Anda di halaman 1dari 3

1.

Judul :
Jumlah Minyak Esensial dari Daun Varietas Rosa Hibrida L Hasil Elisitasi
Ringan

2. Bahan dan metode yang digunakan :


Minyak esensial Rose adalah minyak sayur yang menghasilkan wangi khas.
Ekstraksi minyak mawar esensial telah dilakukan melalui proses distilasi dari kelopak
mawar. Minyak mawar esensial yang terdiri dari 75% terdiri dominan tentang
geraniol dan sitronelol kemudian 25% champor, senyawa yang mengandung nerol,
linalool, fenil etil alkohol, farnesol, stearoptene.
Mawar merah lokal dari Cipanas Jawa Barat mengandung geraniol 27,23% dan
sitronelol 16,18%. Penelitian pendahuluan tentang kandungan minyak kelopak mawar
varietas lokal teh Hybride terdapat di tiga lokasi Batu Jawa Timur dengan 5 varietas:
teh putih hibrida, teh kuning hibrida, teh mawar Hybride, teh merah Hybride dan teh
ungu Hybride. Hanya satu lokasi di desa Sidorame dengan varietas teh ungu Hybride
yang mengandung citronellol dan geraniol. Bahan yang diperoleh yaitu sitronelol
(21,73%) dan geraniol (0,18%). Masalahnya ada kandungan minyak yang naik di
Indonesia sangat rendah bila dibandingkan dengan standar industri minyak esensial
mawar di Turki. Kandungan Rosa damascena Mill citronellol adalah 35,1%. dan
geromol 17,9%.
Dalam upaya memperbaiki isi penelitian dilakukan melalui teknik kultur jaringan
dan teknik elisitasi. Peningkatan kandungan minyak atsiri yang dibawa melalui teknik
elisitasi menggunakan cahaya. Elicitation adalah metode untuk menginduksi
pembentukan phytoalexin, metabolit sekunder yang telah atau metabolit sekunder
lainnya yang biasanya tidak terakumulasi pada tanaman. Elisitasi adalah proses
penambahan elisitor dengan tujuan untuk menginduksi dan meningkatkan
pembentukan metabolit sekunder. Kultur biasanya membutuhkan iradiasi atau iradiasi
yang panjang berkisar antara 10-24 jam. Eksposur panjang yang optimal adalah 16
jam.
3. Prosedur Kerja :
Daun eksplan tunas varietas mawar teh Hybride ungu berukuran 2 cm dan
daunnya dibawa ke tiga yang masih berwarna merah, ditanam pada media Murashige
dan Skoog dengan penambahan regulator pertumbuhan tanaman 0,1 mg / L
Napthalene Acetic Acid dan 3 mg.
Kalus berumur dua bulan di bidang subkultur hingga elisitasi menggunakan
rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama saat penyinaran
dengan 3 perlakuan sebagai berikut: 0 jam / hari (kegelapan total), 12 jam / hari dan
24 jam / hari (total cahaya). Ekstraksi minyak esensial dari hasil elusitasi kalus
dilakukan dengan menimbang 100 g kalus angin kering selama 24 jam, kemudian
direndam dengan n-Hexan dengan perbandingan 1: 3 selama 24 jam.
Hasil ekstraksi sampel dengan 5 mL n-Hexan, divortex selama 3 menit,
disentrifugasi pada 2.500 rpm selama 5 menit. Supernatan (fasa heksan) diambil dan
disuntikkan untuk analisis Analisis kromatografi gas - spektrofotometer MS.

4. Hasil :
Kalus dan Kualitas Warna
Pada tabel 1. kualitas diperoleh kaldu gembur dengan warna coklat tembus pada
perlakuan gelap, kualitas kalus kompak dan gembur dengan warna tembus hijau pada
perlakuan iradiasi 12 jam / hari dan kualitas kalus kompak dengan warna hijau pada
iradiasi perawatan 24 jam /hari.
Iradiasi pada pertumbuhan organ tanaman in vitro membutuhkan cahaya penuh,
sedangkan proses pemisahan tidak memerlukan cahaya. Efek cahaya pada
pembentukan clorofil. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa kalus terbentuk pada perlakuan sedangkan warna gelap berwarna coklat
tembus pandang yang mendapat lampu hijau. Menurut Widyastuti kalus hijau dapat
meningkatkan pertumbuhan, meningkatkan kemampuan sel untuk mengikat CO2
untuk keperluan fotosintesis intensitas cahaya yang optimal pada 1000 sampai 5000
lux lebih dari itu akan menghambat pertumbuhan.
Berat Kalus
Pada Tabel 2. kecenderungan perlakuan gelap menghasilkan kalus paling ringan.
Sedangkan pemberian berbagai panjang dan intensitas cahaya mempengaruhi kalus
lebih berat. Semakin intensitas dan durasi penyinaran cahaya kalus lebih berat
terbentuk.
Efek intensitas cahaya rendah pada penurunan produksi karbohidrat
menghasilkan bobot tanaman yang lebih rendah. Efek intensitas cahaya berhubungan
dengan proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis ini dibutuhkan energi cahaya
untuk membentuk karbohidrat. Semakin besar jumlah energi, formasi optimal dari
sejumlah besar energi cahaya yang diterima bergantung pada intensitas cahaya.
Semakin tinggi intensitas cahaya semakin besar energi, semakin banyak karbohidrat
terbentuk.

5. Kesimpulan :
Mutu kalus kalus gembur dengan warna coklat tembus pada perlakuan gelap.
Kalus kalus padat dan kasar dengan warna hijau tembus pada perlakuan iradiasi 12
jam / hari. Kualitas kalus kalus kompak dengan warna hijau pada perlakuan iradiasi
24 jam / hari. Citonellol sebagai senyawa penanda, pembentukan Geraniol butuh
cahaya serta kandungan cironellol tertinggi terdapat pada bentuk perawatan gelap
pada umur kalus 2 minggu. Jaringan kalus yang terbentuk pada kalung longgar
menghasilkan kalus, sedangkan perlakuan ringan menghasilkan jaringan yang lebih
padat.