Anda di halaman 1dari 3

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KEARIFAN LOKAL

“TRADISI MASSORONG”

Dosen Pengampuh: M Taufiq Hidayat Pabbajah M.A

Disusun oleh :
AYYUB

DEWI ANGGRENI

HASNI

PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA


JURUSAN TARBIYAH DAN ADAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PARE-PARE
2018/2019
Adat atau tradisi biasanya diartikan sebagai suatu ketentuan yang berlaku dalam
masyarakat tertentu, dan menjelaskan satu keseluruhan cara hidup dalam masyarakat. Dalam
kamus besar bahasa Indonesia, tradisi mempunyai dua arti, pertama adat kebiasaan turun –
temurun yang masih dijalankan masyarakat. Kedua penilaian atau anggapan bahwa cara-cara
yang telah ada merupakan cara yang paling benar dan baik. Tradisi merupakan istilah genetik
untuk merujuk segala sesuatu yang hadir menyertai kekinian.

Pada era modern ini, masih banyak tradisi yang tetap dipertahankan secara turun-temurun
dari nenek moyang hingga keanak cucu pada suatu masyarakat, seperti pada daerah pinrang
tepatnya di kecematan lembang, kelurahan tadokkong di daerah Pattinjo.

Diantara tradisi yang masih dilaksanakan oleh masyarakat pattinjo adalah tradisi
MASSORONG. Upacara atau tradisi ini dilaksanakan ketika melahirkan anak pertama dan
terkadang juga ketika ada acara hakikah ataupun hajatan.

Keyakinan masyarakat setempat ini yaitu biasanya membawa berupa makanan yang siap
saji, ayam bulat telur ayam kampong, sokko dan masih banyak lagi. Mereka berjalan kesungai
dengan dipandu oleh imam kampung yang khusus untuk acara tersebut. Setelah sampai disungai,
makanan yang dibawa dari rumah di dorong ke sungai , lalu masyarakat memperebutkannya.

Adat yang ada di daerah pattinjo yang dinamakan massorong sudah ada pada zaman dulu.
Kemudian diajarkan secara turun temurun kepada cucu. Adat massorong sangat terkenal di
pattinjo kebanyakan yang melakukan ini adalah keluarga yang memiliki derajat tinggi dalam
halnya puang.

Dimana adat ini dimulai dari rumah, sebelum sesajen ini dibawa ke sungai, sesajen ini di
“baca” terlebih dahulu , biasanya kami menamakan sebagai di pangnguju’i. Setelah itu sesajen
inipun baru dibawa ke sungai dengan diangkat oleh para lelaki, biasanya dalam proses
pembawaan diiringi dengan music gendang. Setelah sampai disungai pembawa sesajen tidak
boleh menyentuh air kecuali iman atau guru yang akan membaca sesajen tersebut biasanya yang
melakukan acara ini dimandikan terlebih dahulu. Setelah proses pemandian sang pembaca
sesajen mendorong baku-baku ke sungai., satu persatu setelah proses tersebut para warga atau
masyarakat saling memperebutkan isi baku-baku tersebut.
Massorong ini diadakan sebagai bentuk rasa hormat terhadap leluhur. Seseorang yang
memiliki kembaran namun dalam bentuk wujud lain seperti halnya buaya, suku pattinjo
melakukan karena mempercayai bahwa buaya (rindu) hamper sama dengan manusia. Suku
pattinjo melakukan tradisi ini agar tidak ada marabahaya atau hal yang tidak diinginkan terjadi di
laut atau sungai.

Manfaat atau sisi positif dari tradisi ini:

 Kepercayaan masyarakat untuk meakukan hal ini demi keseamatan diri ketika dia berada
di sungai karena mereka menganggap atau mempercayai bahwa tempat tersebut ada
penunggunya.
 Masyarakat mampu memanfaatkan sumber daya alam dalam hal ini membuat keranjang
yang terbuat dari bamboo sebagai tempat sesajen atau persembahannya.

Sisi negative dari tradisi ini adalah hal ini dianggap bahwa masyarakat masih mempercayai sisi
mistis daam hal ini mereka menyekutukan Allah atau bias di katakana musyrik.

Namun dilihat dari sisi negatifnya hal ini bertentangan dengan agama islam akan tetapi
tradisi ini juga sangat sulit untuk hilang dari masyarakat tersebut karena mereka sangat
mempercayai tradisi ini, dan ada beberapa di anatara mereka yang ketika tidak melakukan tradisi
tersebut maka roh nenek moyang leluhurnya akan mendatangi dan menganggu kehidupannya.