardi
Surakarta.
4. Hubungan Antara Kadar Veranita, Dian Desain
Universitas Diperoleh 10,0%
Glukosa Darah Dengan Wahyuni, penelitian
Sriwijaya derajat 1 ulkus kaki
Derajat Hikayati deskriptif
diabetik dengan
Ulkus Kaki Diabetik analitik
kadar glukosa darah
dengan
<200 mg/dl, 40,0%
rancangan
derajat 2 ulkus kaki
pendekatan
diabetik dengan
cross-
kadar glukosa darah
sectional.
≥200 mg/dl, 50,0%
Sampel pada
derajat 3 ulkus kaki
penelitian ini
diabetik dengan
diambil
kadar glukosa darah
dengan
≥200 mg/dl dan
menggunakan
tidak di temukannya
metode total
derajat ulkus kaki
sampling
diabetik 0, 4, 5. Uji
dengan kriteria
alternatif yaitu uji
inklusi yaitu
kolmogorof smirnof
sebanyak 30
penderita dengan derajat
diabetes kepercayaan 95%
mellitus dan α = 5% yaitu
dengan ulkus terdapat hubungan
kaki diabetik. antara derajat ulkus
kaki diabetik dengan
kadar glukosa darah
pada penderita
diabetes mellitus di
RSUD Dr. Ibnu
Sutowo Baturaja
dengan p value =
0,009

DAFTAR PUSTAKA

[1] D. Diabetes, “HARI DIABETES SEDUNIA TAHUN 2018.”


[2] L. E. Purwanti and S. Maghfirah, “FAKTOR RISIKO KOMPLIKASI KRONIS
(KAKI DIABETIK) DALAM DIABETES MELLITUS TIPE 2 Lina Ema Purwanti*,
Sholihatul Maghfirah*,” vol. 7, no. 1, pp. 26–39, 2016.

[3] B. Epidemiologi and F. K. Masyarakat, “Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rsud K.R.M.T
Wongsonegoro Semarang,” J. Kesehat. Masy., vol. 6, no. 1, pp. 200–206, 2018.

[4] F. Yang, B. Dengan, P. Ulkus, D. Pada, and D. Mellitus, “REAL in Nursing Journal
( RNJ ),” vol. 2, no. 3, pp. 108–117, 2019.

[5] D. A. N. Kadar, G. Darah, P. Pasien, and U. Diabetikum, “403 Jurnal Care Vol .5,
No.3,Tahun 2017,” vol. 485, no. 3, pp. 403–417, 2017.

[6] K. Gula, D. Dengan, D. Ulkus, K. Diabetik, B. S. Level, D. Of, and D. Foot,


“DERAJAT ULKUS KAKI DIABETIK DI KLINIK ASRI WOUND CARE CENTER
MEDAN TAHUN 2019

[7] D. Wahyuni, P. Baturaja, P. Studi, I. Keperawatan, F. Kedokteran, and U. Sriwijaya,


“ULKUS KAKI DIABETIK vol. 3, no. 2355, pp. 44–50.

[8] A. Pb, I. D. I. Skp, and R. W. Kartika, “Pengelolaan Gangren Kaki Diabetik,” vol. 44,
no. 1, pp. 18–22, 2017.

[9] J. Ners and D. A. N. Kebidanan, “Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku


Pencegahan Kekambuhan Luka Diabetik,” pp. 233–240, 2018.

[10] N. F. Ishab and P. H. Chandra, “GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN


PASIEN DIABETES MELITUS TENTANG PENYAKIT DIABETES MELITUS DI
RSUD dr H SOEWONDO KENDAL,” vol. 1, 2013.

[11] E. Nazriati, D. Pratiwi, and T. Restuastuti, “ARTIKEL PENELITIAN Pengetahuan


pasien diabetes melitus tipe 2 dan hubungannya dengan kepatuhan minum obat di
Puskesmas Mandau Kabupaten Bengkalis,” vol. 41, no. 2, pp. 59–68, 2018.

[12.] Dr. decroli, Eva, dkk. 2019, Diabetes Mellitus Tipe 2 hal.11, Fakultas Kedokteran
Andalas: Padang)