Anda di halaman 1dari 25

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3

“ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI VIRUS


(HERPES ZOSTER DAN HERPES SIMPLEKS)”

Disusun Oleh :

Eva Kartika Putri (1811007)

Shinta Maudi Herista (1811017)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

STIKES PATRIA HUSADA BLITAR

2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah yang
berjudul“ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN INFEKSI VIRUS
(HERPES ZOSTER DAN HERPES SIMPLEKS)” bisa terselesaikan dengan
baik, adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
dari mata kuliah “Keperawatan Medikal Bedah III”.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini.
Penulis sadar makalah ini belum sempurna dan memerlukan berbagai
perbaikan,oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan
oleh penulis demi kesempurnaan penyusun makalah nanti.
Akhir kata,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca

BLITAR,26 MARET 2020

PENULIS

ii
DAFTAR ISI

COVER

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1


1.2 Rumusan masalah 2
1.3 Tujuan 3
BAB II PEMBAHASAN KONSEP DASAR PENYAKIT 4
2.1 Definisi 4
2.2 Etiologi 4
2.3 Klasifikasi 5
2.4 Patofisiologi 6
2.5 Pathway 8
2.6 Manifestasi Klinis 9
2.7 Penatalaksanaan 10
2.8 Komplikasi 12
BAB III KONSEP ASKEP 13
3.1 Pengkajian 13
3.2 Diagnosa keperawatan 16
3.3 Intervensi keperawatan 16
BAB IV PENUTUP 21
4.1 Kesimpulan 21
4.2 Saran 21
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Herpes simpleks adalah infeksi akut suatu lesi akut berupa vesikel
berkelompok di atasdaerah yang eritema, dapat satu atau beberapa kelompok
terutama pada atau dekat sambunganmukokutan.Herpes simpleks disebabkan oleh
herpes simpleks virus (HSV) tipe I atau tipe IIyang dapat berlangsung primer
maupun rekurens. Herpes simpleks disebut juga fever blister,cold sore, herpes
febrilis, herpes labialis, herpes genitalis (Handoko, 2010).

Penyakit herpes simpleks tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria


maupun wanitadengan frekuensi yang tidak berbeda (Siregar, 2005). Sekitar 50
juta penduduk di AmerikaSerikat menderita infeksi HSV pada usia 12 tahun atau
lebih (Habif, 2004). Infeksi primer olehHSV tipe I biasanya dimulai pada usia
anak-anak, sedangkan infeksi HSV tipe II biasanya terjadisebanyak 25-50% dari
populasi (Sterry, 2006) pada dekade II atau III dan berhubungan dengan
peningkatan aktivitas seksual. Infeksi HSV berlangsung dalam tiga tingkat :
infeksi primer, faselaten dan infeksi rekurens (Handoko, 2010).

Penyakit herpes simpleks tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria


maupun wanitadengan frekuensi yang tidak berbeda (Siregar, 2005). Sekitar 50
juta penduduk di AmerikaSerikat menderita infeksi HSV pada usia 12 tahun atau
ebih (Habif, 2004). Infeksi primer olehHSV tipe I biasanya dimulai pada usia
anak-anak, sedangkan infeksi HSV tipe II biasanya terjadisebanyak 25-50% dari
populasi (Sterry, 2006) pada dekade II atau III dan berhubungan dengan
peningkatan aktivitas seksual. Infeksi HSV berlangsung dalam tiga tingkat :
infeksi primer, faselaten dan infeksi rekurens (Handoko, 2010).

Herpes zoster telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Herpes zoster
disebabkan oleh virus yang sama dengan varisela, yaitu virus varisela zoster.1,2
Herpes zoster ditandai dengan adanya nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi
vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal
maupun ganglion serabut saraf sensorik dan nervus kranialis.3,4

1
Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan
angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat dengan
peningkatan usia. Diperkirakan terdapat antara 1,3-5 per 1000 orang per tahun.
Lebih dari 2/3 kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% kasus berusia
di bawah 20 tahun.

Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi varisela,


virus varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan mukosa ke
ujung saraf sensorik dan ditransportasikan secara sentripetal melalui serabut saraf
sensoris ke ganglion sensoris. Pada ganglion terjadi infeksi laten, virus tersebut
tidak lagi menular dan tidak bermultiplikasi, tetapi tetap mempunyai kemampuan
untuk berubah menjadi infeksius. Herpes zoster pada umumnya terjadi pada
dermatom sesuai dengan lokasi ruam varisela yang terpadat. Aktivasi virus
varisela zoster laten diduga karena keadaan tertentu yang berhubungan dengan
imunosupresi, dan imunitas selular merupakan faktor penting untuk pertahanan
pejamu terhadap infeksi endogen.

Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus, komplikasi yang
terbanyak adalah neuralgia paska herpetik yaitu berupa rasa nyeri yang persisten
setelah krusta terlepas. Komplikasi jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun,
tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun. Penyebaran dari
ganglion yang terkena secara langsung atau lewat aliran darah sehingga terjadi
herpes zoster generalisata. Hal ini dapat terjadi oleh karena defek imunologi
karena keganasan atau pengobatan imunosupresi.

Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu:


mengatasi inveksi virus akut, mengatasi nyeri akut ynag ditimbulkan oleh virus
herpes zoster dan mencegah timbulnya neuralgia paska herpetic.

1.2 RUMUSAN MASALAH


a. Dapat menjelaskan tentang definisi herpes zoster dan herpes simpleks
b. Dapat menjelaskan tentang etiologi herpes zoster dan herpes simpleks
c. Dapat menjelaskan tentang klasifikasi herpes zoster dan herpes simpleks

2
d. Dapat menjelaskan tentang manifestasi klinis herpes zoster dan herpes
simpleks
e. Dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan herpes zoster dan herpes
simpleks
f. Dapat menjelaskan tentang komplikasi herpes zoster dan herpes simpleks

1.3 TUJUAN
a. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang herpes zoster
dan herpes simpleks
b. Agar mahasiswa dapat melaksanakan dan memahami makalah asuhan
keperawatan tentang herpes zoster dan herpes simpleks

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes
simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya
vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada
daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer
maupun rekurens.
Herpes zoster disebut juga shingles. Di kalangan awam populer atau lebih
dikenal dengan sebutan dampa atau cacar air. Herpes zoster merupakan
infeksi virus yang akut pada bagian dermatoma (terutama dada dan leher) dan
saraf. Disebabkan oleh virus varicella zoster (virus yang juga menyebabkan
penyakit varicella atau cacar/chickenpox.

2.2 ETIOLOGI
Berdasarkan struktur antigeniknya dikenal 2 tipe virus herpes simpleks yaitu:
a. Virus Herpes Simpleks Tipe 1 (HSV 1)
Penyakit kulit/selaput lender yang ditimbulkan biasanya disebut herpes
simpleks saja, atau dengan nama lain herpes labialis,herpes febrialis.
Beiasanya penderita terinfeksi virus ini pada usia kanak-kanak melalui
udara dari sebagian kecil melalui kontak langsung seperti ciuman,sentuhan
atau memakai baju/handuk mandi bersama. Lesi umumnya dijumpai pada
tubuh bagian atas termasuk mata dengan rongga mulut,hidung dan pipi
selain itu dapat juga dijumpai didaerah genitalia,yang penularannya lewat
koitusoro genital (oral sex).
b. Virus Herpes Simpleks Tipe II (HSV II)
Penyakit ditularkan memalui hubungan seksual,tetapi dapat juga terjadi
tanpa koitus,misalnya dapat terjadi pada dokter gigi dan tenaga medic.
Lokalisasi lesi umumnya adalah bagian tubuh di bawah pusar,terutama
daerah genitalia lesi ekstra-genital dapat pula terjadi akibat hubungan
seksual.

4
c. Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella zoster . virus varicella zoster
terdiri dari kapsid berbentuk ikosahedral dengan diameter 100 nm. Kapsid
tersusun atas 162 sub unit proteinvirion yang lengkap dengan diameternya
150200 nm, dan hanya virion yang terselubung yang bersifat infeksius.
Infeksiositas virus ini dengan cepat dihancurkan oleh bahan organic,
deterjen, enzim proteolitik, panas dan suasana Ph yang tinggi. Masa
inkubasinya 1421 hari.

2.3 KLASIFIKASI
a) Herpes simpleks
Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes
simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh
adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan
eritematosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat
berlangsung baik primer maupun rekurens.
b) Herpes zoster
Herpes zoster disebut juga shingles. Di kalangan awam populer atau lebih
dikenal dengan sebutan dampa atau cacar air. Herpes zoster merupakan
infeksi virus yang akut pada bagian dermatoma (terutama dada dan leher)
dan saraf. Disebabkan oleh virus varicella zoster (virus yang juga
menyebabkan penyakit varicella atau cacar/chickenpox.
c) Herpes genitalis
Herpes genitalis adalah suatu penyakit menular seksual di daerah
kelamin,kulit dikeliling rectum atau daerah disekitarnya yang disebabkan
oleh virus herpes simpleks.
d) Herpes zoster oftalmik
Herpes zoster oftalmik merupakan infeksi vivus herpes zoster yang
mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari
cabang oftalmika saraf trigeminus (N.V) ditandai dengan erupsi herpetik
unilateral yang terjadi pada wajah atau mata.

5
2.4 PATOFISIOLOGI
Virus herpes simpleks disebarkan melalui kontak langsung antara virus
dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Virus herpes simpleks tidak
dapat hidup di luar lingkungan yang lembab dan penyebaran infeksi melalui
cara selain kontak langsung kecil kemungkinannya terjadi. Virus herpes
simpleks memiliki kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi
langsung dengan membran sel. Pada infeksi aktif primer, virus menginvasi sel
pejamu dan cepat berkembang dengan biak, menghancurkan sel pejamu dan
melepaskan lebih banyak virion untuk menginfeksi sel-sel disekitarnya. Pada
infeksi aktif primer, virus menyebar melalui saluran limfe ke kelenjar limfe
regional dan menyebabkan limfadenopati.
Tubuh melakukan respon imun seluler dan humoral yang menahan infeksi
tetapi tidak dapat mencegah kekambuhan infeksi aktif. Setelah infeksi awal
timbul fase laten. Selama masa ini virus masuk ke dalam sel-sel sensorik yang
mempersarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi disepanjang akson untuk
bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam tanpa
menimbulkan sitotoksisitas atau gejala pada manusia.
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisella zoster
(virusDNA). Setelah seseorang terkena infeksi primer dari virus varisella
zoster atau setelahseseorang terkena penyakit cacar air. Virus varisella zoster
akan menetap dalam kondisidorman pada ganglion posterior susunan saraf
tepi dan ganglion kranialis orang tersebut.Apabila sistem imun orang tersebut
rendah atau menurun misalnya karena pertambahan usiapada pasien usia
lanjut atau karena penyakit imunosupresif contohnya penyakit AIDS,penyakit
leukimia, dan penyakit limfoma maka virus varisella zoster tersebut dapat
aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke kulit sehingga menimbulkan
penyakit herpeszoster.Sebelum timbul gejala kulit terdapat, gejala predormal
baik sistemik (demam,pusing,malese), maupun gejala predormal lokal (nyeri
otot-tulang, gatal, pegal dansebagainya). Setelah itu virus varisella zoster
akan memperbanyak diri (multipikasi) danmembentuk eritema yang dalam
waktu singkat menjadi vesikel yang berkelompok dengandasar kulit
eritematosa dan edema, gejala ini akan terjadi selama 3-5 hari. Vesikel ini

6
berisicairan yang jernih, kemudian menjadi keruh (berwarna abu-abu), dapat
menjadi pustul dankrusta. Penyebaran vesikel bersifat dermatomal mengikuti
tempat persarafan yangdilaluivirus varisella zoster. Biasanya hanya satu saraf
yang terlibat, namun di beberapa kasusbisa jadi lebih dari satu saraf ikut
terlibat. Vesikel akan pecah dan berair, kemudian daerahsekitarnya akan
mengeras dan mulai sembuh, gejala ini akan terjadi 3-4 minggu.
Padasebagian kecil kasus, eritema tidak muncul tetapi ada rasa sakit.

7
2.5 PATHWAY

HSV 1, HSV 2, Varicella zoster virus

Virus masuk melalui permukaan kulit


Reaktivasi virus pada infeksi primer
dan secret genital

Herpes zoster Herpes simplex

Peradangan pada kulit


Edema pada kulit Prognosis penyakit di mulut, hidung dan
GANGGUAN grenitalia
CITRA
Vesikel yg TUBUH
Kurang informasi
berkelompok pd
dasar kulit berisi KERUSAKAN Lesi pada
cairan jernih INTEGRITAS mulut
ANSIETAS
KULIT
Vesikel keruh
Anoreksia

Pustule, krusta
RESIKO
DEFICIT
Lesi kulit NUTRISI

Sering terbangun di NYERI


malam hari AKUT

GANGGUAN
POLA TIDUR

8
2.6 MANIFESTASI KLINIS
A. Manifestasi Klinis Herpes Simpleks :
Infeksi herpes simpleks virus berlangsung dalam tiga tahap: infeksi
primer, fase laten dan infeksi rekuren. Pada infeksi primer herpes simpleks
tipe I tempat predileksinya pada daerah mulut dan hidung pada usia anak-
anak. Sedangkan infeksi primer herpes simpleks virus tipe II tempat
predileksinya daerah pinggang ke bawah terutama daerah genital.Infeksi
primer berlangsung lebih lama dan lebih berat sekitar tiga minggu dan
sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, malaise dan anoreksia.
Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel berkelompok di atas kulit
yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan menjadi
seropurulen, dapat menjadi krusta dan dapat mengalami ulserasi
(Handoko, 2010).
Pada fase laten penderita tidak ditemukan kelainan klinis, tetapi
herpes simpleks virus dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada
ganglion dorsalis (Handoko, 2010).
Pada tahap infeksi rekuren herpes simpleks virus yang semula
tidak aktif di ganglia dorsalis menjadi aktif oleh mekanisme pacu
(misalnya: demam, infeksi, hubungan seksual) lalu mencapai kulit
sehingga menimbulkan gejala klinis yang lebih ringan dan berlangsung
sekitar tujuh sampai sepuluh hari disertai gejala prodormal lokal berupa
rasa panas, gatal dan nyeri. Infeksi rekuren dapat timbul pada tempat yang
sama atau tempat lain di sekitarnya (Handoko, 2010).

B. Manifestasi Klinis Herpes Zoster :


1. Gejala prodromal sistematik (demam, pusing, malese) maupun gejala
prodomal lokal (nyeri otot tulang, gatal, pegal).
2. Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel
yang berkelompok, vesikel ini berisi cairan yang jernih kemudian
menjadi keruh (berwarna abu-abu) dapat menjadi pustule dan krusta.
(Prof. dr. Adhi Juwanda, 199:107).

9
3. Gambaran yang khas pada herpes zoster adalah erupsi yang lokalisata
dan hampir selalu unilateral
Menurut daerah penyerangnya dikenal :
a) Herpes zosrter of oftalmikus : menyerang dahi dan sekitar mata
b) Herpes zosrter servikalis : menyerang pundak dan lengan
c) Herpes zosrter torakalis : menyerang dada dan perut
d) Herpes zosrter lumbalis : menyerang bokong dan paha.
e) Herpes zosrter sakralis : menyerang sekitar anus dan getalia
f) Herpes zosrter atikum : menyerang telinga.
(Prof.dr.Adhi Juwanda, 199:107)

2.7 PENATALAKSANAAN
A. Herpes simpleks :
Karena infeksi HSV tidak dapat disembuhkan, maka terapi
ditujukan untuk mengendalikan gejala dan menurunkan pengeluaran virus.
Obat antivirus analognukleosida merupakan terapi yang dianjurkan. Obat-
obatan ini bekerja dengan menyebabkan deaktivasi atau mengantagonisasi
DNA polymerase HSV yang pada gilirannya menghentikan sintesis DNA
dan replikasi virus. Tiga obat antivirus yang dianjurkan oleh petunjuk
CDC 1998 adalak asiklovir, famsiklovir, dan valasiklovir. Obat antivirus
harus dimulai sejak awal tanda kekambuhan untuk mengurangi dan
mempersingkat gejala. Apabila obat tertunda sampai lesi kulit muncul,
maka gejala hanya memendek 1 hari. Pasien yang mengalami kekambuhan
6 kali atau lebih setahun sebaiknya ditawari terapi supresif setiap hari yang
dapat mengurangi frekuensi kekambuhan sebesar 75%. Terapi topical
dengan krim atau salep antivirus tidak terbukti efektif. Terapi supresif atau
profilaksis dianjurkan untuk mengurangi resiko infeksi perinatal dan
keharusan melakukan seksioses area pada wanita yang positif HSV.
Vaksin untuk mencegah infeksi HSV-2 sekarang sedang diteliti.

10
B. Herpes Zoster :
Episode herpes zoster sebagian besar adalah self-limited dan dapat
sembuh tanpa intervensi. Namun penyakit ini menyebabkan kesakitan
yang cukup tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi, oleh karena itu
diperlukan penanganan yang tepat. Penyakit ini cenderung memberikan
gejala yang lebih ringan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa
(Camila, 2010).
Terapi antiviral untuk herpes zoster dapat mengurangi waktu
pembentukan vesikel baru, jumlah hari yang diperlukan untuk menjadi
krusta, dan perasaan tidak nyaman atau nyeri akut. Semakin awal antiviral
diberikan, semakin efektif untuk mencegah postherpetic neuralgia.
Idealnya, terapi dimulai dalam jangka waktu 72 jam setelah onset, selama
7-10 hari. Antiviral oral berikut direkomendasikan (Elston dkk., 2010). :
1. Acyclovir 800 mg PO 5 kali sehari selama 7-10 hari
2. Famciclovir 500 mg PO 3 kali sehari selama 7 hari
3. Valacyclovir 1000 mg PO 3 kali sehari selama 7 hari
Penelitian non randomised placebo controlled triali untuk
pengobatan nyeri akut herpes zoster menunjukan adanya pengaruh
signifikan pemberian kombinasi antiviral dan analgesik dalam jangka
waktu 2-3 minggu onset untuk mencegah komplikasi postherpetic
neuralgia. Pengobatan primer untuk nyeri akut herpes zoster adalah (Elston
dkk., 2010). :
1. Neuroaktif agen (contoh : antidepresan tricyclic [TCAs] Amytriptiline)
2. NSAIDs
3. Opioid Analgesic
4. Antikonvulsan
Diantara analgesik tersebut, antikonvulsan memiliki efikasi yang
terendah sedangkan Amytriptilin memiliki efikasi yang tertinggi (Elston
dkk., 2010).

11
2.7 KOMPLIKASI
1. Neuralgia paska herpetic
Neuralgia paska herpetik adalah rasa nyeri yang timbul pada daerah bekas
penyembuhan. Neuralgia ini dapat berlangsung selama berbulan-bulan
sampai beberapa tahun. Keadaan ini cenderung timbul pada umur diatas 40
tahun, persentasenya 10 - 15 % dengan gradasi nyeri yang bervariasi.
Semakin tua umur penderita maka semakin tinggi persentasenya.
2. Infeksi sekunder
Pada penderita tanpa disertai defisiensi imunitas biasanya tanpa
komplikasi. Sebaliknya pada yang disertai defisiensi imunitas, infeksi
H.I.V., keganasan, atau berusia lanjut dapat disertai komplikasi. Vesikel
sering manjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.
3. Kelainan pada mata
Pada herpes zoster oftatmikus, kelainan yang muncul dapat berupa: ptosis
paralitik, keratitis, skleritis, uveitis, korioratinitis dan neuritis optik.
4. Sindrom Ramsay Hunt
Sindrom Ramsay Hunt terjadi karena gangguan pada nervus fasialis dan
otikus, sehingga memberikan gejala paralisis otot muka (paralisis Bell),
kelainan kulit yang sesuai dengan tingkat persarafan, tinitus, vertigo,
gangguan pendengaran, nistagmus, nausea, dan gangguan pengecapan.
5. Paralisis motoric
Paralisis motorik dapat terjadi pada 1-5% kasus, yang terjadi akibat
perjalanan virus secara kontinuitatum dari ganglion sensorik ke sistem
saraf yang berdekatan. Paralisis ini biasanya muncul dalam 2 minggu sejak
munculnya lesi. Berbagai paralisis dapat terjadi seperti: di wajah,
diafragma, batang tubuh, ekstremitas, vesika urinaria dan anus. Umumnya
akan sembuh spontan.

12
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN
1. Biodata
b. Identitas Pasien
Di dalam identitas hal-hal yang perlu di kaji antara lain nama pasien,
alamat pasien, umur pasien biasnya kejadian ini mencakup semua usia
antara anak-anak sampai dewasa, tanggal masuk ruma sakit penting
untuk di kaji untuk melihat perkembangan dari pengobatan,
penanggung jawab pasien agar pengobatan dapat di lakukan dengan
persetujuan dari pihak pasien dan petugas kesehatan.
2. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ke tempat
pelayanan kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul dan gatal-
gatal pada daerah yang terkena pada fase-fase awal baik pada
herpes zoster maupun simpleks.
2) Riwayat penyakit sekarang
Penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada area kulit
yang mengalami peradangan berat dan vesikulasi yang hebat, selain
itu juga terdapat lesi/vesikel perkelompok dan penderita juga
mengalami demam.
3) Riwayat penyakit keluarga
Tanyakan kepada penderita ada atau tidak anggota keluarga atau
teman dekat yang terinfeksi virus ini.
4) Riwayat penyakit dahulu
diderita kembali oleh pasien yang pernah mengalami penyakit
herpes simplek atau memiliki riwayat penyakit seperti ini

13
5) Riwayat psikososial.
Kaji respon pasien terhadap penyakit yang diderita serta peran
dalam keluarga dan masyarakat, respon dalam keluarga maupun
masyarakat.
3. Pola Kehidupan
a. Aktivitas dan Istirahat
Pasien mengeluh merasa cemas, tidak bisa tidur karena nyeri, dan gatal.
c. Pola Nutrisi dan Metabolik
Pada Herpes Zoster oftalmik , pasien mengalami penurunanan nafsu
makan , karena mengeluh nyeri pada daerah wajah dan pipi sehingga
pasien tidak dapat mengunyah makanan dengan baik karena disebabkan
oleh rasa nyeri
d. Pola Aktifitas dan Latihan
Dengan adanya nyeri dan gatal yang dirasakan, terjadi penurunan pola
saat aktifitas berlebih ,sehingga pasien akan membatasi pergerakan
aktivitas.
e. Pola Hubungan dan peran
Pasien akan sedikit mengalami penurunan psikologis, isolasi karena
adanya gangguan citra tubuh.
4. Pengkajian fisik
a. Keadaan Umum
1) Tingkat Kesadaran
2) TTV
b. Head To Toe
1) Kepala
wajah : ada lesi (ukuran > 1 , bentuk :benjolan berisi air ,
penyebaran : merata dengan kulit )
2) Rambut
Warna rambut hitam, tidak ada bau pada rambut, keadaan rambut
tertata rapi.
3) Mata (Penglihatan)
Adanya Nyeri tekan, ada penurunan penglihatan.

14
4) Hidung (Penciuman)
septum nasi tepat ditengah, tidak terdapat secret, tidak terdapat lesi,
dan tidak terdapat hiposmia.
5) Telinga (Pendengaran)
a) Inspeksi
 Daun telinga : tidak terdapat lesi, kista epidemoid, dan keloid
 Lubang telinga : tidak terdapat obstruksi akibat adanya benda
asing.
b) Palpasi
Tidak terdapat edema, tidak terdapat nyeri tekan pada otitis
media dan mastoidius.
6) Mulut dan gigi
Mukosa bibir lembab, tidak pecah-pecah, warna gusi merah muda,
tidak terdapat perdarahan gusi, dan gigi bersih.
7) Abdomen
a) Inspeksi
 Bentuk : normal simetris
 Benjolan : tidak terdapat lesi
b) Palpasi
 Tidak terdapat nyeri tekan
 Tidak terdapat massa / benjolan
 Tidak terdapat tanda tanda asites
 Tidak terdapat pembesaran hepar
8) Integument
 Ditemukan adanya vesikel-vesikel berkelompok yang nyeri
 edema di sekitar lesi,dan dapat pula timbul ulkus pada
infeksi sekunder
 akral hangat
 turgor kulit normal/ kembali <1 detik
 terdapat lesi pada permukaan kulit wajah

15
3.2 Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis (inflamasi)
2. Gangguan integritas kulit/jaringan b.d neuropati perifer
3. Gangguan citra tubuh b.d perubahan struktur/bentuk tubuh
4. Gangguan pola tidur b.d kurang control tidur
5. Ansietas b.d kurang terpapar informasi
6. Resiko deficit nutrisi b.d factor psikologis

3.3 Intervensi

D LUARAN INTERVENSI
X
1. Setelah dilakukan tindakan Manajeme Nyeri
keperawatan selama 2x24 jam Observasi
tingkat nyeri menurun dengan  Identifikasi lokasi,
kriteria hasil: karakterisitik, durasi,
Keluhan nyeri menurun frekuensi, kualitas, intensitas
Meringis menurun nyeri
 Identifikasi skala nyeri
 Identifikasi factor yang
memperberat dan
memperingan nyeri
Terapeutik
 Berikan teknik non
farmakologis untuk
meredakan nyeri
 Fasilitasi istirahat tidur
Edukasi
 Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
 Jelaskan strategi meredakan
nyeri
 Jelaskan memonitor nyeri
secara mandiri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu

16
2. Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam Perawatan Integritas Kulit
dengan tingkatan integritas kulit dan Observasi
jaringan meningkat.  Identifikasi penyebab
Kriteria Hasil : gangguan integritas kulit
1. Kerusakan jaringan (4) (mis,perubahan
2. Kerusakan lapisan kulit (4) sirkulasi,perubahan status
3. Nyeri (4) nutrisi,penurunan
4. Kemerahan (4) kelembaban,suhu lingkungan
ekstrem,penurunan
mobilitas)
Terapeutik
 Ubah posisi tiap 2 jam jika
tirah baring
 Lakukan pemijatan pada area
penonjolan tulang,jika perlu
 Bersihkan perineal dengan
air hangat,terutama selama
periode diare
 Gunakan produk berbahan
petroleum atau minyak pada
kulit kering
Edukasi
 Anjurkan menggunakan
pelembab
 Anjurkan minum air yang
cukup
 Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
 Anjurkan menghindari
terpapar suhu eksterm
3. Setelah dilakukan tindakan Promosi citra tubuh
keperawatan selama 2x24 jam, maka Observasi
citra tubuh meningkat dengan  Identifikasi harapan citra
kriteria hasil : tubuh berdasarkan tahap
1. Verbalisasi perasaan negative perkembangan
tentang perubahan tubuh cukup  Identifikasi perubahan citra
menurun (4) tubuh yang mengakibatkan
2. Verbalisasi pada isolasi social
penolakan/reaksi orang lain  Monitor frekuensi pernyataan
cukup menurun (4) kritik terhadap diri sendiri
3. Hubungan social cukup Terapeutik
membaik (4)  Diskusikan perubahan tubuh

17
dan funngsinya
 Diskusikan perbedaan
penampilan fisik terhadap
harga diri
 Diskusikan cara
mengembangkan harapan
citra tubuh secara realistis
Edukasi
 Jelaskan kepada keluarga
tentang perawatan perubahan
citra tubuh
 Anjurkan mengungkapkan
gambaran diri terhadap citra
tubuh
 Latih pengungkapan
kemampuan diri kepada
orang lain maupun kelompok

4. Setelah dilakukan intervensi Dukungan tidur


keperawatan 2x24 jam maka pola Observasi
tidur membaik dengan kriteria hasil :  Idemtifikasi pola aktivitas
1. Keluhan sulit tidur cukup dan tidur
menurun (4)  Identifikasi factor
2. Keluhan istitrahat tidak cukup pengganggu tidur
cukup menurun (4) Terapeutik
 Modifikasi lingkungan
 Fasilitasi menghilangkan
stress sebelum tidur
 Terapkan jadwal tidur rutin
Edukasi
 Jelaskan pentingnya tidur
cukup selama sakit
 Anjurkan menepati kebiasaan
waktu tidur
 Anjarkan factor-faktor yang
berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur
5. Setelah dilakukan intervensi Reduksi ansietas
keperawatan 2x24 jam maka timgkat Observasi
ansietas menurun dengan kriteria  Identifikasi saat tingkat
hasil : ansietas berubah
1. Verbalisasi kebingungan cukup  Identifikasi kemampuan

18
menurun (4) mengambil keputusan
2. Verbalisasi khawatir akibat  Monitor tanda-tanda ansietas
kondisi yang dihadapi cukup Terapeutik
menurun (4)  Ciptakan suasana terapeutik
3. Perilaku gelisah cukup menurun untuk menumbuhkan
(4) kepercayaan
 Pahami situasi yang
membuat ansietas
 Dengarkan dengan penuh
perhatian
 Diskusikan perencanaan
realistis tentang peristiwa
yang akan datang
Edukasi
 Anjurkan mengungkapkan
perasaan dan persepsi
 Latih kegiatan pengalih
untuk mengurangi
ketegangan
 Latih penggunaan
mekanisme pertahanan diri
yang tepat
6. Setelah dilakukan intervensi Manajemen gangguan makan
keperawatan 2x24 jam maka status Observasi
nutrisi membaik dengan kriteria  Monitor asupan dan
hasil : keluarnya makanan dan
1. Nafsu makan cukup membaik (4) cairan serta kebutuhan kalori
2. Frekuensi makan cukup membaik Terapeutik
(4)  Lakukan kontrak perilaku
 Berikan penguatan positif
terhadap keberhasilan target
dan perubahan perilaku
 Berikan konsekuensi jika
tidak mencapai target sesuai
kontrak
Edukasi
 Ajarkan pengaturan diet yang
tepat
 Ajarkan ketrampilan koping
untuk penyelesaian masalah
perilaku makan
Kolaborasi

19
 Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang target berat badan,
kebutuhan kalori dan pilihan
makanan

20
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes
simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai oleh adanya
vesikel yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah
dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun
rekurens.
Herpes genitalis adalah suatu penyakit menular seksual di daerah kelamin, kulit di
sekeliling rektum atau daerah disekitarnya yang disebabkan oleh virus herpes
simpleks.
Herpes zoster disebut juga shingles. Di kalangan awam populer atau lebih
dikenal dengan sebutan dampa atau cacar air. Herpes zoster merupakan infeksi
virus yang akut pada bagian dermatoma (terutama dada dan leher) dan saraf.
Disebabkan oleh virus varicella zoster (virus yang juga menyebabkan penyakit
varicella atau cacar/chickenpox.

4.2 SARAN
Lebih baik mencegah daripada mengobati. Oleh karena itu jagalah
kesehatan dengan cara pola hidup sehat, dan segeralah periksa jika ada tanda-
tanda yang mengarah pada penyakit herpes.

21
DAFTAR PUSTAKA

Daili Syaiful Fahmi, B.Makes Wresti Indriatmi, Zubier Farida, Edisi Keempat. 
Infeksi Menular Seksual. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Prof. Dr. dr. Adhi Djuanda, dr. Mochtar Hamzah, Prof. Dr. dr. Siti Aisyah
Edisi Kelima. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Univ. Indonesia.
Brenda B. Spriggs, 2012 (http:///C:/Users/Public/Documents/Chapter%20II.pdf)
diakses pada hari Selasa, 18 Oktober 2016
Jakagendon-syahrul, 2012 https://id.wikipedia.org/wiki/Herpes_simpleks. Diakses
pada hari Rabu, 19 Oktober 2016
Dwinoviakrismawanti, 2010 http://www.alodokter.com/herpes-genital, Diakses
pada hari Kamis, 20 Oktober 2016

22