Anda di halaman 1dari 25

RESUME DESAIN KOHORT, DESAIN CROSS SECTIONAL,

DESAIN CASE CONTROL

Dosen Pengampu : dr. Arulita Ika Fibriana, M.Kes(Epid).

Nama : Anna Nugrahani


NIM : 6411418105
Rombel :3

KESEHATAN MASYARAKAT
TAHUN 2019
UNVERSITAS NEGERI SEMARANG
Desain Kohort

Pada desain kohort, kita hanya mengobservasi sehingga kita tidak dapat memberikan
intervensi atau faktor paparan secara random pada kelompok paparan dan tidak paparan. Pada
pembahasan ini akan dibahas mengenai penelitian eksperimental atau intervensi (intervention
trial). Tujuan dari penelitian eksperimental adalah untuk mengukur efek dari suatu intervensi
terhadap hasil tertentu yang diprediksi sebelumnya.
Desain ini merupakan metode utama untuk menginvestigasi terapi baru.Misal, efek
dari obat X dan obat Y terhadap kesembuhan penyakit Z atau efektivitas suatu program
kesehatan terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Beberapa contoh penelitian dengan
desain eksperimental, seperti mengukur efektivitas penggunaan antibiotik terhadap perawatan
wanita dengan gejala infeksi saluran urin dengan hasil tes urin negatif atau negative urine
dipstict testing, efektivitas program MEND (Mind, Exercise, Nutrition, Do it) terhadap
tingkat obesitas pada anak-anak dan efektifitas kawasan tanpa rokok (non-smoking area)
pada tingkat rumah tangga di Kabupaten Ogan Ilir pada tahun 2014, Sumatera Selatan
(Najmah dkk, 2014).
Kelebihan penelitian eksperimental adalah memungkinkan untuk dilakukan
randomisasi dan melakukan penilaian penelitian dengan double-blind. Teknik randomisasi
hanya dapat dilakukan pada penelitian intervensi dibandingkan penelitian observasional.
Dengan teknik randomisasi, peneliti bisa mengalokasikan sampel penelitian ke dalam dua
atau lebih kelompok berdasarkan kritieria yang telah ditentukan peneliti (gambar 1, 2) lalu
diikuti ke depan.
Teknik randomisasi bertujuan untuk menciptakan karakteristik antar kelompok
hampir sama dalam penelitian. Kemudian, desain ini juga memungkinkan peneliti melakukan
double-blind, dimana peneliti maupun responden tidak mengetahui status responden apakah
termasuk dalam kelompok intervensi atau non-intervensi. Kekuatan desain ini bisa
meminimalisir faktor perancu yang dapat menyebabkan bias dalam hasil penelitian.
Kelemahan penelitian eksperimental berkaitan dengan masalah etika, waktu dan
masalah pengorganisasian penelitian. Intervensi biasanya berkaitan dengan manusia, dan
membutuhkan kerjasama dari responden pada kelompok intervensi atau non intervensi,
tenaga kesehatan, peneliti, laboran dan sebagainya terkait dengan penelitian, sehingga butuh
managemen yang tidak mudah karena melibatkan banyak pihak.
Bonita (2006) mengelompokkan studi klinis menjadi beberapa tipe (1), antara lain:

Secara garis besar, desain eksperimental dalam epidemiologidibagi menjadi dua


kelompok besar:
1. Penelitian eksperimen atau randomised controlled trial (RCT)
2. Penelitian eksperimen klaster / cluster randomised controlled trial (Cluster RCT)
Eksperimen dengan desain RCT umumnya dilakukan untuk intervensi secara individu
seperti percobaan obat baru, efektivitas vaksin sedangkan kluster RCT dilakukan untuk
intervensi secara kelompok (cluster) seperti untuk melihat efektivitas promosi dan pelayanan
kesehatan. Dalam perhitungan analisa statistik dan perhitungan sampel, korelasi dan jumlah
kluster lebih harus diperhitungkan dibandingkan desain RCT yang berasumsi setiap individu
itu mandiri.
Berikut perbedaaan RCT dan cluster RCT secara umum:

A. Kelebihan Penelitian Kohort
1. Dapat membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok subyek dengan faktor risiko
positif dan subyek dari kelompok control sejak awal penelitian.
2. Secara langsung menetapkan besarnya angka risiko dari waktu ke waktu.
3. Keseragaman observasi terhadap faktor risiko maupun efek dari waktu ke waktu.

B. Kekurangan Penelitian Kohort
1. Memerlukan waktu penelitian yang relative cukup lama.
2. Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih rumit.
3. Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out sehingga mengurangi ketepatan
dan kecukupan data untuk dianalisis.
4. Menyangkut etika sebab faktor risiko dari subyek yang diamati sampai terjadinya efek,
menimbulkan ketidaknyamanan bagi subyek.

C. Contoh Penelitian Retrospektif Kohort


Penelitian yang dilakukan oleh National Institute for Occupational Safety and Health
(NIOSH) yang bertujuan untuk menguji hipotesis bahwa energy yang dihasilkan oleh
video display terminal (VDT’s) dimungkinkan dapat menybabkan keguguran secara
spontan.

Desain Cross Sectional


Studi cross sectional (potong-lintang) adalah rancangan studi epidemiologi yang
mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati
status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal, pada satu
saat atau periode tertentu.
Dalam rancangan studi potong lintang, peneliti mendapatkan data frekuensi dan karakter
penyakit, serta paparan faktor penelitian pada suatu populasi dan pada satu saat tertentu.
Sehingga data yang dihasilkan adalah prevalensi bukan insiden. Tujuan studi cross sectional
adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan determinan-determinannya pada
populasi sasaran.
A. Rancangan Penelitian Cross Sectional

B. Kelebihan Studi Cross Sectional


1. Mudah dilaksanakan
2. Sederhana dan ekonomis dalam hal waktu dan biaya
3. Dapat diperoleh dengan cepat
4. Dalam waktu yang bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak, baik variabel
efek maupun variabel risiko
5. Tujuannya hanya sekedar untuk mendiskripsikan distribusi penyakit yang
dihubungkan dengan paparan faktor-faktor penelitian
6. Studi cross sectional tidak memaksa subyek untuk mengalami faktor yang
diperkirakan bersifat merugikan
7. Kemungkinan subjek “drop out” kecil
8. Tidak banyak hambatan etik
9. Dapat digunakan sebagai dasar penelitian selanjutnya

C. Kelemahan Studi Cross Sectional


1. Diperlukan subjek penelitian yang besar. Sehingga sulit untuk mengadakan eksplorasi,
karena kemungkinan terdapat subyek studi yang terlalu sedikit dalam salah satu
kelompok.
2. Studi cross sectional tidak tepat digunakan untuk menganalisis hubungan kausal
paparan dan penyakit.
3. Penggunaan data prevalensi, bukan insidensi menyebabkan hasil study potong lintang
mencerminkan tidak hanya aspek etiologi penyakit tetapi juga aspek survivalitas
penyakit itu.
Jika data yang digunakan adalah prevalensi dan telah terjadi kelangsungan
hidup selektif, maka frekuensi penyakit yang diamati akan lebih besar dari frekuensi
penyakit yang seharusnya diukur. Sebaliknya jika data prevalensi tersebut telah terjadi
mortalitas selektif, maka frrekuensi penyakit yang teramati akan lebih sedikit daripada
frekuensi penyakit yang seharusnya diukur.
4. Sulit menetapkan mekanisme sebab akibat.
5. Tidak dapat memantau perubahan yang berhubungan dengan perjalanan waktu.
6. Kesimpulan korelasi paling lemah dibanding cohort.
7. Tidak menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat.
8. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan.
9. Kesimpulan korelasi faktor risiko dengan factor efek paling lemah.

D. Contoh Studi Cross Sectional


Penelitian untuk membuktikan adanya hubungan antara kanker paru dengan
merokok. Tahapan penelitian ini adalah:
1. Tahap pertama
Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukannya:
 Variabel efek (dependen) = kanker paru
 Variabel risiko (independen) = merokok
 Variabel pengendali = umur pekerjaan dan sebagainya
2. Tahap kedua
Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sample penelitian. Misalnya
yang menjadi populasi adalah semua pria di wilayah tertentu , dengan umur 30-50
tahun, baik yang merokok dan tidak merokok.
3. Tahap ketiga
Melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran terhadap variabel
efek dengan risiko dan variabel yang dikendalikan secara bersamaan (dalam waktu
yang sama). Caranya,dengan menanyakan apakah menderita kanker paru, memiliki
kebiasaan merokok, menanyakan umur, pekerjaandan variabel kendali lainnya.
4. Tahap keempat
Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan penderita
cancer paru dengan kebiasaan merokok. Dari analisis tersebut akan diperoleh bukti
adanya atau tidaknya hubungan antara merokok dengan kanker paru.

E. Ukuran Analisis
1. Prevalen Risk (PR)
2. Relative Risk (RR)

Nilai RR yaitu:
a/(a+b) : c/(c+d)

Interpretasi:
1. RR = 1, faktor risiko bersifat netral
2. RR > 1; Confident Interval (CI) > 1, faktor risiko menyebabkan sakit
3. RR< 1; Confident interval (CI) < 1, faktor risiko mencegah sakit
Desain Case Control
Studi Case Control adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan
antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok
kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi kasus kontrol
adalah pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan
apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak.
Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut kasus, berupa insidensi/ kasus
baru yang muncul pada suatu populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut
kontrol, yangdicuplik secara acak dari populasi yang berbeda dari populasi asal.
A. Rancangan Penelitian Case Control :

B. Kelebihan Studi Case Control


1. Case kontrol bersifat relatif lebih murah dan mudah.
2. Cocok untuk penelitian dengan periode laten yang panjang.
3. Karena subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit, maka penelitian
memiliki kelulasaan menentukan rasio ukuran sampel kasus dan kontrol yang optimal.
Karena subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit sehingga rancangan ini
tepat sekali untuk meneliti penyakit langka.
4. Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit.
5. Adanya kesamaan ukuran waktu antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol.
6. Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil penelitian lebih
tajam dibanding dengan rancangan cross sectional.
7. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau cohort.
8. Subjek penelitian bisa lebih sedikit.

C. Kelemahan Studi Case Control


1. Alur metodologi inferensial kausal yang bertentangan dengan logika eksperimen klasik.
2. Studi case kontrol tidak efisien untuk mempelajari paparan-paparan yang langka.
3. Karena subjek dipilih berdasarkan status penyakit, maka dengan studi kasus kontrol
pada umumnya peneliti tidak dapat menghitung laju insidensi.
4. Pada situasi tertentu tidak mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan
dan penyakit. Oleh karena itu, dalam riset etiologi, untuk meyakinkan bahwa paparan
mendahului penyakit, maka peneliti dianjurkan menggunakan insidensi ketimbang
prevalensi.

D. Contoh Penelitian Case Control:


Penelitian untuk membuktikan adanya hubungan antara kancer paru dengan merokok.
Tahapan penelitian ini adalah:
1. Tahap pertama
Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukannya:
 Variabel efek (dependen) = kanker paru
 Variabel risiko (independen) = merokok
 Variabel pengendali = umur pekerjaan dan sebagainya
2. Tahap kedua
Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sample penelitian. Misalnya
yang menjadi populasi adalah semua pria di wilayah tertentu , dengan umur 30-50
tahun, baik yang merokok dan tidak merokok.
3. Tahap ketiga
Mengidentifikasi kasus penderita kanker paru. Dalam identifikasi kasus ini
dilakukan pembatasan jenis kelamin yaitu pria dan berumur 30-50 tahun.
4. Tahap keempat
Pemilihan subjek kontrol, yaitu kelompok pasangan penderita kanker paru.
Pemilihan berdasarkan kesamaan karakteristik subjek pada kasus.
5. Tahap kelima
Melakukan pengukuran retrospektif dengan menanyakan perilaku dan
kebiasaan sebelum terkena kanker paru.
6. Tahap keenam
Melakukan pengolahan dan analisis data, dengan cara membandingkan
proporsi kebiasaan merokok dan tidak merokok pada kelompok kasus dan proporsi
kebiasaan yang sama pada kelompok kontrol. Dari sini akan diperoleh ada tidaknya
hubungan kebiasaan merokok dengan penyakit kanker paru.

E. Ukuran atau Analisis


Analisis data dalam penelitian kasus control dengan menghitung Odds Ratio (OR),
yang merupakan estimasi dari Relative Risk.

Odds Ratio = ad : bc
Confidence Interval Odds Ratio = upper OR ( 1+Z/X )
= lower OR ( 1- Z/X )
Interpretasi:
OR = 1 faktor resiko bersifat netral
OR>1; Confident Interval (CI)>1 = faktor resiko menyebabkan sakit
OR<1 ; Confident Interval (CI)<1 = faktor resiko mencegah sakit

Epidemiologi Deskriptif

A. Populasi
1. Studi Korelasi
Pengertian studi ekologi atau studi korelasi populasi adalah studi epidemiologi
dengan populasi sebagai unit analisis, yang bertujuan mendeskripsikan hubungan
korelatif antara penyakit dan faktor-faktor yang diminati peneliti. Faktor-faktor
tersebut misalnya, umur, bulan, obat-obatan. Unit observasi dan unit analis pada studi
ini adalah kelompok (agregat) individu, komunitas atau populasi yang lebih besar.
Agregat tersebut biasanya dibatasi oleh secara geografik, misalnya penduduk
provinsi, penduduk kabupaten atau kota, penduduk negara, dan sebagainya. Penelitian
korelasi atau ekologi adalah suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat
hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untukmempengaruhi variabel
tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi variabel.
Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting karena dengan mengetahui
tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan
tujuanpenelitian. Jenis penelitian ini biasanya melibatkan ukuran statistik tingkat
hubungan yang disebut dengan korelasi. Penelitian korelasional menggunakan
instrumen untuk menentukan apakah, dan untuk tingkat apa, terdapat hubungan antara
dua variabel atau lebih yang dapat dikuantitatifkan.
Penelitian korelasional dilakukan dalam berbagai bidang diantaranya
pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Penelitian ini hanya terbatas pada panafsiran
hubungan antar variabel saja tidak sampai pada hubungan kausalitas, tetapi penelitian
ini dapat dijadikan acuan untuk jadi penelitian selanjutnya seperti penelitian
eksperimen. Karakteristik dari populasi yang akan di teliti biasanya tergantung pada
minat seorang peneliti, misalnya, mengenai jenis kelamin, umur, kebiasaan
mengkonsumsi makanan tertentu, obat-obatan, rokok, aktifitas, tempat tinggal dan
lain-lain.
a. Kekuatan Studi Ekologi
- Kekuatan pada studi ekologikal adalah dapat menggunakan data insidensi
,prevalensi maupun mortalitas( data sekunder).
- Rancangan ini tepat sekali digunakan pada penyelidikan awal hubungan
penyakit, sebab mudah dilakukan dan murah dengan memanfaatkan informasi
yang tersedia.
- Dapat mengevaluasi program, kebijakan dan regulasi.
b. Kelemahan Studi Ekologi
- Studi ekologi tak dapat dipakai untuk menganalisis hubungan sebab akibat
karena dua alasan.
 Alasan pertama adalah ketidakmampuan menjembatani kesenjangan
status paparan dan status penyakit pada tingkat populasi dan individu.
 Alasan kedua adalah studi ekologi tak mampu untuk mengontrol faktor
perancu potensial.
c. Karakteristik Studi Korelasi
- Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin
melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian
eksperimen.
- Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam lingkunagan nyata.
- Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan.
d. Tujuan Studi Korelasi
- Mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dnegan
variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien
relasi.
- Menentukan hubungan antara variabel sehingga dapat menggunakannya untuk
membuat prediksi.
e. Rancangan Penelitian Korelasional
1. Korelasi Bivariat
Rancangan penelitian korelasi bivariat adalah suatu rancangan
penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua
variabel.hubungan anatra dua variabel diukur. Hubungan tersebut mempunyai
tingkatan dan arah. Tingkat hubungan (bagaimana kuatnya hubungan)
biasanya diungkapkan dalam angka antar -1,00 dan +1,00 yang dinamakan
koefisien korelasi. Korelasi (0) mengindikasikan tidak ada hubungan.
Koefisien korelasi yang bergerak ke arah -1,00 atau +100 merupakan korelasi
sempurna pada kedua ekstrem.
Arah hubungan diindikasikan oleh simbol “- ” dan “+”. Suatu korelasi
negatif berarti bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin rendah
pula skor pada variabel lain atau sebaliknya. Korelasi positif mengindikasikan
bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada
variabel lain atau sebaliknya.
2. Regresi dan Prediksi
Jika terdapat korelasi anatara dua variabel dan kita mengetahui skor
pada salah satu variabel, skor pada variabel kedua dapat diprediksikan.
Regresi merujuk pada seberapa baik kita dapat membuat prediksi ini.
Sebagaimana pendekatan koefisien korelasi baik -1,00 maupun +1,00, prediksi
kita dapat lebih baik.
3. Regresi Jamak
Merupakan perluasan regresi dan prediksi sederhana dengan
penambahan beberapa variabel. Kombinasi beberapa variabel memberikan
lebih banyak kekuatan kepada kita untuk membuat prediksi yang akurat. Apa
yang kita prediksikan disebut variabel kriteria. Apa yang kita gunakan untuk
membuat prediksi, variabel- variabel yang sudah diketahui disebut variabel
prediktor.
4. Analisis Faktor
Prosedur statistik ini mengidentifikasikan pola variabel yang ada.
Sejumlah besar variabel dikorelasikan dan terdapatnya antar korelasi yang
tinggi mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.
5. Rancangan korelasional yang digunakan untuk menarik kesimpulan kausal
6. Analisis sistem
Desain ini melibatkan penggunaan prosedur matematik yang kompleks
atau rumit untuk menentukan proses dinamik seperti perubahan sepanjang
waktu jerat umpan baik serta unsur dan aliran hubungan.
f. Contohnya
 Hubungan antara tingkat penjualan obat anti asma dengan jumlah kematian
yang diakibatkan oleh penyakit asma.
 Hubungan antara jumlah konsumsi rokok pada satu wilayah dengan jumlah
 

kematian yang diakibatkan oleh penyakit paru.


B. Individu
1. Case Report (Laporan Kasus)
Merupakan studi pada satu kasus yang sama atau kasus baru yang
menggambarkan suatu riwayat penyakit dan pengalaman klinis dari masing-masing
kasus. Unit pengamatan atau analisisnya individual. Laporan kasus merupakan
rancangan studi yang menggambarkan kejadian satu kasus baru yang menarik,
misalnya terjadi kasus keracunan merthyl mercuri di Teuk Minimata Jepang. Desain
studi ini digunakan untuk melihat distribusi suatu penyakit atau masalah kesehatan
yang diteliti, memperoleh informasi tentang kelompok resiko tinggi dan membuat
hipotesis baru. 
Karena merupakan pengumpulan dari beberapa kasus-kasus yang dilaporkan,
maka studi ini tidak bisa digunakan untuk menggambarkan suatu populasi. Studi ini
dapat digunakan sebagai langkah awal untuk meneliti serta dapat menjembatani antara
penelitian klinis dengan penelitian epidemiologi.
a. Kelebihan Case Report
 Case report mendeskripsikan cara klinisi mendiagnosis dan memberi terapi
kepada kasus, dan hasil klinis yang diperoleh
 Sebagai langkah awal untuk mempelajari suatu penyakit
 Sebagai jembatan antara penelitian klinis dan penelitian epidemiologi
 Dapat digunakan sebagai dasar penelitian lebih lanjut dengan melihat
kelompok yang berisiko tinggi; dengann membuktikan hipotesis yang dibangun
 Dapat merumuskan hipotesis yang akan diuji dengan desain studi analitik.
 Dapat mendeskripsikan spektrum penyakit, manifestasi klinis, perjalanan
klinis, dan prognosis kasus.
b. Kelemahan Case Report
 Case report kurang andal (reliabel) untuk memberikan bukti empiris tentang
gambaran klinis penyakit
 Tidak ada grup kontrol
 Tidak dapat dilakukan studi hipotesis

2. Case Series
Menurut National Cancer Institute (NCI) dari National Institue of Health,
Departemen Kesehatan dan Pelayanan Kemanusiaan Amerika Serikat, “Case series
merupakan serangkaian laporan pasien (serangkaian case report) yang melibatkan
pengobatan yang diberikan. Hal ini berisi data diri pasien yang meliputi informasi
demografis (seperti usia, seks, etnis) dan informasi tentang diagnosis, pengobatan,
perawatan, sampai dengan tindak lanjut setelahnya.”
Case series digunakan ketika penyakit yang diteliti bukan penyakit biasa dan
disebabkan oleh pajanan eksklusif atau hampir eksklusif (seperti vinyl chloride
dengan angiosarcoma). Hal ini merupakan hal pertama yang bisa dilakukan untuk
menemukan petunjuk dalam identifikasi sebuah penyakit baru dan untuk melihat
dampak pajanan bagi kesehatan.
Karena merupakan laporan per pasien tanpa populasi kontrol sebagai
perbandingan, case series tidak memiliki validitas statistik. Case series berguna untuk
mendeskripsikan spektrum penyakit, manifestasi klinis, perjalanan klinis, dan
prognosis kasus. Case series banyak dijumpai dalam literatur kedokteran klinik.
Tetapi desain studi ini lemah untuk memberikan bukti kausal, sebab pada
Case series tidak dilakukan perbandingan kasus dengan non-kasus. Case series dapat
digunakan untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji dengan desain studi analitik. 
a. Kelebihan Case Series
 Sebagai langkah awal untuk mempelajari suatu penyakit
 Sebagai jembatan antara penelitian klinis dan penelitian epidemiologi
 Dapat digunakan sebagai dasar penelitian lebih lanjut dengan melihat
kelompok yang berisiko tinggi; dengann membuktikan hipotesis yang
dibangun
 Dapat merumuskan hipotesis yang akan diuji dengan desain studi analitik.
 Dapat mendeskripsikan spektrum penyakit, manifestasi klinis, perjalanan
klinis, dan prognosis kasus.
b. Kelemahan Case Series
 Case series tidak memiliki validitas statistik
 Case series lemah untuk memberikan bukti kausal
 Tidak ada grup kontrol
 Tidak dapat dilakukan studi hipotesis

3. Cross Sectional (Studi Potong- Lintang)


Cross-sectional meliputi studi prevalensi dan survei berguna untuk
mendeskripsikan penyakit dan paparan pada populasi pada satu titik waktu tertentu.
Data yang dihasilkan dari studi potong-lintang adalah data prevalensi. Tetapi studi
potong-lintang dapat juga digunakan untuk meneliti hubungan paparan-penyakit,
meskipun bukti yang dihasilkan tidak kuat untuk menarik kesimpulan kausal antara
paparan dan penyakit, karena tidak dengan desain studi ini tidak dapat dipastikan
bahwa paparan mendahului penyakit.
Studi cross-sectional adalah sebuah studi deskriptif tentang penyakit dan
status paparan diukur secara bersamaan dalam sebuah populasi tertentu. Studi ini
mempelajari hubungan penyakit dengan paparan secara acak terhadap satu individu
dimana faktor pencetus dan status penyakit diteliti pada waktu yang sama.
Studi Cross-sectional berpikir bagaimana menyediakan sebuah snapshot
(gambaran) frekuensi dan karakteristik dari penyakit di populasi pada suatu titik
dalam waktu tertentu. Penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif, ataupun
eksplanatif, penelitian cross-sectional mampu menjelaskan hubungan satu variabel
dengan variabel lain pada populasi yang diteliti, menguji keberlakuan suatu model
atau rumusan hipotesis serta tingkat perbedaan di antara kelompok sampling Data
jenis ini dapat digunakan untuk menilai prevalensi dari kondisi akut atau kronis di
sebuah populasi.
Bagaimanapun, sejak eksposur dan status penyakit yang diukur pada titik yang
sama dalam waktu tertentu, itu tidak akan mungkin untuk dibedakan apakah
pemaparan mengawali atau mengikuti penyakit itu, dan dengan demikian, hubungan
penyebab dan efek tidak pasti. Penelitian cross-sectional tidak memiliki kemampuan
untuk menjelaskan dinamika perubahan kondisi atau hubungan dari populasi yang
diamatinya dalam periode waktu yang berbeda, serta variabel dinamis yang
mempengaruhinya.
a. Tujuan penelitian cross sectional menurut Budiarto (2004), yaitu sebagai berikut:
 Mencari prevalensi serta indisensi satu atau beberapa penyakit tertentu yang
terdapat di masyarakat.
 Memperkirakan adanya hubungan sebab akibat pada penyakit-penyakit
tertentu dengan perubahan yang jelas.
 Menghitung besarnya risiko tiap kelompok, risiko relatif, dan risiko atribut.
b. Kelebihan Cross Sectional
 Studi cross sectional memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat
umum, tidak hanya para pasien yang mencari pengobatan, hingga
generalisasinya cukup memadai.
 Relatif murah dan hasilnya cepat dapat diperoleh.
 Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus.
 Jarang terancam loss to follow-up (drop out).
 Dapat dimasukkan dalam tahapan pertama suatu penelitian kohort atau
eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya.
 Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat lebih
konklusif.
 Membangun hipotesis dari hasil analisis.
c. Kelemahan Cross Sectional
 Sulit untuk menentukan sebab akibat karena pengambilan data risiko dan efek
dilakukan pada saat yang bersamaan (temporal relationship tidak jelas).
 Studi prevalens lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa sakit
yang panjang daripada yang mempunyai masa sakit yang pendek, karena
inidividu yang cepat sembuh atau cepat meninggal mempunyai kesempatan
yang lebih kecil untuk terjaring dalam studi.
 Dibutuhkan jumlah subjek yang cukup banyak, terutama bila variabel yang
dipelajari banyak.
 Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidensi maupun prognosis.
 Tidak praktis untuk meneliti kasus yang jarang.
 Hanya akurat bila dilaksanakan pada individu yang representatif.
 Tidak tepat untuk meneliti hubungan kausal antara penyakit dengan
pemicunya karena penelitian dilakukan pada satu waktu.
 Tidak dapat dilaksanakan pada semua kasus.

Epidemiologi Analitik
A. Observasi
1. Case Control
Case-control study selalu dimulai dari kasus. Seorang peneliti yang tertarik pada
suatu kasus atau penyakit, yang insidensinya relatif jarang dan ingin mengetahui apa saja
yang menyebabkan timbulnya suatu penyakit dapat menggunakan design penelitian ini. Jika
kita menemukan suatu sindrom, katakan Reye syndrome, yang diduga ada kaitannya dengan
konsumsi aspirin pada bayi.
Laporan kasus menyatakan bahwa insidensi sindrom Reye sangat jarang, yaitu 1 di
antara 2500 bayi yang mendapat aspirin. Untuk mencari hubungan sebab akibat antara aspirin
dengan sindrom Reye maka tidak mungkin kita melakukan studi prospektif, karena untuk
menemukan 1 kasus saja kita harus menunggu hingga ada minimal 2500 bayi yang mendapat
aspirin. Padahal diketahui bahwa untuk mendapatkan bayi dengan terapi aspirin saja sangat
sulit diperoleh. Dengan demikian tentu tidak mungkin kita melakukan studi observasional
prospektif, karena di samping akan membuang-buang waktu, biaya, dan kesempatan,
hasilnyapun belum tentu dapat menjawab pertanyaan penelitian kita.

Meskipun secara sepintas terlihat sederhana, rancangan studi case control ini
harus dibuat secara sangat hati-hati, oleh karena rentan terhadap risiko bias. Sebagai
contoh adalah jika ingin mencari hubungan antara merokok dan Ca pulmo, maka
eksposur dalam bentuk merokok harus diukur dengan sangat cermat, oleh karena
beberapa faktor seperti jumlah rokok yang dihisap per hari, jenis rokok, lamanya
merokok, apakah pernah punya riwayat merokok (past smoker) atau saat ini masih
merokok (current user).
Masing-masing variabel tersebut akan berfungsi sebagai confounder. Dalam
studi case control maka kasus harus didefinisikan secara sangat rinci, antara lain
adalah:
- Apa yang dimaksud dengan kasus atau penyakit,
- Bagaimana menegakkan diagnosis penyakit tersebut,
- Kriteria apa saja yang harus ada untuk dapat dikatakan sebagai kasus
- Darimana dan kapan (periode waktu) kasus diambil
- Bagaimana cara memperoleh kasus
Demikian pula halnya dengan kontrol yang juga harus didefinisikan secara
rinci. Kontrol harus bersifat independen dari kasus.

2. Kohort
Studi Kohort adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara
paparan dan penyakit, dengancara membandingkan kelompok terpapar (faktor
penelitian) dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status paparannya. Ciri-ciri studi
cohort adalah pemilihan subjek berdasarkan status paparannya, dan kemudian
dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subjek dalam perkembangannya
mengalami penyakit atau tidak.
Pada saat mengidentifikasi status paparan semua subjek harus bebas dari
penyakit yang diteliti. Studi kohort disebut juga studi follow-up, sebab kohort diikuti
dalam suatu periode untuk diamati perkembang penyakit yang dialaminya.
a. Kelebihan
 Studi kohort adalah kesesuainnya dengan logika studi eksperimental dalam
membuat inferensi kausal yaitu penelitian dimulai dengan menentukan faktor
penyebab diikuti dengan akibat. Karena pada saat dimulai penelitian telah
dipastikan bahwa semua subjek tidak berpenyakit.
 Peneliti dapat menghitung laju insidensi, sesuatu hal yang hampir tidak
mungkin dilakukan pada studi case control, sehingga perhitungan rasio laju
insidensi harus didekati dengan rasio odds.
 Studi kohort sesuai untuk meneliti paparan yang langka. Dalam hal ini
rancangan yang efisien adalah memilih subjek berdasarkan status paparan,
untuk memastikan diperolehnya ukuran sample yang cukup untuk menguji
hipotesis.
 Studi kohort memungkinkan peneliti mempelajari jumlah efek secara serentak.
 Karena bersifat observasional maka tidak ada subjek yang sengaja dirugikan
karena tidakmendapat terapi yang bermanfaat, atau mendapat paparan faktor
yang merugikan kesehatan.
b. Kelemahan
 Rancangan studi kohort prospektif lebih mahal dan membutuhkan waktu yang
lebih lama daripada studi case control.
 Tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang langka,
kecuali jika ukuran sampel sangat besar atau prevalensi penyakit pada
kelompok terpapar cukup tinggi.
 Hilangnya subjek selama penelitian, karena migrasi, tingkat partisipasi rendah
atau meninggal merupakan problem yang mengganggu validitas penelitian.
Jika subjek yang hilang cukup besar atau walaupun sedikit tetapi hilangnya itu
berkaitan dengan paparan dan penyakit yang diteliti, maka temuan penelitian
menjadi tidak valid karena adanya bias hilang waktu follow-up.
 Karena faktor penelitian sudah ditentukan terlebih duhulu pada awal
penelitian, maka studi kohort tidak cocok untuk merumuskan hipotesis
tentang faktor-faktor etiologi lainnya untuk penyakit itu, tatkala penelitian
berlangsung.
c. Contoh
Di dalam suatu populasi ingin diteliti apakah orang obesitas menyebabkan
hipertensi. Jika dalam 1 populasiterdapat 1000 penduduk. Kemudian dari populasi
tersebut ditentukan kelompok yang obesitas dankelompok yang tidak obesitas.
Dari masing-masing kelompok diikuti selama 1 tahun ke depan.Kemungkinannya,
pada kelompok obesitas bisa ditemukan hipertensi dan tidak hipertensi, pada
kelompoktidak obesitas juga dapat ditemukan hipertensi dan tidak hipertensi
I. Retrospective
Pada desain ini, peneliti mengidentifikasi faktor risiko dan efek pada kohort
yang telah terjadi di masa lalu namun kejadian efek ditelusur prospektif dilihat dari
saat pajanan risiko. Jenis analisis yang digunakan sama dengan pada studi kohort
prospektif. Kesahihan hasil studi ini sangat bergantung pada kualitas data pada
rekam medik atau catatan yang dipergunakan sebagai sumber data.
II. Prospective
Studi kohort disebut prospektif apabila faktor risiko, atau faktor penelitian
diukur pada awal penelitian, kemudian dilakukan follow up untuk melihat
kejadian penyakit dimasa yang akan datang. Lamanya follow up dapat ditentukan
berdasarkan lamanya waktu terjadinya penyakit. Pada studi kohort prospektif,
faktor penelitian dimulai dari awal penelitian, kausa atau faktor risiko
diidentifikasi lebih dahulu, kemudian diikuti sampai waktu tertentu untuk melihat
efek atau penyakit.

3. Cros Sectional
 Dalam pengukuran cross-sectional peneliti melakukan observasi
ataupengukuran variable pada saat tertentu. Subyek yang diamati hanya di osevasi
satu kali saja dan pengukuran variable subyek dilakukan pada saat pemeriksaan
tersebut. Jadi, pada studi Cross Sectional peneliti tidak melakukan tindak lanju
tterhadap pengukuran yang dilakukan.
Desain cross-sectional merupakan desain yang dapat digunakan untuk
penelitiandeskriptif, namun juga dapat untuk penelitian analitik sehingga sering
digunakanuntuk studi klinis maupun lapangan.
a. Kelebihan :
 Keuntungan yang utama dari desain cross-sectional adalah memungkinkan
penggunaan populasi dari masyarakat umum, tidak hanya para pasien yang
mencari pengobatan, hingga generalisasinya cukup memadai.
 Desain ini relatif mudah, murah, dan hasilnya cepat dapat diperoleh.
 Dapat dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus.
 Jarang terancam loss to follow-up (drop out).
 Dapat dimasukkan ke dalam tahapan pertama suatu penelitian kohort atau
eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya.
 Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat lebih
konklusif.
Contoh :
Ingin diketahui peran kadar kolesterol, trigliserida, hemoglobin, jumlah
konsumsi rokok, dan usia terhadap tekanan darah diastolok guru lelaki di
Jakarta. Hubungan antara pelbagai variabel independen (faktor risiko) dengan
variabel dependen (tekanan darah) dinyatakan dalam persamaan regresi
multiple.
b. Kekurangan :
 Sulit untuk menemukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko
danefek pada saat yang bersamaan (temporal relationship tidak jelas).
Akibatnya sering tidak mungkin ditentukan mana penyebab dan mana akibat 9
dilema telurdan ayam, horse and cart).
 Studi prevalens lebih banyak menjaring subyek yang mempunyai masa
sakityang panjang dari pada yang mempunyai masa sakit yang pendek, karena
individu yang cepat sembuh atau cepat meninggal mempunyai kesempatan
yang lebih kecil untuk terjaring dalam studi. Bila karakteristik pasien yang
cepat sembuh atau meninggal itu berbeda dengan mereka yang mempunyai
masa sakit panjang, terdapat salah interpretasi hasil penelitian.
 Dibutuhkan jumlah subyek yang cukup banyak, terutama bila variabel yang
dipelajari banyak.
 Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidens, maupun prognosis.
 Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang.
 Mungkin terjadi bias prevalens atau bias insidens karena efek faktor suatu
risiko selama selang waktu tertentu dapat disalahtafsirkan sebagai efek suatu
penyakit.

B. Individu
1. Randomized Controlled Trial
Adalah suatu jenis atau penelitian dan epidemiologi. Adalah suatu jenis
penelitian epidemiologi subjek dari suatu dan populasi dikelompokkan secara acak
dalam grup yang disebut dengan kelompok studi dan kelompok kontrol untuk
menerima dan tidak menerima sesuatu tindakan dan preventif, teraupetik, manuver
dan intervensi. Jenis penelitian ini biasanya digunakan untuk mengetahui efektivitas
suatu obat.
Experimen dengan desain RCT umumnya dilakukan untuk intervensi secara
individu seperti percobaan obat baru, efektivitas vaksin sedangkan cluster RCT
dilakukan untuk intervensi secara kelompok (cluster) seperti untuk melihat efektivitas
promosi dan pelayanan kesehatan.  Dalam perhitungan analisa statistik dan
perhitungan sampel, korelasi dan jumlah clusters lebih harus diperhitungkan
dibandingkan desain RCT yang berasumsi setiap individu itu mandiri.
a. RCT sendiri dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:
 Open trial
Peneliti dan subyek penelitian mengetahui obat apa yang diberikan.
 Single mask (single blind)
Salah satu pihak tidak mengetahui obat apa yang diberikan, bisa saja
peneliti atau subjek penelitian.
 Double mask (double blind)
Kedua pihak (peneliti dan subyek penelitian) tidak mengetahui
pengobatan yang diberikan, demi menghindari terjadinya berbagai bias.
 Triple mask (triple blind)
Peneliti, subyek penelitian, dan penilai tidak mengetahui obat apa yang
diberikan.
b. Karakteristik dari RCT adalah:
 Adanya randomisasi
 Memberikan tingkat perlakuan yang berbeda pada subjek penelitian
 Adanya blinding (teknik untuk membuat subyek dan atau pengamat dan atau
peneliti tidak mengetahui tentang status intervensi dari subjek penelitian. Hal
ini untuk mencegah bias informasi).
 Adanya restriksi (menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi dalam memilih
subjek untuk penelitian, sehingga semua subjek penelitian memiliki level atau
kategori faktor perancu atau confounding factor yang sama).
 Intention to threat analysis (semua subjek yang menerima maupun tidak
menerima intervensi, menyelesaikan maupun tidak menyelesaikan intervensi
dianalisis, sesuai dengan hasil randomisasi).

2. Field Trial (Eksperimen lapangan)


Ekperimen lapangan adalah jenis eksperimen yang dilakukan di lapangan
dengan individu-individu yang belum sakit sebagai subjek. Mirip dengan studi kohor
prospektif, rancangan ini diawali dengan memilih subjek-subjek yang belum sakit.
Subjek-subjek penelitian dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,
lalu diikuti perkembangannya apakah subjek itu sakit atau tidak.
Subjek yang terjangkit dan tidak terjangkit penyakit antara kedua kelompok
studi kemudian dibandingkan, untuk menilai pengaruh perlakuan. Jika laju kejadian
penyakit dalam populasi rendah, maka eksperimen lapangan membutuhkan jumlah
subjek yang sangat besar pula. Pada ekperimen lapangan kerap kali peneliti harus
mengunjungi subyek penelitian di “lapangan”. Peneliti dapat juga mendirikan pusat
penelitian di mana dilakukan pengamatan dan pengumpulan informasi yang
dibutuhkan dengan biaya yang ekstra.

3. Clinical Trial
Studi eksperimental yang meggunakan pasien individu sebagai populasi
penelitian.

Referensi:

Gordis, Leon. 1996. Epidemiology. London: W.B. Saunders Company.

Bisma Murti. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.