Anda di halaman 1dari 36

1

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.J DENGAN DIAGNOSA


MEDIS ABORTUS IMMINENS DI RUANG CEMPAKA
RSUD DR. DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA

Oleh :

Congky
NIM :2017.C.09a.0829

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2019/2020

BAB 1
2

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kematian maternal dan neonatal merupakan masalah besar khususnya
dinegara yang sedang berkembang. Sekitar 98-99% kematian maternal dan
perinatal terjadi di negara berkembang, sedangkan di negara maju hanya 1-2%.
Sebenarnya sebagian besar kematian tersebut masih dapat dicegah apabila
mendapat pertolongan pertama yang adekuat. Sri Hermiyati (2008) mengatakan
terdapat 4.692 jiwa ibu melayang karena tiga kasus (kehamilan, persalinan, dan
nifas). Kematian langsung ibu hamil dan melahirkan akibat terjadinya perdarahan
(28%), eklampsia (24%), infeksi (11%), partus lama (5%) dan abortus (5%).
Perdarahan yang banyak menyebabkan kematian ibu yang sekarang banyak
ditemui adalah abortus (Saleh, 2010).
Di dunia terjadi 20 juta kasus abortus tiap tahun dan 70.000 wanita
meninggal  karena bortus tiap tahunnya. Angka kejadian abortus di Asia Tenggra
adalah 4,2 juta pertahun termasuk Indonesia, sedangkan frekuensi abortus spontan
di Indonesia adalah 10-15% dari 6 juta kehamilan setiap tahunnya atau 600-900
ribu, sedangkan abortus buatan sekitar 750 ribu 1,5 juta setiap tahunnya, 2500
orang di antaranya berakhir dengan kematian (Ulfah Ansor, 2006). Manuaba
(2007), mengemukakan diperkirakan terjadi gugur kandungan secara illegal pada
kehamilan yang tidak di inginkan sebanyak 2,5-3 juta orang/tahun dengan
kematian sekitar 125.000-130.000 orang/tahun di Indonesia. Hasil survey
pendahuluan yang dilakuakan di RSUD ungaran 2015 didapatkan angka kejadian
abortus imminene sebanyak 155 kasus (63,3%).
Abortus dapat dialami oleh semua ibu hamil, faktor resikonya meliputi usia
dan riwayat baortus berulang (Koesno, 2008). Usia dapat mempengaruhi kejadian
abortus berulang karena pada usia kurang dari 20 tahun belum matangnya alat
reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun
pertumbuhan dan perkembangan janin, sedangkan abortus yang terjadi pada usia
lebih dari 35 tahun disebabkan berkurangnya fungsi alat reproduksi, kelainan pada
kromosom dan penyakit kronis (Manuaba, 2007).
3

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk


menulis makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Ny.J Dengan
Diagnosa Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya”.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis
Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Memperoleh kemampuan membuat dan menyajikan laporan dan asuhan
keperawatan serta pangalaman nyata dalam pelaksanaan Asuhan Keperawatan
Pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD
dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2 Tujuan Kusus
1.3.2.1 Melakukan pengkajian keperawatan pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis
Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya.
1.3.2.2 Menganalisa data yang telah diperoleh dari masalah kesehatan pada Ny.J
Dengan Diagnosa Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr.
Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2.3 Merumuskan diagnosa pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis Abortus
Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2.4 Memprioritaskan diagnosa keperawatan pada Ny.J Dengan Diagnosa
Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya.
1.3.2.5 Merencanakan tindakan keperawatan sesuai dengan masalah keperawatan
pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka
RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
4

1.3.2.6 Mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan pada Ny.J Dengan


Diagnosa Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya.
1.3.2.7 Mengevaluasi tindakan keperawatan pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis
Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Teoritis
Laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini diharapkan memberikan
sumbangan ilmu bagi keperawatan untuk menambah pengetahuan untuk
menambah pengetahuan mengenai asuhan keperawatan pada Ny.J Dengan
Diagnosa Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya, serta memperkuat teori yang sudah ada.
1.4.2 Praktis
1.4.2.1 Bagi Penulis
1) Sebagai suatu syarat kelulusan praktik klinik
2) Sebagai sarana untuk meningkatkan pengetahuan tentang asuhan
keperawatan pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis Abortus Imminens Di
Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya, serta
aplikasinya.
3) Memperoleh pengalaman dalam membuat Laporan dan asuhan
keperawatan dibidang keperawatan dan memberikan informasi sebagai
bahan masukan Laporan dan asuhan keperawatan yang akan datang.
1.4.2.2 Bagi Pelayanan Kesehatan
Manfaat asuhan keperawatan bagi RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka
Raya khusunya tenaga kesehatan di Ruang Cempaka adalah sebagai bahan
masukan dalam pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelaksanaan serta
bahan evaluasi dan perbaikan asuhan keperawatan.
1.4.2.3 Bagi Institusi
Diharapkan menjadi sumber informasi, bacaan, dan bahan masukan untuk
menambah wawasan bagi mahasiswa khususnya yang terkait dalam pelaksanaan
5

asuhan keperawatan pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis Abortus Imminens Di


Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
1.4.2.4 Bagi Mahasiswa
Diharapkan menjadi sumber informasi, bacaan, dan bahan masukan untuk
menambah wawasan bagi mahasiswa STIKes Eka Harap Palangka Raya
khususnya yang terkait dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny.J Dengan
Diagnosa Medis Abortus Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya.
1.4.2.5 Bagi Masyarakat
Diharapkan menjadi sumber informasi, bacaan, dan bahan masukan untuk
menambah wawasan bagi masyarakat Palangka Raya khususnya yang terkait
dengan asuhan keperawatan pada Ny.J Dengan Diagnosa Medis Abortus
Imminens Di Ruang Cempaka RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.
6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran
hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup
di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia kehamilan kurang dari 28
minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama
kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin
dalam rahim. Manuaba, 2007:683).
Abortus Imminens ialah terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan atau tanpa kontraksi uterus yang nyata dengan hasil
konsepsi dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi servik uteri. Abortus imminen
adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan
sauatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut
atau dipertahankan. Abortus imminen adalah perdarahan pervaginam pada
kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa tanda-tanda dilatasi serviks yang
meningkat. Abortus imminen adalah pengeluaran secret pervaginam yang tampak
pada paruh pertama kehamilan.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Reproduksi Wanita


Struktur organ reproduksi wanita meliputi organ reproduksi internal dan
organ reproduksi eksternal. Keduanya saling berhubungan dan tak terpisahkan.
Organ reproduksi internal terdapat di dalam rongga abdomen, meliputi sepasang
ovarium dan saluran reproduksi yang terdiri saluran telur (oviduct/tuba falopii),
rahim (uterus) dan vagina. Organ reproduksi luar meliputi mons veneris, klitoris,
sepasang labium mayora dan sepasang labium minora.
7

Gambar 1. Organ Interna Wanita


1. Ovarium.
Jumlah sepasang, bentuk oval dengan panjang 3-4 cm, menggantung bertaut
melalui mesentrium ke uterus. Merupakan gonade perempuan yang berfungsi
menghasilkan ovum dan mensekresikan hormon kelamin perempuan yaitu
estrogen dan progesteron. Ovarium terbungkus oleh kapsul pelindung yang
kuat dan banyak mengandung folikel. Seorang perempuan kurang lebih
memiliki 400.000 folikel dari kedua ovariumnya sejak ia masih dalam
kandungan ibunya. Namun hanya beberapa ratus saja yang berkembang dan
melepaskan ovum selama masa reproduksi seorang perempuan, yaitu sejak
menarche (pertama mendapat menstruasi) hingga menophause (berhenti
menstruasi). Pada umumnya hanya sebuah folikel yang matang dan
melepaskan ovum tiap satu siklus menstruasi (kurang lebih 28 hari) dari salah
satu ovarium secara bergantian.
Selama mengalami pematangan, folikel mensekresikan hormone estrogen.
Setelah folikel pecah dan melepaskan ovum, folikel akan berubah menjadi
korpus luteum yang mensekresikan estrogen dan hormon progesteron. Estrogen
yang disekresikan korpus luteum tak sebanyak yang disekresikan oleh folikel.
Jika sel telur tidak dibuahi maka korpus luteum akan lisis dan sebuah folikel
baru akan mengalami pematangan pada siklus berikutnya.
8

2. Tuba falopii/oviduct (saluran telur)


Jumlah sepasang, ujungnya mirip corong berjumbai yang disebut infundibulum
berfungsi untuk menangkap ovum yang dilepas dari ovarium. Epithelium
bagian dalam saluran ini bersilia, gerakan silia akan mendorong ovum untuk
bergerak menuju uterus.
3. Uterus (rahim)
Jumlah satu buah, berotot polos tebal, berbentuk seperti buah pir, bagian bawah
mengecil disebut cervix. Uterus merupakan tempat tumbuh dan
berkembangnya embrio, dindingnya dapat mengembang selama kehamilan dan
kembali berkerut setelah melahirkan. Dinding sebelah dalam disebut
endometrium, banyak mengasilkan lendir dan pembuluh darah. Endometrium
akan menebal menjelang ovulasi dan meluruh pada saat menstruasi.
4. Vagina
Merupakan akhir dari saluran reproduksi wanita. Suatu selaput berpembuluh
darah yang disebut hymen menutupi sebagian saluran vagina. Membran ini
dapat robek akibat aktivitas fisik yang berat atau saat terjadi hubungan badan.
Vagina berfungsi sebagai alat kopulasi wanita dan juga sebagai saluran
kelahiran. Dindingnya berlipat-lipat, dapat mengembang saat melahirkan bayi.
Pada dinding sebelah dalam vagina bermuara kelenjar bartholin yang
mensekresikan lendir saat terjadi rangsangan seksual.
5. Mons veneris
Merupakan bagian yang tebal dan banyak mengandung jaringan lemak terletak
pada bagian paling atas dari vulva.
6. Labium mayora
Jumlah sepasang, merupakan suatu lipatan tebal yang mengelilingi vagina dan
ditumbuhi rambut
9

Gambar 2. Organ Eksterna Wanita


7. Labium minora
Jumlah sepasang, merupakan suatu lipatan tipis di sebelah dalam labium
mayora, banyak mengandung pembuluh darah dan saraf. Labium minora
menyatu di bagian atas membentuk clitoris. Labium minora mengelilingi
vestibulum, suatu tempat dimana terdapat lubang uretra di bagian atas dan
lubang vagina di bagian bawah.
8. Clitoris
Berupa sebuah tonjolan kecil, merupakan bagian yang paling peka terhadap
rangsang karena banyak mengandung saraf.

2.3 Etiologi
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian
mudigah. Sebaliknya, pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan
dalam keadaan masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat dibagi
sebagai berikut.
10

1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi


Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau
cacat. Kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil
mudah. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah
sebagai berikut:
a. Kelainan kromosom. Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan
ialah trisomi, poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks.
b. Lingkungan kurang sempurna. Bila lingkungan di endometrium di sekitar
tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat makanan
pada hasil konsepsi terganggu.
c. Pengaruh dari luar. Radiasi, virus, obat-obat, dan sebagainya dapat
mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam
uterus. Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen.
2. Kelainan pada plasenta
Endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan oksigenisasi
plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena
hipertensi menahun.
3. Penyakit ibu
Penyakit mendadak, seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis,
malaria, dan lain-lain dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus, atau
plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan
kematian janin, dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan,
laparotomi, peritonitis umum, dan penyakit menahun seperti brusellosis,
mononukleosis infeksiosa, toksoplasmosis juga dapat menyebabkan abortus
walaupun lebih jarang.
4. Kelainan traktus genitalis
Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat
menyebabkan abortus. Tetapi, harus diingat bahwa hanya retroversio uteri
gravidi inkarserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting.
Sebab lain abortus dalam trimester ke-2 ialah servik inkompeten yang dapat
11

disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan,


konisasi, amputasi, atau robekan serviks luas yang tidak dijahit.
5. Kelainan endokrin (hyperthiroid, diabetes melitus, kekurangan progesteran)
6. Trauma
7. Gangguan nutrisi
8. Stress psikologis

2.4 Patofisiologi
Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian
diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil
konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing
dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya
dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara
mendalam. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus
desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang
dapat menyebabkan perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu ke atas umumnya
yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu
kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan
lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur.
12
WOC 1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi 4. Kelainan plasenta
2. Penyakit ibu (pneumonia, tifus abdominalis, 5. Trauma
malaria, dll) 6. Gangguan nutrisi
3. Kelainan endokrin (hyperthiroid, DM) 7. Stress psikologis

Abortus Imminens
(mati janin < 20 minggu)

B1 B2 B3 B4 B5 B6
B1

Curetase Curetase Curetase Perdarahan Curetase Curetase

Jaringan Pendarahan Jaringan Hemoglobin Post Anastesi Masuknya alat


Terputus/Terlepas masif Terputus/Terlepas curetase

Perfusi Jaringan Fungsi saraf


Nyeri Abdomen Syok Merangsang area Inflamasi
Oblongata
Hipovolemik sensorik motorik
COP Hipertermia
Kerja napas Fungsi saraf
Distribusi darah Nyeri
meningkat Vegetatif
ke jaringan
Syok
Keterbatasan
Dypsnea aktivitas Penyerapan cairan
Akral dingin
di kolon
Hipovolemia
Pola Napas Tidak Intolerasi
Gangguan
Efektif Aktivitas Konstipasi
Perfusi Jaringan
13

2.5 Manifestasi Klinis


Biasanya, tetapi tidak selalu, pertama-tama akan terjadi perdarahan, yang
setelah beberapa jam sampai beberapa hari akan diikuti oleh kram abdomen.
Nyeri pada abortus dapat terletak di sebelah anterior dan berirama seperti nyeri
pada persalinan biasa; serangan nyeri tersebut bisa berupa nyeri pinggang bawah
yang persisten disertai perasan tekanan pada pangggul; atau nyeri tersebut bisa
berupa nyeri tumpul atau rasa pegal di garis tengah pada daerah suprasimpisis
yang disertai dengan nyeri tekan di daerah uterus. Bagaimanapun bentuk nyeri
yang terjadi, kelangsungan kehamilan dengan perdarahan dan rasa nyeri
memperlihatkan prognosis yang jelek. Meskipun demikian, pada sebagian wanita
yang menderita nyeri dan terancam mengalami abortus, perdarahan bisa berhenti,
rasa nyeri menghilang dan kehamilan yang normal terjadi.
Pada mulanya perdarahan hanya sedikit kemudian berulang dan bertambah
banyak. Kadang-kadang perdarahan berulang dapat berlangsung berhari-hari atau
beberapa minggu bahkan berbulan lamanya. Warna darah lebih banyak merah
segar, kecuali telah bercampur dengan darah tua sehingga warnanya kecoklatan.
Tanda-tanda kehamilan muda tetap ada. Rasa nyeri pada suprasimfisis atau
pinggang mulanya belum ada atau ringan saja.
Tanda dan gejala pada abortus Imminen:
1. Terdapat keterlambatan datang bulan
2. Terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules
3. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan
terjadi kontraksi otot Rahim
4. Hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, dan kanalis
servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot Rahim
5. Hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif.
14

2.6 Komplikasi
1) Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian tranfusi darah .Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tedak segera diberikan pada
waktunya.
2) Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperetrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamat-amati
dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomie, dan
tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau
perlu histerektomie. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh
orang awam menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus
biasanya luas;mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kencing atau
usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi,
laparatomie harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera,
untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi
komplikasi.
3) Infeksi
Abortus Infeksiosus ialah abortus yang disertai infeksi pada genetalia.
Diagnosis ditentukan dengan adanya abortus yang disertai gejala dan tanda
infeksi alat genital, seperti panas, takikardia, perdarahan pervaginam yang
berbau, uterus yang membesar, lembek, serta nyeri tekan, dan leukositosis.
4) Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik), dan
karena infeksi berat (syok Endoseptik).

2.7 Pemeriksaan Penunjang


1) Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah
mati.
2) Pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
15

3) Pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion.


4) Tes urine.
5) Hemoglobin dan hematocrit : hemoglobin terjadi Penurunan (< 10 mg%)
dan hematokrit terjadi Penurunan (< 35 mg%).
6) Menghitung trombosit.
7) Kultur darah dan urine.

2.8 Penatalaksanaan Medis


Penanganan abortus imminens terdiri atas:
1. Istirahat-baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan,
karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan
berkurangnya rangsang mekanik.
2. Tentang pemberian hormon progesteron pada abortus imminens belum ada
persesuaian faham. Sebagian besar ahli tidak menyetujuinya, dan mereka yang
menyetujui menyatakan bahwa harus ditentukan dahulu adanya kekurangan
hormon progesteron. Apabila dipikirkan bahwa sebagian besar abortus
didahului oleh kematian sel hasil konsepsi dan kematian ini dapat disebabkan
oleh banyak faktor, maka pemberian hormon progesteron memang tidak
banyak manfaatnya.
3. Pemeriksaan USG penting dilakukan untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
4. Berikan obat penenang, biasanya fenobarbital 3 x 30 mg. Berikan preparat
hematinik misalnya sulfas ferosus 600 / 1.000 mg
5. Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C
6. Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk
mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat
7. Bila perdarahan
a. Berhenti: lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila
terjadi perdarahan lagi.
b. Berlangsung lama: nilai kembali kondisi janin. Konfirmasikan kemungkinan
adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola).
16

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

3.1 Pengkajian
Data yang perlu dikaji oleh perawat adalah :
a. Data dasar yang meliputi :
- Aspek biologi
- Aspek psikologis
- Aspek sosial kultural
- Aspek spritual
b. Data fokus yaitu : data yang sesuai dengan kondisi pasien saat ini yang
meliputi :
- Riwayat kehamilan
- Riwayat sebelumnya, penggunaan kontrasepsi dan jenisnya, riwayat
kehamilan sebelumnya, lahir hidup atau lahir mati, riwayat haid yang
meliputi siklus haid, lama haid dan akhir hair
- Pengkajian fisik meliputi :
 Usia kehamilan saat ini, adanya tanda – tanda awal kehamilan
 Perhatian pendarahan yang terjadi
 Adanya infeksi
 Rasa nyeri pada saat terjadi pendarahan
 Ada riwayat masalah pengobatan
 Aktivitas yang dilakukan selama kehamilan
- Masalah psikologis
- Adanya dukungan dari keluarga
- Pemeriksaan LAB : pemeriksaan test kehamilan, Hb, Ht Leukosit.
- Pemeriksaan USG untuk mengetahui pertubuhan janin
- Monitor denyut jantung janin dan tinggi fundus uteri.
17

3.2 Diagnosa Keperawatan


1) Nyeri akut berhubungan dengan adanya kontraksi uterus dalam kehamilan
muda.
2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya pendarahan..
3) Ansietas berhubungan dengan kemungkinan akan kehilangan janin.
4) Risiko Infeksi b.d perdarahan, dan kondisi vulva lembab.
5) Defisiensi pengetahuan sebab – sebab terjadinya keguguran berhubungan
dengan kurang informasi.

3.3 Intervensi Keperawatan


Diagnosa
No
Keperawatan dan Intervensi Rasional
.
Tujuan
1. Nyeri akut berhubungan Pain Management Pain Management
dengan adanya 1. Lakukan pengkajian 1. Untuk memberikan tindakan
kontraksi uterus dalam nyeri secara keperawatan yang sesuai
kehamilan muda komprehensif termasuk
Setelah dilakukan lokasi, karakteristik,
tindakan keperawatan durasi, frekuensi,
selama 2 jam kualitas dan faktor 2. Untuk mengetahui kemajuan
diharapkan nyeri akan presipitasi,. persalinan dan
berkurang 2. Kaji kontraksi uterus ketidaknyamanan yang
NOC: dan ketidaknyamanan dirasakan ibu
1. Pain level (awitan, frekuensi,
2. Pain control durasi, intensitas, dan
3. Comfort level gambaran 3. Respon dari nyeri yang
Kriteria Hasil: ketidaknyamanan) dirasakan ibu.
1. Mampu mengontrol 3. Observasi reaksi
nyeri nonverbal dari reaksi 4. Dapat mengurangi faktor yang
2. Menyatakan rasa ketidaknyamanan memperparah tingkat nyeri
nyaman 4. Kontrol lingkungan
3. Mengungkapkan yang dapat
penurunan nyeri mempengaruhi nyeri
4. Menggunakan seperti suhu ruangan,
tehnik yang tepat pencahayaan, dan 5. Membantu mengurangi nyeri
untuk kebisingan
mempertahankan 5. Kurangi faktor 6. Untuk diberikan tindakan
kontrol nyeri. presipitasi nyeri selanjutnya dalam mengatasi
6. Kolaborasikan dengan nyeri yang tidak berhasil
18

dokter jika ada keluhan tersebut


dan tindakan
penanganan nyeri yang
tidak berhasil Analgesic administration
Analgesic administration 1. Verifikasi dalam pemberian
1. Cek instruksi dokter obat, menghindari kesalahan
tentang jenis obat, dalam pemberian obat
dosis dan frekuensi
2. Menurunkan tingkat nyeri
2. Kolaborasi dengan dengan teknik farmakologi
dokter pemberian obat Penurunan sirkulasi darah dapat
analgesik pada klien terjadi peningkatan kehilangan
3. Monitor tanda-tanda cairan mengakibatkan hipotensi
vital sebelum dan dan takikardi
sesudah diberikan
analgesik

2. Kekurangan volume NIC :


cairan berhubungan Fluid Management 1. mengetahui keadaan
dengan adanya 1. Monitor vital sign umum pasien
pendarahan 2. Monitor status hydrasi 2. mengetahui perkembangan
NOC: Fluid Balance, (kelembaban rehidrasi
Hydration, Intake membrane mukosa, 3. rehidrasi optimal evaluasi
Setelah dilakukan nadi adekuat, tekanan intervensi
tindakan selama 1x24 darah ortostatik), jika
jam, masalah teratasi diperlukan 4. mengurangi risiko
dengan kriteria hasil: 3. Monitor masukan kekurangan voume cairan
 Mempertahankan makanan/ cairan dan semakin bertambah
urin output dalam hitung intake kalori 5. mengurangi risiko
batas normal sesuai harian kekurangan voume cairan
dengan usia, dan 4. Kolaborasi pemberian semakin bertambah
BB, cairan IV 6. mengurangi risiko
 TD, nadi, suhu 5. Dorong masukan oral kekurangan voume cairan
tubuh dalam batas 6. Berikan penggantian semakin bertambah
normal nasogastric sesuai 7. mengurangi risiko
 Tidak ada tanda output kekurangan voume cairan
dehidrasi 7. Atur kemungkinan semakin bertambah
 Elastisitas turgor transfusi 8. mengurangi risiko
kulit baik. 8. Persiapan untuk kekurangan voume cairan
Membrane mukosa transfuse semakin bertambah
lembab, tidak ada
rasa haus tambahan. 1. mengetahui perkembangan
19

Hypovolemia rehidrasi
Management 2. mencegah infeksi dan
1. Monitor intake dan mempertahankan input cairan
output cairan yang adekuat
2. Pelihara IV line 3. mencegah masuknya cairan
3. Monitor adanya berlebihan
kelebihan cairan 4. mengetahui BB dan
4. Monitor BB membandingkan BB pasien
5. Monitor tingkat HB sebelum dan sesudah
dan hemtokrit diberikan intervensi
6. Pasang urin kateter jika 5. memonitor status kebutuhan
diperlukan cairan pasien
7. Kolaborasikan 6. mengetahui jumlah output
pemberian diuretic cairan
sesuai interuksi 7. membantu mempermudah
output cairan, menjaga
keseimbangan cairan

3. Ansietas berhubungan NIC:


dengan kemungkinan Anxiety Reduction
akan kehilangan janin 9. Kaji, sifat, sumber dan 1. mengidentifikasi perhatian
NOC: manifestasi pada bagian khusus dan
Anxiety self-control, kecemasan. menentukan arah dan
anxiety level, coping. 10. Berikan informasi kemungkinan pilihan/
Setelah dilakukan tentang penyimpangan intervensi.
tindakan keperawatan genetic khusus, resiko 2. dapat menghilangkan ansietas
selama (1x30 menit) yang dalam reproduksi berkenaan dengan
Ansietas klien teratasi dan ketersediaan ketidaktahuan dan membantu
dengan kriteria hasil : tindakan/pilihan keluarga mengenai stress,
1. Klien mampu diagnosa membuat keputusan, dan
mengidentifikas 11. Kembangkan sikap beradaptasi secara positif
i dan berbagi rasa secara terhadap pilihan.
mengungkapka terus menerus. 3. kesempatan bagi klien untuk
n gejala cemas 12. Berikan bimbingan mencari pemecahan situasi.
2. Mengidentifika antisipasi dalam hal 4. dapat menghilangkan
si, perubahan kecemasan/ depresi pada
mengungkapka fisik/psikologis. pasangan.
n dan
menunjukkan
tekhnik untuk
mengontrol
cemas
20

3. Vital sign
dalam batas
normal
4. Postur tubuh,
ekspresi wajah,
bahasa tubuh
dan tingkat
aktivitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan

4. Risiko Infeksi f.r NIC: 


perdarahan, dan kondisi 1. Kaji kondisi 1. Perubahan yang terjadi pada
vulva lembab keluaran/dischart dishart dikaji setiap saat
NOC: yang keluar ; jumlah, dischart keluar. Adanya warna
1. Imune Status warna, dan bau yang lebih gelap disertai bau
2. Knowledge: 2. Terangkan pada klien tidak enak mungkin
Infection pentingnya merupakan tanda infeksi
Control perawatan vulva 2. Infeksi dapat timbul akibat
3. Risk Control selama masa kurangnya kebersihan genital
Setelah dilakukan perdarahan yang lebih luar
tindakan keperawatan 3. Lakukan perawatan 3. Inkubasi kuman pada area
selama 4 jam vulva genital yang relatif cepat dapat
diharapkan diharapkan 4. Amati luka dari menyebabkan infeksi.
tidak terjadi infeksi tanda infeksi 4. Daerah ini merupakan port de
Kriteria Hasil (flebitis) entry kuman Penanda proses
1. Tidak ditemukan 5. Anjurkan pada ps infeksi
tanda-tanda adanya untuk melaporkan
infeksi. dan mengenali tanda- 5. Mencegah infeksi
2. Jumlah Leukosit tanda infeksi
dalam batas normal 6. Anjurkan pada suami 6. Pengertian pada keluarga sangat
untuk tidak penting artinya untuk kebaikan
melakukan hubungan ibu; senggama dalam kondisi
senggama se;ama perdarahan dapat memperburuk
kondisi system reproduksi ibu
masa perdarahan
dan sekaligus meningkatkan
resiko infeksi pada pasangan.
Infection Control
1. monitor tanda dan
gejala infeksi
2. Pantau hasil
1. Proteksi diri dari infeksi
21

2. Mengetahui hasil laboratorium


status imunitas terhadap
kemungkinan infeksi

3. Mencegah infeksi sekunder

4. Mengetahui keadaan umum


pasien

laboratorium 5. Meningkatkan daya tahan


3. Amati faktor-faktor tubuh
yang bisa
meningkatkan infeksi 6. Mencegah terjadinya
4. monitor Vital Sign perpindahan infeksi
5. Kontrol infeksi
6. Ajarkan tehnik
mencuci tangan 7. membantu proteksi infeksi
7. Ajarkan tanda-tanda
infeksi 8. Mencegah terjadinya infeksi
8. Batasi pengunjung
9. Cuci tangan sebelum 9. Mencegah terjadinya infeksi
dan sesudah merawat
ps
10. Tingkatkan masukan 10. Meningkatkan asupan nutrisi
gizi yang cukup pasien agar meningkatkan
11. Anjurkan istirahat status imunisasi
cukup 11. Meningkatkan relaksasi
12. Pastikan penanganan 12. Mencegah terjadinya infeksi
aseptic daerah IV melalui IV
13. Berikan PEN-KES 13. Meningkatkan pengetahuan
tentang risk infeksi pasien terhadap risiko infeksi
4. Defisiensi pengetahuan NIC: teaching disease 1. Untuk mengetahui
sebab – sebab process pengetahuan pasien tentang
terjadinya keguguran 1. Kaji tingkat penyakitnya
berhubungan dengan pengetahuan pasien 2. Agar pasien mengetahui sebab
kurang informasi. 2. Jelaskan pada pasien adanya gangguan dari
Setelah di berikan tentang penyebab dari kehamilan
asuhan keperawatan gangguan kehamilan, 3. Untuk mengetahui
selama 1×1 jam misalnya adanya perkembangan kehamilan
diharapkan terjadi penyakit ibu, kelainan pasien
peningkatan traktur genitalis,
22

pengetahuan pasien dan trauma, gizi


keluarga dengan kriteria 3. Anjurkan untuk
hasil : memeriksakan
Knowledge : disease kehamilan secara teratur
process, health
behavior
1. Pasien/Keluarg
a dapat
menyebutkan
penyebab
abortus
2. Pasien/keluarga
dapat
menyebutkan
kembali tanda
gejala abortus
3. Pasien/keluarga
dapat
menyebutkan
kembali efek
samping
abortus
4. Pasien/keluarga
dapat
menyebutkan
kembali
penanganan
terhadap efek
samping yang
timbul akibat
abortus

BAB 4
23

ASUHAN KEPERAWATAN KELOLAAN

Nama Mahasiswa : Congky


NIM : 2017.C.09a.0829
Ruang Praktik : Cempaka
Tanggal Praktik : 23-28 Maret 2020
Tanggal dan Jam Pengkajian : 23 Maret 2020 pukul 17.00 WIB

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas Klien


Nama : Ny. J
Tempat/Tgl Lahir : Palangka Raya, 04 Oktober 1996
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar/Indonesia
Pendidikan Terakhir : S1
Pekerjaan : PNS
Gol. Darah :A
Alamat : Jln. G.Obos XII Gg. Karya Sepakat
Diagnosa Medis : G2P1A1 dan Abortus Imminens
Penghasilan Perbulan : > Rp. 3.000.000
Tanggal MRS : 18 Maret 2020
Tanggal Pengkajian : 23 Maret 2020
3.1.2 Identitas Suami
Nama : Tn. A
Umur : 26 tahun
Jeniskelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar/Indonesia
Pendidikan Terakhir : S1
Pekerjaan : Swasta
Gol. Darah :O
Alamat : Jln. G.Obos XII Gg. Karya Sepakat
3.1.3Status Kesehatan

22
24

3.1.3.1 Keluhan Utama


Klien mengatakan “badan saya terasa panas”.
3.1.3.2 Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan “selama 2 hari saya mengikuti kegiatan di sekolah
dari pagi hingga malam hari, lalu saya merasa demam dan perut saya
mulai terasa nyeri serta terjadi perdarahan sedikit seperti haid tetapi
lama kelamaan menjadi banyak sekali, oleh karena itu saya segera
dibawa ke IGD RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya oleh suami
saya”. Di IGD klien mendapatkan tindakan pemasangan infus RL 20
tpm ditangan sebalah kiri dan mendapatkan paracetamol 500mg per
oral. Keadaan umum klien tampak nyeri dan tampak lemah.
3.1.3.3 Riwayat Kesehatan yang lalu (riwayat penyakit dan riwayat operasi)
Klien mengatakan “pernah masuk rumah sakit saat melahirkan anak
pertamanya”.
3.1.3.4 Riwayat Kesehatan Keluarga
Klien mengatakan “Di dalam anggota keluarga tidak ada penyakit
keturunan seperti DM, hipertensi, stroke, jantung. Serta tidak ada
penyakit menular seperti hepatitis, TB Paru, dll”.

GENOGRAM KELUARGA

Bagan 3.1 Genogram keluarga klien Ny.J

Keterangan:
25

: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Hubungan keluarga
: Tinggal satu rumah
: Klien

3.1.3.5 Riwayat Ginekologi dan Obstetric


1) Riwayat Ginekologi
1) Riwayat menstruasi
Menarce pada usia 12 tahun dengan lamanya haid 4-5 hari, siklus 28 hari,
dalam 1 hari 3x ganti pembalut, dengan sifat darah cair, berwarna merah
dan berbau amis.
2) Riwayat perkawinan
Lamanya pernikahan sudah 2 tahun dengan pernikahan yang ke 1.
3) Riwayat keluarga berencana
Klien tidak menggunakan KB.
2) Riwayat Obstetric
a. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu: G2P1A1

No. Tgl Umur Jenis Tempat/ Jenis BB Masalah Keadaan


Partus Hamil Partus Penolong Kelamin Anak
Hml Lhr Nifas By
10 Des 39 3,2
1. Normal RS Perempuan - - - - Hidup
2018 mgg Kg

b. Riwayat kehamilan sekarang


Keluhan klien waktu hamil mual,muntah, dan tidak nafsu makan pada tri
semester I, penambahan berat badan selama hamil 2 kg, pemeriksaan
kehamilan teratur dilakukan di Dokter Kandungan.
c. Riwayat persalinan sekarang
G2P1A1.
26

3) Pemeriksaan Fisik
a. Ibu
1) Keadaan umum
Kesadaran compos menthis, klien tampak lemah, berat badan sebelum
hamil 84 kg, suhu 39,6OC, nadi 98 x/menit, pernapasan 20x/menit,
tekanan darah 120/80 mmHg, berat badan saat hamil 86 kg, tinggi
badan 163 cm.
2) Kepala
Warna rambut hitam dan merata, keadaan rambut bersih, tidak edema
pada muka, mukosa mulut dan bibir lembab, keadaan gigi bersih dan
tidak ada karies, fungsi pengecapan dapat merasakan asam asin dan
manis, keadaan mulut bersih, fungsi menelan baik, konjunctiva merah
muda, sclera tidak ikterik berwarna putih, fungsi penglihatan baik
klien dapat membaca buku yang diberikan oleh perawat dengan benar,
tidak ada peradangan/perdarahan pada hidung dan keadaan hidung
bersih, dan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
3) Daerah dada
Suara napas vesikuler, bunyi jantung S1 S2 (lup, dup), tidak ada
retraksi dada, tidak ada hiperpigmentasi aerola, keadaan puting susu
bersih, dan tidak ada nyeri pada payudara.
4) Abdomen
Tidak teraba tinggi fundus, tidak ada kontraksi uterus,tidak ada asites,
dan bising usus 10 x/menit.
5) Genitalia eksterna
Tidak ada edema, dan terdapat pengeluaran lochea berwarna merah
cerah, berbentuk seperti bekuan darah.
6) Anus
Tidak terdapat haemoroid
7) Ekstermitas atas dan bawah
Refleks pattela positif kanan dan kiri, ekstermitas simetris, dan tidak
ada edema.
27

b. Bayi
1) Berat badan :-
2) Panjang badan :-
3) Lingkar kepala :-
4) Lingkar dada :-
5) Lingkar perut :-
6) Lingkar lengan atas :-

4) Pola Aktivitas Sehari-hari


a) Pola nutrisi
Frekuensi makan 3x/hari, jenis makanan nasi, sayur, buah dan lauk-pauk
dengan porsi makan1 piring, makanan yang disukai soup, tidak ada alergi
terhadap makanan, dan jenis minuman seperti susu, air putih dan teh.
b) Eliminasi
1) Buang air besar (BAB)
BAB 1x/hari, warna kuning kecoklatan, bau khas dengan konsistensi
lunak, dan tidak ada keluhan BAB.
2) Buang air kecil (BAK)
Frekuensi 4-5 kali/sehari, warna kuning jernih, bau khas amoniak dan
tidak ada keluhan BAK.
c) Pola tidur dan istirahat
Tidur saat siang ± 2 jam dan malam ± 7-8 jam, tidak ada masalah dalam
istirahat dan tidur
d) Pola aktivitas dan latihan
Mengurus rumah. Selama hamil klien beraktivitas seperti biasa saja. Saat
di ruangan klien hanya mampu terbaring ditempat tidur. Kegiatan
diwaktu luang klien beristirahat. Latihan yang dilakukan klien seperti
miring, duduk dan berjalan.
e) Personal hygiene
Kulit berwarna kuning langsat dan tampak bersih, rambut rapi, mulut dan
gigi lembab tidak ada karies gigi, dan cara berpakaian rapi.
28

f) Ketergantungan fisik
Tidak ada merokok, minum minuman keras, obat-obatan

5) Aspek Psikososial dan Spiritual


a) Pola pikir dan presepsi
Klien bingung dan tidak tahu bagaimana cara perawatan diri setelah
melakukan curetase.
b) Persepsi diri
Klien berharap ingin cepat sembuh dan dapat beraktifitas seperti
biasanya.
c) Konsep diri
Klien adalah seorang wanita, klien sebagai ibu rumah tangga, klien ingin
cepat sembuh, Ny. Y adalah seorang klien yang berusia 23 tahun.
d) Hubungan/komunikasi
Klien berkomunikasi dengan jelas dan relevan, bahasa utama yaitu bahasa
Indonesia dan bahasa daerah yaitu bahasa banjar, suami klien mempunyai
peranan penting dalam rumah tangganya, dan suami klien tidak merokok.
e) Kebiasaan seksual
Tidak ada masalah dalam hubungan seksual
f) Sistem nilai-kepercayaan
Sumber kekuatan adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan klien beragama
Islam dan taat beribadah di Mesjid.
29

6) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 23 Maret 2020

Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal


WBC 5.93 x 10^3/uL 4.50-11.0
HGB 12,0.g/dL 11.0-16.0
HCT 34,4% 37-48%
PLT 208 x 10^3/uL 150-400
GDS 99 mg/dL < 200
Ureum 25 mg/dL 21-53
Creatinin 0,64 mg/dL 0,7-1,5

7) Pengobatan
Penatalaksanaan medis tanggal 25 maret 2020
No. Jenis ObatRute Indikasi

Infus RL Mengembalikan keseimbangan elektrolit.


1. IV
20 tpm

Paracetamol Oral Untuk mengobati rasa sakit ringan hingga


2. sedang serta dapat digunakan untuk
500mg 3x1 meredakan demam.

Palangka Raya, 24Maret 2020


Mahasiswa,

CONGKY
30

3.2 Analisa data

Kemungkinan
Data subjektif dan data objektif Masalah
penyebab
DS: Curetase Hipertermia
Klien mengatakan “badan saya terasa Masuknya alat curetase
panas”
DO: Inflamasi
- Klien tampak lemah
- Kulit teraba hangat
- Kulit tampak kemerahan
- TTV
TD = 120/80 mmHg
S = 39,6OC
N = 98x/mnt
RR = 20x/mnt

DS: Klien mengatakan “badan saya Curetase Intoleransi


terasa lemas”. Aktivitas
DO:. Jaringan
- Klien tampak lemah. terputus/terlepas
- Pergerakan klien terbatas.
- Kebutuhan ADL klien dibantu Merangsang area
oleh keluarga dan perawat. sensorik motorik
- TTV
TD = 120/80 mmHg Nyeri
S = 39,6OC
N = 98x/mnt Keterbatasan aktivitas
RR = 20x/mnt

Prioritas Masalah

1. Hipertemia berhubungan dengan respon trauma.


2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
31
32

3.4 Intervensi Keperawatan

Nama Pasien: Ny. Y

Ruang Rawat: VK cempaka

Diagnosa Tujuan (Kriteria


Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil)
1. Hipertemia Setelah dilakukan 1. Observasi tanda-tanda vital terutama 1. Untuk mengetahui keadaan umum klien
berhubungan tindakan keperawatan suhu tubuh klien terutama perubahan suhu tubuh klien.
dengan respon kurang lebih 2 × 7 jam 2. Berikan lingkungan yang nyaman 2. Membuat klien lebih nyaman
trauma
diharapkan hipertermia 3. Ajarkan keluarga dalam melakukan 3. Untuk membantu menurunkan suhu tubuh
teratasi/berkurang kompres hangat. klien.
dengan kriteria hasil: 4. Kolaborasi dalam pemberian 4. Membantu menurunkan suhu tubuh klien.
- Suhu tubuh dalam antipiretik.
batas normal 36,5-
37,5oC.
- Klien tidak tampak
lemah.
- Kulit klien tidak
tampak kemerahan.
33

2. Intoleransi Setelah dilakukan 1. Observasi tanda-tanda vital. 1. Tekanan darah, pernafasan, nadi,
aktivitas tindakan keperawatan 2. Kaji tingkat aktivitas klien dan suhu tubuh dapat berpengaruh
berhubungan kurang lebih 2 × 7 jam 3. Libatkan keluarga dalam terhadap aktivitas pasien, sehingga
dengan
diharapkan klien dapat aktivitas sangat diperlukan
kelemahan 4. Anjurkan keluarga untuk 2. Untuk mengetahui tindakan yang
beraktivitas dengan
memberikan dukungan akan dilakukan berhubungan
kriteria hasil: positif atau partisipasi dengan masalah kurangnya aktivitas
- Pergerakan klien dalam aktivitas 3. Peran keluarga sangat penting
bebas. untuk mebantu klien dalam
- Klien tidak tampak melakukan aktivitas.
lemah. 4. Meberikan arahan untuk keluarga
- Kebutuhan ADL dalam membantu proses
dapat dilakukan pemenuham aktivtas pasien
secara mandiri.
- TTV normal
TD = 120/80 mmHg
N = 60-100x/mnt
RR = 16-20x/mnt
S = 36,5-37,5oC
34

3.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Hari/Tanggal Implementasi Evaluasi (SOAP) Tanda


Jam Tangan
dan Nama
Perawat
Selasa, 1. Mengobservasi tanda-tanda vital terutama S: Klien mengatakan “ badan saya sudah tidak terasa
23Maret 2020 Pukul suhu tubuh klien (pukul 21.15 WIB). panas lagi“
21.00 WIB 2. Memberikan lingkungan yang nyaman O:
(pukul 21.20 WIB). - TTV klien :
3. Mengajarkan keluarga dalam melakukan TD = 110/70 mmHg
kompres hangat (pukul 21.15 WIB). N = 80x/mnt Congky
o
4. Berkolaborasi dalam pemberian antipiretik S = 36,8 C
Paracetamol 500mg per oral (pukul 21.30 RR = 18 x/mnt (pukul 05.15 WIB).
WIB). - Klien tampak rileks (pukul 05.15 WIB).
- Keluarga mengerti dan dapat melakukan kompres
hangat secara mandiri (pukul 21.20 WIB).
- Memberikan paracetamol 500mg per oral untuk
membantu menurunkan suhu tubuh (pukul 21.30
WIB).
A: Masalah Teratasi
P: Hentikam Intervensi
35

Selasa, 1. Mengobservasi tanda-tanda vital (pukul S: Klien Mengatakan “badan saya masih terasa lemas
23Maret 2020 Pukul 21.15 WIB). dan masih belum bisa beraktivitas seperti biasa
21.00 WIB 2. Mengkaji tingkat aktivitas klien (pukul O:
21.25 WIB). - TTV klien :
3. Melibatkan keluarga dalam - TD = 110/70 mmHg
aktivitas (pukul 23.15 WIB). - N = 80x/mnt
4. Menganjurkan keluarga untuk - S = 36,8oC
memberikan dukungan positif atau Congky
- RR = 18 x/mnt (pukul 05.15 WIB).
partisipasi dalam aktivitas (pukul - Klien hanya dapat beraktivitas diatas tempat tidur
21.45 WIB). (pukul 21.00 WIB).
- Keluarga membantu klien dalam melakukan
aktivitas (pukul 22.15 WIB).
- Keluarga selalu memberi dukungan untuk klien
agar agar dapat beraktivitas secara mandiri (pukul
06.15 WIB).
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan Intervensi 1, 3, dan 4
36

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Herdman, T.H. 2015. Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan: definisi &
Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta: EGC.

Jhonson, Marion dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louise,
Misouri: Mosby, Inc.

McCloskey, Joanne C, 2008. Nursing Intervention Classification (NIC). St.


Louise, Misouri: Mosby, Inc.