Anda di halaman 1dari 15

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan dan Berpikir Sistem

Kesehatan Masyarakat

Dosen Pengampu: dr. Ngakan Putu DS, M.Kes

Oleh:

Syahrina Nurul Hikmah/ 6411418112

Kelas 4C Kesehatan Masyarakat

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berpikir pada system adalah suatu cara berpikir tentang, dan suatu bahasa

untuk menguraikan dan memahami, kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan

antar pribadi yang membentuk prilaku system (Hürlimann and Hürlimann 2009).

Sistem merupakan suatu bentuk integrasi antara satu komponen dan

komponen lain karena sistem memiliki sasaran yang berbeda untuk setiap kasus yang

terjadi di dalam sistem tersebut. Oleh karena itu sistem dapat diklasifikasikan dari

beberapa sudut pandang, seperti contoh sistem fisik (Sutabri 2012). Makalah tersebut

akan menjelaskan tentang berpkir pada system dan sistem fisik.

1.2 Rumusan Masalah

Mempertanyakan tentang berpikir non sistem

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui tentang berpikir non sistem


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem

Sistem berasal dari bahasa latin  systēma dan bahasa Yunani sustēma yaitu

suatu kesatuan yang terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk

memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Secara sederhana, suatu sistem

dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau

variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan

terpadu. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan

yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak.

Berpikir sistemik (systemic thinking) didefinisikan sebagai hal yang lebih

kearah proses memahami dan berpikir bagaimana agar kita memandang suatu sistem

dalam perspektif yang lebih luas, melihat keseluruhan pola berbagai

macam komponen di dalam sistem tadi saling mempengaruhi satu sama lain dalam

suatu kesatuan. Contohnya di dalam suatu organisasi, bagaimana kita memahami

suatu sistem yang terdiri dari orang – orang, struktur dan proses dapat saling bekerja

sama agar membuat organisasi tersebut dapat bekerja dengan baik atau tidak baik.

Dengan berpikir sistemik, kita akan diarahkan untuk melihat suatu

permasalahan sebagai bagian dari suatu sistem secara luas, bukan sebagai suatu

bagian spesifik yang terpisah.  Dengan demikian, akan lebih mudah dalam

mengidentifikasi isu – isu yang ada di suatu sistem / organisasi kemudian berusaha
berpikir lebih luas dan jangka panjang tentang bagaimana mengatasi permasalahan

tersebut.

2.1.1 Komponen sistem

Pada prinsipnya, setiap sistem selalu terdiri atas empat komponen:

1. Objek: berupa bagian, elemen, ataupun variabel. Ia dapat benda fisik, abstrak,

ataupun keduanya sekaligus; tergantung kepada sifat sistem tersebut.

2. Atribut: menentukan kualitas atau sifat kepemilikan sistem dan objeknya.

3. Hubungan internal, di antara objek-objek di dalamnya.

4. Lingkungan, tempat di mana sistem berada.

2.1.2 Konsep system

Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, yaitu tujuan, masukan,

proses, keluaran, batas, mekanisme pengendalian dan umpan balik serta lingkungan.

Berikut penjelasan mengenai elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem:

a. Tujuan

Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), baik hanya satu atau mungkin banyak.

Tujuan inilah yang menjadi motivasi yang akan mengarahkan sistem. Tanpa tujuan,

sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem

dengan sistem yang lain berbeda.

b. Masukan
Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem

dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang

berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang

berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah

informasi. Input berupa komponen – komponen yang membentuk suau kesatuan yang

akan diproses ini, diklasifikasikan berdasar kegunaannya dalam sistem tersebut, yaitu

1. Komponen esensial

Merupakan komponen yang penting dan harus ada dalam menjalankan fungsi

dan mencapai tujuan dari sistem tersebut.

2. Komponen aksesoris

Merupakan komponen yang boleh ada, namun tidak vital dalam fungsi suatu

sistem menjalankan tugasnya.

Suatu komponen sistem, dapat digolongkan menjadi esensial dan aksesoris

tergantung tujuan dari sistem itu sendiri.  Sebuah komponen dapat saja menjadi

esensial bagi suatu sistem, namun di sistem lain bisa saja menjadi tidak esensial.

Seperti halnya antara sistem sepeda motor dan sistem pembelajaran, di lihat dari

tujuannya kedua sistem tersebut memiliki tujuan yang berbeda, maka komponen

misalnya “sumber bahan ajar” yang merupakan komponen esensial di sistem

pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan seseorang, menjadi

tidak esensial pada sistem sepeda motor yang tujuannya sebagai alat transportasi.
Tidak hanya di antara sistem yang berbeda, dalam sistem yang sama pun, bila

tujuannya berbeda, maka komponen yang tadinya esensial dapat juga menjadi

aksesoris, misalnya pada sistem telepon genggam, bila tujuannya sebagai alat

komunikasi dan penghubung antar pengguna, maka komponen pemutar musik

menjadi tidak esensial bila dibandingakan dengan sistem telepon genggam yang

pembuatan dan pemasarannya ditujukan sebagai alat penghibur dengan spesifikasi

edisi musik. Begitulah contoh sederhananya.

c. Proses

Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari

masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai, misalnya berupa

informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya

saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan

mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.

d. Keluaran

Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem Kesehatan,

keluaran bisa berupa kesembuhan pasien atau malah perburukan kondisi pasien.

e. Batas

Yang disebut batas (boundary) sistem adalah pemisah antara sistem dan

daerah di luar sistem (lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang

lingkup, atau kemampuan sistem. Sebagai contoh, rumah sakit memiliki aturan –

aturan yang mengatur jalannya fungsi sistem di rumah sakit tersebut. Tentu saja batas
sebuah sistem dapat dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan mengubah perilaku

sistem. Sebagai contoh, dengan memilih program – program prefentif dan

mengeliminasi program yang kurang di butuhkan saat itu, rumah sakit dapat

menghindar dari adanya keterbatasan biaya.

f. Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik

Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan

menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini

digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah

untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.

g. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa

berpengaruh terhadap fungsi suatu sistem, dalam arti bisa merugikan atau

menguntungkan sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus

ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan fungsional sistem,

sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu

terhadap kelangsungan hidup sistem.


2.2 Berpikir pada Sistem

Berbagai kompleksitas dan karakteristik sistem yang sudah dijelaskan di awal

membawa kita sebuah pemikiran yang menyeluruh terhadap suatu masalah, yaitu

pemikiran yang melibatkan seluruh elemen dalam suatu sistem. Istilah-istilah yang

sering digunakan dan memiliki kesamaan dengan berfikir sistem antara lain

complexity thinking (berfikir kompleks), loop thinking (berfikir non-linier), dan

holism thinking (berfikir holistik).

Berfikir sistem (system thinking) mulai dikembangkan pada awal abad 20 dan

pertama kali diaplikasikan pada bidang Teknik, Ekonomi, dan Ekologi. Masalah pada

bidang kesehatan lambat laun disadari memiliki karakteristik yang kompleks dan

seperti fenomena gunung es. Akhirnya berfikir sistem baru diterapkan awal tahun

2000an yaitu diaplikasikan pada masalahmasalah kesehatan seperti tobacco control,

obesitas, dan TBC.

Berfikir sistem bukanlah metode yang harus dijalani secara runut dan baku,

namun merupakan sebuah karakter atau perilaku yang mencerminkan pemecahan


masalah secara menyeluruh. Manurut Battle-Fisher (2015) dalam bukunya yang

berjudul Application of System Thinking to Health Policy and Public Health Ethics

menyatakan ada delapan karakteristik berfikir sistem yaitu:

a. Memandang masalah secara keseluruhan;

b. Cenderung mendorong pada kemajuan;

c. Selalu melihat adanya ketergantungan antar elemen;

d. Lebih memperhatikan jangka panjang;

e. Fokus pada struktur masalah, bukan saling menyalahkan;

f. Sebelum membuat keputusan, kadang menyertakan/mempertimbangkan

sesuatu yang paradoks (tidak biasa);

g. Membuat pemetaan dan simulasi untuk memperlihatkan sistem; dan

h. Menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem.

Sementara itu WHO dalam laporannya yang berjudul Systems Thinking for

Health Systems Strengthening, membanding dua pendekatan antara pendekatan

umum (usual approach) dengan pendekatan berfikir sistem (system thinking

approach) (Heryana 2017).

SYSTEMS THINKING
USUAL APROACH
APROACH
 Static thinking: hanya fokus pada  Dynamic thinking: melihat masalah
sebagian masalah sebagai akibat dari pola perilaku
sepanjang masa
 Systems-as-effect thinking: melihat  Systems-as-cause thinking: berupaya
perilaku yang terjadi dalam sistem agar perilaku dalam sistem memberikan
merupakan akibat dari lingkungan pengaruh positif bagi lingkungan
 Tree-by-tree thinking: meyakini bahwa  Forest thingking: meyakini bahwa
untuk memahami sesuatu adalah untuk memahami sesuatu adalah
dengan mengetahui setiap detail dari dengan memahami konteks masalah
masalah secara keseluruhan
 Factors thinking: mengidentifikasi  Operational thinking: berfokus pada
faktorfaktor yang mempengaruhi dan akibat dari masalah dan memahami
berhubungan dengan suatu masalah bagaimana hal tersebut bisa terjadi
 Straight-line thinking: memandang  Loop thinking: memandang sebab-
sebabakibat terjadi dalam satu arah, akibat terjadi dalam proses yang selalu
tanpa memperhatikan ketergantungan berjalan
antar faktor

2.3 Berpikir Non Sistem

Organisasi adalah sebuah sistem sosial, bersifat multi-dimensional dan

beraneka rupa (multifaceted). Teori sistem menganggap organisasi sebagai sistem

terbuka yang memiliki batasan (boundary) dan melakukan interaksi dengan

lingkungan, serta harus beradaptasi terhadap perubahan lingkungan untuk bertahan

hidup. Sehingga sangat relevan jika kita mengkaji permasalahan di dalam organisasi

dengan pendekatan cara berfikir sistem (systems thinking). 

Systems thinking berasal dari General Systems Theory yang dikembangkan

oleh Ludwig von Bertalanffy pada tahun 1920-an. Systems thinking berbeda secara

mendasar dengan bentuk analisis tradisional. Pendekatan ini tidak terfokus pada

bagian-bagian terpisah yang sedang diteliti, tetapi terfokus pada hubungan umpan

balik antara sesuatu yang sedang diteliti dan bagian lain dari sistem. Pendekatan ini

tidak melakukan isolasi pada bagian yang lebih kecil dari sistem, tetapi memperluas

cakupannya pada interaksi yang lebih besar. Dengan cara ini systems

thinking menciptakan pemahaman yang lebih baik dari gambar besar. Sehingga dapat
dikatakan bahwa systems thinking lebih holistik dan tidak reduksionis.

Perbedaan Non System Thinking dan System Thinking dari aspek sistem dan bahasa

sistem dapat dibandingkan pada tabel di bawah ini:

Non System Thinking System Thinking

Aspek Sistem Reductionism (Martin dan Holism (Bawden, 1998)


Holwell, 2010)

Dogmatism (Martin dan Pluralism (Bawden, 1998)


Holwell, 2010)

Bahasa Sistem Masalah Situasi Masalah

Solusi (Pemecahan masalah) Resolusi (Perbaikan


keadaan)

Sumber: Jackson (2000) dalam Wilopo (2013)

Ide inti paling mendasar dari systems thinking adalah bahwa sistem

mempunyai sifat yang menyeluruh dan sifat itu tidak akan muncul pada bagian sistem

tersebut secara individu, hal ini disebut sebagai “emergent properties”.

Konsep emergent properties ini berkaitan dengan sebuah pandangan terhadap realitas

sebagai sebuah lapisan hirarki (Checkland dan Scholes, 1990:19).

Pada awalnya konsep sistem merujuk pada “natural systems”, yaitu sistem

yang diciptakan oleh alam, dan “designed systems”, yaitu sistem yang diciptakan oleh

manusia. Namun untuk menjelaskan kompleksitas situasi yang dihadapi oleh

manusia, kemudian dikembangkan konsep Human Activity Sistem, yaitu seperangkat

aktivitas yang disatukan dalam sebuah struktur logika untuk mencapai tujuan

keseluruhan (kemampuan untuk mencapai tujuan menjadi sebuah emergent

property secara keseluruhan).
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Permasalahan

Melihat Sistem Informasi Kesehatan yang ada di Indonesia, maka kita bisa

menilai bahwa penerapannya masih cukup kurang. Khususnya untuk Surveilans yang

berfungsi untuk menggambarkan segala situasi yang ada khususnya perkembangan

penyakit sehingga berpengaruh terhadap derajat kesehatan setiap individu di dalam

populasi yang ada.

3.2 Analisis

Sebagai contoh misal gambaran Sistem Informasi Kesehatan. Timbul berbagai

permasalahan tetrkait penerapan Sistem Informasi kesehatan. Permasalahan yang

sering timbul adalah ketidaksiapan pemerintah, sumber daya manusia, sampai pada

teknis. Daerah yang tidak siap menjalankan program dan teknologi baru dapat

menghambat proses berjalannya SIKDA. Sumber daya manusia yang kurang terlatih

dikarenakan beberapa hal seperti dana untuk pelatihan terbatas, adanya ulah tidak

baik dari pejabat terkait yang memanfaatkan dana pelatihan untuk SDM. selain

kurangnya pelatihan untuk SDM, seringkali hambatan timbul pada saat pengambilan

data, pengelolaan data dan analisis serta input data.

Ketidakcocokan data yang diinput dengan data yang di lapangan dapat

menimbulkan permasalahan baru yang dapat mempengaruhi segala informasi yang

memang didasarkan pada data tersebut. Selain dari pengambilan data, lokasi daerah
yang tidak mendukung untuk proses pengoperasian SIKDA memjadi masalah yang

serius dikarenakan apabila daerah tersebut tidak bias mengakses internet ataupun

keterbatan perangkat computer, maka input data tidak bisa dilakukan.

Kebijakan dari pimpinan mengenai SIKDA juga berpengaruh, seperti contoh

pimpinan yang selalu meminta petugas untuk segera menyelesaikan pengumpulan

data, sedangkan ada beberapa alasan petugas tidak bisa secra tepat waktu

pengumpulkan data, sehingga data kerap kali tidak sinkron dengan keadaan di

lapangan.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berpikir adalah mencari jawaban atas pertanyaan ke diri sendiri (Hidayatno

2016). Maka untuk berpikir sistem perlu rangkaian pertanyaan yang berbasis kepada

ciri-ciri sistem (DeBATIK). Jawaban-jawaban terhadap serangkaian pertanyaan inilah

yang membuat mampu memahami permasalahan secara sistemik.

Semua orang melakukan kegiatan berpikir tanpa terkecuali. Berpikir merupakan

kegiatan dasar yang semua orang lakukan setiap saat. Berpikir selalu dilakukan

karena orang membutuhkan suatu jawaban atas apa yang sedang dipikirkan. Berpikir

dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Berpikir dapat dilakukan saat kita

sedang mengamati sesuatu dan hendak mencari sebuah jawaban dari apa yang kita

amati.

4.2 Saran

Dengan adanya tugas makalah tersebut, mahasiswa dapat berpikir sesuai yang

dianjurkan untuk memecahkan suatu masalah. dengan rasa ragu, penulis menulis

makalah tersebut, dikarenakan keterbatasan pengetahuan tentang materi dalam mata

kuliah kepemimpinan dan berpikir system kesehatan masyarakat. Keadaan tersebut

dapat diatasi dengan penjelasan tentang materi terkait sehingga pertanyaan yang

mengganjal dalam pikiran penulis mendapat jawaban yang akurat dan sesuai dengan

apa yang diharapkan.


Referensi
Heryana, Ade. 2017. “SISTEM: Teori, Pengertian Dan Berfikir Sistem Dalam Bidang
Kesehatan,” no. November 2017: 1–38.
http://adeheryana.weblog.esaunggul.ac.id/wp-
content/uploads/sites/5665/2017/11/Ade-Heryana_Teori-Sistem.pdf.
Hidayatno, Akhmad. 2016. “Berpikir Sistem: Pola Berpikir Untuk Pemahaman
Masalah Yang Lebih Baik.” ResearchGate, no. October 2013: 1–127.
Hürlimann, Mark, and Mark Hürlimann. 2009. “System Thinking.” Dealing with
Real-World Complexity, 59–78. https://doi.org/10.1007/978-3-8349-8074-8_5.
Sutabri, Tata. 2012. Analisis Sistem Informasi. Penerbit Andi.
http://publichealthnumber8.blogspot.com/2013/05/hambatan-hambatan-penerapan-
sik-sistem_9730.html (diakses pada 10 April 2020)
http://rushvanjava.blogspot.com/2017/02/pendekatan-cara-berfikir-sistem-
systems.html (diakses pada 10 April 2020)
http://srihendrawati.blogspot.com/2012/04/berpikir-sistemik.html (diakses pada 10
April 2020)