Anda di halaman 1dari 8

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan dan Berpikir Sistem

Kesehatan Masyarakat

Dosen Pengampu: dr. Ngakan Putu DS, M.Kes

Oleh:

Syahrina Nurul Hikmah/ 6411418112

Kelas 4C Kesehatan Masyarakat

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................ i

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................................. 2

1.2 Rumusan Masalah....................................................................................... 4

1.3 Tujuan Penelitian........................................................................................ 4

BAaB II PEMBAHASAN

2.1 The Fixation on Events......................................................................................... 5

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 7

i
BAB I

PENDAHULIAN

1.1Latar Belakang

Memimpin dan berfikir sistem merupakan salah satu kompetensi yang harus

dimiliki para ahli kesehatan masyarakat saat ini. Dalam Blue Print Uji Kompetensi

Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia yang disusun oleh Ikatan Ahli Kesehatan

Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan

Masyarakat Indonesia (AIPTKMI), ditetapkan ada 8 kompetensi sarjana Kesehatan

Masyarakat, yakni:

1) Kemampuan untuk melakukan kajian dan analisis

2) Kemampuan untuk merencanakan dan terampil mengembangkan kebijakan

kesehatan

3) Kemampuan untuk melakukan komunikasi

4) Kemampuan untuk memahami budaya lokal

5) Kemampuan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat

6) Memahami dasar-dasar ilmu kesehatan masyarakat

7) Kemampuan untuk merencanakan dan mengelola sumber dana

8) Kemampuan untuk memimpin dan berfikir sistem (IAKMI & AIPTKMI,

2012).

2
3

Kesehatan masyarakat perlu dibekali dengan kemampuan berfikir sistem

sebagai bekal dalam melakukan kegiatan untuk peningkatan derajat kesehatan di

komunitas. Konsep sistem merupakan sarana untuk mengidentifikasikan masalah

kompleks. Berfikir sistem menggunakan Konsep Sistem untuk memahami isu-isu

atau entitas yang kompleks. Lalu Pendekatan Sistem menggunakan eknik Berfikir

Sistem untuk memecahkan permasalahan yang kompleks. Akhirnya Rekayasa Sistem

menggunakan Pendekatan Sistem untuk menangani kompleksitas dengan pendekatan

rekayasa (Aslaksen, 2013).

Kepemimpinan bukan hanya sebagai proses dalam memimpin namun juga

sebagai ilmu pengetahuan. Kepemimpinan adalah tindakan mempengaruhi seseorang

untuk mencapai tujuan yang terjadi antara pimpinan dengan bawahan, dengan

pengikut kelompok, atau dengan institusi. Sebagai sebuah ilmu pengetahuan,

kepemimpinan adalah ilmu yang secara sistematik mempelajari proses dan hasil dari

tindakan memimpin, yang tergantung kepada sifat dan perilaku pemimpin,

interpretasi orang terhadap karakter pemimpin, dan atribut yang diberikan orang

terhadap hasil dari kepemimpinan. Berpikir sistem merupakan pemikiran yang

melibatkan seluruh elemen dalam suatu sistem. Kepemimpinan berfikir sistem

merupakan perpaduan antara kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki seorang

pemimpin, antara lain:

a. Memecahkan masalah-masalah kompleks dalam organisasi dengan

pendekatan sistem
4

b. Melakukan rekayasa sistem sehingga dapat mengaplikasikan rekomendasi

pemecahan masalah

c. Mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan pemecahan masalah

1.2 Rumusan Masalah

Dalam buku “The Fifth Discipline.” Oleh Peter M. Senge disebutkan bahwa

ada tujuh kebutaan dalam belajar atau disebut seven learning constraints. Salah satu

seven learning constraints adalah the fixation events. Pembahasan dalam makalah ini

didasari pada pertanyaan, apa yang dimaksud dengan the fixation events?

1.3 Tujuan

Tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui dan

penjelaskan tentang the fixation events.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 The Fixation on Events

The fixation on events adalah ketidakmampuan belajar karena terlalu fokus

pada kejadian jangka pendek. Hal-hal yang sifatnya jangka panjang menjadi luput

dari perhatian (Hidayat 2011). The fixation on event dapat diibaratkan seperti

kacamata kuda yang membatasi penglihatan, kemampuan menelusuri suatu hal sangat

terbatas hanya hal-hal yang sifatnya jangka pendek, sehingga hal-hal atau kejadian

yang bersifat jangka Panjang menjadi terabaikan.

Organisasi yang tidak melakukan pembelajaran, sebagian anggotanya hanya

memikirkan penyelesaian masalah dalam jangka pendek. Disamping itu bila ada

permasalahan, tidak mau memikirkan akar penyebabnya. Peter M. Senge (Senge

2006) menganalogikan kondisi ini dengan ungkapan “the fixation of event”. Sebagai

contoh, program kesehatan yang berupa penyuluhan kepada masyarakat atau kader

kesehatan merupakan intervensi jangka pendek. Seharusnya program kesehatan

berupa penyuluhan disertai dengan pemberdayaan masyarakat sehingga peyelenggara

program kesehatan beserta masyarakat dapat menyelesaikan masalah kesehatan.

Untuk membuat program kesehatan menjadi suatu kegiatan yang bersifat jangka

panjang, maka dilakukan evaluasi dan perencanaan selanjutnya yang dapat

memperbaiki sesuatu

5
6

yang kurang setelah evaluasi atau dapat mempertahankan sesuatu yang baik dari

program kesehatan tersebut (Heryana 2019).

Menurut Purnawan Junadi, the fixation merupakan kecenderungan menangani

masalah yang tampak pada kejadian yang dialami, bukan pada sebab yang

menghasilkan kejadian tersebut, dapat diibaratkan seperti suatu adegan sibuk menata

kembali kursi di geladak Titanic yang sedang tenggelam (Junadi 2014)

Dalam jurnal kesehatan Indonesia yang berjudul Learning Disabilities Dalam

Layanan Kesehatan Ibu Dan Anak: Studi Kasus Di Dinas Kesehatan Dengan Sumber

Daya Terbatas Di Indonesia, Ketika peneliti menanyakan seperti apa pemanfaatan

teknologi seperti internet berperan untuk meningkatkan ilmu dan wawasan, salah satu

staff KIA mengatakan kalau sedang sibuk mengerjakan surat pertanggungjawaban

atau ke lapangan tidak sempat untuk membuka internet. Banyaknya hal-hal yang

harus dilaksanakan membuat tidak fokus. Mulai dari perencanaan sampai dengan

administrasi hingga ke detail pelaksanaanya harus dikerjakan semua. Di sisi yang lain

kebutuhan sebagai makhluk sosial juga harus ditunaikan seperti memenuhi undangan

atau merawat anak sakit. Kesibukan mengerjakan administrasi keuangan dan turun ke

lapangan membuat diskusi isu penting KIA menjadi tidak optimal. Semua waktu dan

tenaga dicurahkan untuk mengerjakan agenda yang bersifat rutinitas saja (Diana,

Hasanbasri, and Hakimi 2017). Kejadian tersebut menjelaskan bahwa masih ada

beberapa penyelenggara program kesehatan yang mengalami learning disabilities

yaitu the fixation events.


DAFTAR PUSTAKA

Diana, Nana, Mubasysyir Hasanbasri, and Mohammad Hakimi. 2017. “Learning

Disabilities Dalam Layanan Kesehatan Ibu Dan Anak: Studi Kasus Di Dinas

Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas Di Indonesia.” Jurnal Kebijakan

Kesehatan Indonesia : JKKI 6 (2): 83–93.

https://doi.org/10.22146/JKKI.V6I2.26922.

Heryana, Ade. 2019. “Kepemimpinan Berfikir Sistem: Aplikasi Pada Bidang

Kesehatan,” 81.

https://www.academia.edu/38734430/Kepemimpinan_Berfikir_Sistem_Aplikasi

_pada_Bidang_Kesehatan.

Hidayat, Topik. 2011. “Universitas Indonesia Faktor – Faktor Yang Berhubungan

Dengan Kecamatan Cisaat Kabupaten Sukabumi Tahun 2011 Skripsi.”

Junadi, Purnawan. 2014. “Kemimpinan Dan 7 Kebutaan.”

http://ocw.ui.ac.id/pluginfile.php/598/mod_resource/content/1/Sesi 2 -

Kepemimpinan dan 7 kebutaan 2014.pdf.

Senge, Peter M. 2006. The Fifth Discipline: The Art and Practice of the Learning

Organization. Broadway Business.