Anda di halaman 1dari 11

DRAFT ACARA III

IDENTIFIKASI BAKTERI RHIZOBIUM

Disusun oleh:
Budi Handayani
H0709022
Kelompok 9

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010
ACARA III
IDENTIFIKASI BAKTERI RHIZOBIUM
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Keberadaan unsur hara nitrogen sangat penting bagi setiap
kehidupan, khususnya mikroba tanah dan tanaman Leguminosae. Unsur
nitrogen termasuk unsur utama dan merupakan faktor pembatas dalam
pertumbuhan, sehingga merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan
tanaman. Bakteri penambat nitrogen (Rhizobium) mempunyai kemampuan
menambat nitrogen bebas (N2) dari udara dan merubahnya menjadi
amonia (NH3) yang akan diubah menjadi asam amino yang akan
digunakan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang
Cadangan nitrogen di alam meliputi 78% volume atmosfer, tetapi
tidak tersedia bagi tanaman. Namun secara alami unsur nitrogen ini dapat
tersedia apabila lingkungan kaya bakteri penambat nitrogen yang biasanya
bersimbiosis dengan kelompok tanaman dari famili Legumonosae.
Penambatan nitrogen secara biologis diperkirakan menyumbang lebih dari
170 juta ton nitrogen ke biosfer pertahun, 80% merupakan hasil dari
simbiosis antara bakteri Rhizobium dengan tanaman Leguminosae. Salah
satu alternatif untuk memperbaiki kondisi tanah dan lingkungan serta
meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan teknologi pemupukan
secara hayati, yaitu dengan menginokulasi mikroba pemacu pertumbuhan
(bakteri penambat nitrogen) pada benih/bibit atau tanah maupun keduanya
pada tanaman. Pengaruh inokulasi akan terlihat nyata apabila digunakan
pada lahan yang mengandung unsur hara atau ketersediaan air rendah,
sehingga inokulasi dapat mempercepat pemulihan lahan, mampu bersaing
dan beradaptasi terhadap lingkungannya, serta cocok dengan tanaman
inangnya.
2. Tujuan Praktikum
Praktikum identifikasi bakteri rhizobium mempunyai beberapa
tujuan, yaitu:
a. Mempelajari dan mengamati morfologi bintil akar pada tanaman
Leguminosae pada umur dan jenis yang berbeda.
b. Mengamati efektivitas infeksi Rhizobium pada bintil akar tanaman
Leguminosae.
3. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum identifikasi bakteri rhizobium dilaksanakan pada
tanggal 11 November 2010 di laboratorium mikrobiologi tanah Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.
B. Tinjauan Pustaka
Rhizobium merupakan bakteri gram negatif, bersifat aerob, tidak
membentuk spora, berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,5-0,9 μm.
Bakteri ini termasuk famili Rhizobiaceae. Bakteri ini banyak terdapat di
daerah perakaran (rizosfer) tanaman legum dan membentuk hubungan
simbiotik dengan inang khusus (Yuwono, 2006).
Rhizobium merupakan simbion fakultatif, dapat hidup sebagai komponen
normal dari mikroflora tanah dalam keadaan tidak ada tanaman inang, tetapi
tetap hidup bebas sebagai heterotrof tergantung kehadiran akar tanaman inang.
Populasi Rhizobium pada rhizosfer tanaman legum biasa mencapai 106
sel/gram atau lebih. Di tanah, bakteri ini hidup bebas dan motil, memperoleh
nutrisi dari sisa organisme yang telah mati. Rhizobium yang hidup bebas tidak
dapat memfiksasi nitrogen dan punya bentuk yang berbeda dari bakteri lain
yang ditemukan pada bintil akar tanaman. yang dapat difiksasi oleh tanaman
legum sangat bervariasi, tergantung pada jenis tanaman legum, kultivar, jenis
bakteri dan tempat tumbuh bakteri tersebut dan terutama pH tanah (Islami &
Utomo, 1995).
Efisiensi dan efektivitas dari suatu strain Rhizobium pada bintil akar dapat
diamati dari warna kemerahan yang tampak pada bintil akar. Pigmen merah
ini disebut Leghaemoglobin (LHb), dijumpai pada bintil akar antara bakteroid
dan selubung membran yang mengelilinginya. Jumlah LHb dalam bintil akar
memiliki hubungan langsung dengan jumlah nitrogen yang difiksasi. Pada
bintil akar yang sudah tua, aktivitas nitrogenasenya sudah berkurang karena
kehilangan bakteroid. Keadaan ini biasanya ditandai oleh warna bintil yang
berwarna kuning sampai coklat, menandakan dimulainya proses penuaan.
Leghaemoglobin hanya ditemukan pada bintil akar yang sehat, sedangkan
tanaman yang tidak sehat mempunyai bintil akar berwarna putih karena tidak
mempunyai LHb sehingga penambatan nitrogen tidak dapat terjadi pada bintil
akar tersebut (Burdas, 2002).
Peran utama Rhizobium adalah memfiksasi nitrogen dengan adanya
aktivitas nitrogenase. Tinggi rendahnya aktivitas nitrogenase menentukan
banyak sedikitnya pasokan ammonium yang diberikan Rhizobium kepada
tanaman. Aktivitas nitrogenase Rhizobium ditentukan oleh 2 jenis enzim yaitu
enzim dinitrogenase reduktase dan dinitrogenase. Dinitrogenase reduktase
dengan kofaktor protein Fe berperan sebagai penerima elektron untuk
selanjutnya diteruskan ke protein MoFe, sedangkan enzim dinitrogenase yang
memiliki protein MoFe berperan dalam pengikatan N2 (Carpenter, 1988).
Reaksi penambatan nitrogen pada bintil akar legum dalam persamaan
sebagai berikut:
N2 + 8 H+ + 8 e- + 16 Mg-ATP 2NH3 + H2 +16 Mg-ADP + 16 Pi
Kemampuan Rhizobium dalam menambat nitrogen dari udara dipengaruhi
oleh besarnya bintil akar dan jumlah bintil akar. Semakin besar bintil akar atau
semakin banyak bintil akar yang terbentuk, semakin besar nitrogen yang
ditambat. Semakin aktif nitrogenase semakin banyak pasokan nitrogen bagi
tanaman, sehingga dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman. Jumlah N 2yang
dapat difiksasi oleh tanaman legum sangat bervariasi, tergantung pada jenis
tanaman legum, kultivar, jenis bakteri dan tempat tumbuh bakteri tersebut dan
terutama pH tanah (Martani & Margino, 2005).
C. Alat, Bahan dan Cara Kerja
1. Alat
a. Silet atau pisau
b. Lup dan kuas
2. Bahan
a. Bintil kacang tanah dengan kisaran umur 1-1,5 bulan dan 2-2,5 bulan.
b. Bintil akar kedelai dengan kisaran umur 1-1,5 bulan dan 2-2,5 bulan.
c. Bintil akar orok-orok denga kisaran umur 1-1,5 bulan dan 2-2,5 bulan.
3. Cara Kerja
a. Ambil tanaman kacang tanah, kedelai dan orok-orok berbagai kisaran
umur, lalu dibersihkan dari sisa tanah yang menempel menggunaka air.
b. Amati dan gambar sebaran bintil akar pada ketiga jenis tanaman
tersebut.
c. Pilih bintil akar yang berukuran sedang kemudian belah secara
melintang.
d. Amati bagian yang terinfeksi, jika terdapat warna merah maka
efektivitasnya tinggi.
e. Lakukan langkah-langkah yang sama pada berbagai jenis tanaman dan
kisaran umurenya.
D. Hasil Pengamatan dan Pembahasa
1. Hasil Pengamatan
Dari praktikum identifikasi bakteri rhizobium pada akar tanaman
kacang tanah, kedelai dan orok-orok yang telah dilakukan, didaptkan hasil
sebagai berikut :
Tabel 1. Tingakat efektifitas infeksi rhizobium
Tingkat
Kisaran
No. Tanaman Gambar Efektifitas
Umur
Infeksi
coklat
1. Arachis hipogea 1,5 bulan merah Rendah
pucat
coklat
2. Arachis hipogea 2,5 bulan Tinggi
merah tua
coklat
3. Crotalaria striata 1,5 bulan merah Rendah
pucat
coklat
4. Crotalaria striata 2,5 bulan Tinggi
merah tua
Coklat muda
5. Glycine max 1,5 bulan Agak Sedang
merah
Coklat muda
6. Glycine max 2,5 bulan Tinggi
merah tua
Sumber : Laporan sementara
2. Pembahasan
Bakteri Rhizobium adalah salah satu contoh kelompok bakteri yang
berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis
dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini akan menginfeksi akar
tanaman dan membentuk bintil akar didalamnya. Bakteri Rhizobium
bekerja dengan menambahkan unsur-unsur hara melalui proses alami
dengan memfiksasi/mengikat unsur nitrogen dari udara, mengubahnya
menjadi nitrogen diazotropik yang dapat diserap oleh akar tanaman, dan
menstimulasi pertumbuhan tanaman melalui proses sintesa dari unsur-
unsur pertumbuhan tersebut.
Dalam praktikum kali ini digunakan tanaman kacang tanah, orok-
orok dan kedelai dengan masing-masing sampel berumur 1-1,5 bulan dan
2-2.5 bulan. Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati warna tengah
dari bintil akar pada tanaman legum yang digunakan dalam praktikun kali
ini. Karena seperti kata burdas, 2006 bahwa efisiensi dan efektivitas dari
suatu strain Rhizobium pada bintil akar dapat diamati dari warna
kemerahan yang tampak pada bintil akar. Pigmen merah ini disebut
Leghaemoglobin (LHb), dijumpai pada bintil akar antara bakteroid dan
selubung membran yang mengelilinginya. Jumlah LHb dalam bintil akar
memiliki hubungan langsung dengan jumlah nitrogen yang difiksasi.
Pada praktikum yang telah dilaksanakan, terdapat perbedaan
infektivitas bakteri Rhizobium pada tanaman yang berbeda, yaitu pada
tanaman Crotalaria striata(orok-orok), Arachis hipogea (kacang tanah)
dan Glycine max (kedelai). Menurut Martani & Margino, 2005 Jumlah N
2yang dapat difiksasi oleh tanaman legum sangat bervariasi, tergantung
pada jenis tanaman legum, kultivar, jenis bakteri dan tempat tumbuh
bakteri tersebut dan terutama pH tanah
Hasil pengamatan menunjukan bahwa masing-masing tanaman
mempunyai warna bintil yang berbeda, pada kacang tanah umur 1-1,5
bulan infeksi bintilnya berwarna merah pucat yang menandakan bahwa
tingkat efektifitasnya rendah, karena kurangnya infeksi, sedangkan kedelai
yang umurnya 1-1,5 bulan berwarna agak merah menandakan
efektifitasnya sedang dan orok-orok yang umurnya 1-1,5 berwarna merah
pucat dengan efektifitas yang rendah. Pada tanaman yang sudah agak tua
tingkat infeksinya sudah tinggi seperti pada pengamatan bintil akar kacang
tanah dan oro-orok yang berumur 2-2,5 bulan berwarna merah tua yang
menandakan tingkat infeksi yang sudah lanjut. Namun Pada bintil akar
yang sudah tua, aktivitas nitrogenasenya sudah berkurang karena
kehilangan bakteroid. Keadaan ini biasanya ditandai oleh warna bintil
yang berwarna kuning sampai coklat, menandakan dimulainya proses
penuaan seperti pada bintil akar kedelai umur 2-2.5 bulan yang infeksinya
lebih rendah dibanding kedelai umur 1-1.5 bulan.
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan pembahasan praktikum yang telah
dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan yaitu :
• Pada praktikum yang telah dilaksanakan, terdapat perbedaan
infektivitas bakteri Rhizobium pada tanaman yang berbeda, yaitu pada
tanaman Crotalaria striata(orok-orok), Arachis hipogea (kacang
tanah) dan Glycine max (kedelai).
• Terdapat perbedaan tingkat infeksi rhizobium pada usia tanaman yang
berbeda, pada kacang tanah dan orok-orok tanaman yang tua
mempunyai tingkat infeksi yang tinggi sedangkan kedelai saat tua
justru tingkat infeksi rhizobium rendah.
DAFTAR PUSTAKA
Burdas .2002. The Leguminosae; A. Source Book of Characteristics Uses and
Nodulation. Winconsin: The University of Winconsin Press.
Carpenter, A.T and F.F. Allen. 1988. Responses of Hedysanum boreale nutt
to mycorrhizas and Rhizobium: plant and soil nutrient changes in a
disturbed shrubsteppe. New Phytology 109: 125-132.
Islami & Utomo .1995. Penelitian Mengenai Isolasi, Media Pembiakan
serta Metode Pengelompokan Species Rhizobium. [Disertasi]. Bandung:
Universitas Padjadjaran
Martani & Margino .2005. Pemanfaatan protein pendar hijau (green
fluoresecent protein) untuk mempelajari kolonisasi bakteri Rhizobium.
Prosiding Seminar Nasional Biologi XVI: 372-277.
Yuwono .2006. Inokulasi Rhizobium pada kedelai. Dalam Somaatmadja., S.,
M. Ismunadji, Sumarno, M. Syam., S.O. Manurung, dan Yuswadi (ed).
Kedelai. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Puslitbangtan.