Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

“KERANGKA BERPIKIR, ASUMSI, DAN


HIPOTESIS”
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Metode Peneltian

KELOMPOK

Desti Febriani 17507043


Paola Tangiduk 17507051

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PENDIDIKAN BIOLOGI
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode penelitian. Semoga
makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca dalam mempelajari tentang proses penelitian.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Tondano, Maret 2020

Kelompok

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.........................................................................................................i
Daftar Isi...................................................................................................................ii
Bab 1 Pendahuluan..................................................................................................1
A. Latar Belakang...............................................................................................1
B. Rumusan Masalah..........................................................................................1
C. Tujuan.............................................................................................................1
Bab 2 Pembahasan...................................................................................................2
A. Kerangka Berpikir..........................................................................................2
B. Asumsi............................................................................................................5
C. Hipotesis.........................................................................................................7
Bab 3 Penutup .........................................................................................................15
Kesimpulan.........................................................................................................15
Daftar Pustaka..........................................................................................................17

ii
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dalam rangka menghadirkan suatu karya ilmiah yang memiliki bobot tinggi,
khususnya yang terkait dengan penelitian, maka disinilah pentingnya landasan
teori sebagai rujukan dalam melakukan sebuah penelitian. Seorang peneliti akan
merasa terbantukan dengan adanya teori, karena hal tersebut akan menjadi titik
acuan dalam proses penelitiannya. Sehingga dengan adanya referensi tersebut
maka penelitian yang dilakukan bukan hal coba-coba yang pada ujungnya
menghasilkan kekeliruan atau lazimnya lebih dikenal dengan istilah trial and error.
Karena hal tersebut merupakan inti sari dari teori yang telah dikembangkan yang
dapat mendasari perumusan hipotesis.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kerangka berpikir dan bagaimana
menyusun kerangka berpikir yang baik?
2. Apa yang dimaksud dengan asumsi dan hal-hal apa saja yang harus
diperhatikan dalam membuat asumsi?
3. Apa yang dimaksud dengan hipotesis dan apa saja tahap-tahap
menyusun hipotesis?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian kerangka berpikir dan menyusun kerangka
berpikir yang baik
2. Mengetahui pengertian asumsi dan hal-hal apa saja yang harus
diperhatikan dalam membuat asumsi.
3. Mengetahui pengertian hipotesis dan apa saja tahap-tahap menyusun
hipotesis

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kerangka Berpikir

Uma Sekaran dalam bukunya Business Research, 1992 dalam (Sugiyono,


2010) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang
bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting.

Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam


penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya
membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti
disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga
argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sapto Haryoko, 1999,
dalam Sugiyono, 2010).

Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya


dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu
dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun
komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berfikir.

Suriasumantri 1986, dalam (Sugiyono, 2010) mengemukakan bahwa seorang


peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam
menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Krangka pemikiran ini
merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek
permasalahan.

Penelitian dari seorang penelita harus mampu menciptakan kerangka berfikir


yang baik, dimana kerangka berfikir betujuan agar penelitian mampu dirumuskan
dengan menggunakan teori dan hipotesis serta pengurain atau penjelasan tentang cara

2
dalam menyusun penelitiannya. Bentuk-bentuk pemaparan kerangka pemikiran
teoritik yang dapt dilakukan. Secara garis besar bentuk pemaparan tersebut dapat
digolongkan atas tiga kelompok, yaitu :

- Uraian dalam narasi; Dipakai dalam mengembangkan kerangka teoritis dari


suatu riset.
- Diagram atau skema;Pemaparan yang bersifat menjelaskan bentuk pemaparan
uraian dalam narasi.
- Model matematik;Dimana digambarkan dalam bentuk simbol atau notasi
matematik.

Uraian dalam tinjuan digunakan untuk menyusun kerangka atau konsep yang
akan digunkan dalam riset. Kerangka konseptual dijabarkan dari tinjauan pustaka
sebagai paradigma sekaligus tuntutan untuk memecahkan masalah

Kerangka berfikir merupakan konseptual mengenai bagaimana satu teori


berhubungan diantara berbagai faktor yang telah didefenisikan penting terhadap
masalah penelitian, dalam rangka pemikiran, peneliti harus mampu menguraikan
konsep tau variabel penelitiannya secara rinci, dalam menguraikan kerangkan
pikirannya.. Dalam kerangka berfikir, hal inti yang perlu dikemukakan ialah hubungan
antara variabel dengan variabel yang diteliti.

- Mengemukakan bagaimana hubungan variabel bebas dan terikat.


- Harus ada penjelasan yang gamblang mengenai kenap hubungan tersebut
berlaku.
- Bila sifat dan arah hubungan dapat diteorikan berdsarkan temuan penelitian
sebelumnya.

Juliansyah mendefenisikan bahwa kerangka teori dengan konsep yang


digunakan oleh peneliti terhadap tesis ataupun skrisinya, yang konsep melihat
hubungan antara variabel dengan variabelnya, apa yang dikemukan oleh juliansyah
memberikan distribusi terhadap penelitian dalam menjelaskan serta memaparkan
kerangka berfikir mereka dalam tesis ataupun skripsinya.

3
Dalam mengungkapkan kerangka berfikir yang digunakan maka teori merupan
suatu yang sangat penting, sehingga kita mampu memberikan batasan masalah
terhadap hipotesis yang telah kita agar penelitian dan teori yang digunkan tidak jauh
keluar dari pemahasan masalah yang akan diteliti. Oleh karena itu mengenal teori dan
koseptual dirasa perlu agar kerangka berfikir mudah untuk diciptakanGempur Santoso
mengemukakan Teori merupakan dugaan untuk menyelesaikan masalah yang kita
hadapi, landasan teori diperoleh dari sudut kepustakaan. Landasan teori perlu
dirumuskan untuk menghindari bahwa kegiatan penelitian tidak bersifat coba- coba,
studi kepustakaan untuk menyusun landasan teori sebagai dasar menunjukkan jalan
memecahkan masalah peneltian.menggali beberapa hasil atau temuan yang mana akan
memperluas dan memperdalam dalam memecahkan permasalahan.

- Mendapatkan landasan teori dalam menyusun kerangka berfikir


- Memperoleh informasi tentang penelitian sejenis yang berkaitan dengan
permasalahan.
- Memperoleh metode atau pendekatan pemecahan masalah.
- Sebagai sumber data.
- Mengetahui historis dan perspektif permasalahan.

Dari apa yang telah diungkapkan oleh gempur bahwa teori sangat perlu agar
peneliti mampu mendapatkan landasan teori dalam menyusun kerangka berfikir dari
penelitiannya, dan mengetahui permaslahan dalam penelitiannya. Kajian teori adalah
gambaran terhadap seperangkat kumpulan konsep/konstruk dan proposisi yang terkait
secara sistematis untuk mnejelaskan dan memprediksi tentang suatu fenomena.

Kerangka teori pada prinsipnya bukan sekedar kumpulan dekinisi dari berbagai
macam buku. Namun lebih pada upaya penggalian teori yang dapat digunakan peneliti
untuk menjelaskan hakikat. Teori menyediakan konsep- konsep yang relevan, asumsi-
asumsi dasar yang dapat digunakan, dan mengarahkan pertanyaan penelitian yang
diajukan.

Secara umum, penyusunan kerangka teori dapat melalui alur/ tahap berikut :

4
- Tinjauan pustaka, menyusun konsep yang digunakan.
- Kontruksi model teoritis, didasarkan pada proposisi yang telah dinyatakan
dalam teori yang ada pada tinjaun pustakaan.
- Model Analisi, gambaran sederhana antara hubungan antara variabel.
- Kerangka konseptual atau kerangka teoritis adalah kerangka berfikir kita yang
bersifat teoritis stsu konsepsional mengenai masalah yang kita teliti. Kerangka
berfikir tersebut hubungan antara konsep-konsep atau variabel- variabel yang
akan diteliti.

Perbedaan antara kerangka berfikir sangatlah tipis, hingga susah dibedakan


dimana semua itu sama memberikan penjelasan terhadap permasalahan dan
menghubungkan antara dua variabel yang ada, namun penulis berpendapat bahwa
kerangka teoritis merupakan hasil dari penjelasan dari pemikiran kita dengan
memberikan rumusan masalh sehingga mencari teori pendukung terhadap
permasalahan itu sediri.

B. Asumsi
Asumsi adalah pernyataan yang dapat diuji kebenarannya secara empiris
berdasarkan pada penemuan, pengamatan dan percobaan dalam penelitian yang
dilakukan sebelumnya. Jika kita berbicara mengenai asumsi, maka tidak terlepas
keterkaitan antara asumsi, postulat dan prinsip.

Pengertian Postulat adalah pernyataan yang kebenarannya tidak perlu diuji


sebab sudah diterima oleh umum. Contoh: Matahari terbenam di sebelah barat.
Sedangkan pengertian Prinsip adalah pernyataan yang berlaku umum bagi gejala
tertentu dan mampu menjelaskan kejadian yang telah terjadi. Misalnya: hukum sebab
akibat.

Lebih jauh, dapat dikatakan kalau asumsi ini adalah sebagai dasar dari suatu
penelitian. Sebab sebuah penelitian berangkat dari asumsi. Dalam penelitian asumsi

5
merupakan perekat atau adonan. Dikatakan perekat atau adonan karena asumsi
menjadi perekat antara satu variabel dengan variabel lainnya. Asumsi dapat kita
gunakan membangun suatu konstruksi bangunan penelitian yang besar. Membuat
asumsi itu bisa dengan sebab akibat, tapi bisa juga tentang suatu masalah. Asumsi juga
merupakan hal penting dalam menentukan paradigma penelitian. Tepatnya,
keberadaan asumsi ini berguna untuk menafsirkan kesimpulan yang kita buat.

Untuk menentukan asumsi harus didasarkan atas kebenaran yang telah diyakini
oleh peniliti. Sebelum menentukan asumsi peneliti harus lebih mengetahui terhadap
sesuatu dengan cara berupa:

- Banyak membaca buku, surat kabar atau terbitan lain. Dalam hal ini Prof. Drs.
Sutrisno Hadi MA, mengklasifikasikan bahan pustaka (yang disebut sumber
acuan) menjadi dua kelompok, yaitu: (a) Sumber umum: buku, teks,
ensiklopedi dan sebagainya. (b) Sumber acuan khusus: buletin, jurnal,
periodikal (majalah-majalah yang terbit secara periodik), disertasi, skripsi dan
sebagainya. Dari sumber acuan umum dapat diperoleh teori-teori dan konsep-
konsep dasar, sedang dari sumber acuan khusus dapat dicari penemuan-
penemuan atau hasil penelitian yang sudah dan sedang dilaksanakan.
- Banyak mendengar berita, ceramah, pembicaraan orang lain.
- Banyak berkunjung ke tempat (lokasi penelitian).
- Mengadakan pendugaan mengabstraksi berdasarkan perbendaharaan
pengetahuannya.

Atas dasar itu, maka ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat suatu
asumsi, yaitu:

- Asumsi harus operasional dan asumsi merupakan dasar bagi pengkajian


teoritis.
- Asumsi harus menyatakan keadaan yang sebenarnya, bukan keadaan yang
diprediksi atau seharusnya.

6
- Peneliti harus mengenal betul asumsi yang dipakainya dalam menyusun
kerangka berpikirnya.
- Asumsi yang berbeda, maka beda juga teori yang digunakan.
- Asumsi harus dinyatakan tersurat, sebab asumsi yang tersirat terkadang
menyesatkan dan menyebabkan interprestasi yang berbeda.

Pada konteks ini, kemudian dalam pembahasan penelitian itu tidak akan
terlepas dari kerangka teoritis yang telah kita buat dalam bab metodologi penelitian
biasanya. Jadi, keberadaan kerangka teoritis itu disusun untuk mendapatkan kerangka
berpikir. Lalu, kerangka berpikir itu sendiri disusun untuk mendapatkan rumusan
hipotesis. Jadi, keberadaan kerangka berpikir dan kerangka teoritis itu disusun dengan
cara mengkaji teori teori dan hasil hasil penelitian sebelumnya yang relevan;
menggunakan logika berpikjir deduktif (dari umum ke khusus); jika perlu
menggunakan asumsi, postulat atau prinsip agar dapat mendukung suatu argumentasi
yang menanyakan mengapa suatu teori atau pendekatan tertentu yang kita pilih.

C. Hipotesis
1. Pengertian Hipotesis
Kerlinger (1973) menyatakan hipotesis adalah pernyataan yang bersifat terkaan
dari hubungan antara dua atau lebih variable. Dari arti katanya, hipotesis memang dari
dua penggalan. Kata “HYPO” yang artinya “DI BAWAH” dan “THESA” yang artinya
“KEBENARAN” jadi hipotesis yang kemudian cara menulisnya disesuaikan dengan
ejaan bahasa Indonesia menjadi hipotesa, dan berkembang menjadi hipotesis.
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan
sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori dan belum
menggunakan fakta. Oleh karena itu, setiap penelitian yang dilakukan memiliki suatu
hipotesis atau jawaban sementara terhadap penelitian yang akan dilakukan. Dari
hipotesis tersebut akan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah
hipotesis tersebut benar adanya atau tidak benar. Atau bisa dikatakan bahwa Hipotesis

7
atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga
karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
Dalam penelitian yang menggunakan analisis statistik inferensial, terdapat dua
hipotesis yang perlu diuji, yaitu hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Menguji
hipostesis penelitian berarti menguji jawaban yang sementara itu apakah betul-betul
terjadi pada sampel yang diteliti atau tidak. Kalau terjadi berarti hipotesis penelitian
terbukti dan kalau tidak berarti bahwa tidak terbukti. Selanjutnya menguji hipotesis
statistik, berarti menguji apakah hipotesis penelitian yang telah terbukti atau tidak
terbukti berdasarkan data sampel itu dapat diberlakukan pada populasi atau tidak.

2. Kegunaan Hipotesis

Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian,
tidak semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam
suatu penelitian didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau
tujuan penelitian tampak apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak.
Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi yang tujuannya untuk menggali dan
mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi tidak menggunakan hipotesis.
Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat tidak menggunakan
hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat tentang
fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat
menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan
menjelaskan hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.

Perumusan yang kita lakukan sebenarnya sudah memiliki jawaban dari


pertanyaan yang dibuat di perumusan masalah. Namun jawaban tersebut belum
disertai data dilapangan sehingga harus diverivikasi dilapangan ketika melakukan
penelitian. Dari perumusan masalah tersebut maka akan muncul hipotesis yang
memberikan jawaban sementara yang cepat dengan berpatokan pada fakta-fakta, teori,
dan penelitian-penelitian sebelumnya di landasan teori. Kegunaan hipotesis antara
lain:

8
Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta
memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji
dalam penelitian.
Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.

3. Macam Macam Hipotesis

Macam macam hipotesis dalam penelitian, sebagai berikut :

a. Hipotesis Deskriptif

Pengertian Hipotesis Deskriptif adalah dugaan terhadap nilai satu


variabel dalam satu sampel walaupun di dalamnya bisa terdapat beberapa
kategori. Hipotesis deskriptif ini merupakan salah satu dari macam macam
hipotesis.

Contoh :

Ho : Kecenderungan masyarakat memilih warna mobil gelap.

Ha : Kecenderungan masyarakat memilih warna mobil bukan warna gelap.

b. Hipotesis Komparatif

Pengertian Hipotesis Komparatif adalah dugaan terhadap perbandingan


nilai dua sampel atau lebih. Hipotesis komparatif merupakan salah satu dari
macam macam hipotesis. Dalam hal komparasi ini terdapat beberapa macam,
yaitu :

Komparasi berpasangan (related) dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel
(k sampel).

9
Komparasi independen dalam dua sampel dan lebih dari dua sampel (k
sampel).

Contoh :

Sampel Berpasangan, komparatif dua sampel

Ho : Tidak terdapat perbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan.

Ha : Terdapat berbedaan nilai penjualan sebelum dan sesudah ada iklan

Sampel Independen, komparatif tiga sampel

Ho : Tidak terdapa perbedaan antara birokrat, akademisi dan pebisnis dalam


memilih partai.

Ha : Terdapa perbedaan antara birokrat, akademisi dan pebisnis dalam memilih


partai.

c. Hipotesis Asosiatif

Pengertian Hipotesis Asosiatif adalah dugaan terhadap hubungan antara


dua variabel atau lebih. Hipotesis asosiatif merupakan salah satu dari macam
macam hipotesis.

Contoh :

Ho : Tidak terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olah raga yang
disenangi.

Ha : Terdapat hubungan antara jenis profesi dengan jenis olah raga yang
disenangi.

10
4. Perumusan Hipotesis

Nazir (2005: 154) menyatakan bahwa menemukan suatu hipotesis merupakan


kemampuan peneliti dalam mengaitkan masalah-masalah dengan variabel-variabel
yang dapat diukur dengan menggunakan suatu kerangka analisis yang dibentuknya.
Peneliti harus memfokuskan permasalahan sehingga hubungan-hubungan yang terjadi
dapat diterka. Menurut Nazir (2005: 154) dalam menggali hipotesis penelitian, peneliti
harus: Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan
jalan banyak membaca literatur-literatur yang ada hubungannya dengan penelitian
yang sedang dilaksanakan; Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan
tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain
dalam fenomena yang sedang diselidiki; Mempunyai kemampuan untuk
menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya yang sesuai dengan kerangka
teori ilmu dan bidang yang bersangkutan.

Tahap-tahap pembentukan/perumusan hipotesis pada umumnya sebagai


berikut:

Penentuan masalah.

Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya


timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat
diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah
diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan
perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah
mendapat bentuk perumusan masalah.

- Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).


- Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua
kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa
preliminer, pengamatan tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul mungkin
tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak
relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara

11
eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis
keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya
digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya
dilaksanakan.

Pengumpulan fakta.

Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu
hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang perumusannya
didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.

Formulasi hipotesa.

Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak
dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan
tertentu di antara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas
menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh
dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda
pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum
gravitasi.

Pengujian hipotesa

Artinya, mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diamati dalam


istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi (pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok
dengan fakta maka disebut konfirmasi Falsifikasi (penyalahan) terjadi jika usaha
menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa. Bilamana
usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan
koroborasi (corroboration). Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi
dapat disebut teori.

12
5. Aplikasi/penerapan.

Apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah
ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian
harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.

Awal terbentuknya hipotesis dalam sebuah penelitian biasanya diawali atas


dasar terkaan atau conjecture peneliti. Meskipun hipotesis berasal dari terkaan, namun
sebuah hipotesis tetap harus dibuat berdasarkan paca sebuah acuan, yakni teori dan
fakta ilmiah.

Teori Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis

Untuk memudahkan proses pembentukan hipotesis, seorang peneliti


biasanya menurunkan sebuah teori menjadi sejumlah asumsi dan prostulat.
Asumsi-asumsi tersebut dapat didefinisikan sebagai anggapan atau dugaan yang
mendasari hipotesis. Berbeda dengan asumsi, hipotesis yang telah diuji dengan
menggunakan data melalui proses penelitian adalah dasar untuk memperoleh
kesimpulan.

Fakta Ilmiah Sebagai Acuan Perumusan Hipotesis

Selain menggunakn teori sebagai acuan, dalam merumuskan hipotesis


dapat pula menggunakan acuan fakta. Secara umum, fakta dapat didefinisikan
sebagai kebenaran yang dapat diterima oleh nalar dan sesuai dengan kenyataan
yang dapat dikenali dengan panca indera.

Fakta Ilmiah sebagai acuan perumusan hipotesis dapat diperoleh dengan


berbagai cara, misalnya :

- Memperoleh dari sumber aslinya


- Fakta yang diidentifikasi dengan cara menggambarkan dan menafsirkannya
dari sumber yang asli.
- Fakta yang diperoleh dari orang mengidentifikasi dengan jalan menyusunnya
dalam bentuk abstract reasoning (penalaran abstrak).

13
Selain teori dan fakta ilmiah, hipotesis dapat pula dirumuskan berdasarkan
beberapa sumber lain, yakni:

- Kebudayaan dimana ilmu atau teori yang relevan dibentuk


- Ilmu yang menghasilkan teori yang relevan
- Analogi
- Reaksi individu terhadap sesuatu dan pengalaman

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori


berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah
yang penting. Penelitian dari seorang penelita harus mampu menciptakan kerangka
berfikir yang baik, dimana kerangka berfikir betujuan agar penelitian mampu
dirumuskan dengan menggunakan teori dan hipotesis serta pengurain atau
penjelasan tentang cara dalam menyusun penelitiannya. Bentuk-bentuk pemaparan
kerangka pemikiran teoritik yang dapt dilakukan.

Asumsi adalah pernyataan yang dapat diuji kebenarannya secara empiris


berdasarkan pada penemuan, pengamatan dan percobaan dalam penelitian yang
dilakukan sebelumnya. Jika kita berbicara mengenai asumsi, maka tidak terlepas
keterkaitan antara asumsi, postulat dan prinsip.

Atas dasar itu, maka ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat suatu
asumsi, yaitu:

- Asumsi harus operasional dan asumsi merupakan dasar bagi pengkajian


teoritis.
- Asumsi harus menyatakan keadaan yang sebenarnya, bukan keadaan yang
diprediksi atau seharusnya.
- Peneliti harus mengenal betul asumsi yang dipakainya dalam menyusun
kerangka berpikirnya.
- Asumsi yang berbeda, maka beda juga teori yang digunakan.
- Asumsi harus dinyatakan tersurat, sebab asumsi yang tersirat terkadang
menyesatkan dan menyebabkan interprestasi yang berbeda.

15
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori
dan belum menggunakan fakta. Oleh karena itu, setiap penelitian yang dilakukan
memiliki suatu hipotesis atau jawaban sementara terhadap penelitian yang akan
dilakukan. Dari hipotesis tersebut akan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk
membuktikan apakah hipotesis tersebut benar adanya atau tidak benar. Atau bisa
dikatakan bahwa Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap
masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan
kebenarannya.

16
DAFTAR PUSTAKA

- Buhanuddin, Afid.2013.Landasan Teori Kerangka Berpikir dan Hipotesis.


https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/05/21/landasan-teori-
kerangka-pikir-dan-hipotesis/ diakses pada 29 Maret 2020

- Dinata, Arda.2016.Bagaimana membuat asumsi dalam Metode Penelitian?.


https://www.ardadinata.com/2016/11/bagaimana-membuat-asumsi-
dalam.html?m=1#.XoDa3Mt8rqA diakses pada 29 Maret 2020
- Mary.2017.Makalah Kerangka Teori atau Landasan Teori.
https://awasmary.blogspot.com/2017/06/makalah-kerangka-teori-atau-
landasan.html?m=1 diakses pada 29 Maret 2020
- Ayub.2017.Metodologi Penelitian “Kerangka Berpikir”.
https://aldayub.wordpress.com/metodologi-penelitian/kerangka-berfikir/
diakses pada 29 Maret 2020

17