Anda di halaman 1dari 2

1.

Seekor sapi menunjukkan gejala sesak nafas, setelah dibedah didapatkan cairan serofibrinosa
pada pleura (A), fibrinotic pneumonia, speta intralobuler ada pemadatan (B)

A. Contagious bovine
pleuropneumonia
B. Pneumonia Suppurative Kronis
C. Retikolotraumatika
D. Pneumonia mikotik
E. Pneumonia aspirasi

Jawaban : A. Contagious bovine pleuropneumonia


Berdasarkan uraian dari klinis dan pemeriksan postmortem dari gmbar tersebut dapat
disimpulkan bahwa ternak tersebut terinfeksi Mycoplasma mycoides (Abera et al 2016). Infeksi
dari bakteri dinamakan contagious bovine pleuropneumonia (CBPP). Infeksi CBPP memiliki lesi
patognomonik yaitu ditemukan septa interlobular. Septa interlobular pada kasus ini mengalami
pemadan yang disebabkan oleh adanya akumulasi fibrin didalam septa interlobular yang
kemudian fibrin tersebut seiring waktu akan digantikan oleh jaringan ikat. Sesuai dengan
pernyataan Nicholas et al 2009 bahwa septa interlobular pulmonalis yang menonjol keluar terjadi
akibat dilatasi septa interlobular yang disebabkan oleh akumulasi fibrin kedalamnya sehingga
terjadi efek “marbling” pada pulmo. Penebalan pada septa interlobular menyebabkan pemadatan
yang menyebabkan hewan yang terinfeksi mengalami gangguan pernapasan seperti sesak nafas
atau terjadinya dyspne (pernapasan yang pendek). Cairan serofibrinosa biasanya muncul pada
kasus berat. Dimana cairan tersebut muncul akibat adanya akumulasi fibrin pada pembesaran
septa interlobular yang menyebabkan terjadinya trombisis pada sirkulasi darah paru, sehingga
terjadinya eodema pada jaringan dan menjelaskan terjadinya nekrosis iskhemik dan infak
pulmonalis (Admassu et al 2015).
Sedangakan:
B. Pneumonia suppurative kronis menunjukkan batuk berulangkali , laju pernapasan sapi
meningkat diatas 40/menit, hasil nekropsi menunjukkan adanya demarkasi yang tajam antara
paru normal dan paru yang konsolidasi di bagian lobus ventral paru dan terdapat sejumlah
marial purulent pada saluran udara yang utama.(Scott. 2013)
C. Retikulotraumatika terdapat temuan klinis yang abnormal yaitu denyut nadi sekitar
100/menit, jalinan vena jugularis dan selaput lendir pucat dan murmur holodiastolic. Temuan
saat nekropsi yaitu abses pada retikulum dan rumen, peritonitis multifokal yang kronis,
endokarditis, supuratif fibrinoarthritis pada carpus kiri dan endometritis.
D. Pneumonia mikotik terdapat gejala batuk pendek dan produktif dan/atau adanya mucus
hingga mukopurulen, dan dispnea, hasil nekropsi menunjukkan adanya lesi multifokal berupa
granulomatosa hingga peradangan piogranulomatosa pada paru-paru, adanya abses dan kavitasi
bersamaan dengan nekrosis berwarna kuning atau abu-abu .(McMichael. 2020)
E. Pneumonia aspirasi terlihat gejala pyrexia 1040-1050F, punggung melengkung, depresi,
adanya mukus yang bersifat toksik dan peningkatan laju pernapasan (>40-60 /menit). Pneumonia
aspirasi biasanya dibagian anteroventral paru-paru; pada tahap awal terdapat edema interlobular,
bronkus bersifat hiperemis dan penuh buih. Terjadi supurasi dan nekrosis, terjadi pleuritis
fibrinosa akut, dan adanya eksudat pada pleura, terdapat abses kronis dan adhesi fibrosa antara
visceral dan pleura parietal pada hewan yang bertahan hidup. (Scott. 2014)

Sumber:
Abera Zelalem, Mengistu Demitu, Batu Geremew, Wakgari Moti. 2016. Review on contagious
bovine pleuropneumonia and its economic impacts. Academic Journal of Animal
Disease 5(1).
McMichael Maureen. 2020. Fungal Pneumonia in Animals. MSD Manual Veterinary Manual.
Scott R Philip. 2013. Clinical presentation, auscultationrecordings, ultrasonographic findings
and treatment response of 12 adult cattle with chronic suppurative pneumonia
:case study. Irish Veterinary Journal. 66:5
Scott R Philip. 2014. Overview of Aspiration Pneumonia. MSD Manual Veterinary Manual.
Watts AS, Tulley WJ. 2013. Case Report : Sequelae of traumatic reticuloperitonitis in a
Friesian dairy cow. New Zealand Veterinary Journal 6(12); 111-114