Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK PROFESI NERS

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PERKEMIHAN ;
INKONTINENSIA URIN
DI PROVINSI BENGKULU

Nama : ANGGUN KURNIA WAHYUNI, S.Tr.Kep


NPM : P05120419 016

Preseptor Akademik

(Ns. Nehru Nugroho, M.Kep)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN PADA LANSIA
(INKONTINENSIA URIN)

A. Pengertian
Inkontinensia urin merupakan kehilangan kontrol berkemih yang bersifat sementara atau
menetap. Klien tidak dapat mengontrol sfingter uretra eksterna. Merembesnya urine dapat
berlangsung terus menerus atau sedikit sedikit (Potter dan Perry, 2005).

B. Etiologi
Darmojo (2012) :
- Usia lanjut
- Melemahnya otot dasar panggul
- Kebiasaan mengejan yang salah
- Batuk kronis
- Perubahan struktur kandung kemih
- Efek obat-obatan
- Produksi urin berlebih karena berbagai sebab
- Penyakit kronik ; gagal jantung kongesif, diabetes mellitus
- Konsumsi alkohol dan kafein
- Obesitas
- Menopause
- Kurang aktivitas dan penurunan tonus otot vagina
- Prosedur bedah
- Faktor fungsional, psikologis dan lingkungan

C. Tanda Gejala
Uliyah (2008) yaitu:
- Ketidaknyamanan daerah pubis
- Melaporkan merasa desakan berkemih
- Ketidakmampuan mencapai kamar mandi karena telah memulai berkemih
- Nokturia
- Keluarnya sejumlah urin ketika tertawa, bersin, melompat, batuk, atau membungkuk
- Volum aliran urin lambat dan adekut
- Kadung kemih terletak di atas simfisis pubis
- Hygiene yang buruk dan tanda infeksi
D. Komplikasi
Siti Maryam (2015) ;
- Infeksi saluran kemih
- Lecet area bokong sampai dengan ulkus dekubitus karena lembab
- Resiko jatuh dan fraktur karena terpeleset oleh urin yang tercecer
- Ruam
- Luka
- Menganggu kehidupan sosial

E. Penatalaksanaan
Santoso (2015) ;
1. Terapi non farmakologi
- Melakukan latihan menahan kemih (memperpanjang interval waktu
berkemih)dengan teknik relaksasi dan distraksi sehingga frekwensi berkemih 6-7
x/hari.
- Lansia diharapkan dapat menahan keinginan untuk berkemih bila belum
waktunya.
- Lansia dianjurkan untuk berkemih pada interval waktu tertentu, mula-mula
setiap jam, selanjutnya diperpanjang secara bertahap sampai lansia ingin
berkemih setiap 2-3 jam.
- Membiasakan berkemih pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai
dengankebiasaan lansia.
- Promted voiding dilakukan dengan cara mengajari lansia mengenal kondisi
berkemih mereka serta dapat memberitahukan petugas atau pengasuhnya bila
ingin berkemih.Teknik ini dilakukan pada lansia dengan gangguan fungsi
kognitif  (berpikir).
- Melakukan latihan dasar otot panggul dengan mengkontraksikan otot dasar
panggul secara berulang-ulang.
2. Terapi farmakologi
- Antikolinergik seperti Oxybutinin, Propantteine, Dicylomine
- Pada inkontinensia stress diberikan alfa adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine
untuk meningkatkan retensi urethra.
- Pada sfingter relax diberikan kolinergik agonis seperti Bethanechol atau alfa
kolinergik antagonis seperti prazosin untuk stimulasi kontraksi, dan terapi
diberikan secara singkat.
3. Terapi pembedahan
4. Meodalitas lain
- Sambil melakukan terapi dan mengobati masalah medik yang menyebabkan
inkontinensia urin, dapat pula digunakan beberapa alat bantu bagi lansia yang
mengalami inkontinensia urin, diantaranya adalah pampers, kateter, dan alat bantu
toilet seperti urinal, komod dan bedpan.

F. Pathway
(Terlampir)

G. Asuhan Keperawatan
Pengkajian
1. Identitas klien
Inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia (usia
ke atas 65 tahun), dengan jenis kelamin perempuan, tetapi tidak menutup
kemungkinan lansia laki-laki juga beresiko mengalaminya.
2. Riwayat kesehatan
- Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Berapakah frekuensi inkonteninsianya, apakah ada sesuatu yang mendahului
inkonteninsia (stres, ketakutan, tertawa, gerakan), masukan cairan, usia/kondisi
fisik,kekuatan dorongan/aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktu miksi.
Apakah ada penggunaan diuretik, terasa ingin berkemih sebelum terjadi
inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
- Riwayat kesehatan masa lalu
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa
sebelumnya, riwayat urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah terjadi
trauma/cedera genitourinarius, pembedahan ginjal, infeksi saluran kemih dan
apakah dirawat dirumah sakit.
- Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa
dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan, penyakit
ginjal bawaan/bukan bawaan.
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Klien tampak lemas dan tanda tanda vital terjadi peningkatan karena respon dari
terjadinya inkontinensia
b. Pemeriksaan Sistem
o B1 (breathing)
Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis karena suplai
oksigen menurun. kaji ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi.
o B2 (blood)
Peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah
o B3 (brain)
Kesadaran biasanya sadar penuh
o B4 (bladder)
Inspeksi: periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat
karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta
disertai keluarnya darah apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah
supra pubik lesi pada meatus uretra,banyak kencing dan nyeri saat berkemih
menandakan disuria akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter
sebelumnya.
Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa
terbakar di urera luar sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing.
o B5 (bowel)
Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, Adanya nyeri tekan
abdomen, adanya ketidaknormalan perkusi, adanya ketidaknormalan palpasi
pada ginjal.
o B6 (bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang
lain, adakah nyeri pada persendian.

4. Diagnosa Keperawatan
1. Hambatan eliminasi urin berhubungan dengan penurunan kapasitas kandung
kemih
2. Gangguan pola tidur
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan inkontinensia
4. Resiko Kerusakan Integitas kulit berhubungan dengan irigasi konstan oleh urine
5. Intervensi Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan
No Diagnosa keperawatan
Tujuan/kriteria hasil (NOC) Intervensi keperawatan (NIC)
1. Termoregulasi tidak Setelah diberikan intervensi keperawatan selama 3x 24 NIC: Irigasi kandung kemih
efektif/hambatan eliminasi jam, hambatan eliminasi urine teratasi dengan :  Tentukan apakah akan melakukan irigasi terus menerus atau
urine berhubungan dengan NOC : eliminasi urine berkala
penurunan kapasitas kandung Dipertahankan pada 4  Observasi tindakan-tindakan pencegahan umum
kemih; iritasi kandung kemih; Ditingkatkan pada 5  Monitor dan petahankan kecepatan aliran yang tepat
penurunan kemampuan  1 = sangat terganggu  Catat jumlah cairan yang digunakankarakterisktik cairan,
menyadari tanda-tanda gangguan  2 = banyak terganggu jumlah cairan yang keluar, dan respon pasien sesuai dengan
kandung kemih; dst prosedur tetap yang ada
 3 = cukup terganggu
Batasan karakteristik:
 4 = sedikit terganggu
 Disuria NIC: Manajemen cairan
 5 = tidak terganggu
 Sering berkemih  Monitor perubahan status paru atau jantung yang
Dengan kriteria hasil
 Anyang-anyangan Eliminasi urine 1/2/3/4/5 menunjukkan
 Nokturia  Pola eliminasi, Bau urine  kelebihan cairan atau dehidrasi
 Inkontinensia urine  Jumlah urine, Warna urine  Beri cairan yang sesuai
 Retensi urine  Kejernihan urine  Tingkatkan intake/asupan cairan peroral yang sesuai
 Dorongan berkemih  Intake urine  Jaga pencatatan intake dan output akurat

 Mengosongkan kantong kemih sepenuhnya  Batasi cairan yang sesuai

 Mengenali keinginan untuk berkemih  Monitor tanda-tanda vital


No Diagnosa RencanaTidakanKeperawatan
Tujuan/KriteriaHasil (NOC) IntervensiKeperawatan (NIC)
Keperawatan
2 Gangguan pola tidur Setelahdiberikanintervensikepera NIC: Managemen Lingkungan
Batasankarakteristik watanselama 3 x 24 jam, 1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur
: Gangguan pola tidur teratasi 2. Indentifikasi faktor penggangu tidur (fisik dan/atau fisiologis)
 Mengeluh sulit dengan: 3. Identifikasi makanan dan minuman yang menggagu tidur (mis, kopi,teh, alkohol, makan
tidur NOC: Pola tidur mendekati waktu tidur, dan minum banyak sebelum tidur)
 Mengeluh sering Ditingkatkanpada 5 4. Identifikasi obat tidur yang dikonsumsi
terjaga  1= meningkat 5. Modifikasi lingkungan (mis, pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur)
 Mengeluh tidak  2= cukup meningkat 6. Batasi waktu tidur siang,jika perlu
puas tidur  3= sedang 7. Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur

 Mengeluh pola  4= cukup menurun 8. Tetapkan jadwal tidur rutin

tidur berubah 9. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan( mis, pijat, pengaturan posisi, terapi
 5= menurun
 Mengeluh akuposur)
Dengankriteriahasil
istirahat tidak  Pola Tidur 1/2/3/4/5 10. Sesuaikan jadwal pemberian obat atau tindakan untuk menujang siklus terjaga

cukup Evidance Base


- Keluhan sulit tidur
 Mengeluh 11. Terapkan earplug dan eye mask ketika tidur
- Keluhan sering terjaga
kemampuan 12. Berikan terapi food massage dan penkes sleep hygiene
- Keluhan tidak puas tidur
aktifitas menurun 13. Berikan terapi nonfarmakologimusik klasik Mozart dan relaksasi progresif
- Keluhan istirahat tidak
cukup
3 Risiko infeksi Setelah diberikan intervensi keperawatan NIC: Kontrol Infeksi
(NANDA) selama 3 x 24 jam, risiko infeksi teratasi Aktivitas keperawatan:
(00004) dengan: 1. Batasi pengunjung
NOC : 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat pasien
Dengan faktor Keparahan Infeksi 3. Tingkatkan masukan gizi yang cukup
risiko : - Dipertahankan pada level 4 4. Anjurkan pasien istirahat yang cukup
□ penyakit 1 Berat 5. Pastikan penanganan aseptic daerah IV
kronis (mis., 2 Cukup berat 6. Berikan penkes tentang risiko infeksi
diabetes 3 Sedang 7. Bersihkan lingkungan setelah dipakai klien lain
mellitus) 4 Ringan 8. Monitor karakteristik, warna, ukuran, cairan dan bau luka
gangguan 5 Tidak ada 9. Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala dari infeksi
integritas 10. Ajarkan klien dan keluarga untuk melakukan perawatan luka
kulit, Dengan Kriteria Hasil :
penurunan Hb □ (4)Kemerahan Evidance Base
□ (4)Vesikel yang tidak mengeras 11. Oleskan madu alami setelah luka dibersihkan dengan normal salin
permukaannya (Sulastri, 2014)
□ (4)Cairan luka yang berbau 12. Balut luka dengan hydrogel (Rika, 2016)
busuk 13. Balut luka dengan Alginates (Rika, 2016)
□ (4)Drainase purulen 14. Balut luka dengan hydrokoloid kunyit
□ (4)Hipertermia (Doddy, 2017)
□ (4)Nyeri 15. Cuci luka dengan electrolyzed strong water acid yang bersifat asam dengan pH 2.3-2.7
□ (4)Hilang nafsu makan (Nurbaya, 2018)
□ (4)Depresi jumlah sel darah putih
□ (4)Malaise
□ (4)Menggigil
DAFTAR PUSTAKA 

Santoso. 2015. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi. Jakarta : Salemba
Medika.

Darmojo B. 2009. Geriatri ilmu kesehatan usia lanjut. Edisi keempat. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

Siti Maryam. (2015). Hubungan antara bladder retraining dengan proses pemulihan
inkontinensia urin pada pasien stoke. Diakses dari
http://www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=76387&lokasi=lokal pada tanggal 15
Mei 2021

Darmojo. (2012). Pengantar kebutuhan dasar manusia: aplikasi konsep dan proses
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Anda mungkin juga menyukai