Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

M DENGAN DIAGNOSA MEDIS


BRONCHO PNEUMONIA DI RUANG FLAMBOYAN
RSUD DR. DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA

Oleh :

Congky
NIM :2017.C.09a.0829

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020

BAB 1

1
2

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Konsep Dasar Penyakit Bronchopneumonia


1.1.1 Definisi Bronchopneumonia
Bronkopeneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau benda asing yang ditandai dengan
gejala panas yang tinggi, gelisah, dispnu, napas cepat dan dangkal, muntah serta
batuk kering dan produktif (Nursalam, 2008). Bronkopneumonia dapat juga
dikatakan suatu keradangan pada parenkim paru yang disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur, ataupun benda asing (Sujono, 2006). Bronkopneumonia adalah
inflamasi pada parenkim paru yang terjadi pada ujung akhir bronciolus yang
tersumbat oleh eksudat mukoperulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam
lobus yang berada didekatnya (Wong, 2003).
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas disimpulkan bahwa Brokopneumonia
adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang
ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur dan benda asing.
1.1.2 Etiologi Bronchopneumonia
Secara umun individu yang terserang Bronkopneumonia diakibatkan oleh
adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme
patogen. Orang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh
terhadap organ pernafasan yang terdiri atas: reflek glotis dan batuk, adanya
lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan
sekresi humoral setempat. Timbulnya Bronkopneumonia disebabkan oleh virus,
bakteri, jamur, protozoa, mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia, antara lain:
1. Bakteri: Diplococus Pneumonia, Pneumococcus, Stretococcus Hemoliticus
Aureus, Haemophilus Influenza, Basilus Friendlander (Klebsial Pneumoni),
Mycobacterium Tuberculosis.
2. Virus:Respiratory syntical virus, virus influenza, virus sitomegalik.
2

3. Jamur: Citoplasma Capsulatum, Criptococcus Nepromas, Blastomices


Dermatides, Aspergillus, Candinda Albicans, Mycoplasma Pneumonia.
Aspirasi benda asing (Suriadi, 2006).
1.1.3 Manifestasi Klinis Bronchopneumonia
Menurut (Asih & Effendy, 2004) gejala-gejala Bronchopneumonia serupa
untuk semua jenis pneumonia, tetapi terutama mencolok pada Bronchopneumonia
yang disebabkan oleh bakteri.
Gejala-gejala mencakup:
1. Demam dan mengiggil akibat proses peradangan.
2. Batuk yang sering produktif dan purulen.
3. Sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae),merah
muda (untuk staphylococcus aureus),atau kehijauan dengan bau khas
(Pseudomonas Aeruginosa).
4. Krekel (bunyi paru tambahan).
5. Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan edema.
6. Biasanya sering terjadi respon subyektif dispnu.
7. Timbul tanda-tanda sianosis.
8. Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mukus,yang dapat
menyebabkan atelektasis absorpsi.
9. Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat cedera toksin langsung pada
kapiler atau akibat reaksi paradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.
1.1.4 Patofisiologi Bronchopneumonia
Bronchopneumonia merupakan infeksi sekuler yang biasanya disebabkan
oleh virus penyebab Bronchopneumonia yang masuk ke saluran pernapasan
sehingga terjadi peradangan broncus dan alveolus. Inflamasi broncus ditandai
adanya penumpukan sekret sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi
positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka
komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, emfisema dan atelektasis. Kolaps
alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan napas, sesak napas dan napas
ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan
produksi surfaktan sebagai pelumas yang berfungsi untuk melembabkan rongga
pleura. Emfisema (tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru) adalah tindak
3

lanjut daripembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas,


hipoksemia, asidosis respiratori pada klien terjadi sianosis, dipneu dan kelelahan
yang akan mengakibatkan terjadinya gagal napas.( Arif Muttaqin, 2008:98).
4

Etiologi: Bakteri, Virus, Jamur

BRONKOPNEUMONIA

B1 B2 B3 B4 B5 B6

Kuman berlebih di bronkus Infeksi Hipoksia jaringan Oksigen dalam Suplai O2 ke jaringan
Mukus bronkus
pulmonary otak tubuh menurun
meningkat menurun

Proses peradangan
dinding bronkus Penurunan volume Iskemia jaringan otak Anoksi Bau mulut tidak Hipoperfusi jaringan
ekspirasi paksa jaringan sedap
Akumulasi sekret di Infark otak
bronkus Metabolisme
Peningkatan volume residu Penimbunan asam laktat Anoreksia anaerob
Peradangan selaput otak
Obstruksi Tidak dapat dikeluarkan
CO2 Kelemahan Fisik,
jalan nafas oleh ginjal Intake tidak
menurun Fatigue
Edema jaringan otak adekuat
Ketidakcukupan pengisian
MK : Bersihan jalan nafas sistem arteri Oliguria
tidak efektif Defisit fungsi neurologis MK: Nutrisi kurang MK : Intoleransi
dari kebutuhan tubuh aktifitas
Produksi urine menurun
MK : Gangguan Perfusi
jaringan perifer selebral Kerusakan sistem
motorik dan sensorik
MK : Gangguan
s Eliminasi urine

Kaku kuduk, syncope

MK : Defisit pemenuhan ADL


5

1.1.5 Komplikasi Bronchopneumonia


Komplikasi dari Bronkopneumonia menurut Nursalam (2008) yaitu:
1. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps
paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
2. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga
pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
3. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
4. Infeksi sistemik.
5. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
6. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
1.1.6 Pemeriksaan Penunjang Bronchopneumonia
Secara laboratorik ditemukan leukositosis biasa 15.000–40.000/m dengan
pergeseran LED meninggi. Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah
dengan foto thoraks posterior-anterior dan lateral untuk melihat keberadaan
konsolidasi retrokardial sehingga lebih mudah untuk menentukan lobus mana
yang terkena (Arif Muttaqin, 2008).
1.1.7 Penatalaksanaan Medis Bronchopneumonia
1.1.7.1 Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan petunjuk penemuan kuman
penyebab infeksi (hasil kultur sputum dan tes sensitivitas kuman terhadap
antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila
berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat
proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu
perlu penyesuaian dosis.
1.1.7.2 Pengobatan Umum
1) Terapi Oksigen
2) Hidrasi, Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat hidrasi dilakukan secara
parenteral.
3) Fisioterapi, penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-
ubah untuk menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus
(Nursalam, 2008).
6

1.2 Manajemen Asuhan Keperawatan Pasien dengan Bronchopneumonia


1.2.1 Pengkajian
Pengkajian menurut Nursalam (2008) meliputi:
1.2.1.1 Identitas
Biodata klien terdiri atas Nama, jenis kelamin, umur, pekerjaan,
suku/bangsa, alamat, agama.Biodata penanggung jawab terdiri atas Nama, jenis
kelamin, umur, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, agama, dan hubungan dengan
klien.
1.2.1.2 Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama
Keluhan utama pada Bronkopneumonia pada umumnya suhu badan klien
meningkat diatas 38˚C dan sesak napas.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat penyakit sekarang dikembangkan dari keluhan utama dengan
PQRST. P(Paliative) yaitu faktor yang memperberat dan meringankan
keluhan utama dari sesak, apa yang dapat memperberat/meringankankeluhan
utama  seperti sesak pada penderita Bronkopneumonia. Aktivitas apa yang
dapat yang dilakukan saat gejala pertama dirasakan, apa ada hubungan
dengan aktivitas. Q (Quantity)  seberapa berat gangguan yang dirasakan
klien, bagaimana gejala yang dirasakan, pada saat dikaji apa gejala ini lebih
berat atau lebih ringan dari yang sebelumnya. R (Regio) dimana tempat
terjadinya gangguan, apakah mengalami penyebaran atau tidak.S(Skala)
seberapa berat sesak yang diderita klien.T (Timing) kapan keluhan mulai
dirasakan, apakah keluhan terjadi mendadak atau bertahap, Seberapa lama
keluhan berlangsung ketika kambuh.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada keluarga yang terserang Bronchopneumonia.
1.2.1.3 Pemeriksaan Fisik
1. B1 (Breating), Inspeksi didapatkan pernafasan cepat, klien sesak nafas,
menggunakan otot bantu nafas. Ada sianosis pada bibir dan dasar kuku,
warna kulit agak pucat, ada pernapasan cuping hidung dan retraksi dada.
Palpasi terdapat taktil fremitus meningkat, gerakan dada tidak simetris.
7

Perkusi terdapat pekak pada area paru. Sedangkan Auskultasi ditemukan


bunyi nafas ronkhi (+).
2. B2 (Blood), pada pasien dengan Bronchopneumonia pengkajian yang didapat
meliputi inspeksi yaitu didapatkan adanya kelemahan fisik secara umum,
palpasi didapatkan denyut nadi perifer melemah, perkusididapatkan bahwa
batas jantung tidak mengalami pergeseran sedangkan auskultasi terdapat
tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak
didapatkan.
3. B3 (Brain), pasien dengan Bronchopneumonia yang berat sering terjadi
penurunan kesadaran, didapatkan sianosis perifer apabila gangguan perfusi
berat. Pada pengkajian objektif, wajah pasien tampak meringis, menangis,
merintih, mengerang, dan menggeliat.
4. B4 (Bladder), pengukuran volume urine berhubungan dengan intake cairan.
Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria, karena hal tersebut
tanda awal dari syok.
5. B5 (Bowel), pasien biasanya mengalami mual, muntah, penurunan nafsu
makan, dan penurunan berat badan.
6. B6 (Bone), kelemahan dan keletihan fisik secara umum sering menyebabkan
ketergantungan pasien terhadap bantuan orang lain dalam melakukan
aktivitas sehari-hari.
1.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang muncul pada anak dengan kasus Bronchopneumonia
berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan (SDKI, 2017) yaitu:
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif (D.0001, hal 18)
2. Gangguan pertukaran gas (D.0003, hal 22)
3. Gangguan keseimbangan suhu tubuh (D.0130, hal 284)
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (D.0019, hal 56)
5. Intoleransi aktivitas (D.0056, hal 128)
8

1.2.3 Intervensi
1.2.3.1 Bersihan jalan nafas tidak efektif
Tujuan:
1. Jalan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih dan jelas.
2. Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret.
Hasil yang diharapkan:
1. Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas.
2. Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas.
Misalnya: batuk efektif dan mengeluarkan sekret.
Intervensi:
1. Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas)
2. Posisikan semi fowler atau fowler
3. Ajarkan teknik batuk efektif
4. Kolaborasi pemberian bronkodilator
1.2.3.2 Gangguan pertukaran gas
Tujuan:
Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang
normal dan tidak ada distres pernafasan.
Kriteria hasil:
1. Menunjukkan adanya perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan.
2. Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
Intervensi:
1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya nafas
2. Atur interval pemantaian respirasi sesuai kondisi klien
3. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
1.2.3.3 Gangguan keseimbangan suhu tubuh
Tujuan:
Termoregulasi membaik.
Kriteria hasil:
1. Suhu tubuh dalam rentang normal
2. Nadi RR dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit
9

Intervensi:
1. Monitor suhu tubuh
2. Sediakan lingkunga yng dingin
3. Anjurkan tirah baring
4. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena
1.2.3.4 Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan:
1. Menunjukkan peningkatan nafsu makan.
2. Mempertahankan/meningkatkan berat badan.
Intervensi:
1. Identifikasi status nutrisi
2. Sajikan makanaan secaraa menarik dan suhu yang sesuai
3. Anjurkan posisi duduk, jika mampu
4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrien yang dibutuhkan
1.2.3.5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
Tujuan:
Menunjukkan toleransi terhadap aktivitas.
Kriteria Hasil:
1. Tidak adanya dispnoe.
2. Tidak adanya kelemahan.
3. Tanda-tanda vital dalam rentang normal.
Intervensi:
1. Monitor kelemahan fisik dan emosional
2. Sediakan lingkungan nyaman dan reendah stimulus
3. Anjurkan tirah baring
4. Kolaborassi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan
makanan.
1.2.4 Implementasi
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang
telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Agar implementasi/pelaksanaan
perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi
10

prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap


intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan
(Suriyadi, 2009).
1.2.5 Evaluasi
Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana tahap
keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk
memodifikasi tujuan akan intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, Christine,
2003).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Bronchopneumonia adalah:
1. Jalan nafas efektif dengan bunyi nafas bersih dan jelas.
2. Pasien dapat melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret.
3. Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang
normal dan tidak ada distres pernafasan.
4. Menunjukkan toleransi terhadap aktivitas.
5. Menunjukkan peningkatan nafsu makan.
6. Mempertahankan/meningkatkan berat badan.
12

BAB 2
ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
2.1.1 Anamnesa
Pengkajian dilakukan pada tanggal 16 Maret 2020 pukul 10.30 WIB dengan
data sebagai berikut:
2.1.1.1 Identitas pasien
Nama Klien : An. M
TTL : Ampah, 09 Maret 2019
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Banjar
Pendidikan : Belum Sekolah
Alamat : Ampah
Diagnosa medis : Bronchopnemonia
2.1.1.2 Identitas penanggung jawab
Nama Klien : Ny. J
TTL : Ampah, 25 Maret 1998
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Banjar
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Ampah
Hubungan keluarga : Ibu pasien
2.1.2.3 Keluhan utama
Keluhan utama yaitu ibu pasien mengatakan anaknya batuk berdahak.
2.1.2.4 Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan sekarang
Ibu pasien mengatakan sebelum An. Masuk Rumah sakit An.M sempat sakit
selama 4 hari karena tidak kunjung sembuh pada tanggal 24 Februari 2020
kemudian ibu pasien membawa anaknya ke klinik di Desa Ampah. namun
13

setelah itu An.M di rujuk ke Rumah sakit buntok pada tanggal 24 Februari
2020 pukul 14.30 WIB. dan di rawat sealama 1 minggu tetapi setelah itu
pihak Rumah sakit buntok merujuk An.M ke RSUD dr. Doris Sylvanus pada
tanggal 06 februari 2020 dan ditangani di IGD pukul 18.00 dan pada saat di
IGD pasien mendapatkan tindakan keperawatan yaitu terapi Pemasangan
infus, pemasangan Oksigen nasal kanul 2 LPM dan obat. Setelah itu pasien
diputuskan untuk rawat inap di ruang Flamboyant.
2. Riwayat kesehatan lalu
Riwayat prenatal yaitu selama hamil, ibu pasien sehat. Riwayat natal yaitu
usia kehamilan 36 minggu dengan persalinan normal. Riwayat postnatal yaitu
setelah dilahirkan An. M langsung menangis dengan BB 3,5kg. An. M Tidak
ada riwayat penyakit sebelumnya.
Pengkajian tentang Imunisasi yaitu An. A memperoleh imunisasi BCG pada
usia 1 bulan, DPT dan Polio pada usis 2,3,4 bulan. Hepatitis pada Usia 0
( baru lahir ). An.M belum mendapatkan imunisasi campak
3. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu pasien mengatakan dalam keluarga tidak memiliki penyakit keterunan.
seperti Hipertensi, DM dan lain-lain
4. Susunan genogram 3 (tiga) generasi

Keterangan:
: laki-laki
14

: perempuan : pasien

2.1.3 Pemeriksaan fisik


2.1.3.1 Keadaan umum
Pasien tampak sakit Berat, pasien tampak lemah, kesadaran Somnolen,
terpasan SP ceftriaxone 3/1,terpasang NGT, terpasang infus Nacl 0,9%, terpasang
drain pada abdomen dextra, terpasang O2 nasal kanul 2 LPM, dan terpasan BSM
2.1.3.2 Tanda vital
TTV An. M diperoleh hasil Nadi 52 x/mnt, Suhu 36,2˚C dan Respirasi
40x/mnt
2.1.3.3 Kepala dan wajah
Pengkajian kepala dan wajah An. M diperoleh ubun-ubun dalam keadaan
cembung, rambut tidak rontok, tidak mudah dicabut dan tidak kusam. Keadaan kulit
kepala kering, tidak ada peradangan/benjolan. Pengkajian pada mata diperoleh
bentuk mata simetris, conjungtiva normal, sklera normal, reflek pupil normal, tidak
ada oedem palpebral dan dapat melihat dengan jelas. Pengkajian telinga diperoleh
bentuk telinga simetris, tidak ada serumen, tidak ada perad. Pengkajian pada hidung
diperoleh bentuk hidung simetris, tidak adan secret, tidak ada pasase udara dan
fungsi penciuman baik.pengkajian pada mulut diperoleh tidak terdapat intak, tidak
terdapat stenosis, keadaan bibir kering. Pengkajian pada gigi diperoleh tidak ada
caries gigi dan gigi belum tumbuh.
2.1.3.4 Leher dan Tenggorokan
Pengkajian leher dan tenggorokan An. M diperoleh bentuk simetris, reflek
menelan baik, tidak ada pembesaran tonsil, tidak ada pembesaran vena jugularis,
tidak ada benjolan dan peradangan.
2.1.3.5 Dada
Pengkajian dada An. M diperoleh bentuk dada simetris, tidak ada retraksi
dada, bunyi nafas Ronchi basah, tipe pernafasan dada dan perut, bunyi jantung S1
S2 tunggal, iktus cordis normal, ada ronchi basah dibagian paru kanan, tidak ada
nyeri dada dan terpasang O2 nasal kanul
15

2.1.3.6 Punggung
Pengkajian pada punggung An. M diperoleh bentuk punggung simetris, tidak
ada benjolan dan peradangan.
2.1.3.7 Abdomen
Pengkajian abdomen An. A diperoleh bentuk simetris, bising usus 10x/menit,
tidak ada asites, tidak ada hepatomegaly, tidak ada spenomegali. terpasang drain
pada abdomen sebelah kanan, terpasang colstomy bag pada abdomen sebelah kiri
2.1.3.8 Ekstremitas
Pengkajian ekstremitas An. M diperoleh pergerakan/tonus otot atas 2 bawah
2, tidak ada oedeem, tidak ada sianosis, tidak ada clubbing finger, keadaan turgor
baik.
2.1.3.9 Genetalia
Pengkajian genetalia An. M diperoleh keadaan genetalia bersih, testis
lengkap, tidak ada hipospadia dan tidak ada epispadia.

2.1.4 Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


Pengkajian riwayat pertumbuhan dan perkembangan An. M diperoleh status
gizi baik dengan BB 6,8kg. Kemandirian dalam bergaul bayi sudah bisa
menyatakan keinginannya, motorik halus bayi sudah bisa mengambil barang
contohnya mengambil dotnya sendiri, motorik kasar bayi sudah bisa menendang,
kognitif dan bahasa bayi bisa menyebutkan 2-4 kata seperti mamah/papah ,
psikososial bayi belum menganal cara berbagi.

2.1.5 Pola Aktifitas sehari-hari

No Pola kebiasaan Sebelum sakit Saat sakit


1 Nutrisi
a. Frekuensi 3-4 kali 3-4 kali
b. Nafsu makan/selera Baik Baik
c. Jenis makanan Bubur cerelac Susu
2 Eliminasi
a. BAB
Frekuensi 1x2 sehari 1x3 sehari
Konsistensi lembek lembek
b. BAK
16

Frekuensi 4-5x sehari 4-5x sehari


Konsistensi Cair Cair
3 Istirahat/tidur
a. Siang/ jam ± 2-4 jam ± 1-2 jam
b. Malam/ jam ± 5-8 jam ± 3-4 jam
4 Personal hygiene
a. Mandi 3x sehari Pasien hanya diseka
b. Oral hygiene 3x sehari 2-3x/hari
2.1.6 Data Penunjang
NO. PARAMETER RESULT UNIT REF.RANGE
1. WBC 9,6X10^3/uL 4.00-11.00
2. HCT 28,4,6% 37.0-48.0
3. HBG 8,8 g/dL 12.0-16.0
4. PLT 188 X 10^3/uL 150-400

2.1.7 Penatalaksanaan Medis


NO NAMA DOSIS/RUT INDIKASI
. OBAT E
1. KCL 8 ml/ IV

2. Meropnenem 1gr / IV Adalah antibiotik yang digunakan untuk


menangani berbagai ,kondisi akibat
infeksi bakteri
3. MP 3x6,125mg / Digunakan untuk mengurangi gejala
IV pembengkakan, rasa nyeri, dan reaksi
alergi
4 PCT 3X1 1gr Adalah obat yang digunakan untuk
meredakan gejala demam dan meredakan
rasa nyeri

Palangka Raya, 16 Maret 2020


Mahasiswa,

CONGKY
NIM : 2017.C.09a.0829
17

2.1.8 Analisis Data


DATA SUBYEKTIF DAN KEMUNGKINAN
MASALAH
DATA OBYEKTIF PENYEBAB
DS: Infeksi virus, bakteri Bersihan jalan nafas
Ibu pasien mengatakan tidak efektif
anaknya batuk berdahak Invasi saluran nafas atas
DO:
- An. M tampak batuk Kuman berlebih di
berdahak bronkus
- An.A tampak lemas
- Terdapat secret Proses peradangan
- Terdengar suara nafas
tambahan ronchi Akumulasi secret di
basah bronkus
- Dahak warna putih
kental Bersihan jalan nafas tidak
- N : 52 x/m efektif
- S : 36,2 x/ m
- RR : 27 x/m

DS: penurunan kesadaran Gangguan Mobilitas


Ibu pasien mengatakan an fisik
M hanya terbaring di tepat post laparatomy
tidur kurang lebih 2
minggu Kelemahan
DO: fisik,terbatasnya gerakan
- An. M tampak lemah tubuh
KU. somnolen
- Terpasang BSM Ketidakmampuan
- terdapat Colostomy melakukan aktivitas
Bag
- Kekuatan otot
esktreimtas atas 0
ektremitas bawah 0
Skala aktivitas 0
( An.M memerlukan
bantuan sepeenuhnya)
- terpasang drain
diadomen sebelah
kanan
- N : 52 x/m
- S : 36,2
- RR : 40 x/m
18

DATA SUBYEKTIF DAN KEMUNGKINAN


MASALAH
DATA OBYEKTIF PENYEBAB
DS: Rendahnya tingkat Defisit pengetahuan
Ibu pasien mengatakan pendidikan
kurang mengerti dengan
keadaan anaknya Kurangnya informasi
DO: yang diperoleeh
- Ibu An. M tampak
tidak mengetahui Defisit pengetahuan
tentang penyakit
anaknya
- Ibu An.M bertanya
tentang penyakit
anaknya
- Pendidikan orang tua
pasien SMA sederajat
19

Prioritas Masalah

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret


pada bronkus ditandai dengan:
- An. M tampak batuk berdahak
- An.M tampak lemas
- Terdapat secret
- Terdengar suara nafas tambahan ronchi basah
- An.M menggunakan otot bantu nafas

2. Gangguan Mobilitas fisk berhubungan dengan badtress ditandai dengan:


- An. M tampak lemah
- KU. somnolen
- Terpasang BSM
- tepasang Colostomy Bag
- Kekuatan otot esktreimtas atas 0 ektremitas bawah 0
- Skala aktivitas 0 ( An.M memerlukan bantuan sepeenuhnya)
- terpasang drain diadomen sebelah kanan

3. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi ditandai


dengan:
- Ibu An. M tampak tidak mengetahui tentang penyakit anaknya
- Ibu An.M bertanya tentang penyakit anaknya
2.1.9 Rencana Keperawatan

Nama Pasien : An.M


Ruang Rawat : Ruangan Flamboyant
Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi
Bersihan jalan nafas tidak efektif Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Monitor pola napas ( frekuensi, kedalaman,
berhubungan dengan akumulasi secret selama 1x7 jam diharapkan jalan nafas usaha nafas
pada bronkus ditandai dengan, An. AM efektif dengan kriteria hasil: 2. Monitor bunyi napas tambahan
tampak batuk berdahak, An.M tampak 1. Produksi spurtum menurun 3. Monitor sputum ( jumlah warna, aroma)
lemas, Terdapat secret, Terdengar suara 2. Suara nafas normal, tidak ada suara 4. Posisikan semifowler atau fowler
nafas tambahan ronchi basah, An.M nafas tambahan 5. lakukan suction
menggunakan otot bantu nafas 3. Menunjukkan jalan nafas normal 6. Ajarkan tehnik batuk efektif kepada orang tua
pasien
7. Kolaborasi pemberian bronkodilator,
ekspektoran mukolitik , jika perlu
Gangguan Mobilitas fisk berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Observasi TTV dan keadaan umum
dengan badtress ditandai dengan:An. M selama 2x7 jam maka gangguan 2. Observasi kondisi kulit
tampak lemah, KU. somnolen, mobilitas fisik membaiik dengan 3. Atur posisi senyaman mungkin
Terpasang BSM,tepasang Colostomy kriteroia hasil :
4. pertahankan kebersihan pasien
Bagl,Kekuatan otot esktreimtas atas 0 1. pergerakan esktremitas cukup
ektremitas bawah 0,Skala aktivitas 0 meningkat yaitu 2esktremitas atas 5. Berikan latihan gerak aktif atau pasif
( An.M memerlukan bantuan dan bawah 6. Ubah posisi setiap 2 jam
sepeenuhnya) terpasang drain diadomen 2. kekuatan otot ,meningkat 7. anjurkan keluarga pasien untuk mengubah
sebelah kanan 3. kelemahan fisik me nurun posisi pasien setiap 2 jam

Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria hasil) Intervensi


Defisit pengetahuan berhubungan Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima
dengan kurang nya informasi ditandai selama 2x7 jam diharapkan informasi

4
5

dengan Ibu An. A tampak tidak kecukupan informasi kognitif dengan 2. identifikasi faktor faktor yang dapat
mengetahui tentang penyakit anaknya kriteria hasil: meningkatkatkan dan menurunkan motivasi
Ibu An.A bertanya tentang penyakit 1. Pertanyaan tentang masalah yang perilaku hidup bersih dan sehat
anaknya dihadapi menurun 3. sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2. Persepsi yang keliru terhadap 4. berikan kesempatan untuk bertanya
masalah menurun 5. jelaskan faktor resiko yang dapat memengaruhi
3. Perilaku sesuai pengetahuan kesehatan
meningkat

2.1.10 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


6

Nama Pasien : An.M


Ruang Rawat : Ruangan Flamboyant
Hari/Tanggal Tanda tangan dan
Implementasi Evaluasi (SOAP)
Jam Nama Perawat
Senin, 16 Maret Diagnosa 1 S: ibu pasien mengatkan masih terdapat lendir pada
2020 1. Memonitor pola napas (frekuensi, kedalaman, saluran pernapasan An.M
usaha nafas )
11.15 WIB 2. Memonitor bunyi napas tambahan O:
3. Memonitor sputum ( jumlah warna, aroma) - An. M tampak batuk berdahak
4. Memposisikan semifowler atau fowler - An. tampak lemas, terbaring di tempat tidur
5. Melakukan Tindakan suction/ isap lendir - KU : somnolen
AGI
6. Mengajarkan tehnik batuk efektif kepada orang - Terdapat secret kental berwarna puti HERGIAWAN
tua pasien - Terdengar suara nafas tambahan ronchi
7. Berkolaborasi pemberian bronkodilator, basah diparu kanan
ekspektoran mukolitik , jika perlu - Sudah dilakukan tindakan suction pukul
09.00 WIB
- Sudah diberikan nebulizer combivent 1/3

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5,6 dan 7


7

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN


Nama Pasien : An.M
Ruang Rawat : Ruangan Flamboyant

Hari/Tanggal Tanda tangan dan


Implementasi Evaluasi (SOAP)
Jam Nama Perawat
Senin, 16 Maret Diagnosa 2 S: ibu pasien mengatakan bahwa An.M ada bergerak
2020 1. Memgobservasi TTV dan keadaan umum sedikit
2. Mengobservasi kondisi kulit O:
12.00 WIB - An. A tampak sakit berat
3. Mengatur posisi senyaman mungkin
- An.A tampak lemah,
4. mempertahankan kebersihan pasien
- keadaan kulit, kering
5. Memberikan latihan gerak aktif atau pasif - Ku : Somnolen
6. Mengubah posisi setiap 2 jam Congky
- posisi sudah diatur yatu fowler
7. Menganjurkan keluarga pasien untuk - sudah diubah posisi setiap 2 jam
mengubah posisi pasien setiap 2 jam - ibu pasien tampak mengikuti ajuran perawat

A : Masalah belum teratasi

P : Lanjutkan intervensi 1,2,3 ,4,5 dan 6


8

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN


Nama Pasien : An.M
Ruang Rawat : Ruangan Flamboyant

Hari/Tanggal Tanda tangan dan


Implementasi Evaluasi (SOAP)
Jam Nama Perawat
Senin, 16 Maret Diagnosa 3 S: Orang tua mengatakan kurang mengerti dengan
2020 1. Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan keadaan anaknya
menerima informasi
13.37 WIB 2. Mengidentifikasi faktor faktor yang dapat O:
meningkatkatkan dan menurunkan motivasi - ibu pasien sudah siap menerima informasi yang
perilaku hidup bersih dan sehat di sampaikan
3. Menyediakan materi dan media pendidikan - Ibu An. A tampak tidak mengetahui tentang
AGI
kesehatan penyakit anaknya HERGIAWAN
4. Memberikan kesempatan untuk bertanya - Materi sudah disiapkan , leaflet
5. Menjelaskan faktor resiko yang dapat - Ibu An.A bertanya tentang penyakit anaknya
memengaruhi kesehatan
A : Masalah teratasi sebagian

P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,4 dan 5


9
DAFTAR PUSTAKA

Adriana, Dian. (2011). Tumbuh Kembang dan Terapi Bermain pada Anak. Jakarta:
Salemba Medika.
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2008). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. (2008). Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta: Salemba Medika.
Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit, Ed 2. Jakarta: EGC.
Nursalam. (2008). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba Medika.
Somantri, Irman. (2009). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernafasan, Ed 2. Jakarta: Salemba Medika.
Sujono. (2009). Asuhan Keperawatan Anak Edisi Pertama. Jakarta: Graha Ilmu.
Suriadi & Yuliani,Rita. (2010). Asuhan Keperawatan Pada Anak, Ed 2. Jakarta:
Perpustakaan Nasional RI- Katalog Dalam Terbitan (KDT).
Wong, Donna L . (2003). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Ed 4. Jakarta: EGC.