Anda di halaman 1dari 5

------------------------------------------------------------------

(Analsia 1 Tahun Kinerja SBY KIB Jilid II)


------------------------------------------------------------------
Surya Agung

PENDAHULUAN

Bagi saya bangsa besar seperti Indonesia juga bisa mengalami perubahan, seperti
sewaktu melahirkan reformasi, namun pernah juga terpuruk akibat krisis ekonomi. Itulah
Indonesia, mengalami apa itu bangkit dan apa itu terpuruk. Meski Indonesia tetap bias
bangkit, hanya sekarang setelah bangkit, Indonesia terasa lebih banyak diam. Padahal diam
belum tentu banyak menghasilkan hal positif.
Sampai sekarang tak banyak hasil yang bias dirasakan. Kebangkitan belum diikuti
dengan pembangunan dan gerak-gerak penting yang strategis bagi problema hidup orang
banyak. Kebanyakan masih menari ria, tapi tak beranjak dari tempat. Tak segera menciptakan
Indonesia yang di cita-citakan oleh para pendiri bangsa.
Sekarang 20 Oktober 2010, setahun sudah usia pemerintahan SBY-Boediono serta
KIB Jilid II berjalan. Berbagai catatan diberikan sebagai evaluasi dari kinerja SBY pada
periode kedua pemerintahannya. Selama kurun waktu setahun ini pemerintahan tidak banyak
mencatat kemajuan.

ILMU PEMERINTAHAN
ANALISA TERHADAP KINERJA KIB II

Kabinet baru bentukan Presiden SBY mengundang reaksi Pro dan Kontra. Kalau kita
melihat kedalam mengenai kinerja kabinet bentukan SBY ini, dapat kita kritisi serta hal yang
muncul kepermukaan terbilang miring. Seperti figur-figur yang ditempatkan dalam kabinet
Indonesia bersatu tidak sesuai dengan semangat “the right man and woman on the right
place”.
Kabinet hari ini sangat berbahaya dan riskan gagal karena konflik kepentingan di
kabinet, benturan kepentingan partai akan semakin besar. Idealnya di Negara kita yang masih
dihantui besarnya pengangguran dan kemiskinan, kabinet yang disusun seharusnya lebih
banyak orang-orang yang professional dalam bidang dan punya kapasitas memimpin dalam
kementrian.
Pemerintahan pada periode kedua ini belum maksimal dan masih sangat harus bekerja
keras, diantaranya seperti peningkatan investasi dalam bidang infrastruktur, ketahanan
pangan, dan energi. Masalahnya dalam setahun terakhir ini belum terlihat jelas arah kebijakan
pemerintah. Saya sedikit memaparkan dalam beberapa kondisi selama proses perjalanan SBY-
Boediono beserta KIB Jilid II sebagai berikut :

1. Kondisi Politik
Legitimasi sebesar 62%, tidak menjadikan Presiden SBY mampu membangun kondisi
politik yang stabil dan terkendali. Satu semester pemerintahan di tandai dengan guncangan-
guncangan politik yang menggangu fokus pemerintahan dan menguras energi rakyat. Kasus
kriminalisasi komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan kasus dana talangan
sebesar 6,7 trilyun rupiah kepada Bank Century telah menjadi batu sandungan yang menguji
kepempinan SBY sebagai kepala pemerintah. Kinerja kabinet yang landai dan off progress
hanya cenderung berasik sendiri, tidak memberikan terobosan yang membanggakan dan
berdampak, utamanya kemajuan yang bisa diukur berdasarkan amanah konstitusi dan sumpah
jabatan.
Di saat kinerja kabinet belum menunjukkan hasil, rakyat Indonesia disajikan oleh
berita pembelian mobil mewah menteri dan pejabat tinggi Negara senilai 1,6 milyar rupiah
perbuahnya, proyek peninggian pagar istana senilai 22 milyar rupiah, yang membuat
kepercayaan rakyat terhadap pemerintah terus menurun. Karena keadilan yang diharapkan
rakyat semakin jauh dari yang di perkirakan serta di harapkan.

ILMU PEMERINTAHAN
2. Kondisi Ekonomi
Tim ekonomi pemerintah KIB Jilid II menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5%.
Sedangkan perkiraan BI pertumbuhan ekonomi 2010 adalah 5%. Meskipun indikator ekonomi
2009 tidak memperlihatkan optimisme untuk mencapai angka tersebut. Namun terlepas dari
angka-angka di atas harga pangan pokok hal yang paling diarasakan oleh rakyat kecil, melihat
pasar tradisional diberbagai daerah yang terus menerus mengalami kenaikan, kebijakan
pangan tidak propetani dalam hal ketersediaan jaminan kesejahteraan sehingga semakin
membuat petani miskin.
Kemudian dalam sektor, pemerintah lebih memberikan kesan menggantung dan
ketidakpastian. Misalnya, TDL katanya mau naik. Tapi ada yang bilang tidak. Ini memberikan
ketidakpastian bagi dunia usaha. Padahal, dunia usaha perlu kejelasan. Demikian pula
mengenai kepastian harga dan subsidi BBM. Perlu kepastian apakah subsidi akan dicabut atau
tidak. Harusnya pemerintah tegas. Kalau segalanya belum pasti, perusahaan tidak bisa
berhitung mengenai rencananya tahun depan
Angka pengangguran yang meskipun secara statistik menurun, tapi tenaga kerja belum
memiliki pilihan-pilhan yang cukup untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kemiskinan terus-
menerus menjadi kronik ekonomi yang membelit 35 % rakyat kita, dengan kata lain
Pemerintah SBY KIB Jilid II ini belum juga memenuhi janji kemerdekaannya memajukan
kesejahteraan rakyat.

3. Kondisi Hukum
Hukum hari ini menjadi polemik yang tiada berujung, dan bukan lagi menjadi
panglima. Begitu banyak kasus hukum yang membuat dahi rakyat berkerut atau bahkan
membuat kita ikut mengelus dada. Kasus besar seperti kasus kriminalisasi pimpinan KPK,
Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah, kasus Prita Mulya Sari yang akhirnya
membangkitkan solidaritas masyarakat luas dengan pengumpulan koin diseluruh Indonesia
tanpa ada yang mengorganisirnya, kasus Nenek Minah, hingga posisi hukum kasus Century
yang masih saja buram sampai saat ini dan sangat tidak jelas dimana akhirnya. Ditambah lagi
berita sel penjara yang semewah hotel bintang lima milik Artalyta Suryani, tidak hanya itu,
kasus rekening gendut pejabat Polri, korupsi di eksekutif misalnya dengan terungkapnya
kasus Gayus, ini pun ikut memberikan corengan terhadap pemerintahan.

ILMU PEMERINTAHAN
Hukum masih jauh dari rasa keadilan masyarakat, hukum menjadi hal yang tak pasti
bagi rakyat kecil. Hukum di Indonesia tidak melahirkan perasaan aman, tetapi hari ini hukum
di Indonesia melahirkan ironi-ironi yang menyakitkan. Hukum bukan lagi menjadikan
manusia sebagai makhluk yang beradab akan tetapi hukum di Indonesia merangsang untuk
kita untuk menonjolkan watak kepurbaan dari manusia Indonesia.

4. Kondisi Kesehatan dan Sosial Budaya


Masalah kesehatan di Indonesia belum menjadi prioritas pembangunan. Di tandai
dengan belanja kesehatan juga masih dibawah 3% dari APBN. Sebagian besar penduduk, juga
tidak mendapat perlindungan, kesehatan maupun jaminan sosial baik ketika sehat agar tidak
sakit maupun ketika sakit agar tidak tambah parah.. Kondisi ini terjadi karena pemerintah
belum melihat kesehatan sebagai investasi sumber daya manusia (SDM) dari segi
produktivitas maupun kualitasnya.
Sistem jaminan sosial kita belum juga dirancang dengan baik, program BLT yang
telah dicanangkan tidak memberikan dampak penting guna peningkatan kesejahteraan secara
berkelanjutan. Masalah budaya masih juga termajinalkan, belum ada blue print yang terukur
dan terencana dari pemerintah untuk memajukan budaya bangsa sebagai simbol kebanggaan
kita sebagai sebuah bangsa yang memiliki peradaban tinggi.

5. Kondisi Pendidikan
Terjadi komersialisasi dan liberalisasi pendidikan. Kenyataannya sistem pendidikan
nasional telah melahirkan kesenjangan akses pendidikan yang semakin lebar serta
meninggalkan karakter bangsa, terlihat dari biaya pendidikan yang semakin mahal,
pendidikan yang semakin lebar antara sekolah yang berstandar pelayanan minimal, sekolah
standar nasional, dan sekolah bertaraf internasional.
Padahal, tujuan pendidikan nasional yang dicita-citakan para pendiri bangsa adalah
masyarakat yang cerdas, pemerataan dan keadilan pendidikan, serta berkarakter
keindonesiaan terlebih dahulu.

Semua hal-hal yang saya jelaskan diatas secara hemat itu bukanlah keluhan yang baru
muncul kemarin, tapi sejak bertahun-tahun lalu. Namun, hingga kini belum ada langkah
konkret yang bisa memberi angin segar akan terselesaikannya masalah-masalah itu.

ILMU PEMERINTAHAN
KESIMPULAN DAN SARAN

o Kesimpulan
Kabinet SBY-Boediono belum memaksimalkan kinerja. Dalam kurun satu tahun
berdinas kinerja kabinet jilid II ini masih terpuruk di berbagai sendi. Pemerintahan ini masih
belum maksimal mengerjakan tugas-tugas nasional nya, belum maksimalnya kinerja menteri,
ini terlihat di bidang ekonomi, keamanan, hukum, dan kesejahteraan rakyat, yang sebenarnya
ini adalah pekerjaan rumah pemerintah.
Dalam hal ini pemerintah sudah seharusnya memperbaiki kinerjanya, tidak hanya itu,
pemerintah jugas harus bias berlapang dada atas keritik pedas terhadap menteri yang
melempem.

o Saran
Idealnya melihat kondisi bangsa kita hari ini dan kerasnya persaingan antar Negara
baik di Asia maupun Internasional, kementrian di kabinet seharusnya dipimpin oleh orang-
orang professional yang punya kapasitas dan kemampuan menyelesaikan permasalahan
bangsa di tiap-tiap kementrian. Kalaupun beberapa pos kementrian diisi oleh tokoh partai,
seharusnya tokoh-tokoh tersebut memiliki kapasitas, bukan hanya sebatas pertimbangan
kekuatan basis politik saja.
Disatu sisi seharusnya Presiden SBY mempertimbangkan catatan sejarah tiap para
menteri, kapasitas tiap menteri, kemampuan para menteri memahami permasalahan di tiap
kementerian, permasalahan rakyat kecil yang berkaitan dengan kementerian yang akan
dipimpin, catatan sejarah kegiatan atau pekerjaan yang pernah dilakukan oleh para menteri di
masa lalu. Dan yang paling penting adalah pertimbangan integritas, kapasitas, kemampuan,
pemahaman dan profesionalitas harus menjadi skala prioritas dibandingkan pertimbangan
dukungan serta kekuatan basis politik saja.
Tetapi, apapun Pro dan Kontra nya kita (masyarakat) terhadap mereka, mereka telah
ditetapkan, dilantik dan juga sedang menjalankan kinerja jabatannya dari pejabat yang lama.
Kita sebagai penonton hanya berharap agar tontonan yang kita tonton adalah sebuah tontonan
yang menarik, penuh dengan cerita yang berisi sekaligus kontektual. Sehingga kesan bahwa
ini hanya sebagai sebuah politik balas jasa dapat kita hindari. Semoga sukses dan selamat
bekerja KIB Jilid II.

ILMU PEMERINTAHAN