Anda di halaman 1dari 17

Nama : Ariff Fathin Fadhlullah

Nim : 6411418080
Rombel : 3 Kesehatan Masyarakat ‘18
Mata Kuliah : Dasar Epidemiologi
Dosen Pengampu : Dr. Arulita Ika Febriana, M.kes.

RESUME

OVERVIEW OF EPIDEMIOLOGIC DESIGN

A. Pengertian
Pengamatan atau penelitian merupakan suatu rangkaian tindakan yang
memerlukan metode yang berkesinambungan untuk mencapai apa yang akan
diamati atau diteliti. Seperti membangun suatu rumah, tentu membutuhkan
kegiatan membuat pondasi, memasang kusen pintu dan membuat kuda-kuda
pada atau atap rumah. Disamping tindakan tersebut, dalam membangun rumah
dibutuhkan hal yang lain yaitu gambar rumah yang akan dibangun.
Definisi rancangan atau desain penelitian epidemiologi adalah suatu
rencana, struktur, dan strategi untuk menjawab permasalahan, yang
mengoptimasi validitas. Rancangan disusun sedemikian rupa sehingga
menuntun peneliti memperoleh jawaban dari hipotesis. Dalam arti sempit
mengacu pada jenis penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Rancangan penelitian epidemiologi mempunyai manfaat :
1. Sebagai alat untuk mencapai tujuan karena memilih suatu desain
berarti menetapkan jenis penelitian yang akan dilaksanakan.
2. Sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian karena tiap jenis
rancangan mempunyai tata laksana tersendiri.

Dasar rancangan atau desain atau studi epidemiologi ditegakkan atas dasar
dua asumsi yaitu kejadian sakit tidak terjadi secara acaak dan penelusuran

sistematik dan cermat pada kelompok penduduk yang berbeda dapat mengenal
faktor-faktor penyebab dan pencegahan terjadinya penyakit.

1
Pemikiran alamiah epidemiologi didasarkan pada:

1. kecurigaan atas terjadinya faktor pemapar yang mempengaruhi


terjadinya penyakit. Dapat muncul dari praktik klinik, penelitian
laboratorium, pengamatan pola penyakit, studi korelasi, laporan kasus
(deskriptif).
2. formulasi hiotesis tertentu.
3. melakukan penelitian epidemiologi untuk menguji hubungan antara
pemaparan dan dan penyakit (epidemiologi analitik). Dalam pengujian
ini harus diperhatikan faktor peluang, bias dan confounding.

Penetapan apakah suatu hubungan yang didapat merupakan suatu


hubungan sebab akibat atau tidak. Untuk menentukan sebab-akibat harus
memperhatikan hasil penelitian lainnya, kekuatan hubungan, arah waktu
(temporal ambiguity).

B. Macam-macam Desain Epidemiologi


1. Epidemiologi Deskriptif
Epidemiologi Deskriptif merupakan studi epidemiologi yang bertujuan
untuk menggambarkan pola distribusi penyakit dan determinannya menurut
populasi, letak geografik, serta waktu. Indikator yang digunakan dalam
epidemiologi Deskriptif adalah Faktor sosial ekonomi, seperti umur, jenis
kelamin, ras, status perkawinan, pekerjaan maupun variabel gaya hidup,
seperti jenis makanan, pemakaian obat dan perilaku seksual.
Beberapa manfaat dari Studi Epidemiologi Deskriptif adalah :
a. Relatif murah daripada studi Epidemiologi Analitik.
b. Memberikan masukan tentang pengalokasian sumber daya dalam
rangka perencanaan yang efisien.
c. Memberikan petunjuk awal untuk merumuskan hipotesis bahwa suatu
variabel merupakan faktor resiko penyakit.

2
Pembagian Studi Epidemiologi Deskriptif antara lain adalah :
a. Laporan kasus dan seri kasus
Laporan kasus merupakan rancangan studi yang menggambarkan
kejadian satu kasus baru yang menarik yang dilakukan oleh satu orang
peneliti atau lebih untuk mendapatkan gejala atau tanda-tanda spesifik,
misalnya terjadi kasus keracunan merthyl mercuri di Teluk Minimata Jepang.
Tujuan studi kasus adalah untuk mengenal karakteristik kasus . Setelah
karakteristik dikenal baru kemudian disusun gejala-gejala dan tanda-tanda.
Misalnya yang termasuk gejala subjektif, tanda-tandanya ditemukan dari
anamnese, sedangkan gejala yang bersifat objektif ditemukan dari hasil
pemeriksaan laboratorium.
Serial kasus merupakan rancangan studi yang menggambarkan kejadian
sekumpulan kasus baru dengan diagnosis serupa, dengan mendistribusikan
pada variabel-variabel tertentu untuk melihat kecenderungan-kecenderungan
tertentu. misal pada tahun 1985 ditemukan penyakit break dancing neck.
Tujuannya adalah untuk melihat kecenderungan-kecenderungan tertentu.
Tidak ada batasan jumlah kasus dalam kasus seri. Kasus seri dilaporkan
dalam bentuk proporsi (rancangan kasus seri bukan ukuran frekuensi). Dalam
kasus seri perlu juga didapat data populasi. Secara sistematis variabel
dikelompokkan kedalam tiga kelompok besar yaitu :
1) Kelompok orang, meliputi; demografi, genetik dan umur. Kelompok
demografi meliputi alamat, umur, sex, sosial ekonomi, ras,
pendidikan, pekerjaan, status. Kelompok orang dari segi genetik
meliputi riwayat keluarga. Sedangkan dari kelompok prilaku
meliputi morokok, minuman keras, hobby, olahraga dan tidur.
2) Kelompok tempat, meliputi alamat, lingkungan kerja, dataran tinggi
– rendah.
3) Kelompok waktu, meliputi pagi - siang – malam; bulan; musim
(panas-hujan).

3
Kelemahan studi ini adalah :
1) Tidak ada grup kontrol
2) Tidak dapat dilakukan studi hipotesa

b. Studi ekologi / korelasi


Studi Korelasi merupakan studi epidemiologi yang bertujuan
untuk mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dengan
karakteristik suatu populasi pada waktu yang sama atau pada populasi yang
sama pada waktu yang berbeda.
Karakteristik dari populasi yang akan di teliti biasanya tergantung pada
minat seorang peneliti, misalnya, mengenai jenis kelamin, umur, kebiasaan
mengkonsumsi makanan tertentu, obat-obatan, rokok, aktifitas, tempat tinggal
dan lain-lain. Contohnya adalah :
1) Hubungan antara tingkat penjualan obat anti asma dengan jumlah
kematian yang diakibatkan oleh penyakit ashma.
2) Hubungan antara jumlah konsumsi rokok pada satu wilayah dengan
jumlah kematian yang diakibatkan oleh penyakit paru.
Kelebihan dari Studi korelasi adalah sangat tepat bila digunakan sebagai
dasar penelitian untuk melihat hubungan antara fakor paparan dengan
penyakit, karena mudah dilakukan dengan informasi yang tersedia sehingga
dapat muncul hipotesis kausal dan selanjutnya dapat diuji dengan rancangan
studi epidemiologi analitik.
Kelemahan dari studi korelasi adalah studi korelasi mengacu pada
populasi (kelompok), sehingga tidak dapat mengidentifikasikan kondisi per
individu dalam kelompok tersebut. Selain itu dalam studi korelasi juga tidak
dapat mengontrol faktor perancu yang potensial, misalnya dalam studi
korelasi mengenai hubungan antara jumlah perokok dengan jumlah penderita
kanker paru, pada studi korelasi tidak mampu untuk mengidentifikasikan
faktor perancu lain seperti, faktor polusi, jenis pekerjaan, aktifitas, dan lain-
lain.

4
c. Cross sectional
Merupakan rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan
penyakit dengan paparan(pajanan) secara acak terhadap satu individu dimana
faktor pencetus dan status penyakit diteliti pada waktu yang sama.
Ciri khas rancangan cross sectional :
1) Peneliti melakukan observasi atau pegukuran variabel pada satu
saat tertentu.
2) Status seorang individu atas ada atau tidaknya kedua faktor baik
pemajanan (eksposur) maupun penyakit yang dinilai pada waktu
yang sama. Variabelnya bebas dan terikat yang dikumpulkan dalam
waktu yang sama.
3) Hanya menggambarkan asosiasi bukan sebab -akibat.
4) Apabila penerapannya pada studi deskriptif, peneliti tidak
melakukan tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan.
5) Desain ini dapat digunakan pada deskriftif dan analitik.
Tujuan dari kegiatan ini:
1) Mempelajari angka kejadian suatu penyakit /masalah kesehatan.
2) Mempelajari hubungan antara suatu faktor resiko dengan angka
kejadian suatu penyakit.
Keuntungan :
1) Mudah dan murah dilakukan, cepat diperoleh hasil.
2) Dilakukan pada satu waktu.
3) Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum.
4) Dapat meneliti banyak variabel.
5) Dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.
6) Menggambarkan hubungan dan kondisi satu penyakit dan
pemicunya.
7) Tidak hanya terhadap individu yang mendapatkan
pengobatan. Kerugian :
1) Tidak tepat untuk meneliti hubungan kausal antara penyakit dengan
pemicunya karena penelitian dilakukan pada satu waktu.

5
2) Hanya akurat bila dilaksanakan pada individu yang representatif.
3) Tidak dapat dilaksanakan pada semua kasus.
2. Epidemiologi Analitik
a. Pengertian Studi Epidemiologi Analitik
Epidemiologi analitik merupakan studi epidemiologi yang ditujukan
untuk mencari faktor-faktor penyebab timbulnya penyakit atau mencari
penyebab terjadinya variasi yaitu tinggi atau rendahnya frekuensi penyakit
pada kelompok individu. (Eko Budiarto, 2002:111).
Epidemiologi analitik adalah epidemiologi yang menekankan pada
pencarian jawaban terhadap penyebab terjadinya frekuensi, penyebaran
serta munculnya suatu masalah kesehatan. Studi analitik digunakan untuk
menguji hubungan sebab akibat dan berpegangan pada pengembangan
data baru. Kunci dari studi analitik ini adalah untuk menjamin bahwa studi
di desain tepat sehingga temuannya dapat dipercaya (reliabel) dan valid.
b. Tujuan Studi Epidemiologi Analitik
Epidemologi Analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk:
1) Menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit.
2) Memprediksikan kejadian penyakit
3) Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian
penyakit.
c. Jenis Studi Epidemiologi Analitik
Berdasarkan peran epidemiologi analitik dibagi 2 :
1) Studi Observasional
a) Studi potong lintang (Cross sectional)
Rancangan cross sectional adalah suatu rancangan
epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan faktor
penyebab yang mempengaruhi penyakit tersebut dengan
mengamati status faktor yang mempengaruhi penyakit tersebut
secara serentak pada individu atau kelompok pada satu waktu.

6
Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian dimana
variabel-variabel yang termasuk faktor resiko dan variabel-variabel
yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama.

Langkah – langkah penelitian cross sectional :

i. Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian dan mengidentifikasi faktor resiko dan


faktor efek.
ii. Menetapkan subjek penelitian.
iii. Melakukanobservasiatau pengukuranvariabel-variabel yang merupakan
faktorresiko dan efek sekaligus berdasarkan status keadaan variabel pada saat itu
(pengumpulan data).
iv. Melakukan analisi korelasi dengan cara membandingkan proporsi antar kelompok-
kelompok hasil observasi (pengukuran)

Contoh : Ingin mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil
dengan Berat Badan Bayi Lahir (BBL) denagn menggunakan rancanagn atau
pendekatan cross sectional.

Ciri khas rancangan cross sectional :


i. Peneliti melakukan observasi / pengukuran variabel pada suatu saat
tertentu.
ii. Status seorang individu atas ada atau tidaknya kedua faktor baik
pemajanan (exposure) maupun penyakit yang dinilai pada waktu yang
sama.
iii. Hanya menggambarkan hubungan aosiasi bukan sebab akibat.
iv. Apabila penerapannya pada studi deskriptif, peneliti tidak melakukan
tindak lanjut terhadap pengukuran yang dilakukan.

Kelebihan rancangan cross sectional :


i. Mudah dilaksanakan.
ii. Sederhana.

7
iii. Ekonomis dalam hal waktu.
iv. Hasilnya dapat diperoleh dengan cepat.
v. Dalam waktu bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak,
baik variabel resiko maupun efek.

Kekurangan rancangan cross sectional :


i. Diperlukan subjek penelitian yang besar.
ii. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat.
iii. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan.
iv. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan efek paling lemah bila
dibandingan dengan dua rancangan epidemiologi yang lain

b) Kasus kontrol (case control)


Rancangan Kasus Kontrol adalah rancangan studi epidemiologi
yang mempelajari hubungan antara penyebab suatu penyakit dan
penyakit yang diteliti dengan membandingkan kelompok kasus dan
kelompok kontrol berdasarkan status penyebab penyakitnya.
Penelitian case control adalah suatu penelitian (survey) analitik
yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan
menggunakan pendekatan retrospektif.

Tahap-tahap penelitian case control :


i. Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor resiko dan efek).
ii. Menetapkan objek penelitian (populasi dan sampel).
iii. Identifikasi kasus.
iv. Pemilihan subjek sebagai kontrol.
v. Melakukan pengukuran retrospetif (melihat ke belakang) untuk
melihat faktor resiko.
vi. Melakukan analisis dengan menbandingkan proporsi antara variabel-
variabel objek penelitian dengan variabel-variabel kontrol.

8
Contoh : Peneliti ingin membuktikan hubungan antara malnutrisi
(kekurangan gizi) pada balita dengan prilaku pemberian makanan oleh
ibu.

Ciri rancangan kasus kontrol :


i. Subjek dipilih atas dasar apakah mereka menderita (kasus) atau tidak
(kontrol) suatu kasus yang ingin diamati kemudian proporsi
pemajanan dari kedua kelompok tersebut dibandingkan.
ii. Diketahui variabel terikat (akibat), kemudian ingi diketahui variabel
bebas (penyebab).
iii. Observasi dan pengukuran tidak dilakukan pada saat yang sama.
iv. Peneliti melakukan pengukuran variabel bergantung pada efek (subjek
(kasus) yang terkena penyakit) sedangkan variabel bebasnya dicari
secara retrospektif.
v. Untuk kontrol, dipilih subjek yang berasal dari populasi dan
karakteristik yang sama dengan kasus.
vi. Bedanya kelompok kontrol tidak menderita penyakit yang akan diteliti

Kelebihan rancangan penelitian case control :


i. Merupakan satu-satunya cara untuk meneliti kasus jarang atau yang
masa latennya panjang.
ii. Hasil dapat diperoleh dengan cepat.
iii. Biaya yang dibutuhkan relatif sedikit.
iv. Subjek penelitian sedikit.
v. Dapat melihat hubungan bebrapa penyebab terhadap suatu akibat.
vi. Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil
penelitian lebih tajam dibanding dengan hasil rancangan cross
sectional

9
Kekurangan rancangan penelitian case control :
i. Sulit menentukan kontrol yang tepat.
ii. Validasi mengenai informasi kadang sukar diperoleh.
iii. Sukar untuk menyakinkan dua kelompok tersebut sebanding.
iv. Tidak dapat dipakai lebih dari satu variabel dependen.
v. Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara teknis tidak
dapat dikendalikan

c) Kohort
Rancangan Kohort adalah rancangan studi epidemiologi yang
mempelajari hubungan antara penyebab dari suatu penyakit dan penyakit yang
diteliti dengan membandingkan kelompok terpajan dan kelompok yang tidak
terpajan berdasar status penyakitnya.
Penelitian kohort adalah suatu penelitian yang digunakanuntuk
mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan faktor efek melalui
pendekatan longitudinal kedepan atau prospektif.
Dua jenis kohort :
i. Closed kohort, yaitu kohort dengan keanggotaan tertutup dimana tidak
ada penambahan anggota baru sejak studi atau follow up sejak studi
dimulai.
ii. Open cohort. Yaitu kohort dengan keanggotaan terbuka dimana dalam
perjalanan waktu pengamatan dapat menambahkan anggota baru.

Langkah – langkah pelaksanaan penelitian kohort :


i. tentukan satu kelompok orang yang terpajan.
ii. Tentukan kelompok lainnya yang tidak terpajan.
iii. Amati kedua kelompok, apakah mereka menjadi sakit atau tidak.

Ciri khas dari rancangan kohort :


i. Berasaldarikata romawikuno yang berartikelompok tentara yang berbaris
maju ke depan.

10
ii. Subjek dibagi berdasar ada atau tidaknya pemajanan faktor tertentu dan
kemudian diikuti dalam periode waktu tertentu untuk menentukan
munculnya penyakit pada tiap kelompok.
iii. Digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko
dan efek.
iv. Sekelompok subjek yang belum mengalami penyakit atau efek diikuti secara
prospektif.
v. Diketahui variabel bebas (penyebab) kemudian ingin diketahui
variabel terikat (akibat).
vi. Dapat dilakukan secara prospektif dan retrospektif

Kelebihan Rancangan kohort :


i. Merupakan desain terbaik dalam menentukan insiden perjalanan
penyakit atau efek yang diteliti.
ii. Desain terbaik dalam menerangkan dinamika hubungan antara faktor
resiko dengan efek secara temporal.
iii. Dapat meneliti beberapa efek sekaligus.
iv. Baik untuk evaluasi pemajan yang jarang.
v. Dapat meneliti multipel efek dari satu pemajan.
vi. Dapat menetapkan hubungan temporal.
vii. Mendapat incidence rate.
viii. Biasnya lebih kecil

Kekurangan rancangan kohort :


i. Memerlukan waktu yang lama.
ii. Sarana dan biaya yang mahal.
iii. Rumit.
iv. Kurang efisien untuk kasus yang jarang.
v. Terancam Drop Out dan akan mengganggu analisis.
vi. Menimbulkan masalah etika.
vii. Hanya dapat mengamati satu faktor penyebab.

11
2) Studi Eksperimental
Rancangan studi eksperimen adalah jenis penelitian yang
dikembangkan untuk mempelajari fenomena dalam kerangka korelasi
sebab-akibat. Menurut Bhisma Murti rancangan studi ini digunakan
ketika peneliti atau oranglain dengan sengaja memperlakukan berbagai
tingkat variabel independen kepada subjek penelitian dengan tujuan
mengetahui pengaruh variabel independen tersebut terhadap variabel
dependen.
Berdasarkan penelitian tersebut studi eksperimen (studi perlakuan
atau intervensi dari situasi penelitian ) terbagi dalam dua macam yaitu
rancangan eksperimen murni dan quasi eksperimen.
a) Rancangan eksperimen murni
Eksperimen murni adalah suatu bentuk rancangan yang
memperlakukan dan memanipulasi sujek penelitian dengan kontrol
secara ketat.
Penelitian eksperimen mempunyai ciri :
i. Ada perlakuan, yaitu memperlakukan variabel yang diteliti
(memanipulasi suatu variabel).
ii. Ada randominasi, yaitu penunjukan subjek penelitian secara acak
untuk mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat faktor penelitian.
iii. Semua variabel terkontrol, eksperimen murni mampu mengontrol
hampir semua pengaruh faktor penelitian terhadap variabel hasil
yang diteliti.
b) Quasi Eksperimen (eksperimen semu)
Quasi Eksperimen (eksperimen semu) adalah eksperimen yang
dalam mengontrol situasi penelitian tidak terlalu ketat atau
menggunakan rancangan tertentu dan atau penunjukkan subjek
penelitian secara tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari
berbagai tingkat faktor penelitian.

12
Ciri dari quasi eksperimen :
i. Tidak ada randominasi, yaitu penunjukkan sujek penelitian secara
tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat
faktor penelitian. Hal ini disebabkan karena ketika pengalokasian
faktor penelitian kepada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis,
atau tidak praktis menggunakan randominasi.
ii. Tidak semua variabel terkontrol karena terkait dengan pengalokasian
faktor penelitian kepada subjek penelitian tidak mungkin, tidak etis,
atau tidak praktis menggunakan randominasi sehinggasulit mengontrol
variabel secara ketat.

Kriteria memilih desain studi :

i. Masalah penelitian dan hipotesis


ii. Waktu yang tersedia untuk penelitian.
iii. Sumber daya yang tersedia untuk penelitian.
iv. Penyakit umum atau langka.
v. Jenis variabel hasil yang diteliti.
vi. Kualitas data yang akan diperoleh dari barbagai sumber.

13
CONTOH KASUS

Suatu penelitian ingin mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya


penyakit thypoid pada Anak-anak. Beberapa faktor yang diduga sebagai faktor risiko
terjadinya penyakit Thypoid adalah Kebiasaan jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan
sebelum makan. Jelaskan bagaimana penelitian tersebut akan dilakukan dengan desain
penelitian yang berbeda;
1. Case Control
2. Cohor
3. Cross sectional

Untuk memudahkan kita mengunakan symbol E( exposure) dan D (disease)


Dimana :
D+ : Thypoid
D- : Tidak Thypoid
E+ : Tidak cuci tangan dan jajan
E- : Cuci tangan dan jajan

1. Case Control

Desain studinya dapat digambarkan sebagai berikut:

Desain Case Control


Pada desain studi case control kita menentukan disease / penyakitnya lebih dulu baru
menganalisis penyebab atau paparannya (exposure). Dalam hal ini kita menentukan
adanya penyakit Thypoid atau tidak kemudian menganalisis penyebab terjadinya penyakit
Thypoid, apakah karena dipengaruhi jajan dan tidak cuci tangan atau jajan dan cuci
tangan.

2. Cohor
14
Desain studinya dapat digambarkan sebagai berikut :

Desain Kohort
 Pada disain cohor berdasarkan status paparan ( Exposure) kemudian diikuti (di- follow
up) hingga periode tertentu sehingga dapat diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian
penyakit (Disease). Dalam hal ini berdasarkan status paparan ( jajan dan cuci tangan atau
jajan dan tidak cuci tangan) baru kemudian diamati dari paparan-paparan tersebut mana
yang menyebabkan penyakit Thypoid dan mana yang tidak menyebabkan penyakit
Thypoid.

3. Cross sectional

Desain studinya dapat digambarkan sebagai berikut :

Desain Cross Sectional


 Pada disain Cross Sectional mempelajari hubungan penyakit dan paparan dengan
mengamati status paparan, penyakit atau outcome lain, jadi pada disain ini juga mencoba
mengamati hubungan paparan dan penyakit yang ditimbulkan dengan menggunaakan
beberapa kombinasi paparan. Beberapa options, yang dapat diambil dari tabel silang
diatas yaitu:

1. 1E+D+ = tidak cuci tangan dan jajan + Thypoid


2. 2E+D- = cuci tangan dan jajan + tidak Thypoid
3. 3E- D+ =cuci tangan dan jajan + Thypoid
4. 4E- D- = cuci tangan dan jajan + tidak Thypoid.
A. Simpulan
Epidemiologi analitik adalah ilmu yang mempelajari determinan yaitu
faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dan distribusi penyakit atau
masalah yang berkaitan dengan kesehatan. Epidemiologi analitik di samping
15
meliputi pemahaman terhadap dasar-dasar epidemiologi deskriptif juga
mempunyai pembidangan yang lebih khusus. Kekhususannya tersebut
menekankan pada aspek analisis yaitu mengkhususkan diri pada analisis
hubungan antara fenomena kesehatan dengan berbagai variabel lain.
Epidemiologi analitik ini ditujukan untuk menentukan kekuatan, kepentingan
dan makna statistik dari hubungan epidemiologi antara pemapar dan akibat
yang ditimbulkan.

Epidemiologi analitik terdiri dari: (1) Studi observasi (case control,


cohort,cross sectional), (2) Eksperimen/intervensi (eksperimen kuasi,
eksperimen murni). Studi potong lintang (cross sectional) untuk penelitian
analitik adalah studi yang mempelajari hubungan faktor risiko (paparan) dan
efek (penyakit/masalah kesehatan) dengan cara mengamati faktor risiko dan
efek secara serentak pada banyak individu dari suatu populasi pada satu saat.
Studi kasus kontrol merupakan studi penelitian yang dimana peneliti akan
melakukan observasi atau pengukuran terhadap variabel bebas dan tergantung
tidak dalam satu waktu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional
karena peneliti tidak memberi perlakuan kepada subjek penelitian.Dalam
studi kohort sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab
penyakit (agent). Kemudian, diambil sekelompok orang lain yang mempunyai
ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau
dikenakan pada penyebab penyakit.

Penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang


digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain
dalam kondisi yang terkendalikan. Tujuan dari penelitian eksperimental adalah
untuk

mengukur efek dari suatu intervensi terhadap hasil tertentu yangdiprediksi


sebelumnya.Desain ini merupakan metode utama untuk menginvestigasi terapi
baru.

16
DAFTAR PUSTAKA

Bhisma Murti, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi edisi 2. Gadjah Mada
University Press, Yoyakarta, 2003
R.Beaglehole, dkk., Dasar-dasar Epidemiologi, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, 1997.
Saepudin, Malik. Prinsip-prinsip epidemiologi, cv. Trans Info Media : Jakarta
Timur, 2011
Rajab, Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi Untuk mahasiswa Kebidan. Buku
Kedokteran EGC : Jakarta
Rianti, Emy (dkk). 2010. Buku Ajar Epidemiologi Dalam Kebidanan Edisi Revisi.
Trans Info Media : Jakarta
https://www.statistikian.com/2012/08/perbedaan-cross-sectional-case-control-
cohort.html

17