Anda di halaman 1dari 9

Laporan Sementara Hari : Senin

Kimia Pangan dan Gizi Tanggal : 13 April 2020

KADAR ABU
Disusun oleh:
DIII Gizi TK. 1A
Disusun oleh:
Puji Lestari P031913411028

Dosen Pengampu:
Lidya Novita, S.Si, M.Si
Lily Restusari, M.Farm, Apt
Yuliana Arsil, M.Farm, Apt

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN


KESEHATAN RIAU
JURUSAN GIZI
2020
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengabuan merupakan suatu proses pemanasan bahan dengan suhu sangat
tinggi selama beberapa waktu sehingga bahan akan habis terbakar dan hanya
tersisa zat anorganik berwarna putih keabu-abuan yang disebut abu. Abu
merupakan zat anorganik sisa hasil pembakaran bahan organik. Kadar abu dari
suatu bahan dapat menunjukkan kandungan mineral yang ada dalam bahan
tersebut.
Pengabuan dapat menyebabkan hilangnya bahan-bahan organik dan
anorganik sehingga terjadi perubahan radikal organik dan segera terbentuk
elemen logam dalam bentuk oksida atau bersenyawa dengan ion-ion negatif.
Kandungan abu dan komposisinya bergantung pada macam bahan dan cara
pengabuan yang digunakan. Ada dua macam cara pengabuan, yaitu cara kering
(langsung) dan cara basah (tidak langsung). Kedua cara pengabuan tersebut
memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Cara kering dilakukan
dengan mengoksidasikan zat-zat organik pada suhu 500-600oC kemudian
melakukan penimbangan zat-zat tertinggal. Sedangkan cara basah dilakukan
dengan menambahkan senyawa tertentu pada bahan yang diabukan sepeti gliserol,
alkohol asam sulfat atau asam nitrat.
Penentuan kadar abu total yang dilakukan terhadap bahan hasil pertanian
bertujuan untuk menentukan baik tidaknya suatu proses pengolahan, mengetahui
jenis bahan yang digunakan, serta dijadikan parameter nilai gizi bahan makanan.

1.2. Tujuan Percobaan


Setelah melakukan praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat :
a. Mengetahui tentang kadar abu dalam bahan pangan.
b. Mengetahui tentang metode yang digunakan dalam menentukan kadar abu
di dalam bahan pangan.

1.3. Prinsip Percobaan


Abu dalam bahan pangan ditetapkan dengan menimbang sisa mineral hasil
pembakaran bahan organik pada suhu sekitar 550O C
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kadar Abu Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik


atau mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari
96% bahan anorganik dan air. Kadar abu dapat menunjukan total mineral dalam
suatu bahan pangan. Bahan-bahan organik dalam proses pembakaran akan
terbakar tetapi komponen anorganiknya tidak, karena itulah disebut sebagai kadar
abu (Astuti, 2012).
Kadar abu pada bahan pangan menggambarkan kandungan mineral dari
sampel bahan makanan. Yang disebut kadar abu ialah material yang tertinggal bila
bahan makanan yang dipijarkan dan dibakar pada suhu sekitar 500-800 C. Semua
bahan organik akan terbakar sempurna menjadi air dan CO2 serta NH3
sedangkan elemen-elemen tertinggal sebagai oksidanya. Dengan mengetahui berat
cawan ketika mula-mula kosong, dapat dapat dihitung berat abu yang telah terjadi.
Bila berat dinnyatakan dalam persen berat asal sampel pada permulaan
pengabuan, terdapatlah kadar berat abu dalam persen.
Penentuan kadar abu dilakukan untuk menentukan kualitas ataupun mutu
dan sebagai parameter nilai pada bahan pangan. Kadar abu sebagai parameter nilai
pangan yaitu menunjukkan kandungan apa saja yang terdapat pada suatu pangan
sehingga membuat pangan tersebut layak untuk dikonsumsi karena mengandung
zat-zat yang bergizi. Hal ini sesuai dengan penyataan Irawati (2008) yang
menyebutkan bawa penentuan kadar abu dapat digunakan untuk berbagai tujuan
salah satunya yaitu sebagai parameter nilai bahan pada makanan. Adanya
kandungan abu yang tidak larut dalam asam yang cukup tinggi menunjukkan
adanya pasir atau kotoran.

2.1. Metode Pengabuan Kering dan Basah


Dalam proses pengabuan suatu bahan, ada dua macam metode yang dapat
dilakukan, yaitu cara kering (langsung) dan cara tidak langsung (cara basah). Cara
kering dilakukan dengan mengoksidasikan zat-zat organik pada suhu 500-600oC
kemudian melakukan penimbangan zat-zat tertinggal. Pengabuan cara kering
digunakan untuk penentuan total abu, abu larut, tidak larut air dan tidak larut
asam. Waktu pengabuan lama, suhu yang diperlukan tinggi, serta untuk analisis
sampel dalam jumlah banyak. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
melakukan pengabuan cara kering, yaitu mengusahakan suhu pengabuan
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kehilangan elemen secara mekanis karena
penggunaan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya penguapan
beberapa unsur, seperti K, Na, S, Ca, Cl, dan P.
Sedangkan cara basah dilakukan dengan menambahkan senyawa tertentu
pada bahan yang diabukan sepeti gliserol, alkohol asam sulfat atau asam nitrat.
Pengabuan cara basah dilakukan untuk penentuan elemen mineral. Waktu
pengabuan relatif cepat, suhu yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi, untuk analisis
sampel dalam jumlah sedikit, memakai reagen kimia yang sering berbahaya
sehingga perlu koreksi terhadap reagen yang digunakan (Wulandari, 2010).

2.2. Pentingnya Pengabuan Bagi Produk Makanan


Pengabuan dilakukan untuk menentukan jumlah mineral yang terkandung
dalam bahan. Penentuan abu total dilakukan dengan tujuan untuk menentukan
baiktidaknya suatu proses pengolahan., mengetahui jenis makanan yang
digunakan, serta dijadikan para meter nilai gizi bahan makanan. Kandungan abu
dari suatu bahan menunujukan kadar mineral dalam bahan tersebut. Penentuan
abu juga digunakan sebagai parameter nilai gizi pada bahn makanan. Sebagai
contoh yaitu adanya kandungan abu yang tidak larut dalam asam yang cukup
tinggi menunujukan adanya pasir atau kotoran yang lain (Irawati, 2008).
Untuk mengetahui kandungan abu yang dapat larut dan tidak dapat larut,
perlu dilakukan tindakan berupa melarutkan sisa pengabuan dalam aquades,
kemudian disaring. Endapan yang terdapat di kertas saring merupakan abu yang
tidak dapat larut.
Sedangkan yang ada dalam air merupakan abu yang mudah larut. Untuk
mengetahui jenis mineral yang terkandung di dalamnya, dapat dilakukan dengan
menggunakan metode titrasi atau serapan panjang gelombang dengan
spektrofotometer(Fauzi,1994).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat
- Cawan pengabuan terbuat dari platina, nikrl, atau silika lengkap
dengan tutupnya.
- Tanur pengabuan
- Penjepit cawan
- Lampu bunsen
- Kaki tiga
- Kawat kasa

3.2 Prosedur
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, 2012. Analisis Kadar Abu. http://astutipage.wordpress.com/tag/kadar-abu/.


Diakses pada tanggal 12 April 2020.
Irawati. 2008. Modal Pengawasan Mutu I. Diploma IV PDPPTK VEDCA.Cianjur
Aak.1980. Budidaya Tanaman Kopi. Yayasan Kanisius, Yogyakarta
Aprianto, Anton.1989. Analisa Pangan. Bogor : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, IPB
Fauzi, Mukhammad. 1994. Analisa Hasil Pangan.Jember: UNEJ.
Rahardjo, Pudji. 2012. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika dan
Robusta. Penebar Swadaya. Jakarta
Sumarno. 2003. Teknik Budidaya Kacang Tanah. Sinar Baru Algensindo.
Wulandari, Ria. 2010. Abu. http://www.scribd.com (12 April 2020).
PERTANYAAN RESPONSI
1. Jelaskan yang di maksud dengan kadar abu dalam bahan pangan!
Jawab :
Kadar Abu Kadar abu merupakan campuran dari komponen
anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan
pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air. Kadar abu dapat
menunjukan total mineral dalam suatu bahan pangan. Bahan-bahan
organik dalam proses pembakaran akan terbakar tetapi komponen
anorganiknya tidak, karena itulah disebut sebagai kadar abu
Kadar abu pada bahan pangan menggambarkan kandungan mineral
dari sampel bahan makanan. Yang disebut kadar abu ialah material yang
tertinggal bila bahan makanan yang dipijarkan dan dibakar pada suhu
sekitar 500-800 C.

2. Jelaskan metode yang digunakan dalam menentukan kadar abu di dalam


bahan pangan.!
Jawab :
Dalam proses pengabuan suatu bahan, ada dua macam metode
yang dapat dilakukan, yaitu cara kering (langsung) dan cara tidak langsung
(cara basah). Cara kering dilakukan dengan mengoksidasikan zat-zat
organik pada suhu 500-600oC kemudian melakukan penimbangan zat-zat
tertinggal. Pengabuan cara kering digunakan untuk penentuan total abu,
abu larut, tidak larut air dan tidak larut asam. Waktu pengabuan lama,
suhu yang diperlukan tinggi, serta untuk analisis sampel dalam jumlah
banyak. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan
pengabuan cara kering, yaitu mengusahakan suhu pengabuan sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi kehilangan elemen secara mekanis karena
penggunaan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya
penguapan beberapa unsur, seperti K, Na, S, Ca, Cl, dan P.
Sedangkan cara basah dilakukan dengan menambahkan senyawa
tertentu pada bahan yang diabukan sepeti gliserol, alkohol asam sulfat atau
asam nitrat. Pengabuan cara basah dilakukan untuk penentuan elemen
mineral. Waktu pengabuan relatif cepat, suhu yang dibutuhkan tidak
terlalu tinggi, untuk analisis sampel dalam jumlah sedikit, memakai reagen
kimia yang sering berbahaya sehingga perlu koreksi terhadap reagen yang
digunakan.