Anda di halaman 1dari 43

2.

1 PEMERIKSAAN ASET TAK BERWUJUD (INTANGIBLE ASSETS)

1. SIFAT DAN CONTOH

Pengertian dan Sifat Aset Tidak Berwujud menurut SAK ETAP (IAI, 2009: 76)

Aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentiflkasi dan tidak mempunyai
wujud lisik. Suatu aset dapat diidentiflkasikan jika:

1. dapat dipisahkan, yaitu kemampuannya untuk menjadi terpisah atau terbagi dari ‘
perusahaan dan dijual, dialihkan, dilisensikan, disewakan atau ditukarkan melalui suatu
kontrak terkait aset atau liabilitas secara individual atau secara bersama; atau

2. muncul dari hak kontraktual atau hak hukum lainnya, terlepas apakah hak tersebut dapat
dialihkan atau dapat dipisahkan dari perusahaan atau dari hak dan kewajiban lainnya.

Aset tidak berwujud tidak termasuk:

1. efek (surat berharga), atau

2. hak atas mineral dan cadangan mineral, misalnya minyak, gas alam dan sumber
daya yang tidak dapat diperbarui lainnya.

Aset tidak berwujud diakui jika:

1. kernungkinan perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari


aset tersebut; dan

2. biaya perolehan aset atau nilai aset tersebut; dapat diukur dengan andal.

Entitas mengukur aset tidak berwujud pada awalnya sebesar biaya perolehan. Biaya
perolehan aset tidak berwujud yang diperoleh secara terpisah terdiri atas:

1. harga beli, termasuk bea impor dan pajak yang sifatnya tidak dapat dikreditkan,
setelah diskon dan potongan dagang; dan

2. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam mempersiapkan


aset sehingga siap digunakan sesuai dengan tujuannya.

Entitas harus mengakui pengeluaran internal yang terjadi atas aset tidak berwujud, termasuk
semua pengeluaran untuk aktivitas riset dan pengembangan sebagai beban pada saat terjadinya,
kecuali pengeluaran tersebut merupakan bagian dari biaya perolehan aset lainnya yang
memenuhi kriteria pengakuan dalam SAK ETAP.

Pengeluaran berikut ini harus diakui sebagai beban dan bukan sebagai aset tidak berwujud.
1. Merek, logo, judul publikasi, daftar konsumen yang dihasilkan secara internal dan hal
lain yang secara substansi serupa.

2. Aktivitas perintisan (biaya perintisan), termasuk biaya legal dan kesekretariatan dalam
rangka mendirikan entitas hukum, pengeluaran dalam rangka membuka usaha atau
fasilitas baru (biaya prapembukaan) atau pengeluaran untuk memulai operasi baru atau
meluncurkan produk atau proses baru (biaya pra-operasi).

3. Aktivitas pelatihan.

4. Aktivitas periklanan dan promosi.

5. Relokasi atau reorganisasi sebagian atau seluruh entitas.

Pengertian dan Sifat Aset Tak berwuiud menurut PSAK No. 19 (Revisi 2015) 19.2 & 19.3

Aset tak berwujud adalah aset nonmoneter teridentiflkasi tanpa wujud fisik.

Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai waiar imbalan lain
yang diserahkan untuk memperoleh aset pada saat perolehan atau konstruksi, atau iika dapat
diterapkan, jumlah yang diatribusikan ke aset saat pertama kali diakui sesuai dengan persyaratan
tertentu dalam PSAK lain, contohnya PSAK 53: Pembayaran Berbasis Saham.

Amortisasi adalah alokasi sistematis jumlah tersusutkan aset takberwujud selama umur
manfaatnya.

Jumlah tersusutkan adalah biaya perolehan aset, atau jumlah lain yang merupakan
Pengganti biaya perolehan, dikurangi nilai residunya.

Jumlah tercatat aset adalah jumlah aset yang diakui dalam Iaporan posisi keuangan
setelah dikurangi dengan akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penumnan nilai.

Nilai residu dari aset takberwujud adalah jumlah estimasian yang dapat diperoleh entitas
saat ini dari pelepasan aset, setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan aset, jika aset telah
mencapaj umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya.

Nilai spesifik entitas adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan entitas akan timbul
dari penggunaan aset secata berkelanjutan dan dari pelepasan aset tersebut pada akhir umur
manfaatnya atau yang diharapkan terjadi saat penyelesaian liabilitas.

Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang
akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada
tangal pengukuran. (Lihat PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar).

Pengembangan adalah penerapan temuan penelitian atau pengetahuan lain pada suatu
rencana atau rancangan produksi bahan baku, alat, produk, proses, sistem, atau jasa yang baru
atau yang mengalami perbaikan substansial, sebelum dimulainya produksi komersiai atau
pemakaian.

Penelitian adalah penyelidikan asli dan terencana yang dilaksanakan dengan harapan
memperoleh pembaruan pengetahuan dan pernahaman teknis atas ilmu yang baru.

Rugi penumnan nilai adalah suatu jumlah yang mempakan selisih lebih jumlah tercatat
suatu aset atas jumlah terpulihkannya.

Umur manfaat adalah:

1. periode suatu aset yang diharapkan dapat digunakan oleh entitas; atau

2. jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari suatu aset oleh
perusahan

a. Entitas sering kah' mengeluarkan sumber daya maupun menciptakan kewajiban


dalam perolehan, pengembangan, pemeliharaan, atau peningkatan sumber daya
takberwujud, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi, desain dan implementasi
sistem atau proses baru, lisensi, hak kekayaan intelektual, pengetahuan mengenai
pasar dan merek dagang (termasuk merek produk dan judul publisitas). Contoh
umum lainnya: peranti lunak komputer, paten, hak cipta, film, daftar pelanggan,
hak pelayanan jaminan, izin penangkapan ikan, kuota impor, waralaba, hubungan
dengan pemasok atau pelanggan, loyalitas pelanggan, pangsa pasar, dan hak
pemasaran.

b. Tidak semua unsur yang dijelaskan di atas memenuhi definisi aset takberwujud,
yaitu keteridentifikasian, pengendalian, atas sumber daya dan adanya manfaat
ekonomi masa depan. Iika suatu unsur dalam ruang lingkup pernyataan ini tidak
memenuhi definisi aset takbexwujud, maka pengeluaran untuk memperoleh atau
menciptakan aset (secara internal) diakui sebagai beban pada saat terjadinya,
Namun, jika unsur tersebut diperoleh dalam suatu kombinasi bisnis, maka unsur
tersebut diperlakukan sebagai bagian dari goodwill pada tanggal akuisisi.

c. Dalam defmisi aset takberwujud terdapat kriteria bahwa keteridentinasian aset


takberwujud dapat dibedakan secara jelas dengan goodwill. Goodwill dalam suatu
kombinasi bisnis diakui sebagai aset yang menggambarkan manfaat ekonomi
masa depan yang muncul dari aset lain yang diakuisisi dalam kombinasi bisnis
tersebut yang tidak diidentiflkasikan secara individual dan diakui secara terpisah.
Manfaat ekonomi masa depan dapat dihasilkan dari sinergi antara aset
teridentifikasi yang diperoleh atau dari aset, yang secara individual, tidak
memenuhi syarat untuk diakui dalam laporan keuangan.
d. Manfaat ekonomi masa depan yang timbul dari aset takberwujud dapat mencakup
pendapatan dari penjualan barang atau jasa, penghematan biaya, atau manfaat lain
yang berasal dari penggunaan aset oleh entitas. Misalnya, penggunaan hak
kekayaan intelektual dalam suatu proses produksi tidak meningkatkan pendapatan
masa depan, tetapi mengurangi biaya produksi masa depan.

e. Pengakuan suatu pos sebagai aset takberwujud, mensyaratkan perusahaan untuk


menunjukkan bahwa pos tersebut memenuhi:

1) definisi aset takberwujud; dan

2) kriteria pengakuan sebagaimana diatur dalam pernyataan ini.

Persyaratan ini diterapkan atas biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau mengembangkan
secara internal aset takberwujud dan biaya yang tetjadi kemudian untuk menambah, mengganti
sebagian, atau memperbaiki aset tersebut.

1. Aset takberwujud diakui jika, dan hanya jika:

a. kemungkinan besar entitas akan memperoleh manfaat ekonomi masa depan dari
aset tersebut; dan b. biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara andal.

2. Dalam menilai kemungkinan adanya manfaat ekonomi masa depan, entitas menggunakan
asumsi rasional dan dapat dipertanggungjawabkan yang merupakan estimasi terbaik
manajemen atas kondisi ekonomi yang berlaku sepanjang umur manfaat aset tersebut.

3. Dalam menilai tingkat kepastian adanya manfaat ekonomi masa depan yang timbul dari
penggunaan aset takberwujud, entitas mempertimbangkan bukti yang tersedia pada saat
pengakuan awal aset takberwujud dengan memberikan penekanan yang lebih besar pada
bukti ekstern.

4. Aset takberwuiud pada awalnya harus diakui sebesar biaya perolehan.

Menurut penulis, sifat aset takberwujud adalah:

1. mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun;

2. tidak mempunyai bentuk, sehingga tidak bisa dipegang atau diraba atau dilihat;

3. diperoleh dengan mengeluarkan sejumlah uang tertentu yang jumlahnya cukup material.

Contoh:

1. GoodwilI-timbul pada suatu perusahaan pada waktu membeli suatu perusahaan lain di
atas harga yang berlaku untuk aset netonya setelah dikurangi biaya-biaya, karena
perusahaan yang dibeli mempunyai keunggulan tertentu.
2. Hak Paten-jika suatu perusahaan atau seseorang menemukan suatu produk baru setelah
melakukan riset selama beberapa waktu dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar.
Untuk itu ia dapat mendaftarkan produk ciptaannya ke Direktorat Hak Paten, untuk
memperoleh Hak Paten, sehingga orang lain tidak dapat membuat produk yang sama,
kecuali orang tersebut sudah membeli hak paten tersebut atau membayar royalti kepada
pemilik hak paten.

3. Hak Cipta (copy right) yang diberikan kepada seseorang yang mencipta lagu atau
mengarang buku.

4. Franchise-misalnya Kentucky Fried Chicken, MC Donald, Es Teller '77. Iika seseorang


ingin menjual makanan atau minuman dengan rasa, bentuk, cara penyajian, dan dekorasi
yang sama, terlebih dahulu harus membeli hakji'anchise.

2. TUJUAN PEMERIKSAAN (AUDIT OBJECTIVES) ASET TAK BERWUJUD

Tujuan pemeriksaan aset tak berwujud adalah sebagai berikut.

1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas aset tak
berwujud.

2. Untuk memeriksa apakah perolehan, penambahan dan penghapusan aset tak berwujud,
didukung oleh bukti-bukti yang sah dan lengkap serta diotorisasi oleh pejabat
perusahaan yang berwenang.

3. Untuk memeriksa apakah aset tak berwujud yang dimiliki perusahaan masih mempunyai
kegunaan di masa yang akan datang (manfaatnya lebih dari satu tahun).

4. Untuk memeriksa apakah amortisasi aset tak berwujud dilakukan sesuai dengan standar
akuntansi keuangan ETAP/PSAK/IFRS.

5. Untuk memeriksa apakah hasil/pendapatan yang diperoleh dari aset takberwujud sudah
dicatat dan diterima oleh perusahaan.

6. Untuk memeriksa apakah penyajian aset takberwujud dalam laporan keuangan sudah
dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan ETAP/ PSAK/IFRS.

Penjelasan atas tujuan pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas aset
takberwujud.

Dalam hal ini auditor cukup menggunakan internal control questionnaires (ICQ). .Contoh
ICQ untuk aset takberwujud bisa dilihat di Exhibit 15-1. Beberapa ciri in temal control
yang baik atas aset takberwujud adalah:
a. adanya sistem otorisasi dalam penambahan dan penghapusan aset takberwujud;

b. adanya internal auditor yang memeriksa kelengkapan bukti pendukung dari perolehan
dan penambahan aset takberwujud, serta otorisasinya.

2. Untuk memeriksa apakah perolehan, penambahan, dan penghapusan aset


takberwujud, didukung oleh bukti-bukti yang sah dan lengkap serta diotorisasi oleh
pejabat perusahaan yang berwenang.

Misalnya, untuk memperolehfi‘anchise apakah ada perjanjianfranchise-nya, serta apakah


sudah diotorisasi oleh direksi.

3. Untuk memeriksa apakah aset takberwujud yang dimiliki perusahaan masih


mempunyai kegunaan di masa yang akan datang.

Untuk menaksir masa manfaat aset takberwujud harus dipertimbangkan antara


lain:

a. ketentuan hukum, peraturan, perjanjian yang membatasi masa manfaat maksimum;

b. kemungkinan untuk memperbarui atau memperpanjang batas masa manfaat yang telah
ditentukan; ' pengaruh keusangan, permintaan, persaingan, dan faktor perubahan ekonomi
dan teknologi yang memengaruhi masa manfaat.

4. Untuk memeriksa apakah amortisasi aset takberwuiud yang dimiliki perusahaan


sesuai dengan standar akuntansi keuangan ETAP/PSAK/IFRS.

Menurut SAK ETAP (IAI, 2009) 80

Entitas harus mengalokasikan jumlah yang dapat disusutkan dari aset tidak berwujud
secara sistematis selama umur manfaatnya. Beban amortisasi untuk setiap periode harus diakui
sebagai beban.

Amortisasi dimulai ketika aset siap digunakan, yaitu aset tersebut berada di alokasi dan
kondisi yang dibutuhkan untuk mampu beroperasi sesuai dengan keinginan manajemen.
Amortisasi dihentikan ketika aset dihentikan-pengakuannya. Entitas harus memilih metode
amortisasi yang mencerminkan pola pemanfaatan aset di masa mendatang. Jika entitas tidak
dapat menetapkan pola yang andal, maka entitas harus menggunakan metode garis lurus. Entitas
harus mengukur aset tidak berwujud pada biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan
akumulasi rugi penurunan nilai.

Semua aset tidak berwujud dianggap mempunyai umur manfaat yang terbatas. Umur
manfaat aset tidak berwujud yang berasal dari hak kontraktual atau hak hukum lainnya tidak
boleh melebihi periode hak kontraktual atau hak hukum tersebut, tetapi
mungkjn lebih pendek tergantung pada lamanya periode ekspektasi penggunaan aset tersebut.
Iika hak konraktual atau hak hukum lainnya untuk masa yang terbatas dapat diperbarui, maka
umur manfaat aset tidak berwujud harus termasuk periode yang diperbarui hanya jika terdapat
bukti yang mendukung pembaruan oleh entitas tanpa biaya yang signifikan.

Jika entitas tidak mampu mengestimasi umur manfaat suatu aset tidak berwujud, maka
umur manfaatnya dianggap 10 tahun.

Menurut PSAK No. 19 (Revisi 2015) 19.34

 Jumlah tersusutkan aset takberwujud dengan umur manfaat terbatas dialokasikan secara
sitematis selama umur manfaatnya. Amortisasi dimulai ketika aset tersedia untuk
digunakan, yakni ketika aset berada pada lokasi dan dalam kondisi untuk beroperasi
sesuai dengan cara yang dimaksudkan oleh manajemen. Amortisasi dihentikan pada
waktu mana yang lebih dulu antara ketika aset tersebut digolongkan sebagai aset yang
dimiliki untuk dijual (atau termasuk dalam kelompok aset lepasan yang dikelompokkan
dalam aset yang dimiliki untuk dijual) sesuai dengan PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak
Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan Tanggal ketika Aset
Dihentikan Pengakuannya. Metode amortisasi yang digunakan menggambarkan pola
konsumsi entitas atas manfaat ekonomi masa depan diharapkan. Jika pola tersebut tidak
dapat ditentukan secara andal, maka digunakan metode garis lurus. Amortisasi yang
dibebankan untuk setiap periode diakui dalam laporan laba rugi kecuali Pernyataan ini
atau PSAK lain mengizinkan atau mensyaratkan amortisasi tersebut dimasukkan dalam
jumlah tecatat aset lain.

 Terdapat berbagai metode amortisasi untuk mengalokasikan jumlah tersusutkan aset atas
dasar yang sistematis selama umur manfaatnya. Metode tersebut mencakup metode garis
lurus, metode saldo menurun dan metode unit produksi. Metode yang digunakan dipilih
berdasarkan pada pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dan
diterapkan secara konsisten dari periode ke periode, kecuali terdapat perubahan dalam
perkiraan pola konsumsi tersebut.

 Nilai residu aset takberwujud dengan umur manfaat tidak terbatas diasumsikan sama
dengan n01, kecuali:

o ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aset takberwujud tersebut pada
akhir umur manfaatnya; atau

o ada pasar aktif bagi aset takberwujud tersebut, dan:

 nilai residu aset takberwujud dapat ditentukan dengan mengacu pada


harga yang berlaku di pasar tersebut; dan
 terdapat kemungkinan besar bahwa pasar akan tetap tersedia sampai akhir
umur manfaat aset tersebut.

5. Untuk memeriksa apakah hasil/pendapatan yang diperoleh dari aset takberwujud


sudah dicatat dan diterima oleh perusahaan.

Contohnya, perusahaan mempunyai hak paten, copy right atau franchise dan
memberikan/menjual aset takberwujud tersebut kepada pihak ketiga, maka auditor harus
yakin bahwa pendapatan berupa royalti betul-betul sudah dicatat dan diterima oleh
perusahaan.

6. Untuk memeriksa apakah penyaiian aset takberwuiud dalam lapot keuangan sudah
dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan Indonesia
ETAP/PSAK/IFRS.

Menurut SAK ETAP (IAI, 2015) 19.20

Entitas harus mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap kelompok aset tidak berwujud.

(a) Umur manfaat atau tarif amortisasi yang digunakan.

(b) Metode amortisasi yang digunakan.

(c) Jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi pada awal dan akhir periode.

(d) Unsur pada laporan laba rugi yang di dalamnya terdapat amortisasi aset tidak berwujud.

(e) Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan,
pelepasan, amortisasi, dan perubahan lainnya secara terpisah.

Entitas juga harus mengungkapkan:

a) penjelasan, jumlah tercatat dan sisa periode amortisasi dari setiap aset tidak berwujud
yang material bagi laboran keuangan entitas;

b) keberadaan dan jumlah tercatat aset tidak berwujud yang hak penggunaannya dibatasi
dan jumlah tercatat aset tidak berwujud yang ditentukan sebagai jaminan atas uang;

c) jumlah komitmen untuk memperoleh aset tidak berwujud.

Menurut PSAK N0. 19 (Revisi 2010) 19.40

1. Entitas mengungkapkan hal berikut untuk setiap kelompok aset takberwujud, dipisahkan
antara aset takberwujud yang dihasilkan secara internal dan aset takberwujud lain:

a. umur manfaat tidak terbatas atau terbatas dan, jika umur manfaat terbatas diungkapkan,
tingkat amortisasi yang digunakan atau umur manfaatnya;
b. metode amortisasi yang digunakan untuk aset takberwujud dengan umur manfaat
terbatas;

c. jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi (secara agregat dengan akumulasi rugi
penurunan nilai) pada awal dan akhir periode;

d. pos dalam laporan laba rugi komprehensifyang mana amortisasi aset takberwujud
termasuk di dalamnya;

e. rekonsiliasi atas jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:

1) penambahan, yang secara terpisah mengindikasikan aset takberwujud dari


pengembangan internal, diperoleh secara terpisah, dan diperoleh melalui
kombinasi bisnis;

2) aset yang dikelompokkan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual atau termasuk
dalam kelompok aset lepasan yang dikelompokkan sebagai dimiliki untuk dijual
sesuai dengan PSAK 58 (revisi 2009): Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk
Dijual dan Operasi yang Dihentikan dan Pelepasan Lain;

3) peningkatan atau penurunan selama periode yang berasal dari revaluasi sesuai
dengan dijelaskan di atas dari pengakuan rugi penurunan nilai atau pembalikan di
pendapatan komprehensif lain sesuai dengan PSAK 48 (revisi 2009): Penurunan
Nilai Aset (jika ada);

4) rugi penurunan nilai yang diakui dalam rugi laba selama periode sesuai dengan
PSAK 48 (jika ada);

5) rugi penurunan nilai yang dibalik dalam rugi laba selama periode sesuai dengan
PSAK 48 (jika ada);

6) setiap amortisasi yang diakui selama periode;

7) selisih kurs neto yang timbul dari nilai penjabaran laporan keuangan suatu ke
mata uang penyajian, dan penjabaran Operasi luar negeri ke mata uang penyajian
yang digunakan perusahaan; dan

8) pembahan lain pada jumlah tercatat aset tersebut selama periode.

2. Suatu kelompok aset takberwujud adalah pengelompokan aset yang memiliki sifat dan
digunakan yang serupa dalam kegiatan Operasi entitas. Contoh dari kelompok terpisah
mencakup:

a. nama merek;

b. kepala surat kabar dan judul publisitas;


c. peranti lunak komputer;

d. lisensi dan waralaba;

e. hak cipta, paten, dan hak kekayaan intelektual industri lain, serta hak operasional dan
penyediaan jasa lain; ,

f. resep, formula, model, desain, dan purwarupa; dan

g. aset takberwujud dalam pengembangan.

Klasiflkasi tersebut dipisah (atau digabung) menjadi kelompok lebih kecil (atau lebih besar) jika
hal tersebut menghasilkan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan.

1. Entitas mengungkapkan informasi mengenai penurunan nilai aset takberwujud sesuai dengan
dengan PSAK 48 (revisi 2015).

2. PSAK 25 (revisi 2015): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan
mensyaratkan entitas untuk mengungkapkan sifat dan jumlah perubahan dalam estimasi
akuntansi yang memiliki pengaruh internal pada periode kini atau diharapkan memiliki
pengaruh material pada periode selanjutnya. Pengungkapan tersebut mungldn timbul akibat
dari perubahan dalam:

a. penilaian umur manfaat aset takberwujud;

b. metode amortisasi; atau

c. nilai residu.

3. Entitas juga mengungkapkan:

a. untuk aset takberwujud yang dinilai dengan umur manfaat tidak terbatas, jumlah tercatat aset
dan alasan yang mendukung penialian umur manfaat tidak terbatag tersebut. Dalam
memberikan alasan, entitas menjelaskan faktor signifikan dalam menentukan aset yang
memiliki umur manfaat tidak terbatas;

b. penjelasan, jumlah tercatat dan sisa periode amortisasi dari setiap aset takberwujud yang
material terhadap laporan keuangan entitas;

c. untuk aset aset takberwujud yang diperoleh melalui hibah pemerintah dan awalnya diakui pada
nilai wajar:

(i). nilai wajar pada pengakuan awal atas aset tersebut;

(ii) jumlah tercatatnya; dan

(iii) aset tersebut diukur setelah pengakuan awal dengan model biaya atau model revaluasi.
d. keberadaan dan jumlah tercatat aset takberwujud yang kepemilikannya dibatasi dan jumlah
tercatat aset takberwujud yang menjadi jaminan untuk liabilitas.

e. nilai komitmen kontaktual untuk akuisis aset takberwujud.

4. Entitas mengungkapkan nilai agregat dari pengeluaran penelitian dan pengembangan yang
diakui sebagai beban selama periode.

5. Pengeluaran penelitian dan pengembangan terdiri dari seluruh pengeluaran yang dapat
diatribusikan secara langsung pada kegiatan penelitian dan pengembangan.

6. Entitas dianiurkan, namun tidak diharuskan, untuk mengungkapkan informasi:

a. penjelasan mengenai aset takberwujud yang telah diamortisasi seluruhnya tetapi masih
digunakan; dan

b. penjelasan mengenai aset takberwujud signifnkan yang dikendalikan oleh Entitas namun
tidak diakui sebagai aset karena tidak memenuhi kn'teria pengakuan dalam pernyataan ini
atau karena aset tersebut diperoleh atau dihasilkan sebelum PSAK 19 (revisi zooo): Aset
Tidak Berwujud Efektif Diberlakukan.

3. AUDIT PROSEDUR ATAS ASET TAK BERWUJUD

1. Pelajari dan evaluasi internal control atas aset tak berwujud.

2. Minta perincian aset tak berwujud per tanggal laporan posisi keuangan (neraca) yang antara
lain menunjukkan:

a. saldo awal, penambahan, amortisasi dan penghapusan serta saldo akhir.

3. Cocokkan saldo awal dan saldo akhir ke buku besar, lalu checkfooting dan cross footing.

4. Periksa penambahan aset takberwujud:

a. apakah diotorisasi pejabat entitas yang berwenang.

b. periksa notulen rapat direksi/pemegang saham, untuk mengetahui apakah otorisasi


tersebut diberikan melalui rapat tersebut.

c. periksa keabsahan dan kelengkapan bukti-bukti pendukungnya.

5. Periksa amortisasi dan penghapusan (jika ada) aset takberwujud. Periksa apakah amortisasi
dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia ETAP/PSAK/IFRS dan
perhitungannya akurat. Jikaadaaset takberwujud yang dihapuskan, misalnyagoodwill,
kamenau'dak lagi mempunyai kegunaan, maka hams diperiksa otorisasi dari pejabat entitas
yang berwenang.
6. Periksa perjanjian-perjanjian yang dibuat entitas dengan pihak ketiga yang ingin menggunakan
hak paten, hak cipta, danfranchise yang dimiliki perusahaan. Periksa apakah pendapatan dari
perjanjian tersebut (dalam bentuk royaltyfee) sudah dicatat dan diterima oleh perusahaan.

7. Periksa apakah penyajian aset takberwujud dalam laporan keuangan sudah sesuai dengan
standar akuntansi keuangan di Indonesia ETAP/PSAK/IFRS.

Penjelasan atas audit prosedur aset tak berwujud.

1. Pelajari dan evaluasi internal control atas aset tak berwujud.

Biasanya dilakukan dengan menggunakan internal control questionnaires, contohnya bisa dilihat
di Exhibit 15-1. Jika auditor menyimpulkan bahwa internal control atas aset tak berwujud adalah
baik, maka ruang lingkup (scope) pemeriksaan bisa dipersempit.

2. Minta rincian aset takberwujud per tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

Contoh rincian bisa dilihat di Exhibit 15-2.

Penambahan aset takberwujud bisa berasal dari pembelian (goodwill, hak paten) atau perusahaan
melakukan riset untuk membuat produk-produk baru, yang jika dianggap marketable bisa
diurus (didapatkan) hak patennya ke Direktorat Hak Paten, sehingga perusahaan lain tidak
boleh membuat produk yang sama, kecuali membayar royalti kepada pemegang hak paten.

Audit prosedur 3, 4, dan 5 sudah cukup jelas.

6. Periksa perjanjian-perjanjian yang dibuat perusahaan dengan pihak ketigaan periksa


apakah pendapatan dari perjanjian tersebut sudah dicatat dan diterima perusahaan.
Perjanjian untuk menjual/menyewakan hak paten, hak cipta dan franchise milik perusahaan
kepada pihak ketiga, biasanya dilakukan di hadapan notaris, karena itu auditor harus memint
copy perjanjian tersebut untuk permanent 191a Untuk royalti yang diperoleh harus diperiksa
apakah sudah dikenakan PPh 23 sesuai dengan peraturan pajak yang berlaku. Selain itu
auditor harus memeriksa buku penerimaan kas (bank) untuk mengetahui apakah pendapatan
dari penjualan/penyewaan tersebut sudah diterima oleh perusahaan dan dicatat di buku
perusahaan.

7. Periksa apakah penyajian aset takberwujud dalam laporan keuangan sudah sesuai
dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia ETAP/PSAK/IFRS.

Dalam hal ini entitas harus mencatat perolehan/penambahan aset takberwujud sebesar harga
perolehannya. Di laporan posisi keuangan (neraca) aset takberwujud disajikan sebesar nilai
netonya, setelah diamortisasi. Sedangkan di catatan atas laporan keuangan harus dijelaskan
antara lain: saldo aset takberwujud terdiri dari apa saja, dengan mencantumkan nilai neto dari
masing-masing jenis aset takberwujud, dan metode serta periode amortisasinya. Di kertas kerja
pemeriksaan aset takberwujud auditor harus mencantumkan kesimpulan pemeriksaannya
mengenai kewajaran saldo perkiraan aset takberwujud,

exhibit 15-1 Contoh Internal Control Questionnnaires Aset Tak berwujud

Klien Y=ya
T=Tidak

TR= tidak relevan


1. Apakah setiap penambahan dan pengurangan aset takberwujud √
diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang?
2. Apakah setiap penambahan aset takberwujud didukung oleh buktibukti
yang sah dan lengkap:

o bukti pengeluaran kas; √

o kuitansi pembayaran; √

o perjanjian dengan pihak ketiga. √

3. Apakah amortisasi tak berwujud sesuai dengan SAK di Indonesia


(ETAP/PSAK/IFRS) dan konsisten dengan tahun lalu? √

Metode yang digunakan: Straight line Periode amortisasi : 20 tahun


dan10 tahun

4. Apakah aset takberwujud yang dijual atau disewakan kepada pihak


ketiga, seperti hak paten, copy right, franchice:

o didukung oleh suatu kontrak? √

o diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang? √

o royalti atau hasil penjualan sudah dicatat di buku perusahaan dan √


uangnya diterima oleh perusahaan?

o pajak penghasilan sudah dibayar sesuai dengan peraturan yang


berlaku? √

Kesimpulan penilaian: Baik

Revisi kesimpulan penilaian (lampirkan alasannya)

Diisi oleh: Tanggal


Di-review oleh: Tanggal
Exhibit 15-2 Contoh Kertas Kerja Pemeriksaan Aset Takberwujud

Saldo Awal 1-1-2011 Rp. 325.000.000


V/
Penambahan tahun 2011
Tanggal No. Bukti Keterangan Jumlah
13-07-15 BK106/VII/15 Pembelian hak paten Rp5oo.ooo.ooo V0
untuk produk baru
17-12-15 BK77/XII/15 Pembelian copy right Rp.100.000.000 V0
untuk buku baru
Rp6oo.ooo.ooo
˄
pengurangan tahun 2015
Amortisasi:
o Goodwill ex PT A 5% x Rp6oo.ooo.ooo = Rp30.ooo.ooo
˄
o Hak paten 10% x 6/12 x Rp5oo.ooo.ooo = Rp25.ooo.ooo
˄
Penghapusan:
o Goodwill ex PT B Rp25.ooo.ooo j
(Rp80.ooo.ooo)
˄
Saldo per buku 31-12-2015 Rp845.ooo.ooo L
˄

Vo Periksa Bukti pengeluaran kas dan perjajian Saldo awal terdiri dari:
V/ Cocokkan dengan KKP tahun lalu o Goodwill ex PT A dengan biaya
L Cocokkan dengan buku besar Rp6oo.ooo.ooo sudah diamortisasi 10
tahun (sisa Rp300.ooo.ooo)
˄ Check footing/perkalian o Goodwill ex PT B dengan biaya
J Periksa journal entry dan otorisasi direksi RP100.000.000 sudah diamortisasi 15
tahun (sisa Rp25.ooo.ooo)
DIBUAT OLEH: DI-REVIEW: KLIEN: PT PERIODE: INDEKS:
RENIKU

TANGGAL:15/1/2016 TANGGAL: SCHEDULE: 31/12/2015 L


22/1/2016 Aset
Takberwujud
2.2 LIABILITAS JANGKA PENDEK (CURRENT LIABILITIES)

1. SIFAT DAN CONTOH LIABILITAS JANGKA PENDEK

Menurut SAK ETAP (IAI, 2009:172) Liabilitas (obligation) kini entitas yang timbul dari
peristiwa lalu, penyelesaianny diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya entitas
yang mengandung manfaat ekonomi.

Penyelesaian liabilitas masa kini biasanya melibatkan pembayaran kas, penyerahan aset
lain, pemberian jasa, penggantian liabilitas tersebut dengan liabilitas lain, atau konversi liabilitas
menjadi ekuitas. Liabilitas juga dapat dihapuskan dengan cara lain, seperti kreditur
membebaskan atau membatalkan haknya.

Menurut PSAK (IAI, 2015:9,11)

Liabilitas merupakan utang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang
mengandung manfaat ekonomis.

Pembelian barang atau penggunaan jasa menimbulkan utang usaha dan penerimaan
pinjaman bank menimbulkan kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut.
Penyelesaian kewajiban masa kini biasanya melibatkan perusahaan untuk mengorbankan sumber
daya yang memiliki manfaat masa depan demi untuk memenuhi tuntutan pihak lain.
Penyelesaian kewajiban yang ada sekarang dapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagai
contoh dengan:

a. pembayaran kas;

b. penyerahan aset lain;

c. pemberian jasa;

d. pergantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain; atau e. konversi kewajiban menjadi
ekuitas.

Kewajiban juga dapat dihapuskan dengan cara lain seperti kreditor membebaskan atau
membatalkan haknya.

Pengakuan Liabilitas (PSAK 2015:16)

Liabilitas diakui dalam laporan posisi keuangan jika besar kemungkinan bahwa
pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomis akan dilakukan untuk
menyelesaikan kewajiban saat ini dan jumlah yang Harus diselesaikan dapat diukur dengan
andal.
Menurut Penulis

Liabilitas jangka pendek adalah liabilitas perusahaan kepada pihak ketiga, yang jatuh tempo atau
harus dilunasi dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun, atau dalam satu siklus operasi
normal perusahaan, biasanya dengan menggunakan aset lancar (current assets) perusahaan.

Beberapa contoh liabilitas jangka pendek adalah sebagai berikut.

1. Utang Usaha (Accounts Payable)

Utang usaha yaitu kewajiban kepada pihak ketiga yang berasal dari pembelian barang atau
jasa secara kredit yang hams dilunasi dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun.

2. Pinjaman dari Bank (Short Term Loan)

Pinjaman dari bank yaitu pinjaman yang diperoleh dari bank dan didukung oleh suatu
perjanjian kredit (loan agreement), bisa dalam bentuk kredit modal kerja (working capital
loan) ataupun kredit rekening koran (overdrafl‘facility). Kredit modal kerja diperlukan
perusahaan untuk membiayai kegiatan rutinnya seperti membeli bahan baku, barang dagangan
dan lain-lain. Bunga kredit modal kerja dihitung dari jumlah kredit yang diberikan bank
(plafon kredit). Kredit rekening koran juga diperlukan untuk membiayai kegiatan rutin
perusahaan, tetapi bunganya dihitung dari saldo kredit yang digunakan bukan dari plafon
kredit.

3. Bagian dari Kredit )angka Paniang yang Iatuh Tempo dalam Waktu Kurang atau Sama
dengan Satu Tahun (Current Portion of Long Term Loan)

Per tanggal laporan posisi keuangan, bagian dari liabilitas jangka panjang yang jatuh tempo
satu tahun yang akan datang harus direklasifikasi dari liabilitas jangka panjang ke liabilitas
jangka pendek.

Catatan: Menurut SAK ETAP (IAI, 2009): istilah yang digunakan adalah Neraca, sedangkan
menurut Omnibus Statement (IAI, 2011): istilah yang digunakan adalah laporan posisi
keuangan.

4. Utang Pajak (Taxes Payable)

Utang pajak yaitu kewajiban pajak perusahaan yang harus dilunasi dalam periode berikutnya,
misalnya utang PPh 21 (pajak penghasilan atas gaji, upah, honorarium), PPh 25 (pajak
penghasilan badan), PPN (pajak pertambahan nilai), dan lain-lain.

5. Biaya yang Masih Hams Dibayar (Accrued Expenses)

Biaya yang masih hams dibayar yaitu biaya yang sudah terjadi dan menjadi beban periode
yang diperiksa, tetapi baru akan dilunasi dalam periode berikutnya. Misalnya biaya gaji, biaya
listrik, telepon, air, dan lain-lain. Perlu diingat bahwa dalam pencatatan akuntansinya
perusahaan harus menggunakan accrual basis, bukan cash basis.

6. Voucher Payable (glalam ha] digunakan voucher system)

7. Utang Dividen (Dividend Payable)

8. Pendapatan yang Diterima di Muka (Unéarned Revenue)

9. Uang Muka Penjualan

10. Utang Pemegang Saham

11. Utang Leasing (Kewajiban Sewa) yang latuh Tempo Satu Tahun yang Akan Datang

12. Utang Bunga 13Utang Perusahaan Aflliasi (Utang dalam Rangka Hubungan Khusus)

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memeriksa liabilitas jangka pende adalah
sebagai berikut.

1. Kecenderungan perusahaan untuk mencatat liabilitasnya lébih rendah dari yang Sebenarnya
(understatement of liabilities) dengan tujuan untuk melaporkan laba lebih besar dari jumlah
yang sebenarnya. Misalnya dengan tidak mencatat sebagian biaya dan pembelian barang
dagangan/ bahan baku yang belum dibayar. Untuk itu auditor harus melakukan prosedur yang
disebut “searching of unrecorded liabilities”, dengan cara memeriksa pembayaran sesudah
tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

2. Perbedaan antara accounts payable dan accrued expenses.

Accounts payable angkanya lebih pasti karena perusahaan mencatat kewajibannya


berdasarkan invoice yang diterimanya dari supplier. Accrued expenses angkanya didasarkan
pada estimasi, sehingga jumlahnya kurang pasti dibandingkan accounts payable.

2. TUJUAN PEMERIKSAAN (A UDIT OBJECTIVES) LIABILITAS JANGKA PENDEK

Tujuan pemeriksaan liabilitas jangka pendek adalah untuk memeriksa apakah:

l. terdapat internal control yang baik atas liabilitas jangka pendek;

2. liabilitas jangka pendek yang tercantum di laporan posisi keuangan (neraca) didukung oleh
bukti-bukti yang lengkap dan berasal dari transaksi yang betul~ betul terjadi;

3. semua liabilitas jangka pendek perusahaan sudah tercatat per tanggal laporan posisi keuangan
(neraca);

4. accrued expenses jumlahnya reasonable (masuk akal/wajar) atau tidak, dalam arti tidak terlalu
besar dan tidak terlalu kecil. Karena kalau jumlahnya terlalu besar berarti laba akan
dilaporkan terlalu kecil (understated) dan kalau accrued expenses terlalu kecil berarti laba
akan dilaporkan terlalu besar (overstated);

5. kewajiban sewa (leasing), jika ada, sudah dicatat sesuai dengan standar akuntans' sewa guna
usaha (PSAK No. 30 Revisi 2015 tentang Sewa);

6. seandainya ada liabilitas jangka pendek dalam mata uang asing per tanggal laporan posisi
keuangan (neraca), sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah
Bank Indonesia per tanggal laporan posisi keuangan (neraca) dan selisih kurs yang terjadi
sudah dibebankan/dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan;

7. biaya bunga dan bunga yang terutang dari liabilitas jangka pendek telah dicatat per tanggal
laporan posisi keuangan (neraca);

8. biaya bunga liabilitas jangka pendek yang tercatat pada tanggal laporan posisi keuangan
(neraca) betul telah terjadi, dihitung secara akurat dan merupakan beban perusahaan;

9. semua persyaratan dalam perjanjian kredit telah diikuti oleh perusahaan sehingga tidak terjadi
“bank default”;

10. penyajian liabilitas jangka pendek di dalam laporan posisi keuangan (neraca) dan catatan atas
laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia ETAP/SAK/IFRS.

Penjelasan atas Tujuan Pemeriksaan Liabilitas Iangka Pendek

1. Memeriksa apakah terdapat internal control yang baik atas liabilitas jangka pendek.

Jika internal control atas liabilitas jangka pendek disimpulkan oleh auditor cukup baik maka
ruang lingkup pemeriksaan atas liabilitas jangka pendek dapat dipersempit dan sebaliknya jika
disimpulkan lemah, ruang lingkup pemeriksaan harus diperluas. Perlu diperhatikan beberapa
ciri internal control yang baik atas liabilitas jangka pendek.

a. Adanya pemisahan tugas antara bagian pembelian, bagian penerimaan barang, bagian
gudang, bagian akuntansi, dan bagian keuangan.

b. Digunakannya formulir-formulir yang bernomor urut tercetak (prenumbered) untuk


permintaan pembelian (purchase requisition), order pembelian (purchase order), dan
laporan penerimaan barang (receiving report).

c. Adanya sistem otorisasi untuk pembelian maupun pelunasan utang.

d. Digunakannya sistem tender untuk pembelian dalam jumlah yang besar, di mana beberapa
supplier diundang untuk memasukkan penawaran tertulis dalam amplop tertutup ke panitia
tender.
e. Dibuatnya buku tambahan (subsidiary ledger) untuk utang usaha, dan setiap akhir bulan
jumlah saldo utang usaha menurut subsidiary ledger harus dibandingkan (direconcile)
dengan saldo utang usaha menurut general ledger yang merupakan perkiraan pengendali
(controlling account).

f. Jumlah barang yang dicantumkan dalam faktur pembelian (supplier invoice) harus
dibandingkan dengan jumlah yang dilaporkan dalam receiving report dan purchase order,
untuk mencegah pembayaran atas barang yang dibeli melebihi jumlah barang yang dipesan
dan yang diterima.

g. Faktur pembelian dan dokumen pembelian lainnya harus dicap lunas (stamp paid) untuk
menghindari digunakannya dokumen-dokumen tersebut untuk proses pembayaran yang
kedua kalinya.

2. Memeriksa apakah liabilitas jangka pendek yang tercantum di laporan posisi keuangan
(neraca) didukung oleh bukti-bukti yang lengkap dan berasal dari transaksi yang betul-
betul terjadi.

Jika liabilitas jangka pendek merupakan utang usaha, yang berasal dari pembelian secara
kredit, maka utang tersebut harus didukung oleh bukti-bukti yang lengkap, seperti: purchase
requisition, purchase order, supplier invoice, dan receiving report. Selain itu, pembelian
tersebut harus diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang, misalnya manajer
pembelian, dan manajer akuntansi dan keuangan. Jika liabilitas jangka pendek berupa utang
dividen, maka harus didukung o e notulen rapat umum pemegang saham yang memberikan
otorisasi untuk pembagia dividen. Jika berupa kredit bank, harus didukung oleh perjanjian
kredit dan notulen rapat direksi yang memberikan otorisasi untuk peminjaman uang dari bank.
Begit juga jika berupa utang pemegang saham, harus didukung oleh perjanjian kredit_ Iika
ada utang pemegang saham, maka tidak boleh ada setoran modal yang belum dilunasi oleh
pemegang saham.

3. Memeriksa apakah semua liabilitas jangka pendek perusahaan sudah tercatat pada
tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

Dalam hal ini auditor harus meyakinkan diri bahwa tidak ada unrecorded liabilities. Untuk itu
auditor harus memeriksa semua perjanjian yang dibuat perusahaan dengan pihak ketiga,
memeriksa notulen rapat direksi dan pemegang saham dan mengirim konfirmasi ke penasihat
hukum (legal consultant/Iawyer) perusahaan.

4. Memeriksa apakah accrued expenses jumlahnya reasonable, dalam arti tidak terlalu
besar dan tidak terlalu kecil.

Untuk itu auditor harus memeriksa dasar perhitungan accrued expenses yang dibuat
perusahaan, apakah masuk akal dan konsisten dengan tahun sebelumnya. Misalnya untuk
accrued travelling expenses (biaya perjalanan yang masih harus dibayar) harus diperiksa
untuk perjalanan ke mana, menggunakan pesawat terbang apa, berapa lama perjalanannya,
menginap di hotel mana dan sebagainya.

5. Memeriksa apakah kewajiban leasing (sewa), jika ada, sudah dicatat sesuai dengan
standar akuntansi sewa (PSAK 3o Revisi 2015 tentang Sewa).

Misalnya jika ada utang leasing untuk pembelian mesin pabrik, maka harga perolehan mesin
dan utang leasing harus dicatat sebesar nilai tunainya. Selain itu, bagian dari utang leasing
yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun yang akan datang harus dicatat sebagai liabilitas
jangka pendek. Sedangkan yang jatuh temponya lebih dari satu tahun yang akan datang harus
dicatat sebagai liabilitas jangka panjang.

Menurut IAI-PSAK 2015304

Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara
substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Suatu sewa
diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh
risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.

Klasmkasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan pada substansi
transaksi dan bukan pada bentuk kontraknya. Contoh dari situasi yang secara individual atau
gabungan pada umumnya mengarah pada sewa yang diklasifikasikan sebagai sewa
pembiayaan adalah:

(a). Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa;

(b). Lessee memiliki opsi untuk membeli aset pada harga yang diperkirakan cukup
rendah dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan;
sehingga pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi tersebut akan dilaksanakan;

(c). Masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomis aset meskipun hak milik
tidak dialihkan;

(d). Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara substansial
mendekati seluruh nilai wajar aset sewaan; dan

(e) Aset sewaan bersifat khusus dan hanya lessee yang dapat menggunakannya tanpa
perlu modiflkasi secara material.

6. Memeriksa apakah seandainya ada liabilitas jangka pendek dalam mata uang asing
per tanggal laporan posisi keuangan (neraca), sudah dikonversikan ke dalam rupiah
dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal laporan posisi
keuangan (neraca) dan selisih kurs yang terjadi sudah dibebankan/dikreditkan pada
laba rugi tahun berjalan.
Misalkan pada tanggal 31 Oktober 2015 perusahaan membeli barang dagangan secara kredit
dari luar negeri sebesar US$100.ooo, kurs saat itu adalah Rp13.ooo per 1 US$ sehingga
utang usaha dicatat sebesar Rp1.320.ooo.ooo. Per tanggal 31 Desember 2015, utang tersebut
masih belum dilunasi dan kurs Bank Indonesia saat itu per 1 US$: beli Rp13.4oo, jual
Rp13.zoo berarti kurs tengah adalah Rp13.3oo per 1 US$. Jurnal penyesuaian yang harus
dibuat per 31 Desember 2015 adalah:

DR. Laba/Rugi Selisih Kurs Rp3o.ooo.ooo

CR. Utang Usaha Rp3o.ooo.ooo

7. Memeriksa apakah biaya bunga dan bunga yang terutang dari liabilitas jangka pendek
telah dicatat per tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

Dalam hal ini auditor harus yakin bahwa semua bunga liabilitas jangka pendek, baik dari
utang bank, utang pemegang saham dan lain-lain, sudah dicatat sebagai beban perusahaan dan
jika bunga tersebut belum dibayar, sudah dicatat sebagai utang bunga per tanggal laporan
posisi keuangan (neraca).

8. Memeriksa apakah biaya bunga liabilitas jangka pendek yang tercatat pada tanggal
laporan posisi keuangan (neraca), betul telah terjadi, dihitung secara akurat, dan
merupakan beban perusahaan.

Auditor harus yakin bahwa bunga yang dibebankan dalam laporan laba rugi, berasal dari
pinjaman jangka pendek yang digunakan perusahaan dan didukung oleh perjanjian kredit
yang sah, sehingga betul-betul merupakan beban perusahaan. Selain itu auditor harus
melakukan pengecekan apakah perhitungan bunga sudah dilakukan secara akurat, walaupun
beban bunga dicatat berdasarkan nota debit dari bank (berarti dihitung oleh bank).

9. Memeriksa apakah semua persyaratan dalam perjanjian kredit telah diikuti oleh
perusahaan sehingga tidak terjadi “bank default”.

Biasanya dalam perjanjian kredit bank mencantumkan beberapa persyaratan yang harus dipatuhi
nasabahnya, antara lain:

a. perusahaan tidak boleh mengganti “manajer kunci tanpa seizin bank”;

b. current ratio hams dijaga pada tingkat tertentu;

c. tidak boleh terlambat dalam membayar bunga.

Jika persyaratan tersebut dilanggar oleh perusahaan, maka terjadi “bank default” dan hal tersebut
harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan (notes to financial statements).
10. Memeriksa apakah penyajian liabilitas iangka pendek di dalam (neracq laporan posisi
keuangan dan catatan atas laporan keuangan sesuai den standar akuntansi keuangan di
Indonesia ETAP/PSAK/IFRS.

Misalnya, jika perusahaan mempunyai kredit jangka pendek dari bank ata mempunyai utang
leasing (sewa), maka dalam catatan atas laporan keuangan ham diungkapkan antara lain:

a. plafon kredit;

b. jangka waktu kredit;

c. tingkat bunga;

d. jaminan kredit;

e. pengembalian kredit dan pembayaran bunga apakah dalam rupiah atau mata uang asmg;

f. nilai tunai aset dalam rangka sewa guna;

g. jenis leasing;

h. jangka waktu leasing.

3.PROSEDUR PEMERIKSAAN LIABILITAS JANGKA PENDEK

1. Pelajari dan evaluasi internal control atas liabilitas jangka pendek.

2. Minta rincian dari liabilitas jangka pendek, utang usaha maupun liabilitas lainnya, kemudian
periksa penjumlahannya (footing) serta cocokkan saldonya dengan saldo utang (kewajiban) di
buku besarjcontrolling account).

3. Untuk utang usaha cocokkan saldo masing-masing supplier dengan saldo menurut subsidiary
ledger utang usaha (jika jumlah suppliernya banyak, tidak usah 100%).

4. Secara test basis (sampling), periksa bukti pendukung dari saldo utang kepada beberapa
supplier, perhatikan apakah angkanya cocok dengan purchase requisition, purchase order,
receiving report dan supplier invoice. Periksa juga perhitungan mathematis (mathematical
accuracy) dari dokumen-dokumen tersebut dan otorisasi dari pejabat perusahaan yang
berwenang.

5. Seandainya terdapat monthly statement of account dari supplier, maka harus dilakukan
rekonsiliasi antara saldo utang menurut statement of account tersebut dengan saldo subsidiary
ledger utang.

6. Pertimbangkan untuk mengirim konfirmasi kepada beberapa supplier baik yang saldonya
besar maupun yang saldonya tidak berubah sejak tahun sebelumnya.
7. Periksa pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca) (subsequent payment)
untuk mengetahui apakah ada liabilitas yang belum dicatat (unrecorded liabilities) per tanggal
laporan posisi keuangan (neraca) dan untuk meyakinkan diri mengenai kewajaran saldo liabilitas
per tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

8. Seandainya ada utang kepada bank dalam bentuk kredit modal kerja, kredit investasi, maupun
kredit overdraft, maka kirim konfirmasi ke bank, periksa surat perjanjiafI kreditnya dan buatkan
excerpt dari perjanjian kredit tersebut, dan periksa otorisasi dari direksi untuk perolehan kredit
bank tersebut.

9. Seandainya ada utang dari pemegang saham atau dari direksi atau dari perusahaan aflliasi,
yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun yang akan datang, hams dikirim konfirmasi, periksa
perjanjian kreditnya dan periksa apakah ada pembebanan bunga atas pinjaman tersebut.

1o. Seandainya ada utang leasing (sewa), periksa apakah pencatatannya sudah sesuai dengan
standar akuntansi sewa (PSAK No. 30 Revisi 2015 tentang Sewa) dan apakah bagian yang jatuh
tempo dalam waktu satu tahun yang akan datang sudah dicatat (direklasifikasi) sebagai liabilitas
jangka pendek.

11. Periksa perhitungan dan pembayaran bunga, apakah sudah dilakukan secara akurat dan tie-up
jumlah beban bunga tersebut dengan jumlah yang tercantum pada laporan laba rugi. Perhatikan
juga aspek pajaknya.

12. Seandainya ada saldo debit dari utang usaha maka harus ditelusuri apakah ini merupakan
uang muka pembelian atau karena adanya pengembalian barang yang dibeli tetapi sudah dilunasi
sebelumnya. Kalau jumlahnya besar (material) harus direklasiiikasi sebagai piutang.

13. Seandainya ada uang muka penjualan per tanggal laporan posisi keuangan (neraca), periksa
bukti pendukungnya dan periksa apakah saldo tersebut sudah diselesaikan di periode berikutnya
(subsequent clearance) misalnya dengan mengirimkan barang yang dipesan oleh pembeli.

14 Seandainya ada kredit jangka panjang, harus diperiksa apakah bagian yang jatuh tempo satu
tahun yang akan datang sudah direklasmkasi sebagai liabilitas jangka pendek.

15. Seandainya ada kewajiban dalam mata uang asing, periksa apakah saldo tersebut per tanggal
laporan posisi keuangan (neraca) telah dikonversikan kedalam rupiah dengan menggunakan kurs
tengah Bank Indonesia per tanggal laporan posisi keuangan (neraca), dan selisih kurs yang
terjadi dibebankan/dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan.

16. Untuk utang PPh 21 dan PPN periksa apakah utang tersebut sudah dilunasi pada periode
berikutnya. Seharusnya utang PPh 21 dan PPN per 31 Desember dilunasi di bulan Januari tahun
berikutnya.
Sedangkan untuk PPh Badan harus diperiksa apakah pada waktu mengisi dan memasukkan SPT
PPh Badan, perusahaan telah membayar PPh 29 (setoran akhir).

17. Periksa dasar perhitungan accrued expenses yang dibuat oleh perusahaan, apakah reasonable
dan konsisten dengan dasar perhitungan tahun sebelumnya. Selain itu harus diperiksa
pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

18. Periksa notulen rapat direksi, pemegang saham dan perjanjian-perjanjian yang dibuat
perusahaan dengan pihak ketiga, untuk mengetahui apakah semua kewajiban yang tercantum
dalam notulen dan perjanjian tersebut sudah dicatat per tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

19. Kirim konfirmasi kepada penasihat hukum perusahaan.

20.Periksa apakah penyajian liabilitas jangka pendek di laporan posisi keuangan (neraca) dan
catatan atas laporan keuangan sudah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan ETAP/
PSAK/IFRS.

Penjelasan Audit Prosedur

1. Pelajari dan evaluasi internal control atas liabilitas jangka pendek.

Dalam hal ini auditor dapat menggunakan internal control questionnaires, flow chart atau
penjelasan narrative. Karena utang usaha merupakan bagian dari siklus pembelian, utang usaha
dan pengeluaran kas, maka bisa digunakan internal control questionnaires untuk pembelian,
utang usaha dan pengeluaran kas, yang contohnya bisa dilihat di Exhibit 16-1.

Contoh penjelasan narrative prosedur pembelian, utang usaha dan penerimaan kas bisa dilihat di
Exhibit 16-2, sedangkan contoh flow chart untuk prosedur tersebu disajikan di Exhibit 16-3.

Jika dari evaluasi internal control atas liabilitas jangka pendek, auditor menyimpulkan bahwa
internal controlnya baik atau berjalan efektif, maka substantive test atas liabilitas jangka pendek
bisa dikurangi. Dengan perkataan lain, ruang lingkup pemeriksaan bisa dibatasi.

2. Minta rincian dari liabilitas jangka pendek, utang usaha maupun liabilitas lainnya,
kemudian periksa footing dan cocokkan saldonya dengan saldo liabilitas jangka pendek di
buku besar.

Harus diingat bahwa rincian-rincian tersebut harus disiapkan oleh klien. Tugas auditor adalah
memeriksa rincian tersebut, bukan menyusun rincian.

Jika rincian yang diberikan klien tidak cocok dengan saldo buku besarnya atau terdapat
kesalahan footing, maka auditor harus mengembalikan rincian tersebut kepada klien untuk
diperbaiki.
Selain rincian utang usaha, yang harus diminta dari klien adalah: rincian biaya yang masih harus
dibayar, liabilitas lain-lain, utang pajak, dan lain-lain.

3. Untuk utang usaha cocokkan saldo masing-masing supplier dengan saldo menurut
subsidiary ledger utang usaha.

Jika jumlah supplier banyak (misalkan seratus supplier) dan internal control client baik, maka
pencocokan ke subledger bisa dibatasi jumlahnya.

Seandainya ditemukan perbedaan antara saldo di rincian utang usaha dan saldo di subledger
utang usaha, harus diminta agar klien yang mencari penyebab perbedaan tersebut.

Prosedur 4 dan 5 sudah cukup jelas.

6. Pertimbangkan untuk mengirim konfirmasi kepada beberapa supplier yang saldonya


besar maupun yang saldonya tidak berubah sejak tahun sebelumnya.

Auditor tidak harus mengirim konfirmasi untuk utang usaha, karena sumber pencatatan utang
usaha berasal dari luar perusahaan (misalnya faktur dari supplier), dan tujuan konfirmasi adalah
untuk memeriksa keakuratan data akuntansi klien. Jadi lain dengan konfirmasi piutang yang
merupakan audit prosedur standar yang harus dilakukan oleh auditor.

Apalagi jika sebagian besar supplier terbiasa untuk mengirim monthly statement of account,
maka auditor hanya perlu mencocokkan saldo utang usaha menurut rincian dengan saldo
menurut monthly statement of account tersebut.

7. Periksa pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca) untuk


mengetahui apakah ada unrecorded liabilities per tanggal laporan posisi keuangan (neraca)
dan untuk meyakinkan diri mengenai kewaiaran saldo utang per tanggal laporan posisi
keuangan (neraca).

Caranya adalah dengan me-review buku pengeluaran kas sesudah tanggal laporan posisi
keuangan (neraca) sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan. Perhatikan
apakah ada pembayaran-pembayaran di periode sesudah tanggal laporan posisi keuangan
(neraca) yang menyangkut pembelian atau biaya untuk tahun yang diperiksa yang belum dicatat
sebagai liabilitas jangka pendek per tanggal laporan posisi keuangan (neraca). Periksa juga
notulen rapat direksi, pemegang saham, dewan komisaris untuk mengetahui apakah ada
kewajiban perusahaan, misalnya pembagian bonus, yang baru akan dibayar diperiode berikutnya
dan belum dicatat sebagai liabilitas per tanggal laporan posisi keuangan (neraca). Auditor juga
harus memeriksa bukti-bukti pembayaran di subsequent period yang berkaitan dengan kewajiban
yang terjadi di tahun yang diperiksa.

Prosedur 8, 9, 10, n, dan 14 dibahas lebih rinci di pemeriksaan liabilitas jangka panjang
(Bab 17).
Prosedur 12, 13, 15, dan 16 sudah cukup jelas.

17. Periksa dasar perhitungan accrued expenses yang dibuat oleh perusahaan, apakah
reasonable (masuk akal) dan konsisten dengan dasar perhitungan tahun sebelumnya.
Selain itu harus diperiksa pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca).

Perlu diketahui bahwa untuk memperkecil laba, bisa saja perusahaan memperbesar jumlah
accrued expenses-nya. Dengan memeriksa pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan
(neraca) auditor bisa mengetahui apakah jumlah yang diaccrued betul-betul dibayar di tahun
berikutnya dalam jumlah yang kurang lebih sama.

Selain itu bisa diketahui seandainya ada biaya-biaya tahun yang diperiksa yang belum dicatat di
periode sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca), sehingga harus diusulkan audit
adjustment-nya oleh auditor.

Prosedur 18 sudah cukup jelas.

19. Kirim konflrmasi kepada penasihat hukum perusahaan.

Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah perusahaan mempunyai masalah di bidang


hukum yang memerlukan bantuan dari legal consultant atau lawyer. Misalnya, ada tuntutan di
pengadilan yang per tanggal laporan posisi keuangan (neraca) prosesnya belum selesai. Seperti
diketahui proses peradilan memakan waktu yang cukup lama (mulai dari Pengadilan Negeri,
Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung).

Hal ini menyebabkan timbulnya contingent liabilities, yaitu liabilitas yang mungkin terjadi,
mungkin juga tidak terjadi, tergantung pada kejadian dalam periode berikutnya.

Contoh koniirmasi ke penasihat hukum bisa dilihat di Exhibit 16-4.

20. Penyajian liabilitas iangka pendek di laporan posisi keuangan (neraca).

Entitas mengklasifikasikan liabilitas sebagai liabilitas jangka pendek jika:

(a) entitas memperkirakan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normal;

(b) entitas memiliki liabilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan;

(c) liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu dua belas bulan setelah
periode pelaporan; atau

(d) entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menangguhkan penyelesaian liabilitas selama
sekurang-kurangnya dua belas bulan setelah periode pelaporan. Persyaratan liabilitas yang
dapat mengakibatkan diselesaikannya liabilitas tersebut dengan menerbitkan instrumen
ekuitas, sesuai dengan pilihan pihak lawan, tidak berdampak terhadap klasifikasi liabilitas
tersebut.
Entitas mengklasifikasi liabilitas yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai liabilitas jangka
panjang.

Beberapa liabilitas jangka pendek, seperti utang dagang, beberapa akrual untuk biaya
karyawan dan biaya operasi lain, merupakan bagian modal kerja yang digunakan dalam siklus
operasi normal entitas. Entitas mengklasifikasikan liabilitas tersebut sebagai liabilitas jangka
pendek meskipun liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan lebih dari dua belas bulan
setelah periode pelaporan. Siklus operasi normal yang sama diterapkan pada klasifikasi aset dan
liabilitas entitas. Jika tidak dapat diidentiflkasi secara jelas, maka siklus operasi normal entitas
diasumsikan dua belas bulan.

Exhibit 16-1 Contoh Internal Control Questionnaires (ICQ) Prosedur Pembelian Liabilitas, don
Pengeluaran Kas

Klien Y=Ya
T=Tidak

TR=Tidak
Relevan
Y T T
R

I. ORDER PEMBELIAN

1. Apakah pembelian dilakukan:

1.1. Oleh pejabat/bagian khusus?


Sebutkan oleh siapa!
Bagian Pembelian
1.2. Yang terpisah dari Bagian:
a. Akuntansi?
b. Pembayaran?
c. Penerimaan Barang?
d. Penyimpanan?
e. Pencatatan Persediaan?
1.3. Dengan syarat yang menguntungkan (misalnya tender, supplier terseleksi)?
2. Apakah order pembelian (purchase order):
2.1. Dibuat untuk semua pembelian?
2.2. Diotorisasi pejabat tertentu?
2.3. Diberi nomor urut tercetak?
2.4. Tersimpan lengkap, termasuk yang dibatalkan?
2.5. Blanko tersimpan dengan baik?
2.6. Tembusan dikirimkan kepada:
a. Bagian akuntansi untuk dicocokkan dengan laporan penerimaan barang dan
faktur?

b. Bagian penerimaan barang sebagai otorisasi untuk menerima barang?


3. Apakah pembelian dikoordinasi dengan:
3.1. Program produksi?
3.2. Anggaran penjualan?
3.3. Batas persediaan minimum dan maksimum?
4. Apakah kebijaksanaan pembelian tidak dilakukan dengan memberikan
keuntungan luar biasa kepada:
4.1. Penjual tertentu?
4.2. Relasi staf pembelian atau lainnya?
4.3. Suatu perusahaan di mana seorang staf mempunyai kepentingan?
4.4. Perusahaan afiliasi?
5. Apakah harga penawaran penjual yang terdaftar (approved) ditiniau secara
berkala, untuk memastikan bahwa selalu merupakan harga bersaing?

II PENERIMAAN BARANG
6. Apakah terdapat bagian penerimaan barang yang terpisah dari:
6.1. Bagian Pembelian?
6.2. Bagian Akuntansi?
6.3. Bagian Pembayaran?
6.4. Bagian Penyimpanan?
6.5. Ba;ian Pencatatan Persediaan?
7. Apakah barang yang diterima disertai:
7.1. Surat Jalan/DO/faktur dari supplier?
7.2. Surat Keterangan Pengangkut?
8. Apakah barang yang diterima diperiksa mengenai:
8.1. Kuantitas?
8.2. Keadaan?
8.3. Spesiflkasi pembelian lainnya?
8.4. Kecocokan dengan order pembelian?
9. Apakah laporan penerimaan barang:
9.1. Dibuat untuk seluruh penerimaan barang?
9.2. Mencatat jumlah yang diterima berdasarkan perhitungan yang sebenarnya?
9.3. Diberi nomor urut tercetak?
9.4. Disimpan selengkapnya, termasuk yang dibatalkan?
9.5. Blankonya disimpan dengan baik?
9.6. Tembusannya dikirim kepada:
a. bagian akuntansi, untuk dicocokkan dengan order pembelian dan faktur?
b. bagian pembelian, sebagai informasi bahwa pesanan telah diterima?
10. Iika barang ditolak oleh bagian penerimaan:

10.1. Apakah dibuat surat ialan?

10.2 Apakah disimpan oleh bagian penyimpanan?


10.3 Apakah retur pembelian cukup terkontrol untuk mengurangi jumlah utang
yang dibukukan?

III. FAKTU R PEMBELIAN

11. Apakah faktur-faktur dari supplier diperiksa/dicocokkan oleh accounts


payable clerk dengan:

11.1. Order Pembelian?

11.2. Laporan Penerimaan Barang?

12. Apakah accounts payable clerk ini terpisah dari:

12.1. Bagian pemesanan pembelian?

12.2. Bagian penerimaan barang?

13. Faktur ini secara berturut-turut harus menunjukkan bukti persetujuan


seperti:

13.1. Harga benar?

13.2. Perkalian dan pertambahan?

13.3. Biaya pengangkutan?

13.4. Beban-beban lain?

13.5. Pengurangan-pengurangan potongan atau allowance lainnya?

13.6. Kode atau alokasi perkiraan yang harus dibebankan?

IV. PEMBELIAN-PEMBELIAN KHUSUS

14. Apakah pembelian antarperusahaan afiliasi harganya layak?

15. Apakah pembelian antardepartemen dalam suatu perusahaan:

15.1. Tidak diperhitungkan laba?

15.2. Bila terdapat laba “intercompany proj$t" tersebut kemudian telah


dieliminisasi kembali?

IV. INFORMASI UMUM

16. Apakah sistem informasi termasuk:


16.1. Budget pembelian?

16.2. Budget biaya?

16.3. Perbandingan antara budget dengan yang sebenamya‘?

16.4. Penjelasan tertulis atas penyimpangan yang material (penting)?

17. Apakah perhitungan rasio yang berikut secara teratur diperiksa dan. dijelaskan
dengan cukup:

17.1. Persentase laba bruto dengan penjualan?

17.2. Persentase biaya penjualan dengan penjualan?

17.3. Tingkat inventory turn-over?

18. Apakah ada prosedur yang cukup untuk menjamin pertimbangan yang tepat
dari:

18.1. Cut-ofpembelian?

18.2. Penyesuaian pendapatan dan biaya?

18.3. Laba yang tidak direalisasi pada barang?

VI. LIABILITAS IANGKA PENDEK

19. Apakah diadakan Buku Liabilitas Jangka Pendek?

20. Apakah daftar kreditur/liabilitas jangka pendek:

20.1. Disusun secara up to date (bulanan/triwulanan)?

20.2. Dicocokkan dengan saldo akun kontrol?

20.3. Secara periodik di-review atas saldo debit yang ada?

21. Detail dari kreditur yang lama belum dibayar diteliti sebab-sebabnya?

22. Apakah penata buku akun kontrol liabilitas jangka pendek terpisah dari
pemegang sub-Buku Besar Liabilitas Jangka Pendek?

23. Apakah supplieryang banyak mutasinya mengirimkan perincian perhitungan


atau saldo secara periodik, dan dicocokkan oleh pegawai yang tidak menata
sub~Buku Besar Liabilitas Jangka Pendek'?

VII. PENGELUARAN KAS

24. Apakah semua pembayaran kecuali untuk pengisian dana kas kecil
dilakukan dengan cek?

25. Apakah semua cek yang belum digunakan, disimpan oleh orang tertentu
secara aman?

26. Apakah cek digunakan menurut nomor urut?

27. Apakah semua cek yang dibatalkan tetap melekat pada buku cek dam
dirusak agar tidak dapat disalahgunakan?

28. Apakah cek dilindungi terhadap pemalsuan tulisan?

29. Apakah kebijaksanaan perusahaan:

29.1. Tidak memungkinkan penandatanganan blangko cek?

29.2. Menghindarkan mengeluarkan cek “tunai” (tidak atas mama)

29.3. Tidak mengeluarkan cek mundur?

30. Haruskah semua cek:

30.1. Discounter signed?

30.2. Dilengkapi dengan bukti pelengkap yang cukup bila diajukan untuk
ditandatangani.

31. Sebutkan batas jumlah yang dapat ditandatangani hanya seorang! Jumlah :
Rp5.ooo.ooo

Yaitu oleh : Manajer Keuangan

32. Apakah penandatanganan cek terpisah dari yang menyimpan uang kas dan
pemegang buku kas?

33. Bila digunakan stempel, apakah disimpan oleh yang berhak


menandatangani cek?

34. Apakah setiap pembayaran didukung dengan bukti otentik yang telah
diperiksa dan disetujui oleh orang lain dari yang menandatangani cek dan
diparaf? '
35. Apakah semua bukti segera distempel “LUNAS” untuk menghindari
pembayaran dua kali?

36. Apakah orang yang menyiapkan cek terlepas dari:

36.1. Orang yang menandatangani cek?

36.2. Pembayar uang kas?

37. Bila perusahaan menerima cek mundur dari langganan, cek tersebut tidak
pemah dibayarkan lagi kepada pihak ketiga?

38. Apakah rekonsiliasi bank:

38.1. Dibuat paling sedikit sebulan sekali?

38.2. Oleh seorang pejabat terlepas dari:

a. Pemegang uang kas termasuk penyetor uang kas ke bank?

38.3. Di«review oleh pejabat senior?

39. Apakah rekening koran langsung dikirim oleh bank kepada orang yang
membuat rekonsiliasi?

40. Apakah deposit in transit (penyetoran ke bank yang belum tampak di


rekening koran) outstanding check, inter bank transfer diperhatikan
dengan saksama pada saat rekonsiliasi?

41. Prosedur dan pembukuan yang berhubungan dengan hal di bawah ini
cukup dapat dipercaya untuk menyusun laporan keuangan:

41.1. Pembelian?

41.2. Kreditur?

41.3. Pembayaran bank?

41.4. Pembayaran kas?

42. Internal control dalam hubungannya dengan hal di bawah ini cukup
memuaskan dan dapat mencegah atau menemukan suatu kecurangan atau
kesalahan dalam suatu periode:

42.1. Pembeh’an?

42.2. Kreditur?
42.3. Pembayaran melalui bank?

42.4 . Pemba aran melalui kas?

A. Kelemahan-kelemahan lain yang tidak tercantum pada pertanyaan di atas:

................................................................................................................................
........

........................

................................................................................................................................
........

........................

................................................................................................................................
........

........................

B. Catatan Lain:

................................................................................................................................
........

........................

................................................................................................................................
........

........................

................................................................................................................................
........

........................

C. kesimpulan Penilaian
D. Revisi kesimpulan (lampiran alasannya)!
Diisi oleh : Tanggal :

Di-review oleh: Tanggal :

exhibit 16-3 Contoh Penjeloson Narrative Prosedur Pembelian, Liobilitas Jangko Pendek, don
Pengeluoron Kas
Bagian Gudang

a. Bagian gudang berkewajiban untuk menjaga persediaan minimum agar bahan baku yang
diminta cukuP tersedia. Jika persediaan sudah kurang dari persediaan minimum, maka
harus dilakukan permintaan pembelian ke bagian pembelian dengan membuat Surat
Permintaan Pembelian Bahan Baku (SPPBB). SPPBB dibuat sebanyak 3 lembar
bernomor urut tercetak, yaitu:

SPPBB-l: untuk bagian pembelian

SPPBB-z: untuk bagian akuntansi umum

SPPBB-3: untuk arsip

b. Menerima Surat Pesanan Pembelian (SP-4) dari bagian pembelian, bahwa permintaan
pembeliannya telah dilaksanakan oleh bagian pembelian.

c. Menerima bahan baku dan surat tanda terima bahan baku dari rekanan atau Surat Jalan
sebanyak 2 Iembar, kemudian dicocokkan dengan bahan baku yang diterima serta
dicocokkan dengan SPPBB-3 dan SP-4. Iika telah sesuai, baik kuantitas maupun
kualitasnya, maka S] ditandatangani, S]-1 diserahkan ke bagian akuntansi umum dan S]-2
dikembalikan ke rekanan.

d. Membuat laporan Penerimaan Bahan Baku (LPB) sebanyak 3 lembar tidak bemomor urut
tercetak, yaitu:

LPB-1: untuk bagian akuntansi umum

LPB-z: untuk bagian pembelian

LPB~3: untuk arsip

Melakukan pencatatan mengenai mutasi persediaan di kartu persediaan berdasarkan LP-z


dan LP-3.

Bagian Pembelian

Urutan-urutan kegiatan bagian pembelian adalah sebagai berikut.

a. Berdasarkan SPPBB-1 yang diterima dari bagian gudang, dibuat Surat Pesanan (SP)
sebanyak 5 lembar bernomor urut tercetak, yaitu:

SP-1 dan SP-z: untuk rekanan tertentu setelah mempertimbangkan rekanan yang terbaik
SP-3: untuk bagian akuntansi umum

SP-4: untuk bagian gudang


SP-5: untuk arsip

b. Menerima faktur pembelian dari rekanan sebanyak z lembar dan memeriksa apakah telah
sesuai dengan SP.

c. Menerima LPB-z dari bagian gudang dan dicocokkan dengan faktur dan SP-nya.

d. Menyerahkan faktur pembelian-1 ke bagian akuntansi umum setelah ditandatangani


untuk menyatakan bahwa faktur tersebut telah sesuai dengan SP dan LPB, dan faktur
pembelian-z disimpan untuk arsip.

Bagian Akuntansi Umum

a. Menerima SPPBB-2, SJ dan LPB-1 dari bagian gudang

b. Menerlfna SP-3 dan faktur pembelian-l dari bagian pembelian.


c. Memerlksa apakah semua bukti tersebut telah sesuai.
d. Melakukan pencatatan utang dagang berdasarkan bukti-bukti tersebut.
e. Melakukan pencatatan di kartu persediaan.
f. menyerahkan semua bukti tersebut ke bagian keuangan untuk dibuatkan Bukti
Pengeluaran Kas/Bank (BPK)
g. Menerima BPK-l dan semua bukti dari bagian keuangan.
h. Melakukan pencatatan pengeluaran kas/bank berdasarkan BPK-l yang telah diotorisasi
dan diarsip bersama dengan bukti-bukti yang diterima.

Bagian Keuangan

Urut-urutan kegiatan bagian keuangan adalah sebagai berikut:

a. Menerima bukti-bukti dari bagian akuntansi umum yang berupa, LPB-l, SPPBB-z, SP-3
faktur pembelian-l dan SI-l.

b. Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh, dibuatkan Bukti Pengeluaran Kas/ Bank (BPK)
sebanyak 2 lembar tidak bernomor urut tercetak, yaitu:

BPK-l: untuk bagian akuntansi umum

BPK-z: untuk arsip

c. Membuat cek, diserahkan ke rekanan dan dimintakan tanda tangan pada BPK tersebut.

d. Melakukan pencatatan pengeluaran kas/bank di buku harian kas/bank.

e. Menyerahkan semua bukti disertai deman BPK-1 ke nada ba y'an akuntansi umum.
81AM 18-4 Contoh Surat Konnrmosi ke Penosihat Hukum Pawsohoon

PT RENIKU

Jln. Bougenvmc No. 47

Jakarta Utara

Jakarta 15 )anuari 2015

Kepada Yth.

Buyung Kalumata & Associate

Legal Consultant

Iln. Pahlawan Bangsa: No. 1o

Jakarta Pusat

Dengan hormat
Sehubungan dengan pemenkmn yang dnlakulun oleh auditor kami mhadap hporan W pemuhnn
hm: untuk uhun buku 30:5. mohm bantuan Saudara untuk mcmberihn inhuman kepada auditor
kami. Kanmt Akuman Pubhk Dra. Astrid Krisami, M.M., ll. Tanjung Omen Na 1R blumm7o,
mangerm ha! ha] bcnkut:

1. Apakah perusahnn Kami mempunyai masalah yang berkaitan dengan pe;anggaran hukum
atau peraturan pemerintah, tuntutan dari pihak ke 3 di pengadilan baik di dalam maupun
diluar negeri.

2. Seandainya ada tuntutan dipengadilan, bagaimana pendapat saudara bsebagai konsultan


hukum perusahaan, mengenai kemungkinan keputusan pengadilan tersebut.

3. Hal-hal penting yang sifatnya material yang perilu dilaporkan dalam laporan keuangan
perusahaan kami untuk tahun buku 2015, yang menyangkut masahh hukum, dan
mempunyai pengaruh tehadap kewajaran laporan keuangan kami.

Mohon agar jawaban Saudara dapat dikirimkan langsung kepada uditor kami dengan
menggunakan amplop jawaban teralampir.

Atas perhatian dan abntuan saudara, kami mengucapkan banyak terima kasih.

Hormat Kami
PT RLNIKU

(Dra.Renny Octavia)

Direktur Utama

Exhibit 18-5 Top Schedule Liabilitas Jongko Pendek

W Per buku AJE Final Balance Balance


P 31-12-2015 DR CR 31-12-2015
RE
F
Utang Usaha N1 Rp141381.700 Rp - Rp 5.500.000 Rp Rp
55.000.000 197.650.000
Uang muka N2 Rp - Rp -
penjualan Rp Rp
10.000.000
75.000.000
Biaya yang masih N3 Rp 4.499.500 Rp 5.500.000
harus dibyar
Rp - Rp -
Utang PPh 21 N4 Rp Rp 27.
Rp - Rp - 79.950.000 500.000
Utang PPh badan N5
Rp 3.450.000 1.500.000
Utang PPN N6 Rp - Rp -
Rp 35.750.000
Utang lain-lain N7 Rp - Rp - 36.475.000
Rp 7.000.000

Rp
8.1000.000 Rp 750.000

Rp 750.000

Rp 342. Rp 4.499.500 Rp62. Rp Rp


606.700 000.000 400.106.000 280.2000.000
Kesimpulan:

Berdasarkan audit prosedur yang dijalankan, sesuai dengan audit program liabilitas iangka pendek, kami
menemukan beberapa kesalahan yang usulan audit adjustment-nya sudah disetujui klien, sehingga menurut
pendapat kami, saldo liabilitas jangka pendek per 31-12-2015 sudah disajikan secara wajar.

Exhibd16-6 contoh supporting schedule utang usaha


  saldo 31/12/15 Saldo 31/12/2014 subsequentpayment (s.d15/3/16)
RP 27.500.000
RP 13500000 /
RP 7.000.000 /
PT harapan Jaya Rp 9.000.000 /
PT Supingi sentosa RP RP 5.000.000 Rp 27.500.000 Vo
PT Sari Kencana 31.550000 / RP - Rp 10.500.000 Vo
PT Alfa Modem RP 5.750.500 / Rp 13.000.000 RP 3000-000 V0
PT Usaha Utama Rp. Rp 30.000.000 RP 7000.000 V0
PT Guna Usaha 2.390.500 / RP - Rp 17.550.000 Vo
PT Kencana Jaya Rp RP - RP . Rp 5.000.000 V0
PT Dirgantara 35.800.000/ Rp 15.750.000 Rp 2.000.000 V0
V0 PT Junus Abadi RP 19.470.000 Rp 7.800.000 Rp 35.800.000 vo
PT Christine Hakim Rp 13.120.000 Rp 49.550.000 RP 19.000.000 V0
PT Simon Brother (Rp Rp - Rp 3.120.000 V0
PT Sarana Krida 47.500.000) Rp15.000.000 Rp -
PT Mekar Sari (Rp 7.500.000) Rp 9.000.000 Rp -
PT Tambun Raya / Rp Rp 30.000.000 V0
PT Mudara Ratu Rp 36.000.700 Rp Rp -
Jumlah Rp 5.300.000 Rp.57.550.000 Rp -
Rp Rp 197.650.000 V/ Rp 160.470.000
-
Rp
141381.700 L

AJE 17 Rp 55.000.000
Saldo per audit 31-12-15 Rp 196.381 700

AJE 17
DR piutan usaha Rp 55.000.000
CR US Rp 55.000.000
Untuk megklarifikasikan saldo debit utag usaha sebagai piutang usaha.
/ cocok dengan supdger liabilitas jangka pendek (US)
˄ check footing
V/ cocok dengan kkp tahun lalu
Vo periksa bukti pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca)
 
 Direview Klaien PT
Dibuat oleh RENNYKU PERIODE INDEKS
Tanggal 23-
Tanggal 17-01-2016  01-2016 SCHEDULE US   31/15/2015  n-1 
contoh supporting schedule uang muka penjualan

Saldo uang muka 11enjua1an per 31-12-5015 sebesar Rp75.000.000 merupakan uang muka
penjualan yang diterima dari:

PT Wanny untuk pemesanan 1000 unit barang XYZ dengan Rp 50.000.000 r

harga Rp 100.000 per unit (uang muka 50%)

PT Duren Tiga untuk pemesanan 500 unit barang XYZ dengan Rp25.000.000 r

harga Rp100.000 per unit (uang muka 50%)

jumlah
Rp75.000.000 L
Sesuai dengan sales order, pertengahan Januari 2016, pesanan untuk PT Wanny dan PT Duren
Tiga telahi dipenuhi.

(Kami telah memeriksa Delivery Order yang ditandatangani bagian penerimaan barang
pelanggan)

A Checkfooting

r Periksa bukti penerimaan uang dan sales order

L Cocok dengan buku besar

Dibuat oleh Direview Klien PT Periode Indeks


RENNYKU
Tanggal 18/1/16 Tanggal 23-
01/2016 31-12-2015 N2
Shedule uang
muka penjualan
contoh supporting schedule biaya yang masih harus dibayar

Saldo Subsequent
clearance
31/12/15
(s.d15/3/16)

Biaya listrik desember 2015 Rp 1.525.000 Rp 1.525.000 Vo

Biaya'felepon Desember 2015 Rp 2.750.000 (1) RP 3.250.000 V0

Biaya PAM Desember 2015 RP 350-000 RP 350-000 V0

Biaya Langganan BB November & Rp 550.000 (2) Rp 275.000 V0


Desember 2015
Biaya Langganan Surat Rp 275.000 Rp 275.000 V0
Kabar/Majalah Desember 2015
Biaya luran Keanggotaan 10 & 11 Rp 1.000.000 (3) Rp –
Biaya Gaiiyang Masih Dibayar Rp 7.5oo.ooo Rp 750.000 vo
Biaya Perjalanan Direksi Rp15.000-ooo (4) RP 10.775.000 vo
Biaya . Bonus RP 50.000.000 (5) Rp 55.000.000 vo
Jumlah Rp 78.950.000 L Rp 78.950.000.vo
AJE 18 Rp 5.500.000

Rp 4.499.500
Saldo per audit 31-12-15 Rp 79.950.500

AJE 18

DR. Biaya Teiepon Rp 500.000

DR. Biayay. M. H. Dibayar Rp 4.499.500

DR. Biaya Bonus Rp 5.000.000

CR. Biaya y. M. H. Dibayar Rp 5.500.000

CR. Biaya Langganan BB Rp 275.000

CR. Biaya Perjalamn Rp 4.224.500

Unmk mengoneksi aver/under accrued yang didasarkan pada subsequent payment.

1. Taksiran biaya telepon Desember’15 tedalu rendah Rp500.000 dibandingkan realisasi


pembayarannya.

2. BB (10 buah) N0vember'15 sudah dibayar di Desember ’15, namun dicatat dengan
mendebit biaya langganan BB, seharusnya biaya yang masih hams dibayar.

3. Belum ditagih oleh asosiasi pedagang pertokoan.

4. Pertanggungjawaban biaya pen'aIanan di 25/2/16 ternyata lebih kecil dari iumlah yang di-
accmed.

5. Accrued bonus didasarkan pada notulen rapat direksi 23/x2/x5. namun saat pembayaran
tanggal 15/3/16. W manutuskan untuk menambah jumlah bonus sebesar 10%.

A Checkbefing

L Cocok dengan general ledger

V0 Pm’ksa bukti pembayaran sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca)

Dibuat oleh Direview Klaien PT Periode Indeks


REnnyku
Tanggal 18/1/16 Tanggal 23/1/16 1/12/2015
Schedulle biaya N3
yang masih harus
diayar

Contoh Utang PPh 21

Dr Cr Saldo
Saldo 1-1-2015

Januari Rp 1.500.000 V0 Rp 1.575.000


Februari Rp 1.575.000 V0 Rp 1.650.000
Maret Rp 1.650.000 V0 Rp 5.250.000
Rp 3.500.000 V0
April Rp 1.750.000 V0 Rp 180.000.000
Mei Rp 1.800.000 V0 Rp 160.000.000
Juni Rp 1.600.000 V0 Rp 1.400.000
Juli Rp 1.400.000 V0 Rp 1.450.000
Agustus Rp 1.450.000 Rp. 1.550.000
September Rp 1.550.000 V0 Rp 1.650.500
Oktober Rp 1.650.500 V0 Rp 1. 900.000
November Rp 1.655.000 V0
Desmber Rp 1.900.000 Rp. 1.950.000

SALDO 31-12- Rp 22.980.500 Rp 23.430.500 Rp 1.950.000 L


2015 vo
Aje 19 rp 1.500.000
Saldo peraudit 31/12/15 rp 3.450.000
Aje 19 :
DR biaya PPh 21 Rp 1.500.000
CR utang PPh 21 rp 1.500.000
Untuk mencatat kekurangan catat PPh 21, sesuai SPT PPh 21 tahun 2015 yang dimasukkan
perusahaan dan SSP PPh Pasal 29.
V/ Cocok dengan KKP tahun lalu
˄ Checkfooting
L Cocok dengan general ledger _
V0 Periksa bukti pengeluaran kas dan SSP .
Δ Mempakan setoran akhir SPT PPh 21 tahun 2015 .
/ PPh yang dipotong dari gaji pegawai, sesuai daftar gaji ,

DIBUAT OLEH : DI-REVIEW KLIEN . PT RENIKU PERIODE Indeks


Taggal 18/1/16 Taggal 23/1/16 1/12/2015
Schedule utang PPh 21 N4

Exhibit 16-10 Contoh Supporting Schedule U’rong PPh Badan

Saldo Utang PPh Badan 1/1/2015 rp 35.750.000

Pembayaran tanggal 25/1/2015 rp (35.750.000)

Utang PPh Badan tahun 2015 rp 36b 475 000Δ

berdasarkan laba fiscal (sesuai SPT PPh Badan)

saldo perbook 31/12/2015 Rp 36. 476.000 L

Laba Fiskal tahun 2015 Rp291.8oo.ooo

PPh Terutang:

50% x 25% x Rp291.800.000 = Rp36.475.ooo

V/ Cocok dengan KKP tahun lalu

˄ Cek perhitungan matematis

L Cocok dengan general ledger

Vo Periksa bukti pengeluaran kas dan SSP PPh PSI. 29

Δ Periksa SPT PPh Badan tahun 2015

Dibuat oleh Direview Klaien PT Periode Indeks


Tanggal 18/1/16 Tanggal 23/1/16 REnnyku 1/12/2015
N5
Schedulle utang
pph badan