Anda di halaman 1dari 21

Kewajiban

Seperti aset, kewajiban merupakan elemen neraca yang akan membentuk informasi
semantic berupa posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang lain yaitu aset dan
ekuitas atau pos - pos rinciannya. Kewajiban merepresentasi sebagaian sumber dana dari sset
badan usaha berupa potensi jasa(manfaat) fisis dan non fisis yang memampukannya untuk
menyediakan barang dan jasa.

Pengertian

FASB mendefinisikan kewajiban dalam rerangka konseptualqnya sebagai berikut (SFAC


qNo.6.prg.35)

Kewajiban adalah pengorbanan manfaat ekonomi masa datang cukup pasti yang timbul
dari keharusan sekarang suatu jesatuan usaha untuk mentransfer aset atau
menyedaiakan/menyerahkan jasa kepada kesatuan lain dimasa datang sebagai akibat transaksi
atau kejadian masa lalu.

Kewajiban adalah istilah resmi dan yuridis dalam statemen keuangan sedangkan utang
adalah istilah generik atau umum.

Obligations diterjemahkan menjadi keharusan untuk membedakannya dengan kewajiban


yang digunakan sebagai padan kata liabilities. Keharusan disini bermakna keharusan melunasi
atau memenuhi tanggung jawab bisnis atau keuangan baik secara moral, etis, sosial, atau hukum.

Definisi-definisi diatas memisahkan antara makna atau pengertian dan pengukuran serta
pengakuan shingga definisi tersebut lebih bersifat semantic daripada struktual. Definisi IASC
dan AASB menanggalkan kata probable karena dianggap bahwa tia merupakan kriteria
pengakuan bukan sifat dari kewajiban kriteria ini dinyatakan AASB sebagai berikut (penebalan
oleh penulis):

A liability shall be recognized in the statement of financial position shen and only when.

a. It is probable that the future sacrifice of service potential or future economic


benefits will be required;and
b. The amount of the liability can be measured reliably.
Definisi FASB digunakan sebagai basis pembahasan dalam bab ini karena define
tersebut cukup lengkap secara simantik. Artinya definisi tersebut telah mencakupi berbagai
gagasan atau kata kunci yang terkandung dalam beberapa definisi lewajiban oleh sumber-
sumber yang lain.definisi IASC dan AASB secara substantive tidak berbeda dengan definisi
FASB. APB No.4 medefinisikan kewajiban dalam dua kata kunci yaitu economic obligations
yang dihubungkan dengan generally accepted accounting principles (GAAP). Ini berarti bahwa
APB menggabungkan pengertian kewajiban sekaligus menetapkan kriteria pemgakuan dan
pengukuran . dengan demikian , pengertian kewajiban menjadi tidak lengkap tanpa memahami
pengertian GAAP sehingga secara semantic definisi APB kurang lengkap dan kurang bersifat
umum, jadi definisi APB lebih bersifat struktual daripada semantic. Hal ini berbeda dengan
AASB yang memisahkan antara pengertian (yang cukup luas dan lengkap) dan prosedur
pengukuran dan pengakuan. Berbeda dengan definisi-definisi yang lain, APB memasukan pos-
pos tertentu yang bukan keharusannya (not obligations) untuk mengkorbankan sumber ekonomik
sebagai bagian dari kewajiban . pos-pos ini secara umum disebut kredit tangguh misalnya pos
pendapatan sewa takterhak(unerarned rent revenues).

Definisi-definisi kewajiban diatas sangat menekankan konsep kesatuan usaha dengan


dinyatakan secara eksplisit ungkapan kesatuan usaha (entitas/enty atau perusahaan/enterprise)
didalamnya untuk menunjukan pihak yang mempunyai keharusan untk melakukan pengorbanan
ekonomik, sumber ekonomik, atau potensi jasa. Ini berarti bahwa pengertian kewajiban tidak
dapat dipisahkan dan pengertian asset.aset dapat menimbulan kewajiban dan sebaliknya timbul
kewajiban dapat dibarengi dengan pengakuan asset.

Dengan berbagaiq variasi diatas, secara umum dapat dikatakan bahwa kewajiban
mempunyai tiga karakteristik utama yaitu : (a). Pengorbanan manfaat ekonomik masa datang.(b )
Keharusan sekarang untuk mentransfer asset, (c) timbul akibat transaksi masa lalu. Seperti asset,
karakteristik (a)merupakan kriteria utama dan lebih memuat aspek semantic sedangkan kriteria
(b) dan (c) lebih memuat aspek struktual pengukuran.

Pengorbanan manfaat ekonomik


Untuk dapat disebut sebagai kewajiban suatu objek harus memuat suatu tugas (dutty)atau
tanggung jawab (responsibility) kepada pihak lain yang mengharuskan kesatuan usaha untuk
melunasi , menunaikan , atau melaksanakannya dengan cara mengorbankan manfaat ekonomik
yang cukup pasti dimasa datang . pengeorbanan manfaat ekonomik diwujudkan dalam bentuk
transfer atau penggunaan asset kesatuan usaha. Cukup pasti dimasa datang mengandung makna
bahwa jumlah rupiah pengorbanan dapat ditentukan dengan layak. Demikian juga, saat
pengorbanan manfaat ekonomik dapat ditentukan atas dasar kejadain tertentu atau permintaan
pihak lain (on demand).

Transfer manfaat ekonomik kepada pemilik (pemegang saham) tidak termasuk dalam
pengertian pengorbanan sumber ekonomik masa datang yang membentuk kewajiban aset karena
untuk menjadi kewajiban pengorbanan tersebut harus bersifat memaksa (nondiscretionery) dan
bukan atas dasar kebijakan atau keleluasaan manajemen untuk memutuskan (descretionery) baik
dalam hal jumlah rupiah maupun dalam saat transfer. Secara umum, keharusan mengorbanan
sumber ekonomik masadatang tidak dapat menjadi kewajiban kalau keharusan tersebut bersifat
terbuka atau tidak pasti (open-ended). Kesatuan usaha tidak mempunyai keharusan untuk
mentransfer aset kepemilik kecuali dalam hal kesatuan usaha dilikuidasi. Walaupun secara
konseptual (dari sudut konsep dasar kesatuan usaha) ekuitas juga merupakan kewajiban bagi
perusahaan , pengorbanan sumber ekonomiknya tidak cukup baik dalam jumlah maupun saat
sehingga kewajiban harus dibedakan dan dilaporkan secara terpisah dengan ekuitas.

Keharusan sekarang

Untuk dapat disebut kewajiban , suatu pengorbana ekonomik masa datang harus timbul
akibat keharusan (obligations atau duties) sekarang. Pengertian ‘’sekarang’’ (present)dalam hal
ini mengacu pada dua hal: waktu dan adanya waktu yang dimaksud adalah tanggal pelaporan
(neraca). Artinya , pada tanggal neraca kalau perlu atau kala dipaksakan (secara yuridis, etis,
atau rasional) pengorbanan sumber ekonomik harus dipenuhi karena keharusan untuk itu telah
ada. Tentu saja jumlah rupiah pengorbanan yang dipaksakan pada tanggal neraca tidak akan
sebesar jumlah rupiah yang akan dibayar dimasa datang (setelah tanggal neraca).perbedaan ini
terjadi akibat sifat yang melekat oada kewajiban yaitu bunga yang bermakna sebagai nilai waktu
uang atau harga penundaan (the time value of money or the price of delay).

Keharusan kontraktual

Keharusan yang timbul akibat perjanjian atau peraturan hukum yang didalamnya
kewajiban bagi suatu kesatuan usaha dinyatakan secara eksplisit atau implisit dan mengikat.
Kewajiban ini muncul karena aspek hukum sebagai lingkungan eksternal yang tidak dapat
dihindari (unavoidable) dan yang dapat memaksakan secara hukum untuk memenuhinya (legally
enforceable). Penghindaran kewajiban dari keharusan kontraktual minimq bulan sanksi atau
hukum (identifiable) dan bukti tentang adanya keharusan ini biasanya didukung oleh dokumen
tertulis sehingga keterverifikasinya tinggi. Utang pajak,utang bunga,utang usaha,utang wesel,dan
utang obligasi merupakan kewajiban yang berkaitan dengan keharusan kontraktual.

Keharusan konstruktif

Keharusan yang timbul akubat kebijakan kesatuan usaha dalam rangka menjalankan dan
memajukan usahanya untuk memenuhi apa yang disebut parktik usaha yang baik (best business
practices) atau etika bisnis (business ethic) dan bukan memenuhi kewajiban yuridis.kebijakan
tersebut menimbulkan kewajiban karena kesatuan usaha sengaja memberi, mengkontruksi, atau
membentuk hak bagi pihak lain(misalnya,pelanganan,pemasok, pegawai, atau perusahaan
lain)tanpa harus melalui perjanjian tertulis yang disepakati kedua pihak.contoh kewajiban yang
masuk dalam kategori ini antara lain adalah kebersediaan perusahaan untuk membayar atau
membeli kembali botol gelas minum dengan harga yang ditentukan (misalnya botol coca-
cola),servis gratis yang dijanjikan oleh dealer-dealer sepeda motor, pengembalian uang untuk
barang yang ternyata cacat atau rusak, penggantian harga film oleh toko cuci cetak bila film
hilang atau rusak, dan tunjangan hari raya untuk karyawan.

Keharusan keadilan

Keharusan yang ada sekarang yang menimbulkan kewajiban bagi perusahaan semata-
mata karena panggilan etis atau moral daripada karena peraturan hukum atau praktik bisnis yang
sehat. keharusan ini muncul dari tugas kepada pihak lain untuk melaksanakan sesuatu yang
dipandang wajar, adil, dan benermenurut hati nurani dan rasa keadilan. Tidak adasanksi hukum
untuk tidak memenuhi keharusan ini tetapi kewajiban ini mengikat lantaran sanksi sosial atau
moral.kewajiban memebri doansi untuk badan amal tiap akhir taun dan kewajiban memberi
hadiah kepada penduduk yang tinggal disekitar pabrik karena ketidaknyamanan yang
ditimbulkannya merupakan contoh kewajiban yang dilandasi oleh keharusan demi keadilan ini.

Keharusan yang bergantung atau bersyarat adalah keharusan yang pemenuhannya


(jumlah rupiahnya atau jadi tidaknya dipenuhi) tidak pasti karena bergantung pada kejadian masa
datang atau terpenuhi syarat-syarat tertentu disana datang. Kebergantungan adalah kondisi,
situasi, atau serangkaian keadaan yang melibatkan ketidakpastian yang menyangkut laba atau
rugi yang mungkin terjadi munculah yang harus dikonfirmasi dengan kejadian atau syarat masa
datanguntuk kedua kebergantungan tersebut adalah :

a. Yang berkaitan dengan kebergantungan laba: pemerolehan aset versus tidak atau
pengurangan suatu kewajiban versus tidak, atau
b. Yang berkaitan dengan kebergantungan rugi: hilangnya atau turunya nilai suatu aset
versus tidak atau timbulnya suatu kewajiban versus tidak

Keharusan bergantung merupakan salah satu bentuk kebergantungan yang berkaitan dengan
rugi. Selanjutnya FASB menjelaskan bahwa bila terhadap kebergantungan rugi,
kemungkinan atau kebolehjadian bahwa suatu atau beberapa kejadian masa datang akan
memastikan muculan diatas dapat berkisar dari cukup pasti sampai jauh dari pasti dengan
agak pasti diantara keduanya yang didefinis sebagai berikut:

a. Cukup pasti, suatu atau beberapa kejadian masa datang boleh jadi terjadi.
b. Agak pasti. Kemungkinan bahwa suatu atau beberapa kejadian masa datang terjadi
adalah lebih dari jauh dari pasti tetapi kurang dari cukup pasti.
c. Jauh dari pasti. Kemungkinan bahwa suatu atau beberapa kejadian masa datang
terjadi adalah kecil atau tipis.
Akibat transaksi atau kejadian masa lalu

Sama seperti definisi aset, kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria keharusan
sekarang dan sekaligs sebagai tes pertama pengakuan suatu pos sebagai kewajiban tetapi tidak
cukup untuk mengakui secara resmi dalam system pembukuan.untuk mengakui sebagai
kewajiban selain definisi, kriteria yang lain (keterukuran, keberpautan dan keterandalan) juga
harus dipenuhi.transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memnuhi definisi tetapi
bukan kriteria untuk pengakuan. Jadi,adanya pengorbanan manfaat ekonomik masa datang tidak
cukup untuk mengakui suatu objek ke dalam kewajiban kesatuan usaha untuk dilaporkan via
statemen keuangan.

Transaksi masa lalu yang dimaksud disini adalah transaksi yang menimbulkan keharusan
sekarang telah terjadi. Sebagai contoh , karena perusahaan mendapat pinjaman bank (dengan
kontrak), keharusan sekarang berupa keharusan kontraktual timbul pada akhir periode akuntansi
(berupa pokok pinjaman dan bunga) yang menuntut pengorbanan sumber ekonomik masa datang
(suatu saat setelak akhir periode tersebut). Dalam hal ini , penandatanganan kontrak merupakan
peristiwa yang telah terjadi yang menimbulkan keharusan. Akan tetapi, tidak semua
penandatanganan kontrak dengan sendirinya menimbulkan keharusan. Sebelim salah satu pohak
melaksanakan apa yang diperjajikan, kontrak akan bersifat eksekutori.

Hak kewajiban tak bersyarat

Pembahasan diatas menimbulkan pertanyaan: transaksi atau kejadian manakah yang


dapat disebut sebagai transaksi atau kejadian masa lalu yang memenuhi definisi kewajiban?
Apakah penandatanganan kontrak, diserahkan gugatan kepengadilan , dan persetujuan anggaran
pembelian aset dengan sendirinya menimbulkan kewajiban?

Untuk menjawab hal ini perlu dipahami konsep hak kewajiban tak bersyarat yang
umumnya melekat pada kontrak. Konsep ini menyatakan bahwa walaupun kontrak telah
ditandatangani, salah satu pihak tidak mempunyai kewajiban apapun sebelum pihak lain
memenuhi apa yang menjadi hak pihak lain. suatu pihak tidak punya kewajiban apapun kalau
tidak mendapatkan hak atas sesuatu yang nyata dari pihak lain (misalnya penguasaan aset). Jadi
konsep hak kewajiban tak bersyarat Menyatakan ‘’tidak ada hak tanpa kewajiban dan sebaliknya
tidak ada kewajiban tanpa hak’’. Secara teknis, konsep ini diartikan bahwa hak atau kewajiban
timbul bila salah satu pihak telah berbuat sesuatu.kontrak-kontrak semacam ini dikenal dengan
nama kontrak saling mengimbangi tak bersyarat atau kontrak eksekutori.

Untuk dapat menentukan apakah penandatanganan kontrak dengan sendirinya


menciptakan kewajiban yang harus diakui, petlu dipelari karakteristik dari kontrak tersebut.
Penandatanganan sewaguna dapat menjadi transaksi masa lalu karena umumnya begitu kontrak
ditandatangani tersewaguna dapat menguasai langsung aset yang disewaguna. Dapat tidaknya
kewajiban diakui dalam beberapa kontrak seperti kontrak bonus, kontrak pembekerjaan pegawai,
dan penciptaan dana pension tidak selalu muda ditentukan.

Transaksi atau kejadian yang dapat dijadikan dasar untuk menandai saat, titik, atau
tanggal pengakuan hak dan kewajiban dalam suatu kontrak memang sangat pelit. Mengikatnya
kontrak tidak selalu bersamaan dengan tanggal penandatanganan kontrak. Hukum perikatan atau
kontrak juga cukup kompleks untuk menentukan timbulnya hak dan kewajiban yuridis. Dalam
hal kontrak, most (1982,hlm.352) Menunjukan bahwa titik atau saat tersebut dapat berupa:

1. Tanggal kontrak ditandatangani.


2. Tangan objek kontrak telah diperoleh salah satu pihak.
3. Tanggal objek kontrak telah siap digunakan oleh satu pihak.
4. Tanggal objek kontrak telah dipisahkan untuk digunakan oleh pihak lain.
5. Tanggal objek kontrak telah diserahkan.
6. Tanggal telah diterima/dibayarnya uang muka , kalau ada.
7. Dalam kasus kontrak kontruksi jangka panjang:
a. Suatu titik selama kontruksi berjalan.
b. Pada saat kontruksi dimulai.

Jadi saat penentuan transaksi masa lampau perlu dipertimbangkan dengan seksama
denagn memperhatikan kondisi yang melengkupi suatu kontrak. Namun demikian , secara
konseptual diperlukan pedemon atau kriteria untuk memilih saat yang tepat.selanjutnya, most
mengemukakan hal yang harus dipertimbangkan untuk memilih saat yang tepat yaitu:
a. Pemenuhan definisi aset dan kewajiban.
b. Kekuatan mengikat yaitu seberapa kuat bahwa pelaksanaan kontrak tidak dapat
dibatalkan.
c. Kebermanfaat bagi keputusan.

Karakteristik Pendukung

Selain ketiga karakteristik diatas, FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung


yaitu keharusan membayar kas, identitas terbayar jelas, dan terpaksakan secara atau berkekuatan
hukum (legally enforceable). Karakteristik pendukung hanya menegaskan adanya kewajiban
tetapi tidak membatalkan suatu objek untuk disebut sebagai kewajiban.

Keharusan Membayar Kas. Pelunasan kewajiban umumnya dilakukan dengan pembayaran


kas. Keharusan pembayaran kas pada waktu dan jumlah rupiah tertentu di masa yang akan
datang merupakan petunjuk yang kuat atau jelas mengenai adanya kewajiban. Akan tetapi, untuk
menjadi kewajiban, penyerahan aset (kas) bukan satu satunya kriteria tetapi meliputi pula
penyerahan jasa. Esensi kewajiban lebih terletak pada pengorbanan manfaat ekonomik masa
datang daripada pada terjadinya pengeluaran kas. Meskipun demikian, adanya pengeluaran kas
merupakan hal penting untuk mengaplikasi definisi kewajiban karena dua hal yaitu, (1) sebagai
bukti adanya suatu kewajiban dan (2) sebagai pengukur atribut atau besarnya kewajiban yang
cukup objektif.

Identitas Terbayar Jelas. Bila identitas terbayar sudah jelas, hal tersebut hanya menguatkan
bahwa kewajiban memang ada tetapi untuk menjadi kewajiban identitas terbayar tidak harus
dapat ditentukan pada saat keharusan terjadi. Artinya, untuk menjadi kewajiban pada akhir
tahun, pada saat itu identitas terbayar tidak harus diketahui. Misalnya perusahaan menjanjikan
hadiah yang akan diundi pada awal tahun berikutnya. Pada akhir tahun ini, perusahaan sudah
mempunyai kewajiban meskipun pemenangnya belum diketahui. Pengorbanan sumber ekonomik
masa datang sudah cukup pasti dan tidak dapat dihindari tetapi siapa yang dibayar tidak
diketahui. Dengan demikian kewajiban dapat dikatakan telah timbul. Jadi, yang penting adalah
bahwa keharusan sekarang pengorbanan sumber ekonomik di masa datang telah ada dan bukan
siapa yang harus dilunasi atau dibayar. Akan tetapi, pada saat pelunasan kewajiban, terbayar
dengan sendirinyaarus teridentifikasi.

Berkekuatan Hukum. Memang pada umumnya, keharusan suatu entitas untuk mengorbankan
manfaat ekonomik timbul akibat klaim yuridis (legal claims) yang mempunyai kekuatan
memaksa. Adanya daya paksa yuridis hanya menunjukkan bahwa kewajiban tersebut memang
ada dan dapat dibuktikan secara yuridis material. Meskipun demikian, daya paksa yang melekat
pada klaim-klaim hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk mengakui adanya kewajiban.
Klaim pihak lain seperti utang usaha tidak harus didukung oleh dokumen yang berkekuatan
hukum atau me,punyai daya paksa secara hukum (legally enforceable) untuk memenuhi definisi
kewajiban. Akan tetapi, demi keadilan dan kewajaran, perusahaan harus membayar utang usaha
tersebut. Pendapatan sewa tak terhak (unearned rent revenues), laba kotor tangguhan (deferred
gross profit), dan beberapa pos lain yang timbul dalam penyesuaian akhir tahun memenuhi
kriteria sebagai kewajiban meskipun meretia tidak dilandasi oleh daya paksa secara hukum dan
bahkan bukan merupakan keharusan pengorbanan sumber ekonomik. Itulah sebabnya, definisi
kewajiban APB memasukan beberapa pos kredit tangguhan (deferred credits) yang
nonkeharusan (nonobligations) sebagai kewajiban. Laba kotor tangguhan adalah contoh kredit
tangguhan yang bukan keharusan. Pos kredit tangguhan yang merupakan keharusan misalnya
adalah kredit pajak tangguhan (deferred tax credit atau deferred tax liabilities).

Dari apa yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa definisi kewajiban sebenaranya
merupakan cermin dari definisi aset. Transaksi, kejadian, atau keadaan dapat mempengaruhi aset
dan kewajiban secara bersamaan karena konsep kesatuan usaha yang mendasari sistem
berpasangan.

Pengakuan, Pengukuran, dan Penilaian

Sebagai bayangan cermin aset, kewajiban juga harus diukur dan diakui pada saat
terjadinya. Kalau aset diukur atas dasar penghargaan kesepakatan (kos), demikian pula pada
kewajiban. Kalau aset yang direpresentasi oleh kos mengalami tiga tahap perlakuan
(pemerolehan, pengolahan dan penyerahan). Kewajiban sebenarnya juga mengalami 3 tahap
perlakuan, yaitu : penanggungan (pengakuan terjadinya), penelusuran, dan pelunasan
(penyelesaian).

Pengakuan

Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat akibat transaksi yang
sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan harus di evaluasi atas dasar kaidah
pengakuan (recognition rules). Kam (1990, hlm 109) membedakan antara kaidah pengakuan dan
kriteria pengakuan (recognition criteria). Kam mengajukan 4 kaidah pengakuan untuk menandai
pengakuan kewajiban, yaitu :

1. Ketersediaan dasar hukum


2. Keterterapan konsep dasar konservatisma
3. Ketertentuan substansi ekonomik transaksi
4. Keterukuran nilai kewajiban

Keempat kaidah tersebut secara teknis memicu pencatatan atau pengakuan kewajiban.
Dengan kata lain, meretia memberi petunjuk tentang adanya bukti teknis (technical evidence)
untuk mengakui kewajiban.

1. Ketersediaan dasar hukum. Kalau terdapat bukti yuridis yang kuat tentang adanya daya
paksa untuk memenuhi keharusan, jelas tidak dapat disangkal bahwa suatu kewajiban
memang ada. Faktur pembelian (invoice) dan tanda penerimaan barang (receiving report)
merupakan dasar hukum yang cukup meyakinkan untuk mengakui kewajiban.
2. Keterterapan konsep dasar konservatisma. Kaidah ini merupakan penjabaran teknis
kriteria keterandalan. Keadaan keadaan tertentu yang menjadikan konsep konservatisma
terterapkan dapat memicu pengakuan kewajiban. Implikasi dianutnya konsep
konservatisma adalah rugi dapat segera diakui tetapi tidak demikian dengan untung. Ini
berarti kewajiban dapat di akui segera sedangkan aset tidak.
3. Ketertentuan substansi ekonomik transaksi. Substansi suatu transaksi dapat memicu
pencatatan seluruh kewajiban yang timbul ketika transaksi terjadi meskipun secara
yuridis/kontraktual kewajiban baru akan mengikat secara berkala pada saat keharusan
sekarang timbul. Kaidah ini berkaitan dengan masalah relevansi informasi. Utang
sewaguna (lease obligations) dapat diakui pada saat transaksi meskipun tidak ada transfer
hak milik dalam transaksi sewaguna tersebut.
4. Keterukuran nilai kewajiban. Keterukuran merupakan salah satu syarat untuk
mencapai kualitas keterandalan informasi. Definisi kewajiban mengandung kata cukup
pasti (probable) yang mengacu tidak hanya pada terjadinya pengorbanan sumber
ekonomik masa datang tetapi juga pada jumlah rupiahnya.

Yang menjadi masalah teknis adalah kapan keempat kaidah diatas dipenuhi. Hal ini berkaitan
dengan penentuan saat (timing) pengakuan kewajiban. Akan tetapi, untuk beberapa kasus, jumlah
rupiah (kos) kewajiban bergantung pada kejadian di masa datang meskipun cukup pasti bahwa
keharusan membayar di masa datang tidak dapat dihindari. Hendriksen dan Van Breda (1991)
menunjukkan saat saat untuk mengakui kewajiban yaitu :

a. Pada saat penandatanganan kontrak bila pada saat itu hak dan kewajiban telah mengikat.
Dalam hal kontrak eksekutori, pengakuan menunggu sampai salah satu pihak
memanfaatkan/menguasai manfaat yang diperjanjikanatau memenuhi kewajibannya (to
perform).
b. Bersamaan dengan pengakuan biaya bila barang dan jasa yang menjadi biaya belum
dicatat sebagai aset sebelumnya.
c. Bersamaan dengan pengakuan aset. Kewajiban timbul ketika hak untuk menggunakan
barang dan jasa diperoleh.
d. Pada akhir perioda karena penggunaan asas akrual melalui proses penyesuaian.
Pengakuan ini menimbulkan pos utang atau kewajiban akrual (accrued liabilities).

Keempat kaidah sebagai bukti teknis dan ketentuan saat pencatatan sebagaimana diuraikan di
atas pada umumnya mudah diidentifikasi dan diterapkan untuk keharusan kontraktual,
konstruktif, dan demi keadilan.

Pengakuan Kewajiban Bergantung

Untuk keharusan bergantung (khususnya rugi bergantung yang menimbulkan kewajiban),


kaidah pengakuan keempat (keterukuran nilai kewajiban), dan pasti tidaknya pengorbanan
sumber ekonomik masa datang akan terjadi menimbulkan masalah pengakuan. Kewajiban
kontraktual, konstruktif, dan demi keadilan dalam beberapa kasus juga bersifat bergantung
terutama bila kewajiban tersebut melibatkan pentafsiran jumlah masa datang yang meragukan.
FASB memberi contoh keadaan keadaan kebergantungan rugi (loss contingencies) yang
berpotensi memicu pengakuan kewajiban sebagai berikut (SAFS No.5, prg.4) :

a. Ketertagihan piutang usaha.


b. Keharusan berkaitan dengan jaminan produk dan kerusakan produk.
c. Risiko rugi atau kerusakan properitas (fasilitas) kesatuan usaha akibat kebakaran,
ledakan, dll
d. Ancaman pengambil alihan aset oleh pemerintah.
e. Persengketaan yang memberatkan atau menunggu keputusan.
f. Klaim atau pungutan yang telah diajukan/dikenakan atau yang mungkin (possible)
terjadi.
g. Risiko rugi akibat bencana yang ditanggung oleh perusahaan asuransi kerugian dan
kecelakaan serta perusahaan reasuransi.
h. Jaminan terhadap utang pihak lain.
i. Keharusan bank komersial dalam ikatan standby letters of credit.
j. Perjanjian untuk membeli kembali piutang atau aset terkait yang telah dijual.

FASB menetapkan bahwa rugi taksiran yang dapat terjadi dari kebergantungan rugi harus di akru
dengan membebankannya ke pendapatan (sebagai biaya atau rugi) bila kedua kondisi tersebut
dipenuhi (SFAS No.5 prg.8) :

a. Informasi yang tersedia sebelum penerbitan statemen keuangan menunjukkan bahwa


suatu aset cukup pasti telah turun nilainya (impaired) atau suatu kewajiban cukup pasti
telah terjadi pada tanggal statemen keuangan .
b. Jumlah rupiah rugi dapat diestimasi dengan cukup tepat (reasonably estimated).

Bila kondisi diatas tidak dipenuhi, jumlah rupiah rugi potensial harus tetap diungkapkan
dengan menjelaskan sifat dan implikasi kebergantungan tersebut.

FASB berargumen bahwa makna kewajiban relevan untuk mengakui rugi bersyarat. Kondisi
(a) dan (b) merupakan argumen atau dasar pikiran untuk mengakui adanya penurunan
kemampuan (impairment) aset. Rugi harus diakui apabila aset telah turun nilainya dan jumlah
rugi dapat ditaksir dengan cukup tepat.

Rugi bergantung dapat diakui dengan landasan konsep dasar konservatisma. Tanpa
memperhatikan probabilitas terjadinya hal hal yang menjadi syarat timbulnya rugi. Jadi,
pengakuan rugi sebelum terjadi dapat di justifikasi asal kondisi (a) dan (b) diatas dipenuhi.
Argumen yang diajukan diatas lebih difokuskan pada dapat tidaknya rugi potensial diakui
daripada pada timbul tidaknya kewajiban. Kondisi atau kriteria pengakuan kewajiban bergantung
paralel dengan kondisi pengakuan rugi bergantung.

Pengukuran

Pengakuan dilakukan setelah suatu kewajiban terukur dengan cukup pasti. Penentuan kos
kewajiban pada saat terjadinya paralel dengan pengukuran aset. Terjadinya kewajiban pada
umumnya disertai dengan pemerolehan aset atau timbulnya biaya. Pemerolehan aset dapat
berupa penguasaaan barang dagangan atau aset nonmoneter lainnyayang terjadi dari transaksi
pembelian. Untuk kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak cukup material
sehingga jumlah rupiah kewajiban yang diakui akan sama dengan jumlah rupiah pengorbanan
sumber ekonomik (kas) masa datang. Dengan kata lain, untuk kewajiban jangka pendek kos
pendanaan (financing cost) atau kos penundaan (bunga sebagai nilai waktu uang) dianggap tidak
material. Penghargaan sepakatan suatu kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau nilai sekarang
(current value) kewajiban yaitu jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonomik seandainya
kewajiban dilunasi pada saat terjadinya. Dengan demikian, basis pencatatan kewajiban adalah
nilai setara tunai bukan nilai nominal utang. Misalnya saja, kalau suatu utang usaha diakui
sebesar Rp1.000.000 padahal disepakati secara tegas dan diketahui bersama bahwa utang
tersebut dapat dilunasi setiap saat dalam waktu kurang dari 10 hari dengan jumlah Rp970.000,
maka dengan dasar nilai setara tunai utang tersebut sebenarnya tidak melebihi Rp970.000. kalau
utang tersebut dicatat sebesar Rp1.000.000 maka jelas utang tersebut akan tersaji lebih
(overstated). Pencatatan utang sebesar nilai pelunasan (Rp1.000.000) dapat didukung atas dasar
konsep konservatisma. Jumlah rupiah ini merupakan jumlah rupiah yang diperlukan untuk
melunasi utang dalam keadaan yang paling tidak menguntungkan yaitu melewatkan kesempatan
mendapatkan potongan. Sebaliknya, kalau ditinjau atas dasar konsep pengelolaan perusahaan
yang baik dan konsep kontinuitas usaha (going concern), maka jelas akan merupakan praktik
akuntansi yang lebih baik untuk melaporkan utang tersebut pada jumlah pada jumlah rupiah
tunainya yaitu Rp970.000. Utang tersebut akan tetap dicatat sebesar Rp970.000sampai hak untuk
memperoleh potongan tersebut sudah habis dan tambahan utang sebesar Rp30.000 timbul.
Imbangannya adalah biaya berupa rugi diskun terlewatkan (loss on lapsed discount). Nilai setara
tunai lebih tepat mengukur kewajiban karena aset yang bersangkutan juga diukur dengan jumlah
tersebut.

Kewajiban Dalam Pembelian Kredit


Dasar pengukuran asset yang paling objektif adalah kos tunai (cash cost) atau kos tunai
implicit (implied cash cost). Karena kewajiban merupakan bayangan cermin asset,
pengukurannya juga mengikuti pengukuran asset. Misalnya suatu perusahaan menandatangani
kontrak pembelian mesin. Perusahaan menyepakati harga kontrak mesin Rp 1.600.000 dan
dibayar dalam delapan kali angsuran tiap akhir triwulan sebesar Rp 200.000 tanpa menyebutkan
adanya bunga secara eksplisit. Dalam kasus ini sebenarnya harga nominal (kontrak) tersebut
melebihi kos tunai implicit yaitu jumlah rupiah yang diperlukan seandainya pembelian dilakukan
secara tunai. Kalau mesin tersebut dapat diperoleh juga dari toko yang sama dengan harga tunai
Rp 1.465.000 maka jumlah rupiah ini kos tunai implicit sedangkan selesih sebesar Rp 135.000
adlah setara dengan bunga dan harus dibebankan terhadap pendapatan selama jangka waktu
kontrak. Bunga ini akhirnya akan menjadi biaya yang sesungguhnya terjadi atau nyata dan buka
bunga hipotetis. Dengan demikian, secara konseptual kewajiban harus diakui pada saat transaksi
sebagai berikut:
Mesin…………………… 1.465.000
Utang usaha…………….. 1.465.000
Secara teknisi pembukuan, dapat saja jumlah rupiah bunga dicatat untuk kepentingan internal
dan jumlah utang dicatat sebesar nominalnya sebagai berikut:
Mesin……………………….1.465.000
Bunga Tangguhan…………..135.000
Utang usaha…………………1.600.000
Bila cara diatas dilakukan, pelaporan kewajiban harus tetap menunjukkan nilai tunai implisitnya
dengan cara mengurangkan bunga tangguhan terhadap utang usaha. Bunga tangguhan tidak
dilaporkan sebagai asset. Kalau asset dan kewajiban dicatat dan dilaporkan sebesar Rp 1.600.000
jelas kos asset dan kewajiban tercatat terlalu tinggi. Walaupun demikian, kalau jangka waktu
kontrak adalah pendek maka jumlah kelebihan kos adalah kecil dan dapat diabaikan atas dasar
konsep materialistas.

Diskon dan Premium Utang Obligasi


Nilai nominal atau jatuh tempo utang obligasi sering dianggap sebagai jumlah rupiah
kesepakatan pada saat penerbitan obligasi baik bagi penerbit maupun kreditor. Dasar pengukuran
demikian sebenarnya tidak tepat. Untuk suatu kontrak utang dengan ketentuan pembayaran
bunga periodik dan pokok pinajaman pada akhir jangka kontrak, pengukuran jumlah rupiah (kos)
utang dan asset untuk dasar pencatatan pertama kali yang tepat adalah kos tunai implicit.
Dalam hal obligasi jangka panjang, jumlah rupiah uang yang diterima oleh penerbit dan
yang dibayarkan oleh kreditor pada saat penerbitan hanyalah merupakan bagian kecil dari jumlah
rupiah pembayaran masa datang (bunga periodik dan nominal obligasi). Pembayaran masa
datang ini sebenarnya terdiri atas dua unsure yaitu 1. Nilai sekarang pembayaran bunga periodik
dan nilai sekarang nominal obligasi dan 2. Bunga efektif yang terlibat dalam penentuan harga
obligasi tersebut.

Makna Harga Efektif Obligasi


Segera setelah transaksi terjadi maka “kesepakatan” dalam hubungannya dengan obligasi
tersebut mulai menunjukkan makna yang sebenarnya. Dengan telah mulai berjalannya
kesepakatan dalam transaksi obligasi diatas, bunga Rp. 100.000 tiap tahun mulai terhimpun dan
dibayar secara periodik sampai jauh tempo. Bersamaan dengan itu, jumlah rupiah utang obligasi
yang mula-mula tercatat akan berangsur-angsur berubah (bertambah) menuju jumlah rupiah nilai
jatuh tempo atau nominal.

Diskon Obligasi
Diskon obligasi yang belum diamortisasi bukan merupakan suatu rugi karena asset yang
diperoleh sebelumnya tidak ada yang berkurang atau menguap (dissipation). Diskon obligasi
sebenarnya merupakan bunga yang “belum dibayar”, yaitu bagian bunga efektif total yang baru
akan dibayar pada saat utang obligasi jatuh tempo.
Premium Obligasi
Sejalan dengan penalaran makna diskon obligasi yang dilandasi konsep dasar
penghargaan sepakatan, dapat disimpulkan bahwa premium yang dibayarkan investor untuk
obligasi merupakan unsure dari jumlah rupiah utang perusahaan. Bersamaan denga berjalannya
waktu mendekati jatuh tempo, jumlah rupiah bagian utang yang merupakan premium harus
diamortisasi secara sistematik dengan cara memisahkan dari penghargaan sepakatan bagian yang
diperhitungkan sebagai pembayaran “bunga” periodik. Mengartikan premium obligasi sebagai
“pendapatan tangguhan” (defferend income) jelas tidak tepat karena secara konseptual
pendapatan atau laba tidak timbul dari proses pemerolehan utang. Pendapatan hanya timbul dari
kegiatan pembentukan pendapatan (earning process). Atas dasar konsep kontinuitas usaha,
premium obligasi yang belum diamortisasi adalah benar-benar merupakan utang dan jumlah
amortisasi periodik adalah merupakan penyesuaian (pengurang) terhadap biaya bunga dan
bukannya merupakan elemen pendapatan. Tanpa peneysuaian ini biaya bunga periodik akan
menjadi tersaji lebih (overstated).
Dari segi yudiris, utang memang harus diukur sebesar nilai nomnalnya karena kalau
terjadi likuidasi hak menerima pelunasan yang melekat pada investor adalah sebesar nominal.
Pandangan yudiris yang tidak memperhatikan diskon dilandasi konsep pengukuran dengan
asumsi perusahaan likuidasi. Dalam keadaan likuidasi atau reorganisasi memang dapat
dijustifikasi pengukuran dengan menggunakan konsep yang berbeda dengan akuntasi. Akan
tetapi, secara umum akuntansi tidak harus mendasarkan diri pada konsep tersebut.

Kewajiban Moneter dan Nonmoneter


Kewajiban moneter adalah kewajiban yang pengorbanan sember ekonomik masa
datangnya berupa kas dengan jumlah rupiah ada saat yang pasti baik jumlah tunggal maupun
beberapa pembayaran secara berkala. Untuk kewajiban moneter jangka pendek, kewajiban dapat
diukur atas dasar nilai nominal (face value) berdasarkan konsep dasar materialitas. Termasuk
dalam pengertian kewajiban moneter adalah penerimaan dimuka (advances) yang akan
dikompensasi dengan pembelian barang dan jasa dimasa datang. Disebut kewajiban moneter
karena kalau pembelian barang dan jasa batal, uang muka tersebut harus dikembalikan.
Kewajiban nonmoneter adalah keharusan untuk menyediakan barang dan jasa dengan
jumlah saat yang cukup pasti yang bisanya timbul karena penerimaan pembayaran dimuka untuk
barang dan jasa tersebut. Bila pembayaran dimuka penuh, kewajiban nonmoneter harus diukur
atas dasar pembayaran tersebut yang menunjukkan harga yang disepakati untuk barang dan jasa.
Pembayaran penuh dimuka tersebut sebenarnya mereprentasikan jumlah untuk menutup kos
barang dan jasa yang akan diserahkan dan laba. Jumlah yang digunakan untuk menutup kos
itulah yang murni merupaka kewajiban sedangkan jumlah untuk menutup laba merupakan laba
tangguhan (deferred income) yang tidak dapat disebut kewajiban karena tidak memenuhi definisi
kewajiban.
Bila kos barang dan jasa merupakan unsure yang dominan, pembayaran dimuka dapat
dianggap seluruhnya menimbulkan kewajiban (sebagai kewajiban lancar). Aka tetapi, kalau kos
merupakan unsure yang kecil dari seluruh harga jual barang dan jasa, pembayaran dimuka dapat
dianggap seluruhnya menumbulkan kredit atau pendapatan tagguhan atau pendapatan tak terhak
(unearned revenues) yang merupakan kewajiban non keharusan. Perlakuan ini secara konseptual
lebih didukung daripada pemisahan uang muka menjadi komponen kos (merepresentasi
kewajiban) dan laba. Arugumen yang didukung yaitu:
a. Keharusan menyerahkan barang dan jasa merupakan bagian dari operasi perusahaan
secara keseluruhan sehingga barang dan jasa dinyatakan dalam harga jual dari kaca mata
kedua pihak yang bertransaksi. Dengan demikian, pembayaran dimuka merupakan
pendapatan tangguhan yang menunggu penyerahan barang bukan jumlah untuk menutup
kos barang dan jasa.
b. Sebagai bagian dari operasi perusahaan secara keseluruhan, penerimaan uang muka lebih
tepat bila diperlakukan seluruhnya sebagai kewajiban. Ini merupakan konsekuensi
argument a diatas.
c. Laba secara automatis tercipta pada saat pendapatan telah diakui sehingga pemisahan
antara kewajiban dan laba tangguhan tidak ada manfaatnya karena keduanya sama-sama
akan dilaporkan disisi kredit dan bersifat kewajiban yang keduanya terselesaikan pada
saat barang atau jasa telah diserahkan.
d. Kas yang diterima tidak dapat dikaitkan dengan kos penyediaan barang/produk dan jasa
yang diberi uang muka karena beberapa komponen produk atau jasa pada umumnya
sudah diperoleh perusahaan bahkan beberapa komponen mungkin belum diperoleh
perusahaan pada saat penerimaan uang muka.
e. Penyerahan barang merupakan saat yang kritis untuk mengakui pendapatan daripada saat
penerimaan kas sehingga laba tidak dapat diakui pada saat penerimaan kas. Jadi, percuma
saja untuk memisahkan uang muka untuk mereprentasi kos dan laba.

Penilaian

Penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan pada setiap saat antara terjadinya
kewajiban samapai dengan dilunasinya kewajiban. Penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah
penentuan jumlah rupiah yang harus dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus
dilunasi. Dalam hal obligasi, nilai sekarang disebut sebagai nilai bawaan (carrying value) atau
nilai pelunasan sekarang. Untuk kewajiban moneter, nilai sekarang biasanya ditentukan atas
dasar aliran kas keluar masa datang diskonan dengan tingkat bunga pasar sebagai tarid diskon.

Atribut Penilaian Menurut FASB :

a. Nilai pasar sekarang (current market value)


b. Nilai pelunasan neto (net settlement value)
c. Nilai diskunan aliran kas masa datang (discounted value of future cash flows)

Pelunasan

Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang sengaja dilakukan oleh suatu satuan usaha,
sehingga ia terbebas dari kewajiban tersebut. Kewajiban dapat dipenuhi secara langsung,
dipenuhi secara tidak langsung (transfer aset), atau dapat pula dihapuskan.

FASB menyatakan kewajiban dapat dikatakan lenyap (dihapuskan) apabila satu dari
kerdua kondisi dibawah ini terpenuhi :

a. Debitor membayar kreditor dan terbebas dari keharusan yang melekat pada kewajiban,
mencakup penyerahan kas, aset finansial, barang, atau jasa untuk penebusan sekuritas
utang debitor untuk menghapus utang atau untuk menahannya sebagai utang obligasi
treasuri
b. Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung utang utama
baik oleh keputusan pengadilan maupun kreditor.

Utang Terkonversi

Utang terkonversi atau konvertibel merupakan salah satu instrumen finansial yang
biasanya mempunyai status sebagai kewajiban dan ekuitas. Hal ini mengandung arti bahwa
pemegang instrumen mempunyai hak istimewa untuk mengubah status utang menjadi ekuitas
setiap saat selama hak tersebut masih berlaku (belum habis). Hak konversi digunakan untuk
menarik investor untuk mengimbangi tingkat bunga nominal yang terlalu rendah dibanding
tingkat bunga umum.

Obligasi terkonversi biasanya mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Tingkat bunga nominal jauh di bawah tingkat bunga pasar untuk obligasi biasa yang
setara.
2. Harga konversi yang ditetapkan lebih tinggi dari harga pasar saham biasa.
3. Harga konversi tidak pernah menurun selama masa hak konversi kecuali karena
penyesuaian yang diperlukan akibat pengambilan hak yang melekat pada saham biasa
seperti dalam hal terjadi pemecahan saham atau dividen saham.

Karena bersifat kewajiban dan ekuitas, terdapat dua masalah pada saat pengakuan utang
terkonversi, yaitu:

1) Harga penerbitan harus dipecah menjadi porsi yang merepresentasi utang. Pandangan ini
didasarkan atas pemikiran sebagai berikut:
a. Hak konversi mempunyai nilai ekonomik sehingga tidak berbeda dengan sifat hak
opsi atau waran.
b. Pada saat penerbitan hak konversi atau nilai utang obligasi biasa (tanpa hak
konversi) dapat diukur secara cukup andal sehingga tidak ada kesulitan teknis
untuk mengimplementasi pemisahan tersebut.
c. Tujuan penerbitan utang konversi yang sebenarnya adalah pendanaan dengan
ekuitas.
2) Harga penerbitan tidak dipecah dan utang terkonversi dianggap utang semata-mata.
Pandangan ini didasarkan atas pemikiran sebagai berikut:
a. Utang obligasi terkonversi merupakan sekuritas hibrida sehingga harus dipandang
sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
b. Penilaian hak konversi akan bersifat subjektif karena ketidakterpisahan kedua
komponen (utang dan hak konversi).

Pembebasan Substantif

Kewajiban dapat dianggap lenyap bila debitor menaruh kas atau aset lainnya yang tidak
dapat ditarik kembali dalam suatu perwalian dan aliran kas dari asset tersebut akan cukup untuk
pelunasan pembayaran bunga serta pokok pinjaman. Jadi, pada saat tidak ada lagi keharusan
membayar, telah terjadi pembebasan substantif.

Dalam standar FASB, menegaskan bahwa pada saat terjadi pembebasan substantif, kewajiban
tidak dapat dihapus karena kejadian tersebut tidak memenuhi karakteristik atau kriteria kritis
sebagai berikut:

1. Debitor tidak dengan sendirinya menjadi bebas dari kewajiban secara hukum hanya
lantaran perusahaan menempatkan aset ke dalam suatu perwalian.
2. Untuk pelunasan kewajiban, sumber dana tidak dibatasi hanya dari dana yang
ditempatkan dalam perwalian.
3. Kreditor tidak mempunyai kekuasaan untuk menggunakan secara bebas aset dalam
perwalian dan juga tidak dapat menghentikan atau membatalkan perwalian tersebut.
4. Kalau ternyata aset dalam perwalian melebihi apa yang diperlukan untuk membayar
pokok dan bunga pinjaman, debitor dapat menggunakan kelebihan tersebut. Hal ini
berarti dalam perwalian masih dikuasai oleh debitor.
5. Kreditor ataupun agennya bukan merupakan pihak yang terikat dalam kontrak
pembentukan dana pembebasan utang.
Debitor tidak menyerahkan kendali atas manfaat aset karena manfaat aset tersebut masih melekat
pada debitor meskipun debitor telah lelah mengakuinya sementara itu kreditor juga tidak
mengakuinya sebagai aset sehingga praktis aset tersebut masih dikuasai oleh debitor.

Penyajian

Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca atas dasar urutan kelancarannya sejalan
dengan penyajian aset. PSAK No. 1 (pasal 39) menggariskan bahwa aset lancar disajikan
menurut urutan likuiditasnya sendangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo. Ini
berarti kewajiban jangka pendek disajikan terlebih dahulu dibandungkan dengan kewajiban
jangka panjang. Dari segi urutan perlindungan dan jaminan, utang yang dijaminkan pada
umumnya disajikan terlebih dahulu untuk menunjukkan bahwa dalam hal terjadi likuidasi utang
ini harus dibayar terlebih dahulu.

Kewajiban diklasifikasikan sebagai Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban


kewajiban jangka pendek, bila: jangka panjang, bila:

PSAK No. 1 1. Apabila suatu kewajiban jangka pendek


(Paragraf 44) tidak akan dilunasi tetapi didanani
1. Diperkirakan akan selesai dalam kembali atau diperbarui
jangka waktu siklus normal 2. Kesepakatan awal perjanjian pinjaman
perusahaan untuk jangka waktu lebih dari dua belas
2. Jatuh tempo dalam jangka waktu dua bulan
belas bulan dalam tanggal neraca 3. Adanya perjanjian pembiayaan kembali
atau penjadualan kembali pembayaran
yang resmi disepakati sebelum laporan
keuangan disetujui

Anda mungkin juga menyukai