Anda di halaman 1dari 24

AUDIT FRAUD

DISUSUN
OLEH:
SAFIRA ULVA (170420046)
MUKMIN ALAMSYAH PUTRA M (170420056)
ADE PRATAMA (17042109)
ADI SAPUTRA (170420070)

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,


penulis telah berhasil menyusun makalah tentang Audit Fraud dengan baik.
Makalah ini diharapkan dapat membantu proses belajar mengajar. Dan juga
diharapkan dapat menambah nilai yang ada.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan banyak


terimakasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas
makalah ini sehinggga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.

Maka dari itu,penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat


membangun agar di masa yang akan datang akan lebih baik.

Lhokseumawe, Maret 2019

i
Penulis

Daftar Isi
KATA PENGANTAR........................................................................................................i
Daftar Isi.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
A.      Latar Belakang.....................................................................................................1
B.       Manfaat Penulisan Makalah.................................................................................1
C.      Tujuan Penulisan Makalah....................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
1. Fraud..........................................................................................................................3

ii
1.1 Definisi Fraud.......................................................................................................3
1.2 JENIS-JENIS KECURANGAN...........................................................................4
2. CARA MENDETEKSI KECURANGAN..................................................................6
2.1 Memahami Gejala Kecurangan............................................................................6
2.2 Tanda awal (Red Flags) terjadinya kecurangan sebagai berikut:..........................8
2.3 Mendeteksi Kecurangan.......................................................................................9
2.4 Teknik Mendeteksi Kecurangan.........................................................................12
BAB III PENUTUP.........................................................................................................18
Simpulan......................................................................................................................18
Daftar Pustaka..............................................................................................................20

iii
BAB I PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang


Di zaman teknologi canggih seperti ini, banyak peluang untuk melakukan
kecurangan. Apalagi kecurangan dalam hal pelaporan keuangan perusahaan. Di
perusahaan terdapat bagian-bagian yang disebut juga dengan devisi. Banyak
devisi-devisi perusahaan yang membuat kecurangan (fraud) atau penipuan.
Kecurangan dalam artian data tidak sesuai dengan transaksi yang sudah terjadi.
Kecurangan dalam pelaporan keuangan membuat banyak perusahaan rugi besar
apalagi investor yang hanya mengandalkan pelaporan keuangan auditan, akan
tetapi menguntungan kepada pihak yang membuat kecurangan.Auditor pun
bertanggung jawab untuk melaksanakan audit,untuk mendapatkan keyakinan
bahwa data perusahaan khususnya untuk laporan keuangan bebas dari kecurangan
dan kekeliruan.

B.       Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud definisi fraud?
2. Apa saja jenis-jenis kecurangan?
3. Bagaimana tanggung jawab auditor terhadap kecurangan?
4. Apa saja Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Pendeteksian
Kecurangan?

C.      Tujuan Penulisan Makalah


Selain bertujuan untuk menulis atau membuat makalah ini,
penulis juga bertujuan untuk di antaranya sebagai berikut :
1. Ingin mengetahui secara detail definisi dari fraud.

1
2. Ingin mengetahui lebih dalam tentang apa itu jenis-jenis
Kecurangan.
3. Ingin mengetahui secara jelas tanggung jawab auditor terhadap
Kecurangan.
4. Mengetahui secara rinci factor- Faktor Penyebab Kegagalan
Pendeteksian Kecurangan?
4.

2
BAB II PEMBAHASAN

1. Fraud
1.1 Definisi Fraud
Menurut James Hall (2011), Fraud (kecurangan) merupakan kesalahan
penyajian dari fakta material yang dibuat oleh salah satu pihak ke pihak yang lain
dengan niatan untuk menipu dan menyebabkan pihak lain yang mengandalkan
fakta tersebut mengalami kerugian. (Hall, james., 2011:75).
Fraud (kecurangan) merupakan penipuan yang disengaja dilakukan yang
menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan
memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Kecurangan umumnya terjadi
karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk
memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara
umum) terhadap tindakan tersebut.Fraud, kerap kali kita jumpai di organisasi
perusahaan maupun pemerintahan. Pada int inya fraud dalam perusahaan
merupakan perbuatan kecurangan disengaja yang didasari ketidakjujuran yang
bisa dilakukan oleh seseorang, baik karyawan maupun pimpinan yang berakibat
merugikan perusahaan, baik secara financial maupun non-financial. Kerugian
perusahaan karena fraud ini pada akhirnya dapat menyebabkan kebangkrutan.

Jenis kecurangan (fraud) yang terjadi disetiap negara ada kemungkinan


berbeda karena setiap praktek kecurangan sangatlah dipengaruhi oleh kondisi tiap
negara yang berbeda. Di negara-negara yang sudah maju dimana penegakan
hukum sudah berjalan dengan baik, kondisi perekonomian masyarakat secara
umum sudah cukup atau lebih dari cukup, sehingga modus operandi dari praktek-
praktek kecurangan menjadi lebih sedikit.

Adanya indikasi fraud atau kecurangan/penyimpangan pada suatu perusahaan


atau instansi pemerintah yang dilakukan oleh karyawan/pegawainya.
penyimpangan ini bisa terjadi di berbagai lapisan kerja organisasi, baik di bagian

3
manajemen puncak perusahaan maupun pejabat tinggi suatu instansi. Fraud
(kecurangan) itu sendiri secara umum merupakan suatu perbuatan melawan
hukum yang dilakukan oleh orang-orang dari dalam dan atau luarorganisasi,
dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan atau kelompoknya
yang secara langsung merugikan pihak lain. Fraud sebagai tindak pidana atau
perbuatan korupsi. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemilik perusahaan,
pengelola perusahaan dan pegawai yang bekerja untuk meningkatkan kinerja tidak
akan pernah tercapai jika dalam perusahaan masih bercokol tindakan-
tindakankecurangan. Dalam rangka memberikan suatu efek jera, memperkecil
kerugian akibat kecurangan dan memperbaiki sistem pengendalian maka jika ada
indikasi kuat terjadi suatu kecurangan, perusahaan diharapkan mengambil action
yang tepat dengan melakukan audit investigatif.

1.2 JENIS-JENIS KECURANGAN

Berdasarkan Assosiation of certified fraud examination (ACFE) membagi fraud,


yaitu :
a) Fraud laporan keuangan
Merupakan tindakan yang dilakukan oleh manajemen untuk menutupi kondisi
keuangan perusahaan yang sebenarnya dengan merekayasa penyajian laporan
keuangan dengan tujuan memperoleh manfaat pribadi terkait kedudukan dan
tanggung jawabnya.

b) Fraud penyalahgunaan asset.


Meliputi penggelapan atau pencurian aset atau harta perusahaan oleh pihak
internal dan atau eksternal perusahaan. Fraud jenis ini sifatnya berwujud sehingga
mempermudah perhitungan dan pengukuran dalam pengungkapannya.
Satu dari tujuan utama penelitian ini menyimpulkan bahwa setiap kecurangan
yang dilakukan oleh para pelaku memenuhi tiga faktor penting sebagai faktor
pemicu kecurangan, yaitu :

4
 Pressure (menunjukkan motivasi dan sebagai “unshareable
need”).
 Rationalization (personal ethics).
 Opportunity.

a. Pressure
Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud,
contohnya hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah,
ketergantungan narkoba, dll. Tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh
keserakahan.Akan tetapi, Fraud biasanya terjadi karena kebutuhan financial.

b. Opportunity
Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Di antara 3
elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan
untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya
deteksi dini terhadap fraud

c. Rationalization
Rationalization ini sendiri menjadi elemen paling sering terjadi dalam
fraud, dimana para pelaku fraud membuat kebenaran atas tindakan yang
dilakukan.

5
Banyak pendapat-pendapat ahli yang mengungkapkan penyebab kecurangan,
diantaranya :
1) Ramos (2003) dikutip dari Rosyid, menggambarkan penyebab kecurangan
dalam bentuk segitiga (The fraud triangle), sebagai berikut :
a) Penyalahgunaan wewenang / jabatan (Occupational Frauds): kecurangan yang
dilakukan oleh individu-individu yang bekerja dalam suatu organisasi untuk
mendapatkan keuntungan pribadi.
b) Kecurangan organisatoris (Organisational Fraud): kecurangan yangdilakukan
oleh organisasi itu sendiri demi kepentingan / keuntunganorganisasi itu.
c) Skema kepercayaan (Confidence Schemes). Dalam kategori ini, pelaku
membuat suatu skema kecurangan dengan menyalahgunakan kepercayaan korban.
2) CKM dr Kurtiyono mengutip pendapat Riduan Simanjuntak mengatakan
bahwa terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan,
yang dikenal dengan teori GONE, yaitu :
a. Greed (keserakahan)
b. Opportunity (kesempatan)
c. Need (keinginan)
d. Exposure (Pengungkapan)

2. CARA MENDETEKSI KECURANGAN

2.1 Memahami Gejala Kecurangan


Seirirng dengan perkembangan ekonomi saat ini yang merupakan
hasil dari proses pembangunan, teah membuat dunia usaha semakin
semarak, kompleks, variatif dan dinamis. Masing-masing perusahaan
berusaha untuk menggali segala potensi yang ada agar tetap bertahan dan
memenuhi kebutuhan pelanggannya. Namun, seperti juga yang dialami
oleh negara-negara maju maupun Negara berkembang, setiap pencapaian
kemampuan di bidang ekonomi, cenderung diiringi pula dengan

6
munculnya bentuk-bentuk kejahatan baru, baik di bidang ekonomi maupun
social.

Para pelaku kejahatan tersebut cenderung untuk mencari dan


memanfaatkan berbagai kelemahan yang ada dalam prosedur, tata kerja,
perangkat hukum, kelemahan para pegawai maupun pengawasan yang
belum sempat dibenahi. Berbagai cara dan usaha telah dilakukan oleh
hamper seluruh perusahaan untuk mencegah terjadinya kecurangan baik
dengan cara mempromsikan integritas, maupun pengenaan sanksi yang
sepadan dengan perbuatan yang dilakukannya. Namun, risiko kecurangan
tetap mungkin saja terjadi dalam suatu perusahaan. Hal yang menjadi
prtanyaan selanjutnya adalah bagaimana menilai kemungkinan masalah
demikian muncul.

Dengan memahami gejala kecurangan (Red Flags) manajemen


dapat mengidentifikasikan kondisi kecurangan yang kemungkinan besar
akan terjadi atau telah terjadi.Dengan belajar dari kecurangan yang pernah
terjadi,maka kecurangan dapat sedini mungkin ditangani oleh manajemen
atau internal auditor.Dalam hal ini manajemen dan internal auditor harus
“jeli” melihat tanda-tanda atau kecurangan,yaitu antara lain:
 Terdapat perbedaan angka laporan keuangan yang mencolok
dengan tahun-tahun sebelumnya
 Perbedaan antara Buku Besar dengan Buku Tambahannya
 Perbedaan yang terungkapkan dari hasil konfirmsi
 Transaksi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai
 Transaksi yang tidak dicatat sesuai dengan  otorisasi manajemen
baik yang khusus maupun yang umum
 Terdapat perbedaan kepentingan (conflict of interest) pada tugas
pekerjaan karyawan

7
2.2 Tanda awal (Red Flags) terjadinya kecurangan sebagai berikut:
1. Situasi pribadi yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang tidk
diharapkan,seperti dililit hutang ,dan menderita sakit berat
2. Keadaan perusahaan yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang
tidak semestinya,seperi kesulitan ekonomi,banyaknya
hutang,meningkatnya persaingan dan kredit pinjaman yang terbatas
3. Risiko pengendalian yang spesifik,seperti satu orang menangani semua
bagian dari suatu transaksi yang penting,supervise yang
buruk,penugasan dan tanggung jawab yang tidak jelas

Selain hal-hal di atas,terdapat kondisi-kondisi tertentu yang dapat menjadi


pemicu terjadinya kecurangan dalam suatu perusahaan.Kondisi-kondis
tersebut seperti:
a) Sistem pengendalian intern yang tidak memadai (lack of internal
control sistem) seperti manajemen tidak menekankan perlunya
peranan internal control,manajemen tidak menindak pelaku
fraud,para eksekutif  menunjukkan sikap hidup
kemewahan,internal auditor tidak diberikan kewenangan untuk
menyelidiki kegiatan para eksekutif terutama menyangkut
pengeluaran yang besar
b) Prosedur penerimaan pegawai yang kurang memepertimbangkan
kejujuran dan integritas calon pegawai
c) Model manajemen dalam perusahaan itu sendiri  yang cenderung
mengarah pada hal-hal yang korup,kurang efisien,ataupun tidak
cakap
d) Karyawan yang terlalu banyak problem yang belum
terselesaikan,terutama masalah-masalah keuangan seperti banyak
hutangpendaatan rendah,gaya hidup mewah

8
2.3 Mendeteksi Kecurangan
Dalam melakukan pendeteksian terhadap kecurangan,tentunya
tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan tentang hal-hal yang menjadi
pemicu terjadinya kecurangan dan siapa atau pihak mana yang
kemungkinan dapat melakukan kecurangan.Hal ini sangat perlu diketahui
oleh pihak yang mendapat tugas untuk melakukan pendeteksian
kecurangan,karenadengan mengetahui factor pemicu terjadinya
kecurangan dan siapa atau pihak mana yang dilakuakan akan lebih terarah.

Secara umum hal-hal yang menjadi pemicu terjadinya kecurangan


baik yang dilakukan  oleh seseorang ataupun sekelompok orang dapat
dirangkum dalam kata GONE (GONE THEORY yang merupakan
singkatan dari Greed
(Keserakahan), Opportunity (Kesempatan), Need(Kebutuhan),
dan Exposure (Pengungkapan). Dua factor  yaitu Greed danNeed terutama
berhubungan dengan individu (pelaku kecurangan),
sedangkan Opportunity dan Exposure berhubungan dengan
organisasi (korban perbuatan kecurangan). Dalam pembahasan
selanjutnya,factor-faktor tersebut dikelompokkan ke dalam factor generic
dan factor individu.

o Faktor Generik
Factor ini berada dalam pengendalian organisasi (perusahaan) yang
mencakup
a) Kesempatan atau adanya peluang bagi pelaku kecurangan
(opportunity) :
Kesempatan melakukan kecurangan tergantung pada
kedudukan pelaku terhadap obyek kecurangan. Kesempatan untuk
melakukan kecurangan tidak dapat dihilangkan secara keseluruhan
atau seratus persen. Usaha untuk menghilangkan kesempatan
terjadinya kecurangan secara keseluruhan menjadi tidak ekonomis dan

9
tidak produktif selama perusahaan tersebut masih memiliki asset,
dimana asset tersebut diperdagangkan, mengalir, dan ada dalam
pengendalian pihak lain seperti karyawan, pembeli, dan penjual.
b) Kemungkinan bahwa kecurangan akan dapat diketahui dan
diungkapkan (exposure) :
Kondisi saat ini ada kecenderungan makin tipisnya kepekaan
seseorang/sekelompok orang terhadap kecurangan yang terjadi di
sekelilingnya. Hal ini mungkin saja dipicu oleh kekhawatiran mereka
khususnya berkaitan dengan perlindungan terhadap pihak-pihak yang
mengungkapkan terjadinya kecurangan tersebut. Apabila kondisi ini
terus terjadi, maka secara logika kecurangan makin merajalela, karena
para pelaku kecurangan tersebut merasa bahwa kecurangan apapun
yang mereka lakukan tidak ada pihak lain yang berani
mengungkapkannya.
c) Sanksi yang dikenakan kepada pelaku jika tertangkap dan
perbuatannya terungkap (exposure) :
Terungkapnya kecurangan belum cukup untuk mencegah
terulang kembalinya kejadian tersebut dimasa yang akan datang. Oleh
karena itu harus ada saksi atas perbuatan tersebut yang jelas, tegas, dan
diterapkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Suatu perusahaan
yang ingin melindungi assetnya harus memiliki kebijakan (policy)
yang jelas mengenai sifat dan besarnya sanksi terhadap pelaku
kecurangan, seperti :
 siapapun yang terlibat kecurangan akan dipecat
 semua kecurangan akan dilaporkan kepada pihak yang
berwenang

o Factor Individu
Factor ini melekat pada diri seseorang yang melakukan kecurangan.
Secara umum, factor ini dapat dikategorikan menjadi dua yaitu :

10
 moral yang berhubungan dengan keserakahan (greed).
Keserakahan berhubungan dengan atribut seseorang. Bagaimana
dengan atribut lainnya yang ada dalam diri manusia seperti kejujuran,
integritas, loyalitas dan sebagainya, adalah sulit untuk mengetahui
apakah seseorang memiliki atribut serakah ini atau tidak.

 Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan (need).


Salah satu yang menjadi penyebab seseorang atau sekelompok
orang melakukan kecurangan adalah berhubungan dengan kebutuhan
ekonomi. Disamping itu juga dapat disebabkan oleh adanya perasaan
ketidakpuasan atas kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen, balas
dendam, dan tantangan. (Elder et al, 2008: 19)

Tujuan utama dari pendeteksian kecurangan adalah dalam rangka


membantu perusahaan menciptakan suasana sehat dan menguntungkan di
dalam lingkungan perusahaan dengan mencegah terjadinya kerugian akibat
kecurangan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mendeteksi kecurangan


adalah :
1. Jangan mengabaikan hal-hal yang jelas. Hal ini untuk menghilangkan
kesan bahwa penyelidikan terhadap kecurangan selalu merupakan
aktivitas kompleks, padahal dalam prakteknya tidak selalu seperti
kesan tersebut di atas. Disamping itu, dalam prekteknya, kebanyakan
perbuatan kecurangan meninggalkan jejak yang jelas.
2. Berikan perhatian pada penyimpangan yang terjadi, jangan selalu
mencari penyelesaian yang kompleks, dan mulailah dengan mencari
penyelesaian yang paling sederhana.
3. Lakukan konsentrasi ada titik yang paling lemah dan sederhana di
dalam kecurangan.

11
4. Pendeeksian dan pencegahan kecurangan merupakan aspek rutin,
bukan suatu hal yang hanya dilakukan sekali.
5. Tujuan utama mendeteksi kecurangan adalah mencegah terjadinya,
bukan mendeteksi seluruh kecurangan.
6. Sumber daya dan kemampuan harus dialokasikan secara khusus untuk
melakukan tugas tersebut.
7. Mendeteksi kecurangan berarti kerja keras.
8. Kecurangan dapat lolos dari deteksi disebabkan tidak seorangpun
ditugaskan untuk itu.

2.4 Teknik Mendeteksi Kecurangan


Teknik mendeteksi ada tidaknya sebuah kecurangan dapat dilakukan
seorang auditor dengan dua cara yaitu :
 Critical Point Auditing (CPA)
Setiap perusahaan tentu saja mempunyai daerah rawan
yang berulang-ulang menjadi tempat terjadinya kecurangan. Dan
jika kecurangan terjadi pada titik tersebut, akan dengan mudah
diketahui karena bila mengevaluasi mendetail maka akan langsung
dapat diketahui satu sama lain. Namun, dalam banyak hal
keberhasilan suatau kecurangan lebih banyak disebabkan
kepandaian pelaku dalam menyembunyikan kegiatannya diantara
transaksi-transaksi yang ada.

CPA merupakan suatu teknik yang sangat efektif, melalui


evaluasi atas catatan pembukuan, gejala suatu manipulasi dapat
diidentifikasi dengan akurat. Hasilnya akan menunjukkan
kemungkinan terjadinya kecurangan yang pada tahap selanjutnya
akan mengarah kepada investigasi yang lebih rinci. Metode ini
dapat digunakan pada setiap perusahaan. Semakin akurat dan
komprehensif suatu catatan, maka semakin efektif teknik ini dalam
mengetahui gejala kecurangan.

12
Critical Point Auditing ini adalah :
1) Analisis Tren
Pengujian ini terutama dilakukan atas kewajaran
pembukuan pada rekening buku besar dan menyangkut pula
pembandingannya dengan data sejenis untuk periode
sebelumnya maupun dengan sejenis dari cabang-cabang
perusahaan. Informasi dan laporan yang sering digunakan
auditor antara lain : Rekening Buku Besar, Neraca, dan
Anggaran.

Pembandingan dengan periode sebelumnya dapat diarahkan


untuk :
 mendapatkan gejala manipulasi yang dilakukan
oleh pihak internal perusahaan yang melakukan
kecurangan.
 mendeteksi kemungkinan adanya kerugian
kecurangan.

Dampak atas kecurangan yang didasarkan atas analisis


rasio dan kinerja adalah hal yang penting untuk diamati lebih
lanjut. Seorang pelaku kecurangan atas laporan keuangan tidak
akan bisa menjamin yang ia lakukan dapat dilakukan dalam
periode yang terus menerus secara teratur. Pelaku tersebut
mungkin dapat dikatakan cukup agresif, namun jika prosedur
ataupun pengendalian yang selama ini ditingkatkan dan dapat
diterapkan dengan, kecurangan apapun sudah pasti dapat dideteksi.
Dengan adanya ketidakteraturan dalam kesempatan untuk
melakukan kecurangan, maka memberi dampak tehadap

13
ketidakkonsistenan pelaku kecurangan dalam melakukan
kecurangan tersebut akan nampak dalam pembukuan perusahaan.
2) Pengujian Khusus
Pengujian khusus dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan
yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya kecurangan.
Kegiatan-kegiatan tersebut seperti:
 Pembelian
Kecurangan pembelian umumnya dilakukan dengan cara
meninggikan nilai yang terdapat dalam faktur. Dalam setiap
kecurangan pembelian, hamper selalu terdapat pengkreditan yang
salah pada rekening kreditur. Cara lain yang dilakukan pelaku
kecurangan adalah melakukan pemalsuan data laporan dengan
melakukan pembelian fiktif. Hutang yang timbul kemudian
dilunasi oleh perusahaan, bukan kepada pemasok, namun kepada
pelaku kecurangan. Walaupun rekening dapat dibukukan, namun
pelaku kecurangan tidak mampu menyiapkan bukti pendukung
yang lengkap. Oleh karena itu, pengujian pertama yang dilakukan
adalah untuk meyakinkan keabsahan dari pemasok.
 Penjualan dan Pemasaran
Kecurangan ini biasa dilakukan dengan cara seolah-olah
terjadi sebuah transaksi penjualan yang nyatanya padahal tidak ada
dan diikutin dengan pengiriman barang namun pada debit rekening.
Uraian lengkap pengujian yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut :
 Lakukan pengujian terhadap pembeli yang memperoleh
harga terendah/memperoleh potongan harga (discount)
paling besar
 Teliti saldo piutang yang melampaui plafon kredit
 Teliti pembayaran/pelunasan piutang yang melampaui batas
waktu tertentu

14
 Lakukan analisis atas pesanan penjualan, catatan gudang
dan faktur, selanjutnya bandingkan antara ketiganya

 Persediaan
Teliti secara detail catatan-catatan persediaan berkaitan dengan
hal-hal berikut ini :
 Produk yang mempunyai perputaran (turnover) paling
tinggi
 Produk yang ada dalam persediaan, padahal tidak
terdapat dalam persediaan tahun sebelumnya
 Produk yang ada dalam persediaan tahun-tahun lalu,
namun tidak tersedia tahun ini
 koreksi semua atas catatan persediaan yang
disebsbkanadanya perbedaan pada saat dilakukan stock
opname

Periksa jadual pelaksanaan stock opname  tahun lalu dengan cara :


1. Meneliti semua barang termasuk perputarannya
2. Meneliti catatan kerja pihak manajemen perusahaan
3. Meneliti segala pembayaran pada pihak ketiga
4. Verifikasi kebenaran semua pengiriman barang

 Analisis Hubungan
 Teliti debitur yang volume pembeliannya menurun
dibandingkan dengan tren normal, terutama yang disebabkan
oleh pembatalan pesanan maupun retur penjualan
 Teliti jumlah pembelian yang dilakukan oleh pedagang besar
dan dibandingkan dengan jumlah kartu garansi yang
dikembalikan oleh konsumen akhir

15
 Teliti rasio penerimaan terhadap penjualan kredit, piutang ragu-
ragu terhadap penjualan
 Dapatkan anggaran biaya untuk setiap pusat biaya, dan lakukan
penelitian atas biaya-biaya yang realisasinya masih dibawah
50% pada awal triwulan III namun mencapai lebih dari 90%
mendekati akhir tahun.

 Job Sensitivity Analysis (JSA)


Setiap pekerjaan dalam suatu perusahaan memiliki berbagai
peluang/kesempatan untuk terjadinya kecurangan. Hal ini
tergantung dari beberapa factor seperti : akses, kemampuan, dan
waktu yang tersedia untuk merencanakan dan melaksanakannya.
teknik ini merupakan analisis dengan risiko kecurangan
dari sudut “pelaku potensial”, sehingga penegahan terhadap
kemungkinan terjadinya kecurangan dapat dilakukan mesalnya
dengan memperketat pengendalian intern pada posisi-posisi yang
rawan kecurangan.
1. Metode Pendekatan
Langkah awal yang dilakukan adalah dengan
mengidentifikasikan semua posisi pekerjaan di dalam perusahaan
yang menjadi obyek pemeriksaan. Oleh karena itu, hal-hal yang
perlu diamati dan dipelajari adalah:
 Struktur organisasi
 Uraian tugas masing-masing pejabat yang ada dalam
perusahaan
 Manual akuntansi dan formulir-formulir yang digunakan
 Pendelegasian wewenang
Langkah berikutnya adalah menyiapkan analisis setiap
pejabat. Namun kita juga harus mempertimbangkan kondisi nyata
dari ruangan yang tersedia dalam paerusahaan yang bersangkutan,

16
artinya apabila ruangan petugas bagian penjualan bersama-sama
dengan karyawan bagian pembelian, adalah suatu hal yang tidak
wajar yakni menimbang petugas penjualan dari perusahaan tersebut
tidak mungkin merubah, membaca, atau menyembunyikan catatan.

2. Pengawasan Rutin
Ini adalah hal wajib yang dilakukan pihak-pihak yang
bertanggung jawab. Tidak hanya dapat mengurangi resiko, dengan
pengawasan rutin bahkan para pelaku kecurangan akan berpikir
dua atau tiga kali untuk melakukan kecurangan.

3. Karakter Pribadi
Karakter pribadi karyawan harus dipertimbangkan. Hal-hal
yang harus diperhatikan seperti :
- Kekayaan yang tidak bisa dijelaskan
- Pola hidup mewah
- Pegawai kurang memiliki motivasi kerja
- Ego karyawan
- Pegawai yang mengabaikan prosedur/instruksi
- Karyawan yang merasa One Man Show
4. Tindak Lanjut
Hasil analisis nantinya akan memberikan informasi yang cukup
tentang pekerjaan yang mana memiliki resiko terbesar dan
metode fraud yang seperti apa nantinya harus diterapkan.
Pengujian secara menyeluruh tentu harus dilakukan untuk
menentukan apakah kesempatan yang ada telah digunakan.

17
BAB III PENUTUP

Simpulan
Kecurangan didefinisikan sebagai salah saji dalam laporan
keuangan yang dilakukan secara sadar. Dua kategori utama kecurangan
adalah kecurangan dalam laporan keuangan dan penyalahgunaan asset.
Kecurangan dalam laporan keuangan merupakan salah saji atau
penghapusan terhadap jumlah ataupun pengungkapan yang sengaja
dilakukan dengan tujuan untuk mengelabui para penggunanya.
Penyalahgunaan aset merupakan kecurangan berbentuk pencurian atas aset
milik satu atau lebih entitas.
Dengan menerapkan program-program dan pengendalian
antikecuragan, manajemen dapat mencegah kecurangan dengan
mengurangi kesempatan yang memungkinkan terjadinya kecurangan.
Untuk membantu manajemen dan dewan direksi dalam menjalankan usaha
antikecurangan, AICPA, bekerja sama dengan beberapa organisasi profesi
terkait, menerbitkan Program dan Pengendalian Antikecurangan bagi
Manajemen: Panduan untuk Membantu Mencegah, Mengantisipasi, dan
Mendeteksi Kecurangan.
Panduan tersebut mengidentifikasi adanya 3 elemen untuk
mencegah, mengantisipasi dan mendeteksi kecurangan, yaitu Budaya
kejujuran dan etika yang bernilai tinggi, Tanggung jawab manajemen
untuk mengevaluasi resiko-resiko kecurangan dan pengawasan dari komite
Audit.
1. Mengubah Keseluruhan Pelaksanaan Audit
2. Merancang dan Melakukan Prosedur Audit untuk Menghadapi
Resiko Kecurangan
3. Auditor merancang prosedur audit yang tepat digunakan untuk
mengatasi resiko audit spesifik sesuai dengan akun yang sedang
diaudit dan jenis resiko kecurangan yang teridentifikasi.

18
Sepanjang pengauditan, auditor terus-menerus mengevaluasi apakah bukti-
bukti yang didapatkan dan pengamatan-pengamatan lainnya
mengindikasikan adanya salah saji material yang disebabkan oleh
kecurangan.
- Jenis teknik-teknik wawancara
- Tanya jawab informal
- Tanya jawab evaluasi
- Tanya jawab interogatif
- Mengevaluasi respons tanya jawab
- Teknik mendegarkan
- Mengamati tanda-tanda perilaku
- Tanggung jawab lainnya ketika dicurigai

19
Daftar Pustaka
Sumber buku
Elder, J. Randal, Beasley, S. Mark, Dkk. 2008. Jasa Audit dan Assurance.
Salemba Empat
Hall, James. 2011. Accounting Information System. Seventh Edition. USA:
Cengage Learning
Agoes, Sukrisno. 2012. Auditing; Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan Oleh
Akuntan Publik. Edisi Keempat Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.
Agoes, Sukrisno. 2013. Auditing; Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan Oleh
Akuntan Publik. Edisi Keempat Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.

Sumber jurnal
Amin Ahmad, Choyroh. 2012. Pengaruh Etika Profesi Akuntan, dan Pengalaman
Auditor Terhadap Efektivitas Pendeteksian Kecurangan. Vol. 2, No.1.

20