Anda di halaman 1dari 17

Nama : Annisa Pramitasari

NIM : 6411418097

Rombel : 3 Kesehatan Masyarakat

Mata kuliah : Dasar Epidemiologi

Dosen pengampu : dr. Arulita Ika Fibriana M.Kes (Epid)

RESUME DASAR EPIDEMIOLOGI

Desain Studi Epidemiologi

1. Epidemiologi Deskriptif
Epidemiologi Deskriptif merupakan studi epidemiologi yang bertujuan
untuk menggambarkan pola distribusi penyakit dan determinannya menurut
populasi, letak geografik, serta waktu. Indikator yang digunakan dalam
epidemiologi deskriptif adalah faktor sosial ekonomi, seperti umur, jenis
kelamin, ras, status perkawinan, pekerjaan maupun variabel gaya hidup,
seperti jenis makanan, pemakaian obat dan perilaku seksual.
Beberapa manfaat dari studi epidemiologi deskriptif adalah :
1) Relatif murah daripada studi Epidemiologi Analitik.
2) Memberikan masukan tentang pengalokasian sumber daya dalam
rangka perencanaan yang efisien.
3) Memberikan petunjuk awal untuk merumuskan hipotesis bahwa suatu
variabel merupakan faktor risiko penyakit.

Pembagian studi epidemiologi deskriptif antara lain :


a. Studi ekologi / korelasi
Studi Korelasi merupakan studi epidemiologi yang bertujuan untuk
mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dengan karakteristik
suatu populasi pada waktu yang sama atau pada populasi yang sama pada
waktu yang berbeda.
Karakteristik dari populasi yang akan diteliti biasanya tergantung pada
minat seorang peneliti, misalnya, mengenai jenis kelamin, umur, kebiasaan
mengkonsumsi makanan tertentu, obat-obatan, rokok, aktifitas, tempat tinggal
dan lain-lain. Contohnya adalah :
1) Hubungan antara tingkat penjualan obat anti asma dengan jumlah
kematian yang diakibatkan oleh penyakit ashma.
2) Hubungan antara jumlah konsumsi rokok pada satu wilayah dengan
jumlah kematian yang diakibatkan oleh penyakit paru.
Kelebihan dari studi korelasi adalah sangat tepat bila digunakan sebagai
dasar penelitian untuk melihat hubungan antara fakor paparan dengan
penyakit, karena mudah dilakukan dengan informasi yang tersedia sehingga
dapat muncul hipotesis kausal dan selanjutnya dapat diuji dengan rancangan
studi epidemiologi analitik.
Kelemahan dari studi korelasi adalah studi korelasi mengacu pada
populasi (kelompok), sehingga tidak dapat mengidentifikasikan kondisi per
individu dalam kelompok tersebut. Selain itu dalam studi korelasi juga tidak
dapat mengontrol faktor perancu yang potensial, misalnya dalam studi
korelasi mengenai hubungan antara jumlah perokok dengan jumlah penderita
kanker paru, pada studi korelasi tidak mampu untuk mengidentifikasikan
faktor perancu lain seperti, faktor polusi, jenis pekerjaan, aktifitas, dan lain-
lain.

b. Laporan kasus dan seri kasus


Laporan kasus merupakan rancangan studi yang menggambarkan
kejadian satu kasus baru yang menarik yang dilakukan oleh satu orang
peneliti atau lebih untuk mendapatkan gejala atau tanda-tanda spesifik,
misalnya terjadi kasus keracunan merthyl mercuri di Teluk Minimata Jepang.
Tujuan studi kasus adalah untuk mengenal karakteristik kasus. Setelah
karakteristik dikenal baru kemudian disusun gejala-gejala dan tanda-tanda.
Misalnya yang termasuk gejala subjektif, tanda-tandanya ditemukan dari
anamnese, sedangkan gejala yang bersifat objektif ditemukan dari hasil
pemeriksaan laboratorium.
Serial kasus merupakan rancangan studi yang menggambarkan kejadian
sekumpulan kasus baru dengan diagnosis serupa, dengan mendistribusikan
pada variabel-variabel tertentu untuk melihat kecenderungan-kecenderungan
tertentu. misal pada tahun 1985 ditemukan penyakit break dancing neck.
Tujuannya adalah untuk melihat kecenderungan-kecenderungan tertentu.
Tidak ada batasan jumlah kasus dalam kasus seri. Kasus seri dilaporkan
dalam bentuk proporsi (rancangan kasus seri bukan ukuran frekuensi). Dalam
kasus seri perlu juga didapat data populasi. Secara sistematis variabel
dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar yaitu :
1) Kelompok orang, meliputi; demografi, genetik dan umur. Kelompok
demografi meliputi alamat, umur, sex, sosial ekonomi, ras,
pendidikan, pekerjaan, status. Kelompok orang dari segi genetik
meliputi riwayat keluarga. Sedangkan dari kelompok perilaku
meliputi morokok, minuman keras, hobby, olahraga dan tidur.
2) Kelompok tempat, meliputi alamat, lingkungan kerja, dataran tinggi
– rendah.
3) Kelompok waktu, meliputi pagi-siang-malam; bulan; musim (panas-
hujan).
Kelemahan studi ini adalah :
 Tidak ada grup kontrol
 Tidak dapat dilakukan studi hipotesa

c. Cross sectional
Merupakan rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan
penyakit dengan paparan (pajanan) secara acak terhadap satu individu dimana
faktor pencetus dan status penyakit diteliti pada waktu yang sama.
Ciri khas rancangan cross sectional :
1) Peneliti melakukan observasi atau pegukuran variabel pada satu
saat tertentu
2) Status seorang individu diketahui atas ada atau tidaknya kedua
faktor baik pemajanan (eksposur) maupun penyakit yang dinilai
pada waktu yang sama. Variabelnya bebas dan terikat yang
dikumpulkan dalam waktu yang sama
3) Hanya menggambarkan asosiasi bukan sebab-akibat
4) Apabila penerapannya pada studi deskriptif, peneliti tidak
melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan
5) Desain ini dapat digunakan pada deskriftif dan analitik
Tujuan dari kegiatan ini antara lain :
1) Mempelajari angka kejadian suatu penyakit /masalah kesehatan
2) Mempelajari hubungan antara suatu faktor resiko dengan angka
kejadian suatu penyakit
Keuntungan :
 Mudah dan murah dilakukan, cepat diperoleh hasil
 Dilakukan pada satu waktu
 Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum
 Dapat meneliti banyak variabel
 Dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya
 Menggambarkan hubungan dan kondisi satu penyakit dan
pemicunya
 Tidak hanya terhadap individu yang mendapatkan pengobatan

Kerugian :
 Tidak tepat untuk meneliti hubungan kausal antara penyakit dengan
pemicunya karena penelitian dilakukan pada satu waktu
 Hanya akurat bila dilaksanakan pada individu yang representatif
 Tidak dapat dilaksanakan pada semua kasus

2. Epidemiologi Analitik
a. Pengertian Studi Epidemiologi Analitik
Epidemiologi analitik merupakan studi epidemiologi yang ditujukan
untuk mencari faktor-faktor penyebab timbulnya penyakit atau mencari
penyebab terjadinya variasi yaitu tinggi atau rendahnya frekuensi penyakit
pada kelompok individu (Eko Budiarto, 2002:111).
Epidemiologi analitik adalah epidemiologi yang menekankan pada
pencarian jawaban terhadap penyebab terjadinya frekuensi, penyebaran
serta munculnya suatu masalah kesehatan. Studi analitik digunakan untuk
menguji hubungan sebab akibat dan berpegangan pada pengembangan
data baru.
b. Tujuan Studi Epidemiologi Analitik
Epidemologi Analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk :
1) Menjelaskan faktor-faktor risiko dan kausa penyakit
2) Memprediksikan kejadian penyakit
3) Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian
penyakit
c. Jenis Studi Epidemiologi Analitik
Berdasarkan peran epidemiologi analitik dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
1) Studi Observasional
a) Studi potong lintang (Cross sectional)
Rancangan cross sectional adalah suatu rancangan
epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan
faktor penyebab yang mempengaruhi penyakit tersebut dengan
mengamati status faktor yang mempengaruhi penyakit tersebut
secara serentak pada individu atau kelompok pada satu waktu.
Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian dimana
variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel
yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama.

Langkah – langkah penelitian cross sectional :

i. Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengidentifikasi


faktor resiko dan faktor efek
ii. Menetapkan subjek penelitian
iii. Melakukan observasi atau pengukuran variabel-variabel yang
merupakan faktor resiko dan efek sekaligus berdasarkan status
keadaan variabel pada saat itu (pengumpulan data)
iv. Melakukan analisi korelasi dengan cara membandingkan proporsi
antar kelompok-kelompok hasil observasi (pengukuran)

Contoh kasus : penelitian hubungan antara anemia besi pada ibu hamil
terhadap Berat Badan Bayi Lahir (BBL) dengan menggunakan
rancangan atau pendekatan cross sectional.

Ciri khas rancangan cross sectional :


1) Peneliti melakukan observasi / pengukuran variabel pada
suatu saat tertentu
2) Status seorang individu atas ada atau tidaknya kedua
faktor baik pemajanan (exposure) maupun penyakit yang
dinilai pada waktu yang sama
3) Hanya menggambarkan hubungan aosiasi bukan sebab
akibat
4) Apabila penerapannya pada studi deskriptif, peneliti tidak
melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang
dilakukan

Kelebihan rancangan cross sectional : 


 Mudah dilaksanakan
 Sederhana
 Ekonomis dalam hal waktu
 Hasilnya dapat diperoleh dengan cepat
 Dalam waktu bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang
banyak, baik variabel risiko maupun efek

Kekurangan rancangan cross sectional :


 Diperlukan subjek penelitian yang besar
 Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit
secara akurat
 Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan
 Kesimpulan korelasi faktor risiko dengan efek paling
lemah bila dibandingan dengan dua rancangan
epidemiologi yang lain.

b) Kasus kontrol (case control)


Rancangan kasus kontrol adalah rancangan studi
epidemiologi yang mempelajari hubungan antara penyebab suatu
penyakit dan penyakit yang diteliti dengan membandingkan
kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status
penyebab penyakitnya.
Penelitian case control adalah suatu penelitian (survey)
analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari
dengan menggunakan pendekatan retrospektif.
Penelitian kasus kontrol yang merupakan suatu rancangan
pengamatan epidemiologis untuk mempelajari hubungan serta
besarnya risiko, antara tingkat keterpaparan dengan kejadian
penyakit. Pengamatannya “menoleh ke belakang” yakni dimulai
dengan mengidentifikasi kelompok dengan peyakit/efek (kasus)
dan kelompok tanpa penyakit (kontrol), kemudian dilihat ke
belakang faktor risikonya.
Jenis penelitian ini mempunyai beberapa nama lain yakni
retrospektif, kasus kelola, case referent , atau case history. Disebut
dengan retrospekti karena arah penelitain ini melihat ke belakang
atau ke masa lalu mengenai keterpaparan atau penyebanya,
sedangkan disebut dengan kasus kelola karena penelitian ini
mengelola kasus terlebih dahulu baru dilihat kembali apa yang
menyebabkan kasus tersebut, begitu pula dengan istilah case
referent dimana peneliti menjadikan kasus sebagai referensi yang
pertama sebagai awal pijakan penelitian lalu di telusuri
penyebabnya dan disebut dengan case history karena penelti
melihat sejarah dari faktor risiko atau penyebab atau perjalanan
penyakit si penderita.

Dalam urutan tingkat kekuatan hubungan sebab akibat,


desain ini berada di bawah penelitian kohort & eksperimen namun
lebih kuat dari cross sectional. Subyek yang didiagnosis menderita
sakit (kasus) adalah insiden (kasus baru).

Ada Tidaknya Faktor Risiko PENLURURAN KEBELAKANG Penelitian Mulai dari sini

Faktor Risiko + (A)


Kasus (Ada penyakit)
Faktor Risiko- (B)

Faktor Risiko + (C )
Kontrol (Tak Ada penyakit)
Faktor Risiko- (D)

Skema rancangan desain kasus kontrol

Tahap-tahap penelitian case control :


i. Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor resiko
dan efek)
ii. Menetapkan objek penelitian (populasi dan sampel)
iii. Identifikasi kasus

iv. Pemilihan subjek sebagai kontrol


v. Melakukan pengukuran retrospetif (melihat ke
belakang) untuk melihat faktor resiko
vi. Melakukan analisis dengan menbandingkan proporsi
antara variabel-variabel objek penelitian dengan
variabel-variabel kontrol

Contoh : Peneliti ingin membuktikan hubungan antara malnutrisi


(kekurangan gizi) pada balita dengan perilaku pemberian
makanan oleh ibu.

Ciri rancangan kasus kontrol :


1) Subjek dipilih atas dasar apakah mereka menderita (kasus)
atau tidak (kontrol) suatu kasus yang ingin diamati
kemudian proporsi pemajanan dari kedua kelompok
tersebut dibandingkan.
2) Diketahui variabel terikat (akibat), kemudian ingin
diketahui variabel bebas (penyebab).
3) Observasi dan pengukuran tidak dilakukan pada saat yang
sama.
4) Peneliti melakukan pengukuran variabel bergantung pada
efek (subjek yang terkena penyakit) sedangkan variabel
bebasnya dicari secara retrospektif.
5) Untuk kontrol, dipilih subjek yang berasal dari populasi
dan karakteristik yang sama dengan kasus.
6) Bedanya kelompok kontrol tidak menderita penyakit yang
akan diteliti.
Proses analisis
Dalam melakukan analisis case control kita melakukan pencarian nilai
oods ratio dimana digunakan rumus dari table 2x2 sebagai berikut :

KASUS KONTROL TOTAL


Faktor risisko (+) A B (A+B)
Faktor risisko (-) C D (C+D)
(A+C) (B+D) (A+B+C+D)

Kelebihan rancangan penelitian case control :


 Merupakan satu-satunya cara untuk meneliti kasus yang
jarang terjadi atau yang masa latennya panjang.
 Hasil dapat diperoleh dengan cepat.
 Biaya yang dibutuhkan relatif sedikit.
 Subjek penelitian sedikit.
 Dapat melihat hubungan beberapa penyebab terhadap
suatu akibat.
 Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko
sehingga hasil penelitian lebih tajam dibanding dengan
hasil rancangan cross sectional

Kekurangan rancangan penelitian case control :


 Sulit menentukan kontrol yang tepat.
 Validasi mengenai informasi kadang sukar diperoleh.
 Sukar untuk meyakinkan dua kelompok tersebut agar
sebanding.
 Tidak dapat dipakai lebih dari satu variabel dependen.
 Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara
teknis tidak dapat dikendalikan.

c) Kohort
Penelitian kohort merupakan suatu rancangan pengamatan
epidemiologis untuk mempelajari hubungan dan besarnya risiko
antara paparan dan penyakit antara tingkat keterpaparan dengan
kejadian penyakit. Pengamatannya “diikuti ke depan” yakni
dimulai dengan populasi/kelompok subyek yang bebas dari
penyakit, dan secara alami kelompok subyek ini akan terbagi
menjadi terpapar dan tidak terpapar, kemudian diikuti sepajang
waktu/periode tertentu untuk melihat ada tidaknya efek pada
subyek tersebut.
Pada studi kohort, peneliti memilih kelompok individu yang
terpajan dan kelompok individu yang tidak terpajan dan mengikuti
perkembangan dari kedua grup untuk membandingkan insidensi
dari suatu penyakit (atau rasio dari penyakit) pada kedua grup.
Desain dapat lebih dari dua grup.
Jika terdapat hubungan antara pajanan dengan penyakit, kita
akan menjumpai proporsi kelompok yang terpajan akan lebih besar
daripada kelompok yang tidak terpajan.

Muncul Penyakit Tidak muncul Total Insidens


Penyakit
Terpajan A B A+b a/(a+b)
Tidak Terpajan C D c+d c/(c+d)
Kita mulai dengan kelompok yang terpajan dengan kelompok
yang tidak terpajan. Pada kelompok a+b, penyakit timbul hanya
pada a, tidak pada b. Oleh karena itu insiden dari penyakit diantara
yang terpajan adalah a/(a+b). Begitu juga dengan kelompok yang
tidak terpajan c+d, penyakit timbul pada kelompok c, tidak pada d.
Oleh karena itu insiden dari penyakit diantara yang tidak terpajan
adalah c/(c+d).
Penggunaan dari kalkulasi ini terlihat pada contoh hipotesis
dari studi kohort. Pada studi kohort, hubungan antara merokok
dengan penyakit jantung koroner (PJK) ditelaah terjadap kelompok
berisikan 3000 perokok (terpajan) dan kelompok berisikan 5000
non-perokok (tidak terpajan) yang bebas dari penyakit jantung.
Kedua kelompok diikuti untuk dilihat perkembangan apakah
menderita penyakit jantung koroner, dan insidens dari penyakit
jantung koroner dari kedua kelompok dibedakan. PJK timbul pada
84 orang perokok dan 87 non perokok. Hasilnya ialah insiden dari
PJK 28/1000 diantara perokok dan 17,4/1000 diantara non-
perokok.
Perlu dicatat karena kita mengidentifikasi kasus baru
(insidens) dari penyakit saat baru terjadi, kita dapat menentukan
apakah hubungan sementara terjadi antara pajanan dan penyakit,
yaitu apakah pajanan mendahului awitan penyakit.
Jenis penelitian ini mempunyai beberapa nama lain yakni
prospektif, studi follow up, studi longitudinal, dan studi insidensi.
Disebut dengan istilah seperti hal tersebut diatas dikarenakan arah
penelitain ini mengikuti ke ke depan atau ke masa yang akan di
follow up sepanjang masa, dan karena kejadian kasusnya adalah
kasus baru terjadi maka studi ini disebut dengan studi insiden.
Dalam urutan tingkat kekuatan hubungan sebab akibat,
desain ini berada di bawah penelitian eksperimen namun lebih kuat
dari cross sectional dan case control.
Penelitian Mulai dari sini PENLURURAN KEDEPAN Apakah terjadi Efek

Efek (kasus) + (A)


Faktor Risiko (+)
Efek (kasus) - (B)
Subyek tanpa Faktor
Risiko dan tanpa efek
Efek (kasus) + (C )
Faktor Risiko (+)
Efek (kasus) - (D)
Skema rancangan desai Kohort

Dua jenis kohort :


1) Closed kohort, yaitu kohort dengan keanggotaan
tertutup dimana tidak ada penambahan anggota baru
sejak studi atau follow up sejak studi dimulai.
2) Open cohort, yaitu kohort dengan keanggotaan terbuka
dimana dalam perjalanan waktu pengamatan dapat
menambahkan anggota baru.

Langkah – langkah pelaksanaan penelitian kohort :


i. Tentukan satu kelompok orang yang terpajan
ii. Tentukan kelompok lainnya yang tidak terpajan
iii. Amati kedua kelompok, apakah mereka menjadi sakit atau
tidak

Ciri khas dari rancangan kohort :


1) Berasal dari kata romawi kuno yang berarti kelompok tentara yang
berbaris maju ke depan.
2) Subjek dibagi berdasar ada atau tidaknya pemajanan faktor tertentu
dan kemudian diikuti dalam periode waktu tertentu untuk
menentukan munculnya penyakit pada tiap kelompok.
3) Digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara
faktor resiko dan efek.
4) Sekelompok subjek yang belum mengalami penyakit atau efek
diikuti secara prospektif.
5) Diketahui variabel bebas (penyebab) kemudian ingin
diketahui variabel terikat (akibat).
6) Dapat dilakukan secara prospektif dan retrospektif. 
Proses analisis
Dalam melakukan analisis case control kita melakukan pencarian nilai
relatif risk dimana digunakan rumus dari table 2x2 sebagai berikut :

KASUS KONTROL TOTAL


Faktor risisko (+) A B (A+B)
Faktor risisko (-) C D (C+D)
(A+C) (B+D) (A+B+C+D)

Kelebihan Rancangan kohort :


 Merupakan desain terbaik dalam menentukan insiden
perjalanan penyakit atau efek yang diteliti
 Desain terbaik dalam menerangkan dinamika hubungan
antara faktor resiko dengan efek secara temporal
 Dapat meneliti beberapa efek sekaligus
 Baik untuk evaluasi pemajan yang jarang
 Dapat meneliti multipel efek dari satu pemajan
 Dapat menetapkan hubungan temporal
 Mendapat incidence rate
 Biasnya lebih kecil

Kekurangan rancangan kohort :


 Memerlukan waktu yang lama.
 Sarana dan biaya yang mahal.
 Rumit.
 Kurang efisien untuk kasus yang jarang.
 Terancam drop out dan akan mengganggu analisis
 Menimbulkan masalah etika
 Hanya dapat mengamati satu faktor penyebab

2) Studi Eksperimental
Rancangan studi eksperimen adalah jenis penelitian yang
dikembangkan untuk mempelajari fenomena dalam kerangka korelasi
sebab-akibat. Menurut Bhisma Murti, rancangan studi ini digunakan
ketika peneliti atau oranglain dengan sengaja memperlakukan berbagai
tingkat variabel independen kepada subjek penelitian dengan tujuan
mengetahui pengaruh variabel independen tersebut terhadap variabel
dependen.
Berdasarkan penelitian tersebut studi eksperimen (studi perlakuan
atau intervensi dari situasi penelitian ) terbagi dalam dua macam yaitu
rancangan eksperimen murni dan quasi eksperimen.
Experiment dalam pengertian umum berarti mencoba sesuatu yang
baru “to try something new”. Dalam epidemiologi, studi experiment
adalah mengukur pengaruh suatu perlakuan (intervensi) pada populasi
dengan cara membandingkan hasil-hasil perlakuan pada kelompok
perlakuan dan kelompok kontrol, sehingga penelitian ini disebut juga
studi intervensi. Dalam urutan tingkat kekuatan hubungan sebab akibat
desain ini merupakan desain terbaik untuk hubungan sebab akibat,
terutama desain experiment murni.
Pengamatannya sangat mirip dengan studi cohort yakni kelompok
subyek perlakuan dan kelompok kontrol diikuti sampai terjadinya
efek .Perbedaannya pada adanya intervensi serta alokasi subyek secara
eligibilitas dan metode perlakuan ditentukan oleh peneliti.

Penelitian Mulai dari sini PENLURURAN KEDEPAN Apakah terjadi Efek

Efek (kasus) + (A)


Kelompok perlakukan
Efek (kasus) - (B)
Subyek sampel
(dilakukan
rendomisasi) Efek (kasus) + (C )
Kelompok non perlakukan
Efek (kasus) - (D)
Skema rancangan desain Experiment

Langkah –langkah penelitian kasus kelola adalah sebagai berikut :


a. Menetapkan pertanyaan penelitian beserta hipotesis penelitian.
Pada langkah ini peneliti harus membuat pertanyaan penelitian apa
yang akan di teliti dan bagaimana hipotesis atau dugaan penelitian
tersebut berdasarkan teori yang ada
b. Mendeskripsikan variabel penelitian : efek (dependen) dan
penyebab (Independen)
c. Menentukan populasi dan sampel baik secara random ataupun tidak
tergantung dari jenis experiment yang dilakukan
d. Mengikuti dan memberikan perlakukan terhadap sampel
e. Melakukan analisis
Studi experiment mempunyai dua bentuk studi penelitian yakni
experiment murni dan experiment kuasi adapun pembagiannya adalah
sebagai berikut :

STUDI EKSPERIMEN

EKPERIMEN MURNI EKSPERIMEN KUASI

- COMPLETELY RENDOMIZED - ONE GROUP PRE AND POST


DESAIN TEST DESING
- POST TEST WITH CONTROL
- RANDOMIZED BLOCK DESIGN
- PRE-POST WITH CONTROL
- CROSSOVER DESIGN

a) Rancangan eksperimen murni


Eksperimen murni adalah suatu bentuk rancangan yang
memperlakukan dan memanipulasi subjek penelitian dengan kontrol
secara ketat.
Penelitian eksperimen mempunyai ciri :
1) Ada perlakuan, yaitu memperlakukan variabel yang diteliti
(memanipulasi suatu variabel)
2) Ada randominasi, yaitu penunjukan subjek penelitian
secara acak untuk mendapatkan salah satu dari berbagai
tingkat faktor penelitian
3) Semua variabel terkontrol, eksperimen murni mampu
mengontrol hampir semua pengaruh faktor penelitian
terhadap variabel hasil yang diteliti
4) Disebut juga penelitian eksperiment random atau
randomize controlled trial (RCT)
5) Studi ini menggunakan prosudur random untuk
mengalokasi berbagai level faktor penelitian pada subyek
6) Studi ini dianggap sebagai “gold standard” dalam suatu
penelitian karena studi ini dapat dapat mengendalikan
situasi penelitian (terutama faktor perancu) secara
maksimal
7) Cara menentukan kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol dimulai dengan populasi sumber, kemudian dicari
yang memenuhi syarat (eligible), jika memenuhi syarat
maka ditanya apakah setuju untuk berpartisipasi atau tidak,
jika ya maka dilakukan rendomisasi untuk tentukan
kelompok perlakuan dan kontrol.

Kelebihan:
 Dengan adanya randomisasi maka bias dapat
dikontrol sehingga counfonding berkurang dan
tersebar merata di semua subyek.
 Hubungan sebab akibatnya menjadi kuat
 Memungkinkan dilakuakan suatu metaanalisis

Kekurangan:
 Mahal dan memakan waktu lama
 Jika sampel terlalu sedikit maka randomisasi
menjadi tidak efisien
 Banyak berkaitan dengan masalah etik

b) Quasi Eksperiment (eksperimen semu)


Quasi Eksperimen (eksperimen semu) adalah eksperimen yang
dalam mengontrol situasi penelitian tidak terlalu ketat atau
menggunakan rancangan tertentu dan atau penunjukkan subjek
penelitian secara tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari
berbagai tingkat faktor penelitian.
Ciri dari quasi eksperimen :
1) Tidak ada randominasi, yaitu penunjukkan subjek
penelitian secara tidak acak untuk mendapatkan salah satu
dari berbagai tingkat faktor penelitian. Hal ini disebabkan
karena ketika pengalokasian faktor penelitian kepada subjek
penelitian tidak mungkin, tidak etis, atau tidak praktis
menggunakan randominasi.
2) Tidak semua variabel terkontrol karena terkait dengan
pengalokasian faktor penelitian kepada subjek penelitian
tidak mungkin, tidak etis, atau tidak praktis menggunakan
randominasi sehingga sulit mengontrol variabel secara
ketat.
3) Studi ini dalam mengontrol situasi penelitian
menggunakan cara non randomisasi.
4) Studi ini berasal dari riset sosial (campbell & stanly
1963) namun diadopsi oleh epidemiologi untuk
mengevalusi dampak intervensi pada kesehatan masyarakat.
5) Studi ini dilakukan takala pengalokasian faktor
penelitian kepada subyek tidak mungkin, tidak etis atau
tidak praktis jika dilakukan randomisasi.
6) Cara desain penelitainnya tergantung dari jenis
eksperiment kuasi tersebut

Kelebihan:
 Lebih memungkinkan untuk diterapkan
 Biaya lebih murah
 Pada sampel-sampel besar lebih mudah

Kekurangan:
 Karena tidak dilakukan random, maka peneliti
tak dapat mengendalikan faktor perancu
 Dapat menimbulkan bias

REFERENSI
https://www.google.com/amp/s/dokumen.tips/amp/documents/terjemahan-leon-
gordis.html

https://dokumen-
tips.cdn.ampproject.org/v/s/dokumen.tips/amp/documents/terjemahan-leon-
gordis.html?usqp=mq331AQECAEoAQ%3D
%3D&amp_js_v=0.1#origin=https://www.google.com&cid=1&prerenderSize=1&visibility
State=visible&paddingTop=32&history=1&p2r=0&horizontalScrolling=0&csi=1&storage=
1&viewerUrl=https://www.google.com/amp/s/dokumen.tips/amp/documents/terjemah
an-leon-
gordis.html&cap=navigateTo,fragment,handshakepoll,cid,replaceUrl,fullReplaceHistory

http://gamel.fk.ugm.ac.id/pluginfile.php/49145/mod_resource/content/1/Strategi_Disai
n_Penelitian.pdf

https://www.academia.edu/36564180/studi_EPIDEMIOLOGI

https://www.academia.edu/28585376/Modul_Epidemiologi_Dasar

https://samoke2012.wordpress.com/2012/09/28/desain-penelitian-epidemiologi/

https://www.academia.edu/4379535/STUDI_EPIDEMIOLOGI_DESKRIPTIF

https://www.academia.edu/10200082/Epidemiologi_Deskriptif_-_Tsabit

http://wuryanto.blog.undip.ac.id/files/2010/10/Desain-Penelitian-Epidemiologi.pdf