Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

SIFAT FISIK, KIMIA DAN BIOLOGI TANAH


MATA KULIAH :
Ilmu Tanah Hutan

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA : SUDARNA SUDIN
NPM : 04341911025
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala kasih karunia-Nya sehingga
MAKALAH ini dapat tersusun hingga selesai, adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas Ilmu Tanah Hutan.
Harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
pembaca untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menembah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan ketik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................
DAFTAR ISI...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................
1.1 LATAR BELAKANG...........................................................................
1.2 RUMUSAN MASALAH......................................................................
1.3 TUJUAN...............................................................................................
1.4 MANFAAT...........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................
2.1 Sifat Fisik Tanah...................................................................................
2.2 Sifat Kimia Tanah.................................................................................
2.3 Sifat Biologi Tanah...............................................................................
BAB III PENUTUP.................................................................................................
3.1 KESIMPULAN.....................................................................................
3.2 SARAN.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang


Tanah merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia. Fungsi tanah juga
untuk perkembangan tanaman dan tempat untuk mengembangkan media teknik seperti
pembangunan jalanraya dan rumah. Tanah yang memiliki banyak kegunaan ini juga memiliki
banyak karakteristik. Setiap daerah dengan karakteristik morfologi yang berbeda juga memiliki
perbedaan karakteristik tanah.
Karakteristik tanah secara fisik dapat dilihat dari teksturnya, warnanya, ukuran
butirannya dan banyak karakteristik yang lainnya. Faktor - factor alam sangat menentukan
keadaan tanah suatu wilayah. Faktor alam yang juga berpengaruh penting dalam karakteristik
tanah adalah sifat kimia dan biologi tanah. Dalam makalah ini penyusun menjabarkan sifat-
sifatkimiadanbiologipada tanah. Dengan penjabaran dalam makalah ini penyusun ingin
mengetahui sifat-sifat kimia dan biologi.

1.2 RumusanMasalah
1.    Bagaimana sifat kimia tanah?
2.    Apa saja macam-macam mineral liat?
3.    Bagaimana kejenuhan basa berpengaruh terhadap sifat tanah?
4.    Bagaimana pengaruh pH terhadap sifat tanah?
5.    Bagaimana sifat biologi tanah?
6. Sifat Fisik Tanah?

1.2   Tujuan
1.      Untuk mengetahui sifat kimia tanah?
2.      Untuk mengetahui saja macam-macam mineral liat?
3.      Untuk mengetahui pengaruh kejenuhan basa terhadap sifat tanah?
4.      Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap sifat tanah?
5.      Untuk mengetahui sifat biologi tanah?
6. Untuk mengetahui sifat fisik tanah?
1.4 Manfaat
1.      Mengetahui sifat kimia tanah?
2.      Mengetahui saja macam-macam mineral liat?
3.      Mengetahui pengaruh kejenuhan basa terhadap sifat tanah?
4.      Mengetahui pengaruh pH terhadap sifat tanah?
5.      Mengetahui sifat biologi tanah?
6. Mengetahui Sifat Fisik tanah?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sifat Fisik Tanah
A.    Tekstur Tanah
            Tekstur tanah merupakan gambaran tingkat kekasaran atau kehalusan bahan mineral yang
menyusun tanah.Tekstur tanah ditentukan oleh proporsi tiga jenis partikel tanah,yaitu
pasir,debu/endapan lumpur,dan lempung/liat.pembagian ini berdasarkan ukuran partikel ketiga
jenis tanah tersebut.Pasir memiliki ukuran partikel paling besar sedangkan lempung memiliki
ukuran partikel paling kecil.
   Tekstur tanah sangat menentukan kualitas tanah terutama dalam dalam hal kemampuannya
menahan air. Tekstur tanah merupakan gambaran tinkat kekasaran atau kehalusan bahan mineral
yang menyusun tanah.disini tekstur tanah ditentukan 3 jenis partikel tanah
yaitu,pasir,debu/endapan lumpur,dan lempung/liat.
Tekstur merupakan sifat kasar-halusnya tanah dalam percobaan yang ditentukan oleh
perbandingan banyaknya zarah-zarah tunggal tanah dari berbagai kelompok ukuran, terutama
perbandingan antara fraksi-fraksi lempung, debu, dan pasir berukuran 2 mm ke bawah
(Notohadiprawito, 1978).
Tekstur tanah menunjukkan perbandingan kasar-halusnya suatu tanah, yaitu perbandingan
pasir, liat, debu serta pertikel-partikel yang ukurannya lebih kecil daripada kerikil. Partikel-
partikel tersebut dapat berupa bahan-bahan induk yang belum terurai sempurna..
1)      Jenis-jenis Tekstur Tanah
Tekstur merupakan sifat yang sangat penting karna berpengaruh pada sifat–sifat kimia, fisik
dan biologi tanah. Tanah secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 kelas yaitu tanah bertekstur
kasar dan tanah bertekstur halus. Tanah bertekstur halus (dominant liat) memiliki permukaan
yang lebih halus dibanding dengan tanah bertekstur kasar (dominan pasir). Sehingga tanah-tanah
yang bertekstur halus memiliki kapasitas adsorpsi unsur-unsur hara yang lebih besar. Dan
umumnya lebih subur dibandingkan dengan tanah bertekstur kasar. Karna banyak mengandung
unsure hara dan bahan organik yang dibutuhkan oleh tanaman. Tanah bertekstur kasar lebih
porus dan laju infiltrasinya lebih cepat. Walaupun demikian tanah bertekstur halus memiliki
kapasitas memegang air lebih besar dari pada tanah pasir karna memiliki permukaan yang lebih
luas. Tanah-tanah berliat memiliki persentase porus yang lebih banyak yang berfungsi dalam
retensi air (water retension). Tanah-tanah bertekstur kasar memiliki makro porus yang lebih
banyak, yang berfungsi dalam pergerakan udara dan air.
2)       Cara Penetapan Tekstur Tanah
Penetapan tekstur tanah dapat ditentukan dengan metode analisis kualitatif, dengan
merasakan tanah langsung dengan menggunakan jari tangan sehingga dapat diketahui tingkat
kehalusan dan kekasarannya. Hal ini disebabkan karena penentuan tekstur tanah merupakan
perbandingan fraksi tanah yang meliputi kandungan liat, debu, dan pasir dalam suatu massa
tanah yang memiliki bentuk partikel yang berbeda-beda. Bila terasa halus maka tanah memiliki
kandungan liat yang dominan dan bila kasar maka kandungan pasirnya dominan.
Penetapan tekstur tanah secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu:

1. Penetapan kasar yaitu menurut perasaan di lapang.


2. Penetapan di laboratorium.
Badan Pertanahan Nasional mendefinisikan bahwa tekstur tanah adalah keadaan tingkat
kehalusan tanah yang terjadi karena terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir,
debu dan liat yang terkandung pada tanah. Dari ketiga jenis fraksi tersebut partikel pasir
mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0.05 mm, debu dengan ukuran 0.05 – 0.002
mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm.
Maka dapat terjadi bahwa pada suatu tanah, butiran pasir merupakan penyusun yang
dominan, pada kasus lain liat merupakan penyusun tanah yang terbesar. Sebaliknya pada tempat
lain, kandungan pasir, liat dan lempung terdapat sama banyaknya.
Tekstur tanah merupakan satu sifat fisik tanah yang secara praktis dapat dipakai sebagai alat
evaluasi atau jugging (pertimbangan) dalam suatu potensi penggunaan tanah. Tekstur tanah
menunjukkan perbandingan relatif antara Pasir (sand) berukuran 2 mm – 50 mikron, debu (silt)
berukuran 50 – 2 mikron dan liat (clay) berukuran < 2 mikron. Klasifikasi tekstur ini berdasarkan
jumlah partikel yang berukuran < 2 mm. Jika dijumpai partikel yang > 2 mm dengan jumlah
yang nyata, maka penambahan / penyisipan kata – kata berkerikil atau berbatu ditambahkan pada
nama kelas tekstur tadi. Sebagai contoh lempung berbatu. Untuk keperluan pemilihan ada 12
kelas tekstur tanah. Dan pembagian itu kemudian disederhanakan menjadi 7 kelas yang terdiri
dari pasir, lempung kasar, lempung halus, debu kasar, debu halus, liat debu dan liat sangat halus.
Fraksi tanah adalah sekelompok butir-butir tanah yang mempunyai kisaran tanah yang sama,
yang digolongkan menjadi 3 yaitu fraksi pasir debu dan lempung dan klasifikasi sebagai berikut :
1. Pasir (sand) : 2-0,05mm, 2. Debu () : 0,05 mm-0,002 mm, dan 3. Lempung (clay) : < 0,002
mm.
3)      Faktor yang Mempengaruhi Tekstur Tanah
1.  Iklim
Iklim merupakan rerata cuaca pada jangka panjang minimal permusim atau perperiode,
dan seterusnya, dan cuaca adalah kondisi iklim pada suatu waktu berjangka pendek misalnya
harian, mingguan, bulanan dan masimal semusim atau seperiode. Pengaruh curan hujan ialah
sebagai pelarut dan pengankut maka air hujan akan mempengarugi (1) komposisi kimiawi
mineral penyusun tanah, (2) kedalaman dan diferensiasi profil tanah,  (3) sifat fsik tanah.
Pengaruh temperature setiap kenaikan temperatur akan meningkatkan penigkatannya laju reaksi
kimiawi menjadi 2x lipat. Meningkatkan pembentukan dan pelapukan dan pembentukan liat
terjadi seiring dengan peningkatannya temperature.
            Hubungan antara temperature dan pertumbuhan tanaman serta akumulasi bahan organic
cukup kompleks. Kandungan bahan organic tanah adalah jumlah antara hasil penambha bahan
organik + laju mineralisasi bahan organic + kapasitas tanah melidungi bahan organic dari
mineralisasi (liat amorf) (Hanafiah, 2005).
2.  Topografi
      Topografi yang dimaksud adalah konfigurasi permukaan dari suatu area/wilayah.
Perbedaan topografi akan mempengaruhi jenis tanah yang terbentuk.  pada daerah lereng
infiltras. Sedangkan pada daerah datar/rendah, menerima kelebihan air yang menyediakan air
lebih banyak untuk proses genesis tanah.
3.  Organisme Hidup
      Fungsi utama organisme hidup adalah untuk menyediakan bahan organik bagi soil.
Humus akan menyediakan nutrien dan membantu menahan air. Tumbuhan membusuk akan
melepaskan asam organik yang meningkatkan pelapukan kimiawi. Hewan penggali seperti
semut, cacing, dan tikus membawa partikel soil ke permukaan dan mencampur bahan organik
dengan mineral. Lubang-lubang yang dibuat akan membantu sirkulasi air dan udara,
meningkatkan pelapukan kimiawi dan mempercepat pembentukan soil. Mikroorganisme seperti
bakteri, jamur, dan protozoa membantu proses pembusukan bahan organik menjadi humus.
(Hanafiah, 2005)
4. Waktu
            Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah (dinamis) sehingga akibat
pelapukan dan pencucian yang terus menerus maka tanah tanah yang semakin tua juga akan
semakin kurus. Mineral yang banyak mengandung unsure hara telah habis mengalami pelapukan
sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah
yang terus berjalan maka bahan induk tanah berubah berturut turut menjadi tanah muda, tanah
dewasa dan tanah tua. Tanah muda hasil pembentukan horizon C dan horizon A. Tanah dewasa
yaitu hasil pembentukan horizon B yang masih muda (Bw). Tanah tua merupakan tanah dari
hasil pencucian yang terus menerus berlanjut sehingga tanah tersebut menjadi kurus dan masam.
Perlu diketahui bahwa tingkat perkebangan  tanah tidak setara dengan tingkat pelapukan tanah.
Tingkat perkembangan tanah berhubungan dengan perkembangan horizon horizon tanah,
sedangkan tingkat pelapukan tanah berhubungan dengan tingkat pelapukan mineral dalam tanah
(Hardjowigeno, 1992).
5. Bahan Induk
      Pembentuk bahan induk yang terbentuk dari batuan induk keras di dominasi oleh proses
disentegrasi secara fisik dan dekomposisi kimiawi partikel mineral dalam batuan tersebut. Bahan
induk yang berasal dari batu pasir. Pada batu kapur, tanah terbentuk dari sisa-sisa bahan yang
tidak larut setelah kalsium dan magnesium karbonat terlarut dan terkunci. Liat adalah bahan yang
dapat d temui pada batu kapur, yang kemudian menjadikan tanah bertekstur halus. Bahan induk
yang di turunkan dari sedimen dibawah oleh air angin. Sedimen koluvial  terjadi pada lereng
terjal dimana gravitasi adalah kekuatan utama yang menyebabkan gerakan dan
sedimentasi.sedimen koluvial adalah bahan induk yang penting di areal bergunung/berbukit.
Sedimen alluvial biasa ditemui dimana-mana oleh karena penyebaran oleh banjir dan sungai.
Contoh: kebanyakan tanah-tanah pertanian di California terbentuk di lembahdiman alluvial
adalah bahan induk yang dominan. Pengaruh bahan induk terhadap genesis tanah, Perkembangan
horison terutama horison B tergantung pada translokasi partikel halus oleh air. Bahan induk yang
tersusun 100% pasir kuarsa tidak akan hancur untuk mengahasilkan partikel koloid. Bahan induk
yang bertekstur pasir akan mendukung perkembangan horison bahasa daerah (humid). Bahan
induk yang tersusun atas partikel inter media akan berkembang menjadi berbagai jenis tanah.
Tekstur dan struktur tanah akan mempengaruhi genesis tanah melalui proses infiltrasi dan erosi.
Permeabilitas dan translokasi material dalam air, proteksi dan akumulasi bahan organik dan
ketebalan solum (horison A+B).

B.     Struktur Tanah


Struktur tanah merupakan penyusunan partikel tanah pasir, debu dan liat membentuk
aggregat-aggregat dengan bidang belah yang alami. Menurut Suhardi (2007) ialah susunan
agregat primer tanah secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh beberapa bidang.
Pembentukan struktur sangat tergantung pada bahan primer (mineral dan organik) yang
mengalami sementasi oleh CaCO3 serta Fe dan Al hidroksida sehingga terbentuk unit struktur
yang disebut agregat.

Struktur tanah merupakan sifat tanah yang penting karena secara tidak langsung dapat
mempengaruhi pertumbuhan tanaman berupa peredaran air, udara dan panas, aktivitas jazad
hidup tanah, tersedianya unsur hara bagi tanaman, perombakan bahan organik dan mudah atau
tidaknya akar tanaman menembus tanah. Tanah yang berstruktur baik akan membantu
berfungsinya faktor-faktor pertumbuhan tanaman secara optimal. Sedangkan tanah berstruktur
jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Berhubung struktur tanah sangat
berperan penting terhadap berhasilnya suatu usaha tani, maka peranan struktur tanah dapat
disimpulkan sebagai beikut :
a)      Struktur dapat menentukan produktivitas tanah karena ia mempengaruhi ketersediaan air, udara
tanah dan rejim panas dilapangan.
b)      Struktur tanah dapat berpengaruh terhadap sifat mekanika tanah
c)      Struktur tanah berpengaruh terhadap perkecambahan biji dan pertumbuhan akar
d)     Struktur tanah dapat berpengaruh terhadap operasi pertanian, pengolahan tanah, irigasi, drainase,
dan pertanaman.
C.    Konsistensi Tanah
Konsistensi tanah adalah daya kohesi dan adhesi diantara partikel-partikel tanah dan
ketahanan (resistensi) massa tanah tersebut terhadap perubahan bentuk oleh tekanan atau
berbagai kekuatan yang dapat mempengaruhi. Konsistensi tanah ditentukan oleh tekstur dan
struktur tanah.
Pentingnya konsistensi tanah ialah untuk menentukan cara penggarapan tanah yang
efisien dan penetrasi akar tanaman di lapisan tanah bawahan. Tanah yang bertekstur pasir
bersifat tidak lengket, tidak liat (non plastic) dan lepas-lepas. Sebaliknya tanah bertekstur
lempung-berat pada keadaan basah berkonsistensi sangat lengket, sangat liat dan bila kering
bersifat sangat teguh (kuat) dan keras. Tanah bertekstur geluh (loam) mempunyai sifat diantara
tekstur pasir dan lempung. Perekatan partikel tanah membentuk gumpalan agregat dan
mempunyai konsistensi keras jika kering, disebabkan adanya bahan-bahan perekat, yaitu
lempung itu sendiri kapur atau gamping (CaCO 3), silika (SiO2), sesquioksida (Al dan Fe oksida)
dan humus. Kecuali lempung semakin basah makin kurang daya rekatnya.

Cara menentukan konsistensi di lapangan ialah dengan cara memijit-mijit tanah, dalam
berbagai keadaan kandungan air seperti keadaan basah (wet), lembab (moisture) atau
kering (dry), biasanya dengan menggunakan ibu jari dengan telunjuk. Dalam keadaan lembab,
tanah dibedakan ke dalam konsitensi gembur (mudah diolah) sampai teguh (agak sulit
dicangkul). Dalam keadan kering, tanah dibedakan ke dalam konsistensi lunak sampai keras.
Dalam keadaan basah dibedakan plastisitasnya yaitu dari plastis sampai tidak plastis atau
kelekatannya yaitu dari tidak lekat sampai lekat. Dalam keadaan lembab atau kering konsistensi
tanah ditentukan denga meremas segumpal tanah. Bila gumpalan tersebut mudah hancur, maka
tanah dikatakan berkonsistensi gembur. Bila gumpalan tanah sukar hancur dengan remasan
tersebut anah dikatakan berkonsistensi teguh (lembab) atau keras (kering). Dalam keadaan basah
ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari (melekat atau tidak melekat) atau mudah tidaknya
membentuk bulatan dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak
plastis).
2.2 Sifat Kimia Tanah
1.    Koloid Tanah
Kolid  tanah  adalah  bahan  mineral  dan  bahan  organik  yang  sangat halus sehingga
mempunyai  luas permukaan yang sangat tinggi  per  satuan berat (massa). Koloid tanah yang
berperan yaitu koloid anorganik (Koloid liat atau mineral) dan koloid organik (humus). Kedua
koloid ini mempunyai sifat dan ciri yang jauh berbeda.
Bagian yang paling aktif dalam tanah adalah bagian yang berada dalam keadaan koloid,
yaitu liat dan bahan organik yang berada dakam keadaan tercampur satu sama lain. Hal ini perlu
diketahui karena merupakan sebab terjadinya perubahan dan reaksi fisika-kimia tanah. Ukuran
partikel yang disebut koloid adalah partikel berukuran <0.001 mm atau 1 mikron.
Partikel-partikel   koloid   yang   sangat   halus   yang   disebut   micelle (microcell), 
umumnya  bermuatan  negatif,  karena  itu  ion-ion  bermuatan positif (kation) tertarik pada
koloid tersebut sehingga terbentuk lapisan ganda ion. Bagian dalam dari lapisan ganda ion ini
terdiri dari partikel koloid yang bermuatan negatif (anion) sedang bagian luar merupakan
kerumunan kation yang tertarik oleh partikel-partikel koloid tersebut

a.    Koloid Mineral atau Liat


Macam-macam Mineral Liat
Sebenarnya terdapat berbagai macam mineral liat yang terjadi di dalam tanah, namun demikian
di dalam urutan berikut ini hanya disajikan beberapa macam mineral liat yang penting dan
hamper selalu dijumpai pada tanah-tanah tropika di Indonesia.
1).   Kaolinit dan Haloisit
       Kaolinit dan Haloisit adalah mineral liat tipe 1:1, struktur kedua mineral tersebut sama. Satu-
satunya perbedaan yang ada adalah bahwa haloisit mempunyai lapisan air di antara kedua lapisan
penyusunnya.

2).   Montmorilonit
       Montmorilonit adalah  kelompok mineral liat tipe 2:1. Pada mineral tipe 2:1 kali terjadi substitusi
isomorfik (pergantian tanpa merubah bentuk) yang menyebabkan perbedaan susunan kimia pada
berbagai mineral liat tipe 2:1. Substitusi yang paling sering terjadi adalah substitusi Fe dan Mg
terhadap Al, meskipun kadang-kadang terjadi pula substitusi Al terhadap Si. Muatan negatif
yang dihasilkan akibat substitusi ini sebagian diimbangi oleh kation hidrasi antar lapisan yang
mengikat lapisan-lapisan di dekatnya. Karena adanya ion negative yang dihasilkan akibat
substitusi tersebut, pada mineral tipe 2:1 ini sering terjadi pertukaran kation dengan air. Mineral
ini mengembang bila ditambahkan air, tetapi menkerut bila kering.

3).   Illit
       Illit termasuk kelompok mineral liat tipe 2:1. Meskipun struktur dasarnya sama dengan
montmorilionit, substitusi yang pertama terjadi adalah substitusi Al, terhadap Si. Kation yang
mengikat antar lapisan K, karena ion K tidak dekat dengan Si yang bermuatan negative maka
ikatan yang terbentuk biasanya kuat dan tidak terjadi proses mengembang dan mengkerut seperti
halnya pada montmirilonit.

4).   Vermikulit
       Vermikulit juga termasuk dalam kelopok mineral liat tipe 2:1, mineral liat sering kali tersusun
oleh tetrahidra dan oktahidra. Substitusi terjadi juga pada antar lapisan, seperti hallya illit. Hal ini
menyebabkan kuatnya ikatan dan tidak terjadi pengembangan pada lapisan.

5). Klorit
       Klorit adalah mineral tipe 2:1:1 tersusun dari lapisan yang diselubungi dengan lapisan oktahedra
dan substitusi terjadi umumnya Al terhadap Si dalam lembar tetrahedral menghasilkan muatan
negatif.

b.        Koloid Organik atau Humus


Yang dimaksud dengan koloid organic di dalam tanah adalah humus. Perbedaan utama
dari koloid organik dengan koloid anorganik (liat) adalah bahwa koloid organik (humus)
tersusun oleh C, H ,O sedang liat terutama tersusun oleh Al, Si dan O. humus bersifat amorf,
mempunyai nilai kapasitas tukar kation yang tinggi daripada mineral liat, dan lebih mudah
dihancurkan jika dibandingkan dengan liat.
Muatan dalam humus adalah muatan tergantung pH. Dalam keadaan masam H + dipegang
kuat dalam gugusan karboksil dan phenol, tetapi ikatan tersebut menjadi kurang kekuatan bila
pH menjadi lebih tinggi. Akibatnya, disosiasi H+ meningkat dengan meningkatnya pH, sedang
muatan negative dalam koloid humus yang dihasilkan juga meningkat. Tanah mengandung
sejumlah besar senyawa organik dalam berbagai tahap penguraian. Humus adalah istilah yang
dipakai untuk menyebutkan bahan organik yang telah mengalami penguraian secara menyeluruh
dan resisten terhadap perubahan selanjutnya.

2.    Kapasitas Tukar Kation


a.         Pengertian
Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi
indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable
Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation
exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KTK
adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah.

a.       Perbedaan KTK Tanah Berdasarkan Sumber Muatan Negatif


1). KTK Muatan Permanen
KTK muatan permanen adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan
koloid liat dengan sumber muatan negatif berasal dari mekanisme substitusi isomorf. Substitusi
isomorf adalah mekanisme pergantian posisi antar kation dengan ukuran atau diameter kation
hampir sama tetapi muatan berbeda. Substitusi isomorf ini terjadi dari kation bervalensi tinggi
dengan kation bervalensi rendah di dalam struktur lempeng liat, baik lempeng liat Si-tetrahedron
maupun Al-oktahedron.
2). KTK Muatan Tidak Permanen
KTK muatan tidak permanen atau KTK tergantung pH tanah adalah jumlah kation yang
dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif liat bukan berasal
dari mekanisme substitusi isomorf tetapi berasal dari mekanisme patahan atau sembulan di
permukaan koloid liat, sehingga tergantung pada kadar H+ dan OH- dari larutan tanah.

C.    Kejenuhan Basa


Kation-kation yang terdapat dalam kompleks jerapan koloid tersebutdapat dibedakan
menjadi kation-kation basa dan kation asam, termasukkation basa adalah :
a. Ca ++
b. Mg ++
c. K+
d. Na++
Sedangkan Kation Asam adalah :
a. H+
b. Al+++.
Kejenuhan basa menunjukkan perbandingan antara jumlah kationkationbasa dengan semua
kation (kation basa dan kation asam) yangterdapat dalam kompleks jerapan tanah. Jumlah
maksimum kation yangdapat dijerap tanah menunjukkan besarnya nilai kapasitas tukar kation
tanahtersebut.

Kation basa umumnya merupakan unsur hara yang diperlukantanaman serta kation basa ini
mudah tercuci, sehingga bila tanah kejenuhanbasanya tinggi unsur tanah tersebut belum
mengalami pencucian yangintensif dan merupakan tanah yang subur.Kejenuhan basa juga
berhubungan erat dengan pH tanah, biasanyatanah dengan :
a. pH rendah umumnya mempunyai kejenuhan basa rendah
b. pH tinggi maka kejenuhan basanya juga tinggi.

B.  pH Tanah
Tanah dapat bereaksi masam, netral atau alkalis yang dinyatakan dengan pH tanah. Reaksi
tanah dikatakan netral jika larutan tanah mengandung H+ dan OH–sama banyaknya. Jika ke
dalam tanah diberikan Ca(OH)2 maka didalam larutan tanah ion OH lebih banyak daripada ion
H+, sehingga reaksi tanah berubah menjadi alkalis, sebaliknya jika ke dalam tanah diberikan HCl,
maka ion H+> ion OH dan reaksi tanah berubah menjadi masam. Jadi pH berarti logaritme
negatif konsentrasi ion H yang dinyatakan dalam g/l larutan, biasa ditulis :
              1
pH       =  log ———
            [ H+ ]  
pH       =  log 1 – log [ H+ ]
pH       =  -log [ H+ ]
Pada kondisi netral konsentrasi ion H = 0,0000001 g/l larutan = 10-7 g/l larutan.
maka pH          =  -log [ H+ ]
                        =  -log 10-7
                        =  7 log 10
                        =  7
Skala pH adalah antara 1 – 14. 1 l aquadest mengandung 0,0000001 g/l , berarti pH =  7
(netral). 1 l HCl 1 N berisi 1 g H/l, berarti pH = 0. Akan tetapi pH tanah berkisar antara 4-10.
Tanah-tanah di daerah humid pada umumnya masam, memilik pH dibawah 7. Tanah yang
berkembang dari endapan kapur, reaksinya alkalis memiliki pH di atas 7,5 dan dengan adanya
CaCO3 dalam kadar yang tinggi pH tanah akan naik sampai 8,5. Jika pH melebihi 8,5 berarti
terdapat kdar Na yang cukup tinggi. Tanah hutan yang berupa humus masam dapat mencapai pH
dibawah 3,5.
Klasifikasi pH tanah adalah sebagai berikut :
Kons. H+ 10-3 10-4 10-5 10-6 10-7 10-8 10-9
(g/l)
pH (CaCl) 3 4 5 6 7 8 9
Luar Sangat Kuat Sedang Lemah Lemah Kuat Luar
biasa kuat biasa
Masam Alkali
Daerah Netral
Netral
Pada umumnya kemasaman tanah menimbulkan permasalahan yang lebih besar daripada
kebasaannya.
Ada dua macam pH tanah yaitu :
pH tanah aktual yang menyatakan konsentrasi ion H dalam larutan tanah.
pH potensial yang dinyatakan dalam me/100 g H dan Al yang dapat dipertukarkan dari kompleks
jerapan. Ion H ini menjadi sumber H+ dalam larutan tanah, sedang ion Al akan menghasilkan ion
H.
Al3+ + 3H2O ---->Al(OH)3 + 3H+ . pH aktual ditentukan dengan H2O, dan pH potensial dengan
CaCl2.
Sebab-sebab terjadinya kemasaman tanah :
Kemasan tanah disebabkan oleh hasilnya H+ yang diserta dengan terlindinya kation-
kation basa dari kompleks adsorpsi tanah. Pada mulanya : pH tanah ditentukan oleh kadar basa
dari bahan induk. Kemudian basa – basa dibebaskan oleh adanya pelapukan dan proses
pertukaran kation. Kompleks jerapan menjadi jenuh oleh berbagai basa.
            Dalam kondisi seperti ini pH tanah adalah basis. Selanjutnya oleh pengaruh iklim
(terutama curah hujan) juga pengaruh umur tanah dsb., maka kation-kation basa terlindi dan
kedudukannya diganti oleh ion H (H2O ç===è H+ + OH), sehingga faktor iklim dan umur tanah
dapat menurunkan pH tanah.
Pengaruh bahan induk terhadap pH tanah. pH tanah yang berasal dari :
         batuan beku : basalt > diorite > granit
         batuan sedimen : batu kapur > batu lempung > batuan pasir.
-          Kehilangan kation – kation basa
Ion H+ membebaskan kation basa dari kompleks jerapan tetapi penurunan pH hanya kecil
saja apabila pembebasan kation – kation itu dsebabkan oleh :

a. Leaching (pelindian) oleh air perlokasi lewat tubuh tanah kehilangan kation akan lebih
tinggi pada tanah yang permeabilitasnya tinggi didaerah curah hujan yang tinggi pula.
b. Penyerapan unsur-unsur hanya oleh tanaman yang menyerap unsur-unsur hara kation
basa yang dipertukarkan oleh ion H dan akar tanaman.

Dalam keadaan alamiah penurunan pH ini adalah sedikit saja karena kation – kation
dikembalikan lagi kedalam tanah berupa sisa-sisa tanaman. Tetapi kehilangan kation akan
menjadi gawat pada tanah pertanian yang dikelola secara intensif, tetapi unsur hara yang diserap
tanaman tidak dikembalikan lagi sebagai pupuk alam, pupuk buatan dan pengapuran.
-                    Perubahan pH tanah menurut kedalaman tanah
Pada tanah lapisan atas yang kadar humusnya lebih tinggi dan mudah ditembus oleh akar,
maka ion H banyak dihasilkan sedang kation lebih banyak yang hilang. Akibatnya pH tanah pada
lapisan atas lebih rendah daripada lapisan bawah. Dengan perkataan lain semakin ke bawah, pH
tanah semakin meningkat pada daerah yang curah hujannya tinggi. Akan tetapi di daerah iklim
kering hal ini tidak terjadi karena ada pengangkatan kation – kation oleh evaporasi yang
ditinggalkan di lapisan permukaan. Pada daerah curah hujan tinggi misalnya pada tanah Latosol
Cokelat pH tanah rata – rata 5,6 pada tanah Podsol pH tanah berkisar antara 3,8 – 4,3.
-                    Makna pH tanah
pH tanah mempengaruhi proses fisik, kimia, biologi didalam tanah.

1. Pada bidang pedologis pH tanah mempengaruhi proses-proses pembentukan dan


perkembangan tanah.
2. Dibidang ekologis pH tanah berpengaruh sangat penting terhadap ekonomi unsur hara
atau terhadap ketersediaan unsur hara yang optimum bagi tanaman adalah pada kisaran
pH 5,0 – 7,5, tetapi tiap-tiap tanaman memiliki kisaran pH tertentu.

Jika pH tanah berada di atas atau di bawah kisaran tersebut maka jumlah unsur hara akan
tidak seimbang, ada yang terlalu banyak sehingga meracuni tanaman, tetapi ada yang terlalu
sedikit yang menyebabkan kekahatan (defficiency) unsur hara pada tanaman.
Hubungan antara pH tanah dengan derajat kejenuhan basa dapat digunakan untuk
merubah pH tanah baik menaikan maupun menurunkan pH. Semakin tinggi pH tanah semakin
tinggi pula % kejenuhan basa.

c.         Daya Sangga Tanah


Daya sangga tanah adalah kemampuan tanah untuk menahan perubahan pH. Faktor – faktor
yang mempengaruhi daya sehingga tanah adalah :
1.    Jumlah dan macam lempung dalam tanah.
2.    Jumlah bahan organik dalam tanah.
Tanah yang kadar lempungnya tinggi dan kadar bahan organik tinggi memiliki daya sangga
yang tinggi pula. Mineral lempung yang kisi-kisinya dapat mengembung (montnorillonite)
memiliki daya sangga yang lebih besar daripada mineral lempung kaolinit.
Daya sangga tanah adalah penting karena pH tanah tidak berubah secara mendadak dari
netral ke sangat masam atau ke sangat basis. Jika pH berubah secara mendadak akan sangat
berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara. Tanaman sangat peka terhadap perubahan
ketersediaan unsur hara. Selain itu pH tanah berpengaruh langsung terhadap kehidupan tanaman.
-          Tanah Salin dan Tanah Alkali.
   Pada kondisi drainase jelek dengan evaporasi yang tinggi cenderung akan terjadi timbunan
garam di lapisan permukaan. Kondisi semacam ini terdapat di lembah-lembah sungai daerah
cekungan pada iklim arid (kering) dan semi arid, di danau-danau tua didaerah arid dan
disepanjang pantai dimana evaporasi lebih besar daripada curah hujan.
Akumulasi garam ini dapat mengakibatkan terbentuk dan berkembangnya tanah alkali dan
kadar garam yang tinggi ini menghambat pertumbuhan tanaman.
Tanah terbentuk pada daerah yang kelebihan garam umumnya diklasifikasikan sebagai
tanah Salin atau Alkali.
Tanah Salin (Salin Soils) memiliki kadar yang tinggi dari garam-garam netral (CaCO 2, KCl,
MgCl dan memiliki pH diatas 7,3, tetapi dibawah 8,5). Tanah tersebut sering disebut tanah alkali
putih (white alkali) karena cenderung untuk membentuk kerak garam yang berwarna putih
dipermukaan tanah.
Kadar garam yang berlebihan sering mencapai di atas 0,2 % dan garamnya terdiri atas
campuran garam klorida, sulfat, karbohidrat dan bikarbonat dari Na, Ca, K, Mg. Pada tanah salin
% kejenuhan Na tertukar mulanya kurang dari 15% (ESP) (Exchangeable Sodium Percentage).
Untuk pengolahan yang baik diperlukan jaringan drainase yang baik dari pengairan dengan
air tawar untuk melindi garam-garamnya.
Tanah alkali adalah tanah garaman yang mengandung kelebihan garan yang cukup,
terutama Na2Co3, NaHCO3 sehingga mengakibatkan pH tanah meningkat di atas 8,5.
Selanjutnya % kejenuhn basa Na melebihi dari 155 atau ESP (Exchangeable Sodium
Percentage) melebihi  15%. Tanah alkali sering disebut tanah alkali hitam karena adanya bahan
organik yang larut dan terdispersi pada seluruh bagian tanah sehingga memberikan warna gelap.
Tanah alkali memiliki struktur jelek, drainase jelek, mudah tererosi karena pada saat jenuh
air butir-butir tanah terdispersi, sedang pada waktu kering strukturnya mampat. Hal ini
disebabkan kadar Na yang tinggi. Masalah lain adalah dengan pH tanah yang tinggi berkaitan
dengan rendahnya kelarutan Fe, Mn, Cu dan Zn, larutan kadar garamnya yang tinggi dapat
menghambat pertumbuhan tanaman. Tanah alkali sering juga disebut Tanah Sodik (Sodic Soil)
berasal dari kadar sodiumnya yang tinggi.
-          Perbaikan tanah alkali
1.      Langkah pertama yang penting adalah merubah penyebab yang membahayakan. Penyebab yang
membahayakan pada tanah alkali umumnya karena permukaan air tanah yang tinggi, dekat
dengan permukaan tanah. Maka dari itu langkah pertama adala perbaikan drainase.
2.      Langkah kedua merubah Na2CO3 menjadi Na2SO4, karena tanaman lebih suka pada tanah yang
mengandung Na2SO4 dari pada Na2CO3. Untuk itu diperlukan pemberian sulfur. Oksidasi
belerang ini menghasilkan H2SO4 yang bukan saja merubah Na Karbonat menjadi Na Sulfat,
tetapi juga menurunkan pH tanah.
Reaksinya :
Na2CO3 + Na2SO4ç=è CO2 + H2O + Na2SO4
                                                (mudah terlindi)
Na       --------------                                           H  --------------
            : lempung   : + Na2SO4ç===è             : lempung  : + Na2SO4
Na       --------------                                           H   -------------
                                                (mudah terlindi)

Selain S dapat juga digunakan :


Gips (CaSO4 .2 H2O)
Na2CO3 + CaSO4 . 2 H2O -------à Na2CO3 + 2 H2O + Na2SO4
                                                                        (mudah terlindi)
-------
--- : Na
--- :      + Na2SO4 . 2 H2O -----------à Ca + Na2SO4 + 2 H2O
-------
            Jika tanahnya juga banyak mengandung garam – garam chlorida maka oksida NaCl akan
menghasilkan HCl dan Ca(OH)2 yang dapat menurunkan pH tanah.
            NaCL   +   CaSO4 .2  H2Oç==è CaCl  +  Na2SO4 + 2  H2O
                                                                                    (mudah terlindi)
            CaCl2 + H2O ç===è Ca (OH)2  +  HCL
                                                                                    (mudah terlindi)
Pemberian bahan kimia tersebut diatas dilakukan pada kondisi kapasitas lapangan
kemudian didiamkan agar terjadi aerasi selanjutnnya dilakukan pemberian air tawar untuk
melindi Na2SO4.

2.3 Sifat Biologi Tanah


Secara ekologis tanah tersusun oleh 3 kelompok material, yaitu material hidup (faktor
biotik) berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiontik berupa bahan organik, dan faktor abiotik
berupa pasir debu dan liat. 5% dari penyusun tanah merupakan bahan organik, mesikpun hanya
5%, bahan organic berperan sangat penting karena tidak saja berperan sebagai koloidal tanah, di
samping koloidal liat, yang menentukan sifat-sifat kimiawi tanah seperti dalam proses pertukaran
kation dan anion, dan sifat-sifat fisik tanah seperti struktur dan eradibilitas tanah, juga berperan
penting sebagai sumber-sumber unsur hara tanah yang tersedia setelah bahan organic mengalami
perombakan menjadi senyawa-senyawa sederhana (dekomposisi). Bahan organic tanah bersal
dari sisa-sisa tanaman dan hewan yang mengalami proses perombakan, selam proses ini barbagai
jasad hayati tanah, baik yang menggunakan tanah sebagai liangnya maupun yang hidup dan
beraktivitas di dalam tanah, memainkan peran penting dalam perubahan bahan organic dari
bentuk segar (termasuk juga sel-sel jasad mikro yang mati) hingga terurai menjadi senyawa-
senyawa sederhana dan tersedia bagi tanaman.
Peranan organisme tanah pada perubahan-perubahan biokimia yang terjadi di dalam tanah
sangat penting. Humus seperti halnya dengan liat merupakan proses penghancuran dan
pembangunan, yang berperan dalam hal ini adalah jasad hidup penghuni tanah. Sejumlah besar
organisme hidup di dalam tanah. Bagian terbesar organisme terdiri dari kehidupan tumbuhan.
Jasad tanah baik tumbuha maupun binatang yang berukuran sangat kecil dan jasad yang
berukuran besar, semuanya mempunyai peranan sangat nyata dalam proses biologi
yangberlagsung dalam tanah.
Umumnya pengaruh mikroflora bersifat kimia, sedangkan fauna bersifat kimia dan fisika.
Binatang-binatang itu menginjak bagian-bagian tanaman dan memindahkannya dari satu tempat
ke tempat lain di atas tanah dan seringkali mengangkutnya ke dalam tanah. Binatang seperti tikus
menggali lubang di dalam tanah dan tanah di aduk-aduk dan di granulasi. Tungau dan cacing
tertentu, memasuki tanah melalui retakan dan celah-celah yang terdapat di dalam tanah. Jasad
yang dikelompokan dalam dunia tumbuhan dari beberapa segi lebih penting peranannya daripada
binatang. Hal ini terutama ditinjau dari segi tingkat terakhir pelapukan bahan organik,
pembentukan humus dan produksi senyawa organic sederhana yang dapat digunakan oleh
tanaman. Mikroflora (tumbuhan tanah) dan fauna tertentu yang menghuni tanah bergantung dai
tiga faktor utama, yaitu:
1.      Cuaca, teruama acurah hujan dan kelembapan.
2.      Kondisi atau sifat tanah, terutama kemasaman, kelembaban, suhu, dan ketersediaan hara; dan
3.      Tipe vegetasi penutup lahan, misalnya hutan, belukar dan padang rumput.

A.      Fauna Tanah


Fauna tanah dibedakan menjadi 2 tipe yaitu fauna makro dan fauna mikro. Fauna makro
terdiri dari herbivore (pemakan tanman) dan karnivora (pemangsa hewan-hewan kecil), dan
fauna mikro berupa pemangsa parasit, meliputi nematoda, protozoa dan rotifera.
a.       Fauna Makro Tanah
1.      Cacing Tanah
Di antara fauna tanah di daerah humid sedang, cacing tanah merupakan penyumbang bahan
organik tanah terbesar, yaitu kira-kira 100 kg/ha (0,005%) dengan populasi 7.000 ekor hingga
1.000 kg/ha dengan populasi 1 juta ekor (Foth, 1984). Populasi cacing tanah bervariasi antar
tanah, optimum jika kondisinya lembab, banyak bahan organik dan kalsium tersedia, serta
bertekstur halus. Pada tanah bertekstur pasir, renadah bahan organic dan bereaksi asam, populasi
dan aktivitasnya menjadi sangat terbatas. Oleh karena itu populasi cacing jauh lebih banyak di
bawah vegetasi padang rumput ketimbang di bawah vegetasi hutan maupun lahan pertanian.
Cacing tanah tidak menyukai kondisi jenuh air dan peka radiasi ultra violet, sehingga usai hujan
lebat pada tengah hari, cacing-cacing tanah di permukaan tanah menjadi mati.
Cacing tanah merupakan pemakan tanah dan bahan organic segar di permukaan tanah, masuk
(sambil menyeret sisa-sisa tanaman) ke liangnya, kemudian mengeluarkan kotorannya (bunga
tanah) di permukaan tanah. Aktivitas naik-turunnya cacing ini berperan pentingdalm
pendistribusian dan pencampuran bahan organic dalam solum tanah, yang kemudian
berpengaruh positif terhadap kesuburan tanah baik secara fisik, kimiawi, maupun biologis.
2.      Arthropoda
-          Springtail merupakan serangga primitif (biasanya tampa mata dan pigmen) berukuran panjang<
1mm, konsumen sisa tanaman/hewan, kotoran, humus, dan miselia jamur, hidup dalam pori-pori
makro lapisan tanah bawah.
-          Kutu (Arachnida), sebagian besar memakan serat organik mati, seperti hipa jamur dan benih,
ada yang memakan predator dan cacing, serangga, telur, dan springtail. Aktivitas kutu meliputi
penghancuran dan perombakan bahan organic kemudian translokasinya ke lapisan tanah bawah
dan dalam memelihara pori-pori tanah.
-          Lipan dan kelabang (Myriapoda) membuat sarang berupa timbunan dari hancuran batu atau
kayu. Lipan merupakan pemakan jaringan organik mati (saprophagous) dan dapat bersarang pada
miselia jamur. Kelabang merupkan pemakan daging (karnivora).
-          Tempayak atau larva, makanan utamanya adalah rumput, tetapi juga berbagai tanaman pertanian
sehingga menjadi hama.
-          Semut memiliki aktifitas yang mirip dengan cacing tanah, yaitu mengangkut bahan-bahan tanah
lapisan bawah ke permukaan untuk membuat sarang berupa bukit-bukit semut.
-          Rayap merupakan pemakan kayu, sampah organic dan jamur. Dalam memakan kayu, rayap di
bantu oleh protozoa dalam sitem pencernaannya.
Adanya aktifitas pembuatan lorong-lorong/sarang oleh rayap, juga semut dan cacing
merupakan faktor kunci dalam translokasi hara atau bahan dari lapisan bawah ke lapisan atas
tanah, yang cukup berpengaruh terhadap kesuburan tanah di kawasan aktivitas ketiga jenis fauna
tersebut.
3.      Vertebrata
Vertebrata mempengaruhi tanah mirip dengan rayap dan semut, yaitu lewat aktifitas
pembuatan sarang dan translokasi jaringan organik makanannya ke dalam sarang. Vertebrata
terutama tikus tanah membuat sarang atau lorong di bawah tanah, sehingga pengaruhnya
terhadap kesuburan tanah mirip dengan pengaruh rayap dan cacing.

b.      Fauna Mikro Tanah


Diantara binatang mikro tanah yang penting peranannya ialah nematode dan protozoa.
Protozoa merupakan bentuk binatang yang paling sederhana. Walaupun hanya terdiri dari satu
sel, mereka lebih besar dari bakteri dan susunan tubuhnya lebih sempurna. Flagellata merupakan
protozoa yang banyak dijumpai dalam tanah, kemudian menyusul amoeba dan siliata. Jumlah
protozoa dalam tanah sangat tergantung dari keadaan sekitarnya. Aerasi dan tersedianya hara
merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap jumlah dan macam protozoa. Oleh
karena itu mereka terbatas pada lapisan tanah. Peranan protozoa secara tidak langsung
mempercepat tersedianya unsur hara bagi tumbuhan dengan memakan bakteri dan mikroflora
yang lainya.
Nematoda dijumpai hampir di semua macam tanah dan jumlah mereka cukup banyak.
Bianatang ini bulat seperti cacing tanah, hanya ukurannya sangat kecil dan hanya dapat dilihat
dengan mikroskop. Terdapat tiga golongan nematode di dalam tanah yaitu (1) yang hidup dari
bahan organic yang sedang membusuk, (2) predator, (3) parasit, yang menyerang akar tanaman
dan melampaui massa hidupnya dalam jaringan tumbuhan. Dua golongan yang pertama
merupakan nematode yang terbanyak dijumpai dalam tanah.
Rotifera memainkan peranan penting dalam peredaran bahan organic, terutama di daerah
berawa berbahan organic tinggi maupun tanah mineral.

Jasad Mikro Tumbuhan


1.      Algae tanah
Alga menunjukkan keanekaragaman yang besar dalam bentuk dan ukurannya. Meskipun
alga merupakan tumbuhan paling penting yang hidup di air, alga hanya menduduki kepentingan
minor di dalam tanah. Alga tanah yang paling umum berupa sel tunggal atau berupa filamen-
filamen kecil. Alga tersebar di seluruh dunia pada lapisan tanah permukaan dengan kelembaban
dan cahaya yang menguntungkan. Beberapa alga terdapat di bawah permukaan tanah tanpa
cahaya dan berfungsi secara heterotrof.

Sebagian besar dari algae tanah mempunyai klorofil sehingga mereka harus hidup dekat
permukaan tanah. Namun beberapa diantaranya dapat hidup dengan memperoleh bahan organic
dan dapat hidup di lapisan tanah yang agak dalam. Beberapa algae hidup seperti tumbuhan,
sedangkan lainnya disebabkan karena kebiasaan memperoleh bahan makan berfungsi seperti
jasad mikro tanah lainnya. Algae golongan tumbuhan berada dilapisan teratas, dijumpai dilapisan
dalam berada sebagai spora yang beristirahat atau cyst atau bentuk vegetative yang tidak
tergantung dari klorofil. Padang rumput merupakan habitat baik bagi algae hijau-biru, sedangkan
kebun tua cocok untuk diatom. Pertumbuhan algae sangat dipengaruhi oleh penambahan pupuk.

            Bentuk/jenis alga yang umumnya menghuni tanah adalah (1) biru-hijau, (2) hijau, dan
(3)diatom. Alga biru-hijau merupakan yang paling melimpah dalam tanah, dan sampai batas
penambatan karbon, alga ini menyumbangkan kandungan bahan organik tanah. Kemampuan
fotosintesis alga tersebut menentukan pertumbuhannya pada berbagai permukaan yang terbuka,
yang mencakup batuan dan tanah. Beberapa alga tumbuh dalam hubungan yang dekat dengan
fungi dalam bentuk yang dikenal sebagai lumut kerak. Pada pelapukan awal batuan dan
pembentukan tanah dari bahan induk yang baru terbuka, lumut kerak memainkan peran penting
dalam pengumpulan bahan organik awal. Di samping itu, kemampuan beberapa alga biru-hijau
menambatkan nitrogen atmosfer dan juga membantu komunitas tumbuhan menjadi mapan pada
batuan yang baru terbuka dan pada bahan induk. Nitrogen yang ditambat alga yang hidup di
dalam air sawah sangat berperan penting bagi produksi tanaman padi.
2.      Fungi Tanah
Fungi merupakan makhluk heterotrof yang memiliki aneka ukuran dan struktur, mulai
dari khamir bersel tunggal sampai cendawan dan juga jamur. Fungi secara khas tumbuh dari
spora dengan struktur seperti benang yang mempunyai dinding melintang maupun tidak. Masing-
masing benang adalah hifa dan massa benang yang meluas disebut miselium. Miselium adalah
struktur kerja yang menyerap hara, melanjutkan pertumbuhan, dan akhirnya menghasilkan hifa
khusus yang kemudian menghasilkan spora reproduksi. Diameter rata-rata hifa sekitar 5 mikron
atau sekitar 5 samapai 10 kali diameter bakteri pada umumnya. Fungi mempunyai kelebihan dari
bakteri dalam hal bahwa fungi dapat menyerbu dan menembus bahan organik.
Fungi berperan dalam perubahan susunan tanah. Fungi tidak berklorofil sehingga mereka
menggantungkan kebutuhan akan energi dan karbon dari bahan organik. Fungi dibedakan dalam
tiga golongan yaitu ragi, kapang, dan jamur. Fungi berperan penting dalam proses dekomposisi
bahan organik untuk semua jenis tanah. Fungi toleran pada kondisi tanah yang asam, yang
membuatnya penting pada tanah-tanah hutan masam.
Sisa-sisa pohon di hutan merupakan sumber bahan makanan yang berlimpah bagi fungi
tertentu mempunyai peran dalam perombakan lignin. Kapang merupakan fungi yang berfilamen
banyak dan berukuran mikroskopis. Di dalam tanah kapang memainkan peranan yang lebih
penting dari jamur, bahkan bisa melebihi peranan bakteri. Kapang sangat peka terhadap aerasi,
aerasi yang buruk akan menekan perkembangan kapang. Kapang berkembang biak dalam
suasana masam dimana persaingan bakteri dan aktinomisetes terbatas. Bila bukan karena fungi
maka pelapukan bahan organic dalam suasana asam tidak akan terjadi. Kapang dijumpai disetiap
horizon tanah. Terbanyak dijumpai pada lapisan olah yang banyak mengandung bahan organic
dan aerasi tanah yang baik.
Fungi dapat menghancurkan selulosa, zat pati, lignin dan senyawa organic mudah lapuk seperti
protein dan gula.
3.      Aktinomisetes
Aktinomisetes menduduki posisi antara bakteri dan fungi dari pandangan morfologi.
Organisme ini sering dibicarakan sebagai “fungi berkas” atau “bakteri benang”. Aktinomisetes
menyerupai bakteri dalam hal struktur sel yang sama dan jika dilihat dalam sayatan yang
melintang, diperkirakan juga memilki ukuran sel yang sama. Organisme ini menyerupai fungi
filamen dalam hal membentuk jaringan filamen bercabang. Banyak dari organisme ini yang
berkembang biak dengan spora, dan spora-spora ini kelihatannya sangat menyerupai sel-sel
bakteri.
Aktinomisetes merupakan jasad mikro yang banyak dijumpai dalam tanah setelah bakteri.
Jasad ini banyak dijumpai dalam tanah yang berkadar humus tinggi, seperti padang rumput.
Penambahan pupuk kandang merangsang perkembangan aktinomisetes terutama bila kemasaman
tanah tersebut sedang. Aktinomisetes sangat berperan dalam pelapukan bahan organik dan
pembebasan unsur hara. Juga dapat menyerang lignin dan mengubahnya menjadi senyawa yang
lebih sederhana.
Bakteri Tanah
Bakteri tanah secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan
sumber karbonnya, yaitu: (1.) heterotrof, dan (2.) autotrof. Pada kelompok autotrof terdapat
organisme seperti: pembentuk nitrit, pembentuk nitrat, bakteri pengoksidasi belerang,
pengoksidasi besi, serta organisme yang menggunakan hidrogen dan senyawanya.
Kebanyakan bakteri tanah memerlukan oksigen dari udara tanah dan diklasifikasikan
sebagai aerob. Beberapa bakteri aerob dapat beradaptasi untuk hidup dengan atau tanpa oksigen,
yang disebut bakteri fakultatif. Bakteri lain tidak dapat hidup dengan oksigen dan merupakan
anaerob. Bakteri tanah juga cukup berbeda dalam gizi dan dalam tanggapan terhadap kedaan
lingkungan. Akibatnya, macam dan kelimpahan bakteri tergantung pada tersedianya hara yang
ada pada keadaan/kondisi lingkungan tanah.
Beberapa bakteri membentuk spora jika keadaan menjadi tidak menguntungkan.
Kebanyakan bakteri cukup resisten terhadap tanah kering – udara selama beberapa tahun. Bakteri
dan juga fungi merupakan organisme pengurai utama di dalam tanah.
Bakteri merupakkan jasad bersel satu, sederhana dan terkecil. Bakteri sangat berperan
dalam tanah karena :
1.      Bakteri turut serta dalam semua perubahan bahan organik
2.      Bakteri memegang monopoli dalam reaksi enzimatik yaitu :
a.       Nitrifikasi : proses di mana amonia (NH3) diubah menjadi nitrit (NO2-) dan kemudian menjadi
nitrat (NO3-).
b.      Oksidasi bakteri
3.      Fiksasi nitrogen adalah proses dimana nitrogen diambil dari bentuk molekul relatif inert nya
(N2) di atmosfer dan diubah menjadi senyawa nitrogen berguna untuk proses kimia lainnya
(seperti, terutama, amonia, nitrat, dan nitrogen dioksida). Karena nitrogen atmosfer (N2) tidak
bereaksi dengan senyawa lain, fiksasi nitrogen diperlukan, karena merupakan nutrisi penting
untuk semua makhluk hidup, termasuk berperan sebagai bagian dari asam nukleat dan asam
amino.sehingga bila ini terganggu maka kehidupan seluruh tumbuhan akan terganggu

Bakteri, fungi, dan actinomycetes membantu pembentukan struktur tanah yang mantap karena
tumbuhan mikro ini dapat mengeluarkan (sekresi) zat perekat yang tidak mudah larut dalam air.
Dalam hal pembentukan struktur tanah ini, fungi dan actinomycetes jauh lebih efisien (lebih 17
kali lebih efisien) daripada bakteri, tetapi bakteri mempunyai fungsi lain yang lebih penting.
Bakteri autotroph bermanfaat bagi manusia mempengaruhi sifat-sifat tanah sehubungan dengan
cara bakteri tersebut untuk mendapatkan energy. Bakteri autotroph dalam tanah terpenting adalah
bakteri nitrifikasi yang dapat mengoksidasi ammonia menjadi nitrit (oleh nitrosomonas) dan
nitrit menjadi nitrat (oleh nitrobacter).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tanah merupakan salah satu factor penting dalam kehidupan manusia. Fungsi tanah
juga untuk perkembangan tanaman dan tempat untuk mengembangkan media teknik seperti
pembangunan jalanraya dan rumah. Tanah yang memiliki banyak kegunaan ini juga memiliki
banyak karakteristik. Setiap daerah dengan karakteristik morfologi yang berbeda juga memiliki
perbedaan karakteristik tanah.
Kolid  tanah  adalah  bahan  mineral  dan  bahan  organik  yang  sangat halus sehingga
mempunyai  luas permukaan yang sangat tinggi  per  satuan berat (massa). Koloid tanah yang
berperan yaitu koloid anorganik (Koloid liat atau mineral) dan koloid organik (humus). Kedua
koloid ini mempunyai sifat dan ciri yang jauh berbeda.
Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan
menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation
Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan
(cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif
Hubungan antara pH tanah dengan derajat kejenuhan basa dapat digunakan untuk
merubah pH tanah baik menaikan maupun menurunkan pH. Semakin tinggi pH tanah semakin
tinggi pula % kejenuhan basa.
Secara ekologis tanah tersusun oleh 3 kelompok material, yaitu material hidup (faktor
biotik) berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiontik berupa bahan organik, dan faktor abiotik
berupa pasir debu dan liat. 5% dari penyusun tanah merupakan bahan organik, mesikpun hanya
5%, bahan organic berperan sangat penting karena tidak saja berperan sebagai koloidal tanah.
3.2 Saran
Harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
pembaca untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan ketik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Lia. 2006. Penerapan Agropolitan dan Agribisnis dalam Pembangunan Ekonomi
Daerah. Jurnal Inovisi. Vol 5 No. 2, Oktober 2006.