Anda di halaman 1dari 58

+

Fisiologi Membran

Fisiologi Hewan
2019
3.1 Struktur Membran dan Komposisi

Membran plasma
- Mellindungi bagian
dalam sel
- Selektif dalam
memasukkan substansi
menuju dan keluar sel
- Tanggap terhadap
perubahan lingkungan
sel Trilaminar appearance of a plasma
- Struktur trilaminar bila membrane in an electron micrograph.
Depicted are the plasma membranes of
dilihat di bawah two adjacent cells. Note that each
mikroskop membrane appears as two dark layers
separated by a light middle layer.
3.1 Struktur Membran dan
Komposisi
Membran plasma merupakan cairan
lipid bilayer yang terikat dengan protein

Phospolipid
- Merupakan komponen membran
paling banyak
- Bagian kepala terdapat kelompok
phosphat yang terdapat muatan listrik
(hidrofilik)
- Dua ekor asam lemak non polar
(hydrophobic)
- Bergabung menjadi lipid bilayer
dengan ekor hydrophobic di bagian
tengah, dan kepala hidrofilik terletak
di bagian cairan
- Struktur yang cair merupakan
phospolipid yang tidak diikat dengan
ikatan kimia
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Molekul phospolipid
• Choline
• Head
(negatively
charged, polar,
hydrophilic)
• Phosphate
• Glycerol
• Tails
(uncharged,
nonpolar,
hydrophobic)
• Fatty acids
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Phospolipid menjadi bilayer dalam air

ECF: extracellular fluid


ICF: Intercellular fluid

Di dalam air, molekul phospolipid mengorganisasi dengan


sendirinya menjadi lipid bilayer dengan kepala polar berinteraksi
dengan molekul air yang polar pada setiap permukaan dan ekor
yang nonpolar berada di bagian interior dari bilayer
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Pemisahan ECF dan ICF oleh lipid bilayer

ECF: extracellular fluid


ICF: Intercellular fluid
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Kolesterol
• Terletak diantara phospolipid untuk melindungi
terjadinya kristalisasi dari rantai asam lemak
• Membantu menstabilisasi letak phospolipid
• Mengurangi membran lipid menjadi lebih kaku ,
terutama pada suhu dingin
• Kemampuan mengatasi bentuk yang kaku karena
suhu dingin (terutama hewan poikiloterm) dengan
cara memperkaya membran lipida secara
polyunsaturated fatty acid dan mengurangi
saturated fatty acid.
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Membran protein
• Integral protein ada di dalam lipid bilayer
• Terdapat bagian hidrofilik dan hidrofobik
• Transmembran protein terdapat hingga ke
seluruh bagian membran

• Peripheral protein ditemukan di dalam atau di luar


permukaan membran
• Molekul polar
• Diikat oleh ikatan kimiah lemah ke bagian polar
dari protein integral atau phospolipid
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Membran protein
Dua model dari struktur membran

• Fluid mosaic model


• Protein membran “berenang bebas di lautan”
lipid

• Membrane-skeleton fence model


• Mobilitas dari protein membran dibatasi oleh
sitoskeleton
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Membran protein
Fungsi membran protein terspesialisasi, yaitu:

• Channel
• Carrier
• Receptor
• Docking-marker acceptor
• Enzyme
• Cell-adhesion molecules (CAMs)
• Self-identity markers
3.1 Struktur Membran dan Komposisi
Membran karbohidrat
• Terletak di luar permukaan membran
• Karbohidrat rantai pendek berikatan dengan protein
membran (glikoprotein) atau lipid (glikolipid)
• Berperan penting dalam self-recognition dan cell-
to-cell interaction
3.1 Struktur Membran dan Komposisi

• Dark line
• Integral proteins
• Carbohydrate chain
• Appearance using an
electron microscope
• Light space
• Phospholipid molecule
• Dark line
• Glycolipid
• Glycoprotein
• Receptor protein

Fluid mosaic model of plasma membrane structure. The plasma


membrane is composed of a lipid bilayer embedded with proteins.
Integral proteins extend through the thickness of the membrane or are
partially submerged in the membrane, and peripheral proteins are
loosely attached to the surface of the membrane. Short carbohydrate
chains attach to proteins or lipids on the outer surface only.
3.2 Unassisted Membrane Transport
Membran plasma merupakan selectively permeable
• Permeabilitas melintasi lipid bilayer tergantung
pada
- Tingginya lipid terlarut
- Ukuran yang kecil
• Transport yang dibutuhkan untuk menghasilkan
pergerakan dari partikel melintasi membran
• Transport pasif tidak membutuhkan energi yang
dihasilkan oleh sel
• Transport aktif membutuhkan energi seluler
(ATP)
3.2 Unassisted Membrane Transport

Difusi
• Benturan secara acak dan molekul-molekul berbaur
secara berkesinambungan, menginduksi pergerakan
acak berdasarkan suhu
• Jumlah pergerakan dari molekul-molekul dari lahan
dengan konsentrasi tinggi menuju ke konsentrasi
yang lebih rendah
• Keseimbangan akan dicapai ketika tidak ada
gradient konsentrasi dan tidak terjadi difusi
3.2 Unassisted Membrane Transport
Unassisted Membrane Transport

Diffusion down a concentration gradient.


Unassisted Membrane Transport

Dynamic equilibrium, with no net diffusion occurring.


Diffusion from area A to area B
Diffusion from area B to area A
No net diffusion
Unassisted Membrane Transport

Hukum Fick tentang difusi

Laju dimana difusi muncul


tergantung pada:
- Gradien konsentrasi
- Permeabilitas
- Area permukaan
- Berat molekul
- Jarak
- Suhu
Unassisted Membrane Transport

Pergerakan ion melintasi membran dipengaruhi oleh


muatan listrik

- Perbedaan muatan antara dua area yang menghasilkan


gradien elektrik
- Gradien elektrik secara pasif menginduksi pergerakan
ion – disebut induksi
- Hanya ion-ion yang dapat memasuki membran plasma
yang dapat menurunkan gradien ini
- Gradien elektrik dan gradien konsentrasi yang ada
secara simultan disebut gradient elektrokimia
Unassisted Membrane Transport
Unassisted Membrane Transport

Difusi
• Air bergerak melintasi membran secara osmosis,
dari area dengan konsentrasi rendah menuju ke area
dengan konstrasi tinggi
• Penggeraknya adalah gradien konsentrasi dari air
• Tekanan hidrostatik berlawanan dengan osmosis
• Tekanan osmotik merupakan tekanan yang
dibutuhkan untuk menghentikan aliran osmotik
• Tekanan osmotik sebanding terhadap konsentrasi
dari larutan yang tidak dapat tembus
Unassisted
Membrane
Transport
Relationship between
solute and water
concentration in a
solution.
• Osmosis
• H2O
• Solute
• Pure water
• Lower H2O concentration
• Higher solute concentration
• H2O moves from side 1 to side 2
• Down its concentration gradient
• Solute unable to move from side 2
to side 1 down its concentration
gradient
Unassisted
Membrane
Transport
Unassisted Membrane Transport
• Colligative properties (berkaitan dengan ikatan
molekul secara bersama-sama) dari larutan hanya
tergantung pada jumlah partikel terlarut dalam suatu
larutan
• Tekanan osmotik
• Elevasi dari titik didih
• Tekanan dari titik beku
• Reduksi dari tekanan uap air
Unassisted Membrane Transport
• Tonisitas berdasarkan pada pengaruh konsentrasi
larutan pada volume sel
• Larutan isotonik
• konsentrasi larutan nonpenetrasi sama dalam sel
yang normal
• Volume sel konstan
• Larutan hipotonik
• Konsentrasi larutan rendah dibandingkan dengan
sel normal
• Volume sel meningkat, bahkan menuju ke titik
lisis
• Larutan hipertonik
• Konsentrasi larutan paling tinggi daripadi sel
normal
• Volume sel berkurang, menyebabkan crenation
Unassisted Membrane Transport
Unassisted Membrane Transport

Phospolipid bilayer bersifat impermeable terhadap:


• Molekul berukuran besar, molekul larutan yang
miskin lipid (protein, glukosa, dan asam amino)
• Molekul berukuran kecil, bermuatan (ion)

Mekanisme untuk mentransport molekul-molekul


masuk atau keluar dari sel
• Channel transport
• Carrier-mediated transport
• Vesicular transport
3.3 Assisted Membrane Transport
Aquaporins
Outside Water
cell molecule

Lipid bilayer
membrane

Aquaporin

Cytosol

Struktur dari aquaporin membentuk saluran dalam suatu membran.


Tanda panah merupakan saluran dengan asam amino hidrofilik
yang menarik molekul air
Figure 3-10 p82
One of the Nobel Prize–winning experiments from Peter
Agre’s laboratory. Incubation in hypotonic buffer fails to
cause swelling of a control frog oocyte (leȀ ), due to low
water permeability. In contrast, an oocyte injected with
mammalian aquaporin RNA (right) exhibits high water
permeability due to production of aquaporin proteins, and
the cell has exploded.
Figure 3-10 p82
3.3 Assisted Membrane Transport

n Carrier-mediated transport

n Proteintransmembran yang dapat mengubah


bentuk dan bersifat reversible
n Binding sites dapat terekspos dikedua sisi
membran
n Mengangkut substansi kecil yang larut dalam
air

n Difusi terfasilitasi atau transport aktif


3.3 Assisted Membrane Transport

n Karakteristik dari sistem transport termediasi

n Spesifitas – setiap protein pembawa


terspesialisasi pada substansi transport yang
spesifik

n Kejenuhan – terbatas pada jumlah dari substansi


yang dapat mentransport dalam sekali waktu
(transport maximum or Tm)

n Kompetisi – senyawa yang berkaitan dapat


berkompetisi untuk mendapatkan carrier yang
sama
3.3 Assisted Membrane Transport
Simple diffusion down
concentrationgradient
Rate of transport of molecule into cell

Carrier-mediated
transport down
concentration gradient
(facilitated diffusion)

Comparison of carrier-
mediated transport and
simple diffusion down a
concentration gradient.
Low High
Concentration of transported molecules in ECF
Figure 3-12 p83
3.3 Assisted Membrane Transport

nDifusi terfasilitasi

n TransportPassive carrier-mediated dari


konsentrasi tinggi ke rendah
n Tidak membutuhkan energi

n Contoh: transport glukosa menuju ke sel


3.3 Assisted Membrane Transport
n Difusi terfasilitasi

n Molekul yang akan ditransport berikatan pada


bindimg site dari protein carrier
n Carrier protein mengubah bentuk,
mengekspos molekul yang berikatan ke sisi
membran lainnya (sisi dengan konsentrasi
rendah)

n Molekul yang berikatan dilepas dari carrier


n Carrier kembali ke bentuk semula (binding site
pada sisi yang konsentrasi tinggi)
1 Carrier protein takes
conformation in which solute
3.3 Assisted binding site is exposed to
region of higher concentration.
Concentration

Membrane ECF Solute molecule


to be transported
gradient
(High)
Carrier protein
Transport Plasma
membrane Binding site
(Low)

ICF
Direction of
transport
4 Transported
solute is released 2 Solute
and carrier protein molecule
returns to binds to
conformation in carrier
step 1. protein.

Model for facilitated


diffusion, a passive form
of carrier-mediated
transport 3 Carrier protein changes
conformation so that binding
site is exposed to region of
lower concentration. Figure 3-11 p82
ANIMATION: Active and Facilitated
Diffusion

To play movie you must be in Slide Show Mode


PC Users: Please wait for content to load, then click to play
Mac Users: CLICK HERE
ANIMATION: Passive transport

To play movie you must be in Slide Show Mode


PC Users: Please wait for content to load, then click to play
Mac Users: CLICK HERE
3.3 Assisted Membrane Transport

n Active transport

n Carrier-mediated transport that moves a substance against its


concentration gradient

n Requires energy

n Primary active transport


n Energy is directly required
n ATP is split to power the transport process

n Secondary active transport


n ATP is not used directly
n Carrier uses energy stored in the form of an ion concentration
gradient built by primary active transport
3.3 Assisted Membrane Transport
Concentration ECF
gradient
1 Carrier protein splits ATP
Plasma into ADP plus phosphate.
Binding
membrane Phosphate group binds to
site
carrier, increasing affinity
Carrier
of its binding site for ion.
protein
ICF
Ion to be
transported

5 When 2 Ion to be
binding transported
site is free, binds to
carrier carrier on
reverts to low-
its original concentratio
shape. n
side.

4 Carrier releases 3 In response to ion


ion to side of higher binding, carrier changes
concentration. conformation so that
Phosphate group is binding site is exposed
also released. to opposite side of
Direction membrane.The change in
of transport shape also reduces affinity
of site for ion.
Figure 3-13 p85
ANIMATION: Active Transport

To play movie you must be in Slide Show Mode


PC Users: Please wait for content to load, then click to play
Mac Users: CLICK HERE
3.3 Assisted Membrane Transport
n Na+-K+ ATPase pump

n Pompa 3 Na+ keluar dari sel jika setiap 2 K+


masuk

n Pemecahan ATP untuk energi

n Phosphorylation menginduksi perubahan bentuk


dari protein transport
n Mempertahankan gradien konsentrasi Na+ and
K+ melintasi membran plasma
n Membantu meregulasi volume sel
3.3 Assisted Membrane Transport
3.3 Assisted Membrane Transport
n Secondary active transport

n Transport
secara simultan dari molekul nutrisi
dan ion melintasi membran dilakukan secara
cotransport protein
n Molekul nutrisi ditransport berlawanan
dengan gradien konsentrasi

n Dihantarkan oleh transport secara simultan


dari sepanjang ion gradien konsentrasinya
n Contoh: Kotransport glukosa dan Na+
melintasi membran luminal dari sel-sel epitel
dalam usus
3.3 Assisted
Membrane
Transport
Symport of glucose.
Glucose is transported
across intestinal and kidney
cells against its
concentration gradient by
means of secondary active
transport mediated by the
sodium and glucose
cotransporter (SGLT) at
the cells’ luminal
membrane.
Lumen Glucose Na+ high
of intestine Na+ high
low

Glucose Na+ low


Na+ low high Glucose
high

Na-
Epithelial cell high
lining small Glucose low
intestine

Na+ low Glucose high

Na+–K+ pump GLUT


(active) (passive)
Na- Glucose low
high Blood vessel
Primary Active Transport establishes Na+ Secondary Active Transport creating glucose Facilitated Diffusion
concentration concentration
gradient from gradient from cell
lumen to cell, to blood used for
which drives
1 Na+–K+ pump uses energy 2 SGLT uses Na+ concentration 3 GLUT passively moves
to drive Na+ uphill out of cell. gradient to simultaneously move glucose downhill out of cell
Na+ downhill and glucose uphill into blood.
from lumen into cell. Figure 3-15 p88
3.3 Assisted Membrane Transport
n Vesicular transport

n Transport antara cairan sel bagian dalam (ICF) dan cairan


sel bagian luar (ECF) dari sebagian besar partikel terbungkus
dalam membrane-bound vesicles

n Endocytosis – menggabungkan substansi bagian luar ke


dalam sel
n Exocytosis – melepaskan substansi ke ECF

n Laju dari endositosis dan ektositosis haruslah seimbang


untuk mempertahankan agar area permukaan membran
tetap konstan dan mempertahankan volume sel
n Caveolae dapat berperan dalam sistem transport suatu
substansi dan sinyal sel
n Caveloae (“tyni caves”) yaitu sel-sel dapat bertukar
material dengan lingkungannya
Methods of Membrane Transport and Their Characteristics
Methods of Membrane Transport and Their Characteristics
Methods of Membrane Transport and Their Characteristics

© Cengage Learning, 2013


3.4 Intercellular Communication and Signal
Transduction
Komunikasi antar sel diatur secara kontak langsung dan chemical
messenger ekstraseluler

Direct intercellular communication


Ada tiga mekanisme:
1. Melalui gap junction
Paling banyak terdapat pada sel-sel. Molekul-molekul kecil dan ion-
ion secara langsung bertukar antar sel-sel. Gap junction terutama
penting dalam aliran sinyal-sinyal elektrik untuk tersebar dari satu sel
menuju ke otot polos dan jantung.
2. Melalui marker di permukaan yang sementara secara langsung
menghubungkan sek-sel
Contoh pada sistem imun
3. Melalui nanotubes
Terdapat tubus yangpanjang dengan actin-filament yang melapisi
membran plasma sehingga terjadi kontak antar dua sel. Yang
ditransfer tidak hanya molekul-molekul sinyal taou juga seluruh
organel seperti mitokondria. Misal pada sel-sel perkembangan
serangga dan mamalia, sel-sel imun pada mamalia
3.4 Intercellular Communication and Signal
Transduction

Direct intercellular communication

Gap juction (a), transient direct linkup of cells (b), and nanotubes
(c) are means of direct communication between cells.
3.4 Intercellular Communication and Signal
Transduction

Indirect intercellular communication


Komunikasi antar sel yang paling umum dimana melalui
chemical messenger. Ada 6 kategori berdasarkan cara kerja:
1. Paracrine
2. Neurotransmitter
3. Hormon
4. Neurohormon
5. Pheromon
6. Cytokiner

Masing-masing memiliki chemical messenger yang spesifik


yang disintesis oleh sel-sel tertentu.
3.4 Intercellular Communication and Signal
Transduction

Indirect intercellular communication


1. Parakrin
Merupakan chemical messenger lokal yang pengaruhnya segera
diberikan hanya pada sel-sel tetangga (jika mempengaruhi sel
yang sama disebut dengan autocrine)
Didistribusikan dengan difusi sederhana
Contoh: histain, yang dilepaskan oleh jenis tertentu dari sel
jaringan ikat pada mamalia

2. Neurotransmitter
Digunakan oleh sel-sel saraf, dimana komunikasi secara
langsung dengan sel-sel target dengan melepaskan molekul
sinyal dalam merespon sinyal elektrik
3.4 Intercellular Communication and Signal
Transduction

Indirect intercellular communication


3.4 Intercellular Communication and Signal
Transduction
Indirect intercellular communication
3. Hormon
Merupakan chemical messenger yang panjang yang secara
spesifik dikeluarkan ke sirkulasi oleh kelenjar endokrin untuk
merespon sinyal tertentu

4. Neurohormone
Merupakan hormon yang dihasilkan oleh neurosecretory neuron

5. Pheromon
Merupakan sinyal kimia yang dilepaskan ke lingkungan,
biasanya oleh kelenjar, dan dialirkan melalui udara atau air ke
sel-sel sensori pada hewan lainnya.

6. Cytokines
Merupakan molekul-molekul sinyal yang dikaitkan dengan
sistem imun pada mamalia. Misalnya dalam meregulasi peptida,
yang berkaitan dengan hormon
3.4 Intercellular Communication and Signal
Transduction
Indirect intercellular communication