Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH

KEHILANGAN BIODIVERSITAS

Dosen Pengampu:

Arif Mustakim, M.Si.

Disusun Oleh Kelompok 4 TBIO 4-B:

1. Insan Willianti Susanah : 12208183031


2. Dewi Iftahun Nikmatul Azizah : 12208183038
3. Jayus Syarifuddin : 12208183040
4. Nailal Muna : 12208183101
5. Ika Lusiana : 12208183102
6. Bintan Nur Aulia Khusuma : 12208183103
7. Vivi Anisa Indar Asmuri : 12208183113
8. Mamila Putri Hapsari : 12208183165

PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG

MARET 2020
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga makalah Biodiversitas ini dapat
diselesaikan. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah Biodiversitas ini dan berbagai sumber yang telah
kami pakai dalam pembuatan makalah Biodiversitas.

Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam
berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna.
Begitu pula dengan makalah Biodiversitas ini yang telah kami selesaikan. Tidak semua hal
dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam makalah ini. Kami melakukannya semaksimal
mungkin dengan kemampuan yang kami miliki. Maka dari itu, kami bersedia menerima kritik
dan saran dari pembaca yang budiman. Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut
sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki makalah kami di masa datang.

Dengan menyelesaikan makalah Biodiversitas ini kami mengharapkan banyak manfaat


yang dapat dipetik dan diambil dari karya ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Tulungagung, 28 Maret 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………...iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ……………………………………………………………….….1

B. Rumusan Masalah …………………………………………………………….…1

C. Tujuan………………………………………………………………………….…1

BAB II PEMBAHASAN

A. Kehilangan Biodiversitas ………………………………………………………..2

B. Perubahan Habitat ………………………………………...…………………….2

C. Masuknya JAI …………………………………………………………………..4

D. Polusi …………………………………………………………………………...12

E. Eksploitasi Berlebihan..........................................................................................16

F. Perubahan Iklim....................................................................................................22

G. Solusi untuk Mengatasi Kehilangan Biodiversitas...............................................27

iii
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ………………………………………...…….…………………...…35

B. Saran……………………………………………………………………………...35

DAFTAR RUJUKAN..................................................................................................................36

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Biodiversitas atau keanekaragaman hayati merupakan ukuran dari jumlah


dankeragaman organisme yang meliputi keanekaragaman dalam spesies, antar spesies dan
diantara ekosistems. Aktivitas manusia dapat mengakibatkan hilangnya keanekaragaman
dibumi. Hilangnya keanekaragaman ini semakin cepat sekitar 50 tahun belakangan ini.
Sejaktahun 2000, 6 juta ha hutan primer hilang setiap tahunnya, sedangkan di Karibia
rata-rata luastutupan karang menurun dari 50% hingga 10% dalam tiga decade terakhir
dan 35%mangrove telah hilang dalam dua decade terakhir. Rata-rata kelimpahan spesies
menurunsebesar 40% antara tahun 1970-2000. Overfishing biasanya dilakukan terhadap
ikan-ikanyang kecil, sehingga dapat mengakibatkan penurunan jumlah ikan-ikan yang
lebih besarseperti yang terjadi di Atlantik Utara dimana julah ikan besar berkurang
sebanyak 66%dalam 50 tahun terkahir (Soriaga, 2006).Biodiversitas di muka bumi ini
semakin menurun, meskipun belum diketahui secarapasti, tetapi telah banyak spesies
yang punah serta beberapa di antaranya mengalami penurunan populasi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kehilangan biodiversitas itu?
2. Bagaimana dampak perubahan habitat terhadap kehilangan biodiversitas?
3. Bagaimana dampak masuknya JAI terhadap kehilangan biodiversitas?
4. Bagaimana dampak adanya polusi terhadap kehilangan biodiversitas?
5. Bagaimana dampak eksploitas berlebihan terhadap kehilangan biodiversitas?
6. Bagaimana dampak perubahan iklim terhadap kehilangan biodiversitas?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kehilangan biodiversitas.
2. Untuk mengetahui dampak perubahan habitat terhadap kehilangan biodiversitas.
3. Untuk mengetahui dampak masuknya JAI terhadap kehilangan biodiversitas.
4. Untuk mengetahui dampak adanya polusi terhadap kehilangan biodiversitas.
5. Untuk mengetahui dampak eksploitas berlebihan terhadap kehilangan biodiversitas.
6. Untuk mengetahui dampak perubahan iklim terhadap kehilangan biodiversitas.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kehilangan Biodiversitas

Keanekaragaman hayati (kehati) atau biasa disebut juga dengan biodiversitas


adalah seluruh bentuk kehidupan di bumi ini, yang terdiri atas berbagai tingkatan, mulai
dari tingkatan ekosistem, jenis, hingga genetik. Antara tingkatan satu dengan lainnya
saling berinteraksi di dalam satu lingkungan. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
negara maritim yang unik dan strategis karena tersusun oleh belasan ribu pulau dan
kepulauan, tersebar di seputar khatulistiwa dan terletak di antara dua benua (Asia dan
Australia) serta dua samudera (Pasifik dan Hindia). Indonesia dikaruniai kekayaan dan
kekhasan kehati yang menjadi tulang punggung kehidupan ratusan kelompok etnis yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia.1

Pemanfaatan kehati yang tidak bertanggung jawab akan sangat merusak


keberadaan kehati dan merugikan manfaat kehati yang seharusnya berguna bagi
kesejahteraan masyrakat sekitarnya. Tiga jenis tantangan pemanfaatan yang tidak
bertanggung jawab adalah: penambangan kehati dari habitatnya yang melebihi daya
tumbuh (regenerasi) kehati, perdagangan kehati yang tidak bertanggung jawab, dan pola
pemanfaatan yang mengerosi kegiatan masyarakat berbasis kearifan lokal.2

Beberapa hal yang menjadi ancaman terhadap kelestarian keanekaragaman hayati


sehingga dapat menimbulkan hilangnya biodiversitas, di antaranya adalah perubahan
habitat, keberadaan Jenis Asing Invasif (JAI)3, polusi, eksploitasi yang berlebihan, dan
adanya perubahan iklim.

B. Perubahan Habitat

Perubahan habitat adalah sebuah proses perubahan lingkungan yang berperan


penting dalam evolusi dan konservasi. Perubahan habitat dapat disebabkan oleh proses-
proses geologis yang secara perlahan mengubah tata letak lingkungan, maupun oleh
aktivitas manusia yang dapat mengubah lingkungan secara cepat.

1
Wahyuningsih Darajati, dkk, Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020.
(Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), 2016), hlm. 27.
2
Ibid. hlm. 161.
3
Ibid. hlm. 189-197.

2
3

Proses perubahan habitat secara alami diduga merupakan salah satu sebab utama
spesiesi, sedangkan proses perubahan habitat oleh manusia menyebabkan kepunahan
banyak spesies.4

Perubahan habitat sering disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti agrikultur dan
urbanisasi. Habitat yang sebelumnya terhubung menjadi terbagi menjadi dua fragmen.
Setelah pembersihan habitat yang intensif, kedua fragmen yang terpisah tersebut akan
terisolasi satu dengan lainnya. Perubahan habitat juga dapat menyebabkan persebaran
flora dan fauna yang disesuaikan oleh iklim dan ketinggian suatu tempat sehingga
menyebabkan keragaman flora dan fauna di suatu daerah.

Perubahan habitat yang merupakan proses dan hasil perilaku manusia dalam
memanfaatkan sumber daya alam seperti konversi, penebangan liar, pembakaran hutan,
perladangan, dan perambahan kawasan hutan. Keberhasilan pengelolaan keanekaragaman
hayati di kawasan yang telah terfragmentasi memerlukan pemahaman konsep-konsep
yang lahir dari teori biogeografi pulau, seperti fragmentasi, koridor dan single large or
several small (SLOSS)

Solusi untuk mengatasi masalah perubahan habitat adalah dengan menghubungkan


fragmen-fragmen dengan cara menanami koridor dengan vegetasi asli. Hal ini berpotensi
untuk mencegah masalah isolasi tetapi tidak mencegah kehilangan habitat interior. Dalam
beberapa kasus suatu spesies terancam mungkin mendapatkan keuntungan terhindar dari
penyakit karena tersebar dari habitat-habitat yang terisolasi. Upaya lain untuk mengatasi
perubahan habitat adalah dengan memperluas sisa habitat kecil untuk meningkatkan
jumlah habitat interior. Namun karena lahan yang telah terbangun akan lebih mahal dan
membutuhkan waktu dan usaha yang tidak sedikit untuk merestorasi.5

Solusi terbaik umumnya tergantung pada spesies tertentu atau ekosistem yang
sedang menjadi perhatian. Spesies yang lebih mobile, seperti burung tidak memerlukan
habitat yang bersambung, sementara beberapa satwa yang lebih kecil seperti pengerat
mungkin memerlukan habitat yang terbuka, lebih luas, dan bersambung.

4
Https://id.m.wikipedia.org/wiki/fragmentasi_habitat diakses pada 28 maret 2020 pukul 09.05 WIB.
5
Hendra gunawan, Lilik budi.Fragmentasi Hutan.(Bogor:P3KR,2013) hlm 103
4

C. Masuknya JAI (Jenis Asing Invasif)

Spesies invasif mempunyai beberapa macam definisi, yaitu (1) non-indigenous


species atau spesies asing yang menyebabkan habitat diinvasi dan dapat merugikan baik
secara ekonomis, lingkungan maupun ekologis; (2) native dannon-native species, spesies
yang mengkoloni secara berat habitat tertentu; dan (3) widespread non-indigenous
species, spesies yang mengekspansi suatu habitat. Jadi spesies invasif mencakup spesies
asing (eksotik) dan spesies asli yang tumbuh di habitat alaminya.

Karakter spesies invasif antara lain: tumbuh cepat, reproduksi cepat, kemampuan
menyebar tinggi, toleransi yang lebar terhadap kondisi lingkungan, kemampuan untuk
hidup dengan jenis makan yang beragam, reproduksi aseksual, dan berasosiasi dengan
manusia.

Spesies asing invasif adalah spesies-spesies flora maupun fauna, termasuk


mikroorganisma yang hidup di luar habitat alaminya, tumbuh dengan pesat karena tidak
mempunyai musuh alami, sehingga menjadi gulma, hama dan penyakit pada spesies-
spesies asli.

Berdasarkan data The Invasive Species Specialist Group/ISSG (2004) terdapat


sekitar 100 spesies yang sangat invasif, termasuk diantaranya kirinyu (Chromolaena
odorata). Invasi hayati oleh spesies-spesies saat ini telah disadari sebagai salah satu
ancaman pada keberlangsungan keanekaragaman hayat dan ekosistem asli. Sebagai
kompetitor, predator, patogen dan parasit, spesies-spesies asing invasif ini mampu
merambah semua bagian ekosistem alami/asli dan menyebabkan punahnya spesies-
spesies asli. Dalam skala besar spesies asing invasif ini mampu merusak ekosistem
alami/asli.

Selama jutaan tahun, hambatan alam berupa lautan, pegunungan, sungai dan gurun
menjadi isolasi alam yang berfungsi sebagai penghalang pergerakan alami sehingga
keunikan berbagai spesies dan ekosistem tetap terjaga. Penghalang alam yang telah ada
dalam ratusan tahun tersebut menjadi tidak efektif disebabkan berbagai perubahan global
yang membuat suatu spesies dapat berpindah melintasi jarak yang jauh dan masuk ke
suatu habitat baru dan menjadi spesies asing invasif.
5

Penghalang alami yang mampu menahan interaksi berbagai spesies selama jutaan
tahun telah berakhir dengan meningkatnya pergerakan dan kegiatan manusia.
Transportasi global, pertumbuhan volume perdagangan dan wisata serta ditambah adanya
perdagangan bebas memberikan kesempatan yang lebih besar bagi suatu spesies untuk
berpindah dari habitat aslinya. Penghalang pergerakan alami yang semula mampu
mengisolasi pergerakan spesies-spesies asing ini dapat terjadi secara disengaja, melalui
introduksi spesies komoditas, perdagangan dan kepariwisataan, atau tidak disengaja,
melalui penempelan berbagai spesies makhluk hidup ini pada kapal, kontainer, mobil,
benih, dan tanah.

1. Deskripsi Masuknya Spesies Asing Invasif

Spesies invasif adalah definisi yang menjelaskan tentang spesies yang bukan
spesies asli tempat tersebut (hewan ataupun tumbuhan), yang secara luas
memengaruhi habitatyang mereka invasi. Makna lain dari spesies invasif adalah
spesies, baik spesies asli maupun bukan, yang mengkolonisasi suatu habitat secara
masif. Namun spesies yang diperkenalkan secara sengaja oleh manusia bukan untuk
memengaruhi suatu habitat melainkan untuk keuntungan hidup manusia dan
sekelompok manusia dinamakan spesies introduksi. Pengertian lain yaitu usaha sadar
atau tidak sadar memasukkan sesuatu jenis hewan atau tumbuhan kedalam satu habitat
yang baru. Masukknya jenis tersebut melalui alat transportasi antar pulau, akibat
adanya hobi atau kegemaran beberapa orang membawa jenis-jenis baru, ataupun
sengaja dibiarkan karena alasan seperti penanganan hama penyakit.

2. Bagaimana Invasi Spesies terjadi dan apa dampak yang bisa ditimbulkan?

Dalam suatu ekosistem yang stabil tanpa adanya gangguan, beragam spesies
lokal akan hidup di dalamnya dan terjadi suatu interaksi baik antar spesies ataupun
spesies dengan lingkungan fisiknya sehingga tercipta suatu siklus biologi yang tidak
terputus dan membentuk proses ekologi yang berkesinambungan. Jika suatu spesies
asing masuk ke dalam habitat yang baru, setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang
akan terjadi. Pertama, spesies baru tidak mampu beradaptasi dengan habitat baru dan
akhirnya populasinya punah di habitat tersebut. Ke dua, spesies mampu beradaptasi
tetapi populasinya tidak berkembang pesat, sehingga keberadaannya memperkaya
komunitas lokal.
6

Ke tiga, spesies mampu beradaptasi dan populasinya berkembang pesat,


sehingga mampu berkompetisi dengan baik dengan spesies lokal dalam segi ruang
maupun makanan. Pada situasi pertama dan ke dua, mungkin kehadiran spesies baru
tidak memberikan dampak negatif terhadap ekosistem. Tetapi pada situasi ke-tiga,
hadirnya spesies baru ini memiliki potensi yang cukup besar untuk mendominasi
ekosistem. Kemampuan adaptasi yang baik dengan lingkungan, perkembangbiakan
yang cepat, serta kemampuan berkompetisi dalam ruang dan makanan yang cukup
tinggi dapat membuatnya menjadi spesies dominan di wilayah yang baru.
Perkembangan populasi spesies asing invasif ini akan mengubah struktur komunitas
ekosistem, jaring-jaring makanan, dan pada akhirnya mempengaruhi proses-proses
ekologi yang ada. Apa yang terjadi dengan spesies lokal?. Beberapa spesies lokal
mungkin akan dapat bertahan, tetapi bagi spesies lokal yang memiliki relung yang
sama, namun tidak mampu berkompetisi baik dari segi ruang dan makanan, maka
spesies ini akan lenyap. Beberapa spesies asing invasif, misalnya enceng gondok
diketahui memiliki senyawa kimia yang dapat mengakibatkan kematian tumbuhan air
yang ada di sekitarnya. Jika proses dominansi ini terus berlanjut, maka homogenisasi
biota tidak dapat dihindarkan. Hasil penelitian salah satu mahasiswa S3 dari IPB,
membuktikan bahwa homogenisasi enceng gondok telah terjadi di berbagai wilayah
perairan di Jawa Barat. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa keberadaan enceng
gondok menghilangkan kesempatan tumbuhan air lokal untuk bertahan hidup. Apa
yang terjadi apabila spesies invasif ini memiliki daya sebar yang tinggi?
Homogenisasi biotik akan terjadi dimana-mana, sehingga kepunahan spesies lokal
tidak dapat dihindari. Disamping itu, proses-proses ekologi yang menyangga
kestabilan ekosistem akan secara drastis berubah karena hadirnya spesies baru yang
dominan.

3. Bagaimana spesies-spesies tersebut menyebar?

Penyebaran spesies asing invasif yang begitu cepat ke berbagai penjuru dunia,
telah menimbulkan kecemasan para peneliti terhadap apa yang disebut “biological
replacement”, yang disertai homogenisasi biotik. Bagaimana spesies-spesies tersebut
dapat menyebar, masih menjadi perdebatan yang cukup hangat. Pada intinya,
penyebaran ini dapat terjadi baik secara aktif maupun pasif atau keduanya tergantung
pada karakteristik dari spesies tersebut.
7

Pada organisme bersayap yang mampu terbang seperti burung, capung, dan
kupu-kupu, dapat secara aktif bermigrasi dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa
bantuan. Pada organisme yang tidak bersayap, migrasi hanya bisa dilakukan secara
aktif dengan berjalan, namun akan menghadapi berbagai keterbatasan, misalnya barier
laut. Pada umumnya, organisme seperti ini dapat tersebar luas karena terbawa oleh
organisme yang lain. Banyak ilmuwan percaya bahwa penyebaran spesies asing
invasif ini. terjadi karena bantuan manusia. Misalnya enceng gondok, tanaman ini
dapat menyebar ke Indonesia dari asal daerah yang sangat jauh, Brazil, karena dibawa
oleh manusia untuk digunakan sebagai tanaman hias. Namun saat ini bisa kita lihat
bahwa di berbagai daerah perairan di Indonesia dari Papua hingga Sumatera telah
terinfestasi oleh enceng gondok. Dari beberapa fakta diketahui bahwa tumbuhan
darat eksotik invasif Cromolaena odorata yang banyak ditemukan di Jawa, kini dapat
ditemukan di beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Alasan manusia melakukan
introduksi spesies :

Aspek ekonomi (bisnis). Introduksi hewan dan tanaman hias merupakan


bisnis yang besar. Kecenderungan manusia untuk menyukai sesuatu yang bersifat
lain, unik ataupun aneh menyebabkan manusia mengintroduksi hewan atau tanaman
yang belum pernah dilihat atau disaksikan.

Memenuhi kebutuhan makanan. Berbagai hewan (ternak), termasuk ikan yang


diintroduksi oleh manusia dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan makanan. Dari
sekian spesies hewan dan tanaman, dipilih spesies-spesies yang memiliki
pertumbuhan cepat dan mampu beradaptasi dengan cepat dalam lingkungan barunya,
mudah diangkut dan dipindahkan dan mengandung unsur gizi yang besar.

Memanipulasi ekosistem. Hal ini dilakukan pada kasus introduksi musuh


alami suatu organisme pengganggu.

4. Kondisi Yang Memicu Invasi


Umumnya, invasi terjadi karena suatu kompetisi. Spesies selalu berkompetisi
dengan spesies lain untuk mendapatkan sumber daya sebanyak-banyaknya sehingga
salah satu caranya adalah dengan tumbuh dan berkembang biak secepat mungkin. Hal
ini cukup mengeliminasi spesies asli dari kompetisi memperebutkan sumber daya.
Selain dengan tumbuh dan berkembang dengan cepat, mereka juga melakukan
interaksi yang kompleks dengan spesies asli.
8

Hal yang memengaruhi kecepatan invasi suatu spesies diantaranya:


a. Kemampuan bereproduksi secara aseksual maupun seksual
b. Tumbuh dengan cepat
c. Bereproduksi dengan cepat
d. Kemampuan menyebar yang tinggi
e. Fenotip yang elastis, mampu mengubah bentuk tergantung kondisi terbaru di
sekitarnya
f. Toleransi terhadap berbagai keadaan lingkungan
g. Hubungan dengan manusia
h. Invasi lainnya yang telah sukses dilakukan
Umumnya, spesies introduksi harus bertahan pada populasi yang sedikit
sebelum menjadi invasif. Pada kepadatan populasi yang rendah, akan sulit untuk
spesies tersebut untuk berkembang biak dan mempertahankan jumlah.
Spesies introduksi dapat menjadi invasif jika mampu menyingkirkan spesies
asli dari persaingan memperebutkan sumber daya seperti nutrisi, cahaya, ruang, air,
dan sebagainya. Jika spesies tersebut berevolusi di bawah kompetisi yang sengit
dengan tingkat predasi yang tinggi, maka lingkungan baru mungkin membuat spesies
tersebut berkembang biak dengan sangat cepat. Namun, kompetisi unilateral dan
kepunahan spesies asli serta peningkatan populasi spesies invasif bukan termasuk
kompetisi.
Spesies invasif mungkin mampu mengandalkan sumber daya yang sebelumnya
tidak mampu dijangkau spesies asli, misalnya air tanah yang dalam yang mampu
dijangkau akarspesies invasif yang panjang, atau kemampuan untuk hidup di tanah
yang sebelumnya tidak dapat dijadikan habitat. Contohnya adalah Aegilops triuncialis
di tanah serpentinCalifornia.
Fasilitasi ekologi adalah mekanisme yang dilakukan oleh beberapa spesies
dengan menggunakan kemampuan mereka memanipulasi faktor abiotik lingkungan
sekitar mereka menggunakan bahan kimia yang mereka produksi. Hal ini
menyebabkan lingkungan menjadi kondisi yang sesuai dengan mereka namun tidak
cocok bagi spesies asli. Contohnya adalah Centaurea diffusa.
9

Tumbuhan seperti Bromus tectorum memiliki kemampuan beradaptasi dengan


api. Setelah kebakaran lahan usai, spesies ini menyebar dengan cepat. Namun
sesungguhnya keberadaan tanaman ini sendiri mempercepat terjadinya kebakaran
dengan memproduksi banyak serasah kering selama musim kering sehingga
mempercepat terjadinya kebakaran yang menguntungkan penyebaran mereka.
5. Dampak ekologi
Spesies invasif biologis mengubah ekosistem dengan banyak cara. Di seluruh
dunia, perkiraan 80% dari spesies terancam dapat menderita karena kompetisi atau
predasi yang diakibatkan spesies invasif.
Pembukaan lahan dan habitasi oleh manusia memberikan tekanan secara
signifikan terhadap spesies lokal. Habitat yang terganggu dapat menjadi suatu
ekosistem yang baru yang memengaruhi secara luas terhadap ekosistem lokal. Hal ini
dapat menyebabkan spesies unggul, yang mungkin bukan spesies asli, dapat tumbuh
pada habitat yang baru tersebut dan menjadi spesies invasif menyingkirkan spesies
asli.
Contoh lainnya adalah spesies Bacopa monnieri yang dinyatakan sebagai
hama ekosistem karena memengaruhi populasi burung akuatik. Spesies ini dengan
cepat menutupi tanah basah yang luas dan mengganggu kehidupan burung seperti
Himantopus mexicanus knudseni yang tidak dapat mencari makan di tempat yang
ditumbuhi spesies invasif tersebut.
Introduksi spesies yang dilakukan oleh manusia ke ekosistem dapat memiliki
efek yang berbeda. Gemma gemma yang diintroduksi dari pantai timur Amerika ke
Bodega Harbor di California seabad yang lalu tidak mengurangi populasi spesies asli
(Nutricola spp). Sedangkan spesies Carcinus maenas yang diintroduksi dari Eropa
memangsa spesies asli sehingga populasi spesies asli terganggu.
Spesies invasif dapat mengubah fungsi ekosistem. Misalnya ekosistem pasca
kebakaran hutan (Bromus tectorum), siklus nutrisi (Spartina alterniflora), dan daur
hidrologi (Tamarix) di ekosistem asli.
6. Berbagai Kasus Spesies Invasif di Indonesia
Introduksi spesies asing di Indonesia telah lama terjadi, baik disengaja maupun
tidak disengaja. Introduksi spesies asing tersebut dalam beberapa kasus telah
menimbulkan dampak yang cukup besar.
10

Spesies asing berupa gulma, telah menimbulkan kerugian yang cukup besar di
sektor pertanian. Sementara itu ada pula spesies asing yang berubah menjadi spesies
yang dominan dan berkompetisi dengan spesies lokal yang pada akhirnya
mengganggu keberadaan spesies lokal. Disamping spesies asing, terdapat juga spesies
asli yang invasif.
Berikut ini beberapa kasus spesies invasif, baik tumbuhan maupun satwa, yang
terjadi di sektor kehutanan, khususnya di kawasan konservasi.
a. Taman Nasional Ujung Kulon
Keberadaan langkap (Arenga obtusifolia) di Taman Nasional (TN) Ujung
Kulon Banten, walaupun bukan spesies asing sangat mengganggu habitat
satwaliar, terutama Badak Jawa. Hampir sebagian besar kawasan TN Ujung
Kulon diinvasi dan didominasi oleh langkap, sehingga menekan habitat tumbuhan
lain yang berfungsi sebagai pakan Badak Jawa (Arief, 1995).
b. Taman Nasional Baluran
Salah satu alasan ditetapkannya Baluran sebagai Taman Nasional adalah
karena adanya padang savana alami yang cukup luas (10.000 ha) yang dihuni oleh
berbagai spesies satwaliar langka dan dilindungi salah satu diantaranya Banteng
(Bos javanicus). Oleh karena itu keberadaan ekosistem savana dan banteng
menjadi salah satu objek utama dan sekaligus prioritas dalam pengelolaan
kawasan TN Baluran Jawa Timur.
Luas areal padang savana dari tahun ke tahun mengalami
penyusutan/penyempitan akibat invasi akasia (Acacia nilotica) yang semula
ditanam pada tahun 1969 sebagai sekat bakar (Mutaqin, 2002). Pertumbuhan atau
perkembangan akasia ini sangat pesat hingga menyebar ke seluruh kawasan
savana Baluran, yang diperkirakan sudah mencapai 5.000 ha. Akibatnya
ekosistem savana yang semula sebagai habitat satwa telah berubah menjadi hutan
akasia yang sangat rapat dan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
bahkan dapat mematikan rumput sebagai pakan satwa, terutama untu banten dan
rusa.
c. Taman Nasional Wasur
Di Taman Nasional Wasur, Papua, terdapat beberapa spesies flora dan
fauna eksotik atau asing yang berpotensi mengancam kelestarian flora dan fauna
asli dan keberadaan ekosistem TN Wasur. Jenis-jenis flora eksotik tersebut adalah
(KLH 2002):
11

1) Eceng gondok (Eichornia crassipes)


Spesies tumbuhan eceng gondok (Eichornia crassipes) masuk ke TN
Wasur pada tahun 1990 dan menginvansi sungai-sungai besar seperti Sungai
Maro dan Sungai Wanggo serta anak-anak sungainya, yang mengakibatkan
terganggunya transportasi air dan pendangkalan sungai karena akarnya
mengikat lumpur yang terdapat di sekitarnya. Pada tahun 2000 luasan
tumbuhan eceng ini telah menyebar sampai ke daerah hilir sungai yang
berbatasan dengan Papua Nugini.
2) Kirinyuh (Chromolaena odorata)
Tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata) menginvasi kawasan TN
Wasur di daerah tepi jalan Trans Irian km 35 dan sekitar kebun-kebun
masyarakat, yang bersaing dengan rumput-rumput asli. Kehadiran spesies
tumbuhan ini sangat berpotensi sebagai material terjadinya kebakaran hutan
pada musim kemarau.
3) Klampis air atau putri malu raksasa (Mimosa pigra)
Tumbuhan klampis air (Mimosa pigra) telah tersebar di TN Wasur
seluas 15,6 ha menutupi kedua sisi tepi Sungai Maro sampai Sungai Wanggo.
4) Ekor tikus atau jarong (Stachytarpheta urticaefolia)
Semak ekor tikus (Stachytarpheta urticaefolia) tersebar di daerah
padang rumput Ukra dan Kankania seluas 403 ha. Biji spesies tumbuhan ini
mempunyai sifat tahan terhadap pembakaran, sehingga dapat berkecambah
kembali pada awal musim penghujan di daerah padang rumput.
5) Spesies tumbuhan eksotik lainnya adalah tebu rawa (Hanguana sp.), selada air
(Pistea sp.), salvinia (Salvinia sp.), sidagori (Sida acuta), saliara (Lantana
camara), akasia (Acacia nilotica).
Keenam spesies tumbuhan tersebut berpotensi mengancam kelestarian
spesies flora dan fauna endemik, disamping itu pengendalian untuk spesies
tumbuhan tersebut belum banyak dilakukan.
6) Sapi
Sapi masuk ke padang pengembalaan TN Wasur diawali dengan
terbitnya Surat Keputusan Kepala Daerah Tk. I Propinsi Irian Jaya pada tahun
1979 yang menunjuk daerah padang pengembalaan TN Wasur di daerah
Tomerau dan sekitarnya sebagai lokasi pengembalaan sapi masyarakat.
12

Jumlah sapi yang tinggal di kawasan taman nasional berjumlah 1.146


ekor pada tahun 1991 dan berkembang menjadi 1.525 ekor pada tahun 1997,
dan pada tahun 1999 jumlah tersebut bertambah menjadi 2.115 ekor.
Keberadaan sapi di dalam kawasan TN Wasur memberikan dampak negatif
terhadap keseimbangan ekosistem kawasan TN Wasur yaitu menimbulkan
persaingan sumber pakan dan sumber air dengan jenis fauna endemik
kangguru/wallaby. Selain itu kehadiran sapi ternak dalam jumlah yang
banyak, mengakibatkan pemadatan tanah, sehingga menghambat pertumbuhan
rumput asli.
7) Rusa (Cervus timorensis)
Rusa timor menginvasi daerah padang rumput bagian tenggara TN
Wasur. Berdasarkan survey WWF pada tahun 1990, diketahui bahwa populasi
rusa di TN Wasur diperkirakan sekitar 5985 ekor, dengan kerapatan individu
9,7 ekor/km2. Pada survey udara yang dilakukan tahun 1992-1994, populasi
rusa berjumlah sekitar 12.000 ekor, dan berdasarkan survey darat yang
dilakukan pada tahun 1997, diketahui populasi rusa sekitar 9.173 ekor (KLH,
2002).6

D. POLUSI

Pada sebuah ekosistem alam, lingkungan memiliki kemampuan dalam menangkal


adanya berbagai perubahan yang ditimbulkan oleh gangguan yang terjadi didalamnya.
Kemampuan tersebut sangat berarti dalam menjaga dan menyeimbangkan ekositem itu
sendiri.7

Adanya kemampuan ekosistem yang dapat beradaptasi dengan gangguan yang ada
tetap memiliki keterbatasan, manusia merupakan salah satu unsur dalam sebuah
ekosistem. Namun pada sisi lainnya manusia juga merupakan penyebab terbesar
kerusakan yang ada pada suatu ekosistem itu sendiri. Sebagai contoh nyata manusia
memanfaatkan SDA yang ada hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya
saja tanpa memikirkan adanya kerusakan yang telah ditimbulkan.

6
http://ernindo.blogspot.com/2015/10/makalah-ipa-masuknya-spesies-asing.html

7
Emilia Arina, dkk, “BIODIVERSITAS DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN”, Universitas Indonesia
(2019), Hal. 6
13

Adapun beberapa macam kegiatan manusia yang mampu merusak


keanekaragaman hayati antara lain:

1. Penangkapan berbagai macam satwa baik dilindungi ataupun tidak secara berlebihan.
2. Penebangan pohon secara liar dan berlebihan.
3. Pengalihan lahan pembangunan yang tidak tepat.
4. Polusi atau pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara).
5. Pembuangan limbah dan sampah secara sembarangan.

Kecenderungan Kerusakan alam yang terjadi sangat mempengaruhi Biodiversitas,


saat ini Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem
Services (IPBES) merilis kajian pada Maret 2018 yang menyatakan bahwa kondisi alam
dan keanekaragaman hayati terus menurun.8 Menurut laporan IPBES, daya dukung alam
untuk kesejahteraan manusia terus terdegradasi, berkurang bahkan hilang.

Gambar kota DKI Jakarta tahun 2019

Contoh kasus yang ada di Indonesia adalah kualitas udara DKI Jakarta yang
menjadi sorotan, dimana termasuk dalam kategori kota yang paling polutif di dunia. Salah
satu faktor penyebab polusi udara karena tingginya jumlah kendaraan bermotor yang
mengeluarkan asap kendaraan (CO2), sehingga mencemari uadara. Hal ini akan
menyebabkan masyarakat mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk terpapar polutan
berbahaya.

8
Ibid. Hal. 10
14

Polusi yang ditimbulkan mempunyai dampak terhadap hewan dan tumbuhan baik
secara langsung maupun tidak langsung, seperti :

1. Dampak langsung melalui interaksi pada sistem pernafasan.


2. Dampak tidak langsung terjadi melalui suatu perantara baik hewan ataupun tumbuhan
yang berfungsi sebagai bahan makanan. Terjadinya emisi zat-zat pencemar ke
atmosfer seperti partikulat, NOx, SO3, HF dan lainnya yang kemudian berinteraksi
dengan tumbuhan dan perairan baik melalui proses atau pun penempelan sehingga
berpengaruh terhadap vegetasi dan biota perairan.

Dengan melihat dampak yang ditimbulkan ini maka akan mengganggu


keseimbangan rantai ekosistem yang ada di lingkungan.

Gambar hutan kota

Salah satu bentuk dalam mengurangi polutan yang tersebar di lingkungan ialah
membangun ruang hijau kota (hutan kota), sebagai upaya meminimalisir dampak polusi
udara yang tersebar di lingkungan. Ruang hijau kota merupakan ruang yang simpel atau
sedehara tetapi memiliki fungsi yang sangat bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Hutan kota terdiri dari berbagai macam tanaman atau pohon yang fungsinya untuk
mengikat polusi (CO2 dari asap kendaraan). Jika ruang hijau kota (hutan kota) dibentuk
dan dikelolah dengan baik, maka akan menyediakan suatu ruang yang dapat digunakan
untuk beraktivitas dengan nyaman. Adanya hutan kota dapat dimanfaatkan untuk berbagai
kegiatan yang mendorong terciptanya fungsi kesehatan, kehidupan pribadi dan kehidupan
sosial. 9

9
Bima Fitriandana, DKK,..“Arti Penting Ruang Hijau Kota bagi Masyarakat dan Pemerintah Kota
(Ruang Hijau Kota di Lyon, Prancis)”, Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota, Vol. 11 No. 1 (2015), Hal. 18
15

Sebagai salah satu contoh upaya untuk meminimalisir polusi yang ada ditanah,
sebaiknnya masyarakat dihimbau dan menerapkan penggunaan bahan-bahan atau alat
rumah tangga yang mudah terurai di ingkungan. Adanya limbah industri maupun limbah
rumah tangga yang bersifat organik telah terbukti lebih mudah dan cepat terurai di
lingkungan dibandingkan dengan sampah an-organik.

Polusi air tanah dapat menimbulkan permasalahan yang serius jika tidak
diperhatikan. Hal ini disebabkan karena air tanah adalah sumber air yang dimanfaatkan
oleh sebagian besar penduduk untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan air minum.
Pemanfaatan air tanah yang berlangsung terus–menerus tanpa mengindahkan konsep
pengawetan dan pelestarian air tanah, pembangunan kawasan pemukiman yang tidak
memberikan tempat untuk peresapan air ke dalam tanah, pembuangan limbah industri
atau pabrik di permukaan tanah tanpa melalui pengolahan limbah terlebih dahulu, limbah
domestik, dam penggunaan pupuk atau pestisida yang berlebihan di areal pertanian
merupakan faktor terjadinya kerusakan atau pencemaran air di lingkungan.

Buangan limbah industri tersebut akan masuk ke dalam sungai dan danau melalui
beberapa sumber buangan,10 antara lain :

1. Sumber buangan yang terkumpul (point resources) seperti : selokan atau pipa drainase
2. Sumber buangan yang tersebar (diffuse resources) seperti : jalur air dari lahan
pertanian.

Hal ini secara tidak langsung akan menmbuat air hasil buangan masuk ke sungai
atau danau melalui peresapan air ke dalam air tanah.

Pencemaran air dapat ditanggulangi atau diatasi dengan cara meneganali terlebih
dahulu sumber pencemaran, sifat dan karakter bahan pencemar, kemudian dilakukan
pengambilan keputusan untuk mengatasi pencemaran. Pengendalian pencemaran perlu
dilakukan perlindungan sumber air dengan cara menata tata ruang yang berwawasan
lingkungan yang telah tercatatat dan dilindungi oleh undang-undang yang berlaku.

Adapaun solusi lain dalam menanggulangi polusi air di lingkungan rumah tangga
adalah melakukan pengolahan air sumur gali dalam skala rumah tangga dengan kaporisasi
sesuai dengan dosis yang sesuai dengan parameter kimia.

Agnes Fitria Widiyanto, DKK,..“POLUSI AIR TANAH AKIBAT LIMBAH INDUSTRI DAN LIMBAH
10

RUMAH TANGGA”, Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 10 No. 2 (2015), Hal. 251
16

D. Eksploitasi Berlebihan

Definisi eksploitasi yaitu sebuah tindakan yang tujuannya untuk mengambil suatu
keuntungan atau memanfaatkan sesuatu dengan berlebih dan sewenang-wenang.
Perbuatan eksploitasi ini seringkali berdampak kerugian di pihak lain, baik pada manusian
atau lingkungan. Dalam ekologi , eksploitasi berlebihan menggambarkan salah satu dari
lima kegiatan utama yang mengancam keanekaragaman hayati global. Ahli ekologi
menggunakan istilah ini untuk menggambarkan populasi yang dipanen pada tingkat yang
tidak berkelanjutan, mengingat tingkat kematian alami dan kapasitas mereka untuk
reproduksi. Hal ini dapat mengakibatkan kepunahan pada tingkat populasi dan bahkan
kepunahan seluruh spesies. Dalam biologi konservasi , istilah ini biasanya digunakan
dalam konteks kegiatan ekonomi manusia yang melibatkan pengambilan sumber daya
hayati, atau organisme, dalam jumlah yang lebih besar daripada yang dapat ditahan oleh
populasi mereka. Eksploitasi berlebihan dapat menyebabkan kerusakan sumber daya,
termasuk kepunahan .

Eksploitasi berlebihan salah satu faktor utama ancaman kekayaan biodiversitas.


Bertambahnya manusia dengan sikap manusia yang cenderung merusak lingkungan,
seperti membakar hutan,memberantas hama dan bahan kimia, mengubah berbagai
ekosistem alami menjadiekosistem buatan, memberikan dampak negative pada ekosistem,
peningkatan teknologi, dan intensifikasi pemanfaatan SDA turut mendorong eksploitasi.
Selain itu, eksploitasi berkorelasi dengan semakin lunturnya nilai budaya dan kearifan
lokal dalam pemanfaatan SDA. Eksploitasi juga dipengaruhi kondisi habitat yang
semakin mudah diakses. Eksploitasi juga berhubungan erat dengan pola perdagangan.
Ketika satu SDA ditemukan, akan dikembangkan pasar komersialnya, sedangkan pasar
mendorong penduduk lokal berburu. Ketika sumber berkurang dan semakin langka, harga
meningkat. Ini menciptakan insentif besar eksploitasi berlebihan sumber tersebut.
Eksploitasi kadang memiliki tujuan yang lebih dari sekadar nafkah dan uang seperti
rekreasi berburu, mitos pengobatan tradisional, cinderamata, dan status. Krisis
biodiversitas global ini fakta yang tidak bisa dipungkiri. Solusinya bisa dengan
menggabungkan kajian ilmiah dan mengomunikasikan penyebabnya. Perlu
mengembangkan teknologi, menguatkan hukum, menyusun insentif dan perencanaan
ekonomi. Hasil langkah-langkah ini dapat untuk menentukan strategi konservasi seperti
penyediaan kawasan lindung, intervensi dalam tingkat genetik, dan restorasi ekosistem.
17

Berikut ini adalah berbagai dampak negative terhadap ekosistem akibat eksploitasi
berlebihan oleh manusia.

1. Fragmantasi dan Degradasi Habitat

Meningkatkan populasi penduduk dunia menyebabkan semakin banyak lahan


yangdibutuhkan untuk mendukung kesejahteraan manusia, seperti yang dibutuhkan
untukmendukung kesejahteraan manusia, seperti lahan untuk pertanian, tempat
tinggal, industridan sebagainya.Fragmentasi habitat misalnya terjadi pada kawasan
yang ditebang atau dirambah,sehingga menyisakan kawasan hutan kecil. Hutan yang
ditebang atau dirambah memberikandampak antara lain perubahan pada struktur
komunitas hutan dan kematian pohon yang berada di pinggiran hutan akibat tingginya
paparan angin dan cahaya matahari.Fragmentasi dan degradasi habitat menyebabkan
munculnya masalah lain seperti kematianorganism karena hilangnya sumber makanan
dan tempat tinggal dan menurunnya keanekaragaman sumber makanan dan tempat
tinggal dan menurunnya keanekaragaman spesies pada habitat tersebut.

2. Tergantungnya Aliran Energi di Dalam Ekosistem

Ekosistem alami yang dirusak dan diubah menjadi ekosistem buatan dapat
menyebabkan terjadinya perubahan aliran energi dalam ekosistem tersebut.
Contohnya,ketika proses penebangan atau pembakaran hutan selesai, maka kawasan
hutan kemudian ditanami dengan satu jenis tumbuhan (sistem monokultur).

Hal tersebut menyebabkan aliran energy yang semula bersifat kompleks,yaitu


antaraberbagaijenisprodusen(pohonpohon besar dan kecil), konsumen (berbagai maca
m hewan), detritivora (jamur, bakteri, dan sebagainya), menjadi aliran energy yang
lebih sederhana, yaitu satu jenis produsen(contohnya padi), beberapa konsumen, dan
detrivor.

3. Resistensi Beberapa Spesies Merugikan

Penggunaan pestisida dan abiotik secara berlebihan untuk membunuh populasi


organisme yang merugikan (hama atau pathogen) dapat menyebabkan munculnya
populasi organisme yang kebal terhadap pestisida dan antibiotik tersebut. Hama yang
tidak atau kurang sensitif (kebal) terhadap pestisida jenis tertentu dapat bertahan dari
penggunaan pestisida tersebut.
18

Demikian juga adanya jika antibiotik digunakan secara berlebihan, yaitu dalam
dosisyang terlalu tinggi atau frekuensi yang terlalu sering. Populasi spesies-spesies
patogen yang dapat bertahan dari dosis antibiotik-antibiotik tersebut
akan berkembang biak menghasilkan populasi spesies patogen yang kebal.

4. Hilangnya Spesies Penting di Dalam Ekosistem

Setiap organisme memiliki peran penting di dalam suatu ekosistem.


Contohnya, didalam ekosistem sawah, hilangnya keberadaan predator seperti burung,
ular, dan sabagainya dapat meningkatkan populasi organisme lain, misalnya tikus
makan padi akan menurun dan hasil panen akan berkurang.

5. Introduksi Spesies Asing

Introduksi atau masuknya spesies dari suatu ekosistem ke dalam ekosistem


lainnya biasanya bertujuan untuk meningkatkan tingka kesejahteraan manusia. Namun
introduksi spesies asing juga dapat merugikan, karena terkadang didalam ekosistem
yang baru, spesies tersebut tidak memiliki predator alami. Serangga
Neochetineeichhorniae yang merupakan predator tanaman eceng gondok dan dapat
mengendalikan populasi eceng gondok di perairan tidak hidup di Indonesia.

6. Berkurangnya Sumber Daya Alam Terbaharui

Kayu, tanduk, gading, dan sebagainya merupakan sumber daya alam yang
dapat diperbaharui. Walaupun memiliki sifat dapat diperbaharui, penggunaan dan
eksploitasi secara berlebihan dapat menurunkan jumlah dan kualitas baik semakin
berkurang. Hal tersebut menyebabkan kualitas kayu dan tingkat regenerasi semakin
menurun.

7. Tergantungnya Daur Materi di Dalam Ekosistem

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, tingkat aktivitas manusia juga


akan ikut meningkat. Meningkatnya aktivitas manusia didunia berpengaruh terhadap
daur biogeokimia. Sebagai contoh, daur karbon yang terganggu akibat semakin banya
knya penggunaan bahan bakar.
19

Contoh eksploitasi berlebihan terhadap ekosistem antara lain:


hewan dan tumbuhan yang berbeda jenis dapat hidup bersama di hutan. Makhluk hidup
yang hidup bersama dalam suatu lingkungan yang
sama beserta lingkungannya disebut ekosistem.

Indonesia memiliki kekayaan alam dari daratan dan lautan. Contoh kekayaan alam
dari daratan,misalnya hutan, sawah, ladang, sedangkan dari perairan misalnya kolam,
sungai, daratan, dan lautan. Semua kebutuhan manusia, hewan, dan tumbuhan berasal dari
kekayaan alam tersebut.Oleh karena itu, tidak ada makhluk hidup yang dapat hidup
sendiri. Antara tumbuhan dan hewan yang hidup di hutan terjadi hubungan saling
ketergantungan membentuk ekosistem. Manusia memanfaatkan hasil hutan, misalnya
kayu dan rotan. Ekosistem dapat terganggu keseimbangannya oleh berbagai kegiatan
manusia,seperti penebangan hutan, perburuan, juga penggunaan bahan kimia yang tidak s
esuai aturan. Kegiatan Manusia yang Mempengaruhi Keseimbangan Alam (Ekosistem),
yaitu:

1. Penebangan pohon secara liar dan pembakaran hutan

Penebangan hutan dilakukan untuk dimanfaatkan kayunya. Selain itu, juga


untuk membuat ladang, perkebunan, pertambangan, industri, dan untuk tempat
tinggal. karena pengambilan secara terus-menerus tetapi tidak dilakukan penanaman
kembali.Tumbuhan yang menjadi langka akibat kerusakan habitatnya misalnya pohon
jati, bunga anggrek, dan bunga rafflesia. Hutan mempunyai peran yang sangat penting
bagi ekosistem. Didalam hutan hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Hutan
menyediakan makanan, tempat tinggal, dan perlindungan bagi hewan-hewan tersebut.
Jika pohon-pohon ditebang terus, sumber makanan untuk hewan-hewan yang hidup di
pohon tersebut juga akan berkurang atau tidak ada, karena itu banyak hewan yang
kekurangan makanan. Akibatnya banyak hewan yang musnah dan menjadi langka.
Selain menebang pohon, manusia kadang-kadang membuka lahan pertanian dan
perumahan dengan cara membakar hutan. Akibatnya lapisan tanah dapat terbakar,
tanah menjadi kering dan tidak subur. Hewan-hewan tanah tidak dapat hidup, hewan-
hewan besar banyak yang mencari makan ke tempat lain bahkan sampai ke
pemukiman manusia. Hal ini juga dapat merusak keseimbangan ekosistem.
20

2. Perburuan Hewan secara Terus-Menerus

Banyak kegiatan manusia yang merusak keseimbanganekosistem misalnya


penangkapan ikan di laut dengan racun atau peledak. Hal ini dapat menyebabkan
rusaknya terumbu karang. Terumbu karang merupakan tempat hidup ikan-ikankecil
yang merupakan makanan ikan yang lebih besar. Penangkan ikan dengan kapalkapal
pukatharimau dapat menimbulkan penurunan jumlah ikan di laut. Sebab dengan pukat
harimau ikankecil akan ikut terjaring. Penangkapan secara liar pada beberapa hewan,
seperti penyu, cendrawasih, badak, dan harimau dapat menyebabkan hewan-hewan
tersebut menjadi langka. Manusia ada yang berburu hewan hanya untuk bersenang-
senang juga ada yang memanfaatkan sebagai bahan makanan, hiasan,atau pakaian.

3. Penggunaan Pupuk yang Berlebih

Para petani biasanya melakukan beberapa cara agar hasil pertaniannya tetap
baik dan banyak. cara-cara yang dilakukan oleh para petani itu, di antaranya dengan
pemupukan dan pemberantasan hama. Pupuk tanaman yang digunakan para petani ada
dua macam, yaitu pupuk alami dan pupuk buatan. Pupuk alami adalah pupuk yang
dibuat dari bahan-bahan alami, misalnya dari kotoran hewan atau dari daun-daunan
yang telah membusuk. Pupuk alami dikenal dengan sebutan pupuk kandang atau
pupuk kompos. Pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat dari bahan kimia.
Contoh pupuk buatan adalah urea, NPK, dan ZA. Penggunaan pupuk buatan harus
sesuai dengan aturan pemakaian karena dapat mempengaruhi ekosistem. Pupuk
buatan yang berlebihan jika kena air hujan akan larut dan terbawa air ke sungai atau
danau. Akibatnya di tempat tersebut terjadi penumpukan unsur hara sehingga gulma
tumbuh subur. Eceng gondok tumbuh dengan subur sampai menutupi permukaan
sungai atau danau. Makhluk hidup dalam sungai atau danau tersebut akan berkurang
karena sinar matahari yang dibutuhkan tidak sampai ke dasar sungai atau danau.
Untuk memberantas hama, para petani menggunakan pestisida atau insektisida.
Contoh penggunaan insektisida yang merusak ekosistem adalah penggunaannya tidak
tepat waktu, jumlahnya berlebihan, dan jenis insektisidanya tidak sesuai. Penggunaan
insektisida dan pestisida ini harus sesuai dengan ketentuan agar tidak membunuh mak
hluk hidup yang lain,seperti burung atau hewan lainnya yang tidak merusak tanaman.
Banyak sekali hama tanaman yang mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut
seperti lalat, jamur, belalang, bakteri, dan yang lainnya.
21

4. Pemanfaatan Hewan oleh Manusia

Manusia banyak memanfaatkan hewan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya


sehari-hari atau hiasan hiasan, Perburuan liar dilakukan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab karena sengaja membunuh hewan-hewan tersebut untuk
memanfaatkan bagian-bagian tubuhnya. Misalnya, perburuan gajah untuk
diambilgadingnya atau macan tutul untuk diambil kulitnya.Gading gajah digunakan
untuk hiasan. Buaya dan ular juga diburu untuk diambil kulitnya sebagai bahan tas
atau sepatu, sedangkan badak Jawa diburu untuk diambil culanya karena dianggap
berkhasiat menyembuhkan penyakit. Hewan itu semuanya termasuk hewan
langka.Jadi, jika terus-menerus diburu, lama-kelamaan hewan ini akan musnah. Oleh
karena itu, penggunaan bagian-bagian tubuh hewan langka tersebut dilarang keras
oleh pemerintah.

Usaha-usaha yang harus kita lakukan untuk melestarikan hewan-hewan


langka tersebut, di antaranya sebagai berikut:

a. Tidak boleh berburu hewan sembarangan


b. Hewan-hewan langka harus dilindungi dari perburuan liar.
c. Hewan langka dibudidayakan
d. Untuk mengurangi perburuan gajah, dibuat gading tiruan.
5. Pemanfaatan Tumbuhan oleh Manusia

Selain memanfaatkan hewan, manusia juga banyak memanfaatkan tumbuhan


untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagian tumbuhan di hutan yang banyak
digunakan manusia adalah kayunya. Kayu jati digunakan untuk bangunanrumah,
kursi, tempat tidur, dan lemari. Kayu meranti, kamper, dan mahoni umumnya
digunakanuntuk bangunan rumah atau gedung.Tumbuhan dapat digunakan kayunya
setelah tumbuhan tersebut tumbuh selama berpuluh-puluhtahun. Misalnya, kayu jati
usianya sampai puluhan tahun. Jadi, jika kamu menanam jati sekarang, kamu baru
dapat menggunakannya 20 tahun kemudian, sedangkan kebutuhan manusiaterus
meningkat. Apa yang harus dilakukan untuk mencegah punahnya tanaman-tanaman
langkatersebut? Tanaman langka yang sering digunakan oleh manusia harus
dilestarikan.11

11
https://www.academia.edu/36967767/DAMPAK_EKSPLOITASI_BERLEBIHAN_TERHADAP_E
KOSISTEM
22

Cara melestarikan tumbuhan tersebut antara lain sebagai berikut:

a. Tidak menebang pohon sembarangan.


b. Penanaman kembali tanaman yang telah dimanfaatkan atau peremajaan tanaman.
c. Pemeliharan tanaman dengan benar. Selain kayu, bagian-bagian tumbuhan
lainnya pun banyak yang dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Misalnya, pohont ebu diambil batangnya untuk diolah menjadi gula
pasir, atau pohon karet diambil getahnya yangdapat diolah menjadi bahan dasar
pembuatan barang-barang dari karet

Untuk mengurangi dampak eksploitasi secara berlebihan yaitu dengan cara:

a. Mengembangkan dan menerapkan pratik-praktik terbaik dalam mengelola hutan,


pertanian dan perikanan secara berkelanjutan
b. Mengelola energi terbarukan dan mengurangi emisi karbon
c. Mempengaruhi dan mentransformasi pasar, yaitu bagaimana dan dimana
perusahaan dan lacak balak (chain of supply) berasal.
d. Serta bagaimana komoditas-komoditas penting diproses sebelum sampai ke
konsumen. Dengan tujuan agar setiap orang dapat berupaya untuk mengkonsumsi
sumberdaya alam sesuai kemampuannya agar terus bias menopang kehidupan
manusia.

E. Perubahan iklim mempengaruhi hilangnya biodiversitas

1. Pengertian Perubahan iklim menurut berbagai sumber:


a. UU No. 31 tahun 2009
Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan, langsung atau
tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi
atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alami yang diamati
selama periode waktu tertentu.
b. Perubahan iklim adalah perubahan yang merujuk pada variasi rata-rata kondisi
iklim suatu tempat atau variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka
waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih) (IPCC, 2001)
23

c. Menurut NASA “Climate change is a long-term change in the average weather


patterns that have come to define Earth’s local, regional and global climates.
These changes have a broad range of observed effects that are synonymous with
the term.” Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang rerata padap pola
suhu yang mempengaruhi iklim lokal, regional, maupun global. Yang pada intinya
perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada suhu, curah hujan, pola
angin, dan semua aspek yang masuk ke dalam unsur iklim bumi.12
2. Pengaruh perubahan iklim terhadap biodiversitas
Perubahan iklim global terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang
cukup panjang, antara 50 – 100 tahun. Walaupun terjadi secara perlahan, perubahan
iklim memberikan dampak yang sangat besar pada kehidupan mahluk hidup.
Dampak yang terjadi antara lain: mencairnya es di kutub selatan, pergeseran
musim, dan peningkatan permukaan air laut. Dampak tersebut memberikan
pengaruh terhadap kelangsungan mahluk hidup. Tak kercuali mempengaruhi
perubahan biodiversitas dan ekosistem di bumi.
Biodiversitas sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim. Perubahan
iklim berpengaruh terhadap perubahan keanekaragaman hayati dan ekosistem baik
langsung maupun tidak langsung.
a. Beberapa dampak langsung terjadinya perubahan iklim terhadap keanekaragaman
hayati, diantaraya:
1) Spesies range (cakupan jenis)
Masing-masing spesies memiliki rentang suhu tertentu dimana spesies
tersebut mampu beradaptasi dan bertahan hidup. Kenaikan suhu bumi akan
membuat beberapa jenis spesies berada diluar batas toleransi suhu
maksimumnya sehingga tidak mampu bertahan dan kemudian menjadi rentan
terhadap kepunahan. Menurut International Union for Conservation Nature
(IUCN), lautan merupakan bagian planet yang paling banyak menanggung
akibat dari pemanasan global. Meskipun sejak 1970-an, perairan di seluruh
dunia telah memainkan peranan penting dalam melawan pemanasan global
dengan menyerap sekitar 93% karbondioksida yang diakibatkan oleh aktivitas
manusia.

12
http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/dampak-perubahan-iklim-terhadap-keanekaragaman-hayati
24

Terumbu Karang merupakan spesies yang memiliki toleransi yang


rendah terhadap kenaikan suhu air laut. Kenaikan suhu air laut menyebabkan
bleaching pada terumbu karang, atau penurunan pigmen klorofil pada jaringan
endodermis karang. Hal ini lama-lama akan menyebabkan alga dalam terumbu
karang mati sehingga yang tersisa hanya cangkang karang berwarna putih dari
zat kapur. Sebagai contoh, pada awal tahun 2016 saja, lebih dari 90% karang
Great Barrier Reef di Australia telah mati akibat bleaching. Terumbu karang
merupakan habitat dari sekitar 25% spesies laut, kepunahannya akan berakibat
pada punahnya spesies-spesies laut yang lain yang pada akhirnya akan
mengganggu keseimbangan rantai ekosistem.13

2) Perubahan fenologi
Perubahan iklim menyebabkan pergeseran dalam siklus reproduksi dan
pertumbuhan organisme. Pada tumbuhan misalnya, masa perbungaan
dipengaruhi oleh suhu tertentu. Pemanasan global dapat membuat tumbuhan-
tumbuhan tertentu berbunga lebih cepat, sementara serangga-serangga
pembantu penyerbukan belum siap sehingga siklus reproduksinya terganggu.
Perubahan iklim juga dapat mengubah siklus hidup beberapa hama dan
penyakit, sehingga akan terjadi wabah penyakit.
3) Perubahan interaksi antar spesies
Perubahan iklim dapat mengakibatkan terjadinya perubahan interaksi
antar spesies sehingga memiliki konsekuensi yang sangat penting bagi
stabilitas dan fungsi ekosistem, dimana ekosistem tidak lagi berfungsi ideal.
Pemanasan iklim dengan cepat mengubah waktu dan tingkat bunga pada
tumbuhan serta migrasi pada hewan yang akan mengganggu interaksi antar
spesies.

13
Jurnal “Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap Keanekaragaman Hayati” oleh Wahyu
Surakusumah Diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197212031999031-
WAHYU_SURAKUSUMAH/Perubahan_iklim_dan_pengaruhnya_terhadap_keanekaragaman_haya.pdf
25

4) Laju kepunahan
Perubahan iklim mempercepat laju kepunahan beberapa jenis spesies.
Kepunahan merupakan proses alami yang terjadi secara alami. Spesies telah
berkembang dan punah sejak kehidupan bermula. Kita dapat memahami ini
melalui catatan fosil.
Tetapi, sekarang spesies menjadi punah dengan laju yang lebih
tinggi daripada waktu sebelumnya dalam sejarah geologi, hampir
keseluruhannya disebabkan oleh kegiatan manusia. Di masa yang lalu
spesies yang punah akan digantikan oleh spesies baru yang berkembang
dan mengisi celah atau ruang yang ditinggalkan. Pada saat sekarang, hal ini
tidak akan mungkin terjadi karena banyak habitat telah rusak dan hilang.
Beberapa kelompok spesies yang lebih rentan terhadap kepunahan
daripada yang lain. Kelompok spesies tersebut adalah:
a) Spesies pada ujung rantai makanan, seperti karnivora besar, misal
harimau (Panthera tigris). Karnivora besar biasanya memerlukan
teritorial yang luas untuk mendapatkan mangsa yang cukup. Oleh karena
populasi manusia terus merambah areal hutan dan penyusutan habitat,
maka jumlah karnivora yang dapat ditampung juga menurun.
b) Spesies lokal endemik (spesies yang ditemukan hanya di suatu area
geografis) dengan distribusi yang sangat terbatas, misalnya badak
Jawa (Rhinoceros javanicus). Ini sangat rentan terhadap gangguan
habitat lokal dan perkembangan manusia.
c) Spesies dengan populasi kecil yang kronis. Bila populasi menjadi terlalu
kecil, maka menemukan pasangan atau perkawinan (untuk
bereproduksi) menjadi masalah yang serius, misalnya Panda.
d) Spesies migratori adalah spesies yang memerlukan habitat yang cocok
untuk mencari makan dan beristirahat pada lokasi yang terbentang luas
sangat rentan terhadap kehilangan ‘stasiun habitat peristirahatannya.
e) Spesies dengan siklus hidup yang sangat kompleks. Bila siklus hidup
memerlukan beberapa elemen yang berbeda pada waktu yang sangat
spesifik, maka spesies ini rentan bila ada gangguan pada salah satu elemen
dalam siklus hidupnya.
f) Spesies spesialis dengan persyaratan yang sangat sempit seperti
sumber makanan yang spesifik, misal spesies tumbuhan tertentu.
26

5) Penyusutan keragaman sumber daya genetik


Perubahan iklim dapat menyebabkan kemarau yang berkepanjangan,
ataupun sebaliknya curah hujan yang terlalu tinggi. Hal-hal tersebut
mempunyai dampak yang besar terhadap lingkungan, misalnya kebakaran
hutan atau banjir menjadi lebih sering terjadi.
Bencana alam dapat mengakibatkan berkurangnya populasi dan
keragaman spesies, spesies endemik terancam punah dan juga hilangnya
habitat satwa liar. Apabila terlanjur terjadi kerusakan habitat, maka akan
membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat recovery atau terjadi
suksesi secara alami. Beberapa varian dalam spesies dengan gen tertentu
mungkin lebih tahan terhadap perubahan lingkungan oleh perubahan iklim
sementara varian dengan gen yang berbeda lebih rentan sehingga lebih rentan
punah. Apabila terjadi kepunahan, maka jenis-jenis yang sudah terlanjur
punah-pun akan sangat sulit untuk dikembalikan keberadaannya.
Perubahan iklim mempengaruhi pola musim yang berdampak besar
terhadap sistem pertanian, termasuk di Indonesia. Penanaman tanaman-
tanaman pangan seperti padi, palawija ataupun sayur-mayur masih sangat
bergantung pada musim. Kemarau yang terlalu panjang atau hujan yang turun
terus menerus sepanjang tahun tentu dapat mengakibatkan gagal panen yang
pada akhirnya mempengaruhi ketersediaan dan ketahanan pangan manusia.
b. Dampak tidak langsung perubahan iklim terhadap biodiversitas
1) Dampak terhadap Ekosistem Hutan
Ekosistem hutan mengalami ancaman kebakaran hutan yang
terjadi akibat panjangnya musim kemarau. Jika kebakaran hutan terjadi secara
terus menerus, maka akan mengancam spesies flora dan fauna dan
merusak sumber penghidupan masyarakat.
2) Dampak pada daerah kutub
Sejumlah keanekaragaman hayati terancam punah akibat peningkatan
suhu bumi rata-rata sebesar 10oC. Setiap individu harus beradaptasi pada
perubahan yang terjadi, sementara habitatnya akan terdegradasi. Spesies
yang tidak dapat beradaptasi akan punah. Spesies-spesies yang tinggal di
kutub, seperti penguin, anjing laut, dan beruang kutub, juga akan
mengalami kepunahan, akibat mencairnya sejumlah es di kutub.
3) Dampak pada daerah arid dan gurun
27

Dengan adanya pemanasan global yang menyebabkan perubahan


iklim mengakibatkan luas gurun menjadi semakin bertambah (desertifikasi).
4) Dampak pada ekosistem pertanian
Perubahan iklim akan menyebabkan terjadinya perubahan cuaca,
sehingga periode musim tanam menjadi berubah. Hal ini akan mengakibatkan
beberapa spesies harus beradaptasi dengan perubahan pola tanam tersebut.
5) Dampak ekologis bagi wilayah pesisir
Intergovernmental Panel on Climate Change, suatu panel ahli untuk isu
perubahan iklim, menyebutkan tiga faktor penyebab kerentanan wilayah ini
(TS WG I IPCC, 2007:40), salah satunya adalah pemanasan global
diperkirakan akan meningkatkan suhu air laut berkisar antara 1-3°C. Dari
sisi biologis, kenaikan suhu air laut ini berakibat pada meningkatnya
potensi kematian dan pemutihan terumbu karang di perairan tropis. Kerusakan
terumbu karang juga berarti hilangnya pelindung alam wilayah pesisir yang
akan memicu peningkatan laju abrasi pantai. Rusaknya terumbu karang juga
mempunyai dampak pada masyarakat pesisir, misalnya berkurangnya
matapencaharian nelayan kecil.

F. Solusi untuk Mengatasi Kehilangan Biodiversitas

Biodiversitas sangat penting bagi manusia Pentingnya biodiversitas bagi manusia


dapat ditinjau dari segi estetika, etika dan alasan praktis. Dari segi estetika, manusia
sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap alam dan bentuk kehidupan lainnya. Hal ini
ditunjukkan dengan banyaknya orang yang mengunjungi kebun binatang, taman nasional,
kebun raya, dan akuarium misalnya sea world. Dari segi etika kita harus menganggap
bahwa bumi adalah pinjaman dari anak-anak kita dan bukan warisan dari para leluhur.
Selain kedua alasan tersebut, dalam melestarikan biodiversitas juga terdapat alasan
praktis. Biodiversitas adalah suatu SDA yang sangat penting, dan spesies yang terancam
punah dapat menghasilkan makanan, serat dan obat-obatan.

Kehilangan spesies berarti kehilangan gen. Manusia berkembang dalam kehidupan


ekosistem diatas bumi ini, dan sangat mungkin dapat bertahan hidup dengan biodiversitas
yang kurang beragam, tetapi harus disadari bahwa manusia bergantung pada ekosistem
dan spesies lain.
28

Dengan membiarkan kapunahan spesies dan perusakan habitat yang berlangsung


terus-menerus sebetulnya kita sedang mengambil resiko yang sangat tidak bijaksana
terhadap kelangsungan hidup spisies kita sendiri. Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya
konservasi.

Konservasi Biologi berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con
(together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara
apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use).
Batasan-batasan konservasi :

1. Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan


manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).
2. Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal
secara sosial.
3. Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup
termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang
meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian,
administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).
4. Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat
memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk
generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980)

Konservasi Sumberdaya Alam Hayati (KSDAH) ataupun konservasi biologi pada


dasarnya merupakan bagian dari ilmu dasar dan ilmu terapan yang berasaskan pada
pelestarian kemampuan dan pemanfaatannya secara serasi dan seimbang. Adapun tujuan
dari konservasi biologi adalah untuk terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati
serta kesinambungan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Untuk mewujudkan tujuan
tersebut, perlu dilakukan strategi dan juga pelaksananya. Di Indonesia, kegiatan
konservasi seharusnya dilaksanakan secara bersama oleh pemerintah dan masyarakat,
mencakup masayarakat umum, swasta, lembaga swadaya masayarakat, perguruan tinggi,
serta pihak-pihak lainnya.
29

Strategi konservasi nasional telah dirumuskan ke dalam tiga hal berikut cara
pelaksanaannya, yaitu :

1. Perlindungan sistem penyangga kehidupan (PSPK)


a. Penetapan wilayah PSPK.
b. Penetapan pola dasar pembinaan program PSPK.
c. Pengaturan cara pemanfaatan wilayah PSPK.
d. Penertiban penggunaan dan pengelolaan tanah dalam wilayah PSPK.
e. Penertiban maksimal pengusahaan di perairan dalam wilayah PSPK.
2. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa (in-situ dan eks-situ konservasi).
3. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.
a. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.
b. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (dalam bentuk : pengkajian, penelitian
dan pengembangan, penangkaran, perdagangan, perburuan, peragaan, pertukaran,
dan budidaya).

Kawasan pelestarian alam ataupun kawasan dilindungi, ditetapkan oleh


pemerintah berdasarkan berbagai macam kriteria sesuai dengan kepentingannya.
Hampir di setiap negara mempunyai kriteria/kategori sendiri untuk penetapan
kawasan dilindungi, dimana masing-masing negara mempunyai tujuan yang berbeda
dan perlakuan yang mungkin berbeda pula. Sedikitnya, sebanyak 124 negara di dunia
telah menetapkan setidaknya satu kawasan konservasinya sebagai taman nasional
(bentuk kawasan dilindungi yang populer dan dikenal luas). Walaupun tentu saja di
antara masing-masing negara, tingkat perlindungan yang legal dan tujuan
pengelolaannya beragam, demikian juga dasar penetapannya.

Apabila suatu negara tidak memiliki kawasan dilindungi yang khusus karena
sulit untuk memenuhi standar yang ditetapkan, maka mereka dapat mengelola
kawasan alternatif seperti hutan produksi yang dialihkan sebagai kawasan dilindungi
sehingga penurunan/pengurangan plasma nutfah dapat ditekan. Kategori klasifikasi
kawasan dilindungi, dimana kategori pegelolaan harus dirancang agar pemanfaatan
seimbang, tidak lebih mementingkan salah satu fungsi dengan meninggalkan fungsi
lainnya. Adapun kategori penetapan kawasan dilindungi yang tepat harus
mempertimbangkan beberapa hal, yaitu :
30

a. Karakteristik atau ciri khas kawasan yang didasarkan pada kajian ciri-ciri biologi
dan ciri lain serta tujuan pengelolaan.
b. Kadar perlakuan pengelolaan yang diperlukan sesuai dengan tujuan pelestarian.
c. Kadar toleransi atau kerapuhan ekosistem atau spesies yang terdapat di dalamnya.
d. Kadar pemanfaatan kawasan yang sesuai dengan tujuan peruntukan kawasan
tersebut.
e. Tingkat permintaan berbagai tipe penggunaan dan kepraktisan pengelolaan.

Sedangkan secara umum, ciri-ciri suatu kawasan ditetapkan sebagai kawasan


dilindungi adalah :

a. Karakteristik/keunikan ekosistem, misalnya ekosistem hutan hujan dataran


rendah, fauna endemik, ekosistem pegunungan tropika, dan lain-lain.
b. Spesies khusus yang diminati, mencakup nilai/potensi, kelangkaan atau terancam,
misalnya menyangkut habitat jenis satwa seperti badak, harimau, beruang, dan
lain-lain.
c. Tempat yang memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.
d. Lanskap/ciri geofisik yang bernilai estetik, dan penting untuk ilmu pengetahuan
misalnya glasier, mata air panas, kawah gunung berapi dan lain-lain.
e. Tempat yang berfungsi sebagai perlindungan hidrologi, tanah, air dan iklim
mikro.
f. Tempat yang potensial untuk pengembangan rekreasi alam dan wisata, misalnya
danau, pantai, pegunungan, satwa liar yang menarik, dan lain-lain.
g. Tempat peninggalan budaya, misalnya candi, galian purbakala, situs, dan lain-lain.

Upaya penanggulangan gangguan kawasan dilakukan dengan pendekatan


secara preventif dan represif. Preventif, yaitu tindakan pencegahan yang dilakukan
melalui kegiatan operasi gabungan, patroli rutin secara intensif, mengembangkan
pengamanan swakarsa masyarakat, menjalin kemitraan dengan kader konservasi,
pelatihan partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan konservasi (PRA),
pendidikan lingkungan atau pendidikan konservasi untuk tingkat anak-anak (sekolah
dasar), generasi muda dan tingkat dewasa (masyarakat), dan lain-lain. Sedangkan
secara represif, yaitu penindakan sesuai dengan hukum yang berlaku, dan dilakukan
melalui upaya penindakan pelanggar secara langsung berdasarkan peraturan
perundangan yang berlaku.
31

Masalah keanekaragaman hayati sangat berhubugan apabila ditinjau dari


masalah segi ekologis, sosial, ekonomis maupun budaya. Yang bermasalah adalah
fungsi keanekaragaman yang bertolak belakang dari segi ekologi dengan segi
ekonomi, keduanya mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya. Oleh karena itu,
upaya untuk menyelesaikan masalah ini adalah untuk mensinergikan antara segi
ekologi dengan segi ekonomi. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Adanya kesadaran mulai dari diri sendiri untuk menjaga lingkungan. Dengan
dimulai dari atur diri sendiri akan bersifat fleksibel terhadap pelestarian
keanekaragaman hayati. Manfaat keanekaragaman hayati itu sangat banyak, oleh
karena itu perlu dilestarikan.
b. Pengembangan agrowisata. Dengan mengembangkannya maka akan mendapatkan
dua fungsi sekaligus yaitu untuk menjaga keanekaragaman hayati dan fungsi
ekonomi.
c. Melaksanakan pembangunan ramah lingkungan
d. Mengupayakan adanya eco-industrial. Dengan eco-industrial dapat mengurangi
jumlah limbah dan meningkatkan pendapatan dari penggunaan ulang atau
penjualan limbah.
e. Berusaha untuk meminimalisir penggunaan barang-barang seperti plastik dan
kertas. Mengupayakan untuk mendaur ulang barang-barang yang bisa didaur
ulang demi menjaga keanekaragaman hayati.
f. Menggunakan sistem pengelolaan hama terpadu (PHT). Dengan adanya PHT,
dapat menjaga rantai makanan yang berdampak pada pelestarian keanekaragaman
hayati.
g. Memaksimalkan sistem pencagaran baik secara in situ maupun ex situ.

Pekerjaan rumah yang harus menjadi perhatian sangat serius untuk mengatasi
kehilangan biodiversitas adalah:

1. Meningkatkan pengetahuan mengenai kekayaan biodiversitas Indonesia secara


memadai.
Faktanya, data keanekaragaman hayati Indonesia, baik secara historis dan
biogeografis masih sangat minim. Data yang ada pun masih terbatas, tersebar,
belum terstandardisasi, belum terbuka, masih dikelola secara proyek, serta tingkat
keberlanjutannya rendah.
32

Padahal, ketersediaan data keanekaragaman hayati menjadi prasyarat


mendasar dalam pengembangan pengetahuan dan pemanfaatan biodiversitas.
2. Mewujudkan potensi keutungan biodiversitas secara optimal.
Pengetahuan tentang potensi dan nilai ekonominya beserta pengelolaannya
secara berkelanjutan, akan mendongkrak potensi biodiversitas, seperti melalui
penemuan obat, ekowisata, dan energi terbarukan. Upaya-upaya tersebut
sesungguhnya sudah mulai ditempuh di sejumlah wilayah. Sayangnya, upaya yang
ada belum optimal.
3. Melakukan mitigasi kerusakan berbagai ekosistem penting dan ancaman
kepunahan berbagai spesies.
Kerusakan habitat dan kepunahan berbagai jenis biota hingga kini terus
terjadi di Indonesia. Pada tahun 2012, hasil studi para ahli menunjukkan, sekitar
840.000 hektar hutan menghilang tiap tahunnya. Kebijakan pemerintah masih
belum mampu melindungi biodiversitas dari kerusakan
4. Menguatkan sains dan teknologi terkait konservasi dan pemanfaatan biodiversitas
untuk daya saing bangsa.
Artinya, kompetensi dan infrastruktur yang meliputi sains dasar dan
terapan, termasuk pengelolaan big data, perlu diperkuat.
5. Perlunya pengarusutamaan sains biodiversitas dalam perumusan kebijakan
terkait. Dengan kata lain, biodiversitas dan lingkungan harus menjadi arus utama
kebijakan pembangunan.

Setidaknya ada dua rekomendasi besar untuk menjawab tantangan di atas yaitu:

1. Prioritas investasi nasional dalam pemanfaatan dan pengelolaan biodiversitas.


Dalam bidang lingkungan hidup dan biodiversitas, di manakah pemerintah
sebaiknya berinvestasi? Itulah pertanyaan penting yang harus dijawab. Dari hasil
kajian para ilmuwan, terdapat tiga kegiatan utama yang dapat dijadikan prioritas
investasi nasional berbasis biodiversitas, yaitu pengembangan ekowisata berbasis
sains, bioprospeksi untuk penemuan obat dan energi, dan eksplorasi laut dalam.
2. Mengembangkan sains dan teknologi untuk biodiversitas Indonesia.
Bagaimanapun, Indonesia tetap harus berinvestasi dalam sains dasar dan
teknologi untuk dapat mengelola kekayaan biodiversitasnya secara lestari dan
mendapatkan manfaat ekonomi sebesar-besarnya. Hal ini dapat ditempuh melalui
lima jalan:
33

3. Mengembangkan sains dan teknologi untuk memahami sifat-sifat dasar


megabiodiversitas.
Upaya ini membutuhkan beberapa langkah, antara lain:
a. Penelitian yang lebih komprehensif melalui pengembangan observasi dan
permodelan tepat
b. Meningkatkan pemahaman tentang keseimbangan ekosistem demi
keberlangsungan perlindungan spesies endemik dan atau terancam punah
c. Memahami pola adaptasi biodiversitas terhadap perkembangan global dan
perubahan iklim
d. Memperkuat bank spesimen biodiversitas Indonesia.
4. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya mengelola biodiversitas yang
produktif dan berkelanjutan.
Untuk itu, perlu adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan
pentingnya biodiversitas, serta mengembangkan kearifan lokal, sains warga dan
data komputasi.
5. Meningkatkan pemanfaatan dan nilai ekonomi keunggulan biodiversitas
Indonesia.
Upaya ini memerlukan serangkaian langkah, antara lain: melalui
pemanfaatan dan pengusahaan jasa ekosistem; serta mengembangkan sains
biomimikri, yaitu pendekatan yang menggunakan sistem model untuk
memecahkan masalah yang dihadapi manusia, terutama dalam desain produk.
Atap Teater Esplanade di Singapura yang meniru kulit buah durian adalah contoh
aplikasi biomimikri dalam bidang arsitektur. Atap tersebut tidak semata sebagai
hiasan untuk menarik wisatawan, tetapi juga berfungsi sebagai panel alumunium
yang mengikuti posisi matahari.
6. Mengembangkan dan meningkatkan efektivitas konservasi dan tata kelola
biodiversitas, seperti restorasi dan konservasi ekosistem kunci (hutan, bakau,
padang lamun, dan terumbu karang). Di samping itu, interaksi dan dampak spesies
asing terhadap spesies lokal juga merupakan permasalahan yang harus
diselesaikan dan diantisipasi.
34

7. Pengembangan sumber daya manusia.


Segala upaya memanfaatkan biodiversitas secara lestari memerlukan
kekuatan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan
mumpuni di bidang tersebut, khususnya di bidang-bidang strategis, seperti
taksonomi, bioinformatika, big data, dan keahlian teknologi. Celakanya, justru
pada bidang-bidang tersebut, Indonesia sangat lemah.
8. Kelembagaan dan pendanaan.
Sains biodiversitas untuk penelitian dasar, terapan serta untuk upaya
konservasi dan restorasi keanekaragaman hayati membutuhkan pendanaan dalam
jumlah memadai dan berkesinambungan. Oleh karena itu, diperlukan sistem
pendanaan yang kompetitif, otonom, berkelanjutan, adanya kolaborasi
internasional, serta diperlukan keberadaan riset universitas.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Biodiversitas atau keanekaragaman hayati merupakan ukuran dari jumlah dan


keragaman organisme yang meliputi keanekaragaman dalam spesies, antar spesies dan
di antara ekosistem. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi atau membuat
biodiveritas itu menurun misalnya perubahan habitat, masuknya JAI, polusi,
eksploitasi berlebihan, dan perubahan iklim. Semua itu dapat di atasi jika kesadaran
dan aktivitas manusia sendiri bisa menjamin dan menjaga kelestarian biodiversitas di
seluruh dunia.
B. Saran

Dengan makalah ini, kami berharap pembaca bisa lebih memahami tentang
biodiversitas terutama tentang pengaruh kehilangannya biodiversitas. Namun kami
menyadari bahwa makalah kami kurang dari kata sempurna, karena sumber dan
referensi ilmu yang terbatas. Maka dari itu, dengan segala kerendahan hati kami
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun agar lebih baik kedepannya.

35
DAFTAR RUJUKAN

Agnes Fitria Widiyanto, dkk. “Polusi Air Tanah Akibat Limbah Industri Dan Limbah Rumah
Tangga”, Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 10 No. 2 (2015), Hal. 251
Bima Fitriandana, dkk.“Arti Penting Ruang Hijau Kota bagi Masyarakat dan Pemerintah
Kota (Ruang Hijau Kota di Lyon, Prancis)”, Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota,
Vol. 11 No. 1 (2015), Hal. 18
Darajati, Wahyuningsih, dkk. 2016. Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-
2020. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).
Emilia, Arina, dkk. 2019. Biodiversitas dan Kerusakan Lingkungan. Universitas Indonesia.
Hendra Gunawan, Lilik Budi. 2013. Fragmentasi Hutan. Bogor: P3KR.
http://ernindo.blogspot.com/2015/10/makalah-ipa-masuknya-spesies-asing.html
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/197212031999031-
WAHYU_SURAKUSUMAH/Perubahan_iklim_dan_pengaruhnya_terhadap_keanekaragama
n_haya.pdf
https://id.m.wikipedia.org/wiki/fragmentasi_habitat diakses pada 28 maret 2020 pukul 09.05
http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/dampak-perubahan-iklim-terhadap-keanekaragaman-
hayati

https://www.academia.edu/36967767/DAMPAK_EKSPLOITASI_BERLEBIHAN_TERHA
DAP_EKOSISTEM

36