Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PERUSAHAAN YANG TIDAK AKUNTABILITAS DAN ETIKA DI INDONESIA

DI SUSUN OLEH :
1. Oktarin Firnayanti Pabara (1962201140
2. Vivi Riani (2016.35.3516)
3. Sela Ali Yanti 2016353479
4. Syahal (2016.35.35.15)
5. Yandi Rusyandi 192201149

S1 AKUNTANSI

INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS AHMAD DAHLAN JAKARTA


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya,
sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.

Dalam makalah ini akan disampaikan pembahasan tentang “akuntabilitas dan transparansi”

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, Oleh
karena itu saya harapkan kepada pembaca untuk dapat memberikan masukan - masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Meningkatnya kebutuhan dalam pendidikan, mendorong pemerintah Indonesia
menyalurkan berbagai bantuan demi kelangsungan pendidikan di Indonesia, salah satunya
adalah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana bantuan operasional Sekolah (BOS)
diperuntukkan bagi setiap sekolah tingkat dasar di Indonesia dengan tujuan meningkatkan
beban biaya pendidikan demi tuntasnya wajib belajar sembilan tahun yang bermutu.
Namun kebijakan Dana BOS bukan berarti behentinya permsalahan pendidikan, masalah
baru muncul terkait dengan penyelewengan dana BOS, dan ketidakefektifan pengelolan dana
BOS, tujuan dari pemerintah sendiri baik, namun terkadang sistem yang ada menjadi bumerang
dan menghadirkan masalah baru, selain itu pribadi dan budaya manusia Indonesia ikut
berpengaruh terhadap penyelewengan dan ketidakefektifan pengelolaan dana BOS. Oleh karena
itu dibutuhkan kerja sama semua elemen dalam mewujudkan efektifitas pengelolaan dana BOS.
Oleh karena itu, kami memilih untuk mengangkat masalah pengelolaan dana BOS serta
permasalahannya, sehingga mudah-mudahan makalah kecil ini bisa memberikan gambaran bagi
para pembaca terkait dengan pengelolaan dana BOS serta permaslahannya, solusi yang muncul
bukan berarti solusi terbaik, ini hanyalah sedikit sumbangan pemikiran dari kami untuk
perkembangan pendidikan di Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH
Untuk mempermudah pembahasan dalam makalah ini, kami menyusun bebrapa
rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini, rumusan terseut diantaranya :
1. Apa pengertian akuntabilitas?
2. Apa pengertian transparansi?
3. Apa permasalah yang muncul dalam pengelolaan dana bos?
4. Apa penyebab dari timbulnya permasalahan tersebut?
5. Bagaimana akibat dari permasalahan tersebut?

C. TUJUAN PENULISAN
Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk :
1. Mengetahui pengertian akuntabilitas
2. Mengetahui pengertian transparansi
3. Mengetahui pengertian dan landasan-landasan umum program dana Bantuan
Operasional Sekolah (BOS).
4. Agar dapat mengetahui bagaimana realisasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
5. Dapat memahami kondisi-kondisi dunia pendidikan khususnya di tingkat dasar.
6. Agar dapat mempelajari kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan yang muncul di
lapangan.

D. PENGERTIAN AKUNTABILITAS
Istilah akuntabilitas berasal dari istilah dalam bahasa Inggrisaccountability yang berarti
pertanggungan jawab atau keadaan untuk dipertanggung jawabkan atau keadaan untuk
dimintai pertanggung jawaban. Akuntabilitas (accountability) yaitu berfungsinya seluruh
komponen penggerak jalannya kegiatan perusahaan, sesuai tugas dan kewenangannya masing-
masing. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau
penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang
bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggung
jawabannya. Akuntabilitas terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama
dalam hal pencapaian hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan
kepada masyarakat.
Pengertian akuntabilitas ini memberikan suatu petunjuk sasaran pada hampir semua
reformasi sektor publik dan mendorong pada munculnya tekanan untuk pelaku kunci yang
terlibat untuk bertanggungjawab dan untuk menjamin kinerja pelayanan publik yang baik.
Prinsip akuntabilitas adalah merupakan pelaksanaan pertanggung jawaban dimana dalam
kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang terkait harus mampu mempertanggung jawabkan
pelaksanaan kewenangan yang diberikan di bidang tugasnya. Prinsip akuntabilitas terutama
berkaitan erat dengan pertanggung jawaban terhadap efektivitas kegiatan dalam pencapaian
sasaran atau target kebijakan atau program yang telah ditetapkan itu.
Pengertian akuntabilitas menurut Lawton dan Rose dapat dikatakan sebagai sebuah
proses dimana seorang atau sekelompok orang yang diperlukan untuk membuat laporan
aktivitas mereka dan dengan cara yang mereka sudah atau belum ketahui untuk melaksanakan
pekerjaan mereka. Akuntabilitas sebagai salah satu prinsip good corporate governance
berkaitan dengan pertanggungjawaban pimpinan atas keputusan dan hasil yang dicapai, sesuai
dengan wewenang yang dilimpahkan dalam pelaksanaan tanggung jawab mengelola organisasi.
Prinsip akuntabilitas digunakan untuk menciptakan sistem kontrol yang efektif berdasarkan
distribusi kekuasaan pemegang saham, direksi dan komisaris. Prinsip akuntabilitas menuntut 2
(dua) hal, yaitu :

a.    Kemampuan menjawab dan


b.    Konsekuensi.

Komponen pertama (istilah yang bermula dari responsibilitas) adalah berhubungan


dengan tuntutan bagi para aparat untuk menjawab secara periodik setiap pertanyaan-
pertanyaan yang berhubungan dengan bagaimana mereka menggunakan wewenang mereka,
kemana sumber daya telah digunakan dan apa yang telah tercapai dengan menggunakan
sumber daya tersebut.
Aspek yang terkandung dalam pengertian akuntabilitas adalah bahwa publik
mempunyai hak untuk mengetahui kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pihak yang mereka
beri kepercayaan. Media pertanggungjawaban dalam konsep akuntabilitas tidak terbatas pada
laporan pertanggungjawaban saja, tetapi mencakup juga praktek-praktek kemudahan si
pemberi mandat mendapatkan informasi, baik langsung maupun tidak langsung secara lisan
maupun tulisan. Dengan demikian, akuntabilitas akan tumbuh subur pada lingkungan yang
mengutamakan keterbukaan sebagai landasan penting dan dalam suasana yang transparan dan
demokrasi serta kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Akuntabilitas, sebagai salah satu
prasyarat dari penyelenggaraan negara yang baru, didasarkan pada konsep organisasi dalam
manajemen, yang menyangkut :
1. Luas kewenangan dan rentang kendali (spand of control) organisasi.
2. Faktor-faktor yang dapat dikendalikan (controllable) pada level manajemen atau tingkat
kekuasaan tertentu.
Pengendalian sebagai bagian penting dari masyarakat yang baik saling menunjang
dengan akuntabilitas. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa pengendalian tidak dapat
berjalan dengan efesien dan efektif bila tidak ditunjang dengan mekanisme akuntabilitas yang
baik, demikian pula sebaliknya. Dari uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa akuntabilitas
merupakan perwujudan kewajiban seseorang atau unit organisasi untuk mempertanggung
jawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang
dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui media
pertanggungjawaban secara periodik. Sumber daya ini merupakan masukan bagi individu
maupun unit organisasi yang seharusnya dapat diukur dan diidentifikasikan secara jelas.
Kebijakan pada dasarnya merupakan ketentuan-ketentuan yang harus dijadikan pedoman,
pegangan atau petunjuk bagi setiap usaha dari karyawan organisasi sehingga tercapai
kelancaran dan keterpautan dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

E. MACAM MACAM AKUNTABILITAS


Menurut Bruce Stone, O.P. Dwivedi, and Joseph G. Jabbra terdapat 8 jenis akuntabilitas
umumnya berkaitan dengan moral, administratif, politik, manajerial, pasar, hukum dan
peradilan, hubungan dengan konstituen dan professional. Akan tetapi disini hanya dua macam
yang saya tuliskan. Diantaranya adalah:
1. Akuntabilitas Politik
Akuntabilitas politik adalah akuntabilitas administrasi publik dari lembaga eksekutif
pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga yudikatifKehakiman kepada publik.
Dalam negara demokrasi, pemilu adalah mekanisme utama untuk mendisiplinkan pejabat
publik akan tetapi hal ini saja tidak cukup dengan adanya pemisahan kekuasaan antara
badan eksekutif, legislatif dan yudikatif memang dapat membantu untuk mencegah adanya
penyalahgunaan kekuasaan yang hanya berkaitan pada check and balances pengaturan
kewenangan. Checks and balances hanya bekerja dengan menciptakan pengaturan konflik
kepentingan antara eksekutif dan legislatif, namun segala keputusan yang berkaitan dengan
kepentingan publik masih memerlukan persetujuan kedua lembaga, dengan cara ini, kedua
lembaga yang merupakan lembaga hasil pemilu dalam pengambilan keputusan-keputusan
dalam hal kebijakan publik akan lebih pada merupakan hubungannya dengan konstituen
pada keuntungan pemilu yang akan datang dibandingkan bila merupakan kebijakan yang
sesungguhnya dari bagian kebijakan administrasi public.biaya yang harus dikeluarkan dalam
kegiatan politik antara lain pemilu yang diperlukan dapat menjadikan anggota eksekutif dan
legislatif atau para pejabat publik lainnya rentan terhadap praktik-praktik korupsi dalam
pengambilan keputusan yang terdapat memungkinan akan lebih menuju kepada
keuntungan kepentingan pribadi dengan cara mengorbankan kepentingan publik yang lebih
luas.
2. Akuntabilitas administrasi
Aturan dan norma internal serta beberapa komisi independen adalah mekanisme
untuk menampung birokrasi dalam tanggung jawab administrasi pemerintah. Dalam
kementerian atau pelayanan, pertama, perilaku dibatasi oleh aturan dan peraturan; kedua,
pegawai negeri dalam hierarki bawahan bertanggung jawab kepada atasan. Dengan diikuti
adanya unit pengawas independen guna memeriksa dan mempertanggung jawabkan,
legitimasi komisi ini dibangun di atas kemerdekaan mereka agar dapat terhindar dari konflik
kepentingan apapun. Selain dari pemeriksaan internal, terdapat pula beberapa unit
pengawas yang bertugas untuk menerima keluhan dari masyarakat sebagai akuntabilitas
kepada warga negara.
3. Transparansi Politik
Transparansi seperti yang digunakan dalam istilah politik berarti keterbukaan dan
pertanggung-jawaban. Istilah ini adalah perpanjangan metafor dari arti yang digunakan di
dalam ilmu Fisika: sebuah obyek transparan adalah obyek yang bisa dilihat tembus. Aturan
dan prosedur transparan biasanya diberlakukan untuk membuat pejabat pemerintah
bertanggung-jawab dan untuk memerangi korupsi. Bila rapatpemerintah dibuka kepada
umum dan media massa, bila anggaran dan laporan keuangan bisa diperiksa oleh siapa saja,
bila undang-undang, aturan, dan keputusan terbuka untuk didiskusikan, semuanya akan
terlihat transparan dan akan lebih kecil kemungkinan pemerintah untuk
menyalahgunakannya untuk kepentingan sendiri.

F. PENGERTIAN TRANSPARANSI
Transparansi adalah prinsip menciptakan kepercayaan timbal-balik antara pemerintah
dan masyarakat melalui penyediaan informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh
Informasi adalah suatu kebutuhan penting masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan
daerah. Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah daerah perlu proaktif memberikan informasi
lengkap tentang kebijakan dan layanan yang disediakannya kepada masyarakat. 
Pemerintah daerah seharusnya perlu menyiapkan kebijakan yang jelas tentang cara
mendapatkan informasi. Kebijakan ini akan memperjelas bentuk informasi yang dapat diakses
masyarakat ataupun bentuk informasi yang bersifat rahasia, bagaimana cara mendapatkan
informasi, lama waktu mendapatkan informasi serta prosedur pengaduan apabila informasi
tidak sampai kepada masyarakat. Instrumen dasar dari transparansi adalah peraturan yang
menjamin hak untuk mendapatkan informasi, sedangkan instrumen pendukung adalah fasilitas
database dan sarana informasi dan komunikasi dan petunjuk penyebarluasan produk-produk
dan informasi yang ada di penyelenggara pemerintah, maupun prosedur pengaduan.
Transparansi adalah sebagai produk hukum yang memberikan jaminan untuk mengatur
tentang hak memperoleh akses dan penyebar luasan informasi kepada publik. Apalagi
transparansi memang telah menjadi semacam suatu etika pergaulan internasional yang mesti
ada untuk menjamin Pun, terselenggaranya sistem pemerintahan yang akuntabel dan
transparan merupakan salah satu kunci perwujudan good governance. Di dalam sistem
dimaksud tercakup beberapa prasyarat yang harus dipenuhi tatkala transparansi dan
akuntabilitas menjadi barometer. Di antara prasyarat itu adalah jaminan bahwa segala peristiwa
penting kegiatan pemerintah (kegiatan badan publik) terekam dengan baik dengan ukuran-
ukuran yang jelas dan dapat diikhtisarkan melalui proses informasi dimana kita bisa melihat
segala yang terjadi dan terdapat di dalamnya.
Dengan adanya transparansi pemerintahan yang ditunjang dengan payung hukumnya
yang jelas maka akan menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat terhadap
penyelenggaraan pemerintahan. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintahan, maka akan menjamin meningkatnya jumlah masyarakat yang berpartisipasi
dalam pembangunan daerahnya dan akan dapat meminimalisir berkurangnya
pelanggaran/penyimpangan dalam pengelolaan pemerintahan. Kalbar telah mempunyai Perda
Nomor 4 Tahun 2005 tentang Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Kalbar.
Masalahnya, sekarang ada tidak political will dari pemerintah untuk segera efektif
mengimplementasikan Perda Transparansi tersebut. Meski telah dibuat, tapi sekarang dapat kita
lihat implementasinya masih jauh panggang dari api. Transparansi masih belum menjadi
semangat, paradigma dan etika dalam pengelolaan pemerintahan.Perda Nomor 4 Tahun 2005
tentang Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Kalbar terbit pada 30 Juni 2005
tersebut memuat sembilan bab dan 32 pasal. Peraturan tersebut memuat kewajiban badan
publik untuk mengumumkan informasi secara aktif mengenai proses perencanaan
pembangunan daerah termasuk APBD, mulai perencanaan, pembahasan, hingga penetapan,
rencana tata ruang hingga penetapan, pelaksanaan kegiatan pembangunan, nama, struktur,
tugas, dan fungsi badan publik terkait, prosedur dan tata cara untuk mendapatkan informasi
publik pada badan publik; jadwal kegiatan badan publik. Hadirnya Perda Nomor 4 Tahun 3005
tentang Transparansi, hanya sekedar pelengkap dan penghibur agar dapat meredam suara-suara
nyaring yangmendorong transparansi pemerintahan. Terlebih lagi, jangan-jangan hadirnya Perda
tersebut, hanya sebagai bentuk justifikasi saja, bahwa pemerintahaan di Kalbar seakan-akan
telah berniat baik untuk, dan telah transparan. Sederhananya, Pemprov memandang bahwa
transparansi telah terlaksana ketika perdanya telah ada. Padahal, seperti yang kita ketahui, pola
pikir yang terbangun di jajaran pengambilan kebijakan (Pemprov dan Legislatif), terbiasa
membuat Perda, tapi gagal dalam implementasi. Kemudian, menanggapi bahwa eksekutif
Pemerintah Provinsi seakan salah persepsi tentang implementasi Perda Transparansi, saya
malah menduga bahwa eksekutif tidak mengerti dan memahami tentang Perda itu. Lebih
lanjutnya, saya malah khawatir, jangan-jangan pihak eksekutif tidak paham atau awam tentang
tata kelola pemerintahan yang baik seperti yang termaktub dalam semangat dan prinsip-prinsip
good governance. Sehingga setiap pernyataannya yang muncul cenderung tidak menunjukkan
sebagai seorang pemimpin yang memahami dan mengerti tentang hal itu, serta mungkin tidak
memiliki Pihak Parlemen, dalam hal ini sebagai pihak yang ikut membahas perda tersebut, harus
berani fight, jangan seperti macan tak bertaring yang beraninya hanya mengaum di kejauhan,
tapi mandul dan tak berani mengambil aksi yang lebih tegas terhadap implementasi perda ini. 
Seringkali muncul tanggapan serius dari para wakil rakyat, sangat garang bahasanya
untuk mendorong agar perda ini di implementasikan, tapi kok ternyata tak punya greget yang
kuat yang dapat mendorong agar Pemprov serius mengimplementasikan Perda. Pertanyaan
besarnya, what happen? Bisa jadi gerakan itu tidak terjadi secara massif di Parlemen, malah
mungkin masih ada sebagian yang menganggap atau berpikiran bahwa Perda tersebut bukan
sesuatu hal yang penting. Kalau sudah begini, setali tiga uang, sama saja antara Pemprov dan
Parlemen, tidak memiliki sense terhadap Perda Transparansi ini. Padahal ketika studi banding
dilakukan, antara lain studi banding terhadap pelaksanaan perda yang sama ke Kabupaten
Solok, Sumatera Barat. Bukankah sudah cukup menjadi bukti, bagaimana jalannya pemerintahan
di sana yang cukup berhasil.
Sungguh disayangkan, ketika akan menggodok perda, berapa uang rakyat yang habis,
baik untuk agenda rapat pembahasan maupun studi banding. Namun dua tahun berlalu ternyata
tak efektif dilaksanakan. Dengan tidak di implementasikannya perda tersebut, Perda ini
diharapkan mampu menciptakan sebuah pemerintahan yang bersih dan berwibawa sesuai
dengan semangat dan prinsip-prinsip good governance.

G. PEMBAHASAN (STUDI KASUS DANA BOS)


Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan pengembangan lebih lajut dari Program
Jaring Pengaman Sosial (JPS) Bidang Pendidikan, yang dilaksanakan pemerintah pada kurun
1998-2003, dan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM yang dilaksanakan dalam kurun
2003-2005. BOS dimaksudkan sebagai subsidi biaya operasional sekolah kepada semua peserta
didik wajib belajar, yang untuk tahun 2009 jumlahnya mencapai 26.866.992 siswa sekolah dasar,
yang disalurkan melalui satuan pendidikan. Dengan Program BOS, satuan pendidikan diharapkan
tidak lagi memungut biaya operasional sekolah kepada peserta didik, terutama mereka yang
miskin.
Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam jangka
menengah dan jangka panjang. Namun, sampai dengan saat ini masih banyak orang miskin yang
memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu, hal ini disebabkan antara
lain karena mahalnya biaya pendidikan. Disisi lain, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa setiap warga negara berusia 7-15
tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yang dikenal dengan Program Wajib Belajar Pendidikan
Dasar Sembilan Tahun. Konsekuensi dari hal tersebut maka pemerintah wajib memberikan
layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD/MI dan
SMP/Mts serta satuan pendidikan yang sederajat).
Kenaikan harga BBM beberapa tahun belakangan dikhawatirkan akan menurunkan
kemampuan daya beli penduduk miskin. Hal tersebut dapat menghambat upaya penuntasan
Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, karena penduduk miskin akan
semakin sulit memenuhi kebutuhan biaya pendidikan. Salah satu program di bidang pendidikan
adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang menyediakan bantuan bagi sekolah dengan
tujuan membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu dan meringankan beban
bagi siswa yang lain dalam rangka mendukung pencapaian Program Wajib Belajar Pendidikan
Dasar Sembilan Tahun. Melalui program ini, pemerintah pusat memberikan dana kepada
sekolah-sekolah setingkat SD dan SMP untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan
yang harus ditanggung oleh orangtua siswa. BOS diberikan kepada sekolah untuk dikelola sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. Besarnya dana untuk tiap sekolah
ditetapkan berdasarkan jumlah murid.

1. MEKANISME PENCAIRAN DANA BOS


Pengalokasian/pencairan dana BOS dilaksanakan sebagai berikut:
a. Tim Manajemen Pusat mengumpulkan data jumlah siswa tiap sekolah melalui Tim
Manajemen BOS Provinsi, kemudian menetapkan alokasi dana BOS tiap provinsi.
b. Atas dasar data jumlah siswa tiap sekolah, Tim Manajemen BOS Pusat membuat alokasi
dana BOS tiap provinsi yang dituangkan dalam DIPA provinsi.
c. Tim Manajemen BOS Provinsi dan Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota melakukan
verifikasi ulang data jumlah siswa tiap sekolah sebagai dasar dalam menetapkan alokasi di
tiap sekolah.
d. Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota menetapkan sekolah yang bersedia menerima BOS
melalui Surat Keputusan (SK). SK penetapan sekolah yang menerima BOS ditandatangani
oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dewan Pendidikan. SK yang telah
ditandatangani dilampiri daftar nama sekolah dan besar dana bantuan yang diterima
(Format BOS-02A dan Format BOS-02B). Sekolah yang bersedia menerima BOS harus
menandatangani Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB).
e. Tim Manajemen BOS Kab/Kota mengirimkan SK alokasi BOS dengan melampirkan daftar
sekolah ke Tim Manajemen BOS Provinsi, tembusan ke Bank/Pos penyalur dana dan sekolah
penerima BOS.

2. PENGGUNAAN DANA BOS


Penggunaan dana BOS di sekolah harus didasarkan pada kesepakatan dan keputusan
bersama antara Tim Manajemen BOS Sekolah, Dewan Guru, dan Komite Sekolah yang harus
didaftar sebagai salah satu sumber penerimaan dalam RKAS/RAPBS, di samping dana yang
diperoleh dari Pemda atau sumber lain yang sah. Hasil kesepakatan penggunaan dana BOS (dan
dana lainnya tersebut) harus dituangkan secara tertulis dalam bentuk berita acara rapat yang
dilampirkan tanda tangan seluruh peserta rapat yang hadir.
Dari seluruh dana BOS yang diterima oleh sekolah, sekolah wajib menggunakan
sebagian dana tersebut untuk membeli buku teks pelajaran atau mengganti yang telah rusak.
Buku yang harus dibeli untuk tingkat SD adalah buku mata pelajaran Pendidikan Agama, serta
mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, sedangkan tingkat SMP adalah buku mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Adapun dana BOS selebihnya digunakan untuk membiayai kegiatan-kegitan berikut:
a. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru, yaitu biaya
pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang,
pembuatan spanduk sekolah gratis, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung dengan
kegiatan tersebut (misalnya untuk fotocopy, konsumsi panitia, dan uang lembur dalam
rangka penerimaan siswa baru, dan lainnya yang relevan).
b. Pembelian buku referensi dan pengayaan untuk dikoleksi di perpustakaan (hanya bagi
sekolah yang tidak menerima DAK).
c. Pembelian buku teks pelajaran lainnya (selain yang wajib dibeli) untuk dikoleksi di
perpustakaan.
d. Pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, pembelajaran pengayaan, pemantapan
persiapan ujian, olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja,
unit kesehatan sekolah, dan sejenisnya (misalnya untuk honor jam mengajar tambahan di
luar jam pelajaran, biaya transportasi dan akomodasi siswa/guru dalam rangka mengikuti
lomba, fotocopy, membeli alat olahraga, alat kesenian, perlengkapan kegiatan
ekstrakulikuler, dan biaya pendaftaran mengikuti lomba).
e. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah, dan laporan hasil belajar siswa
(misalnya untuk fotocopy/penggandaan soal, honor koreksi ujian, dan honor guru dalam
rangka penyusunan rapor siswa).
f. Pembelian bahan-bahan habis pakai seperti buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol, kertas,
bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran/majalah
pendidikan, minuman dan makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah, serta
pengadaan suku cadang alat kantor.
g. Pembiayaan langganan daya dan jasa, yaitu listrik, air, telepon, internet, termasuk untuk
pemasangan barujika sudah ada jaringan di sekitar sekolah. Khusus di sekolah yang tidak
ada jaringan listrik, dan jika sekolah tersebut memerlukan listrik untuk proses belajar
mengajar di sekolah, maka diperkenankan untuk membeli genset.
h. Pembiayaan perawatan sekolah, yaitu pengecetan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu
dan jendela, perbaikan mebeler, perbaikan sanitasi sekolah, perbaikan lantai
ubin/keramik, dan perawatan fasilitas sekolah lainnya.
i. Pembayaran honorarium bulanan guru honorer dan tenaga kependidikan honorer. Untuk
sekolah SD diperbolehkan untuk membayar honor tenaga yang membantu administrasi
BOS.
j. Pengembangan profesi guru seperti pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS. Khusus untuk
sekolah yang memperoleh hibah/block grant pengembangan KKG/MGMP atau sejenisnya
pada tahun anggaran yang sama tidak diperkenankan menggunakan dana BOS untuk
peruntukan yang sama.
k. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya
transport dari dan ke sekolah. Jika dinilai lebih ekonomis, dapat juga untuk membeli alat
transportasi sederhana yang akan menjadi barang inventaris sekolah (misalnya sepeda,
perahu penyebrangan, dll).
l. Pembiayaan pengelolaan BOS seperti alat tulis kantor (ATK), penggandaan, surat-
menyurat, insentif bagi bendahara dalam rangka penyusunan laporan BOS dan biaya
transportasi dalam rangka mengambil dana BOS di Bank/PT Pos.
m. Pembelian komputer dekstop untuk kegiatan belajar siswa, maksimum 1 set untuk SD dan
2 set untuk SMP, pembelian 1 unit printer, serta kelengkapan komputer seperti hard disk,
flash disk, CD/DVD, dan suku cadang komputer/printer.
n. Jika komponen 1 s.d 13 di atas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan masih
terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat
peraga, media pembelajaran, mesin ketik, mebeler sekolah, dan peralatan untuk UKS.
Bagi sekolah yang telah menerima DAK, tidak diperkenankan menggunakan dana BOS
untuk peruntukan yang sama.
Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS diperbolehkan
hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan sekolah selain kewajiban jam mengajar.
Besaran atau satuan biaya untuk transportasi dan uang lelah guru PNS yang bertugas di luar jam
mengajar tersebut harus mengikuti batas kewajaran. Pemerintah Daerah wajib mengeluarkan
peraturan tentang batas kewajaran tersebut di daerah masing-masing dengan
mempertimbangkan faktor sosial ekonomi, faktor geografis dan faktor lainnya.

3. PERMASALAHAN PENGELOLAAN DANA BOS


a. Deskripsi Masalah
Dijelaskan dalam UUD Negara RI pasal 31 ayat (2) bahwa “setiap warga negara wajib
mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Pada akhirnya
membawa konsekuensi alokasi belanja negara di bidang pendidikan sebesar 20% dari APBN.
Dalam perkembangannya adalah, muncul kebijakan pemerintah dalam alokasi dana Bantuan
Operasional Sekolah.  
Dalam Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional, dijelaskan sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan
harkat/martabat bangsa. Ditulis dalam Bab II pasal 3 yang berbunyi : “Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. 
Pasal 34 ayat 2 juga menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah
menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa
memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan
tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah,
pemerintah daerah, dan masyarakat. 
Konsekuensi dari amanat Undang-undang tersebut adalah pemerintah dan
pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada
tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP), SMU serta satuan pendidikan lain yang sederajat. 
Mulai pertengahan 2010, kemendiknas mulai menggunakan mekanisme baru
penyaluran dana BOS. Dana BOS tidak lagi langsung ditransfer dari bendahara negara ke
rekening sekolah, tetapi ditransfer ke kas APBD selanjutnya ke rekening sekolah.
Kemendiknas beralasan, mekanisme baru ini bertujuan untuk memberikan kewenangan
lebih besar kepada pemerintah daerah dalam penyaluran dana BOS. Dengan cara ini,
diharapkan pengelolaan menjadi lebih tepat waktu, tepat jumlah, dan tak ada
penyelewengan. Harus diakui, masalah utama dana BOS terletak pada lambatnya
penyaluran dan pengelolaan di tingkat sekolah yang tidak transparan. Selama ini,
keterlambatan transfer terjadi karena berbagai faktor, seperti keterlambatan transfer oleh
pemerintah pusat dan lamanya keluar surat pengantar pencairan dana oleh tim manajer
BOS daerah.
Akibatnya, kepala sekolah harus mencari berbagai sumber pinjaman untuk
mengatasi keterlambatan itu. Bahkan, ada yang meminjam kepada rentenir dengan bunga
tinggi. Untuk menutupi biaya ini, kepsek memanipulasi surat pertanggungjawaban yang
wajib disampaikan setiap triwulan kepada tim manajemen BOS daerah. Ini mudah karena
kuitansi kosong dan stempel toko mudah didapat. Kepsek memiliki berbagai kuitansi kosong
dan stempel dari beragam toko. Kepsek dan bendahara sekolah dapat menyesuaikan bukti
pembayaran sesuai dengan panduan dana BOS, seakan- akan tidak melanggar prosedur.
Tidaklah mengherankan apabila praktik curang dengan mudah terungkap oleh lembaga
pemeriksa, seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan. Ibarat berburu di kebun binatang, BPK dengan mudah membidik dan
menangkap buruan. BPK dengan mudah menemukan penyelewengan dana BOS di sekolah.
BPK Perwakilan Jakarta, misalnya, menemukan indikasi penyelewengan pengelolaan
dana sekolah, terutama dana BOS tahun 2007-2009, sebesar Rp 5,7 miliar di tujuh sekolah di
DKI Jakarta. Sekolah-sekolah tersebut terbukti memanipulasi surat perintah jalan (SPJ)
dengan kuitansi fiktif dan kecurangan lain dalam SPJ. Contoh manipulasi antara lain kuitansi
percetakan soal ujian sekolah di bengkel AC mobil oleh SDN 012 RSBI Rawamangun. SPJ
dana BOS sekolah ini ternyata menggunakan meterai yang belum berlaku. Bahkan lebih
parah lagi, BPK tidak menemukan adanya SPJ dana BOS 2008 karena hilang tak tentu
rimbanya. Berdasarkan audit BPK atas pengelolaan dana BOS tahun anggaran 2007 dan
semester I 2008 pada 3.237 sekolah sampel di 33 provinsi, ditemukan nilai penyimpangan
dana BOS lebih kurang Rp 28 miliar. Penyimpangan terjadi pada 2.054 atau 63,5 persen dari
total sampel sekolah itu. Rata-rata penyimpangan setiap sekolah mencapai Rp 13,6 juta.
Penyimpangan dana BOS yang terungkap antara lain dalam bentuk pemberian bantuan
transportasi ke luar negeri, biaya sumbangan PGRI, dan insentif guru PNS. Periode 2004-
2009, kejaksaan dan kepolisian seluruh Indonesia juga berhasil menindak 33 kasus korupsi
terkait dengan dana operasional sekolah, termasuk dana BOS. Kerugian negara dari kasus ini
lebih kurang Rp 12,8 miliar. Selain itu, sebanyak 33 saksi yang terdiri dari kepsek, kepala
dinas pendidikan, dan pegawai dinas pendidikan telah ditetapkan sebagai tersangka.
Perubahan mekanisme penyaluran dana BOS sesuai dengan mekanisme APBD secara tidak
langsung mengundang keterlibatan birokrasi dan politisi lokal dalam penyaluran dana BOS.
Konsekuensinya, sekolah menanggung biaya politik dan birokrasi. Sekolah harus rela
membayar sejumlah uang muka ataupun pemotongan dana sebagai syarat pencairan dana
BOS. Kepsek dan guru juga harus loyal pada kepentingan politisi lokal ketika musim pilkada.
Dengan demikian, praktik korupsi dana BOS akan semakin marak karena aktor yang terlibat
dalam penyaluran semakin banyak.
b. Penyimpangan
1) Tahap perencanaan, adalah dengan menggelembungkan data jumlah siswa. Siswa
yang sudah pindah atau lulus tetap dimasukkan dalam daftar penerima dana BOS
dengan harapan dana yang diperoleh sekolah bertambah.  Modus lainnya dengan
mengajukan anggaran belanja fiktif, memperbanyak anggaran tak terduga, menjalin
kolusi dengan panitia, membikin belanja barang habis pakai secara berulang-ulang,
dobel anggaran, hingga menerima program titipan.
2) Tahap pencairan, kebocoran dana BOS terjadi dengan modus memperlambat
pencairan hingga pemberian gratifikasi atau uang terima kasih. Modus-modusnya
rapi dan tak kasat mata. Pada tahap pembelanjaan, modus membocorkan dana BOS
dengan menurunkan kualitas spesifikasi barang. Pengelola dana BOS telah berkolusi
dengan instansi/penyedia barang.
3) Tahap pelaporan, bukan hanya keterlambatan pelaporan.  Tetapi juga penyajian
laporan meliputi transparansi dan akuntabilitas laporan.  Kasus-kasus demikian
banyak ditemukan di berbagai daerah ketika pemeriksa/pengawas membandingkan
dokumen rencana kerja anggaran sekolah (RKAS) dengan laporan
pertanggungjawaban (LPj). Spesifikasi barang di RKAS dengan LPj banyak yang
berbeda.  Dampaknya tak hanya kualitas yang tak sesuai standar, tapi ada alokasi
dana yang sengaja dihilangkan.  
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201/PMK.07/2013, alokasi
BOS mulai 1 Januari 2014 adalah sebesar Rp580.000,00 per siswa per tahun untuk
SD/SLB, dan sebesar Rp710.000,00 per siswa pertahun untuk SMP/SMPLB/SMPT.
Jumlah ini meningkat lagi pada 2015 yaitu Rp800.000,00 untuk SD/SLB, sebesar
Rp1.000.000,00 untuk SMP/SMPLB/SMPT, serta sebesar Rp1.200.000,00 untuk SMU per
siswa per tahun.
Mekanisme penyalurannya di lingkup sekolah sebenarnya sangat sederhana.
Sekolah (dalam tim) mengajukan rencana penggunaan Dana BOS, dan selanjutnya dana
BOS disalurkan ke sekolah sesuai rencana penggunaan.  Namun, dalam prakteknya
masih ditemukan penyimpangan pengalokasian dan BOS. 

c. Diantara modus penyimpangan alokasi dana BOS adalah :


Contoh kasusnya adalah, Periode 2004-2009, kejaksaan dan kepolisian seluruh
Indonesia juga berhasil menindak 33 kasus korupsi terkait dengan dana operasional sekolah,
termasuk dana BOS. Kerugian negara dari kasus ini lebih kurang Rp 12,8 miliar. Selain itu,
sebanyak 33 saksi yang terdiri dari kepsek, kepala dinas pendidikan, dan pegawai dinas
pendidikan telah ditetapkan sebagai tersangka.  Perubahan mekanisme penyaluran dana
BOS sesuai dengan mekanisme APBD secara tidak langsung mengundang keterlibatan
birokrasi dan politisi lokal dalam penyaluran dana BOS. Konsekuensinya, sekolah
menanggung biaya politik dan birokrasi.
Berdasarkan pengamatan awal penulis di lapangan, serta membandingkan banyak
berita di media massa.   Sementara ini, pihak sekolah mengeluh dengan mekanisme
pertanggungjawaban dana BOS, terutama pada level pendidikan dasar
(Ibtidaiyah/Tsanawiyah).  Mereka memandang mekanismenya terlalu rumit, sehingga
kadang mengganggu konsentrasi dalam proses belajar mengajar.  Bahkan ada salah satu
sekolah yang menolak menerima dana BOS, atau menerima dengan terpaksa karena
kesulitan membuat laporan pertanggungjawaban.
Para penanggungjawab sekolah memandang prosedur pelaporan dan
pertanggungjawaban dan BOS adalah hal baru yang sulit bagi mereka.  Alasan lain adalah,
karena pertanggungjawaban BOS adalah mekanisme yang terpisah atau bukan bidang tugas
kependidikan atau belajar mengajar.  Lalu apakah yang sebenarnya menjadi faktor
penyebab fakta penyimpangan dana BOS, dan apa hubungannya dengan pelaporan dan
pertanggungjawaban keuangan, dalam prespektif keuangan negara.

d. Penyebab dan Akibat Masalah


Penyebab timbulnya masalah-masalah dalam program BOS yaitu:
1) Pengalokasian dana tidak didasarkan pada kebutuhan sekolah tapi pada ketersediaan
anggaran. Hendaknya pengalokasian dana didasarkan pada kebutuhan sekolah, agar
tidak terjadi saling tumpang tindih antara kebutuhan dengan anggaran yang disediakan.
Adakalanya sekolah yang kebutuhannya sedikit, dan ada sekolah yang kebutuhannya
banyak. Jika anggaran semua sekolah sama, di sekolah yang kebutuhannya sedikit akan
memancing timbulnya korupsi karena anggaran yang berlebih, sedangkan di sekolah
yang kebutuhannya banyak akan tetap mengalami kekurangan karena kebutuhannya
tidak terpenuhi.
2) Alokasi dana BOS ‘dipukul rata’ untuk semua sekolah di semua daerah, pada tiap
sekolah memiliki kebutuhan dan masalah berbeda
3) Korupsi dana pada tingkat pusat (Kemendiknas) terutama berkaitan dengan dana safe
guarding.
4) Dinas pendidikan meminta sodokan atau memaksa sekolah untuk membuat pengadaan
barang kepada perusahaan tertentu yang sudah ditunjuk dinas.
5) Kepala sekolah menggunakan dana BOS untuk kepentingan pribadi melalui
penggelapan, mark up, atau mark down.
6) Uang yang dikeluarkan oleh orang tua murid cenderung bertembah mahal walaupun
sudah ada dana BOS.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jelas terlihat bahwa didalam implementasinya,
fungsi pengawasan sangat kurang. Tidak ada partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam
proses implementasi anggaran di semua tingkat penyelenggara, Kemendiknas, dinas pendidikan,
maupun sekolah. Pada tingkat pusat, proses penganggaran pun turut dimonopoli oleh
Kemendiknas, akibatnya kepentingan Kemendiknas lah yang lebih terpenuhi, bukan
mendahulukan yang perlu.
Penyebab yang lain misalnya pada tingkat penyelenggara (Sekolah dan perguruan
tinggi), tidak ada aturan mengenai mekanisme penyusunan anggaran, warga dan stakeholder
tidak memiliki akses untuk mendapat informasi mengenai anggaran sehingga mereka tidak bisa
melakukan pengawasan. Lembaga pengawasan internal seperti Itjen, Bawasda, Bawasko, pun
tidak mampu menjalankan fungsi. Serta pada tingkat sekolah, semua kebijakan baik akademis
maupun finansial direncanakan dan dikelola kepala sekolah, dan komite sekolah dibajak oleh
kepala sekolah sehingga menjadi kepanjangan tangan kepala sekolah.
Kami berpendapat, cara penyelewengan dana BOS yang paling bisa terjadi adalah
melalui setoran awal kepada dinas sebelum dana BOS dicairkan atau didalam sekolah itu sendiri
berhubung sekolah tidak melakukan kewajiban mengumumkan APBS (Anggaran Pendapatan
Belanja Sekolah) pada papan pengumuman sekolah. Selain itu, penyusunan APBS terutama
pengelolaan dana bersumber dari BOS kurang melibatkan partisipasi orang tua murid. Akhirnya,
kebocoran dana BOS di tingkat sekolah tidak dapat dihindari. Serta dokumen SPJ (Surat
Pertanggungjawaban) dana BOS yang kurang atau bahkan tidak dapat diakses oleh publik
apabila ada kebutuhan informasi atau kejanggalan dalam pengelolaan dana BOS.

H. KESIMPULAN DAN SARAN


1. KESIMPULAN
Dalam sebuah sistem, semua komponen pasti terkait.   Perlu ketelitian dalam
membuat kebijakan yang memiliki dampak langsung terhadap sistem.  Dana BOS menjadi
pembicaraan seru pada lembaga-lembaga pendidikan, serta insan yang terkait.  Kita tidak
bisa memandang bahwa Dana BOS hanya masalah yang terkait dengan sekolah atau
pendidikan.  Faktanya, proses penyalurannya memberi dampak terhadap laporan keuangan
pemerintah.
Kedepan perlu dirancang pengaturan yang bersinergi, tujuan mencerdaskan bangsa
terwujud, pelaporan keuangan lebih akurat dan akuntabel.
Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Pendidikan juga memegang
peran penting dalam pembangunan, sehingga kemajua pendidikan sangat dibutuhkan bagi
suatu bangsa yang ingin menuju kemajuan. Untuk kemajuan pendidikan, dibutuhkan
konsentrasi yang tinggi dari berbagai elemen bangsa terutama pemerintah. Dalam UUD
1945, dinyatakan bahwa pendidikan merupakan hak bagi setap warga Negara, dan untuk
program wajib belajar pendidikan dasar, pemerintah berkewajiban untuk mengupayakan
pendanaannya. Selain itu, Perkembangan pendanaan pemerintah melalui APBN mengalami
perkembangan, pengurangan subsidi untuk BBM mempengaruhi besaran subsidi untuk
bidang lainnya, begitu juga dengan pendidikan, salah satu hasinya yaitu adanya pendanaan
Bantuan Operasioanl Sekolah (BOS) dalam pendidikan.
Mekanisme pencairan BOS pada awalnya berasal dari pusat, tapi sejak pertengahan
2010 dana BOS ditransfer ke pemerintah daerah yang akan menjadi sumber APBD. Shingga
saat ini sekolah-sekolah tidak menerima langsung dari rekening pusat, tapi bersumber pada
APBD. Penggunaan dana BOS diperuntukan bagi seluruh biaya operasional ruti sekolah,
sedangkan untuk biaya pembangunan tidak berasal dari BOS.
Penyalahgunaan pengelolaan dana BOS banyak ditemukan di beberapa daerah,
kasus yang paling sering adalah penggelembungan jumlah siswa, penyalahgunan dana, dan
bahkan data dan pelaporan fiktif sering menghiasi surat kabar tentang penyelewengan dana
BOS. Hal ini bisa juga dipicu oleh system yang berjalan, lemahnya pengawasan dan
partisipasi public yang kurang, sehingga menyebabkan tujuan dari adanya subsidi BOS
sendiri menjadi kurang dan cenderung berkurang kebermanfaataannya.
Untuk itu diperlukan tindakan preventif dari setiap lembaga dan elemen dari bangsa
ini untuk kemajuan dan pengefektifan pengelolaan dana BOS. Diantaranya solusi yang kami
tawarkan adalah kembali mengkaji kebijakan yang sudah ditetapkan, karena satu kebijakan
tidak mungkin langsung cocok pada tataran implemntasi. Selain itu, kebijakan dana
berkeadilan juga bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan, karena kondisi orang tua
dan siswa serta sekolah tidak semua sama, sehingga yang mendapatan subsidi adalah orang-
orang yang benar-benar layak mendapatkan subsidi. Pengawasan yang lebih efektif dan
efisien juga mendukung pencapaian tujuan dana BOS. Solusi lain yang bisa dicoba adalah
pendampingan oleh ahli yang kompeten bisa mempermudah pengelolaan dan efektifitas
penggunaan dana BOS, mahasiswa Administrasi Pendidikan, serta ahli dalam bidang
manajerial pendidikan bisa menjadi pendamping utama dan ikut membantu dalam
mengarahkan, hal ini dikarenakan kurangnya tenaga profesioanal terkait administrasi dan
manajemen sekolah yang ada di sekolah.

2. SARAN
Dari pemaparan makalah kami ini kami bisa sedikit memberikan saran kepada bebrpa
pihak, baik pemabaca, pelaku pendidikan, ataupun pelaksana teknis pendidikan, diantaranya:
1. Para stakeholder pendidikan (guru, kepala sekolah, siswa, orang tua murid, masyarakat)
harus ikut mengawasi dan berpartisipasi aktif dalam proses pengelolaan dan BOS. Hal ini
akan sangat berpengaruh kepada efektifitas penggunaan dan BOS.
2. Para pelaku pendidikan atau pihak lembaga pendidikan untuk bisa kooperatif dan terbuka,
asas tranparansi dan akuntabilitas harus dijadikan patokan dalam pengelolaan dana BOS
3. Kepada pemangku kebijakan untuk tetap mengkaji dan mengevaluasi kbijakan yang
dikeluarkan, termasuk efektifitas pengelolaan dana BOS.
DAFTAR PUSTAKA

http://abdurrahimalmunkaribi.blogspot.co.id/2012/06/akuntabilitas-dan-transparansi-sebagai.html
http://gronald-ronald.blogspot.co.id/2011/06/manajemen-kompensasi-sektor-publik.html
http://awasibos.org/liputan/biaya-pendidikan-dana-bos-bocor-dengan-berbagai-modus/
 http://awasibos.org/kabar/darurat-revisi-kebijakan-bos/
 http://www.arifin-kumpulanmakalah.blogspot.com/2012/03/makalah-permasalahan-pengelolaan-
dana.html
http://www.tenagasosial.com/2014/05/makalah-konsep-akuntabilitas-dan.html
http://ruthriridaputri.blogspot.co.id/