Anda di halaman 1dari 2

Kekaisaran Romawi Suci adalah sebuah institusi yang unik dalam sejarah dunia dan oleh karena itu

sulit
untuk dipahami. Untuk dapat memahaminya, kita mungkin perlu mengetahui bahwa Kekaisaran Romawi
Suci bukan merupakan suatu nation-state seperti dalam pengertian modern. Meskipun etnis
penguasanya (hampir selalu) adalah etnis Jerman, namun sejak awal banyak etnis yang membentuk
Kekaisaran Romawi Suci. Banyak dari keluarga bangsawan penting dan pejabat tertunjuk datang dari
luar komunitas penutur bahasa Jerman. Pada masa kejayaannya, kekaisaran ini mencakup hampir
seluruh wilayah dari Jerman, Austria, Swiss, Liechtenstein, Belgia, Belanda, Luxemburg, Republik Ceko,
Slovenia, dan juga timur Prancis, utara Italia dan barat Polandia sekarang ini. Oleh karena itu, bahasanya
tidak hanya terdiri dari bahasa Jerman dan banyak dialek dan turunannya saja, tetapi juga banyak
bahasa Slavia, dan bahasa yang menjadi bahasa Prancis dan Italia modern. Lebih jauh lagi,
pembagiannya menjadi wilayah-wilayah yang diatur oleh para pangeran sipil dan gerejawi, prelate,
count, ksatria kerajaan, dan kota bebas membuatnya lebih erat dari negara modern yang bermunculan
di sekitarnya.

Pada masanya, kekaisaran ini lebih dari sebuah konfederasi. Konsep Reich tidak hanya mencakup
pemerintah dari wilayah tertentu, tetapi juga memiliki konotasi keagamaan Kristen yang kuat (suci
sebagai namanya). Sampai 1508, raja-raja Jerman tidak dianggap sebagai kaisar dari Reich sebelum Paus,
wakil Kristus di bumi, memahkotainya secara resmi sebagai kaisar. Reich, oleh karena itu dapat
dijelaskan sebagai sebuah persilangan antara negara dan konfederasi keagamaan.

Seorang kaisar haruslah seorang berumur minimal 18 tahun dengan watak yang baik. Keempat kakek-
neneknya diharapkan memiliki darah bangsawan. Tak ada hukum yang mewajibkan dia harus seorang
Katolik, meskipun hukum kekaisaran menganggap demikian. Dia tidak mesti harus seorang Jerman
(sebagai contoh Alfonso X dari Kastilia dan Richard dari Cornwall). Memasuki abad ke-17 para kandidat
umumnya memiliki wilayah kekuasaan di dalam Reich

Makna kedaulatan dalam konteks hubungan antarnegara menjadi semakin penting setelah
ditandatangani Konferensi Montevideo tahun 1933. Menurut Konferensi ini, sebagai subjek hukum
internasional negara harus memiliki kualifikasi berikut :

1) Penduduk yang tetap

2) wilayah tertentu
3)pemerintah

4) kemampuan mengadakan hubungan dengan negara-negara lain.

Bila dikaji dari sudut pandang hukum internasional, kedaulatan mewakili totalitas hak-hak negara dalam
menjalankan hubungan luar negeri dan menata urusan-urusan-urusan dalam negerinya.Menurut sudut
pandang ini ciri utama negara yang berdaulat adalah bahwa kemampuan untuk melakukan sendiri
pengawasan terhadap wilayahnya dan orang-orang yang berada di dalam wilayah itu, kecuali bila hal itu
bertentangan dengan aturan-aturan hukum internasional.

Dikaji dari sudut perlindungan hak asasi manusia, kedaulatan nasional memiliki sisi positif dan negatif.
Hal ini selaras dengan penilaian Muzaffar (1993). Ada saat-saat ketika kedaulatan nasional dapat
digunakan bagi perlindungan terhadap hak-hak kolektif masyarakat dan komunitas rakyat. Namun pada
kesempatan lain, para elit penguasa dapat memanfaatkan kedaulatan nasional untuk menangkis kritik
sah yang dilontarkan pemerintah asing atau bahkan sebuah komisi internasional tentang pelanggaran
hak asasi manusia yang telah terjadi di negara tersebut.