Anda di halaman 1dari 9

Skenario1

Normalkah hasil lab saya dok?

Tn. I, seorang pegawai berusia 38 tahun datang untuk memeriksa kesehatan rutin.
Secara umum Tn. I tidak memiliki keluhan apapun yang berarti, namun sesekali
merasakan kesemutan di jari-jari tangan, dan nyeri di leher belakang atau di bagian
punggung.

Berat badan Tn. I adalah 75 kg dan tinggi badan 175 cm, ia mengaku pernah
mengalami obesitas dengan kisaran berat badan dalam 3 tahun terakhir adalah 72–80
kg. Pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Tidak terdapat xanthelasma pada
kelopak mata, pemeriksaan lingkar perut pasien adalah 87 cm. Pemeriksaan fisik
lainnya tidak terdapat kelainan. Pemeriksaan fungsi sensorik dalam batas normal.
Hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh kadar glukosa darah puasa adalah 99
mg/dl (normal), kolesterol total 287 mg/dl (bahaya/buruk), trigliserida 297 mg/dl
(hati-hati/sedang), kolesterol HDL 39 mg/dl (bahaya/buruk) , dan kolesterol LDL
189 mg/dl (bahaya).

Pasien memiliki kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat,


lemak jenuh, dan lemak trans, serta berolahraga aerobik seminggu sekali. Sebulan
terakhir Tn.I juga mengikuti kelas gym, dan mengonsumsi steroid untuk membentuk
tubuh. Ibunya meninggal karena stroke dengan riwayat kelainan kadar lemak dalam
darah. Pamannya meninggal karena serangan jantung

Kesemutan  Kesemutan atau dalam istilah medisnya disebut parestesia adalah


sensasi geli atau mati rasa yang dibarengi dengan perasaan seperti
Anda tertusuk jarum. Hal ini terjadi ketika saraf secara tidak sengaja
mendapatkan tekanan sehingga aliran darah pada saraf tidak
lancar.
Xanthelasma plak kekuningan akibat gumpalan lemak yang muncul di kelopak mata.
Plak kekuningan ini muncul di bagian sudut mata (canthus) dalam yang
dekat dengan hidung, baik di kelopak mata atas maupun bawah.
Lemak trans Salah satu jenis lemak jenuh. Lemak ini secara alami dapat
ditemukan dalam jumlah kecil pada daging sapi, kambing, dan
produk dairy, seperti susu atau keju. Lemak trans menyebabkan
kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah meningkat,
serta menurunkan kadar kolesterol baik (HDL).
HDL HDL adalah lipoprotein berdensitas tinggi. Lipoprotein terbentuk
dari protein dan lemak. HDL dikenal sebagai kolesterol baik karena
HDL membawa kolesterol ‘jahat’, lipoprotein berdensitas rendah
(low density lipoprotein), trigiliserida, dan lemak yang berbahaya
dan mengembalikannya ke dalam hati untuk diproses. Saat HDL
mencapai hati, hati akan mengurai LDL, mengubahnya menjadi
empedu dan mengeluarkannya dari tubuh
LDL LDL adalah lipoprotein yang akan membawa kolesterol ke
pembuluh darah. Tetapi jika kadarnya dalam darah terlalu
tinggi, LDL dapat menumpuk pada dinding-dinding pembuluh
darah. Penumpukan tersebut dikenal dengan istilah plak
kolesterol. Lambat laun, plak ini dapat mempersempit
pembuluh darah, membatasi aliran darah, dan meningkatkan
risiko pembekuan darah. Jika gumpalan darah menghambat
arteri di jantung atau otak, serangan jantung maupun stroke bisa
terjadi.
Trigliserida salah satu jenis lemak yang banyak ditemukan di dalam darah.
Trigliserida dihasilkan oleh organ hati, namun sebagian besar berasal
dari makanan, seperti daging, keju, susu, nasi, minyak goreng, dan
mentega
Obesitas  kondisi kronis akibat penumpukan lemak dalam tubuh yang sangat
tinggi. Obesitas terjadi karena asupan kalori yang lebih banyak
dibanding aktivitas membakar kalori, sehingga kalori yang berlebih
menumpuk dalam bentuk lemak. Apabila kondisi tersebut terjadi
dalam waktu yang lama, maka akan menambah berat badan hingga
mengalami obesitas
Steroid senyawa organik lemak sterol tidak terhidrolisis yang didapat dari
hasil reaksi penurunan dari terpena atau skualena. Steroid
merupakan kelompok senyawa yang penting dengan struktur dasar
sterana jenuh dengan 17 atom karbon dan 4 cincin.
Lemak trans salah satu jenis lemak jenuh. Lemak ini secara alami dapat
ditemukan dalam jumlah kecil pada daging sapi, kambing, dan
produk dairy, seperti susu atau keju. Namun, saat ini industri
pangan banyak memproduksi lemak trans buatan dengan cara
menambahkan zat hidrogen pada minyak sayur atau minyak
goreng. 
Lemak jenuh
KGD
KOLESTEROL
TOTAL
KELAINAN METABOLIK DISLIPIDEMIA

1. Apa saja kemungkinan penyebab kelainan yang dialami Tn. I?


Berdasarkan scenario ditulis Pasien memiliki kebiasaan buruk, seperti merokok,
mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat, lemak jenuh, dan lemak trans. Pada lemak
trans ini dapat menyebabkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah
meningkat, serta menurunkan kadar kolesterol baik (HDL).
jumlah asam lemak trans dapat meningkat pada makanan berlemak seperti margarine
yang mana ini diakibatkan dari proses yang diterapkan seperti hidrogenasi dan
pemanasan suhu tinggi. Selain itu terdapat pada daging dan produk susu. Produk seperti
biscuit, donat, dan produk lain yang mnggunakan pelembut akan menjadi sumber lemak
tran juga
Selain itu bisa juga dikarenakan adanya factor genetic/keturunan, yang mana Ibunya
meninggal karena stroke dengan riwayat kelainan kadar lemak dalam darah. Pamannya
meninggal karena serangan jantung

2. Bagaimana tahapan tatalaksana komprehensif yang akan Anda berikan?


Terapi Non-Farmakologis
1. Aktivitas fisik Aktifitas fisik yang disarankan meliputi program latihan yang
mencakup setidaknya 30 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang
(menurunkan 4-7 kkal/menit) 4 sampai 6 kali seminggu, dengan pengeluaran
minimal 200 kkal/ hari. Kegiatan yang disarankan meliputi jalan cepat, bersepeda
statis, ataupaun berenang. Tujuan aktivitas fisik harian dapat dipenuhi dalam satu
sesi atau beberapa sesi sepanjang rangkaian dalam sehari (minimal 10 menit). Bagi
beberapa pasien, beristirahat selama beberapa saat di selasela aktivitas dapat
meningkatkan kepatuhan terhadap progran aktivitas fisik. Selain aerobik, aktivitas
penguatan otot dianjurkan dilakukan minimal 2 hari seminggu.
2. Terapi Nutrisi Medis Bagi orang dewasa, disarankan untuk mengkonsumsi diet
rendah kalori yang terdiri dari buah-buahan dan sayuran (≥ 5 porsi / hari), biji-bijian
(≥ 6 porsi / hari), ikan, dan daging tanpa lemak. Asupan lemak jenuh, lemak trans,
dan kolesterol harus dibatasi, sedangkan makronutrien yang menurunkan kadar
LDL-C harus mencakup tanaman stanol/sterol (2 g/ hari) dan serat larut air (10-25 g
/hari).

3. Berhenti merokok
Merokok merupakan faktor risiko kuat, terutama untuk penyakit jantung koroner,
penyakit vaskular perifer, dan stroke. Merokok mempercepat pembentukan plak
pada koroner dan dapat menyebabkan ruptur plak sehingga sangat berbahaya bagi
orang dengan aterosklerosis koroner yang luas. Sejumlah penelitian menunjukkan
bahwa merokok memiliki efek negatif yang besar pada kadar KHDL dan rasio K-
LDL/K-HDL. Merokok juga memiliki efek negatif pada lipid postprandial,
termasuk trigliserida. Berhenti merokok minimal dalam 30 hari dapat meningkatkan
K-HDL secara signifikan

TERAPI FARMAKOLOGIS

Terapi farmakologis
Prinsip dasar dalam terapi farmakologi untuk dislipidemia baik pada ATP III
maupun ACC/AHA 2013 adalah untuk menurunkan risiko terkena penyakit
kardiovaskular. Berbeda dengan ATP III yang menentukan kadar K-LDL tertentu
yang harus dicapai sesuai dengan klasifikasi faktor risiko, ACC/AHA 2013 tidak
secara spesifik menyebutkan angka target terapinya, tetapi ditekankan kepada
pemakaian statin dan persentase penurunan K-LDL dari nilai awal. Hal tersebut
merupakan hasil dari evaluasi beberapa studi besar yang hasilnya menunjukkan
bahwa penggunaan statin berhubungan dengan penurunan risiko ASCVD tanpa
melihat target absolut dari K-LDL . Namun demikian, jika mengacu kepada ATP
III, maka selain statin, beberapa kelompok obat hipolipidemik yang lain masih
dapat digunakan yaitu Bile acid sequestrant, Asam nikotinat, dan Fibrat dengan
profil sebagai berikut

Ada gambar. Obat obat hipolipodemik

Berikut ini akan dirinci lebih lanjut tentang jenis obat hipolipidemik mengenai
farmakokinetik dan farmakodinamiknya.
1. Statin
Mekanisme Kerja Statin bekerja dengan mengurangi pembentukan kolesterol di
liver dengan menghambat secara kompetitif kerja dari enzim HMG-CoA
reduktase. Pengurangan konsentrasi kolesterol intraseluler meningkatkan
ekspresi reseptor LDL pada permukaan hepatosit yang berakibat meningkatnya
pengeluaran LDL-C dari darah dan penurunan konsentrasi dari LDL-C dan
lipoprotein apo-B lainnya termasuk trigliserida
2. Asam Fibrat
Terdapat empat jenis yaitu gemfibrozil, bezafibrat, ciprofibrat, dan fenofibrat.
Obat ini menurunkan trigliserid plasma, selain menurunkan sintesis trigliserid di
hati. Obat ini bekerja mengaktifkan enzim lipoprotein lipase yang kerjanya
memecahkan trigliserid. Selain menurunkan kadar trigliserid, obat ini juga
meningkatkan kadar kolesterol- HDL yang diduga melalui peningkatan
apoprotein A-I, dan A-II Pada saat ini yang banyak dipasarkan di Indonesia
adalah gemfibrozil dan fenofibrat.

3. Asam Nikotinik Obat ini diduga bekerja menghambat enzim hormone sensitive
lipase di jaringan adiposa, dengan demikian akan mengurangi jumlah asam
lemak bebas. Diketahui bahwa asam lemak bebas ada dalam darah sebagian
akan ditangkap oleh hati dan akan menjadi sumber pembentukkan VLD.
Dengan menurunnya sintesis VLDL di hati, akan mengakibatkan penurunan
kadar trigliserid, dan juga kolesterol-LDL di plasma. Pemberian asam nikotinik
temyata juga meningkatkan kadar kolesterol- HDL. Efek samping yang paling
sering terjadi adalah flushing yaitu perasaan panas pada muka bahkan di badan.

4. Ezetimibe Obat golongan ezetimibe ini bekerja dengan menghambat absorbsi


kolesterol oleh usus halus. Kemampuannya moderate didalam menurunkan
kolesterol LDL (15-25%). Pertimbangan penggunaan ezetimibe adalah untuk
menurunkan kadar LDL, terutama pada pasien yang tidak tahan terhadap
pemberian statin. Pertimbangan lainnya adalah penggunaannya sebagai
kombinasi dengan statin untuk mencapai penurunan kadar LDL yang lebih
rendah

3. Bagaimanacara Anda menyampaikan kepada pasien mengenai proses terjadinya


penyakit yang dialaminya?

4. Apa yang menyebabkan terjadinya kesemutan pada jari-jari tangan, dan nyeri di leher
belakang atau di bagian punggung?

5. Apa Efek samping steroid dan peran steroid dalam membentuk tubuh

6. Apa pengaruh antara kebiasaan merokok dan makanan tinggi karbo juga lemak
terhadap kadar kolesterol pasien tersebut ?

7. Bagaimana mendiagnosis kasus di atas ?

8. Hal apa saja yang dapat dilakukan tn.I untuk menghindari hal yang dapat terjadi seperti
scenario di atas ?

9. Factor resiko dislipidemia

10. Prevalensi dislipidemia

11. Orang seperti apa yang sebaiknya dilakukan pemeriksaan penapisan untuk
dislipidemia ?
Individu dengan salah satu factor dibawah ini, tanpa melihat usianya:
a. Perokok aktif
b. Diabetes
c. Hipertensi
d. Riwayat keluarga dengan PJK dini
e. Riwayat keluarga dengan hiperlipidemia
f. Penyakit ginjal kronik
g. Penyakit inflamasi kronik
h. Lingkar pinggang >90 cm, untuk laki-laki atau lingkar pinggang >80 cm untuk
wanita
i. Disfungsi ereksi
j. Adanya aterosklerosis atau abdominal aneurisma
k. Manifestasi klinis dari hiperlipidemia
l. Obesitas (IMT>27KG/M2). Untuk orang asia IMT >25 kg/m2

12. Interpretasi hasil dan IMT

LO
1. Bagaimana tahapan tatalaksana komprehensif yang akan Anda berikan

2. Bagaimana cara Anda menyampaikan kepada pasien mengenai proses terjadinya penyakit
yang dialaminya?

4. Apa yang menyebabkan terjadinya kesemutan pada jari tangan, nyeri di leher
belakang dan di bagian punggung pada skenario?
Parasthesia dalam istilah medis atau biasa yang dikenal dengan kesemutan adalah
sensasi geli atau mati rasa yang dibarengi dengan perasaan seperti tertusuk jarum. Hal ini
terjadi ketika saraf secara tidak sengaja mendapatkan tekanan sehingga aliran darah pada
saraf tidak lancar.
Penyebab paling umum kesemutan adalah posisi yang kurang tepat saat kita duduk,
bersandar atau berbaring, seperti menekuk saat duduk bersila terlalu lama atau tidur dengan
kepala menindih tangan. Pada posisi tertentu seperti itu akan menekan saraf dan pembuluh
darah sehingga mengurangi suplai darah ke bagian tubuh yang tertekan tadi. Apabila kita
mengubah posisi atau meluruskan bagian yang tertekuk tadi maka secara perlahan kesemutan
itu akan menghilang.
Kesemutan umumnya bersifat sementara. Namun pada beberapa kasus, kesemutan
bisa menjadi kondisi medis yang berat, kambuhan, atau kronis. Kesemutan kronis biasanya
akan diikuti oleh gejala lainnya, misalnya nyeri, gatal, dan penyusutan/kelemahan otot.
Dalam kasus tersebut, kesemutan bisa menjadi tanda dari kerusakan saraf sebagai hasil dari
beragam kondisi medis yang mendasarinya, seperti cedera traumatik atau berulang, infeksi
bakteri atau virus, pengerasan arteri, dan penyakit sistemik seperti stroke, diabetes, penyakit
hati, ginjal, gangguan tiroid, hingga kanker.

Parestesia dapat bersifat sementara atau terjadi secara berkepanjangan. Parestesia yang
sementara terjadi akibat tekanan pada saraf tertentu, misalnya saat tidur dengan menindih
lengan atau duduk bersila. Kesemutan yang bersifat sementara ini akan hilang ketika sudah
tidak ada tekanan pada saraf. Sedangkan parestesia yang terjadi berkepanjangan bisa menjadi
gejala suatu penyakit, misalnya diabetes. Pemeriksaan ke dokter perlu dilakukan jika
parestesia terjadi secara berulang dan terus-menerus tanpa sebab yang jelas.

5. Apa peran steroid untuk membentuk tubuh dan efek sampingnya?


6. Hal apa saja yang dapat dilakukan Tn. I untuk menghindar hal yang dapat terjadi seperti di
skenario?
7. Faktor risiko dislipidemia
8. Orang seperti apa yang sebaiknya dilakukan pemeriksaan penapisan untuk
dislipidemia?
Individu dengan salah satu factor di bawah ini, tanpa melihat usianya:
a. Perokok aktif
b. Diabetes
c. Hipertensi
d. Riwayat keluarga dengan PJK dini
e. Riwayat keluarga dengan hiperlipidemia
f. Penyakit ginjal kronik
g. Penyakit inflamasi kronik
h. Lingkar pinggang >90 cm untuk laki-laki, atau lingkar pinggang >80 cm untuk wanita
i. Disfungsi ereksi
j. Adanya aterosklerosis atau abdominal aneurisma
k. Manifestasi klinis dari hiperlipidemia
l. Obesitas (IMT >27 kg/m2). Untuk orang asia IMT >25 kg/m2
m. Laki laki usia >40 tahun atau wanita dengan usia > 50 tahun atau sudah menopose

9. Bagaimana kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat mempengaruhi kondisi


Tn. I?
10. terapi farmakologis dan non-farmakologis pada dislipidemia

11. Pengertian dislipidiemia\


Dislipidemia di definisikan sebagai kelainan metabolism lipid yang di tandai dengan
peningkatan maupun penurunan fraksi lipi dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama
adalah kenaikan kadar kolesterol total (K-total), Kolesterol LDL (K-LDL), trigliserida (TG),
serta penurunan kolesterol HDL (K-HDL).

Klasifikasi Dislipidemia
Berbagai klasifikasi dapat ditemukan dalam kepustakaan, tetapi yang mudah di gunakan
adalah pembagian dislipidemia dalam benttuk dislipidemia primer dan dislipidemia
sekunder. Dislipidemia sekunder diartikan dislipidemia yang terjadi sebagai akibat suatu
penyakit lain. Pembagian ini penting dalam menentukan pola pengobatan yang akan di
terapkan.
a. Dislipidemia primer’
Adalah dislipidemia akibat kelainan genetic. Pasien dislipidemia sedang disebabkan
oleh hiperkolesterolemia poligenik dan dislipidemia kombinasi familial. Dislipidemia
berat umumnya karena hiperkolesterolemia familial, dislipidemia remnant, dan
hipertrigliseridemia primer
b. Dislipidemia sekunder
Dislipidemia yang terjadi akibat suatu penyakit lain misalnya hipotiroidisme, sindrom
nefrotik, DM, dan sindrom metabolic. Pengelolaan penyakit primer akan memperbaiki
dislipidemia yang ada. Dalam hal ini pengobatan penyakit primer yang di utamakan.
Akan tetapi pada pasien diabetes milletus pemakaian obat hipolipedemik sangat
dianjurkan, sebab resiko koroner pasien tersebut sangat tinggi. Pasien diabetes miletus
dianggap mempunyai resiko yang sama (ekivalen) dengan pasien penyakit jantung
koroner. Pancreatitis akut merupakan manifestasi umum hipertrigliseridemia yang berat

12. epidemiologi dislipidemia


a. Data dari American Heart Association tahun 2014 memperlihatkan prevalensi dari berat
badan berlebih dan obesitas pada populasi di Amerika adalah 154.7 juta orang yang
berarti 68.2 % dari populasi di Amerika Serikat yang berusia lebih dari 20 tahun.
Populasi dengan kadar kolesterol ≥ 240mg/dl diperkirakan 31.9 juta orang (13.8%)
dari populasi
b. Data di Indonesia yang diambil dari riset kesehatan dasar nasional (RISKESDAS) tahun
2013 menunjukkan ada 35,9% dari penduduk indonesia yang berusia >15 tahun dengan
kadar kolesterol abnormal (berdasarkan NCEP ATP III, dengan kadar kolesterol >200
mg/dl) dimana perempuan lebih banyak dari laki-laki dan perkotaan lebih banyak dari
pendesaan. Data RISKESDAS juga menunjukkan 15,9% populasi yang berusia >15
tahun mempunyai proporsi LDL yang sangat tinggi (>190 mg/dl), 22,9% mempunyai
kadar HDL yang kurang dari 40 mg/dl, dan 11,9% dengan kadar trigliserida yang sangat
tinggi (>500 mg/dl)

13. Diagnosis, penatalaksanaan dan komplikasi

14. Sindroma metabolic? Karena di scenario juga disebutkan riwayat obesitas


15. Di skerio: lemak jenuh, lemak trans? Apa kaitannya pola konsumsi makanan dengan
penyakit Tn?

13. Bagaimana cara melakukan penapisan?


Penapisan dilakukan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik terutama dilakukan pada :
a. Usia (laki-laki >45 tahun, wanita >55 tahun)
b. Riwayat keluarga dengan PJK dini (infark miokard atau sudden death <55 tahun pada
ayah atau <65 tahun pada ibu
c. Perokok aktif
d. Hipertensi (TD >140/90 mmHg atau dengan pengobatan antihipertensi)
e. Kadar K-HDL yang rendah (<40 mg/dl)

Secara umum anamnesis dan pemeriksaan fisik ditujukan untuk mencari adanya factor-faktor
risiko kardiovaskular terutama yang berkaitan dengan tingginya resiko yaitu :
- PJK
- Penyakit arteri carotis yang simptomatik
- Penyakit arteri perifer
- Aneurisma aorta abdominalis

Sedangkan pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan adalah :


a. Total kolesterol
b. K-LDL
c. Trigliserida
d. K-HDL
Note : pemeriksaan lab untuk Trigliserida membutuhkan puasa selama 12 jam. Penghitungan
K-LDL yang menggunakan Friedewald formula membutuhkan data trigliserida, sehingga
harus puasa 12 jam. Sedangkan pemeriksaan total kolesterol, K-HDL dapat dilakukan dalam
keadaan tidak puasa. Adapun rumus Friedewald formula adalah :

K-LDL (mg/dl) =
Kolesterol total – K-HDL – Trigliserida / 5

Rumus Fridewald ini tidak dapat di aplikasikan pada keadaan :


a. Kadar trigliserida >400 mg/dl
b. Pada dislipidemia Frederckson type III
c. Adanya fenotip Apo E2/2