Anda di halaman 1dari 8

Tugas Kelompok 02

(Minggu 5 / Sesi 7)
Pengantar:

Tugas kelompok kedua akan mengambil bahan dari materi-materi yang dibahas pada minggu keempat
dan minggu kelima, baik yang berasal dari Lecturer Notes, materi ppt, buku yang menjadi bahan
referensi, dan peraturan perundangan yang terkait dengan materi minggu keempat dan kelima.

Uraian Tugas:
Tentang Perlindungan Hak Cipta
1. Pilihlah salah satu karya novel (bebas pilih novel Indonesia maupun asing) yang kemudian
diadaptasi ke dalam sebuah film. Kemudian lakukan analisa :
- Perlindungan yang muncul atas karya cipta berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta

- Hak moral, hak ekonomi dan hak terkait yang muncul dari karya cipta tersebut

2. Tulislah tugas tersebut sebagai makalah dengan membahas :


a. Latar belakang permasalahan;
b. Kaitkan dengan hal-hal yang diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta dan materi-materi yang
bisa diambil dari berbagai literatur;
c. Simpulan dan saran

3. Aturan penulisan: huruf TNR 12, spasi 1.5, margin masing-masing 3 cm, disusun dalam 5 sampai 7
halaman (tidak termasuk halaman cover). Setiap tugas wajib dilengkapi dengan daftar pustaka

4. Cantumkanlah sumber dari setiap kutipan yang diambil untuk bahan menulis tugas, terutama pada
setiap akhir kutipan dan harus sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam daftar pustaka (misalnya
jika dari buku, tulislah nama penulisnya, judul buku, tahun terbit dan halaman yang dikutip. Jika
dari sumber internet tulislah link sumber tersebut dan tanggal berapa kalian mengakses sumber
tersebut).
5. Dalam cover disebutkan judul, nama pembuat tugas dan nomor induk mahasiswa. Jika ada nama
mahasiswa yang tidak dicantumkan dalam lembar jawaban, maka dianggap tidak aktif
mengerjakan tugas.

== Selamat Mengerjakan ==

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


LEGAL ASPECT IN ECONOMIC
TEAM 4

Friskila Anugrah - 2101808521


Engga besti Fiamayora - 2101747766
Iknatius seo – 2101808540
Patricia Tricahyani Santoso - 2101805652
Riki Nelson Seo - 2101808553

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


A. LATAR BELAKANG

Novel fenomenal “ Laskar Pelangi “ karya Andre Hirata secara garis bersar,
novel ini bercerita kehidupan kanak-kanak beberapa bocah di Belitong.
Andrea Hirata memulainya dengan kisah miris dunia pendidikan di
Indonesia dimana sebuah sekolah yang kekurangan murid hendak ditutup.
Sekolah tersebut adalah SD Muhammadiyah di Gantung Belitung Timur.
Namun, karena murid yang terdaftar genap 10, sekolah dengan bangunan
seadanya tersebut tetap diijinkan beraktifitas seperti biasanya. Ke-sepuluh
murid tersebut adalah para laskar pelangi. Nama yang diberikan guru
mereka bernama Bu Mus, oleh karena kegemaran mereka terhadap pelangi.
Film ini juga berkisah tentang perjuangan dua orang guru SD Muhamadiyah
dan sepuluh muridnya untuk bertahan dalam mendapatkan pendidikan.
Film ini mengambil setting kehidupan masyarakat di pulau Belitong
(Kepulauan Bangka Belitung) dipertengahan 1970-an.
Kisah ini juga memperlihatkan sisi ironi bagaimana kesenjangan social nampak
nyata di pulau Belitong yang sangat kaya dengan hasil alam berupat timah. Tapi
kekayaan Belitong tak menjadi nikmat bagi kebannyakan penduduk melayu
yang tinggal disana. Mereka tetap hidup miskin dan serba berkekurangan.
Bahkan kebanyakan anak disana tidak bisa bersekolah karena harus ikut banting
tulang mencari makan. Novel inipun diadaptasi kedalam sebuah film dan rilis
pada 25 September 2008 yang mendapat sambutan baik dari seluruh masyarakat
Indonesia dan membukakan mata banyak orang tentang pendidikan di Indonesia.
Esensi film ini juga lebih difokuskan pada kritik sosial yang disampaikan
melalui film ini. Secara teoritis, pendidikan memiliki dua fungsi yang saling
bertentangan. Menurut perspektif fungsional, pendidikan berfungsi positif untuk
mentransmisikan nilai-nilai antargenerasi. Sebaliknya, perspektif konflik
menjelaskan bahwa pendidikan justru menyebabkan terjadinya ketimpangan
sosial. Perspektif interaksionisme simbolik lebih melihat pada bagaimana aktor-

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


aktor yang terlibat dalam proses pendidikan saling berhubungan. Beberapa kritik
yang disampaikan di antaranya adalah mengenai proses pendidikan formal yang
meninggalkan hakikat pendidikan itu sendiri, eksklusifitas fungsi sekolah,
formalisasi pendidikan, ketidakmerataan akses pendidikan bagi masyarakat kelas
bawah yang menyebabkan ketidaksetaraan sosial, otonomi pendidikan
yangsepenuhnya belum otonom serta dikotomi sekolah favorit dan tidak favorit.
Kondisi-kondisi inilah yang mewarnai dinamika pendidikan nasional sampai
saat ini yang telah menyebabkan terjadinya ketidaksetaraan sosial.
Film ini juga memberikan kritik terhadap praktik pendidikan ketika dunia
pendidikan sekarang lebih mengedepankan pendidikan sains dari pada
pendidikan nilai. Pendidikan nilai kurang mendapatporsi yang seimbang selain
itu, praktik pendidikanmasih menggunakan nilai sebagai indikatorkecerdasan
siswa, nilai yang menjadi penentulayak tidaknya seorang siswa mendapat
predikat“anak pintar”. Nilai yang berupa angka ini saat inimenjadi sebuah
momok yang menakutkan bagisiswa manakala seorang siswa harus
menghadapitembok tinggi yang berupa ujian (nasional). Ujian(nasional)
merupakan sarana untuk menyeleksisiswa untuk naik ke jenjang yang lebih
tinggi. Nilaiini kemudian direpresentasikan dalam bentukselembar ijasah dan
sederet gelar. Simbol-simbolyang berupa ijasah atau gelar inilah
yangkemudian menjadi apa yang disebut Bourdieu(2004) sebagai modal budaya,
modal budaya yang tidak setiap golongan sosial mampu mendapat-kannya.
Selanjutnya, status sekolah akan menjadimodal simblolik bagi siswanya,
seolah-olahbersekolah di sekolah favorit menjadi sebuahkebanggaan bagi
dirinya.

B. PENGKAITAN SUATU KARYA DENGAN UNDANG-UNDANG HAK


CIPTA
Setiap orang yang telah membuat suatu karya dari hasil pemikiran dengan
berjerih lelah pasti tidak menginginkan orang lain untuk dapat menjiplak
karyanya dengan mudah. Untunglah Negara kita menyadari pentingnya hak
cipta dari suatu karya yang mana hal tersebut di wujudkan dalam Undang-

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


Undang Hak Cipta. berdasarkan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2014 tentang Hak Cipta  (“UUHC”), Ciptaan adalah setiap hasil karya cipta di
bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi,
kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang
diekspresikan dalam bentuk nyata. Ditinjau dari perlindungan hak cipta terhadap
suatu karya, maka novel Laskar Pelangi termasuk dalam Ciptaan yang
dilindungi, berupa hasil karya tulis.
Seorang penulis novel disebut sebagai Pencipta. Pencipta adalah seorang atau
beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan
suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi. Pencipta memiliki dua hak
eksklusif sebagaimana diatur dalam Pasal 4 UUHC yaitu hak moral dan hak
ekonomi.
Hak moral diatur dalam Pasal 5 UUHC sebagai berikut.

Hak moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 merupakan hak yang melekat
secara abadi pada diri Pencipta untuk:
a. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan
sehubungan dengan pemakaian Ciptaannya untuk umum;
b. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;
c. mengubah Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;
d. mengubah judul dan anak judul Ciptaan; dan
e. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, mutilasi Ciptaan,
modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau
reputasinya.
Sementara itu, perihal hak ekonomi diatur dalam Pasal 8 UUHC sebagai
berikut:

Hak ekonomi merupakan hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta
untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas Ciptaan.

 Kemudian, Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud di atas


memiliki hak ekonomi untuk melakukan:

a. Penerbitan Ciptaan;

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


b. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;
c. Penerjemahan Ciptaan;
d. Pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian Ciptaan;
e. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;
f. Pertunjukan Ciptaan;
g. Pengumuman Ciptaan;
h. Komunikasi Ciptaan; dan
i. Penyewaan Ciptaan. 
Perlu diketahui bahwa setiap Orang yang melaksanakan hak ekonomi
sebagaimana disebutkan di atas wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang
Hak Cipta. Jika tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta, maka setiap
Orang dilarang melakukan Penggandaan dan/atau penggunaan secara komersial
ciptaan.

Film atau yang dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak


Cipta ("UUHC") disebut sebagai karya sinematografi adalah salah satu ciptaan
yang dilindungi.

Dalam Penjelasan Pasal 40 ayat (1) huruf m UUHC, yang dimaksud dengan


"karya sinematografi" adalah: Ciptaan yang berupa gambar bergerak (moving
images) antara lain film dokumenter, film iklan, reportase atau film cerita yang
dibuat dengan skenario, dan film kartun. Karya sinematografi dapat dibuat
dalam pita seluloid, pita video, piringan video, cakram optik dan/atau media lain
yang memungkinkan untuk dipertunjukkan di bioskop, layar lebar, televisi, atau
media lainnya. Sinematografi merupakan salah satu contoh bentuk audiovisual.
Pelindungan hak cipta atas ciptaan berupa karya sinematografi berlaku selama
50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali dilakukan pengumuman.

Film sebagai salah satu ciptaan yang dilindungi dalam hukum hak cipta ada dua
jenis kategorinya, karya sinematografi dan karya sinematografi adaptasi. Untuk
karya sinematografi adaptasi dapat ditunjukkan dengan adanya pengalihwujudan
suatu ciptaan menjadi bentuk lain. Contoh karya sinematografi ini misalnya
adalah novel “Laskar Pelang” yang ditulis oleh Andrea Hirata kemudian
dialihwujudkan oleh produser Mira Lesmana menjadi film “Laskar Pelangi”.

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


Pasal 33 ayat (1) UUHC mengatur mengenai penyelesaian seluruh ciptaan yang
menyatakan bahwa dalam hal ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri
yang diciptakan oleh 2 (dua) orang atau lebih, yang dianggap sebagai pencipta
yaitu orang yang memimpin dan mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan.

Pasal 34 UUHC mengatur bahwa dalam hal ciptaan dirancang oleh seseorang


dan diwujudkan serta dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan
pengawasan orang yang merancang, yang dianggap pencipta yaitu orang yang
merancang ciptaan.  Dalam industri film, yang menjadi orang yang memimpin
dan mengawasi penyelesaian seluruh ciptaan atau orang yang merancang ciptaan
adalah produser. Oleh karenanya, hak cipta suatu film ada pada produser. Dari
beberapa contoh pelanggaran hukum terkait kekayaan intelektual dalam suatu
film, dapat dilihat bahwa sebuah film rentan terhadap gugatan-gugatan hukum
jika hak-hak para pencipta yang terkait di dalamnya tidak diselesaikan dengan
baik pada proses pembuatan film tersebut.

C. KESIMPULAN
Novel “Laskar Pelangi” yang diangkat menjadi karya sinemotografi adaptasi
merupakan salah satu contoh dari sebuah karya yang memiliki hak kekayaan
intelektual. Dimana hak kekayaan intelektual ini diberikan kepada setiap orang
yang mampu membuat suatu karya yang khas dan bersifat pribadi dan berguna
untuk kehidupan manusia.
“Laskar Pelangi” memiliki 2 hak cipta, yaitu hak cipta terhadap keasilaan tulisan
tangan berupa novel yang dipegang oleh Andrea Hirata selaku penulis dari novel
“Laskar Pelangi”. Sedangkan untuk film “Laskar Pelangi” hak cipta dipegang
oleh produser dari film tersebut sesuai yang diatur dalam Undang-undang hak
cipta.

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic


Refrensi
- LN Week 4 dan 5
- www.djpp.kemenkumham.go.id (4 april 2020, 19.20 wit)
- MOH ERFAN TAUFIQ HADI. 2010. “ANALISIS NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA
HIRATA (Tinjauan Sosiologi Sastra)”. FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA.

LAWS6095 – Legal Aspect in Economic