Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM FORMULASI TEKNOLOGI SEDIAAN CAIR &

SEMIPADAT STERIL

Dosen Pengampu :
apt. Elya Zulfa, M. Sc.
apt. Malinda Prihantini, M. Si.

PERCOBAAN 1
SOLUTIO ANTICOAGULANT

Disusun Oleh :

NAMA NIM PERAN DALAM KELOMPOK


Risma Ismi Fauzi 175010029 Dasar teori & daftar pustaka
Tsabita Udkhiya Z 175010030 Dasar teori & daftar pustaka
Savio Ricardus K 175010031 Prefor zat aktif & eksipien
Qurotul Aini 175010032 Pendekatan formula & penimbangan bahan
Nurmalita Andani P 175010033 Prosedur pembuatan & evaluasi sediaan

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS WAHID HASYIM
SEMARANG
2020
PERCOBAAN 1
SOLUTIO ANTICOAGULANT

1. Tujuan
Agar mahasiswa dapat memahami dan mampu membuat injeksi solution anticoagulant
2. Teori Dasar
2.1 Teori Dasar Sediaan
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut. Kecuali
dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling. Larutan steril yang digunakan
sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tertera pada injections. Wadah harus
dapat dikosongkan dengan cepat. Kemasan boleh lebih dari 1 liter (Dirjen POM,
1979). Farmakope edisi IV mendefinisikan larutan adalah sediaan cair yang
mengandung satu atau lebih zat kimia terlarut, missal : terdispersi secara molekuler
dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Farmakope
Indonesia menggolongkan bentuk sediaan larutan berdasarkan cara pemberiannya
atau didasarkan pada system pelarut dan zat terlarut yang digunakan seperti spirit,
tingtur, dan larutan air (Dirjen POM, 1995).
Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas dari mikroba hidup, baik
yang patogen (menimbulkan penyakit) maupun apatogen atau non patogen (tidak
menimbulkan penyakit), baik dalam bentuk vegetatif (siap untuk berkembang biak)
maupun dalam bentuk spora (dalam keadaan statis, tidak dapat berkembang baik,
tetapi melindungi diri dengan lapisan pelindung yang kuat (Dirjen POM, 1995).
Metode sterilisasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu metode sterilisasi dengan
cara panas dan sterilisasi dengan cara dingin. Metode sterilisasi dengan cara panas
dibagi menjadi sterilisasi panas kering (menggunakan oven pada suhu 160-180⁰C
selama 30-240 menit), dan sterilisasi panas basah (menggunakan autoklaf dengan
suhu 121⁰C dengan tekanan 15 psi, selama 15 menit). Metode sterilisasi dengan cara
dingin dapat dibagi menjadi dua, yaitu teknik removal / penghilangan bakteri, dan
teknik membunuh bakteri. Teknik removal dapat menggunakan metode filtrasi dengan
membran filter berpori 0,22µm. Teknik membunuh bakteri dapat menggunakan
radiasi (radiasi sinar gama menggunakan isotop radioaktif Cobalt 60) dan gas etilen
oksida (dengan dosis 25 KGy). Metode lain untuk membunuh bakteri dengan
menggunakan cairan kimia seperti formaldehida, tidak dapat digunakan karena
memiliki efek toksik terhadap bahan yang disterilkan (Ayuhastuti, 2016).
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk
yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang
disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau
selaput lendir. Wadah untuk injeksi dibuat dari kaca atau plastik, tidak boleh bereaksi
dengan obat atau mempengaruhi khasiatnya dan tidak memberikan zarah kecil serta
harus memungkinkan melakukan pemeriksaan isinya dengan mudah. Wadah kaca
ditutup kedap dengan cara meleburkan mulut wadah atau dengan cara lain yang
cocok. Wadah harus memenuhi syarat uji wadah kaca untuk injeksi. Tutup dibuat dari
karet alam atau karet sintetis atau bahan lain yang cocok (Dirjen POM, 1979).
Antikoagulansia (bahasa latin : coagulare = membeku) adalah zat – zat yang
mencegah pembekuan darah dan digunakan pada keadaan – keadaan dimana terdapat
kecenderungan darah yang lebih kuat untuk membeku, misalnya pada thrombosis
(Rahardja dan Tjay, 1991). Antikoagulan pengikat ion kalsium. Antikoagulan yang
bekerja mengikat ion kalsium terdiri dari natrium sitrat, senyawa oksalat dan natrium
adetat. Senyawa-senyawa pengikat kalsium hanya dapat diberikan secara in vitro,
karena jumlah ion ini di dalam tubuh sangat banyak sehingga diperlukan senyawa
pengikat kalsium yang sangat besar (Sadikin 2001; Gunawan, 2012).
Tonisitas berhubungan dengan tekanan osmose yang diberikan oleh suatu
larutan dari zat padat atau zat padat yang terlarut. Cairan badan atau cairan mata
memberikan tekanan osmose yang sama dengan tekanan osmose normal salin atau
larutan NaCl 0,9 %. Suatu larutan dengan jumlah solute atau zat terlarut lebih banyak
dari cairan badan atau cairan mata mempunyai tekanan osmose lebih besar dan larutan
ini disebut dengan larutan hipertonis. Sebaliknya bila jumlah solute lebih sedikit
sehingga tekanan osmose lebih rendah disebut isotonis (Anonim, 2020).
Natrium sitrat adalah merupakan antikoagulan yang digunakan untuk
pemeriksaan Protrombin Time. Sitrat akan mengikat ion kalsium menjadi kompleks
kalsium sitrat sehingga tidak akan terjadi proses pembekuan. WHO dan NCCLS
merekomendasikan konsentrasi natrium sitrat yang digunakan adalah 3,2% (109
mmol / L) (Ernst D.J, 2003).
2.2 Struktur Bahan Aktif

Gambar 1. Struktur (Na Citrat Tribacicum)


2.3 Tinjauan Farmakologi
Natrium sitrat dalam darah akan mengikat kalsium menjadi kompleks kalsium sitrat.
Bahan ini banyak digunakan dalam darah untuk transfusi karena tidak toksik. Tetapi
dosis yang terlalu tinggi, umpamanya pada transfusi darah sampai ± 1.400 mL dapat
menyebabkan depresi jantung (Sadikin 2001; Gunawan, 2012).

2.4 Indikasi
Indikasinya adalah Antikoagulan digunakan pada pasien dengan kondisi klinis seperti :
pasien infark miokard akut, pengelolaan awal pasien angina yang tidak stabil, pasien
dengan pemasangan stent (ring), pasien emboli paru, pasien DIC yaitu pasien dengan
kondisi terjadinya pembekuan darah pada pembuluh darah kecil tubuh (Gunawan,
2016).

2.5 Dosis dan Pemakaian


Dokter akan menentukan jumlah obat atau dosis yang harus di gunakan
berdasarkan tingkat keparahan kondisi pasien. Obat ini digunakan dalam dosis yang
diresepkan oleh dokter. Cara pemakaiannya adalah injeksi secara intravena (i.v) dan
dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain.

2.6 Peringatan
- Jangan menggunakan obat antikoagulan jika Anda menderita aneurisma
otak, endokarditis, perikarditis, diseksi aorta, efusi perikardial, atau berisiko tinggi
terserang stroke
- Jangan mengonsumsi minuman beralkohol selama menjalani pengobatan dengan
antikoagulan karena dapat meningkatkan risiko perdarahan
- Selama menggunakan obat antikoagulan, disarankan untuk menjalani tes darah
secara rutin. Tes darah bertujuan untuk menyesuaikan dosis, serta memastikan
efektivitas dan keamanan penggunaan obat antikoagulan
- Konsultasikan terlebih dulu dengan dokter jika Anda memerlukan antikoagulan
saat sedang hamil atau menyusui. Dokter akan memberikan jenis antikoagulan
yang sesuai
- Sebelum menggunakan obat antikoagulan, beri tahu dokter jika Anda
menderita penyakit ginjal, penyakit liver, gangguan pembekuan darah, tekanan
darah tinggi, gagal jantung, atau gangguan keseimbangan
- Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan obat antikoagulan sebelum
menjalani bedah maupun tindakan pengobatan dan diagnosis lainnya. Pengobatan
dengan antikoagulan mungkin akan dihentikan selama beberapa waktu
- Sebelum menggunakan obat antikoagulan, konsultasikan terlebih dulu dengan
dokter terkait makanan, minuman, obat maupun suplemen yang dapat
memengaruhi kinerja antikoagulan
- Diskusikan dengan dokter anak mengenai penggunaan obat antikoagulan pada
anak-anak, agar dapat diberikan jenis obat dan dosis yang tepat.

2.7 Efek Samping


Efek sampingnya adalah perdarahan – perdarahan dan reaksi – reaksi kepekaan yang
serius, pusing, mual, anemia (Rahardja dan Tjay, 1991).

2.8 Kontraindikasi
Kontra indikasinya adalah kecenderungan untuk perdarahan, hipertensi, gangguan pada
ginjal dan penyakit – penyakit berat dari usus dan hati yang akan mengganggu resorpsi
dan produksi dari vitamin K (Rahardja dan Tjay, 1991).
3. Preformulasi Zat Aktif
Natrium Sitrat
Pemerian Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur, putih
Kelarutan Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih ,
tidak larut dalam etanol.
Konsentrasi 3,2% dan 3,8%
Stabilitas Pada pH 5 – 6
Pustaka acuan Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Jakarta:
Depkes RI
Diantari, Ni Made N., 2018, Pengaruh Penundaan Waktu
Pemeriksaan Darah Terhadap Kadar Trombosit,
Denpasar: Poltekkes Denpasar.
Kesimpulan Natrii Citras dilarutkan dalam air mendidih
Bentuk zat aktif Garam
Bentuk sediaan Larutan steril
Kemasan sediaan Botol kaca bening tertutup rapat
Cara sterilisasi Sterilisasi awal menggunakan autoklaf 121̊ C selama 15 – 30
menit/sterilisasi akhir dengan sediaan menggunakan autoklaf
suhu 121̊ C selama 15 – 30 menit.

4. Preformulasi Eksipien

a. Asam Sitrat

Pemerian Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai
halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau, rasa sangat
asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering.
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, agak
sukar larut dalam eter.
Konsentrasi 0,1% – 0,5%
Inkompatibilitas Asam sitrat inkompatibilitas dengan kalium tartrat, alkali
dengan alkali tanah, karbonat dan bikarbonat, asetat dan sulfida,
asam sitrat juga berpotensi meledak jika dikombinasikan dengan
nitrat.
Cara sterilisasi Sterilisasi akhir sediaan menggunakan autoclaf
Fungsi Zat tambahan
Pustakaacuan Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi IV, Jakarta:
Depkes RI.

b. Glucosum

Pemerian Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk hablur granul sampai
halus, putih, tidak berbau atau praktis tidak berbau, rasa sangat
asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering.
Kelarutan Sangat mudah larut dalam air, mudah larut dalam etanol, agak
sukar larut dalam eter.
Konsentrasi 0,1% – 0,5%
Inkompatibilitas Asam sitrat inkompatibilitas dengan kalium tartrat, alkali
dengan alkali tanah, karbonat dan bikarbonat, asetat dan sulfida,
asam sitrat juga berpotensi meledak jika dikombinasikan dengan
nitrat.
Cara sterilisasi Sterilisasi akhir sediaan menggunakan autoclaf
Fungsi Zat tambahan
Pustakaacuan Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi IV, Jakarta:
Depkes RI.

c. Aqua p.i
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
Kelarutan -
Konsentrasi -
Inkompatibilitas -
Cara sterilisasi Sterilisasi akhir sediaan menggunakan autoklaf
Fungsi Pelarut sediaan injeksi
Pustakaacuan Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Jakarta:
Depkes RI.

d. Carbo Adsorben
Pemerian Serbuk sangat halus, bebas dari butiran, hitam, tidak berbau,
tidak berasa.
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%)
Konsentrasi 0,1%
Inkompatibilitas Dapat menurunkan ketersediaan hayati beberapa obat seperti
loperamid dan riboflavin. Reaksi hidrolisi dan oksidasi daapt
dinaikkan
Cara sterilisasi Diaktifkan dengan oven suhu 100̊ C selama 30 menit
Fungsi Antidotum/zat penyerap pirogen
Pustakaacuan Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Jakarta:
Depkes RI

5. Pendekatan Formula

No Bahan Jumlah (%) Fungsi/ alasan penambahan bahan


1. Na citrat 1,6% Zat aktif sebagai antikoagulan (Depkes RI, 1979
tribacicum hal. 406)
2. Acidum citricum 0,47% Zat tambahan yang bersifat sinergis dengan Na
citrat tribacicum untuk mengikat ion Ca dan
membentuk kompleks Ca sitrat sehingga tidak
terjadi pembekuan darah (Depkes RI, 1979)
3. Glukosa 2,5% Pengisotonis dan membantu meningkatkan
ionisasi dari Na Citrat Tribacicum dan Asam
Sitrat. (Hope 6th ed hal.282)
4. Karboadsorben 0,1% Penyerap pirogen dan menangkap partikel asing
sehingga larutan menjadi jernih dan tidak
menyebabkan demam
5. Aquadest Add to 100 ml Pelarut
6. HCl 0,1 N qs Adjusment pH
7. NaOH 0,1 N qs Adjusment pH

6. Penimbangan Bahan

No Bahan Jumlah (g) Fungsi/ alasan penambahan bahan


1. Na citrat 1,6 g Zat aktif sebagai antikoagulan (Depkes RI, 1979
tribacicum hal. 406)
2. Acidum citricum 0,47 g Zat tambahan yang bersifat sinergis dengan Na
citrat tribacicum untuk mengikat ion Ca dan
membentuk kompleks Ca sitrat sehingga tidak
terjadi pembekuan darah (Depkes RI, 1979)
3. Glukosa 2,5 g Pengisotonis dan membantu meningkatkan
ionisasi dari Na Citrat Tribacicum dan Asam
Sitrat. (Hope 6th ed hal.282)
4. Karboadsorben 0,1 g Penyerap pirogen dan menangkap partikel asing
sehingga larutan menjadi jernih dan tidak
menyebabkan demam
5. Aquadest Add to 100 ml Pelarut
6. HCl 0,1 N qs Adjusment pH
7. NaOH 0,1 N qs Adjusment pH

 Perhitungan Tonisitas
BM Acidum citricum : 210,14
BM Na citrat tribacicum : 294,10
BM Glukosa : 198,17
Aquadest : add 100 ml x 10 = 1000 ml ~ 1 L
 Jumlah bahan
Acidum citricum : 0,47 g x 10 = 4,7 g
Na citrat tribacicum : 1,6 g x 10 = 16 g
Glukosa : 2,5 g x 10 = 25 g

= 1,41 ~ Isotonis

= 0,36
= 0,36 ~ <1,41 sehingga termasuk Hipotonis dan perlu penambahan NaCl

 Penambahan NaCl

X = 34,125 g/L (NaCl yang ditambahkan)

7. Prosedur Pembuatan
PROSEDUR NAMA ALAT/MESIN KELAS
RUANGAN
PRODUKSI
1. Larutan di cek isotonis atau tidak 1. Timbangan Kelas C dan D
isotonis.
2. Aquadest di didihkan kemuadian 2. Glassware
glukosa dilarutkan dalam keadaan
panas.
3. Asam sitrat dan Natrium tribacicum 3. Kompor listrik
dilarutkan dengan aquadest dalam
keadaan dingin.
4. Larutan glukosa dan larutan Asam 4. Batang pengaduk
sitrat + Natrium tribacicum
dicampurkan.
5. pH di cek dimana pH larutan harus 5. ph universal
masuk dalam rentang 5 – 7. Jika pH indicator paper
kurang asam ditambahkan HCl 0,1
N dan jika kurang basa
ditambahkan NaOH 0,1 N.
6. Carboadsorben diaktifkan dengan 6. Botol 100 ml
cara dipanaskan , Carboadsorben
yang telah aktif akan berwarna
merah. Kemudian dimasukkan
kedalam larutan tadi sambil diaduk
dan di add aquadest sampai 100 ml.
7. Larutan disaring menggunakan 8. Kertas saring
kertas saring, kemudian
dimasukkan ke dalam botol 100 ml
yang sebelumnya sudah di
sterilisasi.
9. Sediaan dibungkus dengan 9. Autoclave
alumunium foil, kemudian
dilakukan sterilisasi akhir dengan
menggunakan autoklaf pada suhu
120oC selama 15 menit.
10. Sediaan yang telah dingin 10. Corong kaca
dilakukan uji larutan berupa uji pH,
uji kebocoran, uji partikel asing dan
uji kejernihan.
10. Larutan di cek isotonis atau tidak 6. Timbangan Kelas C dan D
isotonis.

8. Evaluasi Sediaan
Jumlah
No Jenis Evaluasi Syarat Prinsip evaluasi
sampel
1 Uji penetapan pH 1 botol pH 4 - 8 Pengukuran pH cairan uji
(FI IV hal. 1039 – menggunakan pH meter yang
1040) telah dikalibrasi.
2 Uji partikel asing 1 botol Bebas partikel Partikel pengotor cairan
(FI IV hal. 981) asing dan serat dihitung dengan sistem
halus. elektronik yang dilengkapi
dengan sensor cahaya redup.
3 Uji kejernihan (FI 1 botol Kejernihan sama Isi dalam wadah diperiksa,
IV hal. 998) dengan air atau dilakukan di bawah cahaya
pelarut yang yang terdifusi tegak lurus ke
digunakan. arah bawah tabung dengan latar
belakang hitam.
4 Uji kebocoran 1 botol Ampul yang Ampul dimasukkan ke dalam
(Lachman III tidak bocor larutan metilen biru dalam
hal.1354) ditandai dengan ruangan vakum.
larutan yang
tetap bening.

9. Daftar Pustaka

 Anonim, 2020, Petunjuk Praktikum Formulasi dan Teknologi Sediaan Cair –


Semipadat Steril dan Nonsteril, Universitas Wahid Hasyim, Semarang.
 Ayuhastuti, A., 2016, Praktikum Teknologi Sediaan Steril, Cetakan pertama,
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 27.
 Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Jakarta: Depkes RI.
 Dirjen POM, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, Jakarta: Depkes RI. 981, 998,
1039 – 1040.
 Diantari, Ni Made N., 2018, Pengaruh Penundaan Waktu Pemeriksaan Darah
Terhadap Kadar Trombosit, Denpasar: Poltekkes Denpasar.
 Ernst, DJ., 2005, Specimen Handling, Storage and Tranportation. In : Applied
Phlebotomy, Baltimore: Lippincott Williams and Wilkins, 162-181.
 Gunawan G, S., 2012, Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, Departemen Farmakologi
dan Terapeutik FKUI, Jakarta, 804-813.
 Gunawan, G. S., 2016, Farmakologi dan Terapi, Edisi 6, Departemen Farmakologi
dan Terapeutik FKUI, Jakarta.
 Lachman, Leon. Tanpa Tahun. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi Ketiga.
Terjemahan oleh Siti Suyatmi. 1994. Jakarta: Universitas Indonesia. 1354.
 Martin A, Swarbick J, dan Cammarata A. 1993. Farmasi Fisik. Edisi Ketiga.
Diterjemahkan oleh Joshita Djaajasastra. Jakarta: Universitas Indonesia Press; p. 114-
145.
 Rahardja, K., dan Tjay, T. H., 1991, Obat – Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan
Efek – Efek Sampingnya, Edisi keempat, PT Elex Media Komputindo Kelompok
Gramedia, Jakarta, 456 - 458.
 Rowe, R. C., P. J. Sheskey, dan M. E. Quinn. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Excipients. Edisi ketujuh. Pharmaceutical Press and the American Pharmacist
Association, USA.
 Sadikin, M., 2001, Biokimia Darah, Widya Medika, Jakarta.
TUGAS
1. Apa yang dimaksud solutio antikoagulan?
Jawaban: Solutio antikoagulansia adalah sediaan cair yang mengandung zat – zat
yang dapat mencegah pembekuan darah dan digunakan pada keadaan – keadaan
dimana terdapat kecenderungan darah yang lebih kuat untuk membeku, misalnya pada
thrombosis (Rahardja dan Tjay, 1991).
2. Apa yang dimaksud keadaan isotonis?
Jawaban: Isotonis adalah suatu larutan dengan jumlah solute atau zat terlarut lebih
sedikit sehingga tekanan osmose lebih rendah (Anonim, 2020).
3. Apa yang dimaksud hipertonis?
Jawaban: Hipertonis adalah suatu larutan dengan jumlah solute atau zat terlarut lebih
banyak dari cairan badan atau cairan mata mempunyai tekanan osmose lebih besar
(Anonim, 2020). Pada tubuh pemberian larutan hipertonik dapat menyebabkan
kelebihan dalam sirkulasi dan dehidrasi di dalam sel, terjadi perpindahan cairan dari
intrasel ke ekstrasel (intravaskuler) sehingga menyebabkan sel menjadi mengkerut
(mengecil). Pemberian cairan ini dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan
ginjal, jantung dan dehidrasi berat (Rohani , 2016).
4. Apa yang terjadi pada tubuh ketika larutan hipotosis
Jawaban: Larutan / cairan Hipotosis adalah larutan yang memiliki konsentrasi zat
terlarut lebih kecil daripada konsentrasi plasma. Tujuan pemberian larutan Hipotonik
adalah untuk menggantikan cairan seluler dan menyediakan air bebas untuk ekskresi
sisa metabolisme. Pada tubuh pemberian cairan ini umumnya menyebabkan difusi
konsentrasi larutan plasma dan mendorong air masuk ke dalam sel unruk
memperbaiki keseimbangan di intrasel dan ekstrasel, sel akan membesar
/membengkak. Perpindahan cairan akan terjadi dari ekstravaskuler ke intrasel.
Pemberian cairan hipotosis yang berlebihan akan menyebebkan : Delusi cairan
intravaskuler, penurunan tekanan darah, edema seluler dan kerusakan sel
(Rohani,2016).
5. Kenapa digunakan metode sterilisasi menggunakan autoclave?
Jawaban: Metode sterilisasi panas basah dengan menggunakan autoklave dengan suhu
121⁰C dengan tekanan 15 psi, selama 15 menit. Proses sterilisasi dilakukan setelah
pembuatan larutan antikoagulan di dalam autoclave agar larutan terbebaskan dari
mikroorganisme.

Anda mungkin juga menyukai