Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Resiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat
mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Sebagaimana kita pahami dan
sepakati bersama bahwa tujuan perusahaan adalah membangun dan memperluas
keuntungan kompetitif organisasi. Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini
terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan
terjadi.  Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau
merugikan.  kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang
(opportunity), sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan
disebut dengan istilah resiko (risk).
Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang definisi dari manajemen risiko serta
tujuan dari manajemen risiko itu sendiri untuk perusahaan. Selain itu, dijelaskan pula
tahap-tahap dalam proses manajemen risiko, perbedaan antara risk control dan risk
financing sebagai teknik utama menangani kerugian.
Rumusan Masalah
1. Apa definisi manajemen risiko?
2. Apakah tujuan dari manajemen risiko?
3. Bagaimana tahap dalam proses manajemen risiko, serta membedakan antara
risk control dan risk financing sebagai teknik utama menangani kerugian?
Tujuan Penelitian
1. Mengetahui definisi dari manajemen risiko
2. Mengetahui tujuan dari manajemen risiko
3. Mengetahui tahap dalam proses manajemen risiko, serta membedakan antara
risk control dan risk financing sebagai teknik utama menangani kerugian

1
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi manajemen risiko


Manajemen risiko adalah usaha yang secara rasional ditujukan untuk mengurangi
kemungkinan terjadinya kerugian dari resiko yang dihadapi. Risiko tidak cukup
dihindari, tapi harus dihadapi dengan cara-cara memperkecil kemungkinan terjadinya
suatu kerugian (Kasidi, 2010:4).
Manajemen risiko adalah kemampuan seorang manajer untuk menata kemungkinan
variabilitas pendapatan dengan menekan sekecil mungkin tingkat kerugian yang
diakibatkan oleh keputusan yang diambil dalam menggarap situasi yang tidak pasti
(Iban Sofyan, 2005:2).
Manajemen risiko adalah suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi,
kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan
pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses (Ferry N. Idroes,
2008:5)
Manajemen risiko adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang bagaimana
suatu organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan berbagai permasalahan yang
ada dengan menempatkan berbagai pendekatan manajemen secara komprehensif dan
sistematis (Irham Fahmi, 2010:2)
Manajemen resiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola
ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia
termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi
risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang
dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari
risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua
konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko
yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran,
kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus
pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan
(Herman Darmawi, 1992:172).

2
Manajemen Resiko didefinisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran,
dan kontrol keuangan dari sebuah resiko yang mengancam aset dan penghasilan dari
sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian
pada perusahaan tersebut (Smith,1990).

2. Tujuan Manajemen risiko


Tujuan yang ingin dicapai dalam mempelajari konsep manajemen resiiko antara lain
sebagai berikut.
- Untuk meningkatkan kapabilitas kepemimpinan seorang manajer perusahaan
- Untuk menumbuhkan sifat dinamis dan progresif seorang manajer perusahaan
- Untuk mengurangi sebanyak mungkin pengambilan keputusan yang didasari
atas intuisi dan perasaan seorang manajer
- Untuk meningkatkan ketrampilan penggunaan alat analisis manajemen risiko
dalam proses pembuatan keputusan seorang manajer perusahaan

3. Tahap-tahap dalam Melaksanakan Manajemen Risiko


Untuk mengimplementasikan manajemen risiko secara komprehensif ada
beberapa tahap yang harus dilaksanakan oleh suatu perusahaan, yaitu :
A. Identifikasi Risiko
Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan melakukan tindakan berupa
mengidentifikasi setiap bentuk risiko yang dialami perusahaan, termasuk
bentuk-bentuk risiko yang mungkin akan dialami oleh perusahaan.
Identifikasi ini dilakukan dengan cara melihat potensi-potensi risiko yang
sudah terlihat dan yang akan terlihat.
B. Mengidentifikasi Bentuk-bentuk Risiko
Pada tahap ini diharapkan pihak manajemen perusahaan telah menemukan
bentuk dan format risiko yang dimaksud. Bentuk-bentuk risiko yang
diidentifikasi disi telah mampu dijelaskan secara detail, seperti ciri-ciri risiko
dan faktor-faktor timbulnya risiko tersebut. Pada tahap ini pihak manajemen
perusahaan juga sudah mulai mengumpulkan dan menerima berbagai data-
data baik bersifat kualitatif dan kuantitatif.
C. Menempatkan Ukuran-Ukuran Risiko

3
Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan sudah menempatkan ukuran atau
skala yang dipakai, termasuk rancangan model metodologi penelitian yang
akan digunakan. Data-data yang masuk juga dapat diterima, baik yang
berbentuk kualitatif dan kuantitatif serta pemilihan data dilakukan
berdasarkan pendekatan metodologi yang digunakan. Dengan kepemilikan
rancangan metodologi penelitian yang ada diharapkan pihak manajemen
perusahaan telah memiliki fondasi kuat guna melakukan pengolahan data.
Untuk dipahami bahwa penggunaan ukuran dengan berdasarkan format
metodologi penelitian yang digunakan harus dilakukan dengan sangat hati-
hati dan penuh kecermatan karena jika salah atau tidak sesuai dengan kasus
yang ditangani maka hasil yang akan diperoleh nantinya juga dianggap tidak
akan akurat.
D. Menempatkan Alternatif-Alternatif
Pada tahap ini pihak manajemen perusahaan telah melakukan pengolahan
data. Hasil pengolahan kemudian dijabarkan dalam bentuk kualitatif dan
kuantitatif beserta akibat-akibat atau pengaruh-pengaruh yang akan timbul
juga keputusan tersebut diambil. Berbagai bentuk penjabaran yang
dikemukakan tersebut dipilah dan ditempatkan sebagai alternatif keputusan.
E. Menganalisis Setiap Alternatif
Pada tahap ini dimana setiap alternatif yang ada selanjutnya dianalisis dan
dikemukakan berbagai sudut pandang serta efek-efek yang mungkin timbul.
Dampak yang mungkin timbul baik secara jangka pendek dan jangka panjang
dipaparkan secara komprehensif dan sistematis, dengan tujuan mampu
diperoleh suatu gambaran secara jelas dan tegas. Kejelasan dan sangat
penting guna membantu pengambilan keputusan secara tepat.
F. Memutuskan satu alternatif
Pada tahap ini setelah berbagai alternative dipaparkan dan dijelaskan baik
dalam bentuk lisan dan tulisan oleh para manajemen perusahaan maka
diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki pemahaman secara
khusus dan mendalam. Pemilihan satu alternatif dari berbagai alternatif yang
ditawarkan artinya mengambil alternatif yang terbaik dari berbagai alternatif
yang ditawarkan termasuk dengan menolak berbagai alternatif lainnya.

4
Dengan pemilihan satu alternatif sebagai solusi dalam menyelesaikan
berbagai permasalahan diharapkan pihak manajer perusahaan sudah memiliki
fondasi kuat dalam menugaskan pihak manajemen perusahaan untuk bekerja
berdasarkan konsep dan koridor yang ada.
G. Melaksanankan alternatif yang dipilih
Pada tahap ini setelah alternatif dipilih dan ditegaskan serta dibentuk tim
untuk melaksanakan ini, maka artinya manajer perusahaan sudah
mengeluarkan surat keputusan (SK) yang dilengkapi dengan rincian biaya.
Rincian biaya yang dialokasikan tersebut telah disetujui oleh bagian
keuangan serta otoritas pengambil penting lainya.
H. Mengontrol alternatif yang dipilih tersebut
Pada tahap ini alternatif yang dipilih telah dilaksanakan dan pihak tim
manajemen beserta para manajer perusahaan. Tugas utama manajer
perusahaan adalah melakukan control yang maksimal guna menghindari
timbulnya berbagai risiko yang tidak diinginkan.
I. Mengevaluasi jalanya alternative yang dipilih
Pada tahap ini setelah alternatif dilaksanakan dan control dilakukan maka
selanjutnya pihak tim manajemen secara sistematis melaporkan kepada pihak
manajer perusahaan. Pelaporan tersebut berbentuk data yang bersifat
fundamental dan teknikal serta dengan tidak mengesampingkan informasi
yang bersifat lisan. Tujuan melakukan evaluasi dari alternatif yang dipilih
tersebut adalah bertujuan agar pekerjaan tersebut dapt terus dilakasankan
sesuai dengan yang direncanakan.

Membedakan risk control dan risk financing


Sesudah manajer risiko mengidentifikasikan dan mengukur risiko yang dihadapi
perusahaannya, maka ia harus memutuskan bagaimana menangani risiko tersebut.
Ada dua pendekatan dasar untuk itu :
1. Pengendalian risiko (risk control)
2. Pembiayaan risiko (risk financing)
Pengendalian risiko, dijalankan dengan metode berikut :
1. Menghindari risiko

5
2. Mengendalikan kerugian
3. Pemisahan
4. Kombinasi atau pooling
5. Pemindahan risiko
Pembiayaan risiko, meliputi :
1. Pemindahan risiko melalui pembelian asuransi
2. Menanggung risiko (retention)
Masing-masing peralatan itu sebaiknya dipergunakan dalam kombinasi
dengan satu atau lebih peralatan tersebut. Jika exposure tidak dihilangkan, maka
tidak ada alternative lain selain menggunakan teknik financing. Dalam membahas
masing-masing teknik, perhatian akan dikhususkan pada karakteristik utamanya,
pertimbangan yang mempengaruhi penggunaannya dan pengamatan-pengamatan atas
bagaimana mengimplementasikan serta bagaimana mengevaluasi hasilnya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam rangka mengendalikan suatu
risiko murni adalah dengan menghindari harta, orang atau kegiatan dari exposure
terhadap risiko, dengan jalan :
 Menolak memiliki atau melaksanakan kegiatan itu, walaupun hanya
sementara;
 Menyerahkan kembali risiko yang terlanjur diterima, atau segera
menghentikan kegiatan setelah diketahui mengandung risiko.

1. Karakteristik Dasar Menghindari Risiko


Pertama. Kemungkinan untuk menghindari risiko tidak ada. Semakin luas risiko
yang dihadapi, maka semakin besar ketidakmungkinan menghindarinya.
Misalnya, ingin menghindari semua risiko tanggung jawab, maka semua kegiatan
harus dihentikan. Hal ini tidak mungkin dilakukan bagi sebuah badan usaha atau
perusahaan.
Kedua. Manfaat atau laba potensial yang akan diterima dari sebab kepemilikan
suatu harta, mempekerjakan pegawai tertentu atau bertanggung jawab atau suatu
kegiatan, akan hilang jika dilaksanakan penghindaran risiko.
Ketiga. Semakin sempit risiko yang dihadapi, maka akan semakin besar
kemungkinan akan tercipta risiko yang baru. Misalnya, menghindari risiko

6
pengangkutan dengan kapal dan menggantinya dengan angkutan darat, maka
akan muncul risiko yang berhubungan dengan angkutan darat.

2. Program Pencegahan Kerugian dan Program Pengurangan Kerugian


Program pencegahan kerugian berusaha untuk mengurangi atau
menghilangkan peluang kerugian. Program pengurangan kerugian bertujuan
untuk mengurangi keparahan potensial dari kerugian. Beberapa program
pengendalian kerugian merupakan gabungan antara program pengurangan
kerugian dan pencegahan kerugian.
Program pengurangan kerugian dapat dibedakan atas minimization program
dan salvage program. Minimization program dijalankan sebelum kerugian terjadi
atau selama peristiwa yang menyebabkan kerugian itu sedang berlangsung
dengan tujuan mengurangi tingkat keparahan kerugian. Misalnya usaha
memadamkan api saat terjadi kebakaran, mengecek kelayakan mesin sebelum
dioperasikan. Salvage program bertujuan untuk menyelamatkan. Misalnya,
mengumpulkan harta yang tersisa setelah terjadinya kebakaran, mengangkat
mobil setelah terjadinya kecelakaan.

3. Implementasi dan Evaluasi Hasil


Untuk mengimplementasikan keputusan penghindaran risiko, maka harus
diadakan penetapan terhadap semua harta, personil atau kegiatan yang
menghadapi risiko yang ingin dihindarkan. Dengan dukungan manajemen
puncak, manajer risiko seharusnya menganjurkan policy dan prosedur tertentu
yang harus diikuti oleh semua bagian perusahaan dan pegawai. Misalnya, jika
tujuannya adalah menghindari risiko dengan angkutan kapal, maka semua
departemen diinstruksikan untuk menggunakan angkutan lain.
Penghindaran risiko dikatakan berhasil jika tidak terjadi kerugian terhadap
risiko yang ingin dihindari tersebut. Sesungguhnya metode itu tidak
diimplementasikan sebagaimana mestinya jika ternyata anjuran-anjuran yang
telah diinstrusikan itu ternyata dilanggar, meskipun tidak sampai menimbulkan
kerugian.

7
4. Pengendalian Kerugian (Loss Control)
Pengendalian kerugian dijalankan dengan :
 Merendahkan peluang untuk terjadinya kerugian
 Mengurangi keparahannya jika kerugian itu memang terjadi.
Kedua tindakan itu dapat diklasifikasikan dalam :
 Tindakan pencegahan kerugian atau pengurangan kerugian
 Menurut sebab kejadian yang akan dikontrol
 Menurut lokasi kondisi-kondisi yang akan dikontrolmenurut timing-
nya

a. Pengendalian Kerugian Menurut Sebab-Sebab Terjadinya


Secara tradisional, teknik pengendalian kerugian diklasifikasikan berdasarkan
dua pendekatan, yaitu; pendekatan engineering dan pendekataan hubungan
kemanusiaan.

Pendekatan engineering menekankan pada sebab-sebab yansg bersifat fisik dan


mekanik. Misalnya, memperbaiki kabel yang tidak memenuhi syarat,
pengawasan kualitas bahan bangunan dalam membangun suatu gedung,
pengadaan sarana pengolahan limbah usaha dan sebagainya.

Pendekatan human relation menekankan sebab-sebab kecelakaan yang bersumber


dari faktor manusianya, seperti kelengahan, sembrono, suka menghadang bahaya,
tidak mau memakai alat pengaman sebagaimana diharuskan, dan sebagainya.

b. Pengendalian kerugian menurut lokasi


Tindakan pengendalian risiko, dapat pula diklasifikasikan menurut lokasi, dari
kondisi yang direncanakan untuk dikendalikan. Haddon menegaskan, bahwa
kemungkinan dan keparahan kerugian dari suatu kecelakaan lalu lintas
tergantung pada :
- Orang yang menggunakan jalan raya
- Kondisi kendaraan

8
- Lingkungan umum jalan raya, seperti desain, kondisi lalu lintas, peraturan
dan sebagainya
Konsep Haddon ini dapat diterapkan pemakaiannya untuk bentuk kerugian lain.
Misalnya, kerugian atas kebakaran akan sangat dipengaruhi oleh lokasi,
peruntukkan, orang yang berkepentingan dan masyarakat.
c. Pengendalian kerugian menurut Timing
Pendekatan ini meninjau peristiwa atau pengendalian berdasarkan waktu sebelum
kejadian, selama kejadian atau sesudah kejadian. Klasifikasi ini telah
dipergunakan sebagai kriteria untuk membedakan antara minimization dan
salvage. Klasifikasi kedua, yang berdasarkan timing juga mengenalkan phase;
perencanaan, pengamanan perawatan dan darurat. Dalam phase perencanaan,
dilakukan segala pertimbangan untuk mengadakan perubahan. Phase
pengamanan perawatan, meliputi program untuk memeriksa pelaksanaan dan
mengusulkan perubahan yang perlu. Sedangkan phase darurat, meliputi program-
program yang menjadi efektif ketika keadaan darurat.
Yang berhubungan dengan cara – cara pengadaan dana untuk memulikan kerugian. Cara ini
terdiri dari:
1. Risk financing transfer (memindahkan resiko disertaidengan pembiayaan)
2. Risk retention (resiko ditangani oleh perusahaan yang bersangkutan)
Risk Financing Transfer
Telah ditegaskan bahwa pemindahan resiko dapat digolongkan dua cara pengendalian resiko
dan risk financing. Pemindahan resiko melalui cara pengendalian resiko, tidak memerlukan
pengerahan dana dijalankan dengan:
1. Memindahan harta atau kegiatan yang bersangkutan kepada pihak lain
2. Memindahkan tanggung jawab kepada transferee
3. Menganggap kerugian yag bersangkutan dipikul pihak lain

Risk financing transfer dapat dilakukan dengan cara:


1.tranfer resiko kepada perusahaan
2.transfer kepada perusahaan lain yang bukan perusahaan asuransi (nonisurance transfer)

9
NONINSURENCE TRANSFER
Kebanyakan pemindahan resiko kepada pihak nonasuransi ini dilakukan melalui
kontrak – kontrak bisnis biasa, dan melalui kontrak khusus pemindahan resiko.
Banyak isi kontrak berkenalan dengan pemindahan tanggung jawab keuagan atas:
1. Harta
2. Kerugian atas net income
3. Kerugian personil
4. Tanggung gugat (lialibilities) kepada pihak .ketiga.

Pemindahan ini dapat dibeda – bedakan berdasarkan tanggung jawab yang


dipindahkan. Nonisurance transfer ini mempunyai beberapa keterbatasan yang
harus diperhatikan oleh manajer risiko:
Pertama: kontrak itu mungkin hanya memindahan sebagai resiko daripada
resiko yang menurut para manajer telah dipindahkan kepada pihak luar.
Kedua: bahasa yang tertulis di dalamnya adalah bahasa “hokum” yang sangat
sukar dipahami, karena itu bisa salah mengerti.
Ketiga: surat kontrak bisa dibatalkan oleh pengadilan.

5. NEUTRALIZATION
Neutralization merupakan proses menyeimbangan kans kerugian atas kans keuntungan.
Contohnya yang paling populer dalam dunia dagang adalah “hedging” hedging ini
dilakukan dengan jalan misalnya bersamaan dengan pembuatan kontrak penjualan.

MENANGGUNG SENDIRI RESIKO (RISK RETENTION)


Metode yang paling umum penanganan resiko ialah penanggungan sendiri oleh perusahaan.
Sumber dananya diusahakan oleh perusahaan yang bersangkutan. Penanggungan sendiri ini
bisa bersifat pasif (unplanned retention) dan bisa bersifat aktif. Dikatakan padif atau tidak
terencana bila manajer resiko tidak memperhatikan tentang adanya exposute dank arena
tidak melakukan usaha apa pun untuk menanganinya. Dikatakan aktif bila manajer
mempertimbangkan metode – metode lain untuk menangani resiko dan kemudian
memutuskan secara sadar untuk memindahkan kerugian potensial itu.

10
ALASAN PERUSAHAAN MELAKUKAN RETENTION
Jika dikaji lebih lanjut, alasan perusahaan melakukan retention dapat digolongkan kedalam
salah satu kategori berikut:
1. Keharusan, Karena tidak tersedia alternative lain
2. Biaya
3. Kerugian – harapan.
4. Oppourtunity cost
5. Kualitas pertanggungan
6. Pajak

KEHARUSAN, karena tidak tersedia alternatife lain


Keharusa ( = default = ) menanggungkan sendiri resiko, disebabkan karena tidak mungkin
untuk memindahkan resiko itu.

BIAYA
Jika perusahaan memindahkan resiko kepada perusahaan asuransi,maka perusahaan ini harus
membayar premi yang dapat dibagi ke dalam dua bagian :
1. Loss allowance, yaitu perkiraan pihak asuransi tentang kerugian – harapan pihak
tertanggung.
2. Loading yang meliputi biaya profit margin, dan perkiraan pengeluaran tak terduga.
KERUGIAN HARAPAN
Jika perusahaan percaya bahwa kerugian – harapan yang dihitung lebih rendah dari perkiraan
pihak asuransi, maka perusahaan dalam jangka panjang dapat menghemat pengeluaran
sebesar selisih kedua perhitungan itu.
OPPOURTUNITY COSTS.
Oppourtunity Costs menyangkut timing pembayaran premium dibandingkan dengan
pengeluaran untuk kerugian. Contoh, andaikan premium akan sama atau kurang dari
kerugian dan pengeluaran alternatif, perusahaan itu mungkin lebih suka menanggung sendiri
resiko, jika jarak wakti antara pembayaran premi dan pembayaran kerugian dan pengeluaran
alternative itu akan memberikan keuntungan lebih besar ayas hasil investasi dana cadangan
untuk pembayaran kerugian itu.
KUALITAS DARI PADA SERVIS
Sebagian pengusaha percaya bahwa servis yang disediakan oleh penganggung (asuransi) bisa
dilaksanakan lebih baik oleh perusahaan itu atau suatu Biro jasa.

11
IKHTIASAR FAKTOR – FAKTOR YANG MENDORONG DAN MENGHAMBAT
RETENTION
Di bawah ini akan diberikan ikhtisar factor yang mendorong pemakaian relontion dan factor
– factor yang menghalanginya.
Hal – hal yang mendorong pemakaian peralatan retention
1. Jik biayanya lebih rendah dari biaya yang dibebankan pihak perusahaan asuransi.
2. Jika kerugian – harapan (expected losses) lebih rendah dari perkiraan perusahaan
asuiransi
3. Jika unit yang menghadapi resiko (evposure unit) banyak, sehingga resiko akan
menjadi lebih rendah karena perusahaan itu akan sanggup memperkirakan
probabilitas kerugian dengan akurat.
4. Tujuan manajemen resiko yang menerima variasi yang besar dalam kerugian
tahunan
5. Pembayaran expense dan kerugian membengkak selama jangka waktu yang
panjang, yang menghasilkan oppourtunity cost yang besar.
6. Peluang yang kuat bagi investasi, yang mengakibatkan oppourtubnity cost yang
besar.
7. Keuntungan layanan internal atau nonisurer servicing.

Retention dibuat kurang menarik oleh factor – factor sebagai berikut:


1. Biaya yang lebih besar daripada biaya yang dibebankan pihak asuransi
2. Kerugian – harapan (expected losses) lebih besar daripada kerugian yang
diperkirakan perusahaan asuransi.
3. Ketidakmampuan keuangan menopang maximum possible losses atau maximum
probable losses dalam short run.
4. Lebih menguntungkannya jasa perusahaan asuransi.

Cara penyediaan dana:


Penyediaan dana untuk program retention dapat dilakukan dengan salah satu dari cara – cara
berikut;
1. Tidak ada penyediaan sebelumnya
2. Membentuk dana dan cadangan
3. Asuransi – sendiri
4. Captive insurance

12
Membentuk dana dan cadangan
Dengan cara ini dana untuk metutup resiko dapat dari cadangan yang setiap tahundi kredit
dengan laba yang disisihkan untuk itu. Banyak dana yang disisihkan itu adalah sejumlah
kerugian yang diperkirakan (expected losses) per tahun.
Ada beberapa kelemahan cara ini, antara lain:
1. Perusahaan mungkin sulit untuk mendapatkan uang tunai untuk menutup resiko
2. Penafsiran expected losses itu jarang yang tepat.

Self – insurance
Ada perusahaan yang mengorganisasikan sebuah perusahaan asuransi, yang seluruh
(sebagian besar) nasabahnya adalah perusahaan itub sendiri. Asuransi seperti itu disebut
“captive insurer”. Keuntungan yang memdorong perusahaan mendirikan captive insurer
adalah captive dapat membeli perlindungan dari perusahaan reasuransi. Sedangkan self –
insurer tidak bisa memperoleh perlindungan dari reasuransi. Perlindunagan reansuransi lebih
fleksible dan tidak begitu banyak pembatasan. Oleh Karena itu perusahaan melalui captive
insurer-nya dapat membeli perlindungan untuk resiko yang luar biasa atau untuk resiko yang
tidak sanggup ditamggung oleh perusahaan asuransi biasa.

13
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Manajemen resiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola
ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia
termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi
risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang
dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari
risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua
konsekuensi risiko tertentu.

14
DAFTAR PUSTAKA

Idroes, Ferry N. 2008. Manajemen Risiko Perbankan: Pemahaman Pendekatan 3


Pilar Kesepakatan Basel II Terkait Aplikasi Regulasi dan Pelaksanaannya di
Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Kasidi. 2010. Manajemen Risiko. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sofyan, Iban. 2005. Manajemen Risiko. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Darmawi, Herman. 2006. Manajemen Resiko. Jakarta: Bumi Aksara.
Fahmi, Irham. 2010. Manajemen Risiko:Teori,Kasus, dan Solusi. Bandug: Alfabeta

15