Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Latar belakang dibuatnya makalah ini adalah sebagai salahsatu tugas Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia , tapi terlepas darpada itu kita harus memiliki kesadaran dan rasa memiliki
terhadap kekayaan bangsa ini, baik kekayaan flora, fauna, suku budaya atau kekayaan yang
lainnya.

Maka daripada itu makalah ini disusun sebagai bentuk keikut sertaan pelestarian juga
pengenalan bahwa di daerah nun jauh disana ada salah satu suku yang unik dan keadaannya
mungkin sudah hamper bias di hitung jari, yaitu suku to balo yang tepat nya berada di daerah
kabupaten barru, adalah salah satu Kabupaten yang terletak dipesisir Pantai Barat Propinsi
Sulawesi Selatan dengan garis pantai sekitar 78 Km.Secara Geografis terletak diantara Koordinat
4’0.5’35” lintang selatan dan 199’35” – 119’49’16” Bujur Timur dengan luas wilayah 1.174,72
Km2 (117.472 Ha) dan berada kurang lebih 100 Km sebelah utara Kota Makassar Ibukota
Propinsi Sulawesi Selatan.

1.2  Tujuan Penulisan
Seperti telah di singgung diatas tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :

1.2.1 Mengenal keanekaragaman budaya bangsa


1.2.2 menimbulkan rasa bangga dan memiliki terhadap asset kebudayaan bangsa
1.2.3 untuk lebih mengenal suku pedalaman sulawesi selatan
1.2.4 salah satu upaya menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa
 

1.3  Metode Penulisan


1.3.1 Pengumpulan data dari sumber data yang cukup compatible
1.3.2 penyusunan data yang telah di peroleh
1.3.3 pengetikan 

1
BAB II
PEMBAHASAN
 

2.1  To Balo dalam Suku Bentong


Suku Bentong tinggal di tempat terpencil di Pegunungan Bulu Pao, yang membentang
melintasi wilayah Kabupaten Barru dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Secara administratif daerah
mereka masuk dalam wilayah Kabupaten Barru. Suku ini merupakan salah satu terasing,
sehingga keberadaan mereka tidak begitu diketahui oleh masyarakat luas. Adapun suku yang
diketahui di Sulawesi Selatan adalah suku Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar, adapun
kemudian suku Mandar masuk dalam wilayah Sulawesi Barat.
Bulo-bulo yang merupakan wilayah tempat tinggal Suku Bentong, adalah salah satu
wilayah di Nusantara yang memiliki keunikan dari segi bahasanya, betapa tidak, masyarakat
yang bermukim di desa pegunungan kecamatan Pujjananting kabupaten Barru ini menggunakan
perpaduan tiga bahasa daerah yaitu Bugis, Makassar dan Konjo (Longi, 2003:81). Bahkan
sejumlah kosa katanya sama pula dengan bahasa daerah Mandar. Dari ketiga perpaduan bahasa
derah tersebut yaitu Bugis, Makassar dan Konjo, melahirkan sebuah bahasa, yaitu
bahasa Bentong.
Selain dari segi bahasa keunikan lain yang dimiliki oleh suku Bentong ini adalah karena
di dalam anggota masyarakatnya terdapat beberapa orang yang memiliki kulit yang tak lazim
seperti orang-orang normal pada umumnya. Sekujur tubuh mereka belang terutama kaki, dada
dan tangan penuh dengan bercak putih. Sementara tepat di tengah dahi mereka, bercak tersebut
terpampang nyaris membentuk segitiga. Masyarakat Bentong menyebut mereka To Balo yang
dalam artinya adalah manusia belang atau orang belang.

2.2 Mengenal Suku To Balo


adalah salah satu Kabupaten yang terletak dipesisir Pantai Barat Propinsi Sulawesi
Selatan dengan garis pantai sekitar 78 Km.Secara Geografis terletak diantara Koordinat
4’0.5’35” lintang selatan dan 199’35” – 119’49’16” Bujur Timur dengan luas wilayah 1.174,72
Km2 (117.472 Ha) dan berada kurang lebih 100 Km sebelah utara Kota Makassar Ibukota
Propinsi Sulawesi Selatan.

2
Kabupaten Barru yang dikenal dengan motto HIBRIDA ( Hijau,Bersih,Asri dan
Indah) adalah salah satu Kabupaten yang terletak dipesisir Pantai Barat Propinsi Sulawesi
Selatan dengan garis pantai sekitar 78 Km.Secara Geografis terletak diantara Koordinat
4’0.5’35” lintang selatan dan 199’35” – 119’49’16” Bujur Timur dengan luas wilayah 1.174,72
Km2 (117.472 Ha) dan berada kurang lebih 100 Km sebelah utara Kota Makassar Ibukota
Propinsi Sulawesi Selatan, yang dapat ditempuh melalui perjalanan darat kurang lebih 2,5 jam
dan dari Parepare menuju Kota Barru bisa ditempuh selama 45 menit.
Untuk jalur trans Sulawesi, Kabupaten Barru merupakan daerah lintas wisata antara
kotaMakassar dengan Kabupaten Tanah Toraja sebagai tujuan wisata serta berada dalam
kawasan pengembangan ekonomi terpadu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Kabupaten Barru memiliki beberapa tempat wisata. Dan
salah satunya adalah tempat dimana orang suku to Balo itu berada. Suku to Balo ini merupakan
bagian dari komunitas suku to Bentong yang menurut legenda hanya ada di kabupaten Barru.
Suku ini berdiam di Desa Bulo- Bulo Kecamatan Pujananting, bahasa yang digunakan adalan
bahasa Bentong, keunikan dari suku ini jumlahnya tidak lebih dari 9 orang. Dalam beberapa
tahun terakhir ini suku to Balo banyak menarik perhatian khalayak ramai karena rasa penasaran
dan ingin tau seperti apa suku to Balo itu. Yang hidup hanya beranggotakan 9 orang saja

2.3 Asal Usul Suku To Balo


Beberapa versi cerita menceritakan asal-usul dari To Balo, salah satunya cerita yang
berkembang adalah bahwa kelainan yang diidap suku To Balo bukanlah penyakit melainkan
pembawaan gen. Namun, masyarakat setempat meyakininya sebagai kutukan dewa. Alkisah
suatu hari, ada satu keluarga yang menyaksikan sepasang kuda belang jantan dan betina yang
hendak kawin. Bukan hanya menonton, keluarga itu juga menegur dan mengusik kelakuan kedua
kuda itu. Maka marahlah dewa lantas mengutuk keluarga ini berkulit seperti kuda belang atau
balo. Ada pula kisah versi lain. Masyarakat Bentong khususnya To Balo  mempercayai manusia
dan kuda turun bersama dari langit saat pertama bumi diciptakan. Artinya, kuda dan manusia
memiliki garis keturunan, sehingga orang-orang yang percaya dengan cerita ini otomatis akan
berkulit belang.

3
Ada pula yang mempercayai bahwa belang yang terdapat pada sekujur tubuh To Balo
merupakan efek dari kesaktian yang mereka miliki, diakui bahwa To Balo kebal terhadap panas
bahkan senjata tajam. Mereka memperoleh kesaktian itu dari jimat yang mereka miliki, dengan
resiko menyimpang jimat itu akan menimbulkan belang di tubuh mereka.

Perbedaan itu rupanya membuat mereka mengasingkan diri dari kumpulan sosial
sehingga tak pernah membangun koloni di daerah yang ramai. Konon, sikap tersebut sudah
mereka lakukan sejak berabad silam saat Kerajaan Bugis masih jaya. Namun, oleh raja-raja
zaman dahulu, kelainan tersebut sempat dianggap tanda kepemilikan kesaktian yang membuat
mereka sering dipilih menjadi pengawal raja. Di tengah hiruk pikuk kemajuan zaman, kaum To
Balo seakan tenggelam ditelan kesunyian pelosok tempat tinggal mereka. Populasi ini kini
tinggal segelintir.

Adalah keluarga Nuru bin Rien. Bersama satu istri, dua anaknya Rakdak dan Mantang,
serta beberapa anggota keluarga, dia membangun sebuah gubuk di sebuah sudut Pegunungan
Bulu Pao. Di petak sempit inilah, kehidupan Nuru sekeluarga terkotak. Mereka bercengkrama,
memasak, bercocok tanam ubi, jagung, dan kacang, serta mengolah gula merah. Tapi sesekali
mereka turun gunung juga untuk menjual hasil bercocok tanam serta gula merah ke Pasar
Kamboti, Desa Bulo-Bulo. Dari pekerjaan ini, mereka menerima upah yang tidak seberapa.

Kaum To Balo bisa keluar dari masalah kulit ini jika mereka menikah dengan orang lain
yang punya gen kulit normal. Selama ini kebanyakan mereka kawin antar mereka saja. Padahal
terbukti, jika ada kaum To Balo yang kawin dengan orang normal, tidak semua keturunan
mereka akan berkulit belang (Longi,2003:15). Perlu ada penyuluh yang menyambangi mereka ke
dusun terpencil itu untuk menjelaskan keadaan sebenarnya. Agar mereka segera keluar dari
keterkungkungan yang disebabkan perasaan berbeda dari manusia lain

2.4  Mitos dan Kematian


Berbicara tentang mitos kematian yang sejatinya melibatkan sebuah komunitas
kepercayaan pada mitos tersebut. Ada beberapa suku yang memiliki cerita mitos tentang
kematian, sebut saja misalnya suku Zulu yang ada di Afrika, seperti kutipan yang diceritakan
dalam buku Menguak Misteri kematian

4
Adapun mitos yang ada pada To Balo adalah, bahwa siklus kehidupan dari anggota
masyarakat mereka yang Balo (belang) tak bisa memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari 9
orang. Ketika anggota masyarakat mereka bertambah atau lahir anggota keluarga yang baru
(anggota keluarga yang ke-10), maka salah satu dari anggota keluarga mereka yang lain akan
meninggal. Masyarakat To Balo ini tak akan pernah memiliki anggota keluarga lebih dari
sembilan orang.
Ketika jumlah anggota To Balo Sembilan orang, maka kelahiran akan dibarengi dengan
kematian pada kehidupan mereka, asal muasal mitos ini berasal dari cerita yang menyebutkan
bahwa kelainan yang dialami oleh To Balo akibat dari sumpah yang dilanggar. Diceritakan
bahwa zaman kerajaan Tanete yang merupakan salah satu kerajaan yang berada di Sulawesi
Selatan dimana pada saat itu Bulo-bulo merupakan bagian dari kerajaan Ternate sedang
mengalami peperangan. Pada waktu itu, Datu Tanete meminta kepada Arung Bontotiro,
memenuhi undangan Datu Tanete di Pancana. Pada waktu itu, datu Tanete meminta kepada
Arung Bontotiro mengirim 30 orang pemberani dari Bulo-bulo untuk berperang melawan
Belanda di Pulau Putianging.

Setibanya kembali di Bulo-bulo, Arung Bontotiro mengumpulkan pemberaninya. Salah


seorang pemberani yang bernama I Pundeng berkeinginan memenuhi undangan Datu Tanete,
namun kaerna usianya sudah lanjut, maka ia menunjuk anaknya yang bernama I Untung. Sang
anakpun menyetujuinya tapi merasa tidak memiliki kemampuan seperti pemberani, untuk
mengobati rasa ketidakpercayaan diri sang anak maka sang ayah menyanggupinya untuk
memberikan bekal Pakkana To Burane. Dari 30 pemberani yang diminta Datu Tanete hanya
Sembilan orang yang berangkat, termasuk I Untung.
Sebelum mereka berangkat I Pundeng memberikan ilmu kebal, disamping nasehat dan petuah
tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilanggar.

I Pundeng berkata:

Daeng Tulloi
Kalepue siwanua
Dewata mappuji
Panaungan Te Maceccee

5
Artinya:

Bersatulah dalam kepergianmu


Yang Maha Kuasa memujimu
Seperti padi pengabdianmu
(Geliat di Kampung Budaya. Longi, 2003:12)

Iapun berpesan kepada Sembilan orang tersebut, bahwa apabila perang sudah selesai dan
pulang ke Bulo-bulo, tidak diperbolehkan naik ke rumah panggung sebelum menyembelih seekor
ayam.

I Pundeng mengingatkan bahwa apabila pesan ini dilanggar, maka keturuan mereka akan
berkulit belang. Setelah tiga tahun berperang membela kerajaan Tanete, kesembilan orang
tersebut langsung naik ke rumah panggung dan seketika itu kulit mereka berubah menjadi
belang.

Nurding Dg. Matutu (salah seorang tokoh masyarakat To Bentong) mengatakan bahwa
To Balo yang berkulit belang jumlahnya tak lebih dari Sembilan orang (Longi, 2003:13). Hal ini
senada juga seperti yang dikatakan Arifin Mangau seorang peneliti kesenian dari Universitas
Negeri Makassar, mengatakan bahwa, sampai pada saat penelitian yang dilakukan pada tahun
2005 jumlah To Balo adalah 8 orang. Evi Cibong, salah seorang wartawan LPM Aspirasi FBS
UNM pada s aat mengadakan liputan pada tahun 2006 juga mengatakan bahwa sampai pada
saat penelitian jumlah masyarakat To Balo adalah 8 orang, dan menurut wawancara yang
dilakukan terhadap beberapa warga pada lokasi tersebut mengatakan jumlah To Balo tak pernah
mencapai 10 orang.

2.5 Mitos Kelahiran Dibalas dengan Kematian

6
Mitos tentang siklus kehidupan dari masyarakat To balo memberikan pengaruh terhadap
kehidupan mereka, bagaimana paradigma berfikir mereka bahwasanya adalah masyarakat
kutukan yang tak mungkin memiliki anggota keluarga lebih dari Sembilan orang.

Mengapa To Balo bisa bertahan sampai sekarang? Tanpa ada saling menyingkirkan satu
sama lain. Ada alasan kuat mengenai hal tersebut; bahwasanya jumlah To Balo tak pernah
sampai pada angka Sembilan, seperti yang dikatakan peneliti-peniliti yang meneliti To Balo
(Wawancara Arifin Mangngau dan Evi Cibong). Jumlah mereka pada saat menanti kelahiran
tidak pada angka Sembilan, hal ini tentunya tidak menimbulkan ketakutan ataupun kecemasan
pada To Balo lainnya.

Alasan lainnya, bahwa To Balo dalam menanggapi kematian, mereka menanggapinya


secara alamiah, dalam artian mereka tak pernah mempersoalkan masalah tersebut sebagai suatu
beban. Kehidupan dan kematian dalam masyarakat To Balo seperti halnya kehidupan masyarakat
pada umumnya, mereka meninggal dengan keadaan wajar-wajar saja, seperti pengaruh umur,
penyakit ataupun kecelakaan. Proses kelahiran anggota masyarakatnya pun juga seperti
masyarakat pada umunya, proses kelahiran di hadapi dengan suka cita tanpa ada beban bahwa
proses tersebut akan memakan tumbal. Siklus kehidupannya juga berjalan secara alamiah, ketika
terjadi proses kelahiran maka terjadi juga proses kematian dan begitupun sebaliknya. Secara
umum kehidupan dan kematian masyarakat To Balo pada dasarnya sama dengan proses
kehidupan dan kematian masyarakat pada umumnya.

Mitos adalah sebuah bentuk dan merupakan sebuah tipe wicara (Barthes,2010:295), mitos
bisa berubah dan tergantikan dengan mitos yang lain berdasarkan dugaan dan saran dari
masyarakat. Mitos siklus kehidupan yang yakini oleh masyarakat To Balo tentang jumlah
keluarga mereka yang takkan pernah lebih dari Sembilan orang, kemudian diangkat ke sebuah
cerita dengan perkembangan dugaan-dugaan yang menciptakan sebuah mitos baru yang
menggantikan mitos sebelumnya tentang siklus kehidupan dari To balo sampai pada kesimpulan
bahwa “kelahiran dibalas dengan kematian”.

Pembentukan mitos baru yang menggantikan mitos lama sebagai akibat dari adanya
perkembangan dugaan dan saran. Perubahan dugaan dan saran ini di akibat oleh adanya faktor
kecemasan. Kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan

7
datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai (Freud,2006:431).
Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena kecemasan memberi
sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya
itu akan meningkat sampai ego dikalahkan.

Proses kelahiran yang terus menerus terjadi yang diimbangi dengan proses kematian yang
hanya stagnan pada maksimal angka Sembilan semakin lama terjadi akan menimbulkan sebuah
kecemasan. Ketika anggota keluarga sudah berjumlah Sembilan orang dan kemudian salah satu
anggota dari keluarga tersebut hamil maka akan menimbulkan sebuah kecemasan tentang
kelanjutan siklus kehidupan mereka yang lain tak terkecuali ibu dan calon anak tersebut.

Efek dari mitos tersebut bahwa ketika ada proses kelahiran maka akan terjadi proses
kematian dan pastilah salah satu dari anggota keluarga yang Sembilan tadi pasti akan meninggal.
Dari kecemasan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah wacana baru bahwa proses
kelahiran dari masyarakat ketika mereka berjumlah Sembilan orang pasti akan memakan tumbal
kematian salah seorang dari mereka.

2.6 Ketika Kematian Ditentukan oleh Manusia?


Kematian adalah suatu tragedi kehidupan yang paling mengenaskan bagi umat manusia.
Diperkirakan, dalam tiap-tiap hari ada sekitar dua ratus ribu orang yang mati di dunia ini
(Sañjîvaputta, 1999:6). Kematian tidak hanya mencengkeram mereka yang lanjut usia. Bahkan
bayi yang belum lahir pun, yang masih dalam kandungan ibunya, tidak luput dari sorotannya.
Kematian tidak pernah pandang bulu; tua muda, besar kecil, kaya miskin, kuasa lemah, mulia
hina, pandai bodoh, terpandang ternista. Karena sedemikian kuat hasrat hidup, kecintaan serta
kemelekatan pada kehidupan dan karena naluri perjuangan untuk mempertahankan kehidupan
(struggle for survival), sebagaimana makhluk makhluk hidup lainnya.

Manusia tidak pernah menyerah pasrah pada kenyataan hidup yang pahit ini. Segala cara
dipakai; segala terobosan dicoba; segala upaya dilakukan untuk mengatasi kematian. Keadaan
Tanpa Kematian (Deathless) sesungguhnya adalah Kekekalan (Immortality) itu sendiri, yang
menjadi tujuan akhir bagi semua makhluk.
Naskah drama merupakan penuangan dari ide cerita ke dalam alur cerita dan susunan
lakon (Anirun, 1998:51). Berdasarkan ide awal dari tulisan di atas, maka penulis membuat

8
sebuah cerita baru yang didasarkan pengetahuan empiric dengan melihat dan merasakan kondisi
dan situasi masyarakat sekarang. Masyarakat sekarang ketika dihadapkan dengan tentang proses
kematian banyak diantara mereka yang kemudian merasa takut untuk melewati hal seperti itu.
Kematian adalah bagian dari sebuah proses kehidupan yang setiap individu akan melewatinya.

Ketakutan manusia sekarang terhadap kematian bersumber pada dua hal. Yang pertama,
karena manusia terlanjur mencintai dunia sehingga mereka begitu takut untuk meninggalkannya.
Manusia juga terlanjur memiliki sesuatu yang begitu mereka cintai sehingga membuat mereka
begitu takut kehilangan semuanya. Sedangkan yang kedua adalah, manusia takut mati karena
kekhawatiran mereka tentang kebenaran berita-berita yang bersumber dari kepercayaannya,
tentang siksa terhadap dosa yang akan ditimpakan kepada mereka akan menjadi kenyataan
(Hartono,2010).

Sebagaimana pandangan Durkheim tentang hakikat manusia, yang sering disebut


dengan homo duplex (Ritzer, 2004:109). Menurut Durkheim didalam diri manusia terdapat dua
hakikat. Yang pertama didasarkan pada individualis tubuh manusia yang terisolasi dan kedua
adalah hakikat manusia sebagai mahluk sosial. Dua hakikat ini hadir dalam ide tubuh dan pikiran

9
BAB III
PENUTUP
 
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Suku Bentong tinggal di tempat terpencil di Pegunungan Bulu Pao, yang
membentang melintasi wilayah Kabupaten Barru dan Pangkep, Sulawesi Selatan
3.1.2 Masyarakat Bentong menyebut mereka To Balo yang dalam artinya adalah manusia
belang atau orang belang
3.1.3 Suku to Balo ini merupakan bagian dari komunitas suku to Bentong yang menurut
legenda hanya ada di kabupaten Barru. Suku ini berdiam di Desa Bulo- Bulo
Kecamatan Pujananting, bahasa yang digunakan adalan bahasa Bentong, keunikan
dari suku ini jumlahnya tidak lebih dari 9 orang. Dalam beberapa tahun terakhir ini
suku to Balo banyak menarik perhatian khalayak ramai karena rasa penasaran dan
ingin tau seperti apa suku to Balo itu. Yang hidup hanya beranggotakan 9 orang saja
3.2 Saran
3.2.1 kekayaan Indonesia ternyata begitu beragam, bahkan masih banyak kekayaan yang
belum tergali, belum di temukan, itu adalah tugas kita pemuda penerus bangsa
untuk melestarikan dan menjaganya.
3.2.2 Tidak harus dengan hal yang besar untuk ikut serta membangun bangsa
melestarikan kebudayaan, dengan mempelajari memperkenalkan saja sudah cukup
kita menjadikan kebudayaan Indonesia ini harum di mata dunia
3.2.3 mulai dari hal terkecil yaitu dari diri sendiri, mulai dari lingkungan keluarga dan
masyarakat, melakukan hal yang besar akan terwujud jika kita mampu melakukan
hal terkecil terdahulu.

 
10