Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB, yaitu mycobacterium tuberculosis. Dalam
global tuberculosis control tahun 2012 melaporkan bahwa lima negara
dengan jumlah pasien TB paru terbanyak yaitu India terdapat 2 juta orang,
Cina1,3 juta orang, Indonesia 0.53 juta orang, Nigeria 0,46 juta orang, dan
Afrika 0,45 juta orang. Indonesia masih menempati urutan keempat sebagai
negara yang memiliki jumlah kasus TB paru terbesar setelah India dan Cina
sampai akhir periode tahun 2007 ( Fitriani Eka, 2013).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) melaporkan
adanya 3 juta orang yang meninggal akibat TB tiap tahun diperkirakan 8300
orang tiap harinya. Tiap tahun ada 9 juta penderita TB paru dan 75 % kasus
kematian dan kesakitan di masyarakat diderita oleh orang-orang pada umur
produktif dari 15 sampai 54 tahun. Di negara-negara miskin kematian TB
merupakan 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Daerah Asia Tenggara menanggung bagian yang terberat dari beban TB
global yakni sekitar 38% dari kasus TB didunia (WHO, 2015).
Berdasarkan Global who TB report 2018, di perkirakan insiden TBC
di Indonesia mencapai 842 ribu kasus dengan angka Portalitas 107 ribu
kasus. Jumlah ini membuat Indonesia berada diurutan ketiga tertinggi untuk
kasus TBC setelah india dan cina. TBC merupakan suatu penyakit menular
dan masalah luar biasa bagi Indonesia karena menjadi catatan di global.
Penyakit ini dapat ditularkan secara mudah sehingga harus ada
implementasi dan strategi nasional untuk mencegahnya (WHO, 2018)
Di Indonesia penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah utama
karena negara ini termasuk daerah endemis, angka kematian dan kesakitan
akibat kuman Mycobacterium Tuberculosis di Indonesia sangatlah tinggi.

1
Tahun 2009, 1,7 juta orang meninggal karena TB paru yang diantaranya
600.000 perempuan dan 1,1 juta laki-laki. Kasus TB paru lebih banyak
diderita oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Laki-laki memiliki
mobilitas yang lebih tinggi dibandingkan perempuan sehingga
memungkinkan untuk terpapar bakteri penyebab TB paru lebih besar, selain
itu kebiasaan laki-laki mengkonsumsi rokok, minum alkohol dan keluar
malam hari dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh (Dhewi, 2011).

2
3

Pada tahun 2011, Indonesia dengan 0,38-0,54 juta kasus TB


menempati urutan keempat diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia
sekitar 5,7% dari total jumlah pasien TB dunia, dengan setiap tahun ada
450.000 kasus baru dan 65.000 kematian. Penemuan kasus TB Berdasarkan
Hasil Pemeriksaan Apusan Dahak Basil Tahan Asam (BTA) positif
sejumlah 19.797 pada tahun 2011 (Kemenkes RI, 2013). Menurut Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, pervalensi penduduk Indonesia
yang didiagnosa TB paru oleh tenaga kesehatan adalah 0.4%. Lima provinsi
dengan TB paru tertinggi adalah Jawa Barat (0.7%), Papua (0,6%), DKI
Jakarta (0,6%), Gorontalo (0,5%), Banten (0,4%). Sementara pervalensi
penduduk Sumatra Utara yang didiagnosa TB adalah 0,2% (Kemenkes RI
2013).

Berdasarkan data di Propinsi Banten, didapatkan kasus dirumah sakit


berjumlah 38.127 kasus atau sekitar 98% dari target penemuan, dengan
angka keberhasilan pengobatan (sr) kasus Tbc tahun 2017 sebesar 90
persen. terkait hal itu, sebagai bentuk komitmen Pemprov Banten terhadap
peningkatan kesehatan masyarakat khususnya dalam pengendalian
Tuberculosis, Gubernur banten pada 13 mei 2018 lalu telah mencanangkan
Gerakan Banten Eliminasi Tuberculosis melalui temukan obati sampai
sembuh bersama (Kemenkes, 2018).

Menurut penelitian (Prabawa et al, 2018) tentang “Patients’ and


families’ experiences in Lung Tuberculosis treatment in Kebumen “
Tuberculosis tetap menjadi masalah yang utama di dunia,masalah kesehatan
meskipun mengendalikan dengan upaya diterapkan Strategi Observed
Treatment Short-Course (DOTS) di berbagai Negara sejak pada tahun 1995.
Tuberculosis tidak hanya masalah dunia tetapi juga masalah regional,
Nasional dan tingkat lokal. Pada tahun 2014 ada sekitar 9,6 juta TB baru
terdiri dari 5,4 pria, 3,2 juta wanita dan 1 juta adalah anak-anak. Sekitar 1,5
juta Kematian TB telah terjadi yang terdiri dari 1,1 juta TB dengan HIV (-)
dan 0,4 juta TB dengan HIV (+). TB kematian termasuk 890.000 pria;
4

480.000 wanita dan 140.000 anak-anak, Pada tahun 2014 di Asia Tenggara
dan Pasifik Barat Wilayah ada 58% dari 9,6 juta kasus TB di dunia.
Indonesia adalah negara terbesar kedua dalam penemuan Indonesia kasus
TB paru baru. Urutannya adalah India (23%),Indonesia (10%) dan Cina
(10%) (Prabawa et al, 2018).

Tahun 2014 diperkirakan jumlah penduduk di Kabupaten Tangerang


yang menderita TB paru BTA positif sebanyak 3.360 kasus dan berhasil
ditemukan TB Paru BTA positif sebanyak 2.348. Tahun 2013 diperkirakan
jumlah penduduk di Kabupaten Tangerang yang menderita TB paru BTA
positif sebanyak 3.333 kasus dan berhasil ditemukan TB Paru BTA positif
sebanyak 2.178. Penemuan jumlah kasus TB paru BTA positif tahun 2016
mengalami penurunan dibandingkan tahun 2015, akan tetapi
pembanding/denominator yang menjadi target pencapaian mengalami
peningkatan dikarenakan adanya kenaikan jumlah penduduk maka porporsi
yang dicapai menjadi menurun, hal ini disebabkan beberapa faktor
diantaranya adalah belum semua kasus terlapor ke Puskesmas, klinik dan
Rumah Sakit (Profil Dinas Kesehatan Tangerang, 2014).

Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam


pengobatan TB. Pengobatan TB adalah merupakan salah satu upaya paling
efisien untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari kuman TB. Pengobatan
dilakukan secara teratur dan lengkap tanpa terputus selama 6-8 bulan.
Pengobatan TB bertujuan untuk memberikan kesembuhan pada pasien,
mencegah terjadiya kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis
(OAT) apabila terjadi resistensi terhadap obat maka pengobatan akan lebih
banyak dan juga waktu yang diperlukan untuk kesembuhan akan lebih lama
(Depkes RI, 2015).
Panduan OAT disediakan dalam bentuk paket kombinasi berupa
Kombinasi Dosis Tetap (KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi
2 atau 4 jenis obat yang dikemas dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan
5

dengan berat badan penderita TB. Sediaan seperti ini dibuat dengan tujuan
agar memudahkan dalam pemberian obat dan menjamin kelangsungan
pengobatan sampai pengobatan tersebut selesai dilakukan (Depkes, 2014).
Di Indonesia penderita TB yang tidak patuh dalam mengkonsumsi
OAT mengalami kegagalan dalam pengobatan TB. Salah satunya karena
hilangnya motivasi pasien sehingga, menimbulkan ketidakpatuhan pasien
TB untuk menjalani pengobatan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan (FPK)
secara teratur dan menjadi hambatan dalam mencapai angka kesembuhan
pada penderita TB paru (Kemenkes RI, 2014).
Hal ini dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Safri (2013),
tentang Analisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat
pasien TB Paru berdasarkan Health Belief model di Puskesmas kerja
Puskesmas Umbulusari, Kabupaten Jember. kepatuhan minum obat Anti
tuberkulosis pada penderita TB di wilayah Jawa Timur di Puskesmas
Umbulusari didapatkan angka kepatuhan penderita TB dalam
mengkonsumsi OAT yaitu sebesar 33%. Sedangkan penelitian yang
dilakukan oleh Prasetya (2014), tentang hubungan motivasi pasien TB Paru
dengan kepatuhan dalam mengikuti program pengobatan system DOTS
Diwilayah Puskesmas Genuk Semarang. kepatuhan OAT pada penderita TB
di wilayah kota Padang didapatkan angka kepatuhan penderita TB dalam
mengkonsumsi OAT hanya sebesar 25,86%. Penelitian lain yang dilakukan
oleh Gendhis (2014), Tentang hubungan antara pengetahuan,sikap pasien
dan dukungan keluraga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru
di BKPM Pati di Stikes Telogorejo Semarang. Kepatuhan minum obat anti
tuberkulosis pada penderita TB dalam mengkonsumsi OAT responden
sebanyak 30 orang, didapatkan angka kepatuhan penderita TB paru dalam
mengkonsumsi OAT adalah sebesar 60%.
Terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan kepatuhan
penderita TB dalam mengkonsumsi OAT. Menurut Niven (2012), faktor-
faktor yang mempengaruhi kepatuhan seseorang yaitu faktor penderita atau
individu (motivasi ingin sembuh dan keyakinan), dukungan keluarga,
6

dukungan sosial dan dukungan petugas kesehatan. Motivasi ingin sembuh


merupakan motivasi yang berasal dari dalam individu sendiri. Sedangkan
dukungan keluarga, dukungan sosial dan dukungan petugas kesehatan
merupakan motivasi eksternal dimana motivasi eksternal adalah motivasi
yang berasal dari luar individu.
Menurut Smeltzer dan Bare (2014), yang menjadi alasan utama
gagalnya pengobatan adalah pasien tidak mau minum obatnya secara teratur
dalam waktu yang diharuskan. Pasien biasanya bosan harus minum banyak
obat setiap hari selama beberapa bulan, karena itu pada pasien cenderung
menghentikan pengobatan secara sepihak. Dari pendapat Smeltzer dan Bare
diatas dapat disimpulkan bahwa salah satu alasan utama gagalnya
pengobatan atau ketidakpatuhan penderita TB paru dalam pengobatan yaitu
pasien minum obat setiap hari selama beberapa bulan dan juga karena efek
samping obat yang menyebabkan pasien mual dan muntah sehingga pasien
merasa malas dan bosan.
Motivasi merupakan kecenderungan untuk bertindak dengan cara
tertentu dan sangat bergantung pada kekuatan suatu harapan bahwa tindakan
yang akan dilakukan kemudian akan menghasilkan output atau luaran
tertentu, serta nilai manfaat dan daya tarik output itu sendiri bagi individu.
Jika tidak di dukung adanya keinginan untuk sembuh dari diri pasien
tersebut, dipastikan akan menghambat proses kesembuhan pasien (Robbins,
2012).
Berdasarkan data dari jurnal Isti’anah Surury tentang ”Berkala Ilmiah
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (BIMKMI)” tahun 2009.
angka capaian Indonesia dalam pemberian obat ialah sebesar 91%, namun
angka temuan kasus baru sekitar 71%, maka pada tahun 2012 angka capaian
pengobatan menurun menjadi 87% dengan temuan kasus baru 40,47%
(Departemen Kesehatan, 2015). Ini menandakan bahwa Indonesia bisa
melakukan pengobatan namun masih kurang terhadap controlling. Salah
satu tantangan dalam pengobatan ini ialah kurang patuhnya penderita dalam
minum obat itu sendiri akibatnya angka Multi Drug Resistance akan
7

semakin tinggi (BIMKMI, 2012). Pengobatan yang terputus ataupun tidak


sesuai dengan standar DOTS juga dapat berakibat pada munculnya kasus
kekebalan multi terhadap obat anti TB yang memunculkan jenis kuman TB
yang lebih kuat, yang dikenal dengan Multi Drug Resistant (MDR-TB).
Pengobatan MDR-TB membutuhkan biaya yang lebih mahal dan waktu
yang lebih lama dengan keberhasilan pengobatan yang belum pasti. MDR-
TB merupakan permasalahan utama di dunia. Banyak faktor yang
memberikan kontribusi terhadap resistensi obat pada negara berkembang
termasuk ketidaktahuan penderita tentang penyakitnya, kepatuhan penderita
buruk, pemberian monoterapi atau regimen obat yang tidak efektif, dosis
tidak adekuat, instruksi yang buruk, keteraturan berobat yang rendah,
motivasi penderita kurang, suplai obat yang tidak teratur, bioavailibity yang
buruk dan kualitas obat memberikan kontribusi terjadinya resistensi obat
sekunder (Masniari dkk, 2010). Faktor risiko lain untuk terjadinya MDR–
TB adalah infeksi HIV, sosial ekonomi, jenis kelamin, kelompok umur,
merokok, konsumsi alkohol, diabetes, pasien TB paru dari daerah lain
(pasien rujukan), dosis obat yang tidak tepat sebelumya dan pengobatan
terdahulu dengan suntikan dan fluoroquinolon (Balaji et al., 2010). Sumber
lain menyebutkan bahwa faktor risiko MDR-TB adalah jenis kelamin
perempuan, usia muda, sering bepergian, lingkungan rumah yang kotor,
konsumsi alkohol dan merokok serta kapasitas paru-paru (Caminero, 2010;
Firdiana, 2010).
Angka capaian pengobatan yang lengkap dan sembuh di Indonesia
masih rendah yaitu sebesar 6,6%, sedangkan di Banten yang merupakan
provinsi yang membawahi cakupan populasi peneliti sebesar 6,1%
(Kemenkes RI, 2012). Dalam suatu penelitian menunjukkan bahwa hampir
setengahnya dari responden patuh (37,3%) menjalani pengobatan TB baik
fase intensif maupun fase lanjutan, sedangkan sebagian besar responden
(62,7%) tidak patuh menjalani pengobatan TB (Nursiswati, 2013).
Motivasi dan dukungan keluarga sangat menunjang keberhasilan
pengobatan seseorang dengan selalu mengingatkan penderita agar minum
8

obat, perhatian yang diberikan kepada anggota keluarga yang sedang sakit
dan memberi motivasi agar tetap rajin berobat, karena itu perlu diberikan
motivasi dan dukungan keluarga kepada penderita supaya penderita
menyelesaikan terapinya sampai sembuh (Muna & Umdatus, 2014). Jika
penderita memiliki motivasi yang rendah maka dirinya mempersepsi tidak
akan sembuh, tetapi jika penderita memiliki motivasi yang tinggi maka
dirinya akan memiliki rasa percaya diri akan kesembuhan nya. Selain
motivasi dari dalam diri, penderita juga membutuhkan dukungan dari
keluarga agar penderita merasa dirinya akan lebih berharga.
Motivasi dari keluarga mempunyai andil besar dalam meningkatkan
kepatuhan pengobatan yaitu dengan adanya pengawasan dan pemberi
dorongan kepada klien. Penderita dan keluarga menyadari akan pentingnya
kepatuhan berobat, dan sering kali penderita ingin segera menyelesaikan
pengobatan supaya dilihat oleh masyarakat dirinya sembuh dan diterima
kembali oleh masyarakat. Keperawatan tidak hanya ditujukan kepada
individu perseorangan melainkan juga pada kelompok, keluarga dan
masyarakat seperti yang dikemukakan dalam model konsep Orem yang
mengutamakan keperawatan mandiri klien, mengajak klien dan keluarga
untuk secara mandiri mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah
kesehatan. Keluarga diharapkan mampu mengurangi dan menekan kelalaian
minum obat karena keluarga dapat mengawasi penderita secara langsung
dan kontinyu (Depkes 2015).
Menurut penelitian Jufrizal, Hermansyah dan Mulyadi (2016) tentang
peran keluarga sebagai pengawas minum obat (PMO) dengan tingkat
keberhasilan pengobatan penderita tuberculosis paru di Aceh. Menunjukkan
bahwa dari ke 43 responden berperan baik sebagai PMO dalam keberhasilan
pengobatan pada pasien TB Paru yaitu 86% dibandingkan dengan 7 orang
responden yang berperan baik sebagai PMO yang tidak berhasil dalam
pengobatan sebanyak 14%. Artinya keluarga yang berperan baik sebagai
PMO dalam keberhasilan pengobatan memiliki peluang 20 kali terhadap
9

keberhasilan pengobatan dibandingkan dengan keluarga yang tidak berperan


baik sebagai PMO.
Begitu pula penelitian oleh Warsito (2013) Tentang hubungan
motivasi kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pasien Tuberkulosis
di Puskesmas Kalembu Kabupaten Klaten yang mengatakan bahwa peran
keluarga berpengaruh pada kepatuhan minum obat pada pasien TB dalam
fase intensif. Kecenderungan penderita untuk bosan dan putus obat saat
pengobatan karena sudah memakan waktu lama merupakan salah satu faktor
ketidakpatuhan itu sendiri. Maka dari itu pada penyakit Tuberkulosis sangat
membutuhkan peran keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO),
karena peran keluarga sangat dibutuhkan dalam memperhatikan dan
memantau keteraturan pengobatan terutama pada pasien Tuberkulosis.
Peran keluarga yang baik adalah memberikan motivasi atau dukungan yang
ampuh dalam mendorong pasien untuk melakukan pengobatan yang teratur,
sehingga keluarga harus berperan aktif (Elanandari, Usep & Ami, 2017).
Penelitian terkait yang dilakukan oleh Indrawati (2012), tentang
Hubungan Motivasi kesembuhan pasien TB dan peran Keluarga terhadap
Kepatuhan Minum OAT Di Ruang Rawat Inap Mawar RSUD Kota Bekasi
menyatakan bahwa adanya motivasi untuk sembuh menjadi suatu kekuatan
yang berasal dari diri pasien yang mendorong untuk menuju kesembuhan
pada penderita TB. Sebagian besar responden(88,5%) menyatakan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kepatuhan berobat
pada penderita TB paru. Menurut hasil penelitian Fariyadi (2011), tentang
“Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Penderita TB
Paru Dalam Menjalani Pengobatan OAT Di Puskesmas Torjun Kabupaten
Sampang” menyatakan bahwa terdapat hubungan antara motivasi
kesembuhan pasien TB dan peran keluarga terhadap kepatuhan minum OAT
pada penderita TB paru 20 responden.

1.2 Rumusan Masalah


10

Selama pengobatan penderita TB Paru tentunya perlu adanya motivasi


dari berbagai pihak atau orang terdekat dalam bentuk perhatian, rasa
empati, pengertian dan perilaku yang tidak berubah sebelum terkena TB
Paru maupun setelah menderita TB Paru agar meningkatkan kepercayaan
diri untuk sembuh serta akan meningkatkan kualitas hidupnya (Syam dkk,
2013).
Hasil wawancara yang peneliti lakukan terhadap 25 pasien penderita
TB paru di Puskesmas Bugel, didapatkan bahwa 5 pasien minum obat
(OAT) tidak rutin dan 25 pasien minum obat (OAT) dengan rutin. 4 pasien
tersebut mengatakan, mereka sering lupa untuk minum obat dan malas
minum obat karena waktu pengobatan yang begitu lama. Selain itu, efek
samping obat yang dirasakan seperti mual muntah dan pusing dan kurang
dukungan dari orang lain maupun keluarga.
Berdasarkan data pendahuluan diatas dan masalah /gambaran yang
telah dibahas diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang bagaimana “Hubungan Motivasi kesembuhan pasien TB dan peran
Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien
TB Paru Di Puskesmas Bugel Kota Tangerang 2019”.

1.3 Pertanyaan Penelitian


Pertanyaan penelitian yaitu “Apakah Terdapat Hubungan Motivasi
kesembuhan dan peran Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti
Tuberkulosis Pada Pasien TB Paru Di Puskesmas Bugel Kota Tangerang
2019 ?”

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan umum


Untuk mendapatkan gambaran hubungan motivasi kesembuhan dan peran
keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru.
1.4.2 Tujuan Khusus
11

1. Untuk mendapatkan gambaran demografi hubungan motivasi


kesembuhan dan peran keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada
pasien TB Paru.
2. Untuk mendapatkan gambaran hubungan peran keluarga pada pasien
TB Paru.
3. Untuk mendapatkan gambaran kepatuhan minum obat pada pasien TB
Paru.
4. Untuk mendapakan gambaran hubungan motivasi kesembuhan dan
peran keluarga terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 STIKes YATSI Tangerang


Penelitian ini sebagai bahan dan informasi untuk pengembangan ilmu
pengetahuan untuk mahasiswa/i, khususnya ilmu keperawatan yang
berhubungan dengan motivasi keluarga dengan kepatuhan minum Obat
Anti Tuberkulosis pada pasien Tb Paru.
1.5.2 Bagi institusi pelayanan kesehatan
Meningkatkan pelayanan dan penyuluhan kesehatan terhadap masyarakat
khususnya penderita TB Paru, sehingga akan meningkatkan
memotivasi dalam penyembuhan penderita serta memberi masukan
kepada petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan penyakit
Tuberkulosis baik terhadap masyarakat, keluarga dan khususnya penderita
TB Paru.
1.5.3 Bagi penderita TB Paru
Memberi pengetahuan tentang penyakit TB Paru, sehingga dapat
meningkatkan motivasi untuk kesembuhan penderita TB Paru di
Puskesmas Jatiuwung.
1.5.4 Bagi Ilmu Keperawatan
Sebagai bahan pustaka dalam rangka menambah informasi dan
pengetahuan tentang ilmu keperawatan khususnya mengenai TB Paru.
12

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam


memberikan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat
khususnya penderita TB Paru.
1.5.5 Bagi Peneliti
Sebagai sarana pembelajaran melakukan penelitian ilmiah dan
meningkatkan kemampuan dalam mengolah, menganalisis dan
menginterpretasi data sekaligus mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat
selama perkuliahan.