Anda di halaman 1dari 15

Nama : Rinna Amelia Polihito

Prodi : Pendidikan Biologi


Kelas : A
Tugas : Fisiologi Tumbuhan
‘’HORMON PADA TUMBUHAN”

1. Deskripsikan karakteristik dari 6 hormon pada tumbuhan :


1. Auksin
Auksin didefinisikan sebagai zat tumbuh yang rnendorong elongasi jaringan koleoptil
pada percobaan-percobaan bio-assay dengan Avena a tau tanarnan lainnya. Indole
Asetic Acid (IAA) adalah auksin endogen atau auksin yang terdapat pada tanarnan.
Auksin rnerupakan golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting dalarn
budidayajaringan tanarnan. Golongan auksin yang lebih sering digunakan adalah 2,4-
D, IAA, NAA, IBA. Auksin yang paling efektif untuk rnenginduksi pernbelahan sel
dan pernbentukan kalus adalah 2,4-D dengan konsentrasi antara 0,2-2 rng/1 untuk
sebagianjaringan tanarnan. NAA dan 2,4 D lebih stabil dibandingkan dengan IAA,
yaitu tidak rnudah terurai oleh enzirn-enzirn yang dikeluarkan oleh sel atau karena
pernanasan pada saat proses sterilisasi. 1M juga kurang menguntungkan karena cepat
rusak oleh cahaya dan oksidasi enzimatik.
2. Giberelin
Zat pengatur tumbuh (ZPT) lain yang sering ditambahkan kedalam medium adalah
Giberellin, ZPT yang dalam bentuk larutan pada temperatur tinggi mudah kehilangan
sifatnya sebagai ZPT. Giberellin (asam Giberellate) dalam dosis tinggi menyebabkan
gigantisme, sesuai dari penemuan awal yang menunjukkan bahwa ZPT ini berefek
meningkatkan pertumbuhan sampai beberapa kali. Giberellin berpengaruh terhadap
pembesaran dan pembelahan sel, pengaruh Giberellin ini mirip dengan auksin yaitu
antara lain pada pembentukan akar. Giberellin dapat menyebabkan terjadinya
peningkatan jumlah auksin endogen. Giberelin yang umumnya tersedia di pasaran
adalah G~ dan giberelin ini yang banyak dipergunakan pada penelitian- penelitian
fisiologi tumbuhan. Di dalam diskusi giberelin a tau GA dipakai untuk giberelin yang
telah diketahui struktur kimianya (GAP G~, G~ dan seterusnya) sedangkan zat - zat
yang aktivitas biologisnya seperti GA tetapi bel urn diketahui struktur kimianya
disebut gibberellin like compounds (GAL)
3. Sitokinin
Sitokinin berperan penting dalam pengaturan pembelahan sel dan
morfogenesis. Sitokinin yang pertama sekali ditemukan adalah kinetin. Kinetin
bersama-sama dengan auksin memberikan pengaruh interaksi terhadap diferensiasi
jaringan. Pada pemberian auksin dengan konsentrasi relatif tinggi, diferensiasi kalus
cenderung ke arah pembentukan primordia akar, sedangkan pada pemberian kinetin
yang relatif tinggi, diferensiasi kalus cenderung ke arah pembentukan primordia
batang atau tunas.
Zat-zat dengan aktivitas sitokinin (diuji dengan metode kalus) dapat diisolasi
dari berbagaijenis tumbuhan. Letham mengisolasi dan mengidentifikasikan sitokinin
yang terdapat dalam biji jagung muda yang diberi nama zeatin. Zeatin didapat juga
dari hasil hidrolisis RNA dari kacang bun cis, bayam Amerika, gandum, umbi
kentang dan lain-lain tanaman. Salah satu fraksi RNA yaitu tRNA sangat kaya akan
zeatin. Zeatin terdapat dalam bentuk trans maupun cis, tetapi bentuk trans lebih
umum. Juga bentuk nukleosida dan nukleotida dari zeatin banyak terdapat dalam
tanaman. Hal ini tidak meng herankan sebab cincin sitokinin yaitu adenine juga
terdapat dalam bentuk nukleosida dan nukleotida.
Sitokinin lainnya yang banyak terdapat dalam tanaman adalah isopentanil
adenine beserta turunannya isopentenil adenosine. Kedua bentuk isopentenyl ini
merupakan bagian dari pada tRNA. Pada zeatin terdapat gugusan hidroksil· (OH)
pada rantai samping isopentenil sedangkan pada isopentenil adenine tidak terdapat
gugusan hidroksil pada rantai samping isopentenil. Semua sitokinin endogen
memiliki isopentenil adenine sebagai struktur dasaz: Modifikasi hanya terdapat pada
rantai samping isopentenil atau penambahan gugus pada posisi 9 dari cincin adenine.
Golongan Sitokinin yang lebih sering digunakan adalah Kinetin dan Benzil amino
purin dibanding dengan Zeatin dan 2 iP.
4. Etilen
Etilen adalah suatu gas dari pembakaran gas yang tidak sempurna dari senyawa-
senyawa yang kaya akan ikatan karbon seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam.
Merupakan komponen dari asap- asap yang dikeluarkan oleh kendaraankendaraan
bermotor dan industri-industri yang mempergunakan bahan bakar gas. Segera setelah
diperkenalkan "illuminating gas" untuk penerangan rumah dan jalan-jalan raya, maka
terlihat gejala-gejala kerusakan etilen pada tumbuhan-tumbuhan di sekitar tempat-
tempat penerangan tersebut. Gejala-gejala itu antara lain, keguguran daun, keriting
daun, hilangnya warna tajuk bunga, pembengkakan batang, penghambatan elongasi
dan penghambatan pertumbuhan akar. Setelah ditelusuri ternyata penyebab gejala-
gejala tersebut adalah etilen. Selanjutnyajuga diketahui bahwa tanaman sendiri
memproduksi etilen melalui proses metabolisme selama pertumbuhan dan
perkembangantanaman tersebut.
5. Asam Absitat
Pada tahun 1955 Osbommendapatkan bahwa daun yang gugurmengandung senyawa-
senyawa organikyang mempercepat pengguguran daun yang sifatsifatnya berbeda
dari IAA dan fitohormon lainya (sitokinin dan giberelin). Carns, Addicott dan
kawan-kawan mengisolasi beberapa senyawa organic yang mempercepat absisi dari
tanaman kapas, yang mereka beri nama absisin I dan II. Bila dormin diberikan pada
daun pohon-pohonan yang sedang tumbuh aktif (flush) maka akan terjadi dormansi
mata tunas. Kelompok peneliti lain mengisolasi suatu zat dari tanaman lupin
(Lupinus luteus) yang dapat menggugurkan buah lupin. Akhimya diketahui bahwa
dorman dan zat yang mempercepat keguguran buah pada lupin adalah identik dengan
absisik II. Pada tahun 1967 diputuskan bahwa absisik 11/dormin untuk selanjutnya
diberi nama asam absisik (ABA).
6. Brasonosteroid
Brassinolide atau secara ilmiah disebut sebagai brassinosteroid merupakan salah satu
dari sekian banyak jenis hormon yang ditemukan di dalam tumbuhan. Sebetulnya
hormone yang ditemukan di tumbuhan ini, memiliki struktur kimia yang mirip
dengan steroid yang sudah terlebih dahulu ditemukan pada kingdom animalia
(hewan). Baik yang terdapat di tumbuhan maupun di hewan, merupakan hormon yang
larut dalam lemak, dan mempunyai struktur basa tetrasiklo. Struktur basa memiliki
empat cincin yang saling terpaut dan terdiri dari tiga cincin sikloheksan dan satu
cincin siklopentan. Brassinolide tersintesis dari asetil CoA melalui jalur asam
mevalonik di dalam metabolisme sel tumbuhan. Perbedaan pre-kursor di jalur asam
mevalonik, dalam biosintesis steroid pada tumbuhan dan hewan menghasilkan produk
steroid yang berbeda, pada tumbuhan menghasilkan brassinolide dan pada hewan
menghasilkan kolesterol, dan yang lain lagi pada cendawan menghasilkan ergosterol
(Bishop & Yokota, 2001)
2. Uraikan Peran dari masing-masing hormone ini terhadap pertumbuhan dan
perkembangan tanaman :
1. Auksin
Auksin lain berperan pada berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Beberapa aspek diuraikan secara singkat sebagai berikut:
a. Pembesaran sel
Studi mengenai pertumbuhan koleoptil menunjukkan bahwa IM danauksin- auksin
yang lain mendorong pembesaran sel terse but. Perpanjangan koleoptil atau batang
merupakan hasil dari pembesaran sel tersebut. Penyebaran yang tidak sama dari auksin
ini menyebabkan pembesaran sel yang tidak merata dan terjadi pembengkokan dari
koleoptil atau organ tanaman (geotropisma dan fototropisma)
b. Penghambatan mata tunas samping
Pertumbuhan dari mata tunas samping dihambat oleh IAA yang diproduksi pada
meristem apical yang diangkut secara basepetal. Konsentrasi auksin yang tinggi
menghambat pertumbuhan mata tunas terse but. Jika sumber auksin ini dihilangkan
denganjalan memotong meristem apical itu maka tunas samping ini akan tumbuh
menjadi tunas.
c. Absisi (pengguguran daun)
Pengguguran daun terjadi sebagai akibat dari proses absisi (proses-proses fisik dan
biokimia) yang terjadi di daerah absisi. Daerah absisi adalah kumpulan sel yang
terdapat pada pangkal tangkai daun. Proses absisi ada hubungannya dengan IM pada
sel-sel di daerah absisi.
d. Aktivitas daripada kambium
Pertumbuhan sekunder termasuk pembelahan sel- sel di daerah cambium dan
pembentukan jaringan xylem dan floem dipengaruhi oleh IM. Pembelahan sel-sel di
daerah kambium dirangsang oleh IM.
e. Pertumbuhan akar
Selang konsentrasi auksin untuk pembesaran sel-sel pada batang, menjadipenghambat
pada pembesaran sel-sel akar. Selang konsentrasi yang mendorong pembesaran sel-sel
pada akar adalah sangat rendah.
2. Giberelin
Kebanyakan tanaman berespons terhadap pemberian GA dengan pertambahan
panjang batang. Pengaruh GA terutama di dalam perpanjangan ruas tanaman yang
disebabkan oleh bertambah besar dan jumlah sel – sel pada ruas - ruas terse but.
Brian dan Hemming melihat bahwa GA mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap
tanaman yang normal dan tanaman yang kate. Bila tanaman kapri dari kultivaryang
kate disemprot dengan GA maka teijadi perpanjangan batang dan tinggi tanaman
tersebut serupa dengan tanaman yang normal. Sebaliknya jika tanaman dari kultivar
yang normal diberi GA, maka tanaman tersebut tidak berespons. Ada kurang lebih 20
kultivar jagung kate (sifat genetik) diberi perlak.uan GA. Sebagian dari
kultivarkutivar tersebut berespons terhadap pemberian GA dan sebagian tidak.
Mungkin jagung-jagung kate yang berespons, kekurangan GA endogen dan yang
tidak berespons mempunyai proses biokimia yang lain untuk sifat kate yang tidak ada
kaitannya dengan kandungan GA endogen.
Selain perpanjangan batang, giberelinjuga memperbesar luas daun dari
berbagai jenis tanaman, jika disemprot dengan GA. Demikian juga terhadap besar
bunga dan buah. Besar bunga dari tanaman Camelia dan Gerannium akan bertambah
jika diberi GA eksogen. Ukuran buah dari beberapa tanaman buah-buahan seperti
anggur akan bertambah besar jika diberi GA.
Giberelin juga mendorong pembentukan buah partenokarpi (tanpa biji) pada
buah anggur dan pada buah - buahan lainnya. Di samping mempengaruhi besamya
organ tanaman, GA juga mempengaruhi proses - proses fisiologis lainnya.
Kebanyakan tanaman memerlukan suhu dingin (2° sampai 4°C) selama periode
waktu tertentu diik.uti hari panjang untuk dapat berbunga. Pada tanaman - tanaman
tersebut suhu dingin menyebabkan teijadinya ''halting'' (perpanjangan batang) yang
mengawali proses pembungaan tersebut. GA dapat mengganti pengaruh suhu dingin
pada tanaman-tanaman terse but dan dapat mendorong teijadinya pembungaan.
Telah diselidiki juga bahwa proses dormansi dari beberapa biji dan mata tunas
dapat dihilangkan dengan pemberian GA. Pada biji- biji terse but perkecambahan
dapat diawali dengan naiknya kadar GA endogen biji. Pada biji-biji tersebut
dormansi disebabkan oleh rendahnya kadar GA endogen, sehingga dormansi dapat
diatasi dengan pemberian GA eksogen. Mekanisme yang serupa juga terdapat pada
mata tunas tidur (dorman). Pada proses pembelahan sel dan pembesaran sel bukan
saja dipengaruhi oleh GA tetapi juga oleh auksin. Perbedaan antara giberelin dan
auksin dalam proses tersebut adalah bahwa GA lebih efektif pada tanaman yang utuh
sedangkan auksin pada potongan-potongan organ tanaman seperti pada stek akar,
stek tunas, dan lain-lain.
3. Sitokinin
Sitokinin mempengaruhi berbagai proses fisiologis di dalam tanaman. Aktivitas
yang terutama ialah mendorong pembelahan sel dan aktivitas ini yang menjadi
kriteria utama untuk menggolongkan suatu zat ke dalam sitokinin. Akan tetapi
proses-proses pembelahan sel pada sel-sel meristem akan dihambat oleh pemberian
sitokinin eksogen.
Baik efek yang menghambat maupun efek yang mendorong proses pembelahan
sel oleh sitokinin tergantung oleh adanya fitohormon lainnya terutama auksin. Tidak
diketahui perbandingan sitokinin dan auksin yang bagaimana yang merangsang atau
menghambat proses pembelahan sel.
Sitokininjuga berpengaruh di dalam perkembangan embrio. Air kelapa
(coconut milk) telah lama diketahui sebagai sumber yang kaya akan zat-zat aktifyang
diperlukan untuk perkembangan embrio. Di antara zat-zat yang aktif terdapat
sitokinin endogen. Pada air kelapa ini dapat dilihat suatu interaksian tara sitokinin
dengan fitohormon lainnya di dalam proses perkembangan embrio itu.
Sitokinin memperlambat proses penghancuran butir-butir khlorofil pada daun-
daun yang terlepas dari tanaman (detached leave) dan memperlambat proses
senescence pada daun, buah dan organ-organ lainnya.
Pengaruh sitokinin pada berbagai proses itu semua diduga pada tingkat
pembuatan protein, mengingat kesamaan struktur sitokinin dengan adenine yang
merupakan komponen dari DNA dan RNA.
4. Etilen
Telah diketahui bahwa etilen menjadi penyebab beberapa respons tanaman seperti
pengguguran daun, pembengkakan batang, pemasakan buah dan hilangnya warna
buah. Etilen menghambat pertumbuhan ke arah memanjang (longitudinal) dan
mendorong pertumbuhan ke arah melintang (transversal) sehingga batang kecambah
terlihat membengkak. Etilenjuga merubah respons geotropisma, mendorong
pengguguran daun, bunga dan buah. Respons geotropisma bukan saja dipengaruhi
oleh etilen tetapi juga oleh auksin, demikianjuga dengan proses penuaan
(senescence). Etilen sangat berperan dalam aspek-aspek praktis penyimpanan buah-
buahan. Pada kebanyakan buah (pisang, jeruk dan lain-lain) etilen mendorong proses
pemasakan buah.
5. Asam Absitat

Peranan ABA sangat nyata dalam proses pertumbuhan dan perkembangan


tanaman. ABA berinteraksi dengan zat - zat pengatu~ tumbuh tanaman yang lain pada
proses tersebut, biasanya interaksi ini bersifat menghambat (antagonisma).
Pada kebanyakan hal, sifat menghambat ABA dapat diatasi dengan pemberian
lebih banyak zat- zat tumbuh terse but. Sebagai contoh, pengaruh IAA dalam
mendorong pembengkakan koleptil Avena dihambat oleh ABA. Jika lebih banyak IAA
diberi lagi, maka pengaruh ABA ini dapat dihilangkan.
Penghambat ABA terhadap perkecambahan biji selada tidak dapat diatasi
dengan pemberian IAA, di sini diperlukan zat tumbuh lain dari pada IAA (asam
giberelat dan sitokinin).
Sangat menarik adalah interaksi antara ABA dan GA. GA mendorong
pembentukan enzim amylase dan enzim-enzim hidrolisis lainnya pada lapisan aleuron
dari biji barley. ABA menghambat pembentukan enzim-enzim tersebut. Dengan
pemberian lebih banyak GA sifat-sifat penghambatan ABA ini dapat ditiadakan.
Pada proses pematangan biji - biji dari kebanyakan tanaman biasanya teljadi
penimbunan ABA yang menyebabkan terjadi dorminasi dari biji tersebut. Pada biji-biji
tanaman yang memerlukan "stratifikasi" (suhu rendah dan basah) untuk mendorong
proses perkecambahan keadan ABA dan GA dapat diikuti selama proses tersebut.
Selama proses tersebut konsentrasi ABA dalam biji menurun sebaliknya konsentrasi
GA meningkat. Demikian juga pada mata tunas. Pada awal masa dormansi kandungan
ABA tinggi dan GA rendah.
Pada keadaan "stress" fisik maupun kimia kandungan ABA itu meningkat dan
segera turun kembali setelah hilangnya "stress". Pada keadaan "stress" air daun
kehilangan turgor dan layu, kandungan ABA meningkat dan stomata menutup. Jika
tanaman diairi, turgor daun menjadi normal kembali dan konsentrasi ABA menurun.
Di sini terlihat bahwa ABA terbentuk di dalam
daun pada waktu "stress" dan diuraikan dan diinaktifkan sesudah tidak ada "stress"
lagi.
6. Brasonosteroid
 meningkatkan laju perpanjangan sel tumbuhan
 menghambat penuaan daun (senescence)
 mengakibatkan lengkuk pada daun rumput-rumputan
 menghambat proses gugurnya daun
 menghambat pertumbuhan akar tumbuhan
 meningkatkan resistensi pucuk tumbuhan kepada stress lingkungan
 menstimulasi perpanjangan sel di pucuk tumbuhan
 merangsang pertumbuhan pucuk tumbuhan
 merangsang diferensiasi xylem tumbuhan
 menghambat pertumbuhan pucuk pada saat kahat udara dan endogenus
karbohidrat.
3. Jurnal 1 : Pengaruh Pemberian Hormon Giberelin Terhadap Pertumbuhan Buah Secara
Partenokarpi pada Tanaman Tomat Varitas Tombatu F1.
Pendahuluan
Tomat merupakan sayuran populer di Indonesia. Selain mempunyai rasa yang
lezat, tomat juga memiliki komposisi zat yang cukup lengkap dan baik. Komposisi yang
cukup menonjol pada tanaman tomat adalah vitamin A dan C. Komposisi zat gizi buah
tomat dalam 100 gram adalah protein (1 g), karbohidrat (4,2 g), lemak (0,3 g), kalsium (5
mg), fosfor (27 mg), zat besi (0,5 mg), vitamin A (karoten) 1500 SI, vitamin B (tiamin)
60 mg, vitamin C 40 mg (Yani dan Ade, 2004).
Tomat varitas tombatu F1 ini merupakan andalan dari para petani untuk kegiatan
ekspor ke luar negeri, hal ini dikarenakan tomat memiliki warna yang merah sebagai daya
tarik, ukuran yang besar dan tekstur keras sehingga tahan untuk pengangkutan jarak jauh
(Puspitasari dkk, 2013).
Bahan Dan Metode
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih tanaman tomat varitas
Tombatu F1, hormon giberelin sebagai induktor, pupuk kandang dan urea sebagai pupuk
dasar dan pupuk susulan, insektisida untuk menghindarkan tanaman dari serangan hama
serangga, fungisida untuk menghindarkan tanaman dari serangan jamur pada saat
perendaman bibit dan pertumbuhan, air sebagai pelarut, media tanam berupa campuran
tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 :1.

Langkah kerja penelitian ini meliputi beberapa tahap. Tahap pertama yaitu tahap
penyemaian yaitu dengan merendam biji dalam larutan fungisida selama 1 jam kemudian
dikeringanginkan setelah itu biji disemai pada polybag kecil berisi media tanam 100 gram
dengan perbandingan tanah dan pupuk kandang 2:1. Tahap selanjutnya adalah tahap
menumbuhkan tanaman tomat dengan cara memindahkan tanaman tomat yang sudah
berusia 30 hari ke polybag berisi media tanam yang telah disiapkan dengan perbandingan
tanah dan pupuk kandang 1:1. Pengendalian hama dilakukan dengan menyemprotkan
insektisida yang konsentrasinya 0,2 ml/L. Tanaman disiram 2 kali sehari tiap pagi dan
sore. Tahap ketiga, yaitu aplikasi hormon giberelin dilakukan pada saat bunga hari ke-3
dengan cara mencelupkan bunga kedalam larutan giberelin dengan konsentrasi 0 ppm, 60
ppm, 80 ppm dabn 100 ppm selama 5 detik pada pagi hari. Pencelupan dilakukan 2 kali
dengan selang waktu 24 jam. Tahap terakhir adalah tahap pemanenan buah dilakukan jika
buah sudah berwarna merah dan tangkainya coklat, yakni sekitar ±60 HST.

Hasil
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa pemberian hormon
giberelin pada berbagai konsentrasi yaitu 0 ppm, 60 ppm, 80 ppm dan 100 ppm mampu
menghasilkan buah yang partenokarpi ditinjau dari parameter yang diukur berupa bobot
buah dan bobot biji. diketahui hasil pembentukan buah partenokarpi terbesar ditunjukkan
pada konsentrasi 100 ppm dengan nilai rerata buah 81,07 gram, sedangkan hasil
pembentukan buah terkecil ditunjukkan pada konsentrasi 0 ppm dengan rerata bobot buah
sebesar 57,47 gram. Dari hasil ANAVA satu arah diperoleh hasil nilai F hitung yang
lebih besar dari F tabel yakni 557,185 > 3,10 sehingga dapat diketahui bahwa pemberian
hormon giberelin dalam berbagai konsentrasi berpengaruh signifikan terhadap
pembentukan buah tomat varitas tombatu F1 secara partenokarpi. Analisis data kemudian
dilanjutkan dengan uji Duncan.
Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bobot buah dan bobot biji sangat
dipengaruhi oleh pemberian hormon giberelin dalam konsentrasi yang berbeda. Pada
penelitian ini didapatkan hasil bahwa pemberian hormon giberelin menunjukkan hasil
yang berbeda nyata pada setiap konsentrasi yang diberikan. Pada konsentrasi 100 ppm
didapatkan bobot buah terbesar dan bobot biji terkecil, sedangkan untuk perlakuan
kontrol (0 ppm) menghasilkan buah dengan bobot terkecil dan bobot biji terbesar.
Perlakuan dengan konsentrasi 100 ppm memberikan hasil yang paling baik dibandingkan
dengan perlakuan konsentrasi 0 ppm, 60 ppm 80 ppm.
Hormon tumbuhan adalah senyawa organik yang disintesis di salah satu bagian
tumbuhan dan dipindahkan ke bagian lain yang dapat menimbulkan respon fisiologis
dalam konsentrasi yang sangat rendah. Hormon pertumbuhan meliputi auksin, giberelin,
sitokinin, etilen dan asam absisat. Hormon pertumbuhan yang diproduksi dari dalam
tumbuhan disebut hormon endogen. Hormon endogen ini disintesis pada jaringan
meristematik antara lain daun, primordium cabang, akar dan biji yang sedang
berkembang sedangkan hormon eksogen adalah zat pengatur tumbuh yang disintesis di
luar tubuh tumbuhan (Salisbury and Ross, 1995).
Giberelin merupakan senyawa isoprenoid (diterpenoid) yang merupakan turunan
dari rangka ent-giberelan. Senyawa ini disintesis dari unit-unit asetat yang berasal dari
asetil-KoA melalui jalur asam mevalonat. Pada daun, primordium cabang, ujung akar dan
biji yang sedang berkembang banyak disintesis hormon giberelin. Pada tubuh tanaman,
pengangkutan hormon giberelin dilakukan secara difusi melalui floem maupun xylem
bukan melalui transport polar seperti halnya auksin. Giberelin sangat berpengaruh
terhadap sifat kerdil genetik (genetic dwarfism), pembungaan, partenokarpi, mobilisasi
karbohidrat selama perkecambahan, dan aspek fisiologi lainnya. Perpanjangan sel,
pembentukan RNA baru, aktivitas kambium serta sintesa protein juga didukung oleh
kerja hormon giberelin (Salisbury dan Ross, 1995).

Kesimpulan
Pemberian hormon giberelin dalam berbagai konsentrasi (0 ppm, 60 ppm, 80 ppm dan
100 ppm) menunjukkan adanya perbedaan bobot buah dan bobot biji buah tomat varitas
tombatu F1. Konsentrasi terbaik hormon giberelin adalah 100 ppm yang ditunjukkan
dengan bobot buah sebesar 81,07 ± 1,59 gram dan bobot biji sebesar 0,05 ± 0,010 gram.

Jurnal 2 : PENGARUH KONSENTRASI HORMON GIBERELIN TERHADAP


PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN OKRA (Abelmoschus esculentus L).
Pendahuluan :
Okra merupakan sayuran penting yang menduduki peringkat ketiga setelah
bawang dan tomat (Afandi, 2016). Okra telah dikenal sebagai tanaman multiguna karena
hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan (Idawati, 2016). Hasil penelitan ilmiah
tentang kandungan senyawa dan khasiat okra sudah banyak dilakukan diberbagai negara.
Departemen Pertaniann Amerika Serikat menyebutkan okra rendah kalori, kaya nutrisi
dan merupakan sumber serat yang baik (Trubus, 2016).
Okra merupakan sayuran berbentuk buah yang dapat diolah menjadi beragam
makanan lezat dan berkhasiat bagi kesehatan.Buah okra mengandung banyak lender
sehingga rata-rata rakyat Indonesia menggunakan sebagai lauk pauk. Jepang sebagai
negara yang suka dengan okra
menggunakan buah okra sebagai cemilan dan
bahan untuk membuat sushi (Dewi, 2009).
Okra mengandung kandungan gizi yang cukup tinggi dimana setiap 100 gram
buah okra mengandung 1 gram lendir, 7 gram karbohidrat, dan 70-90 mg Ca. Dalam
skala persen kandungan gizi buah okra adalah 3,9% protein, 2,06% lemak, 6,68% kalium,
0,77 phospor dan 1,4% karbohidrat (Idawati, 2012).
Metode Penelitian
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, gembor kamera dan alat tulis.
Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih okra,topsoil,polibag
ukuran 40 x 25 cm, arang sekam,pasir, pupuk kandang giberelin.

Rancangan Penelitian
1. Persiapan Lahan
2. Penyemaian
3. Penanaman
4. Pemeliharaan
5. Pemberian Hormon Giberelin
6. Panen
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil sidik ragam konsentrasi hormon giberelin menunjukkan tidak
berbeda nyata terhadap rata-rata tinggi tanaman okra umur 3 dan 5 MST, tetapi
menunjukkan sangat berbeda nyata terhadap rata-rata tinggi tanaman okra umur 7 MST.
Pengamatan tinggi tanaman okra umur 3 MST menunjukkan tidak terdapat
pengaruh yang nyata. Hal ini diduga karena faktor genetik yang berasal dari tanaman
sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman umur 3 MST. Pernyataan
tersebut sesuai dengan pendapat Gardner dalam Arifin (2011), faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan secara luas dapat dikategorikan sebagai faktor eksternal (lingkungan) dan
faktor internal(genetik). Salah satu faktor internal yaitu pengaruh langsung gen, dimana
dalam hal ini tinggi dari tanaman okra umur 3 MST.
Perlakuan konsentrasi hormone giberelin memberikan pengaruh yang sangat nyata
terhadap tinggi tanaman okra pada umur 7 MST. Pada konsentrasi yang diberikan
menunjukkan kenaikan data rata-rata tinggi tanaman bila dibandingkan dengan parameter
tinggi tanaman sebelumnya.Kenaikan tersebut diduga karena telah berfungsinya hormon
giberelin pada tanaman
okra. Hal tersebut didasarkan oleh pendapat Zein (2007), bahwa gibereln memacu
pertumbuhan sel. Mayeni (2007), juga menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi
yang diberikan maka semakin bertambah tinggi bibit kina. Ditambahkan oleh pendapat
Dwidjosaputra (1997), giberelin menyebabkan tinggi tanaman 3 sampai 5 kali tinggi
optimal. Kusuma (2009), menyatakan pembelahan sel distimulasi oleh aktifnya amilase
menghidrolisis pati menjadi gula tereduksi sehingga konsentrasi gula meningkat akibat
tekanan osmotik juga meningkat. Peningkatan tekanan osmotik di dalam sel
menyebabkan air mudah masuk ke dalam sel sehingga dapat melakukan segala proses
fisiologis dalam sel tanaman sehingga dapat memacu pertumbuhan sel yang
menyebabkan pertumbuhan tinggi tanaman semakin baik. Dalam penelitan Yeni
(2012),induksi giberelin 200 ppm memberikan pertumbuhan tanaman cabai yang paling
baik.
Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah : Perlakuan G2 (hormon giberelin dengan
konsentrasi 200 ppm) menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang terbaik pada tanaman
okra, karena menghasilkan berat buah per petak yaitu 971,333 gram/petak.
Jurnal 3 : RESPON PEMBERIAN HORMON TUMBUH DAN MIKORIZA
TERHADAP PERTUMBUHAN STEK RAMIN (GONYSTYLUS BANCANUS (MIQ.)
KURZ)
Pendahuluan
Ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz.merupakan tumbuhan kehutanan yang
dikategorikan sebagai jenis terancam dengan status rawan (IUCN,2008) karena
penyebarannya bersifat endemik dan tingkat eksploitasinya yang tinggi. Tumbuhan ini
terdistribusi di Semenanjung Malaysia bagian selatan, Sumatera, Bangka dan Kalimantan
(Airy-Shaw, dalam Steenis, 1954). Kayu ramin telah diekploitasi dan dikenal di pasaran
baik lokal maupun ekspor, akibatnya, kayu ramin diduga hampir punah,dan untuk
mengontrol populasinya pemerintah telah mengusulkan kayu ramin ke dalam APENDIX
II CITES yaitu jenis yang dalam perdagangannya dilakukan pengawasan ketat terhitung
sejak tahun 2001. Melalui Keputusan Menteri Kehutanan No 121/Kpts- V/2001
dilakukan penghentian sementara (moratorium) kegiatan penebangan dan perdagangan
dan keputusan tersebut masih berlaku sampai sekarang tahun 2011 (Rotinsulu, 2002).
Bahan dan Cara kerja
Bahan penelitian berupa stek pucuk yang diperoleh dari bibit ramin berumur 1 tahun hasil
semai dari biji yang diperoleh dari Jambi.
Percobaan tahap I: Perlakuan hormon tumbuh terhadap pertumbuhan stek ramin
Percobaan tahap II: penyapihan stek ke media tanam dengan perlakuan mikoriza
Tiap perlakuan dengan 5 ulangan. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman,
jumlah daun
baru, panjang daun, lebar daun, luas daun, bobot basah daun, bobot kering daun, jumlah
akar, panjang akar, bobot basah akar dan bobot kering akar. Pengukuran dilakukan 10
bulan setelah tanam. Pengukuran luas daun menggunakan Leaf Area Index.
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengamatan setelah 3 bulan menunjukkan bahwa semua perlakuan hormone
tumbuh maupun kontrol (tanpa hormon) mampu berakar dengan persentase 80%. Semua
perlakuan menghasilkan daun baru kecuali perlakuan IBA 250 mg/l. Hasil ini lebih baik
jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Rotinsulu (2002) bahwa
pertumbuhan stek pucuk ramin yang dipelihara di bedengan tabur dalam sungkup selama
3 bulan, dari 144 stek yang tumbuh dan hidup hanya 13 stek (9%). Keberhasilan stek
pucuk dipengaruhi oleh faktor luar (umur bahan stek, kondisi fisiologi stek dan
sebagainya) dan faktor dalam (media tumbuh, suhu, kelembaban, intensitas cahaya dan
hormon pengatur tumbuh (Na’iem, 2000).
Prinsip kerja dari mikoriza adalah menginfeksi sistem perakaran tumbuhan inang,
memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tumbuhan yang mengandung mikoriza
tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar,
2002). Menurut Husna et al., (2007) respon pertumbuhan akar jati di kabupaten Muna,
Provinsi Sulawesi Tenggara terhadap aplikasi mikoriza mengalami peningkatan sebesar
107%-148% (pada variabel tinggi bibit) dan 270%-1122% (berat kering total semai) bila
dibandingkan dengan kontrol pada skala persemaian. Dengan memasukkan satu tablet
pada tiap bibit tumbuhan dapat memacu pertumbuhan dua sampai tiga kali lebih baik
daripada tumbuhan yang tidak ditulari.
Kesimpulan
Ramin dapat diperbanyak dengan stek pucuk dari tumbuhan muda umur 1 tahun karena
mampu menghasilkan akar dan daun, meskipun tanpa penambahan zat pengatur tumbuh
yaitu 80% berakar dan 60% berdaun baru.Perlakuan beberapa hormon tumbuh
berpengaruh nyata terhadap jumlah akar dan panjang akar stek ramin. Root Up
menghasilkan jumlah akar paling banyak (12,83) dan berbeda nyata dengan kontrol
(6,33). Rapid root menghasilkan ukuran akar paling panjang (9,72 cm) dan berbeda nyata
dengan kontrol (3,78 cm).
Jurnal 4 : Effect of Different Concentrations of IBA (Indulebutyric Acid) Hormone and
Cutting Season on the Rooting of the Cuttings of Olive (Olea Europaea Var Manzanilla).
Jurnal 5 : Stimulatory Effect of gibberellic acid and benzyladenine on Growth and
Photosynthetic pigments of Ficus benjamina L. Plant