Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KEWIRAUSAHAAN

“Membuat Rangkuman Studi Kelayakan Usaha Dan Tanggung Jawab Sosial”

DISUSUN OLEH :

NAMA : DWI INDRI FITRIYANI

NPM : 16.156.01.11.014

KELAS : 4A- ILMU KEPERAWATAN

STIKES MEDISTRA INDONESIA


Jl. CUT MEUTIA RAYA NO. 88A BEKASI, JAWA BARAT INDONESIA
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
1. Studi Kelayakan Usaha

A. Studi Kelayakan Usaha


Studi kelayakan usaha atau disebut juga analisis proyek bisnis adalahpenelitian
tentang layak atau tidaknya suatu bisnis dilaksanakan denganmenguntungkan
secara terus-menerus. Studi ini pada dasarnya membahasberbagai konsep dasar
yang berkaitan dengan keputusan dan proses pemilihanproyek bisnis agar
mampumemberikan manfaat ekonomis dan sosial sepanjangwaktu. Dalam studi ini,
pertimbangan ekonomis dan teknis sangat penting karenaakan dijadikan dasar
implementasi kegiatan usaha.
Studi kelayakan usaha juga merupakan penelitian terhadap rencana bisnisyang
tidak hanya menganalisis layak atau tidaknya bisnis dibangun, tetapi jugasaat
dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yangmaksimal untuk
waktu yang tidak ditentukan, misalnya rencana peluncuranproduk baru.
Hasil studi kelayakan usaha pada prinsipnya bisa digunakan antara lain untuk:
1. Merintis usaha baru, misalnya membuka toko, membangunpabrik, mendirikan
perusahaan jasa, membuka usaha dagang, dan lainsebagainya.
2. Mengembangkan usaha yang sudah ada, misalnya untukmenembah
kapasitas pabrik, memperluas skala usaha, menggantiperalatan/mesin, menambah
mesin baru, memperluas cakupn usaha,dan lain sebagainya.
3. Memilih jenis usaha atau investasi/proyek yang palingmenguntungkan,
misalnya pilihan usaha dagang, pilihan usaha barangatau jasa, pabrikasi atau
perakitan, proyek A atau proyek B, dan lainsebagainya
B. Tujuan Studi KelayakanUsaha
Ketika ingin mengetahui kelayakan usaha kita, tentunya kita harusmengetahui
tujuannya.Dalam hal ini Kasmir dan Jakfar, (2003:20) mengatakan“paling tidak ada lima tujuan
mengapa sebelum suatu usaha atau proyekdijalankan perlu dilakukan studi kelayakan”, yaitu:
1. Menghindari resiko kerugian. Untuk mengatasi resiko kerugian padamasa yang
akan datang harus ada semacam kondisi kepastian. Kondisiini ada yang dapat
diramalkan akan terjadi atau terjadi tanpa dapatdiramalkan. Fungsi studi
kelayakan adalah meminimalkan resiko yangtidak diinginkan, baik risiko yang
dapat dikendalikan maupun yangtidak dapat dikendalikan.
2. Memudahkan perencanaan. Apabila sudah dpat meramalkan yangakan terjadi
pada masa yang akan datang, kita dapat melakukanperencanaan dan hal-hal yang
perlu direncakan.
3. Memudahkan pelaksaan pekerjaan. Berbagai rencana yang sudahdisusun akan
memudahkan pelaksaan usaha. Pedoman yang telahtersusun secara sistematis,
menyebabkan usaha yang dilaksanakandapat tepat sasaran dan sesuai dengan
rencana yang sudah disusun.
4. Memudahkan pengawasan. Pelaksanaan usaha yang sesuai denganrencana yang
sudah disusun, akan memudahkan kita untuk melakukanpengawasan terhadapa
jalanya usaha. Pengawasan ini perlu dilakukanagar tidak melenceng dari rencana
yang telah disusun.
5. Memudahkan pengendalian. Apabila dalam pelaksanaan telahdilakukan
pengawasan, jika terjadi penyimpangan akan mudahterdeteksi, sehingga
dapat di lakukan pengendalian atas penyimpangan tersebut. Tujuan
pengendalian adalah mengendalikan agar tidakmelenceng dari rel yang
sesungguhnya, sehingga tujuan perusahaanakan tercapai.
C. Pihak-pihak yang Berkepentingan
Adapun pihak yang memerlukan dan berkepentingan dengan studikelayakan usaha di
antaranya:
1. Pihak Wirausaha (Pemilik Perusahaan)Memulai bisnis atau mengembangkan bisnis yang
sudah ada sudah barangtentu memerlukan pengorbanan yang cukup besar dan selalu
dihadapkan padaketidakpastian. Dalam kewirausahaan, studi kelayakan usaha sangat
pentingdilakukan agar kegiatan usaha tidak mengalami kegagalan dan
memberikeuntungan sepanjang waktu. Studi kelayakan berfungsi sebagai
laporan,pedoman, dan bahan pertimbangan untuk merintis dan mengembangkan
usahaatau melakukan investasi baru, sehingga bisnis yang akan dilakukan
meyakinkanwirausaha itu sendiri maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan.
2. Investor dan Penyandang DanaBagi investor dan penyandang dana, studi kelayakan
usaha sangat pentinguntuk memilih jenis investasi yang paling menguntungkan dan
sebagai jaminanatas modal yang ditanamkan atau dipinjamkan, apakah investasi
yangdilakukannya memberikan jaminan pengembalian investasi yang memadai atautidak.
Oleh investor, studi kelayakan sering digunakan sebagai bahanpertimbangan
layak atau tidaknya investasi dilakukan.
3. Masyarakat dan PemerintahBagi masyarakat, studi kelayakan sangat diperlukan terutama
sebagai bahankajian apakah usaha yang didirikan atau dikembangkan
bermanfaat bagimasyarakat sekitarnya atau sebaliknya justru merugikan, seperti
bagaimanadampak lingkungan, apakah positif atau negatif. Bagi pemerintah, studi
kelayakansangat penting untuk mempertimbangkan izin usaha atau penyediaan
fasilitaslainnya
D. Aspek-aspek Studi Kelayakan Usaha
Secara umum suatu pengerjaan proyek/ usaha yang akan dilakukan dianggap
feasible(layak) adalah apabila memenuhi kriteria dibawah ini:
1. Proyek/usaha yang dikerjakan tersebut mampu memberikan manfaatyang berarti
kepadapublik(masyarakat).
2. Proyek/usaha yang dikerjakan tersebut adalah dianggap mampuberkembang(expand)dan
yang terpenting memiliki kondisikontinuitas usaha yang tinggi.
3. Proyek/usaha yang akan dikerjakan itu nantinya diperkirakan akanmampu tahan
terhadap berbagai goncangan ekonomi(economicfluctuation)baik karena faktor
domestik maupun global.
4. Proyek/usaha yang dikerjakan tahan terhadap berbagai masalahtermasuk jika timbulnya
krisis kepercayaan.
5. Proyek/usaha tersebut diharapkan akan bisa menampung lapanganpekerjaan atau secara
tidak langsung telah mencoba mengurangiangka pengangguran(unemployment)
6. Proyek/usaha yang akan dilaksanakan tersebut diharapkan mampumemberikan suatu
keuntungan yang wajar dengan juga mampu untukmengembalikan cicilan bunga beserta
pokoknya secara tepat waktu.
7. Proyek/ usaha yang sedang dilaksanakan adalah searah dengankonsep rencana
pembangunan pemerintah baik pemda dan pusat.
8. Manajer yang membawahi pengerjaan proyek/usaha tersebut adalahorang yang memiliki
pengalaman dan pendidikan yang cukup.
9. Manajer dan karyawan yang mengerjakan proyek/usaha tersebutadalah
memilikiperformanceyang dapat dipertanggungjawabkansecara konsep manajemen
modern, seperti kedisiplinan, loyalitas,kejujuran dan keinginan untuk terus memperbaiki
kesalahan.
10. Diharapkan proyek/usaha tersebut berkeinginan dalam jangkapanjanguntuk
menerapkan penggunaan teknologi modern gunamengantisipasi perkembangan
teknologi yang dinamis juga untukmengantisipasi akan munculnya para pesaing
2. Tanggung Jawab Sosial

A. Tanggung Jawab Sosial


Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan
adalah suatu konsep atau tindakan yang dilakukan oleh perusahaan sebagai rasa tanggung jawab
perusahaan terhadap sosial maupun lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada.Pengertian
Corporate Social Responsibility menurut para Ahli:
a. Corporate Social Responsibility (CSR) ialah sebuah pendekatan dimana perusahaan
mengintegrasikan kepedulian sosial di dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksi
mereka dengan para stakeholder berdasarkan prinsip kemitraan dan kesukarelaan
(Nuryana, 2005).
b. Menurut Kotler dan Nancy (2005) mengemukakan bahwa Corporate Social
Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk meningkatkan
kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan mengkontribusikan
sebagian sumber daya perusahaan.
c. Menurut World Business Council for Sustainable Development mengemukakan bahwa
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan komitmen berkesinambungan dari
kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberi kontribusi bagi pembangunan
ekonomi, seraya meningkatkan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya, serta
komunitas lokal dan masyarakat luas pada umumnya. Upaya sungguh-sungguh dari
entitas bisnis meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif
operasinya terhadap seluruh pemangku kepentingan dalam ranah ekonomi, sosial dan
lingkungan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
B. Pendorong munculnya Corporate Social Responsibility
Munculnya konsep CSR didorong oleh terjadinya kecenderungan pada masyarakat
industri yang dapat disingkat sebagai fenomena DEAF (yang dalam bahasa Inggris berarti tuli),
sebuah akronim dari Dehumanisasi, Equalisasi, Aquariumisasi, dan Feminisasi (Suharto,
2007:103-104):
a. Dehumanisasi industri.
Efisiensi dan mekanisasi yang semakin menguat di dunia industri telah
menciptakan persoalan-persoalan kemanusiaan baik bagi kalangan buruh di perusahaan
tersebut, maupun bagi masyarakat di sekitar perusahaan. ‘merger mania’ dan
perampingan perusahaan telah menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja dan
pengangguran, ekspansi dan eksploitasi dunia industri telah melahirkan polusi dan
kerusakan lingkungan yang hebat.
b. Equalisasi hak-hak publik.
Masyarakat kini semakin sadar akan haknya untuk meminta pertanggung
jawaban perusahaan atas berbagai masalah sosial yang sering kali ditimbulkan oleh
beroperasinya perusahaan. Kesadaran ini semakin menuntut akuntabilitas
(accountability) perusahaan bukan saja dalam proses produksi, melainkan pula dalam
kaitannya dengan kepedulian perusahaan terhadap berbagai dampak sosial yang
ditimbulkan.
c. Aquariumisasi dunia industri.
Dunia kerja kini semakin transparan dan terbuka laksana sebuah akuarium.
Perusahaan yang hanya memburu rente ekonomi dan cenderung mengabaikan hukum,
prinsip etis, dan filantropis tidak akan mendapat dukungan publik. Bahkan dalam
banyak kasus, masyarakat menuntut agar perusahaan seperti ini ditutup.
d. Feminisasi dunia kerja.
Semakin banyaknya wanita yang bekerja, semakin menuntut penyesuaian
perusahaan, bukan saja terhadap lingkungan internal organisasi, seperti pemberian cuti
hamil dan melahirkan, keselamatan dan kesehatan kerja, melainkan pula terhadap
timbulnya biaya-biaya sosial, seperti penelantaran anak, kenakalan remaja akibat
berkurang atau hilangnya kehadiran ibu-ibu di rumah dan tentunya di lingkungan
masyarakat. Pelayanan sosial seperti perawatan anak (child care), pendirian fasilitas
pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak atau pusat-pusat kegiatan olah raga dan
rekreasi bagi remaja bisa merupakan sebuah ‘kompensasi’ sosial terhadap isu ini.
C. Bentuk CSR ( Tanggung Jawab Sosial ) yang diberikan oleh Perusahaan
Diantaranya yaitu:
1. Kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
2. perbaikan lingkungan,
3. pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu,
4. pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum,
5. sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk
masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut
berada.
a. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan
yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSRtimbul sejak
era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih
penting daripada sekedar profitability. Selain itu, juga ada bentuknya yaitu:
b. Jangka pendek
1) Bantuan perayaan hari besar
2) Seminar
3) sunatan massal
c. Jangka panjang
1) Pemberdayaan masyarakat
2) Pembuatan ksp
3) Beasiswa
4) Orang tua asuh umkm
5) Pelatihan
D. Dampak Yang ditimbulkan oleh Corporate Social Responsibility
CSR akan lebih berdampak positif bagi masyarakat; ini akan sangat tergantung dari
orientasi dan kapasitas lembaga dan organisasi lain, terutama pemerintah. Studi Bank
Dunia (Howard Fox, 2002) menunjukkan, peran pemerintah yang terkait dengan
CSRmeliputi pengembangan kebijakan yang menyehatkan pasar, keikutsertaan sumber
daya, dukungan politik bagi pelaku CSR, menciptakan insentif dan peningkatan
kemampuan organisasi. Untuk Indonesia, bisa dibayangkan, pelaksanaan CSR
membutuhkan dukungan pemerintah daerah, kepastian hukum, dan jaminan ketertiban
sosial.
Pemerintah dapat mengambil peran penting tanpa harus melakukan regulasi di
tengah situasi hukum dan politik saat ini. Di tengah persoalan kemiskinan dan
keterbelakangan yang dialami Indonesia, pemerintah harus berperan sebagai koordinator
penanganan krisis melalui CSR (Corporate Social Responsibilty). Pemerintah bisa
menetapkan bidang-bidang penanganan yang menjadi fokus, dengan masukan pihak yang
kompeten. Setelah itu, pemerintah memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan
pada kalangan bisnis yang mau terlibat dalam upaya besar ini. Pemerintah juga dapat
mengawasi proses interaksi antara pelaku bisnis dan kelompok-kelompok lain agar terjadi
proses interaksi yang lebih adil dan menghindarkan proses manipulasi atau pengancaman
satu pihak terhadap yang lain