Anda di halaman 1dari 13

PILAR PENDIDIKAN, TEACHER CENTER LEARNING

(TCL), STUDENT CENTER LEARNING (SCL)

Disusun oleh :

KELOMPOK XI

NAMA NIM
FITRIANI 191302029
IDAR SUTRYANI JAYA 191302165

PROGRAM STUDI DIV BIDAN PENDIDIK

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR

2020
A. Pilar Pendidikan
 Pengertian Pilar Pendidikan

Menurut Prof. Herman H. Horn, Pendidikan adalah proses abadi dari penyesuaian
lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisik dan mental yang bebas
dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual,
emosional dan kemauan dari manusia. Sedangkan menurut Prof. Dr. John
Dewey, pendidikan adalah suatu proses pengalaman.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pendidikan diartikan sebagai proses
pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih
tinggi mengenai objek-objek tertentu dan spesifik.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pilar artinya tiang penguat (dari batu,
beton). Selain itu, Pilar juga diartikan sebagai dasar, Induk, dan pokok. Pilar
Pendidikan adalah sebagai dasar atau pokok untuk mencapai pengetahuan dan
pemahaman bagi individusecara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada
Tuhan. 
Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa dapat dilakukan melalui
peningkatan mutu pendidikan. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui lembaga
UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) yang
bergerak dibidang pendidikan, pengetahuan dan budaya mencanangkan empat pilar
pendidikan sebagai berikut :
1. Learning To Know
Pilar pertama ini memeliki arti bahwa para peserta didik dianjurkan
untuk mencari dan mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melalui
pengalaman-pengalaman. Hal ini akan dapat memicu munculnya sikap kritis dan
semangat belajar peserta didik meningkat. Learning to know selalu mengajarkan
tentang arti pentingnya sebuah pengetahuan, karena didalam learning to know
terdapat learning how to learn, artinya peserta didik belajar untuk memahami apa
yang ada di sekitarnya, karena itu adalah proses belajar. Hal ini sesuai pendapat
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004: 128) yaitu belajar adalah suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Sedangkan menurut Purwanto (2004: 44), belajar merupakan proses dalam diri
individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan
dalam perilakunya. Dari dua pendapat diatas menunjukkan bahwa belajar bukan
saja berasal dari bangku sekolahan saja tetapi belajar dapat terjadi melalui
interaksi dengan lingkungan. Belajar bukan hanya dinilai dari segi hasilnya saja,
melainkan dinilai dari segi proses, bagaimana cara anak tersebut memperoleh
pengetahuan, bukan apa yang diperoleh anak tersebut. Learning to know juga
mengajarkan tentang live long of education atau yang disebut dengan belajar
sepanjang hayat. Arti pendidikan sepanjang hayat (long life education) adalah
bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap
berlanjut sepanjang hidupnya (Suprijanto, 2008: 4). Hal ini menegaskan bahwa
pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga. Sekolah merupakan
lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga,
sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah
diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di
dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan
sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan
kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya.
2. Learning To Do
Pilar kedua menekankan pentingnya interaksi dan bertindak. “di sini para
peserta didik diajak untuk ikut serta dalam memecahkan permasalahan yang ada
di sekitarnya melalui sebuah tindakan nyata”. Belajar untuk menerapkan ilmu
yang didapat, bekerja sama dalam sebuah tim guna untuk memecahkan masalah
dalam berbagai situasi dan kondisi. Learning to do berkaitan dengan
kemampuan hard skill dan soft skill. Soft skill dan hard skill sangat penting dan
dibutuhkan dalam dunia pendidikan, karena sesungguhnya pendidikan
merupakan bagian terpenting dari proses penyiapan SDM (Sumber Daya
Manusia) yang berkualitas, tangguh, dan terampil dan siap untuk mengikuti
tuntutan zaman. Peserta didik sebagai hasil dari produk pendidikan memang
harus dituntut memiliki kemampuan soft skill dan hard skill.
Hard skill merupakan kemampuan yang harus menuntut fisik, artinya hard
skill memfokuskan kepada penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan
keterampilan teknis yang berhubungan dengan kemampuan peserta didik.
Penguasaan kemampuan hard skill dapat dilakukan dengan menerapkan apa yang
dia dapatkan /apa yang telah dipelajarinya di kehidupan sehari-hari, contohnya
anak disekolah belajar tentang arti penting sikap disiplin, maka untuk memahami
dan mengerti tentang disiplin itu, anak harus belajar untuk melakukan sikap
disiplin, baik dirumah, disekolah atau dimanapun. Dengan begitu anak menjadi
tahu dan faham tentang pentingnya sikap disiplin.
Selanjutnya adalah soft skill, artinya keterampilan yang menuntut intelektual. Soft
skill merupakan istilah yang mengacu pada ciri-ciri kepribadian, rahmat sosial,
kemampuan berbahasa dan pengoptimalan derajat seseorang  Jadi yang dimaksud
dengan kemampuan soft skill adalah kepribadian dari masing-masing individu.
Soft skill tidak diajarkan tetapi gurulah yang harus mencontohkan, seperti sikap
tanggung jawab, disiplin, dan lain sebagainya. Dengan memberikan contoh
tersebut, anak akan mencoba untuk menirukan apa yang dilihat. Hal itu
merupakan bagian dari menumbuhkan kemampuan soft skill.
3. Learning To Be
Pilar ketiga artinya bahwa pentingnya mendidik dan melatih peserta didik
agar menjadi pribadi yang mandiri dan dapat mewujudkan apa yang peserta didik
impikan dan cita-citakan. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan (soft
skill dan hard skill) merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning
to be). Menjadi diri sendiri dapat diartikan sebagai proses pemahaman terhadap
kebutuhan dan jati diri. Belajar untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma
dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil,
sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Learning to
be sangat erat kaitannya dengan bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan anak
serta kondisi lingkungannya. Misal : bagi siswa yang agresif, akan menemukan
jati dirinya bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya
bagi siswa yang pasif, peran guru sebagai fasilitator bertugas sebagai penunjuk
arah sekaligus menjadi mediator bagi peserta didik. Hal ini sangat diperlukan
untuk menumbuh kembangkan potensi diri peserta didik secara utuh dan
maksimal. Selain itu, pendidikan juga harus bermuara pada bagaimana peserta
didik menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang berperi kemanusiaan.

4. Learning To Live Together


Pilar terakhir artinya menanamkan kesadaran kepada para peserta didik bahwa
mereka adalah bagian dari kelompok masyarakat. jadi, mereka harus mampu
hidup bersama. Dengan makin beragamnya etnis di Indonesia, kita perlu
menanamkan sikap untuk dapat hidup bersama. Pada pilar keempat ini,
kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima
perlu dikembangkan disekolah. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta
didik, sebagai hasil dari proses pembelajaran, dapat dijadikan sebagai bekal untuk
mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan
sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang
peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam
bersosialisasi di masyarakat (learning to live together). Untuk itu, pembelajaran
di lembaga formal dan non formal harus diarahkan pada peningkatan kualitas dan
kemampuan intelektual dan profesional serta sikap dalam hal ini adalah
kemampuan hard skill dan soft skill. Dengan kemampuan dan sikap manusia
Indonesia yang demikian maka pada gilirannya akan menjadikan masyarakat
Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.

B. Pengertian Teacher Center Learning (TCL) dan Student center Learning


(STL)

Pada sistem pembelajaran model Teacher Centered Learning,


dosen lebih banyak melakukan kegiatan belajar-mengajar dengan bentuk
ceramah (lecturing). Pada saat mengikuti kuliah atau mendengarkan
ceramah, mahasiswa sebatas memahami sambil membuat catatan, bagi
yang merasa memerlukannya. Dosen menjadi pusat peran dalam
pencapaian hasil pembelajaran dan seakan-akan menjadi satu-satunya
sumber ilmu. Model ini berarti memberikan informasi satu arah karena
yang ingin dicapai adalah bagaimana dosen bisa mengajar dengan baik
sehingga yang ada hanyalah transfer pengetahuan.
Pendekatan teacher center dimana proses pembelajaran lebih berpusat
pada guru hanya akan membuat guru semakin cerdas tetapi siswa hanya
memiliki pengalaman mendengar paparan saja. Out put  yang dihasilkan
oleh pendekatan belajar seperti ini tidak lebih hanya menghasilkan siswa
yang kurang mampu mengapresiasi ilmu pengetahuan, takut berpendapat,
tidak berani mencoba yang akhirnya cenderung menjadi pelajara yang
pasif dan miskin kreativitas.
Jadi dari paparan di atas dapat kami simpulkan bahwa pengertian
teacher center adalah proses pembelajaran yang berpuasat pada guru
artinya guru sangat menentukan proses pembelajaran karena guru menjadi
satu-satunya sumber ilmu. Jadi model pembelajran ini membuat siswa
menjadi pasif dalam proses pembelajaran.
Pengertian student centered Learning  (SCL) adalah  proses
pembelajaran yang berpusat pada siswa (learner centered) diharapkan dapat
mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun
pengetahuan, sikap dan perilaku. Melalui proses pembelajaran yang
keterlibatan siswa secara aktif, berarti guru tidak lagi mengambil hak
seorang peserta didik untuk belajar. Aktifitas siswa menjadi penting
ditekankan karena belajar itu pada hakikatnya adalah proses yang aktif
dimana siswa menggunakan pikirannya untuk membangun pemahaman
(construcivism approach).
Proses pembelajaran yang berpusat pada siswa atau peserta didik, maka
siswa memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk dapat membangun sendiri
pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang
mendalam yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.
Melalui penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa
diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif, selalu ditantang untuk memiliki
daya kritis, mampu menganalisa dan dapat memecahkan masalahnya sendiri
(Karsen, 2008).
PERBEDAAN SCL dan TCL.

.
STUDENT CENTER TEACHER CENTER
LEARNING(SCL) LEARNING(TCL)
Berfokus pada Mahasiswa Berfokus pada Dosen
Two Way Traffic One Way Traffic
Dosen sebagai fasilitator dan mitra
Dosen sebagai sumber ilmu utama
pembelajaran
Mahasiswa bertanggung jawab
atas pembelajarannya dan
Mahasiswa diberi kuliah oleh dosen
menciptakan kemitraan antara
mahasiswa dan dosen
C. Kelebihan dan Kekurangan Teacher Center Learning
Kelebihan TCL
1. Sejumlah besar informasi dapat diberikan dalam waktu singkat
2. Informasi dapat diberikan ke sejumlah besar siswa
3. Pengajar mengendalikan sepenuhnya organisasi, bahan ajar, dan irama
pembelajaran
4. Merupakan mimbar utama bagi pengajar dengan kualifikasi pakar
5. Bila kuliah diberikan dengan baik, menimbulkan inspirasi dan stimulasi bagi
siswa
6. Metode assessment cepat dan mudah
Kekurangan TCL
1. Pengajar mengendalikan pengetahuan sepenuhnya, tidak ada partisipasi dari
pembelajar
2.  Terjadi komunikasi satu arah, tidak merangsang siswa untuk mengemukakan
pendapatnya
3. Tidak kondusif terjadinya critical thinking
4. Mendorong pembelajaran pasif
5. Suasana tidak optimal untuk pembelajaran secara aktif dan mandiri
D. Kelebihan dan Kekurangan Student Center Learning
Kelebihan SCL
1. Siswa atau peserta didik akan dapat merasakan bahwa pembelajaran menjadi
miliknya sendiri karena mahasiswa diberi kesempatan yang luas untuk
berpartisipasi
2. Siswa memiliki motivasi yang kuat untuk mengikuti kegiatan pembelajaran
3. Tumbuhnya suasana demokratis dalam pembelajara sehingga akan terjadi
dialog dan diskusi untuk saling belajar-membelajarkan di antara mahasiswa
4. Dapat menambah wawasan pikiran dan pengetahuan bagi dosen atau
pendidik karena sesuatu yang dialami dan disampaikan mahasiswa mungkin
belum diketahui sebelumnya oleh dosen.
5. Mengaktifkan siswa
6.   Mendorong siswa menguasai pengetahuan
7.  Mengenalkan hubungan antara pengetahuan dan dunia nyata
8. Mendorong pembelajaran secara aktif dan berpikir kritis
9. Mengenalkan berbagai macam gaya belajar
10. Memperhatikan kebutuhan dan latar belakang pembelajar
11.  Memberi kesempatan pengembangan berbagai strategi assessment
 Kekurangan SCL :
1. Sulit diimplementasikan pada kelas besar
2. Memerlukan waktu lebih banyak
3. Tidak efektif untuk semua jenis kurikulum
4.  Tidak cocok untuk mahasiswa yang tidak terbiasa aktif, mandiri, dan
demokratis

E. Model Pembelajaran Teacher Center Dan Student Center


a) Model Komando atau Banking Learning Concept
Pembelajaran model ini selalu betolak belakang antara posisi guru dan peserta
didik, yakni jika guru ceramah siswa mendengarkan dengan tekun, guru bertanya
siswa menjawab, guru mengerti siswa tidak tahu apa-apa, guru mendiktekan teks
siswa mencatat, guru pandai siswa bodoh, guru sebagai subjek siswa sebagai
objek, guru membuat program belajar siswa menerima program, dan seterusnya.
b)  INDEPENDENT / INDIVIDUAL
Independent atau Individual adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada
aktivitas individual peserta didik.
Tujuan individual learning bagi para peserta didik adalah agar mereka secara
mandiri dapat mengatur tujuan pembelajaran jangka pendek dan jangka panjang
yang ingin dicapai, melacak kemajuan dan prestasi selama waktu periode
tertentu. 
Mercer (1989) menyatakan bahwa terdapat empat langkah penting dalam
pelaksanaan individual learning , yaitu:
1. Mengidentifikasikan ketrampilan yang ditargetkan melalui assessment.
2. Menentukan kondisi-kondisi dan faktor-faktor yang mungkin dapat
memudahkan (memfasilitasi) pembelajaran.
3.   Merencanakan pembelajaran.
4. Memulai pembelajaran yang mengatur data harian.
5. Menentukan bagian dari proses belajar dinegosiasikan oleh peserta didik dan
fasilitator atau dosen.

c)   COOPERATIVE
Cooperative learning merupakan suatu aktivitas pembelajaran dengan penekanan
pada pemberdayaan peserta didik untuk saling belajar melalui pembentukan
kelompok-kelompok sehingga mereka dapat bekerja sama dalam memaksimalkan
proses pembelajaran diri sendiri ataupun peserta didik lainnya secara lebih
efektif. Cooperative learning mempunyai tujuan untuk meningkatkan
kepercayaan diri, memperbaiki kemampuan berfikir secara global, meningkatkan
hubungan antarkelompok, dan meningkatkan gairah belajar. Manfaat yang
diperoleh dalam pembelajaran cooperative learning adalah peningkatan rasa
kepercayaan diri, peningkatan rasa menghargai keberadaan orang lain,
peningkatan rasa untuk saling memberikan dan menerima pengetahuan diantara
peserta, dan peningkatan kesadaran perlunya kemampuan dalam bekerjasama
(Team work).
d)   COLLABORATIVE
Collaborative learning pada dasarnya merupakan pembelajaran yang
berdasarkan pengalaman peserta didik sebelumnya (prior knowledge) dan
dilakukan secara berkelompok. Collaborative learning dilakukan dalam
kelompok, seperti halnya pada
pembelajaran kooperatif dan kompetitif, tetapi tidak diarahkan untuk
berkompetisi dan tidak diarahkan hanya pada satu kesepakatan tertentu.
Collaborative learning mempunyai tujuan untuk memperluas perspektif
atau wacana peserta didik, mengelola perbedaan dan konflik karena proses
berpikir divergen, membangun kerjasama, toleransi, belajar menghargai
pendapat orang lain, dan belajar mengemukakan pendapat. Manfaat yang
diperoleh dalam pembelajaran colaborative learning adalah mengembangkan
daya nalar berdasarkan pengetahuan/ pengalaman yang dimiliki
dan sharing pengetahuan/pengalaman dari teman kelompoknya, memupuk
rasa tenggang rasa, empati, simpati dan menghargai pendapat orang lain,
menambah pengetahuan secara kolektif, dan mendapatkan tambahan
pengetahuan untuk dirinya sendiri.
e) ACTIVE
 Active learning mengacu pada teknik di mana peserta didik
melakukan lebih banyak aktivitas dan bukan hanya mendengarkan
fasilitator. Peserta didik melakukan beberapa hal termasuk menemukan,
mengolah, dan menerapkan informasi. Active learning bertujuan untuk
mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh peserta
didik, sehingga semua peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang
memuaskan sesuai dengan karakteristika pribadi yang mereka miliki.
Prosedur pelaksanaan active learning adalah :
1) Penentuan kebutuhan untuk pembelajaran dan peserta didik
2) Menyusun hasil pembelajaran (secara umum)
3) Menetapkan tujuan pembelajaran
4) Merancang aktifitas pembelajaran
5) Rangkaian aktifitas pembelajaran
6) Mengawali rencana secara terperinci
7) Meninjau kembali rancangan secara rinci
8) Mengevaluasi hasil keseluruhan.
f)   SELF DIRECTED
       Self-directed learning (SDL) adalah cara pembelajaran di mana
peserta didik mengambil inisiatif dan tanggung jawab tentang
pembelajaran. Dalam SDL peserta didik sendiri yang menentukan bahan
ajar, mengelola dan menilai proses pembelajaran dan hasilnya. SDL
dapat dilaksanakan kapan saja dan di mana saja, memakai cara
pembelajaran yang bebas dipilih sendiri.
Tujuan dari pembelajaran dengan cara SDL ialah untuk pengembangan
tanggung jawab dan kemandirian peserta didik dalam proses
pembelajaran dan dalam menentukan materi pembelajaran dan
kompetensi yang diharapkan. Bentuk kegiatannya ialah setiap peserta
didik harus mempunyai logbook yang dipakai untuk mengatur
pembelajarannya. Peserta didik mempelajari dan mengetahui berbagai
tugas, hak, kewajiban mereka serta berbagai pengetahuan dasar yang
perlu dimilikinya. Institusi memberi peluang kepada peserta didik untuk
melakukan pengaturan belajar mandiri (self-regulated learning) yang
meliputi: membuat rencana pembelajaran, monitoring setiap kegiatan
belajar dan melakukan evaluasi belajar secara tertulis dalam logbook.
g) RESEARCH BASED
Research-based learning (RBL) adalah merupakan salah satu
metode (SCL) yang mengintegrasikan penelitian di dalam proses
pembelajaran. RBL memberi peluang/kesempatan kepada peserta didik
untuk mencari informasi, menyusun hipotesis, mengumpulkan data,
menganalisis data, dan membuat kesimpulan atas data yang sudah
tersusun; dalam aktivitas ini berlaku pembelajaran dengan pendekatan
“learning by doing”. (Jones, Rasmussen, & Moffitt, 1997; Thomas,
Mergendoller, & Michaelson,1999, Thomas, 2000).  RBL bertujuan
untuk menciptakan proses pembelajaran yang mengarah pada aktivitas
analisis, sintesis, dan evaluasi serta meningkatkan kemampuan peserta
didik dan dosen dalam hal asimilasi dan aplikasi pengetahuan. 
h) CASE BASED
 Case-based learning (CBL) adalah pembelajaran berbasis kasus.
Peserta didik disediakan kasus yang merupakan simulasi bagi mereka
untuk melatih diri sebagai profesional yang sesungguhnya. CBL
bertujuan untuk melatih mahasiswa belajar secara kontekstual,
mengintegrasikan prior knowledge dengan permasalahan yang ada di
dalam kasus dalam rangka belajar untuk mengambil keputusan secara
professional, dan mengenalkan tatacara pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan yang tepat atau rasional (evidence-based).
i)   PROBLEM BASED LEARNING DENGAN METODE SEVEN JUMPS
Problem-Based Learning (PBL) adalah suatu metoda pembelajaran
di mana peserta didik sejak awal dihadapkan pada suatu masalah,
kemudian diikuti oleh proses pencarian informasi yang bersifat student-
centered. PBL bertujuan mengembangkan knowledge  (materi dasar dan
komunitas selalu dalam konteks), skills – hard-soft-life skills ( berpikir
secara ilmiah), critical appraisal (terampil dalam mencari informasi,
terampil dalam belajar secara aktif & mandiri, dan belajar sepanjang
hayat), attitudes(nilai kerjasama, etika, ketrampilan antarpersonal,
menghargai nilai psikososial). PBL bermanfaat untuk peserta didik
memiliki kecakapan dan sikap yang positif, antara lain: kerjasama dalam
kelompok, kerjasama 
antarpeserta didik di luar diskusi kelompok, memimpin kelompok,
mendengarkan pendapat kawan, mencatat hal-hal yang didiskusikan,
menghargai pendapat/pandangan kawan, bersikap kritis terhadap
literatur, belajar secara mandiri, mampu menggunakan sumber belajar
secara efektif, dan ketrampilan presentasi. Secara keseluruhan,
kecakapan dan sikap tadi merupakan modal utama dalam
pembentukan lifelong learner.

            Seven Jumps (7 langkah) pada PBL :


    L1: Menjelaskan istilah dan konsep
    L2: Menetapkan kata kunci dan masalah
L3: Menganalisis masalah
    L4: Menghubungkan atau menarik kesimpulan
    L5: Merumuskan tujuan/sasaran pembelajaran
    L6: Mengumpulkan informasi
    L7: Mensintesis dan menguji informasi baru

DAFTAR PUSTAKA
Priyatmojo, Achmadi dkk. 2010.  Buku Panduan Pelaksanaan Student Centered
Learning(Scl) Dan Student Teacher Aesthethic Role-Sharing (Star).
Kasinyo Hartato dan  Abduramansyah. 2009. Metodologi Pembelajaran Berbasis Active
Learni. Palembang:Grafika Telindo.
Sudjana, D. 2005. Metoda dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung:Falah
Production.
http://amdayhary.blogspot.com/2014/04/model-pembelajaran-teacher-center-dan.html

https://www.silabus.web.id/pengertian-empat-pilar-pendidikan/

http://erinutami.blogspot.com/2014/11/pilar-pilar-pendidikan.html