Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH ULUMUL HADIS

Dosen Pengampu : Annisa Rasyidah, M.Pd

Disusun Oleh Kelompok XI :

Dwi Maya Puspitasari : 190101040336

Muhammad Ahdi Noor Idy : 190101040027

Tasya Kamila : 190101040262

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ANTASARI

FAKULTAS TARBITYAH DAN KEGURUAN

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

BANJARMASIN

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadiran Allah yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya. Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya saya bisa menyelesaikan penyusunan
makalah kelompok ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas kuliah
Hadis, yang berjudul Ilmu Al-jarh wa At-ta’dil.

Dalam penyusunan makalah ini saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dan berpartisipasi dalam menyelesaikan tugas makalah
jarh wa at-ta’dil yang diharapkan dapat bermanfaat sebagai salah satu rujukan belajar dan
memahami tentang pembahasan Ilmu Al-jarh wa At-ta’dil.

Makalah ini telah disusun berdasarkan sumber-sumber yang ada, namun saya
menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran demi
perbaikan dan penyempurnaan akan saya terima dengan senang hati. Akhir kata saya ucapkan
terima kasih.

Banjarmasin, 06 September

Penulis

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii

BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................................

1.1 Latar Belakang ......................................................................................


1.2 Rumusan Masalah .................................................................................
1.3 Tujuan ...................................................................................................

BAB II. PEMBAHASAN ........................................................................................

2.1 Ilmu Al-Jarh wa At-Ta’dil.....................................................................


A. Pengertian al-Jarh dan al-Ta’dil.............................................................
B. Paham-Paham Yang Ada Pada Zaman Filsafat Modern........................
C. Manfaat Ilmu jarh Wa At-ta’dil.............................................................
D. Pensyariatan Ilmu jarh Wa At-ta’dil......................................................
E. Jumlah Orang yang dipandang cukup untuk men-ta’dil-kan dan men-
tajrih-kan rawi-rawi

F. Pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil...........................................


G. Lafadz-Lafadz Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil............................................
H. Metode Untuk Mengetahui Keadilan Dan Kecacatan Rawi Dan
Masalah-Masalahnya

I. Kitab-kitab ilmu Al-Jarh dan At-Ta’dil................................................


BAB III. PENUTUP ................................................................................................

A. Kesimpulan .............................................................................................
B. Saran .......................................................................................................
C. Daftar Pustaka.........................................................................................

II
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kedudukan hadits (al-Sunnah) sebagai sumber ajaran Islam setelah al-Qur’an sudah
tidak diperselisihkan lagi oleh para ulama, terutama berhujjah dengan hadis shahih. Namun
bagaimana menentukan kesahihan suatu hadits merupakan kajian yang sederhana. Suatu hal
yang pasti ada jarak waktu yang panjang antara masa kehidupan Rasulullah dengan masa
penulisan dan pembukuan suatu hadits.

Untuk meneliti kesahihan suatu hadis dalam ilmu  hadis dikembangkan dua cabang
ilmu yakni ilmu hadis  riwayat, yang objek kajiannya ialah bagaimana menerima,
menyampaikan kepada orang lain, memindahkan dan mendewankan dalam diwan hadis.
Dalam menyampaikan dan mendewankan hadis dinukilkan dan dituliskan apa adanya, baik
mengenai matan maupun sanadnya. Ilmu ini tidak membicarakan hal ikhwal sifat perawi
yang berkenaan dengan adil, dhabit atau fasik yang dapat berpengaruh terhadap sahih
tidaknya suatu hadis. Karena kedudukan perawi sangat penting dalam menentukan kesahihan
suatu hadis. Jalan untuk mengetahui keadaan perawi itu adalah melalui ilmu “al- Jarh wa al-
Ta’dil’.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana pengertian al-Jarh dan al-Ta’dil beserta manfaat dan syarat-syarat bagi
orang yang menta’dil ataupun mentajrihkannya?
b. Bagaimana pensyariatan, kemunculan dan perkembangan ilmu Al-jarh wa At-
ta’dil dan syarat-syarat bagi orang yang menta’dilkannya?
c. Berapa Jumlah Orang yang dipandang cukup untuk men-ta’dil-kan dan men-
tajrih-kan rawi-rawi?
d. Bagaimana Pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil, lafadz-lafadznya dan
metode untuk mengetahui Keadilan Dan Kecacatan Rawi dan Masalah-
Masalahnya?

1
2
1.3 Tujuan Masalah

a. Mengetahui pengertian al-Jarh dan at-ta’dil beserta manfaat dan syarat-syarat


bagi orang yang menta’dil ataupun mentajrihkannya.
b. Mengetahui pensyariatan kemunculan dan perkembangan ilmu Al-jarh wa At-
ta’dil.
c. Mengetahui jumlah orang yang dipandang cukup untuk men-ta’dil-kan dan men-
tajrih-kan rawi-rawi
d. Pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil, lafadz-lafadznya dan metode untuk
mengetahui Keadilan Dan Kecacatan Rawi dan Masalah-Masalahnya.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ilmu Al-jarh wa At-ta’dil

A. Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa At-ta’dil

Ilmu Jarh wa at-ta’dil, pada hakikatnya merupakan suatu bagian dari ilmu Rijalul
hadits.

1. Ilmu Al-Jarh

Ilmu al-jarh, yang dari segi bahasa berarti luka atau cacat adalah ilmu yang
mempelajari kecacatan para perawi, seperti pada keadilan dan kedabitannya. Para ahli
hadis mendefinisikan al-jarh dengan:

َ ‫ْث أَ حْ َوا ِل ُر َواتِ ِه‬


‫ض ْبطًا َو َعدَالَةً َو ِم ْن‬ ُ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ِم ْن َحي‬ ِ ِ‫صا ِل ْال َح ِد ي‬
َ ِ‫ث بِ َرسُوْ ِل هللا‬ ُ ‫ِع ْل ٌم يَب َْح‬
َ ِّ‫ث فِ ْي ِه ع َْن َك ْيفِيَّ ِة أِت‬
‫صا الً َوإِ ْنقِطَا عًا َو َغي ِْر َذالِك‬ ُ ‫َحي‬
َ ِّ‫ْث َك ْيفِيَّة ال َّسنَ ِد إِت‬

Artinya :

“Kecacatan pada perawi hadits karena sesuatu yang dapat merusak keadilan atau
kedabitannya.”1

Al-jarh menurut istilah; yaitu terlihatnynya sifat pada seorang perawi yang dapat
menjatuhkan ke’adalahannya, dan merusak hafalan dan ingatannya, sehingga
menyebabkan gugur riwayatnya, atau melemahkannya hingga kemudian ditolak.2

2. At-Ta’dil

At-ta’dil, yang dari segi bahasa berarti at-tasywiyah (menyamakan), menurut


istilah berarti:

ٌ‫ضابِط‬
َ ْ‫ي َو ْال ُح ْك ُم َعلَ ْي ِه بِأَنَّهُ َع ْد ٌل أَو‬ ِ ‫َع ْك ُسهُ هُ َو ت َْز ِكيَةُ الر‬
ِّ ‫َّاو‬

1
Munzier Suparta, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2001) h. 21.
2
Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2005), h.
84-85.

4
Artinya :

“Lawan dari al-jarh, yaitu pembersihan atau penyucian perawi dan ketetapan
bahwa dia adil atau dabit.”3

At-ta’dil yaitu pensifatan perawi dengan sifat-sifat yang mensucikannya, sehingga


nampak ke’ adalahanya, dan diterima beritanya.

َ ْ‫فى َشأْنِ ِه ْم ِم َّما يُ ْشنِ ْي ِه ْم أَوْ يُ َز ِّك ْي ِه ْم بِا َ ْلفَا ٍظ َم ْخصُو‬


‫ص‬ ُ ‫ِع ْل ٌم يَ ْب َح‬
ُ ‫ث ِع ِن الرُّ َوا ِة ِم ْن َحي‬
ِ ‫ْث َما َو َر َد‬

Ulama lain mendefinisikan al-jarh wa at-ta’dil dalam satu definisi, yaitu:

Artinya :

“Ilmu yang membahas tentang para perawi hadits dari segi yang dapat
menunjukkan keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan atau membersihkan mereka,
dengan ungkapan atau lafal tertentu.”4

B. Manfaat Ilmu Al-jarh Wa At-Ta’dil

Ilmu al-jarh wa at-ta’dil bermanfaat untuk menetapkan apakah periwayatan


seorang rawi itu dapat diterima atau harus ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi
dinilai oleh para ahli sebagai seorang yang cacat, periwayatannya harus ditolak, dan
apabila seorang rawi dipuji sebagai seorang yang adil, niscaya periwayatannya diterima,
selama syarat-syarat yang lain untuk menerima hadis terpenuhi. Syarat-sayarat bagi orang
yang mentajrihkan dan menta’dilkan hadis sebagai berikut.

1. Berilmu Pengetahuan;

2. Takwa;

3. Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat, dosa-dosa


kecil, dan makruhat-makruhat;

4. Jujur;

3
Op. Cit, h. 31.
4
Mudasir, Ilmu Hadits, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 50-51.

5
5. Menjauhi fanatik golongan;

6. Mengetahui sebab-sebab untuk menta’dilkan dan mentajrihkan.

Kalau ilmu al-jarh wa at-ta’dil ini tidak dipelajari dengan seksama, palin tidak
akan muncul penilaian bahwa seluruh orang yang meriwayatkan hadis dinilai sama.
Padahal perjalanan hadi semenjak Nabi Muhammad SAW. Sampai dibukukukan
mengalami perjalanan yang begitu panjang dan diwarnai oleh situasi dan kondisi yang
tidak menentu. Setelah wafatnya Rasulullah SAW., kemurnian sebuah hadis perlu
mendapat penelitian secara seksama karena terjadinya pertikaian di bidang politik,
masalah ekonomi dan masalah-masalah yang lainnya banyak mereka kaitkan dengan
hadis. Akibatnya, mereka meriwayatkan suatu hadis yang disandarkan kepada Rasulullah,
padahal riwayatnya adalah riwayat bohong, yang mereka buat untuk kepentingan
golongan.

Jika kita tidak mengetahui benar atau salahnya sebuah riwayat, kita akan
mencampuradukkan antara hadis yang benar-benar dari Rasulullah dan hadis yang palsu
(maudhu’).5

C. Pensyariatan Al-jarh Wa At-Ta’dil

Para ulama menganjurkan untuk melakukan jarh dan ta’dil, dan tidak
menganggap hal itu sebagai perbuatan ghibah yang terlarang berdasarkan dalil-dalil
berikut ini, antara lain:

1. Sabda Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam kepada seorang laki-laki;


2. Sabda beliau Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Fatimah binti
Qais yang menanyakan tentang Mu’awiyah bin abi Sufyan dan Abi Al-Jahm
yang tengah melamarnya.

“Adapun Abu Jahm dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya
(suka memukul), sedang Mu’awiyah seorang yang miskin tidak mempunyai harta.”

5
M. Agus Solahudin, Ulunul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 163.

6
Perkataan Rasulullah ini meskipun konteksnya sebagai saran dalam kasus pribadi
seseorang, namun menunjukkan dibolehkannya mencela kepada orang-orang yang lemah
guna menjelaskan keadaan mereka, dan menampakkan cela dalam perkara yang
berkenaan dengan halal dan haram yaitu hadits lebih utama daripada menjelaskan cela
dalam konteks memberi saran tertentu.6

D. Kemunculan dan Perkembangan ilmu Al-jarh wa At-ta’dil

Awal mula pertumbuhan ilmu ini adalah seperti yang dinukil dari Nabi Shallallahu
Alahai wa Sallam sebagaimana telah kami sebutkan tadi. Lalu menjadi banyak dari para
sahabat, tabi’in, dan orang setelah mereka, karena takut terjadi seperti apa yang
diperingatkan oleh Rasulullah, sebagaimana sabdanya yang artinya:

“Akan ada pada umatku yang terakhir nanti orang-orang yang menceritakan hadits
kepada kalian apa yang belum pernah kalian dan juga bapak-bapak kalian mendengarkan
sebelumnya. Maka waspadalah terhadap mereka dan waspadailah mereka”.

Dari Yahya bin Sa’id Al-Qatthan dia berkata,”Aku telah bertanya kepada Sufyan Ats-
Tsaury, Syu’bah dan Malik serta Sufyan ibn ‘Uyainah tentang seseorang yang tidak teguh
dalam hadits, lalu seseorang datang kepadaku dan bertanya tentang dia, mereka berkata,
mereka berkata,”Kabarkan tentang dirinya bahwa haditsnya tidaklah kuat”.

Dari Abu Ishaq Al-Fazary dia berkata,”Tulislah dari Baqiyyah apa yang telah dia
riwayatkan dari orang-orang yang dikenal, dan jangan engkau tulis darinya apa yang
telah dia riwayatkan dari orang-orang yang tidak dikenal, dan janganlah kamu menulis
dari Isma’il bin ‘Iyasy apa yang telah dia riwayatkan dari orang-orang yang dikenal
maupun dari selain mereka”.

Dari Bisyr bin Umar dia berkata,”Aku telah bertanya kepada Malik bin Anas tentang
Muhammad bin Abdurrahman yang meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyib, maka dia
berkata,”Dia tidka tsiqah, dan aku bertanya kepadanya tentang Shalih budak At-
Tauamah, dia berkata,”Tidak tsiqah”, dan aku bertanya kepadanya tentang Abu Al-
Khuwairits, maka dia berkata,”Tidak tsiqih”, dan aku bertanya kepadanya tentang
6
Teungku Muhammad Habsyi Ash-Shiddieqy, Ilmu Hadits, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2009), h.
83.

7
Syu’ban yang telah meriwayatkan daripadanya Ibnu Abi Dzi’b, maka dia berkata,”Dia
tidak tsiqah”, dan aku bertanya kepadanya tentang Haram bin Utsman, maka dia
berkata,”Dia tidak tsiqah”.

Dan dari Syu’bah dari Yunus bin ‘Ubaid dia berkata,”Adalah Amr bin ‘Ubaid dia
berdusta dalam hadits”.

Diketahuinya hadits-hadits yang shahih dan yang lemah hanyalah dengan penelitian
para ulama yang berpengalaman yang dikaruniakan oleh Allah kemampuan untuk
mengenaki keadaan para perawi. Dikatakan kepada Ibnu Al-Mubarak,”(Bagaimana
dengan) hadits-hadits yang dipalsukan ini?” Dia berkata,”Para ulama yang
berpengalaman yang akan menghadapinya”.

Maka Penyampaian hadits dan periwayatannya itu adalah sama dengan penyampaian
untuk agama. Oleh karenanya kewajiban syar’i menuntut akan pentingnya meneliti
keadaan para perawi dan ke’adilan mereka, yaitu seorang yang amanah, alim terhadap
agama, bertaqwa, hafal dan teliti pada hadits, tidak sering lalai dan tidak peragu, karena
melalaikan itu semua akan menyebabkan kedustaan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam.

Dikatakan kepada Yahya bin Sa’id Al-Qatthan,”Apakah kamu tidak takut terhadap
orang-orang yang kamu tinggalkan haditsnya akan menjadi musuh-musuhmu di hadapan
Allah SWT? Dia berkata,”Mereka menjadi musuhku lebih baik bagiku daripada
Rasulullah yang menjadi musuhku. Beliau akan berkata,”Mengapa kamu mengambil
hadits atas namaku padahal kamu tahu itu adalah kedustaan ?”.7

E. Jumlah Orang yang dipandang cukup untuk men-ta’dil-kan dan mentajrihkan


rawi-rawi

Di dalam ilmu Al-jarh Wa at-ta’dil orang yang dipandang cukup untuk mentajrihkan
rawi-rawi terbagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

7
Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Hadits, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2005) h.
84-85.

8
1. Minimal dua orang, baik dalam soal syahadah maupun dalam soal riwayah.
Demikian pendapat kebanyakan Fuqaha Madinah.

2. Cukup seorang saja, dalam soal riwayah bukan dalam soal syahadah. Sebab,
bilangan tersebut tidak menjadi syarat dalam penerimaan hadis, maka tidak pula
disyariatkan dalam menta’dilkan dan men-tajrih-kan rawi. Berlainan dalam soal
syahadah.

3. Cukup seorang saja, baik dalam soal riwayah maupun dalam soal syahadah.8

F. Pertentangan Antara Al-Jarh dan At-Ta’dil

Terkadang, pernyataan-pernyataan ulama tentang tajrih dan ta’dil terhadap orang


yang sama bisa saling bertentangan. Sebagian mentajrihkannya, sebagian lain
menta’dilkannya. Bila keadaannya seperti itu, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang
keadaan sebenarnya. Dalam masalah ini, para ulama terbagi dalam beberapa pendapat,
sebagai berikut.

1. Al-Jarh harus didahulukan secara mutlak,walaupun jumlah mu’adilnya, dan kalau


jarih dapat membenarkan mu’adil tentang apa yang diberitahukan menurut lahirnya
saja, sedangkan jarih memberitahukan urusan batiniah yang tidak diketahui oleh si
mu’adil. Ini lah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama.

2. Ta’dil didahulukan daripada jarh, bila yang men-ta’dil-kan lebih banyak karena
banyaknya yang menta’dil bisa mengukuhkan keadaan rawi-rawi yang bersangkutan.
Menurut ‘Ajjaj Al-Khatib, pendapat ini tidak bisa diterima, sebab yang menta’dil,
meskipun lebih banyak jumlahnya, tidak memberitahukan apa yang menyanggah
pernyataan yang mentajrih.

3. Bila jarh dan ta’dil bertentangan, salah satunya tidak bisa didahulukan, kecuali
dengan adanya perkara yang mengukuhkan salah satunya, yakni keaadan dihentikan
sementara, sampai diketahui mana yang lebih kuat diantara keduanya.

4.Tetap dalam ta’arudh bila tidak ditemukan yang mentajrihkan.

8
Agus Solahudin dan Agus Suyadi, Ulumul Hadis, (Bandung: Pustaka Setia, 2008) h,161

9
G. Lafadz-Lafadz Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’dil

Lafadz-lafadz yang digunakan untuk mentajrih dan menta’dilkan itu bertingkat.


Menurut Ibnu Hatim, Ibnu Shalah, dan Imam An-Nawawy, lafadz-lafadz itu disususun
menjadi 4 tingkatan, menurut Al-Hafidz Ad-Dzahaby dan Al-‘Iraqy menyusun menjadi 5
tingkatan, sedangkan Ibnu Hajar menyusunnya menjadi 6 tingkatan, yaitu sebagai
berikut.

Tingkatan pertama, segala sesuatu yang mengandung kelebihan rawi dalam


keadilan, dengan menggunakan lafadz-lafadz yang af’alu at-ta’dil atau ungkapan lain
yang mengandung pengertian sejenis, seperti:

‫ق النَّاس‬
ُ َ‫اَوْ ث‬ = Orang yang paling tsiqat, orang yang paling
kuat hapalannya.
ً‫س ِح ْفظًا َو َع َد الَة‬ ُ َ‫اَ ْثب‬
ِ ‫ت النَّا‬ = Orang yang paling mantap hapalan dan
keadilannya.
ِ ‫اِلَ ْي ِه ْال ُم ْنتَهَى‬
‫فى الثَّبت‬ = Orang yang paling menonjol keteguhan hatinya
dan akidahnya.
‫ثِقَّةٌ فَوْ ثِقَ ٍة‬ = Orang yang tsiqat melebihi orang tsiqat.

Tingkatan kedua, memperkuat ketsiqahan rawi dengan membubuhi satu sifat yang
menunjukkan keadilan dan kedhabitannya, baik sifatnya yang dihubungkan itu selafazh
(dengan mengulangnya) maupun semakna, misalnya:

‫تَبت تَبت‬ = Orang yang teguh (lagi) teguh, yaitu teguh


dalam pendiriannya.
‫تَقَّة تَقَّة‬ = Orang yang tsiqah (lagi) tsiqah, yaitu orang yang
sangat dipercaya.
‫ِح َّخة ِح َّخة‬ = Orang yang ahli (lagi) petah lidahnya.

‫تبة تَقة‬ = Orang yang teguh (lagi) tsiqah, yaitu teguh


dalam pendiriannya dan kuat hapalannya.

10
‫حا فظ حجّة‬ = Orang yang hafidz (lagi) petah lidahnya.

‫ضا بط متقن‬ = Orang yang kuat ingatan (lagi) meyakinkan


ilmunya.
Tingkatan ketiga, menunjukkan keadilan dengan suatu lafazh yang mengadung
arti ‘kuat ingatan’, misalnya:

‫ثبت‬ = Orang yang teguh (hati-hati


lidahnya).
‫متقن‬ = Orang yang meyakinkan ilmunya.

‫تقة‬ = Orang yang tsiqah.

‫حا فظ‬ = Orang yang hafizh (kuat


hapalannya).
‫حجّة‬ = Orang yang petah lidahnya.

Tingkatan keempat, menunjukkan keadilan dan ke-dhabit-an, tetapi dengan lafazh


yang tidak mengandung arti ‘kuat ingatan dan adil’ (tsiqah), misalnya:

‫صد وق‬ = Orang yang sangat jujur.

‫مأ مون‬ = Orang yang dapat memegang


amanat.
‫ال بأ س به‬ = Orang yang tidak cacat.

Tingkatan kelima, menunjukkan kejujuran rawi, tetapi tidak diketahui adanya ke-
dhabit-an, misalnya:

‫محلة الصدق‬ = Orang yang berstatus jujur.

‫خيدالحديث‬ = Orang yang baik hadisnya.

‫حسن الحديث‬ = Orang yang bagus hadisnya.

11
‫مقارب الحديث‬ = Orang yang hadisnya berdekatan dengan hadis
lain yang tsiqah.
Tingkatan keenam, menunjukkan arti ‘mendekati cacat’. Seperti sifat-sifat
tersebut di atas yang diikuti dengan lafazh “Insya Allah”, atau lafazh tersebut di-tashir-
kan (pengecilan arti), atau lafazh itu dikaitkan dengan suatu pengharapan, misalnya:

‫صدوق إن شاء هللا‬ = Orang yang jujur, insya Allah.

‫فالن أرجوبأن البأس به‬ = Orang yang diharapkan tsiqah.

‫فالن صويلح‬ = Orang yang sedikit kesalehannya.

‫فالن مقبوالحديته‬ = Orang yang diterima hadis-


hadisnya.
Para ahli ilmu mempergunakan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi
yang di-ta’dil-kan menurut tingkatan pertama sampai tingkatan keempat sebagai hujjah.
Adapun hadis-hadis para rawi yang pertama di-ta’dil-kan menurut tingkatan kelima dan
keenam hanya dapat ditulis, dan baru dapat dipergunakan bila dikuatkan oleh hadis
periwayat lain.

Kemudian, tingkatan dan lafadz-lafadz untuk men-tajrih rawi-rawi, yaitu:

Tingkatan pertama, menunjuk pada keterlaluan si rawi tentang cacatnya dengan


menggunakan lafadz-lafadz yang berbentuk af’alu al-tafdil atau ungkapan lain yang
mengandung pengertian sejenisnya, misalnya:

‫أوضع الناس‬ = Orang yang paling dusta.


‫أكذب الناس‬ = Orang yang paling bohong.
‫إليه المنتهى فى الوضع‬ = Orang yang paling menonjol kebohongannya.

Tingkatan kedua, menunjukkan sangat cacat dengan menggunakan lafazh-lafazh


berbentuk shigat muballagah, misalnya:

‫كذاب‬ = Orang yang pembohong.


‫وضاع‬ = Orang yang pendusta.
‫دجّال‬ = Orang yang penipu.
Tingkatan ketiga, menunjuk kepada tuduhan dusta, bohong atau sebagainya,
misalnya:

12
‫فالن متهم بالكذب‬ = Orang yang dituduh bohong.

‫أومتهم بالوضع‬ = Orang yang dituduh dusta.

‫فالن فيه النظا‬ = Orang yang perlu diteliti.

‫فالن ساقط‬ = Orang yang gugur.

‫فالن ذاهب الحد يث‬ = Orang yang hadisnya telah hilang.

‫فالن متروك الحديث‬ = Orang yang ditinggalkan hadisnya.

Tingkatan keempat, menunjukkan sangat lemahnya, misalnya:

‫مطاوح الحديث‬ = Orang yang dilempar hadisnya.


‫فالن ضعيف‬ = Orang yang lemah.
‫فالن مادودالحديث‬ = Orang yang ditolak hadisnya.
Tingkatan kelima, menunjuk kepada kelemahan dan kekacauan rawi mengenai
hapalannya, misalnya:

‫فالن ال حيتج به‬ = Orang yang tidak dapat dibuat hujjah hadisnya.

‫فالن مجهول‬ = Orang yang tidak dikenali identitasnya.

‫فالن منكرالحديث‬ = Orang yang munkar hadisnya.

‫فالن مضطاب الحديث‬ = Orang yang kacau hadisnya.

‫فالن واه‬ = Orang yang banyak duga-duga.

Tingakatan keenam, menyifati rawi dengan sifat-sifat yang menunjuk


kelemahannya, tetapi sifat-sifat itu berdekatan dengan ‘adil’, misalnya:

‫ضعف حديثه‬ = Orang yang didha’ifkan hadisnya.

‫فالن مقال فيه‬ = Orang yang diperbincangkan.

‫فالن فيه خلف‬ = Orang yang disingkiri.

‫فالن لين‬ = Orang yang lunak.

‫فالن ليس بالحجة‬ = Orang yang tidak dapat dipergunakan hujjah


hadisnya.

13
‫فالن ليس بالقوي‬ = Orang yang tidak kuat.

14
H. Metode Untuk Mengetahui Keadilan Dan Kecacatan Rawi Dan Masalah-
Masalahnya

1. Dengan kepopuleran di kalangan para ahli ilmu bahwa ia dikenal sebagai seorang
yang ahli (bisy-syuhrah).

2. Dengan pujian dari seorang yang adil (tazkiyah), yaitu ditetapkan sebagai rawi
yang adil oleh orang yang adil yang semula rawi yang di-ta’dil-kan itu belum
terkenal sebagai rawi yang adil.9

Penetapan keadilan seorang rawi dengan jalan tazkiyah ini dapat dilakukan oleh :

a. Seorang rawi yang adil.


b. Setiap orang yang dapat diterima periwayatannya, baik laki-laki maupun
perempuan, baik orang yang merdeka maupun budak, selama ia mengetahui
sebab-sebab yang dapat mengadilkannya.
Penetapan tentang kecacatan seorang rawi juga dapat ditempuh melalui 2 jalan, yaitu :
a. Berdasarkan berita tentang ketenaran rawi dalam keaibannya.
b. Berdasarkan pen-tajrih-an dari seorang yang adil, yang telah mengetahui sebab-
sebab dia cacat.
Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan menta’dilkan dan men-jarhkan
seorang rawi, di antaranya apabila penilaian itu secara mubham (tak disebutkan sebab-
sebabnya) dan ada kalanya mufasar (disebutkan sebab-sebabnya).
Tentang mubham ini diperselisihkan oleh para ulama dalam beberapa
pendapat, yaitu:
a. Men-ta’dil-kan tanpa menyebutkan sebab-sebabnya dapat diterima, karena sebab
itu banyak sekali, sehingga kalau disebutkan semuanya tentu akan menyibukkan
saja.
b. Untuk ta’dil, harus disebutkan sebab-sebabnya, tetapi men-jarh-kan tidak perlu.
c. Untuk kedua-duanya, harus disebut sebab-sebabnya.
d. Untuk kedua-duanya, tidak perlu disebutkan sebab-sebabnya, sebab si Jarh dan
Muaddil sudah seteliti-telitinya sebab-sebab tersebut.10
9
M. Solahudin, Ulumul Hadis, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2013), h. 160.
10
Ibid. h.162

15
I. Kitab-Kitab Ilmu Al-jarh Wa At-ta’dil

Kitab-kitab yang membahas ilmu al-jarh wa at-ta’dil, bibit-bibitnya mulai


muncul pada abad ke-2 H, yakni ketika kodifikasi ilmu mulai marak di segenap penjuru
wilayah islam.

Karya-karya tersebut adalah karya-karya Imam Yahya Ibn Ma’in (158-233 H).
Kemudian, muncul secara berturut-turut karya berikutnya yang lebih luas uraiannya,
mencakup berbagai bidang berbagai pendapat para tokoh al-jarh wa at-ta’dil tentang
rawi-rawi yang lebih banyak jumlahnya. Karya itu mencakup sekitar 40 karya, baim yang
dicetak maupun yang masih berbentuk manuskrip, sampai abad VII H.

Karya-karya tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda, mulai yang paling


kecil yang terdiri dari satu jilid dan memuat puluhan ribu rawi.

Metode yang digunakannya pun berbeda-beda. Mulai dari yang membatasi


karyanya dengan menyebut rawi-rawi yang dhaif dan kadzab saja, sampai ada juga yang
membatasi pada rawi-rawi yang tsiqat saja. Namun, ada juga yang memadukan antara
rawi-rawi yang tsiqat dengan rawi-rawi yang dhaif. Karya-karya ini sebagian besar
disusun secara alfabet.

Karya-karya yang pertama-tama sampai kepada kita adalah kitab Ma’rifat Ar-
Rijal karya Yahya ibn Ismail Al-Bukhari (194-256 H) dan telah dicetak di India pada
tahun 1325 H. Dan bersamanya dicetak pula kitab Adh-Dhu’afa Wa Al-Matrukin karya
Imam Ahmad ibn Syu’aib Ali An Nasa’I (215-303 H).

Karya-karya ulama mutaqaddimin yang paling lengkap adalah kitab Al-Jarh Wa


at-Ta’dil karya Abdurrahman ibn Abu Hatim Ar-Razi (240-327 H). Kitab ini terdiri dari
empat juz dalam format yang besar dan memuat 1.850 biografi. Dicetak di India pada
Tahun 1375 H dalam Sembilan jilid. Jilid pertama merupakan muqaddimah, dan masing-
masing juz lainnya terdiri dari dua jilid.

16
Termasuk karya-karya yang popular adalah kitab Al-Tsiqat karya Abu Hatim Ibn
Hibban Al-Bustiy yang wafat tahun 354 H dan Al-Kamil fi Ma’rifat Dhu’afa Al-
Muhadditsin Wa ‘Ilal Al-Hadist karya Al-Hafidz Abdullah ibn Muhammad (Ibn Addiy)
Al-Jurjaniy (227-365 H).

Adapun karya cetakan yang paling lengkap dalam bidang ini adalah kitab MIzan
Al-I’tidal karya Imam Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad Adz-Dzahabi (673-748 H)
yang dicetak beberapa kali, dan terakhir kali di Mesir tahun 1382 H/1963 M dalam tiga
juz, memuat 1.105 biografi.11

11
Op. Cit. h. 169-170.

17
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ilmu al-jarh adalah ilmu yang memepelajari tentang kecacatan rawi. Sedangkan
At-ta’dil yaitu pensifatan perawi dengan sifat-sifat yang mensucikannya, dan diterima
beritanya. Ilmu ini bermanfaat untuk menetapkan apakah periwayatan seorang rawi itu
dapat diterima atau harus ditolak sama sekali . Dalam mensyariatkan ilmu ini para ulama
menganjurkan untuk melakukan jarh dan ta’dil, dan tidak menganggap hal itu sebagai
perbuatan ghibah berdasarkan sabda Rasulullah. Awal mula pertumbuhan ilmu ini adalah
seperti yang dinukil dari Nabi Shallallahu Alahai wa Sallam: “Akan ada pada umatku
yang terakhir nanti orang-orang yang menceritakan hadits kepada kalian apa yang belum
pernah kalian dan juga bapak-bapak kalian mendengarkan sebelumnya. Maka waspadalah
terhadap mereka dan waspadailah mereka”. Dalam menta’dilkan atau mentajrih sorang
rawi terdapat beberapa ketentuan yaitu minimal dua orang. Para ulama kadang kala bisa
bertentangan dalam mentajrihkan ataupun menta’dilkan rawi dengan lafadz-lafadz yang
telah ditentukan berdasarkan dengan metode untuk mengetahui kecacatan rawi. Al-jarh
wa ta’dil juga mempunyai kitab-kitab khusus.

3.2 Saran

Demi menunjang makalah ini agar menjadi lebih baik lagi, kami sebagai tim
penulis mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan tanggapan atau kritik, karena
kami sangat menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih banyak kekurangannya
dikarenakan kami juga dalam proses belajar. Untuk perhatian dan tanggapannya kami
ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

18
DAFTAR PUSTAKA

Mudasir. 2008. Ilmu Hadits. Bandung: Pustaka Setia.

Manna’, Syaikh Al-Qaththan. 2005. Pengantar Studi Ilmu Hadits. Jakarta Timur: Pustaka Al-
Kautsar.

Muhammad, Teungku Habsyi Ash-Shiddieqy. 2009 Ilmu Hadits. Semarang: PT. Pustaka Rizki
Putra.

Solahudin, M. 2013. Ulumul Hadis. Bandung: CV Pustaka Setia.

Suparta, Munzier. 2001. Ilmu Hadis. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Solahudin, Agus dan Agus Suyadi. 2008. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia.

19