Anda di halaman 1dari 15

ISSN: 2614‐5154 

Volume 3 No. 1 Februari 2019 

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN USAHA TEMPE DI KOTA MEDAN


Donny Ivan Samuel Simatupang
Dosen Tetap Fakultas Pertanian Universitas Methodist Indonesia, Medan

ABSTRAKSI

Pemasaran merupakan aspek penting dalam pengembangan agribisnis terutama usaha tempe. Proses
penyampaian tempe dari produsen ke konsumen akan semakin lancar jika didukung oleh sistem
pemasaran yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui saluran pemasaran tahu dan
tempe, untuk mengetahui struktur pasar yang terjadi pada setiap saluran pemasaran tahu dan tempe,
untuk menganalisis biaya pemasaran, sebaran harga (price spread) dan share margin dari masing-
masing saluran pemasaran tempe serta untuk mengetahui strategi pemasaran yang dilakukan oleh
saluran pemasaran tempe di Kecamatan Medan Selayang. Metode dasar penelitian ini adalah metode
deskriptif dan pelaksanaannya dengan teknik survei.Metode penentuan daerah penelitian dilakukan
dengan metode purposive, yaitu Kecamatan Medan Selayang. Metode analisis data menggunakan
metode analisis SWOT. Metode penentuan produsen sampel dilakukan secara Simple Random
Sampling sebanyak 30 orang.Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Adapun
hasil dari penelitian ini yaitu Terdapat beberapa struktur pasar pada saluran tempe di daerah
penelitian yaitu persaingan pasar sempurna. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya jumlah penjual
dan pembeli yang ada di pasar, barang yang dijual bersifat relatif homogen, penjual dan pembeli
mudah untuk keluar masuk pasar, dan setiap pelaku dalam pemasaran tempe mengetahui informasi
harga tempe di pasar. Terdapat perbedaan biaya pemasaran, sebaran harga (price spread), dan share
margin pada setiap saluran dari tingkat produsen hingga tingkat pengecer terdapat perbedaan. Biaya
pemasaran yang paling tinggi pada jalur pemasaran tempe di Kota Medan yaitu saluran 1 yaitu sebesar
Rp 150. Sedangkan biaya terkecil terdapat pada saluran 2 dan 3 yaitu sebesar Rp 100. Keuntungan
pemasaran terbesar terdapat pada saluran pemasaran 2 dan 3 yaitu sebesar Rp 400, sedangkan
keuntungan terkecil terdapat pada saluran pemasaran 1 yaitu sebesar Rp 350. Strategi pemasaran
tempe di Kota Medan menurut diagram SWOT berada pada posisi kuadran 1 (Strategi Agresif) yaitu
SO (Strength Opportunities) yang menunjukkan perusahaan tersebut memiliki peluang dan kekuatan
sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang harus diterapkan dalam kondisi ini
adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth Oriented Strategy/Expansion
Strategy).

Kata Kunci : saluran, pemasaran, struktur pasar, price spread,sShare margin, strategi

1. Pendahuluan kedelai telah dikenal sejak lama sebagai salah


1.1. Latar Belakang satu tanaman sumber protein nabati dengan
Sektor pertanian merupakan sektor yang kandungan 39-41% yang diolah menjadi bahan
penting bagi penduduk Indonesia di mana makanan, minuman serta penyedap cita rasa
sebagian besar penduduknya bermata makanan, misalnya yang sangat terkenal adalah
pencaharian sebagai petani. Sektor pertanian tempe, tahu, kecap, tauco dan tauge. Bahkan
mempunyai peranan penting karena sektor ini diolah secara modern menjadi susu dan
menghasilkan bahan pangan yang merupakan minuman sari kedelai yang dikemas dalam
kebutuhan primer manusia. Hasil pertanian yang karton khusus atau botolan. Selain itu kedelai
melimpah mendorong penduduk Indonesia untuk berperan penting dalam beberapa kegiatan
mengelola hasil-hasil pertanian menjadi berbagai industri dan peternakan (Santoso, 1993).
produk olahan sehingga bernilai lebih tinggi Menurut UU No. 5 Tahun 1984, industri
untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Oleh adalah kegiatan ekonomi mengolah bahan
karena pengelolaan hasil dari sektor pertanian mentah, barang baku, barang setengah jadi dan
harus dilakukan sebaik mungkin, mulai dari atau barang jadi menjadi barang dengan nilai
penanaman sampai pengolahan, sehingga dapat yang lebih tinggi penggunaanya, termasuk
dikonsumsi oleh konsumen. kegiatan rancang bangun dan perekayasaan
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, industri. Bahan-bahan industri diambil secara

Jurnal Ilmiah Skylandsea 243


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

langsung maupun tidak langsung, kemudian digunakan sebagai sampel sebanyak 5 orang,
diolah, sehingga menghasilkan barang yang pedagang pengecer sebanyak 25 orang
bernilai lebih dan memiliki nilai guna bagi
masyarakat. Kegiatan proses produksi dalam 2. Tinjauan Pustaka
industri itu disebut dengan perindustrian. 2.1. Pemasaran
Usaha industri tempe yang berkembang Ditinjau dari aspek ekonomi kegiatan
dimasyarakat adalah industri rumah tangga dan pemasaran pertanian dikatakan sebagai kegiatan
industri kecil. Permasalahan pokok industri kecil produktif sebab pemasaran dapat meningkatkan
adalah modal kerja yang sangat minim, kenaikan guna waktu, guna tempat, guna bentuk dan guna
harga bahan baku, pemasaran untuk pemilikan (Sudiyono, 2004).
menyalurkan tempe ke konsumen, karena Pemasaran menurut Kohl dan Downey
kurangnya informasi pasar terkait dengan pola (1972) adalah semua aktivitas bisnis yang
permintaan konsumen. Selain itu kemampuan terlibat dalam aliran barang dan jasa mulai dari
strategi pemasaran masih kurang. Terkadang awal produksi sampai ke tangan konsumen
pengusaha tidak mampu menghasilkan produk akhir. Adapun pengertian pemasaran menurut
dengan mutu yang sesuai dengan tuntutan pasar, Hammond dan Dahl (1977) adalah suatu proses
selera konsumen, dan kurang mampu penyampaian barang dari titik produksi ke titik
memproduksi dalam jumlah yang besar dalam konsumsi melalui fungsi pertukaran dalam upaya
waktu cepat sehingga permintaan pasar tidak untuk memenuhi kepuasan konsumen.
dapat dipenuhi. Menurut Limbong dan Sitorus (1987),
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti pemasaran mencakup segala kegiatan dan usaha
ingin melakukan penelitian tentang analisis yang berhubungan dengan perpindahan hak
strategi pemasaran usaha tempe. Untuk menjadi milik dan fisik dari hasil pertanian dan
sasaran penelitian adalah Kecamatan Medan kebutuhan usaha pertanian dari produsen ke
Selayang karena di daerah tersebut terdapat tangan konsumen, termasuk didalamnya
usaha pembuatan tempe yang paling banyak kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan
yaitu 5 usaha tempe. perubahan bentuk dari barang yang dimaksud
untuk lebih memudahkan konsumen dalam
1.2. Tujuan Penelitian memilih barang sehingga dapat memberikan
1. Untuk mengetahui saluran pemasaran tempe di kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumen.
daerah penelitian. Menurut Kotler (1993) pemasaran adalah
2. Untuk mengetahui struktur pasar yang terjadi suatu proses sosial dengan individu dan
pada setiap saluran pemasaran tempe di daerah kelompok dengan kebutuhan dan keinginan
penelitian. dalam menciptakan, penawaran dan perubahan
3. Untuk mengetahui besar biaya pemasaran, nilai barang dan jasa secara bebas dengan
besaran harga (price spread), share margin di lainnya.
daerah penelitian.
4. Untuk mengetahui bagaimana strategi 2.2. Lembaga dan Saluran Pemasaran
pemasaran usaha industri tempe yang ada di Saluran pemasaran adalah himpunan
daerah penelitian. organisasi yang saling bergantung yang terlibat
dalam proses untuk membuat produk atau jasa
1.3. Metode Penelitian yang siap untuk dikonsumsi atau digunakan oleh
Daerah penelitian di tentukan secara pur- konsumen atau pengguna industrial. Terdapat
posive atau secara sengaja, yaitu di Kecamatan empat kategori besar lembaga saluran : grosir
Medan Selayang, yang di dalamnya terdapat barang dagangan, perantara agen, pengecer, serta
pengusaha tempe terbanyak di kota Medan. agen pendukung (Boyid, 2000).
Populasi dalam penelitian ini adalah Saluran pemasaran selalu diperlukan karena
pedagang yaitu orang–orang yang terlibat dalam produsen tidak mampu menjual sendiri produk
mendistribusikan tempe hingga ke konsumen yang dihasilkan. Produsen memerlukan patner
akhir. Pedagang sebagai sampel ditentukan yang lokasinya berbeda dan kapasitasnya yang
dengan metode penelusuran yaitu menelusuri juga berbeda (Soekartawi, 1993).
semua pedagang yang terlibat dalam pemasaran Lembaga pemasaran adalah orang atau
tempe di daerah penelitian mulai dari produsen, badan ataupun perusahaan yang terlibat dalam
pedagang besar, pedagang pengecer dan proses pemasaran hasil pertanian. Ditingkat desa
konsumen. Jumlah pedagang besar yang ada tengkulak dan ada pedagang perantara serta

Jurnal Ilmiah Skylandsea 244


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

ada pengecer. Ditingkat kecamatan juga ada Disamping itu, biaya pemasaran yang tinggi juga
perantara, pengumpul dan pengecer. Keadaan akan membuat sistem pemasaran kurang/tidak
seperti ini juga terjadi ditingkat kabupaten atau efisien (Gultom, 1996).
provinsi. Masing-masing lembaga pemasaran Klasifikasi biaya penting dalam
akan mengeluarkan biaya tataniaga dan akan membandingkan pendapatan untuk mengetahui
memperoleh keuntungan yang disebut bagian kebenaran jumlah biaya yang tertera pada
dari margin pemasaran (Daniel, 2002). pernyataan pendapatan (income statement)
Menurut (Koeswara, 1995) lembaga terdiri dari empat kategori, yaitu:
pemasaran adalah badan usaha atau individu a. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang
yang menyelenggarakan pemasaran, penggunaanya tidak habis dalam satu
menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen masa produksi yang termasuk dalam biaya ini
kepada konsumen akhir serta mempunyai antara lain adalah pajak tanah, pajak air,
hubungan dengan badan usaha atau individu penyusutan alat, dan bangunan pertanian.
lainnya. Lembaga pemasaran ini dapat b. Biaya variabel atau biaya-biaya berubah
digolongkan menurut penguasaannya terhadap (variable cost) adalah biaya yang besar
komoditi yang dipasarkan dan bentuk usahanya kecilnya sangat tergantung pada biaya skala
(Sudiyono, 2004). produksi. Yang termasuk kedalam biaya ini
Menurut Kohl dan Downey (1972) salah antara lain adalah : biaya untuk bibit, pupuk,
satu lembaga pemasaran adalah lembaga pembasmi hama dan penyakit, buruh atau
perantara baik sebagai individu maupun sebagai tenaga kerja upahan, biaya panen, biaya
perusahaan bisnis yang berspesialisasi dalam pengolahan tanah baik yang berupa kontrak
membentuk berbagai fungsi pemasaran yang maupun upah harian.
terlibat dalam pembelian dan penjualan barang c. Biaya tunai dari biaya tetap dapat berupa
dan jasa atau perpindahan barang dan jasa dari pajak air dan pajak tanah. Sedangkan biaya
produsen ke konsumen. Lembaga pemasaran tunai dari biaya variabel antara lain berupa
disebut juga sebagai pelaku atau pelaksana pemakaian bibit, pupuk, obat-obatan tenaga
aktivitas bisnis/fungsi-fungsi pemasaran. luar keluarga.
Lembaga perantara ini d. Biaya tidak tunai meliputi biaya tetap, biaya
untuk tenaga kerja keluarga. Sedangkan yang
2.3. Biaya Pemasaran termasuk biaya variabel antara lain biaya
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu panen dan pengolahan tanah dari tenaga kerja
dilakukan untuk suatu proses produksi, yang keluarga (Fadholi, 1989).
dinyatakan dengan satuan uang menurut harga
pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi 2.4. Margin Pemasaran
maupun yang akan terjadi. Biaya terbagi menjadi Margin Pemasaran adalah selisih antara
dua, yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. harga yang dibayarkan oleh konsumen dengan
Biaya eksplisit adalah biaya yang terlihat secara harga yang diterima produsen. Margin ini akan
fisik, misalnya berupa uang. Sementara itu, yang diterima oleh lembaga pemasaran yang terlibat
dimaksud dengan biaya implisit adalah biaya dalam proses pemasaran. Makin panjang
yang tidak terlihat secara langsung, misalnya pemasaran maka semakin besar margin
biaya kesempatan dan penyusutan barang modal pemasaran. Secara teoritis, dapat dikatakan
(Anonim, 2008). bahwa semakin pendek rantai pemasaran hasil
Biaya Pemasaran adalah biaya yang terdiri pertanian maka :
dari semua jenis pengeluaran yang dikorbankan 1. Biaya pemasaran semakin rendah.
oleh setiap middleman (perantara) dan lembaga- 2. Margin pemasaran semakin rendah.
lembaga pemasaran yang berperan secara 3. Harga yang harus dibayarkan konsumen
langsung dan tidak langsung dalam proses semakin rendah.
perpindahan barang dan keuntungan (profit 4. Harga yang diterima produsen semakin tinggi
margin) yang diambil oleh lembaga pemasaran (Daniel, 2002).
atas jasa modalnya dan jasa tenaganya dan Tomek dan Robinson (1977) mendefinisikan
menjalankan aktivitas pemasara tersebut. Biaya marjin pemasaran sebagai berikut (a) marjin
pemasaran terjadi sebagai konsekuensi logis dari pemasaran merupakan perbedaan harga antara
fungsi-fungsi pemasaran. Biaya pemasaran ini produsen dan konsumen, dan (b) marjin
menjadi bagian tambahan harga pada barang- pemasaran merupakan kumpulan balas jasa
barang yang harus ditanggung oleh konsumen. yang diterima oleh lembaga pemasaran.

Jurnal Ilmiah Skylandsea 245


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

Dalam marjin pemasaran terdapat dua keunggulan strategi perusahaan dengan


komponen yaitu komponen biaya pemasaran dan tantangan lingkungan dan yang dirancang untuk
komponen keuntungan lembaga pemasaran. memastikan bahwa tujuan utama perusahaan
dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat
2.5. Share Margin oleh perusahaan.
Share margin (Sm) adalah persentase price Strategi adalah perencanaan induk
spread terhadap harga beli konsumen. komprehensif, yang menjelaskan bagaimana
Pp usaha akan mencapai semua tujuan yang telah
Sm =  100% ditetapkan berdasarkan misi yang telah
Pk
Strategi merupakan usaha untuk menumbuh ditentukan sebelumnya. Proses penyusunan
kembangkan kekuatan perusahaan dengan strategi lebih banyak menggunakan proses
mengeksploitasi peluang bisnis guna untuk analitis (Rangkuti, 2001).
mencapai tujuan perusahaan. Strategi mempunyai fungsi multifungsional
atau multidimensional dan dalam perumusannya
2.6. Struktur dan Tingkah Laku Pasar perlu mempertimbangkan faktor-faktor internal
Menurut Limbong dan Sitorus (1987) maupun eksternal yang dihadapi perusahaan
struktur pasar adalah suatu dimensi yang (David, 2004).
menjelaskan keputusan oleh perusahaan maupun Strategi merupakan rumusan perencanaan
industri, jumlah perusahaan dalam suatu pasar, komprehensif tentang bagaimana perusahaan
distribusi perusahaan menurut berbagai ukuran, akan mencapai misi dan tujuannya. Strategi akan
seperti konsentrasi, deskripsi perusahaan, memaksimalkan keunggulan kompetitif dan
diferensiasi produk dan sebagainya. meminimalkan keterbatasan bersaing (Hunger
Dahl dan Hammond (1987) menjelaskan and Wheelen, 2003).
bahwa dilihat dari strukturnya, ada pasar Strategi pengembangan sistem agribisnis
bersaing sempurna dengan ciri-ciri: banyak adalah suatu proses fungsi produksi yang akan
pembeli dan penjual, setiap pembeli dan penjual menghasilkan produktivitas secara optimal dan
tidak dapat mempengaruhi harga (price taker), efisien,maka strategi itu merupakan keterpaduan
barang dan jasa yang dipasarkan bersifat dan keberlanjutan kerjasama dari masing-masing
homogen serta bebas keluar masuk industri atau subsistem agribisnis (Damanik, 2008).
pasar. Pada prinsipnya, strategi dapat dikelompok-
Struktur pasar dan perilaku pasar akan kan berdasarkan tiga tipe strategi yaitu strategi
menentukan keragaan pasar yang dapat diukur manajemen, strategi investasi dan strategi bisnis.
melalui perubahaan harga, biaya, marjin Strategi manajemen meliputi strategi yang
pemasaran, dan jumlah kuantitas yang dapat dilakukan oleh manajemen dengan
diperdagangkan (Dahl and Hammond, 1977) orientasi pengembangan strategi secara
makro, misalnya strategi pengembangan produk,
Tabel 1 Jenis-jenis Struktur Pasar strategi penetapan harga, strategi akuisisi,
Berdasarkan Jumlah Perusahaan dan Sifat strategi pengembangan pasar, dan sebagainya.
Produk Strategi investasi merupakan kegiatan yang
Karakteristik Struktur Pasar berorientasi pada investasi sedangkan strategi
Jumlah Sifat Produk Dari Sudut Dari Sudut
Perusahaan Penjual Pembeli
bisnis berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan
Banyak Standar/ Persaingan Persaingan manajemen misalnya strategi pemasaran,
homogen murni murni strategi produksi, strategi distribusi dan
Banyak Terdiferensiasi Persaingan Persaingan
monopolisti monopolistik
strategi- strategi yang berhubungan dengan
k keuangan (Rangkuti, 2006).
Sedikit Standar Oligopoli Ologopsoni Menurut David (2004), tahapan manajemen
murni murni
Sedikit Terdiferensiasi Oligopoli Oligopsoni
strategis terdiri dari tahapan perumusan strategi,
diferensiasi diferensiasi implementasi strategi serta evaluasi dan
Satu Unik Monopoli Monopsoni pengendalian strategi. Tahapan perumusan
Sumber : Dahl dan Hammond, 1977
strategi terdiri dari kegiatan mengembangkan
2.7. Strategi pernyataan visi dan misi, melakukan audit
Menurut Jauch dan William F. Glueck eksternal dan audit internal untuk mengenali
(1997), strategi adalah rencana yang disatukan, peluang, ancaman serta faktor kekuatan dan
menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan kelemahan internal, menetapkan tujuan jangka
panjang, mengevaluasi dan memilih strategi.

Jurnal Ilmiah Skylandsea 246


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

Tahapan berikutnya yaitu implementasi strategi - Beri rating masing-masing faktor dalam kolom
yaitu melaksanakan strategi dengan melihat isu- 2 sesuai besar kecilnya pengaruh yang ada
isu manajemen, pemasaran, keuangan dan pada faktor strategi internal, mulai dari nilai 4
litbang sedangkan tahapan akhir adalah (sangat baik), nilai 3 (baik), nilai 2 (cukup
mengevaluasi dan pengendalian strategi, baik) dan nilai 1 (tidak baik) terhadap
melalukan tindakan perbaikan. Berikut ini adalah kekuatan nilai “rating” terhadap kelemahan
model proses manajemen strategis yang bersifat negatif, kebalikannya.
komprehensif menurut Fred R. David. Berikut - Beri bobot untuk setiap faktor dari 0 sampai 1
gambar Model Proses Manajemen Strategis yang pada kolom bobot (kolom 3). Bobot ditentukan
Komprehensif. secara subyektif, berdasarkan pengaruh faktor-
faktor tersebut terhadap posisi strategis
2.8. Analisis SWOT perusahaan.
Untuk menganalisis profil suatu perusahaan - Kalikan rating pada kolom 2 dengan bobot
akan digunakan pendekatan yaitu analisis pada kolom 3, untuk memperoleh
SWOT. SWOT singkatan dari Strength - skoring pada kolom 4.
(Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportu- - Jumlah skoring (pada kolom 4), untuk
nity (Peluang), Threat (Tantangan). Analisis memperoleh total skor pembobotan bagi
SWOT berisievaluasi faktor internal perusahaan perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini
berupa kekuatan dan kelemahannya dan faktor menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu
eksternal berupa peluang dan tantangan. bereaksi terhadap faktor-faktor strategi
Strategi yang dipilih harus sesuai dan cocok internalnya.
dengan kapabilitas internal perusahaan dengan Hasil identifikasi faktor kunci internal yang
situasi eksternalnya. merupakan kekuatan dan kelemahan,
Analisis SWOT hanya bermanfaat dilakukan pembobotan dan rating dipindahkan ke tabel
apabila telah jelas ditentukan dalam bisnis apa Matrik Faktor Strategi Internal (IFAS) untuk
perusahaan beroperasi, dan ke arah mana dijumlahkan dan kemudian di perbandingkan
perusahaan menuju ke masa depan serta ukuran antara total skor kekuatan dan kelemahan.
apa saja yang digunakan untuk menilai b. Matrik Faktor Strategi Eksternal
keberhasilan organisasi/manajemen dalam Sebelum membuat matrik faktor strategi
menjalankan misinya dan mewujudkan visinya. eksternal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu
Hasil analisis akan memetakan posisi cara-cara penentuan dalam membuat tabel
perusahaan terhadap lingkungannya dan EFAS.
menyediakan pilihan strategi umum yang sesuai, - Susunlah dalam kolom 1 faktor-faktor
serta dijadikan dasar dalam menetapkan sasaran eksternalnya (peluang dan ancaman).
organisasi selama 3-5 tahun ke depan untuk - Beri rating dalam masing-masing faktor dalam
memenuhi kebutuhan dan harapan para kolom 2 sesuai besar kecilnya pengaruh yang
stakeholder (Situmorang dan Dilham, 2007). ada pada faktor strategi eksternal, mulai dari
Menurut Rangkuti (2009), analisis SWOT nilai 4 (sangat baik), nilai 3 (baik), nilai 2
adalah identifikasi berbagai faktor secara (cukup baik) dan nilai 1 (tidak baik) terhadap
sistematis untuk merumuskan strategi kekuatan nilai “rating” terhadap kelemahan
perusahaan. Analisis SWOT membandingkan bersifat negatif, kebalikannya.
antara faktor eksternal peluang (opportunities) - Beri bobot untuk setiap faktor dari 0 sampai 1
dan ancaman (threats) dengan faktor internal pada kolom bobot (kolom 3).Bobot ditentukan
kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness). secara subyektif, berdasarkan pengaruh faktor-
Sebelum melakukan analisis, maka diperlukan faktor tersebut terhadap posisi strategis
tahap pengumpulan data yang terdiri atas tiga perusahaan.
model yaitu : - Kalikan rating pada kolom 2 dengan bobot
pada kolom 3, untuk memperolehskoring pada
a. Matrik Faktor Strategi Internal kolom 4.
Sebelum membuat matriks faktor strategi - Jumlah skoring (pada kolom 4), untuk
internal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu memperoleh total skor pembobotan bagi
cara-cara penentuan dalam membuat tabel IFAS. perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini
- Susunlah dalam kolom 1 faktor-faktor internal menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu
(kekuatan dan kelemahan). bereaksi terhadap faktor-faktor strategi
eksternalnya.

Jurnal Ilmiah Skylandsea 247


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

Hasil identifikasi faktor kunci internal yang BCG matrik. Fokus strategi perusahaan ini
merupakan kekuatan dan kelemahan, adalah meminimalkan masalah-masalah internal
pembobotan dan rating dipindahkan ke tabel perusahaan sehingga dapat merebut peluang
Matrik Faktor Strategi Eksternal (EFAS) untuk pasar yang lebih baik.
dijumlahkan dan kemudian di perbandingkan Kuadran 4 : Ini merupakan situasi yang
antara total skor kekuatan dan kelemahan. sangat tidak menguntungkan, perusahaan
c. Matriks Posisi tersebut menghadapi berbagai ancaman dan
Hasil analisis pada tabel matriks faktor kelemahan internal.
strategi internal dan faktor strategi eksternal Alat untuk menyusun faktor-faktor strategis
dipetakan pada matriks posisi dengan cara perusahaan adalah matrik SWOT. Matrik ini
sebagai berikut : dapat menggambarkan secara jelas bagaimana
1. Sumbu horizontal (x) menunjukkan kekuatan peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi
dan kelemahan, sedangkan sumbu vertical (y) perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan
menunjukkan peluang dan ancaman. dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini
2. Posisi perusahaan ditentukan dengan hasil dapat menghasilkan empat set kemungkinan
sebagai berikut : alternatif stretegis seperti yang dijelaskan dalam
- Kalau peluang lebih besar dari pada Tabel 4 :
ancaman maka nilai y > 0 dan sebaliknya
kalau ancaman lebih besar dari pada peluang Tabel 2 Matriks SWOT
maka nilainya y < 0. IFAS STRENGTH (S) WEAKNESSES (W)
- Kalau kekuatan lebih besar daripada EFAS Tentukan 5-10 Tentukan 5-10
faktor-faktor faktor-faktor
kelemahan maka nilai x > 0 dan sebaliknya kekuatan internal kelemahan internal
kalau kelemahan lebih besar daripada OPPORTUNITIE STRATEGI SO STRATEGI WO
S (O) Ciptakan strategi Ciptakan strategi
kekuatan maka nilainya x < 0. Tentukan 5-10 yang yang meminimalkan
faktor peluang menggunakan kelemahan untuk
eksternal kekuatan untuk memanfaatkan
memanfaatkan peluang.
peluang.
THREATHS (T) STRATEGI ST STRATEGI WT
Tentukan 5-10 Ciptakan strategi Ciptakan strategi
faktor ancaman yang yang
eksternal menggunakan meminimalkan
kekuatan untuk kelemahan dan
mengatasi menghindari
ancaman ancaman.
a. Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran
Gambar 1 Diagram Analisis SWOT perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan
seluruh kekuatan untuk merebut dan
Kuadran I : Merupakan situasi yang sangat
memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
menguntungkan. Perusahaan tersebut memiliki
b. Strategi ST
peluang dan kekuatan sehingga dapat
Ini adalah strategi dalam menggunakan
memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang
kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk
harus diterapkan dalam kondisi ini adalah
mengatasi ancaman.
mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif
c. Strategi WO
(Growth oriented strategy).
Strategi ini diterapkan berdasarkan
Kuadran II : Meskipun menghadapi
pemanfaatan peluang yang ada dengan cara
berbagai ancaman, perusahaan ini masih
meminimalkan kelemahan yang ada.
memiliki kekuatan dari segi internal. Strategi
d. Strategi WT
yang harus diterapkan adalah menggunakan
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang
kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka
bersifat defensif dan berusaha meminimalkan
panjang dengan cara strategi diversifikasi
kelemahan yang ada serta menghindari
(produk/pasar).
ancaman (Rangkuti,2009).
Kuadran III : Perusahaan menghadapi
peluang pasar yang sangat besar, tetapi dilain
pihak, ia menghadapi beberapa
kendala/kelemahan internal. Kondisi bisnis pada
kuadran 3 ini mirip dengan Question Mark pada

Jurnal Ilmiah Skylandsea 248


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

3. Hasil dan Pembahasan Produsen juga manjalankan fungsi pemberi


3.1. Saluran Pemasaran Tempe informasi harga kepada sesama produsen
Hasil penelitian menunjukkan bahwa maupun kepada pedagang dan konsumen.
terdapat tiga saluran pemasaran pada kota Pedagang besar memilki fungsi pembelian,
Medan yaitu : penjualan, pengemesan, pengangkutan,
a. Saluran I : Produsen  Pedagang Besar  pembiayaan, penanggung resiko dan informasi
Pedagang Pengecer  Konsumen harga. Pedagang besar melakukan kegiatan
b. Saluran II : Produsen  Pedagang Besar  pembelian tempe kepada produsen kemudian
Konsumen menjualnya kembali kepada pedagang pengecer
c. Saluran III : Produsen  Pedagang Pengecer dan konsumen. Pedagang grosir juga melakukan
 Konsumen fungsi pengemasan, tempe yang dijulanya
Dalam pemasaran tempe di Kota Medan satu dikemas dengan menggunakan kantong plastik.
produsen dapat terlibat dalam beberapa saluran Fungsi pengangkutan dilakukan pedagang besar
pemasaran. Hal tersebut terjadi karena produsen ketika memindahkan tempe yang dibelinya dari
tidak hanya menjual tempe yang diproduksinya produsen hingga sampai ke pedagang pengecer
langsung kepada konsumen, tetapi juga kepada dan konsumen. Kegiatan pengangkutan oleh
beberapa pedagang. Dimana dalam penelitian ini pedagang besar dilakukan dengan menggunakan
pedagang di kelompokan menjadi tiga macam. motor dengan dilengkapi beberapa alat yang
Pada keempat saluran pemasaran di atas, digunakan untuk mengangkut tempe. Dalam
proporsi terbesar terjadi pada saluran pemasaran fungsi pembiayaan pedagang besar melakukan
1, yaitu sebesar 33,33%. Sedangkan proporsi pembelian alat pengangkut, kantong plastik
saluran pemasaran terkecil adalah saluran ke 2 untuk kegiatan pengemasan dan pembelian
yaitu sebesar 8,33 %. Sementara itu proporsi tempe kepada produsen. Terdapat 2 sistem
saluran pemasaran 3 sebesar 21,17%. pembayaran yang dilakukan pedagang dalam
Pelaku pemasaran tempe di Kota Medan pembelian tempe kepada produsen, yaitu sistem
melakukan beberapa fungsi pemasaran yaitu pembayaran tunai dan sistem pembayaran
fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi kemudian. Sistem pembayaran tunai dilakukan
fasilitas. Fungsi fasilitas meliputi fungsi ketika pedagang membeli tempe kepada
pembiayaan, penanggung resiko, dan informasi produsen dan langsung membayarnya. Namun
harga. Dalam pemasaran tempe di Kota Medan sedikit pedagang yang melakukan sistem
produsen memiliki fungsi penjualan, pembayaran ini. Sedangkan sistem pembayaran
pengemesan, pengangkutan, pembiayaan, kemudian adalah sistem pembayaran yang
penanggung resiko dan informasi harga. Fungsi dilakukan ketika pedagang membeli tempe
penjualan dilakukan produsen yaitu pedagang kepada produsen kemudian menjualnya dulu
menjual tempe yang diproduksinya kepada para kepada konsumen setelah mendapatkan uang
pedagang dan konsumen. dari hasil berjualan pedagang baru membayar
Dalam melakukan kegiatan penjualan tempe yang dibelinya kepada produsen. Sistem
produsen melakukan fungsi pengemasan, dan pembayaran ini banyak dilakukan pedagang
pengangkutan apabila produsen berada dalam dalam pemasaran tempe di Kota Medan. Sistem
saluran pemasaran dua. Hal tersebut terjadi pembayaran kemudian dilakukan karena
karena produsen menjual tempe ke pasar dan produsen sudah percaya terhadap pedagang yang
berkeliling kota. Fungsi pembiayaan dilakukan berlanggangan membeli tempe kepadanya. Jarak
ketika produsen menanggung seluruh biaya tempat tinggal sebagian besar pedagang yang
dalam kegiatan produksi tempe hingga tempe malakukan sistem pembayaran kemudian dengan
sampai pada konsumen dan pedagang. Produsen tempat tinggal produsen juga dekat.
juga menanggung resiko dari seluruh kegiatan Pedagang besar juga menanggung resiko
produksi tempe hingga tempe sampai ke tangan saat tempe yang dibeli dari produsen ada di
konsumen maupun pedagang. Resiko yang pedagang grosir hingga sampai ke konsumen.
ditanggug produsen meliputi resiko kerugian Informasi harga juga diberikan pedagang besar
akibat dari proses produksi tempe gagal, dan kepada pedagang pengecer dan konsumen. Pada
kenaikan bahan baku pembuat tempe. Resiko saluran III sistem pembayaran yang dilakukan
kerugiaan ketika tempe yang dijual produsen oleh pedagang pengecer kepada produsen adalah
tidak habis. Serta resiko pengangkutan hingga sistem pembayaran tunai. Sama dengan sistem
tempe sampai pada konsumen dan pedagang. pembayaran yang dilakukan konsumen yang

Jurnal Ilmiah Skylandsea 249


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

melakukan pembelian tempe baik kepada Keuntungan di tiap-tiap pelaku pemasaran juga
produsen maupun pedagang. berbeda. Disini margin yang diterima pedagang
3.2. Struktur Pasar Tempe di Kota Medan pengecer adalah Rp. 200,00/bungkus atau 10 %
Menurut Sudiyono (2004), struktur pasar dari harga yang diterima konsumen akhir.
adalah karakteristik organisasi pasar. Struktur Berbeda dengan margin yang pedagang
pasar yang dibentuk dalam pemasaran tempe di pengecer pada saluran pemasaran ke-3,
Kota Medan adalah mendekati persaingan pasar margin pedagang pengecer pada saluran
sempurna. Hal tersebut dapat dilihat dari pemasaran ke 3 lebih besar yaitu Rp
banyaknya jumlah penjual dan pembeli yang ada 500,00/bungkus atau 25% dari harga yang
di pasar, barang yang dijual bersifat relatif diterima konsumen akhir. Hal tersebut terjadi
homogen, penjual dan pembeli mudah untuk karena harga pembelian tempe pedagang
keluar masuk pasar, dan setiap pelaku pengecer pada saluran ke 1 dan ke 3 berbeda.
dalampemasaran tempe mengetahui informasi Harga pembelian tempe pedagang pengecer
harga tempe di pasar. Sedangkan perilaku pasar pada saluran ke 1 lebih tinggi daripada harga
pemasaran tempe di Kota Medan diketahui pembelian tempe pedagang pengecer pada
berdasarkan proses penentuan harga, saluran ke 3. Sedangkan harga jual pedagang
pembayaran serta kerjasama diantara pelaku pengecer kepada konsumen sama. Hal tersebut
pemasaran. Pada kegiatan penentuan harga terjadi karena harga tempe cenderung kaku.
tempe di lokasi penelitian, antara produsen dan Harga tempe dibentuk tanpa malalui proses
pedagang besar dan pedagang pengecer tawar-menawar. Pedagang menjual tempe
didasarkan pada harga yang berlaku di pasar. dengan harga sesuai dengan harga pasaran.
Tidak ada proses tawar-menawar antara Pada saluran pemasaran ke-1 pelaku
produsen dan pedagang, karena masing-masing pemasaran yang terlibat juga lebih banyak dari
pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran saluran pemasaran ke-2 dan ke-3. Margin
tempe sudah mengetahui informasi mengenai pemasaran, keuntungan serta besarnya biaya
harga. Harga yang dibentuk dalam pemasaran yang dikeluarkan masing-masing pelaku
industri tempe cenderung kaku.Terdapat dua pemasaran di tiap-tiap saluran pemasaran
sistem pembayaran yang dilakukan oleh lembaga berbeda. Semakin banyak pelaku pemasaran
pemasaran tempe yaitu sistem pembayaran tunai, yang terlibat dalam sebuah saluran pemasaran
dan bayar kemudian. maka keuntungan yang diterima masing-masing
pelaku pemasaran yang terlibat semakin kecil.
3.3. Biaya Pemasaran, Sebaran Harga (Price Sebaliknya,semakin sedikit pelaku pemasaran
Spread), dan Share Margin pada Setiap yang telibat dalam sebuah saluran pemasaran
Saluran Pemasaran maka keuntungan pelaku pemasaran yang
Pada pemasaran tempe di Kota Medan terlibat dalam saluran tersebut semakin besar.
terdapat tiga saluran pemasaran. Dimana setiap Hal tersebut terjadi karena harga jual tempe dari
saluran pemasaran melibatkan beberapa pelaku produsen ke pedagang sama yaitu Rp 1.500/
pemasaran yang berbeda. Banyaknya pelaku bungkus dan harga jual tempe ke konsumen pada
pemasaran yang terlibat dalam sebuah saluran semua saluran sama yaitu Rp 2.000/bungkus.
pemasaran akan mempengaruhi besarnya margin Margin pemasaran adalah penjumlahan dari
dan keuntungan di masing-masing pelaku seluruh biaya pemasaran yang dikeluarkan dan
pemasaran. Margin di tiap-tiap pelaku keuntungan yang diambil oleh tiap- tiap lembaga
pemasaran berbeda. Harga jual di tiap-tiap pemasaran yang terkait dalam proses penyaluran
produsen tempe di Kota Medan sama yaitu jika tempe sehingga tempe tersebut sampai di tingkat
dijual kepada pedagang Rp 1.500/bungkus dan konsumen akhir. Besar marjin pada setiap pola
jika dijual langsung kepada konsumen adalah Rp saluran pemasaran dapat dilihat pada Tabel 6.
2.000/bungkus. Pada saluran pemasaran ke-3 Margin pemasaran dihitung berdasarkan
produsen tempe mendapat keuntungan terbesar pengurangan harga penjualan dengan harga
dibandingkan dengan pada saluran pemasaran pembelian pada setiap tingkat lembaga
yang lain. Hal tersebut terjadi karena produsen pemasaran atau perbedaan harga yang diterima
memasarkan sendiri tempe yang diproduksinya oleh produsen dengan harga yang dibayarkan
kepada pedagang pengecer. Sedangkan dalam oleh konsumen. Pada Tabel 6 dapat dilihat
saluran pemasaran ke-1 dan ke-2 ada beberapa komponen-komponen dari pemasaran antara lain
pelaku pemasaran yang terlibat. Margin di setiap biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran.
pelaku pemasaran yang terlibat juga berbeda. Biaya pemasaran merupakan biaya yang

Jurnal Ilmiah Skylandsea 250


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

dikeluarkan oleh lembaga pemasaran dalam Efisiensi pemasaran dapat tercapai apabila
memasarkan tempe ke konsumen. sistem pemasaran yang ada telah memberikan
Tabel 6. Analisis Margin Pemasaran Tempe Pada kepuasan kepada pelaku-pelaku pemasaran yang
Saluran 1, 2, dan 3 di Kota Medan terlibat seperti produsen, lembaga pemasaran
Saluran I Saluran II Saluran III
Unsur Marjin Price Share Price Share Price Share
dan konsumen. Berdasarkan hasil analisis
Speard Margin Speard Margin Speard Margin tersebut diperoleh nilai efisiensi pemasaran
(Rp) (%) (Rp) (%) (Rp) (%) untuk masing-masing pola saluran pemasaran
1. Produsen
- Harga jual 1500 75 1500 75 1500 75
dapat dilihat pada Tabel 7.
- Biaya pemasaran - - - - - -
2. Pedagang Besar Tabel 4. Nilai Efisiensi Pemasaran pada
- Harga beli 1500 75 1500 75 - - Masing-Masing Pola Saluran
- Biaya pemasaran 100 5 100 5 - - Pemasaran Tempe di Kota Medan
- Keuntungan 200 10 400 20 - -
Saluran Nilai Produksi Biaya Efisiensi
- Harga jual 1800 90 2000 100 - -
Pemasaran yang Dipasarkan Pemasaran Pemasaran Ket
- Margin 300 15 500 25 - -
(Rp/bungkus) (Rp/bungkus) (%)
3. Pedagang Pengecer
Saluran I 2000 150 7,5 Efisien
- Harga beli 1800 90 - - 1500 75
Saluran II 2000 100 5 Efisien
- Biaya pemasaran 50 2,5 - - 100 5
Saluran III 2000 100 5 Efisien
- Keuntungan 150 7,5 - - 400 20
- Harga jual 2000 100 - - 2000 100
- Margin 200 10 - - 500 25 Tabel 7 menunjukkan bahwa saluran
Total biaya
pemasaran
150 7,5 100 5 100 5 pemasaran lebih efisien pada saluran II
Total
350 17,5 400 20 400 20
(Produsen  Pedagang Besar  Konsumen)
keuntungan
dan III (Produsen  Pedagang Pengecer 
Total margin 500 25 500 25 500 25
L/C 2,33 4,00 4,00 Konsumen) dibandingkan dengan saluran I
(Produsen  Pedagang Pengecer 
Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh Konsumen).
lembaga-lenbaga pemasaran tersebut adalah
meliputi biaya transportasi, tenaga kerja, 3.4 Analisis Faktor Internal (Kekuatan dan
retribusi dan penyusutan. Keuntungan Kelemahan) dan Faktor Eksternal
pemasaran adalah selisih antara harga jual (Peluang dan Ancaman) pada Usaha
dengan harga beli yang telah ditambahkan Industri tempe di Kota Medan
dengan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Prospek suatu usaha tidak terlepas dari
lembaga tersebut. pemahaman tentang lingkungan yang ada, baik
Biaya pemasaran yang paling tinggi pada di dalam maupun di luar lingkungan usaha,
jalur pemasaran tempe di Kota Medan karena pengaruh lingkungan tersebut senantiasa
ditanggung oleh saluran I yaitu sebesar Rp 150. berinteraksi.
Hal ini disebabkan kerena dalam proses Berdasarkan peninjauan ke lapangan dan
ditribusinya melibatkan banyak lembaga sesuai dengan beberapa metode yang digunakan,
pemasaran sehingga saluran yang dihasilkan untuk mengetahui faktor internal (kekuatan dan
cukup panjang. Sedangkan biaya terkecil kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan
terdapat pada saluran 2 dan 3 yaitu sebesar Rp ancaman) pada usaha industri tahu. Tahap
100, hal ini disebabkan karena jarak distribusi pertama yang harus dilakukan adalah “Tahap
yang dekat, dan tidak melalui banyaknya Pengumpulan Data”. Melalui tahap ini maka
lembaga pemasaran yang menjadi tempat diketahui faktor internal dan eksternal sebagai
persinggahan dari komoditi tempe tersebut berikut:
sehingga saluran yang dihasilkan rantai yang a. Kekuatan (Strengths) pada usaha industri
pendek. tempe di daerah penelitian
Keuntungan pemasaran terbesar terdapat Produsen tempe memiliki kekuatan-kekuatan
pada saluran pemasaran II dan III yaitu sebesar yang secara umum dimiliki oleh pengusaha
Rp 400, hal ini disebabkan kerena jalur ini dalam menjalankan usahanya, dan kekuatan
merupakan rantai pemasaran yang terpajang tersebut mempunyai perkembangan. Usaha
dalam mendistribusikan tempe ke konsumen. tersebut di dalam persaingan dan kemajuan
Keuntungan terkecil terdapat pada saluran dimasa yang akan datang di tengah-tengah
pemasaran I yaitu sebesar Rp 350. banyaknya usaha-usaha sejenis yang
Efisiensi pemasaran merupakan tujuan yang bermunculan, adapun kekuatan-kekuatan
ingin dicapai dalam suatu proses pemasaran. tersebut antara lain:

Jurnal Ilmiah Skylandsea 251


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

1. Tempe sangat diminati masyarakat. an. Strategi dirancang untuk mengetahui apakah
2. Kualitas tempe terjamin. tujuan utama dapat dicapai melalui pelaksanaan
3. Pengalaman usaha tempe yang sudah lama. yang tepat.
4. Aktif dalam kelembagaan usaha UKM
5. Hubungan baik pengusaha tempe dengan pihak Tahap Pengumpulan Data
lain (penyedia bahan). Tahap pengumpulan data adalah kegiatan
pengumpulan data dan pengklasifikasian serta
b. Kelemahan (Weaknesses) pada usaha pra analisis. Pada tahap ini data akan dibedakan
industri tempe di daerah penelitian menjadi dua, yaitu data eksternal dan data
Kelemahan adalah yang menjadi penghalang internal. Model yang dapat digunakan dalam
bagi suatu usaha dalam mengembangkan serta tahap ini adalah:
melaksanakan aktivitasnya yang mengganggu - Matriks faktor strategi internal.
pencapaian laba yang maksimum yang ingin - Matriks faktor strategi eksternal
diperoleh. Adapun kelemahan-kelemahan yang
dimiliki produsen tempe antara lain: 3.5.1. Matriks Evaluasi Faktor Internal
1. Permodalan kurang. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Internal
2. SDM pengusaha tempe rendah. Factor Evaluation-IFE Matrix) adalah tahan
3. Ketergantungan usaha kepada penyedia bahan ekstraksi dalam menjalankan audit manajemen
baku. strategi. Alat formulasi strategi ini meringkas
4. Peralatan yang masih sederhana. dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan
5. Kurang konsistennya usaha tempe dalam utama dalam area fungsional bisnis, dan juga
memproduksi tempe memberikan dasar untuk mengidentifikasi dan
mengevaluasi hubungan untuk mengembangkan
c. Peluang (Opportunities) pada usaha Matriks IFE, jadi kemunculan pendekatan ilmiah
industri tempe di daerah penelitian tidak seharusnya diartikan bahwa faktor-faktor
Adapun peluang-peluang yang dimiliki yang dimasukkan lebih daripada angka yang
produsen tempe di kota Medan antara lain: sebenarnya. Matriks IFE dapat dikembangkan
1. Ketersediaan bahan baku selalu ada dalam lima tahap yaitu :
2. Permintaan tempe tinggi. 1. Dituliskan faktor internal utama seperti
3. Komitmen pemerintah untuk mengembangkan identifikasi dalam proses audit. Gunakan total
usaha kecil dan menengah sepuluh hingga dua puluh faktor internal
4. Adanya kemudahan akses perbankan mencakup kekuatan dan kelemahan. Tuliskan
5. Keterjaminan pasar. kekuatan lebih dahulu dan kemudian
kelemahan. Buatlah sespesifik mungkin,
d. Ancaman (Threats) pada usaha industri gunakan persentase, ratio dan angka
tempe di daerah penelitian komparatif.
Adapun ancaman-ancaman terhadap 2. Diberikan bobot berkisar 0.0 (tidak penting)
produsen tempa di Kota Medan antara lain: hingga 1.0 (sangat penting) untuk masing-
1. Fluktuasi harga bahan baku. masing faktor. Bobot yang diberikan kepada
2. Harga tempe dari luar kota Medan yang masing- masing faktor mengindikasikan
kompetitif. tingkat penting relatif memandang apakah
3. Pilihan konsumen pindah ke usaha tempe dari faktor kunci itu adalah kekuatan atau
luar daerah. kelemahan internal, faktor yang dianggap
4. Kurangnya perhatian pemerintah tentang memiliki pengaruh paling besar dalam
pemberian modal dan lemahnya koordinasi pemasaran tempe harus diberikan bobot yang
antar lembaga terkait. paling tinggi. Jumlah seluruh bobot harus
5. Rendahnya fasilitas perkreditan sama dengan 1.0.
3. Diberikan peringkat 1 sampai 4 untuk masing-
3.5. Strategi Pemasaran Usaha Industri masing faktor untuk mengindikasikan apakah
Tempe di Kota Medan faktor tersebut menunjukkan kelemahan
Strategi adalah perencanaan, arah dan utama (peringkat = 1), atau kelemahan minor
pengelolaan untuk mencapai suatu tujuan. (peringkat = 2), kekuatan minor (peringkat =
Strategi merupakan rencana yang disatukan, 3), atau kekuatan utama (peringkat = 4).
menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan Perhatikan kekuatan harus mendapatkan
keunggulan strategi dengan tantangan lingkung-

Jurnal Ilmiah Skylandsea 252


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

peringkat 3 atau 4 dan kelemahan harus yang kurang, 10 % karena SDM yang rendah, 10
mendapatkan nilai 1 atau 2. % karena ketergantungan usaha kepada penyedia
4. Dikalikan masing-masing bobot faktor dengan bahan baku, 10 % disebabkan peralatan yang
peringkat menentukan rata- rata tertimbang sederhana dan 10 % disebabkan oleh kurang
untuk masing- masing variabel. konsistennya usaha tempe dalam memproduksi
5. Dijumlahkan rata-rata tertimbang untuk tempe.
menentukan total rata-rata tertimbang untuk. Total rata-rata tertimbang adalah 2,60
Berapapun banyaknya faktor yang dimana lebih besar dari 2,5 yang
dimasukkan dalam Matrik IFE, total rata-rata mengindikasikan produsen dalam melakukan
tertimbang berkisar antara yang terendah 1.0 dan usaha tempe memliliki posisi internal yang kuat.
tertinggi 4.0 dengan rata-rata 2.5. total rata- rata
tertimbang di bawah 2.5 menggambarkan 3.5.2. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal
organisasi yang lemah secara internal, sementara Matriks evaluasi Faktor Eksternal (Eksternal
total nilai diatas 2.5 mengindikasikan posisi Factor Evaluation-EFE Matrix) yang
internal yang kuat. Seperti Matriks EFE, Matriks memungkinkan para penyusun strategi untuk
IFE harus memasukkan 10 hingga 20 faktor merangkum dan mengevaluasi informasi
utama. Jumlah faktor memiliki pengaruh ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan,
terhadap kisaran total rata- rata tertimbang politik, pemerintahan, hukum, teknologi, dan
karena bobot selalu berjumlah 1.0. persaingan. Matriks EFE dapat dibuat dengan
lima tahap yaitu
Tabel 5.Matrix Internal Factor Evaluation (IFE 1. Dibuat daftar faktor eksternal yang di
Matrix) didentifiksikan dalam proses audit eksternal.
Faktor-Faktor Internal Utama Bobot Peringkat Rata-rata
Tertimbang Masukkan dari total sepuluh hingga dua puluh
KEKUATAN faktor, termasuk peluang dan ancaman, yang
1. Tempe sangat diminati 0,10 4 0,40 mempengaruhi perusahaan dan industrinya.
masyarakat
2. Kualitas tempe terjamin 0,10 4 0,40 Tuliskan peluang terlebih dahulu kemudian
3. Pengalaman usaha tempe 0,10 4 0,40 ancaman. Usahakan spesifik mungkin
yang sudah lama.
4. Aktif dalam kelembagaan 0,10 3 0,30
menggunakan persentasi, rasio, dan nilai
usaha UKM komparatif bila mungkin.
5. Hubungan baik pengusaha 0,10 3 0,30 2. Diberikan bobot masing-masing faktor dari 0,0
tempe dengan pihak lain
KELEMAHAN
(tidak penting) hingga 1,0 (paling penting).
1. Permodalan kurang. 0,10 1 0,10 Bobot mengindikasikan tingkat penting relatif
2. SDM pengusaha tempe 0,10 1 0,10 dari faktor terhadap keberhasilan suatu usaha.
rendah.
3. Ketergantungan usaha 0,10 2 0,20 Peluang sering kali diberikan bobot lebih
kepada penyedia bahan tinggi daripada ancaman, tetapi ancaman juga
baku. 0,10 2 0,20 dapat diberikan bobot lebih tinggi jika mereka
4. Peralatan yang masih
sederhana. sangat serius atau sangat mengancam. Bobot
5. Kurang konsistennya 0,10 2 0,20 yang tepat dapat ditentukan dengan
usaha tempe dalam
memproduksi tempe
membandingkan keberhasilan atau kegagalan
TOTAL 1,0 2,60 persaingan. Penjumlahan dari seluruh bobot
yang diberikan semua faktor harus sama
Kekuatan dengan 1,0.
Dari Tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa 3. Diberikan peringkat peringkat 1 hingga 4
produsen melakukan usaha tempe 0,10 berarti untuk masing-masing faktor ekternal kunci
10% disebabkan oleh tempe sangat diminati tentang seberapa efektif strategi saat ini dalam
masyarakat, 10 % karena kualitas tempe memproses faktor tersebut, di mana 4 =
terjamin, 10 % karena pengalaman usaha tempe respons superior, 3 = respons diatas rata- rata,
yang sudah lama, 10 % karena aktif dalam 2 = respons rata-rata, dan 1 = respons jelek.
kelembagaan usaha UKM dan 10 % karena Penting diperhatikan bahwa ancaman dan
hubungan baik pengusaha tempe dengan pihak peluang dapat diberikan peringkat 1, 2, 3 atau
lain 4.
Kelemahan 4. Dikalikan masing-masing bobot faktor dengan
Dari Tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa peringkatnya untuk memperoleh nilai
produsen melakukan pengelolaan usaha tempe tertimbang.
0,1 berati 10 % disebabkan karena permodalan

Jurnal Ilmiah Skylandsea 253


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

5. Dijumlahkan nilai tertimbang dari masing- 10 % karena harga tempe dari luar kota Medan
masing variabel untuk menentukan total nilai yang kompetitif, 10 % karena pilihan konsumen
tertimbang bagi usaha. pindah ke usaha tempe dari luar daerah, 10 %
6. Tanpa mempedulikan jumlah peluang dan karena kurangnya perhatian pemerintah tentang
ancaman kunci yang dimasukkan dalam pemberian modal dan lemahnya koordinasi antar
Matriks EFE, total nilai tertimbang untuk suatu lembaga terkait dan 10 % karena rendahnya
usaha adalah 4,0 dan nilai tertimbang terendah fasilitas perkreditan.
adalah 1,0. Total niali tertimbang rata–rata Total nilai tertimbang sebanyak 2,30
adalah 2,5. total nilai tertimbang sebesar 4,0 mengindikasikan bahwa dengan kata lain
mengindikasikan bahwa usaha merespon produsen tempe merespon dengan baik terhadap
dengan sangat baik terhadap peluang dan peluang dan ancaman yang ada dalam
ancaman yang ada dalam suatu usaha. Total memanfaatkan peluang eksternal dan
nilai 1,0 mengindikasikan bahwa strategi meminimalkan efek yang mungkin muncul dari
pemasaran tidak memanfaatkan peluang atau ancaman eksternal. Kedua matriks tersebut di
tidak menghindari ancaman eksternal. atas (IFE Matrix dan EFE Matrix)merupakan
kondisi relatif yang dihadapi oleh produsen
Tabel 6.Matrix External Factor Evaluation (EFE- tempe. Kondisi-kondisi inilah yang mereka
Matrix) hadapi dalam menjalankan usaha tempe.
Faktor-Faktor Eksternal Bobot Peringkat Rata-rata
Kunci Tertimbang
PELUANG 3.5.3. Matriks SWOT (Strenght, Weakness,
1. Ketersediaan bahan baku 0,10 4 0,40 Opportunity, Treat)
selalu ada
2. Permintaan tempe tinggi. 0,10 4 0,40 Peneliti mengadakan analisis strategi dalam
3. Komitmen pemerintah 0,10 3 0,30 melihat peluang dan ancaman usaha tempe, yang
untuk mengembangkan
usaha kecil dan menengah
dibandingkan dengan kekuatan dan kelemahan,
4. Adanya kemudahan akses dalam melihat posisi kemampuan usaha tempe
perbankan 0,10 3 0,30 dalam menghadapi persaingan, dapat
5. Keterjaminan pasar.
0,10 3 0,30 ditunjukkan dengan menggunakan diagram
ANCAMAN SWOT yang mengindikasikan posisi usaha
1. Fluktuasi harga bahan 0,10 1 0,10 dalam 4 (empat) sel.
baku.
2. Harga tempe dari luar 0,10 2 0,20 Hasil perbandingan analisis internal
kota Medan yang (kekuatan dan kelemahan) dengan analisis
kompetitif. eksternal (peluang dan ancaman), berdasarkan
3. Pilihan konsumen pindah 0,10 1 0,10
ke usaha tempe dari luar data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
daerah.
4. Kurangnya perhatian 0,10 1 0,10
pemerintah tentang
pemberian modal dan
lemahnya koordinasi
antar lembaga terkait.
5. Rendahnya fasilitas 0,10 1 0,10
perkreditan.
TOTAL 1,0 2,30

Peluang
Dari Tabel 9 di atas dapat diketahui bahwa
10% peluang usaha ini disebabkan oleh
ketersediaan bahan baku yang selalu ada, 10 %
disebabkan oleh permintaan tempe yang tinggi,
10 % disebabkan oleh komitmen pemerintah
untuk mengembangkan usaha kecil dan
menengah, 10 % disebabkan adanya kemudahan
akses perbankan dan 10 % lagi disebabkan
keterjaminan pasar.
Ancaman
Dari Tabel 9 di atas dapat diketahui bahwa Dari hasil analisis data yang diperoleh,
yang menjadi ancaman terhadap perusahaan ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran tempe
yaitu 10 % adalah fluktuasi harga bahan baku, di Kota Medan memiliki bobot nilai yang baik

Jurnal Ilmiah Skylandsea 254


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

dalam lingkungan internal berada pada posisi THRE STRATEGIST STRATEGIWT


ATS 1. Meningkatkan produksi 1. Melakukan
Strength dan bobot nilai yang baik dalam (T) tempe dengan diversifikasi
lingkungan eksternalnya yaitu berada pada posisi 1. Kelangkaan menggunakanbahan produk (ukuran)
Opportunities, sehingga dapat disimpulkan tenaga kerja baku yang dengan kualitas
2. Kelangkaan tepat.(S1,5,3dan T2) yang terjaga dan
bahwa posisi persaingan strategi pemasaran kedelai dan 2. Mempertahankan harga jual yang
tempe di Kota Medan menurut diagram SWOT meningkatny kualitas produk dan terjangkau (stabil).
a harga harga jual yang (W3,4,dan,T1,2)
berada pada posisi kuadran 1(Strategi Agresif) kedelai terjangkau dengan 2. Mengoptimalkan
yaitu SO (Strength Opportunities) yang 3. Terlambatnya efektivitas dan efisiensi nilai tambah
menunjukkan perusahaan tersebut memiliki pembayaran produk serta keahlian pengolahan dengan
dari karyawan.(S2,4, pemanfaatan
peluang dan kekuatan sehingga dapat pedagang danT1,3) limbah ampas
memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang pengecer 3. Melakukan investasi kedelai untuk
harus diterapkan dalam kondisi ini adalah dengan sumber daya pembuatan pakan
keuangan yang baik ternak (W1,3danT2)
mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif dalam penyediaan bahan 3. Mengoptimalkan
(Growth Oriented Strategy/Expansion Strategy). baku berkualitas. sumber daya yang
(S1,5,danT1,2) dimiliki. (W2
Strategi agresif ini lebih fokus kepada strategi danT3)
SO (Strength Opportunities), yaitu dengan
menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan
peluang yang ada. Tahap Pengambilan Keputusan
Dengan demikian, strategi pemasaran yang Tahap terakhir yaitu tahap “pengambilan
digunakan oleh usaha industri tempe di daerah keputusan” yaitu tahap yang bertujuan untuk
penelitian adalah strategi agresif diterima. menyusun strategi yang telah digambarkan oleh
matrik SWOT, sehingga strategi yang muncul
Tahap Analisis Data dapat dijadikan acuan untuk dapat meningkatkan
strategi pemasaran usaha industri tahu di daerah
MatriksSWOT penelitian. Adapun strategi yang dimaksud
STRENGTHS(S) WEAKNESSES(W) adalah:
1. Ketersediaan modal 1. Ketergantungan Strategi SO
INTERNAL yang cukup untuk untuk selalu
menggunakan kedelai menggunakan 1. Memperluas jangkauan distribusi tempe
impor. kedelai impor. seperti mulai menjalin kerjasama dengan
2. Memiliki fasilitas fisik 2. Menggunakan restaurant dan rumah makan dengan
yang lengkap. teknologi
3. Bebas bahan kimia sederhana. memanfaatkan harga tempe yang murah dan
berbahaya. 3. Produk tempe rasa yang enak. (S1,3 dan O1,2)
4. Saluran pemasaran mudah rusak.
pendek. 4. Kurangnya SDM
2. Meningkatkan produksi dan menjaga kualitas
5. Berpengalaman dalam ahli tempe yang dihasilkan dengan menggunakan
EKSTERNAL membuat tempe bahan baku yang bagus. (S1,5 dan O1,3)
OPPORTU- STRATEGISO STRATEGIWO 3. Memperluas jangkauan pemasaran, mulai
NITIES(O) 1. Memperluas jangkauan 1. Menjalin kerja memasuki pasar yang berada di luar kota.
1. Trendtempe distribusi tempe seperti sama yang baik
meningkat mulai menjalin dengan pemasok (S1,2,4 dan O1,4)
2. Hargatempes kerjasama dengan bahan baku, agen, Strategi WO
tabil restaurant dan rumah dan koperasi. 1. Menjalin kerja sama yang baik dengan
3. Permintaante makan dengan (W4,O1,3)
mpe memanfaatkan harga 2. Menambah dan pemasok bahan baku, agen, dan koperasi.
meningk tempe yang murah dan mempertahankan (W4,O1,3)
atpad rasa yang tenaga pengecer
asaat enak.(S1,3danO1,2) dan tenaga kerja
2. Menambah dan mempertahankan tenaga
hargai 2. Meningkatkan produksid dengan pengecer dan tenaga kerja dengan
kanna an menjaga kualitas meningkatkan meningkatkan kesejahteraan dan motivasi
ik tempe yang dihasilkan kesejahteraan dan
4. Pema dengan menggunakan motivasi penjualan. penjualan. (W1,2,3 dan O1,2,3)
saran bahan baku yang bagus. (W1,2,3danO1,2,3) 3. Memanfaatkan citra produk untuk perluasan
yangl (S1,5 danO1,3) 3. Memanfaatkan pasar dan peningkatan pesanan/penjualan.
uas 3. Memperluas jangkauan citra produk untuk
pemasaran, mulai perluasan pasar (W1,3 dan O2,4)
memasuki pasar yang dan peningkatan Strategi ST
berada diluar pesanan/ penjualan.
kota. (S1,2,4danO1,4) (W1,3danO2,4)
1. Meningkatkan produksi tempe dengan
menggunakan bahan baku yang tepat. (S1,5,3
dan T2)
2. Mempertahankan kualitas produk dan harga
jual yang terjangkau dengan efektivitas dan

Jurnal Ilmiah Skylandsea 255


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

efisiensi produk serta keahlian karyawan. b. Saluran II : Produsen  Pedagang Besar


(S2,4, dan T1,3)  Konsumen
3. Melakukan investasi dengan sumberdaya c. Saluran III : Produsen  Pedagang
keuangan yang baik dalam penyediaan Pengecer  Konsumen
bahan baku berkualitas. (S1,5, dan T1,2) 2. Terdapat beberapa struktur pasar pada
Strategi WT saluran tempe di daerah penelitian yaitu
1. Melakukan diversifikasi produk (ukuran) persaingan pasar sempurna. Hal tersebut
dengan kualitas yang terjaga dan harga jual dapat dilihat dari banyaknya jumlah penjual
yang terjangkau (stabil). (W3,4, dan,T1,2) dan pembeli yang ada di pasar, barang yang
2. Mengoptimalkan nilai tambah pengolahan dijual bersifat relatif homogen, penjual dan
dengan pemanfaatan limbah ampas kedelai pembeli mudah untuk keluar masuk pasar,
untuk pembuatan pakan ternak (W1,3 dan T2) dan setiap pelaku dalam pemasaran tempe
3. Mengoptimalkan sumberdaya yang dimiliki. mengetahui informasi harga tempe di pasar.
(W2 dan T3) 3. Terdapat perbedaan biaya pemasaran,
Berdasarkan analisis strategi yang diatas, sebaran harga (price spread), dan share
maka adapun program-program yang dapat margin pada setiap saluran dari tingkat
dilakukan untuk meningkatkan pemasaran produsen hingga tingkat pengecer terdapat
usaha industri tahu di daerah penelitian adalah: perbedaan. Biaya pemasaran yang paling
1. Program Pemberian Modal Usaha tinggi pada jalur pemasaran tempe di Kota
Program ini diperlukan untuk memberikan Medan yaitu saluran I yaitu sebesar Rp 150.
suntikan dana yang berupa pinjaman modal Sedangkan biaya terkecil terdapat pada
kepada pengusaha. Dengan modal yang cukup, saluran 2 dan 3 yaitu sebesar Rp 100.
para pemilik pabrik dapat menambah mesin- Keuntungan pemasaran terbesar terdapat
mesin produksi, dan armada kendaraan pada saluran pemasaran II dan III yaitu
pengantar produk sehingga dapat memperluas sebesar Rp 400, sedangkan keuntungan
pemasaran. terkecil terdapat pada saluran pemasaran I
2. Program Informasi Pasar yaitu sebesar Rp 350.
Program ini diperlukan untuk memberikan 4. Strategi pemasaran tempe di Kota Medan
informasi kepada pengusaha dalam menurut diagram SWOT berada pada posisi
memperluas jangkauan distribusi dan kuadran 1 (Strategi Agresif) yaitu SO
pemasaran mereka. Informasi yang dibutuhkan (Strength Opportunities) yang menunjukkan
adalah restaurant, toko, swalayan, ataupun perusahaan tersebut memiliki peluang dan
lokasi strategis untuk menjalin kerja sama agar kekuatan sehingga dapat memanfaatkan
dapat mengembangkan usaha yang telah ada peluang yang ada. Strategi yang harus
sehingga keuntungan dapat bertambah. diterapkan dalam kondisi ini adalah
3. Program Penerapan Teknologi mendukung kebijakan pertumbuhan yang
Program ini diperlukan untuk memberikan agresif (Growth Oriented
pengarahan kepada pengarahan dalam Strategy/Expansion Strategy). Strategi SO
menggunakan teknologi modern yang tepat (Strength Opportunities) :
guna sehingga dapat meningkatkan 5. Memperluas jangkauan distribusi tempe
produksinya. Kebanyakan usaha industri tahu seperti mulai menjalin kerjasama dengan
adalah usaha yang sudah dijalankan bertahun- restaurant dan rumah makan dengan
tahun sehingga teknologi dan mesin yang memanfaatkan harga tempe yang murah dan
digunkan adalah teknologi sederhana(manual). rasa yang enak. (S1,3 dan O1,2)
6. Meningkatkan produksi dan menjaga
4. Kesimpulan kualitas tempe yang dihasilkan dengan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis menggunakan bahan baku yang bagus. (S1,5
yang dilakukan maka dapat di tarik kesimpulan dan O1,3)
sebagai berikut: 7. Memperluas jangkauan pemasaran, mulai
1. Terdapat beberapa saluran pemasaran tempe memasuki pasar yang berada di luar kota.
di daerah penelitian yaitu: (S1,2,4 dan O1,4)
a. Saluran I : Produsen  Pedagang Besar
 Pedagang Pengecer  Konsumen

Jurnal Ilmiah Skylandsea 256


ISSN: 2614‐5154 
Volume 3 No. 1 Februari 2019 

DAFTAR PUSTAKA Limbong dan Sitorus. 1987. Pengantar Tata


Niaga Pertanian. Jurusan Ilmu-ilmu
AAK. 1989. Kedelai. Kanisius, Yogyakarta. Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Anonim 2008. Keunggulan jika Mengkonsumsi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Tempe. http://scr.kliksaya.com.. Bogor.
Anonimus, 2009. Jurnal Penelitian Strategi Meisiana, Y.R. 2010. Strategi Pengembangan
Pemasaran, Industri Kecil Tahu di Kecamatan
(http://www.scribd.com/doc/21779480/P Sragen Kabupaten Sragen. Skripsi S1
roposal-Strategi-Pemasaran), 16 mei Fakultas Pertanian Universitas Sebelas
2012. Maret. Surakarta
Agromedia, Redaksi. 2007. Membuat Tahu dan Mubyarto, 1994, Pengantar Ekonomi Pertanian,
Tempe, Jakarta. Pustaka LP3ES, Jakarta
Cahyadi, W. 2007. Kedelai Khasiat dan Priyambodo. 2008. Industri Tempe dan Tahu
Teknologi. Bumi Aksara. Jakarta Mulai Mem-PHK Pekerjanya.
Cahyono, Bambang Tri. 1999. Manajemen http://www.kompas.com.
Strategi. Badan Penerbit IPWI, Jakarta. Rahardi. F, H. Indriani dan Haryono, 1994.
David, F R. 2004. Manajemen Strategis Agribisnis Tanaman Buah. Penebar
Konsep-Konsep. Edisi Kesembilan. Swadaya, Jakarta.
Terjemahan PT. Indeks Kelompok Rangkuti, F. 2009. Analisis SWOT Teknik
Gramedia. Jakarta Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia
Dahl, Dale C. Dan Jerome W. Hammond. 1997. Pustaka Utama : Jakarta.
Market & Price Analysis The Santoso, H.B., 1993. Pembuatan Tempe dan
Agricultural Industries. Mc, Graw Hill Tahu Kedelai, Kanisius, Yogyakarta.
Book Company. New York. Sarwono, B, dan Y.P. Saragih, 2001. Membuat
Damanik, S. 2008. Strategi Pengembangan Aneka Tahu. Penebar Swadaya, Jakarta.
Agribisnis Kelapa (Cocos nucifera) Soekartawi, 1993, Agribisnis Manajemen
untuk Meningkatkan Pendapatan Petani Pemasaran Dalam Bisnis Modern,
di Kabupaten Indragiri Hilir Riau. Pustaka. Harapan, Jakarta.
http://perkebunan.litbang.deptan.go.id. Soekartawi, 1999. Agribisnis Teori dan
Daniel. M., 2002. Pengantar Ekonomi Aplikasinya, Raja Grafindo Persada,
Pertanian. Bumi Aksara, Jakarta. Jakarta.
Gultom, H.L.T 1996. Tata Niaga Pertanian. Soekartawi, 2002. Prinsip Dasar Manajemen
USU Press, Medan Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian Teori
Hanafiah. A.M. dan Saefuddin. A. M., 1986. dan Aplikasinya, Raja Grafindo Persada,
Tataniaga Hasil Perikanan. UI Press, Jakarta.
Jakarta. Sudiyono, Ahmad. 2004. Pemasaran Pertanian.
Haryoto, 1995. Tempe dan Kecap Kecipir. Universitas Muhammadiyah Malang
Kanisius, Yogyakarta. (UMM) Press. Malang.
Jauch dan William F. Glueck. 1997. Suprapti. M. Lies, 2005. Pembuatan Tahu,
Manajemen Strategis dan Kebijakan Kanisius, Yogyakarta
Perusahaan. Erlangga. Jakarta
Joharja, W. 2005. Analisis Kebijakan Industri
Kecil (IK) Tahu Dan Tempe Di Propinsi
DKI Jakarta. Tesis Magister Teknik dan
Manajemen Industri ITB. Bandung.
Kurniati. 2008. Kedelai. IndoBook Citra Media :
Bogor
Koeswara, S. 1995. Pemasaran Industri.
Djambatan, Jakarta.
Kohl, Richard L. dan W. David Downey.
1972. Marketing of Agricultural
Products (fourth Edition). The
Macmillan Company. New York.
Kotler. P, 1993. Manajemen Pemasaran Jilid I.
Erlangga, Jakarta.

Jurnal Ilmiah Skylandsea 257