Anda di halaman 1dari 13

Skip to main content

Kampus Perawat
Kumpulan Tugas Kuliah S-1 Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

Contoh SAK Terapi Bermain Tebak Gambar

May 13, 2017

Satuan Acara Kegiatan


Terapi Bermain Tebak Gambar 

di Ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Satuan Acara Kegiatan

Disusun Oleh
Mahasiswa Profesi UNAIR
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
KOTA SURABAYA
2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik: 

 Terapi Bermain

Sub Topik:

 Tebak Gambar

Sasaran:

 Pasien Anak di Ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Hari, Tanggal:

 Jumat, 12 Agustus 2016

Tempat:

 Ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Pelaksana:

 Mahasiswa Program Profesi Pendidikan Ners Fakultas Keperawatan Universitas


Airlangga dan Tim PKRS RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Waktu:

 Pukul 09.00 - 09.45 WIB

A. Tujuan
1. Tujuan Umum

 Setelah dilakukan terapi bermain tebak gambar pada pasien anak di RUang Bona 1
RSUD Dr. Soetomo Surabaya, diharapkan dapat melanjutkan proses tumbuh kembang
anak, mempertahankan dan meningkatkan kreativitas serta imajinasi anak

2. Tujuan Khusus

 Setelah mengikuti terapi bermain tebak gambar, diharapkan pasien anak di Ruang
Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya mampu::
o Menyalurkan energi anak
o Mengembangkan aktivitas dan krativitas melalui pengalaman bermain
o Membantu anak beradaptasi dengan efektif terhadap stres karena penyakit dan
dirawat
o Membantu anak terdistraksi terhadap penyakit yang sedang dialami

B. Perencanaan
1. Jenis program bermain: 
o Menebak gambar
2. Karakteristik permainan:
o Mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak
3. Karakteristik peserta
o Usia 3-5 tahun
o Keadaan umum baik dan kooperatif
o Posisi duduk
4. Sasaran
o Sasaran terapi kreativitas ini adalah anak-anak usia pra-sekolah (3-5 tahun)
yang dirawat di ruang perawatan anak (Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya)

C. Metode
1. Tanya jawab

D. Media
1. Papan tulis
2. Spidol (tidak permanen)
3. Penghapus

E. Plan of Action (POA)
F. Pengorganisasian
1. Pembimbing Akademik
2. Pembimbing Klinik
3. Penyaji
4. Moderator
5. Observer 
6. Fasilitator

G. Job Description
1. Penyaji
o Menyampaikan materi terapi bermain yang dimulai dari menggambar bentuk
benda, hewan, atau tumbuhan diikuti dengan pertanyaan kepada peserta untuk
menebak gambar yang ada di papan tulis (tanya jawab)
2. Moderator
o Bertanggung jawab atas kelancaran acara
o Membuka dan menutup acara
o Mengatur waktu kegiatan sesuai dengan rencana kegiatan
3. Fasilitator
o Membantu kelancaran acara terapi bermain agar dapat berjalan dengan baik
4. Observer
o Mengobservasi performa penyuluh dan keantusiasan peserta penyuluhan
o Mengevaluasi serangkaian acara kegiatan mulai dari awal hingga akhir

H. Setting Tempat
 Peserta duduk di ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo

I. Kriteria Evaluasi
1. Kriteria Struktur
o Kesiapan materi
o Kesiapan SAK
o Kesiapan media: papan tulis, spidol, dan penghapus
o Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa
o Tempat dan alat tersedia sesuai perencanaan
o Peserta hadir di tempat penyuluhan
o Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Bona 1 RSUD Dr.
Soetomo Surabaya
o Pengorganisasian penyelenggaraan terapi bermain dilakukan minimal 2 hari
sebelumnya
2. Kriteria Proses
o Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan
o Peserta antusias dan aktif terhadap terapi bermain yang disampaikan oleh
penyaji
o Peserta terlibat aktif dalam kegiatan terapi bermain
o Suasana terapi bermain tertib
o Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat kegiatan
3. Kriteria Hasil
o Peserta yang datang sejumlah 7 orang atau lebih
o Pasien anak di Ruang Bona 1 RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengikuti
permainan dari awal sampai selesai

Materi Terapi Bermain


Tebak Gambar

A. Pengertian
 Tumbuh kembang anak usia pra-sekolah akhir (3-5 tahun) merupakan pertumbuhan
dimana anak berada pada fase inisiatif kontra masa bersalah (initiative vs guilty).
Sedangkan menurut Sigmund Freud anak berada pada fase phalik, yaitu dimana anak
mulai mengenal perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki
 Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya yang
tidak disadari.
 Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk
memperoleh kesenangan
 Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir

B. Fungsi Bermain
 Menurut Wong (1996), fungsi bermain bagi anak meliputi:

1. Perkembangan sensori motorik


o Bermain penting untuk mengembangkan otot dan energi. Komponen yang
paling baik untuk semua umur terutama bayi. Anak mengeksplorasi alam
sekitarnya:
 Bayi melalui stimulasi taktil (sentuhan), audio, dan visual
 Toddler dan pra-sekolah melalui gerakan tubuh yang lebih
terkoordinasi
 Sekolah dan remaja memodifikasi gerakan tubuh lebih terkoordinasi
dan rumit, contohnya berlari dan bersepeda
2. Perkembangan intelektual / kognitif
o Anak belajar berhubungan dengan lingkungannya, belajar mengenal objek dan
bagaimana menggunakannya
o Anak belajar berpikir abstrak dapat meningkatkan kemampuan bahasa, dapat
mengatasi masalah dan menolong anak membandingkan antara fantasi dan
realita
3. Sosialisasi
o Dengan bermain akan mengembangkan dan memperluas sosialiasi anak,
sehingga anak cepat mengatasi persoalan yang akan timbul dalam hubungan
sosial.
o Dengan sosialisasi, akan berkembang nilai-nilai normal dan etik. Anak belajar
yang benar dan salah serta bertanggung jawab atas kehendaknya
o Bayi
 Perhatian dan rasa senangnya akan kehadiran orang lain dimana kontak
sosial pertama anak adalah figur ibu
o Sampai usia 1 tahun
 Bayi memeriksa bayi lain, memeriksa objek di lingkungan
o Usia Toddler
 Permainan pura-pura dengan ibu dan anak, dokter dan pasien, penjual
dan pembeli. Kemudian meluas teman sementara dan teman
sepermainannya
o Usia Pra-Sekolah
 Sadar akan keberadaan teman sebaya, mengidentifikasi ciri yang ada
pada setiap bermainnya
o Usia Sekolah
 `Teman 1 atau 2 orang yang disukai, belajar memberi dan menerima,
belajar peran benar atau salah, nilai moral dan etik, mulai memahami
tanggung jawab dari tindakannya
4. Kreativitas
o Melalui bermain, anak menjadi kreatif, anak mencoba ide-ide baru dalam
bermain. Kalau anak merasa puas dari kreatifitas baru, maka anak akan
mencoba pada situasi yang lain
5. Nilai terapeutik
o Untuk melepaskan stres dan ketegangan
6. Kesadaran diri
o Anak akan sadar tentang kemampuan dan kelemahannya serta tingkah lakunya
7. Nilai moral
o Belajar salah / benar dari kultur, rumah, sekolah, dan interaksi. Contoh bila
ingin diterima sebagai anggota kelompok, anak harus mematuhi kode perilaku
yang diterima secara kultur, adil, jujur, kendali diri dan mempertimbangkan
kepentingan orang lain

C. Tujuan Bermain
 Melalui fungsi yang terurai di atas, pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan
sebagai berikut:
1. Melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal, pada saat sakit
anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Walaupun demikian, selama anak dirawat di rumah sakit kegiatan stimulasi
pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga
kesinambungannya
2. Mengekspresikan perasaan, keinginan, dan fantasi serta ide-idenya
3. Mengembangkan kreatifitas dan kemampuannya memecahkan masalah
4. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stres karena sakit dan dirawat di
rumah sakit
D. Ciri Bermain
1. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik, maksud muncul atas keinginan pribadi serta
untuk kepentingan sendiri
2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi
yang positif
3. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktifitas ke aktifitas
yang lain
4. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir
5. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep
bermain anak pada anak-anak kecil

E. Klasifikasi Bermain
1. Menurut Isi Permainan
o Social Affectif Play
 Permainan yang membuat anak belajar berhubungan dengan orang
lain.
 Contoh: orang tua berbicara, memluk, bersenandung. anak memberi
respon dengan tersenyum, mendengkur, tertawa, beraktifitas, dll
o Sense Pleasure Play
 Bermain untuk bersenang-senang
 Contoh: obyek, cahaya, bau, rasa, benda alam, dan gerakan tubuh
o Skill Play
 Bermain yang sifatnya membina keterampilan
 Contoh: berulang kali melakukan dan melatih kemampuan yang baru
didapat, seperti naik sepeda
o Dramatic Role Play
 Dimulai pada akhir masa bayi 11-13 bulan
 Contoh: berpura-pura melakukan kegiatan keluarga seperti makan,
minum, dan tidur
 Pada usia Toddler, kegiatan berupa hal-hal yang lebih dikenalnya
 Pada usia Pra-Sekolah, kegiatan sehari-hari tetapi lebih rumit
o Game
 Contoh: Puzzle, komputer games, dan video
2. Menurut Karakteristik Sosial
o On Looker Play
 Mengamati, anak melihat apa yang dilakukan anak lain tetapi tidak ada
usaha untuk ikut bermain
 Contoh: menonton televisi
o Solitary
 Mandiri, anak bermain sendiri
 Menyukai kehadiran orang lain tapi tidak ada usaha untuk mendekat
atau berbicara, hanya terpusat pada aktifitas / permainannya sendiri
o Parallel Play
 Bernain sendiri di tengah anak lainnya, tidak ada asosiasi kelompok
(ciri bermain anak Toddler)
o Association Play
 Bermain dan beraktifitas serupa bersama, tetapi tidak ada pembagian
kerja, pemimpin / tujuan bersama
 Anak berinteraksi dengan saling meminjam alat permainan (ciri
bermain anak Pra-Sekolah)
o Cooperative Play
 Bermain dalam kelompok, ada perasaan kebersamaan / sebaliknya,
terbentuk hubungan pemimpin dan pengikut
 Ada tujuan yang ditetapkan dan ingin dicapai
3. Menurut Usia Anak Pra-Sekolah
o Usia 4 tahun
 Motorik kasar: berjalan berjinjit, melompat dengan satu kaki,
menangkap bola dan melemparkannya dari atas kepala
 Motorik halus: Sudah bisa menggunakan gunting dengan lancar, sudah
bisa menggambar kotak, menggambar garis vertikal maupun
horizontal, belajar membuka dan memasang kancing baju
o Usia 5 tahun
 Motorik kasar: berjalan mundur sambil berjinjit, sudah dapat
menangkap dan melempar bola dengan baik, sudah dapat melompat
dengan kaki secara bergantian
 Motorik halus: menulis dengan angka-angka, belajar menulis nama,
belajar mengikat tali sepatu
 Status emosional: bermain sendiri mulai berkurang, sering berkumpul
dengan teman sebaya, interaksi sosial selama bermain meningkat,
sudah siap untuk menggunakan alat-alat bermain
 Pertumbuhan fisik: berat badan meningkat 2,5 kg / tahun, tinggi badan
meningkat 6,75 - 7,5 cm / tahun 

F. Perkembangan Psikososial Anak


 Teori mengenai perkembangan psikososial dikemukakan oleh Erick Ericson (1963)
 Tahapan perkembangan pada anak pra-sekolah menurut Ericson adalah Inisiatif
versus Rasa Bersalah (umur 3-6 tahun)
 Tahap ini anak mulai belajar untuk mengendalikan diri dan memanipulasi lingkungan.
Rasa inisiatif mulai menguasai anak, anak sudah mulai diikutsertakan sebagai
individu atau membantu orang tua dan lingkungan
 Contoh: anak ikut serta merapikan tempat tidur, bagi anak wanita bisa membantu ibu
di dapur. Dalam hal ini anak sudah mulai memperluas lingkup pergaulannya, ia
menjadi aktif di luar rumah, kemampuan berbahasa semakin meningkat. Hubungan
dengan teman sebaya dan saudara kandung cenderung untuk selalu menang sendiri
 Peran seorang ayah sudah mulai berjalan, harus ada hubungan yang harmonis antara
ayah, ibu, dan anak yang tujuan akhirnya adalah untuk memantapkan identitas diri
anak
 Orang tua dapat melatih diri anak untuk mengintegrasikan peran-peran sosial dan
tanggung jawab sosial
 Terkadang anak tidak dapat mencapai tujuan atau kegiatan yang lebih disebabkan
karena keterbatasan kemampuannya

G. Tahap Psikoseksual Anak


 Fase Phalic (3-6 tahun)
o Anak akan senang memegang genetalia, kecenderungan anak akan dekat
dengan orang tua yang berlawanan jenis kelamin, misalnya anak laki-laki
lebih dekat dengan ibunya, sedangkan anak perempuan akan lebih dekat
dengan ayahnya
o Anak mempunyai rasa persaingan yang ketat dengan orang tua yang sesama
jenis kelamin, misalnya anak laki-laki merasa tersaingi oleh ayahnya untuk
memperebutkan kasih sayang dari ibunya. Demikian pula dengan anak
perempuan, dia akan merasa tersaingi oleh ibunya untuk mendapatkan kasih
sayang dari ayahnya
o Sifat egosentris yang tinggi pada anak dan interaksi sosial sudah mulai tumbuh

H. Faktor yang Mempengaruhi Bermain


1. Tahap Perkembangan Anak
o Aktifitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan tahapan
pertumbuhan dan perkembangan anak, tentunya permainan anak usia bayi
tidak lagi efektif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah,
demikian juga sebaliknya
o Orang tua dan perawat harus mengetahui dan memberikan jenis permainan
yang tepat untuk setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak
2. Status Kesehatan Anak
o Untuk melakukan aktifitas bermain diperlukan energi, walaupun demikian
bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat sakit
o Kebutuhan bermain anak sama halnya dengan kebutuhan bekerja pada orang
dewasa, yang penting pada saat kondisi anak sedang menurun atau sakit
bahkan dirawat di rumah sakit, orang tua dan perawat harus jeli memilihkan
permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip bermain pada
anak yang sedang dirawat di rumah sakit
3. Jenis Kelamin
o Dalam melaksanakan aktifitas bermain, tidak membedakan jenis kelamin laki-
laki atau perempuan
o Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau perempuan
untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreatifitas dan kemampuan
sosial anak
o Ada pendapat lain bahwa permainan adalah salah satu alat untuk membantu
anak mengenal identitas diri, sehingga sebagian alat permainan anak
perempuan tidak dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki
o Ada tuntutan perilaku yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, dan hal
ini dipelajari melalui media permainan
4. Lingkungan yang Mendukung
o Terselenggaranya aktifitas bermain yang baik untuk perkembangan anak salah
satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya, dan lingkungan fisik rumah
o Fasilitas bermain tidak selalu harus yang dibeli di toko atau mainan jadi, tetapi
lebih diutamakan yang dapat menstimulus imajinasi dan kreatifitas anak,
bahkan sering kali mainan tradisional yang dibuat sendiri dari / atau berasal
dari benda-benda di sekitar kehidupan anak akan lebih merangsang anak untuk
kreatif, keyakinan keluarga tentang moral dan budaya juga mempengaruhi
bagaimana anak di didik melalui permainan
o Lingkungan fisik sekitar lebih banyak mempengaruhi ruang gerak anak untuk
melakukan aktifitas fisik dan motorik
o Lingkungan rumah yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak
mempunyai cukup ruang gerak untuk bermain, berjalan, mondar-mandir,
berlari melompat, dan bermain dengan teman sekelompoknya
5. Alat dan Jenis Permainan
o Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk anak, pilih
yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak
o Label yang tertera pada mainan harus dibaca terlebih dahulu sebelum
membelinya, apakah mainan tersebut sesuai dengan usia anak
o Alat permainan tidak harus yang dibeli di toko atau mainan jadi
o Alat permainan yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi akan
mengajarkan anak untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi alat
gerak
o Permainan membantu anak untuk meningkatkan kemampuan dalam norma
dan aturan serta interaksi sosial dengan orang lain

I. Karakteristik Bermain yang Sesuai


1. Tradisi
o Setiap generasi meniru permainan generasi sebelumnya
o Bentuk permainan yang memuaskan akan dilanjutkan
o Tergantung dari perubahan musim
2. Mengikuti Pola Perkembangan
o Usia bertambah, penggunaan material lebih bermakna, misalnya balok
3. Waktu dan Usia
o Ragam kegiatan bermain berkurang dengan bertambahnya usia
o Waktu berkurang sesuai usia
o Aktfitas fisik berkurang
o Waktu untuk aktifitas spesifik meningkat
o Perhatian menyempit tetapi lebih lama
o Jumlah dan usia teman (lebih sedikit dan spesifik)

J. Prinsip Permainan pada Anak di Rumah Sakit


1. Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada
anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan yang dapat dilakukan
di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain dengan kelompoknya di tempat
bermain khusus yang ada di ruangan rawat
2. Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana
3. Permainan harus mempertimbangkan kemanan anak
4. Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama
5. Melibatkan orang tua

K. Keuntungan Bermain pada Anak di Rumah Sakit


1. Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat
2. Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktifitas
bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak
3. Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak,
tetapi juga akan membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut,
sedih, tegang, dan nyeri
4. Permainan yang terapeutik akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk
mempunyai tingkah laku yang positif

Daftar Pustaka
Berhman, et al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Volume 3. Jakarta: EGC.
Hurlock. 1991. Perkembangan Anak, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, Edisi ke-2. Jakarta: EGC.
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Edisi ke-4. Jakarta: EGC.
Yulianti, Rani. 2008. Permainan yang Meningkatkan Kecerdasan Anak. Jakarta: Laskar
Askara.

Daftar Hadir Peserta Penyuluhan


Hari, Tanggal: Jumat, 12 Agustus 2016
Ruang: Bona 1
Waktu: 45 menit