Anda di halaman 1dari 7

GASTROENTERITIS / DIARE

No Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
UKP Halaman :

PUSKESMAS H. Herfan, S.Sos


ORONG NIP. 19680505 198903 1 019
TELU
1. Pengertian Gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan usus

halus yang ditandai dengan diare dengan frekuensi 3 kali atau lebih

dalam waktu 24 jam. Apabila diare > 30 hari disebut kronis. WHO

(World Health Organization) mendefinisikan diare akut sebagai diare

yang biasanya berlangsung selama 3 – 7 hari tetapi dapat pula

berlangsung sampai 14 hari. Diare persisten adalah episode diare

yang diperkirakan penyebabnya adalah infeksi dan mulainya sebagai

diare akut tetapi berakhir lebih dari 14 hari, serta kondisi ini

menyebabkan malnutrisi dan berisiko tinggi menyebabkan kematian.

2. Tujuan Sebagai acuan dalam mendiagnosa dan menangani kasus ...


3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas orong Telu nomor : ............. tentang Pelayanan
Klinis
4. Referensi Permenkes no.514 tahun 2015 tentang Paduan Praktik Klinis bagi Dokter di
Fasyankes Primer.
5. Langkah- ANAMNESA
Langkah Keluhan

Pasien datang ke dokter karena buang air besar (BAB) lembek atau

cair, dapat bercampur darah atau lendir, dengan frekuensi 3 kali atau

lebih dalam waktu 24 jam. Dapat disertai rasa tidak nyaman di perut

(nyeri atau kembung), mual dan muntah serta tenesmus.


Pada pasien anak ditanyakan secara jelas gejala diare:

1. Perjalanan penyakit diare yaitu lamanya diare berlangsung, kapan


1
diare muncul (saat neonatus, bayi, atau anak-anak) untuk

mengetahui, apakah termasuk diare kongenital atau didapat,

frekuensi BAB, konsistensi dari feses, ada tidaknya darah dalam

tinja

2. Mencari faktor-faktor risiko penyebab diare

3. Gejala penyerta: sakit perut, kembung, banyak gas, gagal tumbuh.

4. Riwayat bepergian, tinggal di tempat penitipan anak merupakan

risiko untukdiare infeksi.

Faktor Resiko
1. Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.

2. Riwayat intoleransi laktosa, riwayat alergi obat.


3. Infeksi HIV atau infeksi menular seksual.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Fisik

1. Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa: berat badan, suhu tubuh,

frekuensi denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah.

2. Mencari tanda-tanda utama dehidrasi: kesadaran, rasa haus, dan

turgor kulit abdomen dan tanda-tanda tambahan lainnya: ubunubun besar


cekung atau tidak, mata: cekung atau tidak, ada

atau tidaknya air mata, bibir, mukosa mulut dan lidah kering

atau basah.

3. Pernapasan yang cepat indikasi adanya asidosis metabolik.

2
4. Bising usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemia.

5. Pemeriksaan ekstremitas perlu karena perfusi dan capillary refill

dapat menentukan derajat dehidrasi yang terjadi.

6. Penilaian beratnya atau derajat dehidrasi dapat ditentukan dengan

cara: obyektif yaitu dengan membandingkan berat badan sebelum

dan selama diare. Subyektif dengan menggunakan kriteria. Pada

anak menggunakan kriteria WHO 1995.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
PENEGAKAN DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis (BAB cair lebih dari 3

kali sehari) dan pemeriksaan fisik (ditemukan tanda-tanda

hipovolemik dan pemeriksaan konsistensi BAB). Untuk diagnosis

defenitif dilakukan pemeriksaan penunjang.

DIAGNOSIS BANDING
PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan pada Pasien Dewasa

Pada umumnya diare akut bersifat ringan dan sembuh cepat dengan

sendirinya melalui rehidrasi dan obat antidiare, sehingga jarang diperlukan


evaluasi lebih lanjut
Terapi dapat diberikan dengan

1. Memberikan cairan dan diet adekuat

a. Pasien tidak dipuasakan dan diberikan cairan yang adekuat

3
untuk rehidrasi.

b. Hindari susu sapi karena terdapat defisiensi laktase transien.

c. Hindari juga minuman yang mengandung alkohol atau kafein,

karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus.

d. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya yang tidak mengandung

gas, dan mudah dicerna.

2. Pasien diare yang belum dehidrasi dapat diberikan obat antidiare

untuk mengurangi gejala dan antimikroba untuk terapi definitif.

Pemberian terapi antimikroba empirik diindikasikan pada pasien

yang diduga mengalami infeksi bakteri invasif, traveller’s diarrhea,

dan imunosupresi. Antimikroba: pada GE akibat infeksi diberikan

antibiotik atau antiparasit, atau antijamur tergantung

penyebabnya.

Obat antidiare, antara lain:

1. Turunan opioid: Loperamid atau Tinktur opium.

2. Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan disentri

yang disertai demam, dan penggunaannya harus dihentikan

apabila diare semakin berat walaupun diberikan terapi.

3. Bismut subsalisilat, hati-hati pada pasien immunokompromais,

seperti HIV, karena dapat meningkatkan risiko terjadinya bismuth

encephalopathy.
4
4. Obat yang mengeraskan tinja: atapulgit 4x2 tablet/ hari atau

smectite 3x1 sachet diberikan tiap BAB encer sampai diare stop.

5. Obat antisekretorik atau anti enkefalinase: Racecadotril 3x1

Antimikroba, antara lain:

1. Golongan kuinolonyaitu Siprofoksasin 2 x 500 mg/hari selama 5-

7 hari, atau

2. Trimetroprim/Sulfametoksazol 160/800 2x 1 tablet/hari.

3. Apabila diare diduga disebabkan oleh Giardia, Metronidazol dapat

digunakan dengan dosis 3x500 mg/ hari selama 7 hari.

4. Bila diketahui etiologi dari diare akut, terapi disesuaikan dengan

etiologi.

Apabila terjadi dehidrasi, setelah ditentukan derajat dehidrasinya,

pasien ditangani dengan langkah sebagai berikut


Apabila terjadi dehidrasi, setelah ditentukan derajat dehidrasinya,

pasien ditangani dengan langkah sebagai berikut:


1. Menentukan jenis cairan yang akan digunakan

Pada diare akut awal yang ringan, tersedia cairan oralit yang

hipotonik dengan komposisi 29 gr glukosa, 3,5 gr NaCl, 2,5 gr

Natrium bikarbonat dan 1,5 KCl setiap liter. Cairan ini diberikan

secara oral atau lewat selang nasogastrik. Cairan lain adalah

cairan ringer laktat dan NaCl 0,9% yang diberikan secara

5
intravena.

2. Menentukan jumlah cairan yang akan diberikan

Prinsip dalam menentukan jumlah cairan inisial yang dibutuhkan

adalah: BJ plasma dengan rumus:

Defisit cairan : B J pl a s m a – 1,0 2 5 X Berat badan X 4

ml

0,001

Kebutuhan cairan = S ko r X 10% X kgBB X 1 liter

15

3. Menentukan jadwal pemberian cairan:

a. Dua jam pertama (tahap rehidrasi inisial): jumlah total

kebutuhan cairan menurut BJ plasma atau skor Daldiyono

diberikan langsung dalam 2 jam ini agar tercapai rehidrasi

optimal secepat mungkin.

b. Satu jam berikutnya/jam ke-3 (tahap ke-2) pemberian

diberikan berdasarkan kehilangan selama 2 jam pemberian

cairan rehidrasi inisial sebelumnya. Bila tidak ada syok

atauskor Daldiyono kurang dari 3 dapat diganti cairan per oral.

c. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan

kehilangan cairan melalui tinja dan insensible water loss


KOMPLIKASI

6
pseudomembran

Komplikasi

Syok hipovolemik

KRITERIA RUJUKAN

KONSELING DAN EDUKASI


Pada kondisi yang ringan, diberikan edukasi kepada keluarga untuk

membantu asupan cairan. Edukasi juga diberikan untuk mencegah

terjadinya GE dan mencegah penularannya.

1. Tanda dehidrasi

berat

2. Terjadi penurunan

kesadaran

3. Nyeri perut yang

signifikan

4. Pasien tidak dapat minum oralit

5.,,Tidak ada infus set serta cairan infus di fasilitas pelayanan

6. Unit Terkait Poli Umum, Apotik