Anda di halaman 1dari 11

Nama : Adhe Aprilia Nurshavira

NIM : 6411418107
Rombel : 3 Kesehatan Masyarakat
Mata Kuliah : Dasar Epidemiologi
Dosen Pengampu : Dr.Arulita Ika Fibriana, M.Kes (Epid)

DESAIN STUDI EPIDEMIOLOGI

Studi Deskriptif
Studi Deskirptif adalah studi yang menggambarkan suatu kejadian penyakit / masalah
kesehatan berdasarkan karakteristik orang (person), tempat (place), dan waktu (time). Studi ini
menjawab pertanyaan who, what, when, where.
Jenis penelitian atau studi deskriptif dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Studi populasi
Adalah studi ekologis yang merupakan studi awal dengan seluruh populasi sebagai unit.
Contohnya menghubungkan konsumsi garam dengan kanker oesophagus di Cina.
a. Studi ekologi / korelasi
Studi korelasi merupakan studi epidemiologi yang bertujuan untuk
mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dengan karakteristik suatu populasi
pada waktu yang sama atau pada populasi yang sama pada waktu yang berbeda.
Karakteristik dari populasi yang akan di teliti biasanya tergantung pada minat seorang
peneliti, misalnya, mengenai jenis kelamin, umur, kebiasaan mengkonsumsi makanan
tertentu, obat-obatan, rokok, aktifitas, tempat tinggal dan lain-lain. Contohnya adalah :
 Hubungan antara tingkat penjualan obat anti asma dengan jumlah kematian yang
diakibatkan oleh penyakit asma.
 Hubungan antara jumlah konsumsi rokok pada satu wilayah dengan jumlah
kematian yang diakibatkan oleh penyakit paru.
2. Studi Individu, terdiri dari :
a. Case report
Merupakan studi kasus yang bertujuan mendeskripsikan manifestasi klinis,
perjalanan klinis, dan prognosis kasus. Laporan kasus merupakan rancangan studi yang
menggambarkan kejadian satu kasus baru yang menarik, misalnya terjadi kasus
keracunan merthyl mercuri di Teluk Minimata Jepang.
Case report mendeskripsikan cara klinis mendiagnosis dan memberi terapi
kepada kasus, dan hasil klinis yang diperoleh. Selain tidak terdapat kasus pembanding,
hasil klinis yang diperoleh mencerminkan variasi biologis yang lebar dari sebuah kasus,
sehingga, case report kurang andal (reliabel) untuk memberikan bukti empiris tentang
gambaran klinis penyakit.
b. Case series
Menurut National Cancer Institute (NCI) dari National Institute of Health,
Departemen Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan Amerika Serikat, “case series”
merupakan serangkaian-serangkaian laporan pasien (serangkaian case report) yang
melibatkan pengobatan yang diberikan. Hal ini berisi data diri pasien yang meliputi
informasi demografis (seperti usia, seks, etnis) dan informasi tentang diagnosis,
pengobatan, perawatan, sampai dengan tindak lanjut setelahnya.
Case series digunakan ketika penyakit yang diteliti bukan penyakit biasa dan
disebabkan oleh pajanan eksklusif (seperti vinyl chloride dengan angiosarcoma). Hal ini
merupakan hal pertama yang bisa dilakukan untuk menemukan petunjuk dalam
identifikasi sebuah penyakit baru dan untuk melihat dampak pajanan bagi kesehatan.
Karena merupakan laporan per pasien tanpa populasi control sebagai
perbandingan, case series tidak memiliki validitas statistik.
Case series berguna untuk mendeskripsikan spectrum penyakit, manifestasi klinis,
perjalanan klinis, dan prognosis kasus. Case series banyak dijumpai dalam literature
kedokteran klinik. Tetapi desain studi ini lemah untuk memberikan bukti kausal, sebab
pada case series tidak dilakukan perbandingan kasus dengan non-kasus. Case series
dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji dengan desain studi
analitik.
c. Cross Sectional (studi potong-lintang)
Cross sectional meliputi studi prevalensi dan survey berguna untuk
mendeskripsikan penyakit dan paparan pada populasi di satu titik waktu tertentu. Data
yang dihasilkan dati studi potong-lintang adalah data prevalensi. Tetapi studi potong-
lintang dapat juga digunakan untuk meneliti hubungan paparan-penyakit, meskipun bukti
yang dihasilkan tidak kuat untuk menarik kesimpulan kausal antara paparan dan penyakit,
karena tidak dengan desain studi ini tidak dapat dipastikan bahwa paparan mandahului
penyakit.
Studi cross sectional adalah sebuah studi deskriptif tetang penyakit dan status
paparan diukur secara bersamaan dalam sebuah populasi tertentu. Studi ini mempelajari
hubungan penyakit dengan paparan secara acak terhadap satu individu dimana faktor
pencetus dan status penyakit diteliti pada waktu yang sama.
Studi cross sectional berpikir bagaimana menyediakan sebuah snapshot
(gambaran) frekuensi dan karakteristik dari penyakit di populasi pada suatu titik dalam
waktu tertentu. Penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun eksplanatif,
peneltian ini mampu menjelaskan hubungan suatu variable dengan variable lain pada
populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatu model atau rumusan hipotesis serta
tingkat perbedaan diantara kelompok sampling. Data jenis ini dapat dgunakan untuk
menilai prevalensi dari kondisi akut atau kronis di sebuah populasi.
Bagaimanapun, sejak eksposur dan status penyakit yang diukur pada titik yang
sama dalam waktu tertentu, itu tidak akan mungkin untuk dibedakan apakah pemaparan
mengawali atau mengikuti penyakit itu, dan dengan demikian, hubungan penyebab dan
efek tidak pasti. Peneltian ini tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan dinamika
perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang diamatinya dalam periode waktu
yang berbeda, serta variable dinamis yang memperngaruhinya.
Tujuan penelitian cross sectional menurut Budiarto, yaitu :
1. Mencari prevalensi serta insidensi satu atau beberapa penuakit tertentu yang terdapat di
masyarakat.
2. Memperkirakan adanya hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit tertentu dengan
perubahan yang jelas.
3. Menghitung besarnya risiko tiap kelompok, risiko relative, dan risiko atribut.

Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut :


1. Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode
deskriptif.
2. Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.
3. Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.
4. Melakukan studi putaka yang berkaitan dengan permasalahan
5. Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian-penelitian dan atau hipotesis
peneltian.
6. Mendesain metode peneltian yang hendak digunakan termasuk dalam hal menentukan
populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrument, mengumpulkan data, dan
menganalisis data.
7. Mengumpulkan, mengorhanisasikan, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik
statistika yang relevan.
8. Melakukan pengolahan dan analisis data (menguji hipotesis)
9. Menarik kesimpulan atau generalisasi
10. Membuat laporan penelitian.

Studi Analitik
Studi analitik adalah studi yang menjelaskan mengapa penyakit / masalah kesehatan timbul.
Mencari sebab-akibat. Studi ini menjawab pertanyaan why / how.
1. Studi Observasional
Studi dimana peneliti hanya mengamati ada / tidaknya faktor risiko / paparan pada subjek
yang diteliti. Peneliti tidak melakukan suatu perlakuan / intervensi.
Dengan studi observasional peneliti tidak sengaja memberikan intervensi, melainkan hanya
mengamati (mengukur), mencatat, mengklasifikasikan, menghitung, dan menganalisis
(membandingkan) perubahan pada variable-variabel pada kondisi yang alami. Studi
observasional mencakup studi kasus control dan studi kohor.
Agar diperoleh kesimpulan yang benar secara internal (validitas internal) tentang hubungan /
pengaruh variable, maka peneliti harus mengontrol bias dan kerancuan (confounding). Peneliti
harus menghindari bias dalam memilih subjek penelitian (bias seleksi) dan bias dalam mengukur
variable (bias informasi, bias pengukuran). Kerancuan dapat dicegah pada tahap desain
penelitian, yaitu (1) restriksi, (2) pencocokan, atau dikontrol pada tahap data, yaitu (1) analisis
berstrata, dan (2) analisis multivarial.
a. Case control
Penelitian kasus control merupakan penelitian yang membandingkan kelompok kasus dan
kelompok control berdasarkan status paparannya. Pemilihan subjek berdasarkan status
penyakitnya, apakah mereka menderita (group kasus) atau tidak (group control) untuk kemudian
dilakukan amatan apakah subjek tidak mempunyai riwayat terpapar atau tidak.
Tahap-tahap penelitian case control adalah sebagai berikut :
1) Menentukan pertanyaan penelitian dan hipotesis
2) Identifikasi variable-variabel penelitian (bebas, tergantung)
3) Identifikasi objek penelitian (populasi,sampel)
4) Identifikasi kasus
5) Pemilihan subjek sebagai control
6) Melakukan pengukuran retrospektif (kebelakang) untuk melihat faktor resiko
7) Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variable objek dengan variable
control
Contoh sederhana : penelitian tentang hubungan antara malnutrisi pada anak balita dan
perilaku pemberian makanan oleh ibu
Adapun beberapa cara untuk memilih control yang baik,yaitu :
 Memilih kasus dan control dari populasi yang sama. Misalnya kasus adalah semua
pasien dalam populasi tertentu sedangkan kontrolnya diambil secara acak dari populasi
sisanya. Bisa juga dari yang sudah ditentukan sebelumnya yang lebih kecil.
 Matching. Yaitu memilih control yang mempunyai karakter yang sama dengan kasus
dalam semua variable yang mungkin berperan sebagai faktor risiko tetapi yang tidak
diteliti. Apabilang matching dilakukan dengan baik, maka berbagai jenis variable yang
mungkin berperan terhadap kejadian penyakit (kecuali yang sedang diteliti) dapat
disamakan, sehingga didapat assosiasi yang lebih kuat antara variable yang sedang
diteliti dengan pnyakit. Keuntungan lainnya yaitu subjek penelitian yang diteliti
menjadi lebih sedikit. Akan tetapi jangan sampai terjadi overmatching yaitu
melakukan matching terhadap variable yang mempengaruhi pejanan faktor resiko,
sehingga akan didapatkan resiko relative yang terlalu rendah. Terlalu banyak faktor
yang disamakan juga menyebabkan kesulitan untuk mencari control.
 Cara lain ialah dengan memilih lebih dari satu kelompok control. Karena sukar
mencari kelompok control yang benar benar sebanding maka dapat dipilih lebih dari
satu kelompok control yang berbeda lokasi dan demografinya yang tidak terlalu
berbeda jauh. Tetapi bila didapatkan perbedaan yang cukup besar antara kedua
kelompok tersebut, maka berarti salah satu atau kedua hasil tersebut tidak sahih
(terdapat bias) dan perlu diteliti dimana letak biasnya.
b. Penelitian Kohort
Merupakan penelitian yang dimulai dengan sekelompok orang (kohort) yang bebas
dari penyakit, subjek dibagi atas dasar ada atau tidaknya paparan kemudian diikuti hingga
munculnya penyakit pada tiap group.
Penelitian kohort sering disebut penelitian prospektif yaitu penelitian non
eksperimental yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara faktor resiko dengan
efek. Seperti telah diuraikan sebelumnya, penelitian kohort adalah suatu penelitian yang
digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dan efek melalui
pendekatan longitudinal kedepan. Artinya, faktor resiko yang akan dipelajari
diidentifikasi dulu, kemudian diikuti kedepan secara prospektif timbulnya efek.
Dalam penelitian ini akan dibagi 2 kelompok, yaitu kelompok resiko dan kelompok
tanpa resiko, kemudian kedua kelompok diikuti sampai batas waktu tertentu untuk
menentukan ada tidaknya efek yang diteliti. Subjek yang dipilih dari populasi yang
memenuhi criteria inklusi dan eksklusi penelitian.
Pemantauan sederhana ini sifatnya deskriptif akan tetapi pada umumnya penelitian
bersifat analitik, yakni mempelajari hubungan antara variable bebas (faktor resiko) dan
variable tergantung (efek).
Kesimpulan hasil penelitian ini akan membandingkan proporsi subjek yang menjadi
efek positif antara kelompok subjek yang diteliti dengan faktor resiko positif dengan
kelompok subjek dengan faktor resiko negatif (control).
Prosedur penelitian kohort :
1) Tentukan kelompok terpapar dan group tidak terpapar
2) Amati hingga mereka skit atau tidak
Jenis penelitian kohort ada dua jenis, yaitu :
 Kohort Prospektif
Penelitian dimana paparan sedang atau akan berlangsung pada saat
peneliti memulai penelitiannya, jadi melihat kedepan (forward looking), studi
insidens, ditandai dengan populasi referensi (bebas sakit).
Penelitian non eksperimen yang paling baik dalam mengkaji hubungan
antara faktor-faktor resiko dengan efek. Seperti teah diuraikan sebelumnya,
faktor resiko yang akan dipelajari diidentifikasi dulu, kemudian diikuti
kedepan secara prospektif timbulnya efek.
Dalam merencanakan peneltian prospektif, harus dibuat rancangan
analisisnya agar orang dapat mengetahui analisis yang dilakukan oleh peneliti
sehingga mudah dilakukan evaluasi terhadap hasil penelitian.
 Kohort Retrospektif (Historical Kohort)
Penelitian dimana paparan telah terjadi sebelum penelitian memulai
penelitiannya sehingga peneliti merekonstruksi populasi terpajan dan tidak
terpajan melalui catatan medic.

Kasus kontrol Kohort


KEKUATAN KEKUATAN
- Relative cepat dan mahal - Baik untuk evaluasi pemaparan yang
jarang
- Optimal untuk kejadian yang jarang, - Mempelajari multiple pemaparan
misalnya kanker organ spesifik - Mendapat incidence rate
- Relative efisien, memerlukan sampel - Mudah mendapatkan hubungan
yang kecil temporal
- Sedikit masalah pengurangan periode - Bias seleksi kecil
investigasi dan beberapa subjek - Dapat menemukan penyakit lain/
menolak kerja sama multiple efek dari suatu exposure
KELEMAHAN KELEMAHAN
- Inefesiensi untuk pemaparan jarang - Inefesiensi untuk penyakit yang jarang
- Tidak dapat incidence rate - Tidak selalu layak jangka panjang
- Sulit mendapatkan hubungan temporal - Mahal dan menyita waktu
- Jumlah sampel sangat besar
- Bias seleksi berpeluang besar - Rentan dengan hilangnya subjek
- Masalah etika
- Sangat sulit memperoleh informasi bila - Rentan dengan perubahan individu,
periode terlalu lama lingkungan, tipe intervensi

2. Studi Intervensional / Eksperimental


Studi dimana peneliti melakukan perlakuan / intervensi (pemberian faktor risiko / paparan)
pada subjek yang akan diteliti.
Dengan studi ini, peneliti meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai level
intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek dari berbagai level intervensi
kepda subjek penelitian dan membandingkan efek dari berbagai level intervensi itu. Kelompok
subjek yang mendapatkan intervensi disebut kelompok ekperimental (kelompok intervensi).
Kelompok subjek yang tidak mendapatkan intervensi atau mendapatkan intervensi lain disebut
kelompok control. Kelompok control mendapatkan intervensi kosong (placebo,sham treatment),
intervensi lama (standar), atau intervensi dengan level / dosis yang berbeda.
OBSERVASI INTERVENSI
Jika masalah kesehatan yang diteliti sering Jika masalah kesehatan yang diteliti jarang
ditemukan ditemukan
Jika bermaksud untuk mencari penjelasan Jika bermaksud untuk lebih menjelaskan
pertama hubungan sebab-akibat hubungan sebab-akibat
Jika tidak ada hambatan dalam etika penelitian Jika tidak ada hambatan dalam etika penelitian
Jika diduga akibat yang ditimbulkan terlalu Jika diketahui akibat yang ditimbulkan tidak
berbahaya berbahaya
jika hanya ingin mengetahui tendensi Jika ingin mengetahui hubungan kausal yang
hubungan kausal saja sebenarnya

Rancangan studi eksperimen adalah jenis penelitian yang dikembangkan untuk


mempelajari fenomena dalam kerangka korelasi sebab-akibat. Menurut Bhisma Murti rancangan
studi ini digunakan ketika peneliti atau oranglain dengan sengaja memperlakukan berbagai
tingkat variabel independen kepada subjek penelitian dengan tujuan mengetahui pengaruh
variabel independen tersebut terhadap variabel dependen.
Berdasarkan penelitian tersebut studi eksperimen (studi perlakuan atau intervensi dari
situasi penelitian ) terbagi dalam dua macam yaitu rancangan eksperimen murni dan quasi
eksperimen.
a) Rancangan eksperimen murni
Eksperimen murni adalah suatu bentuk rancangan yang memperlakukan dan
memanipulasi sujek penelitian dengan kontrol secara ketat.
Penelitian eksperimen mempunyai ciri:
1. Ada perlakuan, yaitu memperlakukan variabel yang diteliti (memanipulasi suatu
variabel).
2. Ada randominasi, yaitu penunjukan subjek penelitian secara acak untuk
mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat faktor penelitian.
3. Semua variabel terkontrol, eksperimen murni mampu mengontrol hampir semua
pengaruh faktor penelitian terhadap variabel hasil yang diteliti.
b) Quasi Eksperimen (eksperimen semu)
Quasi Eksperimen (eksperimen semu) adalah eksperimen yang dalam mengontrol
situasi penelitian tidak terlalu ketat atau menggunakan rancangan tertentu dan atau
penunjukkan subjek penelitian secara tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari
berbagai tingkat faktor penelitian.
Ciri dari quasi eksperimen:
1. Tidak ada randominasi, yaitu penunjukkan sujek penelitian secara
tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat
faktor penelitian. Hal ini disebabkan karena ketika pengalokasian faktor
penelitian kepada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis, atau tidak
praktis menggunakan randominasi.
2. Tidak semua variabel terkontrol karena terkait dengan pengalokasian
faktor penelitian kepada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis, atau tidak
praktis menggunakan randominasi sehinggasulit mengontrol variabel secara
ketat.

Kriteria memilih desain studi :

1. Masalah penelitian dan hipotesis


2. Waktu yang tersedia untuk penelitian.
3. Sumber daya yang tersedia untuk penelitian.
4. Penyakit umum atau langka.
5. Jenis variabel hasil yang diteliti.
6. Kualitas data yang akan diperoleh dari barbagai sumber.

REFERENSI

https://www.academia.edu/36564180/studi_EPIDEMIOLOGI

https://www.academia.edu/10200082/Epidemiologi_Deskriptif_-_Tsabit
https://www.scribd.com/doc/224123296/Epidemologi-Analitik-Adalah-Epidemiologi-Analitik-
Menguji-Hipotesis-Dan-Menaksir