Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

Struktur Perkembangan Tumbuhan II

Jaringan Pengangkut dan Batang

Dosen Pengampu:
Evika Sandi Savitri, MP
Ruri Siti Resmisari, M.Si

Disusun Oleh :

Nama : Irsyadillah Faqih

NIM : 18620035

Kelas : Biologi D

Asisten : Ahmad Efendi

Tanggal : 9 April 2020

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tubuh tumbuhan yang ada di bumi tersusun atas banyak sel. Sel-sel itu terdapat pada
tempat tertentu dan membentuk jaringan. Jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai
struktur dan fungsi yang sama dan terikat oleh bahan antar sel dan membentuk suatu
kesatuan. Berdasarkan tahap perkembangannya jaringan penyusun tubuh tumbuhan dapat
dibedakan menjadi beberapa macam, diantaranya adalah jaringan mekanik dan jaringan
pengangkut. Menurut Hidayat (1995) Jaringan pengangkut pada tumbuhan terbagi manjadi
dua, yaitu xilem dan floem. xilem atau pembuluh kayu dan floem atau pembuluh tapis adalah
bagian-bagian dari jaringan pengangkut yang terdapat pada tumbuhan. Jaringan pengangkut
terbentuk dari sel-selyang kedudukan atau letaknya membentang menurut arah pengangkutan.
Kedudukan atau letak yang demikian tampak bagaikan untaian atau rangkaian sel,
seakan-akan adanya pembuluh-pembuluh di dalam organ tumbuhan. Jadi, terwujudnya suatu
sistem jaringan ini merupakan gabungan dari berbagai pembuluh. pipa-pipa atau sistem
jaringan tersebut ada yang telah sempurna dan ada pula yang belum sempurna, ada yang
bersifat primer dan ada pula yang bersifat sekunder. Allah berfirman dalam surat Az-Zumar
ayat 21 yang mempunyai arti sebagai berikut:
“Apakah kamu sekalian tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan
air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian
ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya,
lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya
hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Az-Zumar :21).
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan air yang ia turunkan dari langit,
sehingga dari air tersebut yang nantinya akan tumbuh berbagai macam tumbuhan yang
beragam warna maupun bentuknya. Dari yang awalnya kecil hingga nanti semakin besar dan
panjang. Begitupun pada daunnya, daun yang awalnya kecil berwarna hijau muda akan
semakin tumbuh menjadi daun yang lebih besar, warnanyapun semakin hijau dan akhirnya
daun itu akan menjadi kuning bahkan akan gugur. Peristiwa-peristiwa di atas tidak secuilpun
terlewati dari pengawasan Allah, dan sesunggguhnya dari perstiwa-peristiwa tersebut terdapat
sangat banyak pelajaran yang ditujukan kepada orang-orang yang berakal dan tentunya mau
berfikir. Kita sebagai makhluk Allah umumnya dan mahasiswa Biologi khusunya wajib
mengetahui pelajaran apa yang terkandung di dalam firman Allah tersebut. Oleh karena itu
praktikum ini sangat penting untuk dilakukan, karena dengan melaksanakan praktikum ini,
akan diketahui sel dan jaringan yang menyusun suatu tubuh tumbuhan.
1.2 Tujuan
Tujuan dilakukan praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II yang berjudul
“Jaringan Pengangkut dan Batang” ini adalah sebagai berikut:
1. Mengamati komponen-kmponen jaringan angkut xilem (unsur-unsur vasal)
2. Mengamati komponen-komponen jaringan angkut floem (unsur-unsur kibral)
3. Mengamati susunan berkas pengangkut dalam organ tumbuhan
4. Mengamati macam-macam tipe berkas pengangkut

.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Jaringan Pengangkut


Jaringan pengangkut merupakan jaringan yang berfungsi sebagai transportasi hasil dari
asimilasi hingga ke seluruh bagian tumbuhan serta pengangkutan air dan garam mineral.
Jaringan pengangkut pada tumbuhan terdiri dari xylem yang menggunakan jaringan
pengangkut air dan floem sebagai jaringan pengangkut bahan organic (bahan-bahan
makanan). Xylem dan Floem bersama-sama sering disebut sebagai berkas pengangkut (berkas
vascular). Tumbuhan yang mempunyai jaringan pengangkut disebut tumbuhan vaskular,
termasuk di dalamnya Pteridophyta dan Spermatophyta. Dari kedua bagian berkas pengangkut
itu, xilem mempunyai struktur yang lebih tegar sehingga dapat utuh sewaktu berubah menjadi
fosil dan dapat dipakai sebagai bahan identifikasi bagi tumbuhan jenis vaskular. Jaringan
pengangkut (vascular tissue) adalah salah satu dari tiga kelompok jaringan permanen yang
dimiliki tumbuhan hijau berpembuluh (Tracheophyta). Jaringan ini disebut juga pembuluh
dan berfungsi utama sebagai saluran utama transportasi zat-zat hara yang diperlukan dalam
proses vital tumbuhan (Kimball. 1994).
2.2 Tipe-Tipe Berkas Pembuluh
Tipe jaringan pengankut pada berbagai jenis tumbuhan dikelompokkan menjadi:
Kolateral yang terdiri dari kolateral terbuka dan kolateral tertutup, bikolateral, konsentris yang
terdiri dari konsentris amphikribral dan konsentris amphivasal, dan radial. Kolateral dibagi
dua yaitu kolateral tertutup dan kolateral terbuka. Kolateral terbuka antara xilem dan floem
terdapat kambium, misalnya pada tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Pada tipe kolateral
terbuka, kambium merupakan penghubung antara xilem dan floem. Berdasarkan letaknya
pada tipe ini, kambium dibedakan menjadi dua yaitu kambium fasikuler, bila kambiumnya
terletak dalam berkas pengangkut dan kambium interfasikuler bila kambiumnya terletak di
luar berkas pengangkut. Kambium fasikuler berperan dalam pembentukan floem ke arah luar
dan xilem ke arah dalam. Kolateral Tertutup, tipe kolateral tertutup terbentuk bila antara
xilem dan floem tidak terdapat kambium, melainkan terdapat parenkim. Berkas pengangkut
tipe kolateral tertutup ini kadang dikelilingi jaringan sklerenkim yang sering disebut sebagai
seludang berkas pengangkut. Berkas pengangkut tipe kolateral tertutup ini dapat dijumpai
pada tumbuhan golongan Monokotil, dan bikolateral yang merupakan tipe ikatan pembuluh
dimana xilem diapit oleh floem luar dan floem dalam. Contohnya, pada tumbuhan
Solanaceae (Suku terung-terungan); Konsentris, Disebut tipe konsentris, yaitu bila jaringan
pengangkut yang ada terletak di tengah-tengah, sedangkan unsur jaringan pengangkut lainnya
mengelilingi unsur yang berada di tengah itu. Pada tipe konsentris letak xilem dikelilingi
floem atau sebaliknya. Tipe konsentris dibedakan menjadi dua yaitu Konsentris amphikribral,
pada tipe ini letak xilem berada di tengah-tengah, dan floem mengelilingi xilem tersebut.
Umumnya dijumpai pada tumbuhan golongan paku-pakuan (Pteridophyta). Sedangkan
konsentris amphivasal, letak amphivasal floem berada di tengah-tengah, sedangkan xilem
mengelilingi floem tersebut. Contohnya pada Cordyline sp. dan rhizoma Jeringau (Acorus
calamus); Radial, tipe radial terjadi bila xilem dan floem bergantian menurut arah jari-jari
lingkaran. Contoh terdapat pada akar primer dikotil dan akar tumbuhan monokotil (Sutrian.
2004)
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum tentang “Jaringan Pengangkut dan Batang”
adalah sebagai berikut:
1. Mikroskop : 1 buah
2. Objek Glass : 1 buah
3. Cover Glass : 1 buah
4. Silet : 1 buah
5. Alat tulis : Seperlunya
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam parktikum tentang “Jaringan Pengangkut dan
Batang” adalah sebagai berikut:
1. Batang Hibiscus rosa-sinensis : 1 buah
2. Batang Amaranthus sp. : 1 buah
3. Batang Capsicum sp. : 1 buah
4. Tulang daun Asplenium nidus : 1 buah
5. Daun Zea mays : 1 buah
6. Pewarna Safranin : Secukupnya
3.2 Langkah Kerja
3.2.1 Hibiscus rosa-sinensis
Langkah kerja yang diterapkan pada pengamatan Hibiscus rosa-sinensis adalah
sebagai berikut:
1. Disiapakan batang Hibiscus rosa-sinensis.
2. Diiris batang Hibiscus rosa-sinensis secara melintang.
3. Diamati irisan batang Hibiscus rosa-sinensis di bawah mikroskop dengan perbesaran
tertentu.
4. Diperhatikan susunan xilem, floemnya dan kambiumnya serta ditentukan tipe berkas
pengangkutnya.
5. Digambar hasil pengamatan batang Hibiscus rosa-sinensis dan diberi keterangan.
3.2.2 Batang Amaranthus sp.
Langkah kerja yang diterapkan pada pengamatan Amaranthus sp. adalah sebagai
berikut:
1. Disiapakan batang Amaranthus sp.
2. Diiris batang Amaranthus sp. secara melintang.
3. Diamati irisan batang Amaranthus sp. di bawah mikroskop dengan perbesaran
tertentu.
4. Ditentukan tipe berkas pengangkutnya.
5. Digambar hasil pengamatan batang Amaranthus sp. dan diberi keterangan.
3.2.3 Batang Capsicum sp.
Langkah kerja yang diterapkan pada pengamatan Amaranthus sp. adalah sebagai berikut:
1. Disiapakan batang Capsicum sp.
2. Diiris batang Capsicum sp.secara melintang.
3. Diamati irisan batang Capsicum sp. di bawah mikroskop dengan perbesaran tertentu.
4. Diperhatikan susunan xilem dan floemnya serta ditentukan tipe berkas
pengangkutnya.
5. Digambar hasil pengamatan batang Capsicum sp. dan diberi keterangan.
3.2.4 Tulang daun Asplenium nidus
Langkah kerja yang diterapkan pada pengamatan Asplenium nidus adalah sebagai
berikut:
1. Disiapakan tulang daun Asplenium nidus.
2. Diiris tulang daun Asplenium nidus secara melintang.
3. Diamati irisan tulang daun Asplenium nidus di bawah mikroskop dengan perbesaran
tertentu.
4. Diperhatikan susunan xilem dan floemnya serta ditentukan tipe berkas
pengangkutnya.
5. Digambar hasil pengamatan tulang daun Asplenium nidus dan diberi keterangan.
3.2.5 Daun Zea mays
Langkah kerja yang diterapkan pada pengamatan Zea mays adalah sebagai berikut:
1. Disiapakan daun Zea mays.
2. Diiris daun Zea mays secara melintang .
3. Diamati irisan daun Zea mays di bawah mikroskop dengan perbesaran tertentu.
4. Diperhatikan susunan xilem dan floemnya serta ditentukan tipe berkas pengangkutnya.
5. Digambar hasil pengamatan daun Zea mays dan diberi keterangan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hibiscus rosa-sinensis


4.1.1 Hasil
Foto Pengamatan Gambar Literatur

3
(Liliana.2018).
Keterangan 1. Floem
2. Kambium
3. xilem
4.1.2 Klasifikasi
Klasfikasi dari Hibiscus rosa-sinensis menurut Plantamor (2020) adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus rosa-sinensis
4.1.3 Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada irisan batang Hibiscus rosa-sinensis secara
melintang yang diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x mendapatkan hasil
bahwa pada pengamatan irisan batang Hibiscus rosa-sinensis terdapat jaringan pembuluh
dengan tipe kolateral terbuka. Hal ini ditandai dengan adanya kambium diantara xilem
dan floem, kambium yang tumbuh ke luar akan membentuk floem sedangkan kambium
yang tumbuh ke arah dalam akan membentuk xilem. Pertumbuhan kambium ini biasanya
terdapat pada tumbuhan dikotil, sedangkan tumbuhan monokotil yang tumbuh bukan
kambium melainkan parenkim karena pada tumbuhan monokotil tidak memiliki
kambium. Namun ada beberapa tumbuhan monokotil yang memiliki kambium seperti
Cordilyne sp.
Dicotyledoneae (tumbuhan dikotil) memiliki beberapa ciri, yaitu: Keping biji
berbelah dua, berkas vaskuler (pembuluh angkut) pada batang bertipe kolateral terbuka
(antara xilem dengan floem terdapa kambium) dan tersusun melingkar dengan kedudukan
xilem di sebelah dalam dan floem di sebelah luarnya, batang dan akar memiliki kambium
sehingga terjadi pertumbuhan sekunder dan dapat tumbuh membesar, batang bercabang-
cabang dengan ruas batang yang tidak jelas, berakar tunggang yang bercabang-cabang,
tidak memilik pelindung ujung akar (koleoriza) dan pelindung ujung batang (koleoptil),
berdaun tunggal ata majemuk, bagian bunga (kelopak bunga, mahkota bunga, benang
sari) berjumlah 4 atau 5, atau kelipatannya. Pernyataan ini dikatakan high karena kalimat
dari analisis data menjelaskan dengan lengkap (Loveless. 1987)
Pernyataan di atas diperjelas oleh Liliana (2018). Tipe kolateral, xilem dan floem
yang letaknya bersebelahan di dalam suatu jari-jari (xilem di sebelah dalam dan floem di
sebelah luar).tipe koleteral di beakan menjadi yaitu a) Kolateral terbuka, antara xilem
dan floem terdapat kambium. Misalnya pada batang tumbuhan dikotil. b) Kolateral
tertutup, antara xilem dan floem tidak terdapat kambium. Misalnya pada batang
tumbuhan monokotil. c) Ikatan pembuluh bikolateral, posisi dari luar ke arah dalam yaitu
floem luar, kambium luar,xilem, kambium dalam, dan floem dalam.

4.2 Amaranthus sp.


4.2.1 Hasil
Foto Pengamatan Gambar Literatur

(Bria. 2018)
Keterangan
4.2.2 Klasifikasi
Klasfikasi dari Amaranthus sp.menurut Plantamor (2020) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Hamamelidae
Ordo : Caryophyllales
Famili : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Spesies : Amaranthus sp.
4.2.3 Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada irisan batang Amaranthus sp.secara melintang
yang diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x mendapatkan hasil bahwa
pada pengamatan irisan batang Amaranthus sp. terdapat susunan berkas pembuluh yang
tidak teratur sehingga dapat dipastikan bahwa batang Amaranthus sp. yang dipakai buat
bahan praktikum adalah batang Amaranthus sp. yang sudah mengalami pertumbuhan
sekunder. Sedangkan pada pertumbuhan primer batang Amaranthus sp., tipe berkas
pembuluhnya digolongkan ke dalam tipe kolateral terbuka karena tumbuhan Amaranthus
sp.termasuk tumbuhan dikotil. Jadi pada pengamatan batang Amaranthus ini tidak
ditemukan tipe berkas pembuluhnya karena susunan berkas pembuluhnya tidak teratur
sehingga disebut Anomali (menyimpang dari kebiasaan umumnya).
Permyataan di atas dijelaskan oleh Bria (2018)Selain memiliki kesamaran ciri
morfologi, ditemukan juga kesamaan ciri anatomi dari beberapa Famili. Dalam penelitian
sebelumnya diketahui bahwa akar Amaranthus sp. (Famili Amaranthaceae) memiliki
struktur anomali yang sama dengan batangnya, dimana floem primer tetap menempati
posisi semula dan kambium pembuluh terletak di luar berkas pembuluh primer sehingga
dihasilkan jaringan konjungtif dengan sejumlah lingkaran berkas pembuluh sekunder
terbenam di dalamya. Selain itu, dalam penelitian yang lain, diketahui juga bahwa akar
Bougainvillea spectabilis (Famili Nyctaginaceae) juga mempunyai struktur sekunder
menyimpang (anomali) yang sama dengan batangnya yaitu tidak memiliki kambium
pembuluh normal tetapi hanya memiliki jaringan meristematis yang tersusun konsentris
membentuk sejumlah lingkaran pertumbuhan.
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa tumbuhan Amaranthus sp.
termasuk tumbuhan monokotil yang mana pada pertumbuhan primernya mem
memiliki berkas
pembuluh yang tergolong tipe kolaterla terbuka. Hal ini didukung oleh Loveless (1987)
Dicotyledoneae
icotyledoneae (tumbuhan dikotil) memiliki beberapa ciri, yaitu: Keping biji berbelah
dua, berkas vaskuler (pembuluh angkut) pada batang bertipe kolateral te
terbuka (antara
xilem dengan floem terdapa kambium) dan tersusun melingkar dengan kedudukan xilem
di sebelah dalam dan floem di sebelah luarnya, batang dan akar memiliki kambium
sehingga terjadi pertumbuhan sekunder dan dapat tumbuh membesar, bata
batang bercabang-
cabang dengan ruas batang yang tidak jelas, berakar tunggang yang bbercabang-cabang,
tidak memilik pelindung ujung akar (koleoriza) dan pelindung ujung batang ((koleoptil),
berdaun tunggal ata majemuk, bagian bunga (kelopak bunga, mahkota bunga, benang
sari) berjumlah 4 atau 5, atau kelipatannya. Pernyataan ini dikatakan high karena kalimat
dari analisis data menjelaskan dengan lengkap.

4.3 Capsicum sp.


4.3.1 Hasil
Foto Pengamatan Gambar Literatur

(Pujiati, dkk. 2010)


Keterangan 1. Floem
2. xilem
3. Floem
4.2.2 Klasifikasi
Klasfikasi dari Capsicum sp.menurut
menurut Plantamor (2020) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Solanales
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum sp.
4.2.3 Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada irisan batang Capsicum sp.secara melintang yang
diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x mendapatkan hasil bahwa pada
pengamatan irisan batang Capsicum sp. terdapat jaringan pembuluh yang terdiri dari
floe-xilem –floem. Susunan jaringan pembuluh seperti ini digolongkan jaringan
pembuluh tipe Bikolateral. Menurut Pujiati, dkk (2010) berkas pengakut batang terdiri
xilem floem. Berkas pengakut terdapat stele yaitu daerah sebelah dalam epidermis. Fahn
dalam Hartanto menyebutkan bahwa tipe stele berdasarkan berkas pengakut pada batang
tanaman ada tidaknya empulur dan jendelah daun dibagi menjadi 8 jenis yaitu
happlostele, aktinostele, plektostele, sifonostel amfiflois, diktiostele, sifonostele ektoflois,
eustele, ataktostele [13]. Pada tanaman cabai rawit mempunyai tipe eustele karena bagian
tengahnya terdapat empulur dan jari-jari empulur.
Sutrian (1992) memperjelas pendapat di atas dengan mengatakan bahawa
bikolateral merupakan ikata kapal dimana xilem diapit oleh floem luar dan floem dalam.
Contohnya pada tumbuhan yang termasuk ke dalam family Solanaceae atau suku terung-
terungan. Pada tipe berkas pengakut bikolateral terdapat kambium yang kurang jelas dan
terletak diantara floem dalam dan xilem. Pendapat ini dirasa benar mengingat Capsicum
sp. yang dilihat klasifikasinya digolongkan ke dalam famili Solanaceae dan hasil
paraktikum yang menunjukkan bikolateral sebagai tipe berkas pembuluh pada
pengamatan Capsicum sp..
4.4 Asplenium nidus
4.4.1 Hasil
Foto Pengamatan Gambar Literatur

(Sari. 2018)
Keterangan 1. Xilem
2. Folem

4.4.2 Klasifikasi
Klasfikasi dari Asplenium nidus menurut Plantamor (2020) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Pteridophyta
Kelas : Pteridopsida
Sub Kelas : Polypoditae
Ordo : Polypodiales
Famili : Aspleniaceae
Genus : Asplenium
Spesies : Asplenium nidus
4.4.3 Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada irisan tulang daun Asplenium nidus secara
melintang yang diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x mendapatkan hasil
bahwa pada pengamatan irisan tulang daun Asplenium nidus terdapat jaringan pembuluh
yang terdiri dari xilem dan floem, dimana floem menggelilingi xilem. Susunan seperti ini
termasuk tipe berkas pengangkut Konsentris dan digolongkan ke dalam konsentris
amfikibral. Pendapat ini dibenarkan oleh Sari (2018) Batang terdiri dari sumbu tegak
dengan daun-daun yang melekat padanya atau yang disebut dengan buku (nodus) dan
diantara dua buku disebut dengan ruas (internodus). Ruas terdiri dari sel-sel yang lebih
panjang, pada tumbuhan dikotil biasanya mempunyai ruas yang tidak nyata, sedangkan
pada golongan monokotil umumnya mempunyai ruas yang nyata.15 Batang pada
tumbuhan paku (Pteridophyta) berupa Prothalium pada generasi gametofit, batang sejati
pada generasi sporofit, dan struktur anatomi batang. Struktur anatomi batang terdiri atas:
Epidermis : jaringan hidup yang terdiri atas sel-sel skelerenkim, Korteks : jaringan utama
pada korteks adalah parenkim yang banyak mengandung lubang (antar sel), Stele : terdiri
atas pembuluh xylem dan floem yang membentuk berkas pengangkut bertipe
konsentratris
Pernyataan di atas diperjelas oleh (buku) yang mengatakan Dalam akar,batang, dan
daun telah terdapat jaringan pengangkut yang tersusun atas bagian floem dan xylem.
Berkas-berkas pengangkut itu umumnya tersusun konsentris amfribikal (xylem di tengah
dikelilingi oleh floem). Adanya trakeida dan berkayunya dindingdinding trakeida,
menambah kekuatan untuk mendukung tunas-tunas sehingga tumbuhan paku berlainan
dengan lumut. Sedangakan berkas pangangkut tipe Konsentris Amfikibral sendiri
menurut Iserep (1993) tipe konsentris adalah tipe berkas pengangkut yang terbentuk jika
posisi xilem da floem melingkar. Pada tipe berkas pengangkut ini, xilem dikelilingi olwh
floem atau sebaliknya. Tipe konsentris dapat dibedakan menjadi dua jenis, yiatu
konsentris amfikibral yang biasanya dijumpai pada tumbuhan paku. Pada tipe konsentris
amfikibral, xilem berada di tengan dan dikelilingi oleh floem. Dengan kata lainn, pada
tipe ini floem mengelilingi floem. Dan tipe yang kedua adalah tipe konsentris amfivasala
dapat dijumpai pada rizoma Acorus calamusndan. Pada tipe konsentris amfivasal, floem
berada di tengah dan dikelilingi oleh xilem. Dengan kata lain, jika posisi xilem
mengelilingi floem, maka berkas pengangkut disebut bertipe konsentris amfivasal.
4.5 Zea mays
4.5.1 Hasil
Foto Pengamatan Gambar Literatur

(Lamahala& Sumarni 2018)

Keterangan 1. Xilem
2. Floem

4.5.2 Klasifikasi
Klasfikasi dari Zea mays menurut Plantamor (2020) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Tracheobionta
Super Divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Comelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays
4.5.3 Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada irisan batang Zea mays secara melintang yang
diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x mendapatkan hasil bahwa pada
pengamatan irisan batang Zea mays Pada preparat awetan Zea mays terdapat jaringan
jarungan epidermis,iaringan dasar,dan jaringan pengangkut,dimana pada epideris
terdapat epidermis abaxial yang terletak pada lapisan paling luar bagian atas dan
adxial yang terletak dilapisan palng luar bagian bawah,diantara epidermis bawah
terdapat celah yang disebut dengan stomata sedangkan untuk jaringan mesofilnya
pada daun Zea mays hanya memiliki jaringan spongy dan untuk jaringan
pengangkutnya terdiri dari xilem dan floem yang terletak sejajar dan tidak terdapat
kambium diantara xilem dan floem sehingga digolongkan ke dalam tipe berkas
pengangkut kolateral tertutup.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Lamahala& Sumarni (2018) Susunan selanjutnya
yaitu terlihat jaringan pembuluh angkut (xilem dan floem) yang terlihat jelas berada
berdekatan dan tersebar tidak beraturan, dan paling banyak tersebar dekat dengan bagian
epidermis. Karena pada batang tumbuhan monokotil terdapat berkas pembuluh yang
menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya antara xilem dan floem tidak
ditemukan kambium. Lalu dikuatkan oleh pendapat oleh Savitri (2008) Dengan mengatakan
Sistem jaringan pengangkut pada daun terletak didalam tulang daun beserta vena-
venanya, pada penampang melintang daun, berkas pengangkut ini terdiri dari 1 ikatan
pembuluh, yang xylemnya terletak menghadap ke permukaan atas daun dan floemnya ke
permukaaan bawah daun.
Fahn (1991) mengatakan Jaringan setelah epidermis terdapat jaringan mesofil daun
yang tersusun atas jaringan palisade (tiang), jaringan spons (bunga karang) dan jaringan
pembuluh (xylem dan floem). Pada epidermis bawah daun terdapat sel-sel kipas. Sel-sel
kipas terletak sejajar dengan permukaan epidermis luar, ukuran sel-sel kipas tidak sama
panjangnya, karena itulah sel-sel ini disebut sel kipas seperti bentuknya yang menyerupai
kipas. Jaringan epidermis pada daun monokotil sel-sel epidermis di lindungi oleh lapisan
kutikula yang menyebabkan daun menjadi kaku, stomata sering tersusun dalam deretan
memanjang yang sejajar dengan sumbu daun.Jaringan selanjutnya yang terdapat pada
daun ialah jaringan pengangkut, Berkas pengangkut pada daun membentuk bangunan
kompleks yang disebut tulang daun. Tumbuhan dikotil memiliki satu ibu tulang daun
dengan cabang-cabang yang membentuk jala, sedangkan pada tumbuhan monokotil
tulang daun berderet sejajar sumbu daun dan dihubungkan oleh berkas-berkas kecil di
antaranya jaringan pengangkut terdiri dari xilem dan floem,xilem atau pembuluh kayu
berfungsi untuk untuk mengangkut air dan mineral yang diserap akar dari tanah menuju
daun dan Pembuluh Tapis(floem) yang berperan untuk mengangkut hasil fotosintesis ke
seluruh bagian tumbuhan.
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Komponen-komponen penyusun xilem adalah sebagai berikut: Trakeid yang
berfungsi sebagai penopang dan penghantar air, trakea yang berfungsi sebagai
penghantar air, parenkim xile berfungsi sebagai penyimpanan cadangan bahan
makanan, getah, tanin dan kristal dan yang terakhir adalah serabut xilem.
2. Komponen-komponen penyusun floem adalah sebagai berikut: Sel buluh tapis
berfungsi untuk mengangkut hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh tanaman,
sel penghantar atau pengiring berfungsi untuk menyediakan bahan makanan ke sel
yang masih hidup, parenkim floe berfungsi untuk memisahkan antara floem yang satu
dengan floem yang lain dan yang terakhir adalah serat-serat atau serabut floem
berfungsi memperkuat atau menopang pembuluh floem.
3. Susunan berkas pengangkut pada tumbhan dikotil tersusun rapi melingkar dengan
dipisahkan kambium diantara keduany, floem berada di luar kambium dan xylem
berada di dalam kambium. Sedangkan pada tumbuhan monokotil susunan berkas
pengangkutnya menyebar kesluruh bagian.
4. Macam-macam tipe berkas pengangkut adalah pembuluh kolateral (Kolateral terbuka
yang ditemukan pada batang Hibiscus rosa-sinensis dan batang pertumbuhan primer
pada Amaranthus sp., kolateral tertutup pada daun Zea mays, dan pembuluh
bikolateral pada batang Capsicum annum), Ikatan pembuluh radial, pembuluh
konsentris (Amfikribal pada tulang daun Asplenium nidus dan konsentris
Amfivasal).

5.2 Saran
Saran yang ditujukan kepada praktikum ini adalah praktikan diharapkan membaca
materi sebelum praktikum dimulai agar apa yang dijelaskan oleh asisten lebih mudah
dipahami.
DAFTAR PUSTAKA

Bria, Emilia.J. 2018. Analisis Struktur Anatomi Batang Anyelir (Dianthus caryophyllus L.)
dan Kontribusinya Terhadap Sistematik Ordo Caryophyllales. Jurnal Saintek Lahan
Kering. 1(1).
Fahn A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB.
Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung : ITB.
Kimball, John W. 1994. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. jakarta : Erlangga
Lamahala& Sumarni. 2018. Pengembangan Media Jaringan Epidermis Tanaman Jagung (Zea
mys L.) Yang Tumbuh di Kota Kupang Sebagai Sumber Belajar Tambahan
Pembelajaran IPA SD Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti.
5(2).
Loveless A. R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik Jilid I. Jakarta
: PT Gramedia Utama
Murida, Liliana. 2018. Penggunaan Media Realia dan Media Gambar untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa MAN 2 Pidie Pada Materi Struktur dan Fingsi Jaringan Tumbuhan.
Skripsi. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.
Pujiati, dkk. 2010. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Urin Sapi Dan Media Tanam
Terhadap Struktur Anatomi Akar Dan Batang Tanaman Cabai (Capsicum frutescens L.)
Sebagai Petunjuk Praktikum Mata Kuliah Anatomi Tumbuhan. Prosiding Semnas
Hayati IV. Universitas Nusantara PGRI Kediri.
Sari, Elia. 2018. Klasifikasi Pteridophyta di Perkebunan Kelapa Sawit Kawasan Pante
Ceuremen Kecamatan Babahrot Aceh Barat Daya Sebagai Media Pembelajaran Biologi
di SMAN 7 Aceh Barat Daya. Skripsi. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam-
Banda Aceh.
Savitri, sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan
(Anatomi Tumbuhan). Malang : UIN Press.
Sutrian, Yayan. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
LAMPIRAN

1. Jelaskan penegertian Jaringan pengangkut!


2. Sebutkan tipe- tipe berkas pembuluh!
3. Jelaskan karakter yang dimaksud dengan anomali!

1. Jaringan pengangkut adalah jaringan yang berguna untuk transportasi hasil asimilasi
dari daun ke seuruh bagian tumbuhan dan pengangkutan air serta garam-garam
mineral Jaringan pengangkut dibagi menjadi dua yaitu xilem dan floem, xilem
merupakan jaringan kompleks yang terdiri dari sel mati maupun hidup. Floem
merupakan jaringan kompleks yang tediri dari berbagai unsur dengan tipe berbeda
yaitu pembuluh lapisan, parenkim serabut, dan kloroid. Sel-sel terpenting di dalam
floem adalah tabung tapis
2. pembuluh kolateral (Kolateral terbuka dan kolateral tertutup,dan pembuluh
bikolateral), Ikatan pembuluh radial, pembuluh konsentris (Amfikribal dan
Amfivasal).
3. Suatu bentuk penyimpangan dari keadaan normal atau sesuatu yang tidak seperti
biasanya (terdapat kelainan). Jadi karakter anomali itu adalah karakter yang
menyimpang dari keadaan normal (tidak seperti pada umumnya).
LAMPIRAN
No. Foto Pengamatan Keterangan
1.

Daun Jagung ( Zea mays )


Perbesaran Total 100x

2.

Tulang Daun ( Asplenium nidus )


Perbesaran Total 100x

3.

Batang ( Capsicum sp )
Perbesaran Total 100x

4.

Batang Bayam ( Amaranthus sp )


Perbesaran Total 100x

5.

Batang Kembang Sepatu ( Hibiscus


rosa-sinensis ).
Perbesaran Total 100x
PENGGUNAAN MEDIA REALIA DAN MEDIA GAMBAR UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MAN 2 PIDIE
PADA MATERI STRUKTUR DAN FUNGSI
JARINGAN TUMBUHAN

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

LILIANA MURIDA
NIM. 281324821
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Program Studi Pendidikan Biologi

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2018M/1439 H
44

b. Floem (pembuluh tapis)

Floem disusun oleh sel ayakan atau tapis, pembuluh tapis, sel pengiring,

sel parenkim kulit kayu, dan serabut kulit kayu (sel sklerenkim). Floem berfungsi

untuk mengangkut zat-zat hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh. Xilem dan

floem bersatu membentuk suatu ikatan pembuluh angkut.

Gambar 2.4 berkas pengangkut pada tumbuhan.35

c. Tipe tipe Berkas Pengangkut

1) Tipe kolateral, xilem dan floem yang letaknya bersebelahan di dalam

suatu jari-jari (xilem di sebelah dalam dan floem di sebelah luar).tipe

koleteral di beakan menjadi 3 yaitu a) Kolateral terbuka, antara xilem dan

floem terdapat kambium. Misalnya pada batang tumbuhan dikotil. b)

Kolateral tertutup, antara xilem dan floem tidak terdapat kambium.

Misalnya pada batang tumbuhan monokotil. c) Ikatan pembuluh

bikolateral, posisi dari luar ke arah dalam yaitu floem luar, kambium

luar,xilem, kambium dalam, dan floem dalam .


____________
35
https://www.google.co.id/search?=xilem+dan+floem+pada+batang&oq=xilem+dan+floe
m. Diakses pada Tanggal 11 September 2017.
JSLK 1 (1) 8 – 9
Jurnal Saintek Lahan Kering (2018)
International Standard of Serial Number 2622-1020

Analisis Struktur Anatomi Batang Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) dan Kontribusinya Terhadap
Sistematik Ordo Caryophyllales
Emilia Juliyanti Bria
Program Studi Biologi, Universitas Timor, Kefamenanu, TTU – NTT, Indonesia.

Article Info Abstrak

Article history: Caryophyllales dikenal sebagai ordo yang memiliki pertumbuhan sekunder anomaly. Anatomi batang Anyelir (Dianthus caryophyllus
Received 8 April 2018 L.) dianalisis untuk mendapatkan data yang valid pada hubungan kekerabatan dengan anggota family yang lain. Struktur primer batangnya
Received in revised form 19 Juni 2018 terdiri dari epidermis yang tersusun dari selapis sel; korteks dan empulur tersusun dari sel-sel parenkim dan memiliki ruang antarsel; dan
Accepted 5 Juli 2018 jaringan pembuluh primer yang tersusun membentuk jari – jari terdiri atas beberapa trachea xilem, dimana xilem terletak di bagian dalam
dan floem di bagian luar. Selanjutnya, pada pertumbuhan sekunder, batangnya memiliki struktur yang normal dengan aktivitas kambium
yang tidak normal. Hal ini termasuk dalam ciri tumbuhan yang memiliki pertumbuhan sekunder anomali. Hasil penelitian ini dapat
Keywords: Anatomi, Batang, Anyelir, dijadikan karakter pembatas untuk memperkuat hubungan kekerabatan antar takson khususnya pada kategori yang lebih tinggi.©2018
Sistematika dipublikasikan oleh JSLK.

1. Pendahuluan
Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) merupakan salah satu anggota bangsa
Caryophylalles dari suku Caryophyllaceae yang menempati peringkat teratas
perdagangan bunga potong di dunia. Anggota bangsa Caryophylalles, memiliki
kesamaan ciri-ciri morfologi yaitu umumnya berupa terna. Daun tunggal,
biasanya tanpa daun penumpu. Bunga banci atau tunggal, aktinomorf, dengan
tenda bunga yang rangkap atau tunggal, atau jelas dengan kelopak dan mahkota.
Benang sari dalam 1 lingkaran, berhadapan dengan tenda bunga atau dalam 2
lingkaran. Bakal buah tenggelam atau menumpang, kebanyakan beruang 1
dengan banyak sampai 1 bakal biji yang kampilotrop, yang hampir selalu
mempunyai 2 selaput biji, terletak pada tembuni yang sentral (Tjitrosoepomo,
1982; Singh dkk., 2013).
Selain memiliki kesamaran ciri morfologi, ditemukan juga kesamaan ciri
anatomi dari beberapa Famili. Dalam penelitian Dima (2010) diketahui bahwa
akar Amaranthus sp. (Famili Amaranthaceae) memiliki struktur anomali yang
sama dengan batangnya, dimana floem primer tetap menempati posisi semula
dan kambium pembuluh terletak di luar berkas pembuluh primer sehingga
dihasilkan jaringan konjungtif dengan sejumlah lingkaran berkas pembuluh
sekunder terbenam di dalamya. Selain itu, dalam penelitian Tododjahi (2010)
diketahui juga bahwa akar Bougainvillea spectabilis (Famili Nyctaginaceae) juga
mempunyai struktur sekunder menyimpang (anomali) yang sama dengan
batangnya yaitu tidak memiliki kambium pembuluh normal tetapi hanya Gambar 1. Foto mikrograf irisan melintang batang anyelir : (A) struktur primer
memiliki jaringan meristematis yang tersusun konsentris membentuk sejumlah perbesaran 40x ; (B) daerah epidermis perbesaran 400x ; (C) jaringan
pembuluh primer perbesaran 100x.
lingkaran pertumbuhan.
Kajian anatomi perbandingan merupakan salah satu bukti yang sangat
Daerah korteks ini tersusun atas sel-sel parenkim dan terdapat kloroplas. Di
berperan penting dalam taksonomi. Kajian anatomi menyediakan bukti mengenai
antara sel-sel tersebut terdapat ruang antar sel. Berdasarkan ukuran selnya,
hubungan antar kelompok yang lebih besar seperti suku dan juga membantu
parenkim penyusun korteks pada batang Anyelir dibedakan atas dua bagian,
membangun kedekatan nyata status taksonomi yang tidak pasti. Kombinasi
dimana bagian yang pertama berbatasan dengan epidermis, terdiri atas sel-sel
karakter lebih dapat diandalkan daripada hanya terbatas pada satu karakter.
parenkim yang berukuran besar dan terdapat kloroplas yang memberi warna
Karakter anatomi baik organ vegetatif maupun organ generatif memiliki sifat
hijau pada daerah ini, sedangkan bagian yang dekat dengan silinder pusat
lebih tetap dan plastisitas minimal. Karakter ini sampai sekarang merupakan
memiliki ukuran yang lebih kecil . Selain itu, inti pusat jaringan dasar yaitu
karakter yang sukses dalam menyelesaikan permasalahan taksonomi takson –
empulur juga tersusun atas sel-sel parenkim yang berukuran besar dan juga
takson khususnya kategori yang besar (Sharifnia & Albouyeh, 2002; Faria dkk.,
memiliki ruang antarsel (Gambar 1. A).
2012). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur anatomi
Sistem jaringan pembuluh primer merupakan hasil diferensiasi prokambium
batang anyelir dan untuk mengetahui susunan anatomis batang anyelir.
dan terletak pada bagian dalam korteks. Jaringan pembuluh ini, tersusun atas
xilem dan floem yang dapat dilihat pada irisan melintang batang Anyelir
2. Metode
(Gambar 1.C). Struktur jaringan pembuluh pada batang Anyelir berbeda dengan
Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dengan metode deskriptif.
batang dikotil pada umumnya. Jaringan pembuluh pada batang Anyelir, tidak
Dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November tahun 2012 di
membentuk berkas-berkas tetapi xilem yang terletak di bagian dalam sisa
Laboratorium Bioteknologi Politani Negeri Kupang. Pengumpulan data berupa
prokambium, tersebar membentuk untaian seperti rantai ke arah empulur
gambar struktur anatomi hasil pengamatan mikroskop dan kemudian data
sedangkan floem membentuk struktur lingkaran di sebelah luar prokambium.
gambar dianalisis lalu dibandingkan dengan teori dari referensi yang ada.
Xilem yang terbentuk pertama kali adalah protoxilem dan unsur xilem yang
terbentuk kemudian adalah metaxilem yang menjadi dewasa secara sentrifugal,
3. Hasil dan Pembahasan
yang disebut xilem endark. Walaupun kedua macam xilem ini tidak dapat
3.1. Struktur primer batang anyelir
dibedakan dengan jelas dalam irisan melintang, namun diantara dua macam
Struktur primer batang Anyelir dapat diketahui dengan melihat irisan
jaringan ini terdapat perbedaan struktural dimana protoxilem berukuran kecil dan
melintang batang muda Anyelir (Gambar 1). Pada penampang melintang batang,
metaxilem berukuran lebih besar. Sebagaimana pada xilem primer, dalam floem
dilihat secara terpisah tiga sistem jaringan pada daerah pertumbuhan primer yaitu
primer terdapat protofloem dan metafloem. Protofloem berdiferensiasi lebih
system jaringan dermal diwakili oleh epidermis; sistem jaringan dasar terdiri atas
dahulu daripada metafloem dan arah diferensiasinya secara sentripetal. Dari hasil
korteks dan empulur; dan sistem jaringan pengangkut yang terdiri dari xilem dan
penelitian sulit membedakan protofloem dan metafloem sehingga floem primer
floem.
dianggap satu jaringan dan tidak ditentukan protofloem dan metafloemnya.
Sistem jaringan dermal pada batang Anyelir berupa epidermis yang
menyelubungi tubuh primer dan terletak di bagian terluar batang (Gambar 1.B).
3.2. Struktur Sekunder Batang Anyelir
Sel – sel epidermis tersusun atas satu lapis sel, rapat, tidak bercelah dan pada
Struktur sekunder batang Anyelir, memiliki struktur yang unik (gambar
dinding yang menghadap ke atmosfer, didapatkan penebalan yang mengandung
2.A). Pada tumbuhan yang mengalami pertumbuhan sekunder, periderm
kutin. Epidermis batang Anyelir juga memiliki mulut daun atau stoma (jamak:
merupakan jaringan pelindung tubuh sekunder menggantikan fungsi epidermis.
stomata) yang banyak. Berdasarkan tipe stomanya, stoma pada Anyelir memiliki
Namun hal ini tidak terjadi pada batang Anyelir. Pada irisan melintang batang
tipe diasitik dimana setiap stoma dikelilingi oleh dua sel tetangga yang
tua Anyelir, ditemukan jaringan pelindungnya masih berupa epidermis yang
memotong stoma.
tersusun atas selapis sel, dimana susunan sel – selnya rapat dan dinding sebelah
luarnya terdapat penebalan berupa kutin (Gambar 2.B).
Pada awal pertumbuhan sekunder batang Anyelir, terjadi proses sklerefikasi
dimana adanya perubahan jaringan parenkim menjadi sklerenkim yang dimulai
Emilia Juliyanti Bria/ JLSK 1 (1) 8 – 9 8
IJCCS ISSN: 1978-1520 159

Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Urin Sapi Dan Media Tanam Terhadap
Struktur Anatomi Akar Dan Batang Tanaman Cabai (Capsicum frutescens L.)
Sebagai Petunjuk Praktikum Mata Kuliah Anatomi Tumbuhan

Pujiati, Joko Widiyanto, Febriana Adytia Wardani


Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas PMIPA IKIP PGRI Madiun
Email : poesky86@gmail.com, adytia.febriana@yahoo.co.id

Abstrak

Cabai rawit merupakan tanaman sayuran yang memiliki nilai gizi tinggi dan ekonomis
sehingga perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penggunaan pupuk
organik cair urin sapi dan media tanam selain tanah seperti sekam dan serbuk gergaji
dibutuhkan untuk meningkatkan produksi tanaman tersebut. Penggunaan pupuk organik cair
urin sapi ditujukan untuk mengetahui unsur hara didalam tanaman tersebut. Penelitian
bertujuan untuk mengetahui pengaruh POC urin sapi dan media tanam terhadap pertumbuhan
dan struktur anatomi pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L). Penelitian ini
merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap,
dengan 3 kali ulangan. Variabel bebas dalam penelitian adalah POC urin sapi dengan
konsentrasi (15%, 30%, 45%), sedangkan media tanam dengan perbandingan tanah dengan
serbuk gergaji dan sekam (1:1), (1:1) dan (1:1:1). Variabel terikat dalam penelitian adalah
pertumbuhan dan struktur anatomi tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L) dengan
parameter yang diukur adalah tinggi tanaman, panjang akar, berkas pengangkut pada akar dan
batang tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens L). Hasil penelitian menunjukkan adanya
pengaruh pupuk organik cair urin sapi dan media tanam terhadap tinggi tanaman dengan
probabilitas 0,00, pada perlakuan P3M3 merupakan perlakuan yang paling baik dengan rata-
rata tinggi tanaman 44,7 cm dan juga pada panjang akar yang memiliki probabilitas 0,00
dengan rata-rata panjang akar14,6 cm. Sedangkan struktur anatomi pada akar mempunyai tipe
silinder pembuluh radial, mempunyai ukuran xilem terbesar 5967,88 μm, floem 506,37 μm serta
pada batang mempunyai tipe berkas pengangkut eustele, mempunyai ukuran xilem terbesar
2899,55 μm, floem 391,83 μm, pada perlakuan P3M3 (POC urin sapi konsentrasi 45% dan
media tanam kombinasi tanah+serbuk gergaji+sekam).

Kata kunci—Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.), Pupuk Organik Cair Urin Sapi,
Media Tanam.

PENDAHULUAN

Cabai merupakan salah satu jenis sayuran yang cukup penting di Indonesia, baik sebagai
komoditas yang dikonsumsi di dalam negeri maupun sebagai komoditas ekspor. Sebagai
sayuran, cabai selain memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, juga mempunyai nilai ekonomi
tinggi. Pemanfaatannya sebagai bumbu masak atau sebagai bahan baku berbagai industri
makanan, minuman dan obat-obatan membuat cabai semakin menarik untuk diusahakan.
Produktivitas cabai rawit di Indonesia rata-rata masih rendah. Pada tahun 2009 produksi cabai
rawit 5,07 ton/ha, pada tahun 2010 turun menjadi 4,56 ton/ha, dan pada tahun 2013 produksi
menjadi 5,01 ton/ha [1]. Berdasarkan data dari BPS tersebut maka perlu adanya peningkatan
produksivitas terhadap tanaman cabai rawit di Indonesia.
Penurunan produktivitas cabai rawit disebabkan oleh kondisi tanah Indonesia yang
sebelumnya sangat subur telah mengalami berbagai macam penurunan kualitas yang disebabkan
oleh pemakaian pupuk anorganik yang terbuat dari bahan kimia. Pupuk anorganik menyebabkan

Prosiding Semnas Hayati IV


Universitas Nusantara PGRI Kediri
IJCCS ISSN: 1978-1520 165

pembentukan akar [10]. Auksin sebagai salah satu hormon tumbuhan bagi tanaman mempunyai
peranan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Ljung et al., dalam Riyanti menyatakan bahwa dalam media tanam juga terdapat
hormon pertumbuhan yang berpengaruh terhadap akar [7]. Awal terbentuknya akar dimulai oleh
adanya metabolisme cadangan nutrisi berupa karbohidrat yang akan menghasilkan energi
selanjutnya mendorong pembelahan sel dan membentuk sel-sel baru dalam jaringan. Perlakuan
P3M3 (POC 45%+tanah+serbuk gergaji+sekam) mempunyai ukuran yang besar, hal ini terjadi
karena unsur hara yang terdapat pada pupuk organik cair urin sapi dan kombinasi media tanam
terserap sempurna sehingga proses metabolisme tumbuhan lebih cepat dan mempercepat proses
pemanjangan pada akar tanaman cabai rawit.
Berdasarkan Gambar 2 berkas pengakut batang terdiri xilem floem. Berkas pengakut
terdapat stele yaitu daerah sebelah dalam epidermis. Fahn dalam Hartanto menyebutkan bahwa
tipe stele berdasarkan berkas pengakut pada batang tanaman ada tidaknya empulur dan jendelah
daun dibagi menjadi 8 jenis yaitu happlostele, aktinostele, plektostele, sifonostele amfiflois,
diktiostele, sifonostele ektoflois, eustele, ataktostele [13]. Pada tanaman cabai rawit mempunyai
tipe eustele karena bagian tengahnya terdapat empulur dan jari-jari empulur.
Berdasarkan hasil pengamatan anatomi berkas pengangkut pada batang tanaman cabai
rawit mempunyai ukuran sel xilem dan floem yang berbeda-beda. Perlakuan P3M3 (POC
45%+tanah+serbuk gergaji+sekam) mempunyai ukuran terbesar xilem 2899,55 μm dan floem
391,83 μm, sedangkan ukuran terkecil xilem 1329,21 μm dan floem 542,53 μm pada perlakuan
P1M1(POC 15%+tanah+serbuk gergaji) (lihat Gambar 2). Perbedaan ukuran sel xilem dan
floem terjadi karena penyerapan unsur hara pada tiap tanaman berbeda. Menurut Wattimena
dalam Carolina hormon auksin (IAA) menyebabkan terjadinya pembesaran sel dan aktifitas
kambium, pembentukan jaringan xilem dan floem dipengaruhi oleh IAA dan pembelahan sel-sel
di daerah kambium juga dirangsang IAA [10]. Pada perlakuan konsentrasi 45% mempunyai sel
yang besar karena unsur K pada konsentrasi ini berperan sempurna memacu pertumbuhan
dijaringan meristem lebih banyak, sehingga proses pertumbuhan tanaman menjadi lebih cepat.
Perlakuan P3M3 (POC 45%+tanah+serbuk gergaji+sekam) hal ini terjadi karena unsur hara
yang terdapat pada pupuk organik cair urin sapi dan kombinasi media tanam terserap sempurna
sehingga proses metabolisme tumbuhan lebih cepat dan mempercepat proses pertumbuhan
tanaman cabai rawit.
Pemberian pupuk organik cair dengan konsentrasi yang sesuai serta penambahan media
tanam alternatif memiliki interaksi yang baik maka akan menghasilkan zat-zat dan unsur hara
yang dibutuhkan tanaman untuk melakukan proses pertumbuhan dan perkembangan optimal.

SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan pupuk organik cair urin sapi
dan kombinasi media tanam menunjukkan adanya pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman
cabai rawit. Pertumbuhan tanaman cabai rawit paling optimum yaitu pemberian POC ursa
45%+tanah+serbuk gergaji+sekam. Pemberian Pupuk organik cair ursa 45%+tanah+serbuk
gergaji+sekam mempunyai pengaruh paling optimum terhadap ukuran sel berkas pengangkut
pada akar dan batang cabai rawit, hal ini terjadi karena unsur hara terserap sempurna. Pemberian
pupuk organik cair dengan konsentrasi yang sesuai serta penambahan media tanam alternatif
menunjukkan adanya interaksi yang baik antara keduanya maka akan menghasilkan zat-zat dan
unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Hasil penelitian berupa pengaruh pemberian POC urin
sapi dan media tanam dapat digunakan sebagai bahan penyusun petunjuk praktikum anatomi
tumbuhan, dimana mahasiswa diharapkan dapat mampu menggunakan media alternatif selain
tanah untuk bertanam dengan baik.

Prosiding Semnas Hayati IV


Universitas Nusantara PGRI Kediri
KLASIFIKASI PTERIDOPHYTA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
KAWASAN PANTE CEUREMEN KECAMATAN BABAHROT
ACEH BARAT DAYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN
BIOLOGI DI SMAN 7 ACEH BARAT DAYA

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

ELIA SARI
NIM. 281 324 800
Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Program Studi Pendidikan Biologi

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR-RANIRY
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2018 M/ 1439 H
14

makanan.14 Sistem perakaran pada tumbuhan paku (Pteridophyta)

bersifat rizoid (pada generasi gametofit), akar serabut (pada generasi

sporofit) dan struktrur anatomi akar pada tumbuhan paku (Pteridophyta)

yaitu:

a) Pada bagian ujung dilindungi oleh kaliptra

b) Di belakang kaliptra terdapat titik tumbuh akar berbentuk bidang

empat yang aktivitasnya keluar membentuk kaliptra sedangkan ke

dalam membentuk sel-sel akar

c) Pada silender pusat terdapat fasisi (berkas pembuluh angkut) bertipe

konsentris (xylem dikelilingi floem).

2. Batang

Batang terdiri dari sumbu tegak dengan daun-daun yang melekat padanya

atau yang disebut dengan buku (nodus) dan diantara dua buku disebut

dengan ruas (internodus). Ruas terdiri dari sel-sel yang lebih panjang, pada

tumbuhan dikotil biasanya mempunyai ruas yang tidak nyata, sedangkan

pada golongan monokotil umumnya mempunyai ruas yang nyata. 15 Batang

pada tumbuhan paku (Pteridophyta) berupa Prothalium pada generasi

gametofit, batang sejati pada generasi sporofit, dan struktur anatomi batang.

Struktur anatomi batang terdiri atas:

__________
14
Hasanuddin, Anatomi Tumbuhan, (Banda Aceh: Universitas Syiah Kuala Pres, 2012),
h. 73.
15
Yuliasmara, “Morfologi, Fisiologi, dan Anatomi Paku Picisan (Drymolossum
pHhyloselloides) serta Pengaruh pada Tanaman Kekoa”, Jurnal Penelitian Perkebunan, Vol. 1,
No. 3 (2012). h. 18
15

a. Epidermis : jaringan hidup yang terdiri atas sel-sel skelerenkim.

b. Korteks : jaringan utama pada korteks adalah parenkim yang

banyak mengandung lubang (antar sel)

c. Stele : terdiri atas pembuluh xylem dan floem yang

membentuk berkas pengangkut bertipe konsentratris.

3. Daun

Daun adalah organ fotosintesis utama pada sebagian besar tumbuhan.

Daun biasanya tipis melebar dan berwarna hijau karena memiliki zat hijau

daun yang disebut dengan klorofil. Daun juga mempunyai fungsi yang

sangat penting bagi tumbuhan yaitu sebagai pengolah zat-zat makanan,

pernapasan dan penguapan.16

Daun pada tumbuhan paku (Pteridophyta) tumbuh dari

percabangan tulang daun yang disebut frond, dan keseluruhan daun

dalam satu tangkai daun disebut pinna. Berdasarkan ukurannya daun

pada tumbuhan paku (Pteridophyta) dibagi menjadi dua yaitu: (a) Daun

mikrofil: berukuran kecil, tebalnya hanya selapis sel dan berbentuk

rambut, (b) Daun makrofil: berukuran besar dan tipis, sudah memiliki

__________

16
Hasanuddin, Botani Tumbuhan Tinggi…, h. 152.
p-ISSN 2355-5106 || e-ISSN 2620-6641 Volume 5, Nomor 2 Tahun 2018

PENGEMBANGAN MEDIA JARINGAN EPIDERMIS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)


YANG TUMBUH DI KOTA KUPANG SEBAGAI SUMBER BELAJAR TAMBAHAN
PEMBELAJARAN IPA SD BERBASIS KEARIFAN LOKAL

Muhaimin H. Lamahala, Sumarni Lamen dan Uslan

Universitas Muhammadiyah Kupang


uslanspd@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jaringan epidermis tanaman jagung (Zea mays l.)
yang tumbuh di Kota Kupang sebagai sumber belajar tambahan Pembelajaran IPA SD
berbasis kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan metode berupa eksploratif deskriptif
untuk menggambarkan dan menginterpretasi jaringan epidermis jagung (Zea mays L.) dan
metode yang merujuk pada langkah-langkah Research and Development. Hasil penelitian
menunjukkan secara anatomi jaringan epidermis pada tanaman jagung di NTT tidak memiliki
perbedaan yang jelas dengan wilayah lainnya. Hasil dari karakteristik anatomi jagung
menghasilkan produk Leaflet yang telah divalidasi oleh validator dan telah layak digunakan
di lapangan dengan sedikit revisi dengan nilai yaitu 3,5.

Kata-kata kunci: Epidermis, Jagung, Kearifan Lokal, Leaflet.

Abstract

This research aimed at finding out epidermal tissue media of corn plants (zea mays l.) which
grow in Kupang city as an additional learning resource in Elementary School Science
Learning Based on Local Wisdom. This research used the method in the form of descriptive
exploratory to illustrated and interpreted corn epidermal tissue (Zea mays L.) and the method
refered to the steps of Research and Development. The result of research showed that
anatomically the epidermal tissue of corn plants did not have a clear difference with other
regions. The result of anatomical characteristics of corn produced Leaflet product that has
been validated by validator and was suitable for use in the field with a little revision with a
value of 3.5.

Keywords: epidermal, corn, local wisdom, Leaflet.

Latar Belakang
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi penghasil
jagung terbanyak di Indonesia. Jagung dimanfaatkan sebagai pangan pokok dan juga
sebagai pakan ternak. Subagio dan Aqil (2013) menyatakan tanaman jagung di NTT
didominasi oleh jagung ras lokal yaitu sebesar 37% dan sisanya jagung bersari bebas
unggul (varietas Lamuru, 16%) dan hibrida (6%) (Murningsih dkk, 2015).
Pertumbuhan tanaman jagung yang baik sangat tergantung pada faktor genetik,
lingkungan tumbuh dan juga tindakan budidaya. Respon tanaman sebagai akibat faktor
lingkungan terlihat pada penampilan tanaman. Tanaman berusaha menanggapi kebutuhan

Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti || 15


p-ISSN 2355-5106 || e-ISSN 2620-6641 Volume 5, Nomor 2 Tahun 2018

Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian anatomi epidermis tanaman jagung yang telah
didapatkan dengan penampang membujur dengan pembesaran mikroskop 10 × 10 yang
berasal dari Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Oebobo Kota Kupang, dapat dilihat adanya
epidermis yang berbentuk persegi dengan tepi bergerigi. Hal ini didukung oleh pernyataan
Nurhayati dkk (2016), bahwa jaringan epidermis memiliki bentuk sel-sel epidermis atas dan
bawah daun yang sama, yaitu berbentuk persegi sampai persegi panjang serta memiliki tepi
yang bergerigi. Selain itu daun jagung juga memiliki sel penutup, sel tetangga serta celah
stomata. Setiap sel penutup diiringi satu sel tetangga dengan sumbu sel penutup yang
sejajar sumbu sel tetangga serta celah stomata, sel penutup stomata terletak sejajar dengan
sel epidermis (Nurhayati dkk, 2016). Stomata pada daun jagung memiliki bentuk yang
memanjang dengan bagian ujung membesar, berdinding tipis, dan berbentuk kecil dibagian
tengah yang membuktikan bahwa pada daun jagung terdapat modifikasi epidermis berupa
stomata yang berbentuk halter (memanjang) (Saraswati, 2015).
Penampang melintang batang tanaman jagung dengan pembesaran mikroskop 2,5 ×
10 dari Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Oebobo Kota Kupang terlihat susunan jaringan
kolenkim pada batang tanaman jagung karena kolenkim berfungsi untuk melindungi organ
muda sedangkan sklerenkim belum terlihat jelas karena sklerenkim ada pada batang untuk
menunjuang organ dewasa sedangkan jagung yang disayat masih muda sehingga jaringan
kolenkim bisa terlihat jelas dibawah epidermis. Kelompok sel kolenkim dan sklerenkim
diperlukan untuk menyokong secara mekanik. Penelitian Khoirunisa (2014) pada tanaman
dikotil menjelaskan bahwa kolenkim merupakan jaringan yang memberi kekuatan yang
bersifat sementara pada tumbuhan. Kolenkim juga terdapat pada tumbuhan yang masih
muda dan tumbuhan basah, sedangkan sklerenkim jaringan penguat yang bersifat
permanen. Jika tumbuhan sudah tua kolenkim akan diganti dengan sklerenkim. Sel-sel
penyusun sklerenkim adalah sel-sel mati dan mempunyai penebalan dinding yang tebal dan
merata. Susunan selanjutnya yaitu terlihat jaringan pembuluh angkut (xilem dan floem) yang
terlihat jelas berada berdekatan dan tersebar tidak beraturan, dan paling banyak tersebar
dekat dengan bagian epidermis. Karena pada batang tumbuhan monokotil terdapat berkas
pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya antara xilem dan floem
tidak ditemukan kambium. Nurhayati dkk (2016), menambahkan bahwa pada tanaman
monokotil famili Araceae berkas pembuluh lebih banyak ditemukan di bagian korteks dekat
epidermis atau daerah perifer batang.
Susunan parenkim empulur juga tersebar dibagian tengah, dan sel epidermis yang
berbentuk segi enam dan tidak teratur susunannya, sedangkan pada sayatan membujur

Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti || 22