Anda di halaman 1dari 6

Prosiding SNMPM II, Prodi Pendidikan Matematika, Unswagati, Cirebon, 10 Maret 2018

43

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) untuk


Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa

Anna Rachmadyana Harry

Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudhi Nomor 229, Bandung;


annaharry18@upi.edu

Abstrak

Makalah ini menyajikan hasil kajian mengenai model pembelajaran berbasis proyek (Project
Based Learning) untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa. Adapun yang menjadi latar
belakang penulisan makalah ini karena pembelajaran berpusat pada siswa (student center
learning) merupakan pendekatan yang diterapkan pada kurikulum 2013 bertujuan agar siswa
lebih aktif dalam proses pembelajaran. Project based learning melibatkan kinerja siswa
secara langsung dalam pembuatan suatu proyek, guru berperan sebagai fasilitator dan
supervisi yang memonitor kegiatan siswa dalam merancang kegiatan, menyusun jadwal,
melaksanakan proyek, memecahkan masalah dan mengambil keputusan dengan hasil akhir
sebuah produk yang akan dilaporkan dan dipresentasikan oleh siswa sebagai kegiatan
evaluasi dari hasil pembelajaran berbasis proyek. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
pembelajaran berbasis proyek ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran.

Kata Kunci : PjBL, Project Based Learning, Keaktifan Siswa

Pendahuluan

Pembelajaran aktif merupakan pembelajaran yang melibatkan siswa dengan berbagai


kegiatan untuk menggali lebih banyak informasi dari banyak sumber dengan tujuan
memperkaya materi yang akan dibahas sehingga menjadi sebuah pengalaman yang
bukan hanya membentuk pengetahuan baru tetapi juga keterampilan siswa.

Hal tersebut sejalan dengan Permendikbud nomor 104 tahun 2014 mengenai
penilaian autentik yang dilaksanakan pada kurikulum 2013 dimana penilaian hasil
belajar siswa dilihat dari sikap, keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh dari
pembelajaran sehingga dapat diterapkan oleh siswa pada situasi dalam kehidupan
nyata. Untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan diperlukan kerja sama yang
baik antara siswa dan guru, peran seorang guru adalah mendidik, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi. Dengan peranannya tersebut guru
menanamkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor pada siswa melalui proses
pembelajaran. Salah satu kemampuan afektif pada pembelajaran matematika (soft
skills matematis) yang harus dimiliki siswa adalah keaktifan belajar matematis,
sesuai dengan pembelajaran aktif yang terdapat dalam penerapan kurikulum 2013.

43
Prosiding SNMPM II, Prodi Pendidikan Matematika, Unswagati, Cirebon, 10 Maret 2018
44

Keaktifan belajar siswa terlihat dari banyaknya aktifitas siswa sebagai bentuk
keterlibatan dalam proses pembelajaran, menurut Hendriana, Rohaeti dan Sumarmo
(2017) keaktifan belajar terlihat ketika siswa dapat memperhatikan penjelasan guru,
memahami masalah yang diberikan, aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang
disajikan, bekerja sama dalam kelompok, mampu mengungkapkan pendapat,
memberi kesempatan pada teman untuk mengungkapkan pendapat dalam kelompok,
dan mempresentasikan hasil dari kerja kelompok.

Sebagai upaya dalam meningkatkan keaktifan belajar diperlukan inovasi dalam


penyajian materi di kelas berupa strategi, pendekatan, metode atau model yang
digunakan oleh guru. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
merupakan model pembelajaran yang inovatif dengan konsep student center learning
yang memfasilitasi siswa dalam menemukan pengetahuan baru dengan
melaksanakan tugas berupa permasalahan yang disajikan oleh guru.

Thomas (Putra dan Purwasih, 2015) Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based
Learning) merupakan pembelajaran yang menyajikan masalah kompleks yang
melibatkan siswa dalam perencanaan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan
dan kegiatan investigasi serta memberikan kesempatan pada siswa untuk lebih
mandiri dalam memperoleh pengetahuan dengan hasil akhir berupa produk nyata.
Produk yang dihasilkan dari pembelajaran dapat berupa media ataupun laporan yang
dipresentasikan. Penerapan model Project Based Learning dalam pembelajaran
matematika diharapkan dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.

Hasil Kajian

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)

Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan aktifitas terstruktur yang bertujuan siswa


dapat mengkonstruksi pengetahuan baru dari aktifitas tersebut. William (2014)
mengemukakan sesuai dengan proses perkembangan kerangka berpikir siswa,
pembelajaran berbasis proyek lebih cocok diterapkan untuk siswa sekolah menengah
semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin kompleks permasalahan yang
disajikan.

Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan pembelajaran kolaboratif berdasarkan


teori konstruksionisme yang diungkapkan oleh Seymour Papert, teori ini menyatakan
bahwa pembelajaran akan membentuk pengetahuan dibenak siswa secara bermakna
dengan cara melibatkan siswa secara langsung dalam menciptakan suatu produk
nyata, atau dengan kata lain pembelajaran diartikan sebagai proses berpikir dengan
membuat sesuatu (Learning by making), Warsono (2013). Seperti yang telah
dipaparkan bawah pembelajaran berbasis proyek merupakan pembelajaran

44
Prosiding SNMPM II, Prodi Pendidikan Matematika, Unswagati, Cirebon, 10 Maret 2018
45

kolaboratif dan proyek yang dikerjakan berupa masalah kompleks, maka dalam
pembelajaran siswa bekerja secara berkelompok.

Warsono dan Hariyanto (2013) menjelaskan 3 langkah Pembelajaran Berbasis


Proyek sebagai berikut:

a. Planning (Perencanaan), terdiri dari kegiatan memilih topik, mencari


referensi terkait topik yang dipilih dan mempersiapkan prosedur pelaksanaan
proyek.
b. Creating (Membuat/Menciptakan), yakni mengembangkan rencana
berdasarkan tahap sebelumnya dan mengkoordinasi dan menggabungkan
gagasan yang berupa konstribusi dari seluruh anggota kelompok serta
memulai untuk melaksanakan proyek.
c. Processing (Pengerjaan/Pelaksanaan), dimana pada tahap ini siswa
melaksanakan dan menyelesaikan proyek kemudian melakukan refleksi
terhadap produk dari hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Sejalan dengan NYC Departement of Education (2009) yang menjelaskan 3 langkah


Pembelajaran Berbasis Proyek, diantaranya:

a. Planning (Perencanaan), NYC menyebutkan 5 perencanaan yang


dilaksanakan pada Pembelajaran Perbasis Proyek yaitu: menetapkan konten
atau topik dan keterampilan yang akan dikembangkan, mengembangkan
permasalahan dari topik yang telah ditentukan, merencanakan ruang lingkup
proyek, merancang prosedur kegiatan dan yang terakhir mengkaji kembali
perencanaan yang telah ditetapkan.
b. Teaching the skills and content (Mengarahkan keterampilan dan konten), ada
2 kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini yaitu menciptakan suasana
belajar yang optimal dan melaksanakan proyek berdasarkan prosedur yang
telah di tetapkan pada tahap sebelumnya.
c. Managing the project (Mengelola proyek), tahap ini mencakup penyelesaian
proyek, penyajian produk hasil proyek, evaluasi dan refleksi diakhir
pembelajaran.

Berdasarkan langkah pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa tugas guru


adalah sebagai fasilitator pada langkah 1 dan 2 serta menjadi supervisi pada langkah
ketiga dimana seorang guru mengarahkan, mengamati dan mengawasi kegiatan siswa
dalam proses dalam merancang kegiatan, menyusun jadwal, melaksanakan proyek,
memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Penerapan pembelajaran berbasis proyek yang efektif dengan melibatkan siswa


dalam setiap langkah pembelajaran diharapkan pengetahuan yang diperoleh lebih
bermakna dan lebih melekat pada siswa. Karakteristik pembelajaran berbasis proyek

45
Prosiding SNMPM II, Prodi Pendidikan Matematika, Unswagati, Cirebon, 10 Maret 2018
46

yang efektif menurut NYC (2009) diantaranya, pertama pembelajaran yang


mengarahkan siswa untuk menginvestigasi gagasan dan pertanyaan yang dianggap
penting, kedua menggunakan proses berpikir kreatif, berpikir kritis dan keterampilan
mengolah informasi dalam investigasi, serta dampak dari hasil pembelajaran dapat
diterapkan dalam kehidupan nyata.

Keaktifan Belajar Siswa

Hendriana, Rohaeti, dan Sumarmo (2017) mendefinisikan keaktifan belajar siswa


merupakan aktifitas siswa dalam pembelajaran dalam membangun konsep dan
pengetahuan baik dari diri mereka sendiri maupun dari lingkungan di sekitarnya.
Sejalan dengan Hamalik (Putra dan Purwasih, 2015) yang menjelaskan keaktifan
siswa sebagai suatu keinginan siswa dalam berbuat atau melaksanakan sesuatu
sebagai upaya untuk memahami materi pelajaran.

Indikator keaktifan belajar meliputi aktifitas siswa dalam pembelajaran yang


melibatkan keseluruhan indera baik jasmani maupun rohani, menurut Diedrich
(Hendriana, Rohaeti, dan Sumarmo (2017) indikator keaktifan belajar siswa adalah
sebagai berikut:

a. Kegiatan visual, yang meliputi aktifitas membaca, memperhatikan


penjelasan, mengamati gambar, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan
penglihatan.
b. Kegiatan lisan, dimana siswa dapat memberikan pernyataan, pertanyaan,
menanggapi, memberikan kritik dan saran, berdiskusi, wawancara, dsb.
c. Kegiatan mendengarkan, seperti mendengarkan penjelasan guru,
mendengarkan penyajian presentasi, mendengarkan pendapat teman saat
berdiskusi, dsb.
d. Kegiatan menggambar, berupa aktifitas siswa dalam menggambar grafik,
diagram, tabel, bangun datar, bangun ruang, dsb.
e. Kegiatan motorik, seperti melakukan eksperimen, membuat konstruksi,
bermain, dsb.
f. Kegiatan mental, aktifitas menanggapi, memecahkan soal, mengingat,
menarik kesimpulan, menemukan hubungan antara hal satu dengan hal lain,
dsb.
g. Kegiatan emosional, meliputi perasaan berupa minat, ketertarikan, semangat,
ketenangan, dsb.

Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa

Berdasarkan kegiatan yang dilaksanakan pada langkah Pembelajaran Berbasis


Proyek, dapat diasumsikan bahwa dengan penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek
dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa.

46
Prosiding SNMPM II, Prodi Pendidikan Matematika, Unswagati, Cirebon, 10 Maret 2018
47

Adapun implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek dalam pembelajaran


matematika adalah sebagai berikut:

Memilih Topik
Visual

Mendengarkan
Menyajikan Masalah
Memecahkan Masalah

Menyusun Jadwal
Merencanakan Kegiatan
Visual, Mendengarkan, Lisan,
Menggambar, Motorik

Melaksanakan Kegiatan
Mengambil Keputusan

Mempresentasikan Hasil Kegiatan


Mental

Emosional
Mengevaluasi

Gambar 1. Pembelajaran Berbasis Proyek


Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa

Penilaian Pembelajaran

Penilaian yang dilaksanakan pada Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan


penilaian tugas terstruktur yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu
(Widyantini, 2014). Penilaian dimulai sejak langkah pertama sampai langkah
evaluasi, tujuan penilaian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman dan
proses pelaksanakan proyek. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penilaian,
diantaranya:

a. Pengelolaan, merupakan kemampuan siswa mengelola kegiatan yang


dilaksnakan, kerja sama dalam kelompok, mengelola waktu pengerjaan
sehingga dapat melaksanakan proyek pada waktu yang tepat.
b. Relevansi, yakni kesesuaian proyek yang dikerjakan siswa dengan topik
matematika yang sedang dipelajari.
c. Keaslian, merupakan keaslian dari produk yang dihasilkan dari kegiatan
proyek yang dilaksanakan

47
Prosiding SNMPM II, Prodi Pendidikan Matematika, Unswagati, Cirebon, 10 Maret 2018
48

Selanjutnya, untuk menugukur tingkat keaktifan siswa digunakan lembar observasi


dan lembar angket sesuai dengan indikator keaktifan yang akan diukur.

Kesimpulan dan Saran

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) merupakan model


pembelajaran inovatif yang dapat memfasilitasi siswa untuk mendapat pengalaman
yang lebih bermakna, siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan
melaksanakan tugas proyek secara tersruktur dengan hasil akhir berupa produk yang
akan disajikan atau dipresentasikan di depan kelas. Proses pembelajaran memenuhi
konsep student center learning, siswa terlibat secara langsung dalam setiap kegiatan
yang dilaksanakan sehingga dengan pembelajaran berbasis proyek dapat
meningkatkan keaktifan belajar siswa.

Daftar Pustaka

Hendriana H., Rohaeti E. E., dan Sumarmo U. 2017. Hard Skills dan Soft Skills
Matematik Siswa. Bandung: PT Refika Aditama.

Kemendikbud. (2014). Permendikbud nomor 104 tentang Penilaian Hasil Belajar


oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta:
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

NYC. (2009). Project-Based Learning: Inspiring Middle School Student to Engage


in Deep and Active Learning. New York

Putra H. D., dan Purwasih R. 2015. Meningkatkan Prestasi Belajar dan Keaktifan
Mahasiswa melalui Project Based Learning. Jurnal Ilmiah UPT P2M STKIP
Siliwangi, 128, Vol. 2 No.2

Warsono dan Hariyanto. 2013. Pembelajaran Aktif: Teori dan Asesmen. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya Offset.

Widyantini, T. 2014. Penerapan Model Project Based Learning (Pembelajaran


Bebasis Proyek dalam Materi Pola Bilangan. Yogyakarta: PPPPTK
Matematika.

William. (2014). The Effects of Project – Based Learning In High School Geometry.
Diserrtation University of Hawai.

48